cover
Contact Name
Yusuf Rahman
Contact Email
ushuluna@uinjkt.ac.id
Phone
+628128340778
Journal Mail Official
ushuluna@uinjkt.ac.id
Editorial Address
Jl. Ir. H. Juanda No. 95 Tangerang Selatan
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin
ISSN : 24609692     EISSN : 2721754X     DOI : 10.15408
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin is a journal published by the Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University of Jakarta. The journal is published twice annually (June and December) and consists of articles on Qur’anic studies and interpretation, hadith and Prophetic tradition, religious studies, and mysticism.
Articles 225 Documents
STRATEGI PREVENSI PAHAM RADIKAL DI MEDIA SOSIAL Wasil, Wasil; Rasyid, Abd.
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 8 No. 2 December 2022
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ushuluna.v8i2.27017

Abstract

Abstrak:Artikel ini menganalisis penyemaian paham radikal di media sosial serta strategi untuk mencegahnya. Metode yang digunakan untuk mencari jawaban atas persoalan radikal ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif. Umumnya, paham radikal di media sosial tersebar melalui platform-platform media sosial dan budaya populer, seperti Website, YouTube, Instagram, Majalah dan Telegram dengan sasaran utama kaum middle class dan anak muda yang telat mengalami pubertas religius. Artikel ini berusaha mencari jawaban preventif dalam upaya mencegah paham-paham radikal yang tersebar di media sosial. Hasilnya, strategi prevensi itu dapat efektif dengan menggunakan tiga cara. Pertama, penggunaan platform media yang sama. Kedua, pengembangan kreasi konten-konten media sosial dan budaya populer yang lebih masif. Ketiga, pemberdayaan dai-dai milenial yang melek teknologi.Abstract:This article tries to analyze the progress of radicalism on social media and strategies to prevent it. To find the answers to radical problems, this article used a qualitative-descriptive method. Generally, radical ideas in social media are spread through social media platforms and popular cultures, such as Websites, YouTube, Instagram, Magazines, and Telegrams with the main targets being the middle class and young people who are experiencing religious puberty late. This article tries to find preventive answers in an effort to prevent radical ideas from spreading on social media. As a result, the prevention strategy can be effective in three ways. First, the use of the same media platform. Second, the development of more massive social media and pop culture content creations. Third, empowering millennial preachers who are technology literate.
KONSEP KETUHANAN DALAM KEBEBASAN EKSISTENSIAL KARL JASPERS Iman, Muhamad Tamamul; Riandita, Lilik
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 8 No. 2 December 2022
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ushuluna.v8i1.27449

Abstract

Abstrak:Aspek penting yang dikaji dari artikel ini adalah pada tataran kebebasan yang merupakan titik tekan para eksistensialis dalam upaya penerangan eksistensi, yang hanya dapat dicapai dalam relasi dengan transendensi. Sehingga Karl Theodor Jaspers melihat ada dua fokus persoalan yaitu eksistensi dan transendensi, bahwa bereksistensi berarti berhadapan dengan transendensi. Transendensi menyembunyikan diri, dengan demikian transendensi merupakan dasar kebebasan manusia. Tujuan dari artikel ini adalah berusaha untuk menggambarkan pandangan Jaspers terhadap konsep ketuhanan dalam kebebasan eksistensial manusia. Untuk mengkaji lebih jauh pemikiran Jaspers, metode yang penulis gunakan adalah library research dengan pendekatan analisis-holistik. Hasil dari artikel ini adalah Jaspers telah menggambarkan adanya kebebasan sebagai eksistensi manusia, dan merupakan kemampuan manusia untuk memutuskan dengan bebas. Adanya kebebasan yang dihayati akan mempertemukan eksistensi dengan transendensi, bagaimana manusia dalam situasi konkret dapat menjangkau transendensi melalui eksplorasinya terhadap chiffer sebagai medium menuju transendensi. Sehingga keyakinan Jaspers akan adanya transendensi yang senantiasa melingkupi merupakan kenyataan dalam kehidupan manusia secara otentik.Abstract:The important aspect that is studied in this article is the level of freedom which is the pressure point for existentialists in the effort to enlighten existence, which only can be achieved in relation to transcendence. So, Karl Theodor Jaspers sees that two focus issues are existence and transcendence, that existence means dealing with transcendence. Transcendence hides itself, therefore transcendence is the basis of human freedom. The purpose of this article is to attempt to describe Jaspers’ view of the concept of divinity in human existential freedom. To further examine Jaspers’ thoughts, the method that the author uses is library research with an analytic-holistic content approach. The result of this article is that Jaspers has described there is freedom as human existence, and this is the human's ability to decide independently. There is a freedom that is lived that will bring together existence with transcendence, how humans are in a concrete situation can reach transcendence. Through their exploration of Chiffer as a medium toward transcendence. So that Jaspers’ belief in the existence of transcendence that always surrounds is an authentic reality in human life.
POLITICAL RELIGION: MARGINALIZATION OF LOCAL RELIGION IN INDONESIA Ummah, Sofwatul
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 8 No. 1 June 2022
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ushuluna.v8i1.27920

Abstract

This article describes the chronology of recognition of formal religion and marginalization of local religion in Indonesia. Formally, the Indonesian government recognizes the formal religion based on the policy or the constitution in Indonesia. That is Presidental Decree number 1 the year 1965 and Constitution Number 5 the year 1969. According to the constitution, the formal religions are Islam, Christian, Catholic, Hinduism, Buddhism, and Confucianism. But Confucianism was marginalized on the new order of Indonesia based on the decree of the Ministry of Home Affairs year 1974. Because of this marginalization of Confucianism, the followers of it must fill the religion column with a stripe sign or choose five of formal religion. out from the five formal religion is considered as local religion or indigenous. But, in Indonesia, there is much local religion that has been existed centuries ago before the freedom of Indonesia. Even though based on The Ministry of culture and Tourism in 2003, there were 245 local religions in Indonesia. Because local religions were not recognized, it was thought that Indonesia had no religion before the first century. So, this article explains about 1) the chronology of recognition of formal religions and local/indigenous religion in Indonesia and 2) the effect of political religion on formal and local/indigenous religion. I argue that because of a narrow understanding of religion, so the policy or the constitution about religion in Indonesia seems narrow and impact on marginalization to civil society that believes in local religion/indigenous religion, because of this policy indigenous community in Indonesia do not have their rights such as recognition of the name of their indigenous religion in ID card and administration service. Then, this article is a descriptive with qualitative as an approach, and library research is used as the technique of collecting data.
DOA PERNIKAHAN “MENGHIMPUN YANG TERSERAK” DALAM WEDDING INVITATION: ASAL-USULNYA DALAM KITAB HADIS SUNNI, SYIAH DAN KONTESTASI IDEOLOGI Huda, Muhamad Khoirul; Misbahuddin, Misbahuddin; al-Farizi, Miqdad
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 8 No. 2 December 2022
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ushuluna.v8i2.28096

Abstract

Abstrak:Artikel ini berusaha melacak asal-usul terjemahan doa Nabi Muhammad yang diklaim pernah dibacakan pada pernikahan Ali dan Fatimah yang menggunakan redaksi “menghimpun yang terserak”. Doa ini populer di kalangan pelaku industri kartu undangan pernikahan. Klaim doa itu terhubung dengan Nabi, Ali dan Fatimah mendorong sebagian pihak menyimpulkan dan menstigmatisasi bahwa doa tersebut berasal dari kaum Syiah. Dengan melakukan penelusuran dan komparasi literatur hadis Sunni dan Syiah, sejauh yang dapat diakses, ditemukan bahwa terjemahan doa pernikahan populer itu memiliki unsur kesamaan dengan redaksi yang dimuat dalam kedua literatur Sunni maupun Syiah. Namun, ada pula detail yang berbeda antara doa yang populer di masyarakat dengan doa yang termuat dalam kedua korpus literatur. Terutama terkait detail manfaat dan bentuk berkah keturunan. Detail tersebut merupakan tambahan di luar hadis (tafsiran). Doa tersebut sejatinya boleh saja diamalkan. Tetapi, penisbatan pada Nabi saw. akan bermasalah jika ditinjau dari sudut pandang Ilmu Hadis. Dari sudut pandang konteks sosiologis, stigmatisasi terhadap doa “menghimpun yang terserak” tumbuh bersamaan dengan kemunculan gerakan anti-Syiah di Indonesia pada satu dekade terakhir sebagai akibat Arab Spring di Timur Tengah.Abstract:This article attempts to trace the origins of the translation of the Prophet Muhammad's prayer which is claimed to have been recited at Ali and Fatimah's wedding using the phrase "Gathering the scattered". This prayer is popular among the wedding invitation card industry players. The claim that the prayer is connected to the Prophet, Ali and Fatimah has prompted some to conclude and stigmatize that the prayer originates from the Shiites. By conducting a search and comparison of Sunni and Shia hadith literature, as far as is accessible, it is found that the translation of the popular wedding prayer has elements in common with the editorials contained in both Sunni and Shia literature. However, different details between prayers are popular in the community and prayers that are contained in both corpora of literature. Especially regarding the details of the benefits and forms of hereditary blessings. These details are additions outside the hadith (interpretation). This prayer can be practiced. However, attribution to the Prophet saw. will be problematic if viewed from the point of view of Hadith Science. From the point of view of the sociological context, the stigmatization of the prayer "Gathering the scattered" has grown together with the emergence of the anti-Shi'a movement in Indonesia in the last decade as a result of the Arab Spring in the Middle East.
INTERPRETASI ETIKA BERBICARA PEREMPUAN DALAM QS.AL-AHZAB [33]:32 (PENDEKATAN TAFSIR MAQASHIDI) Rohmah, Miftahur
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 6 No. 2 December 2020
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ushuluna.v6i2.28699

Abstract

Penelitian ini membahas pada penafsiran QS.Al-Ahzab [33]:32 yang berfokus pada perintah larangan berupa melunakkan suara perempuan kepada laki-laki. hal ini jelas berkaitan dengan etika berbicara dalam kehidupan sehari-hari. Metode yang digunakan berupa jenis kualitatif deskriptif-analisis dengan pendekatan tafsir maqashidi Abdul Mustaqim, metode pengembangan yang dikategorikan masih baru dalam menafsirkan al-Qur’an. Sehingga tujuan penelitian ini adalah menelisik lebih jauh dan memperjelas penafsiran QS.Al-Ahzab [33]:32 yang menghasilkan maqashid dari melunakkan suara berupa : nada suara halus yang dibuat-buat dengan unsur kesengajaan untuk menggoda. Maka solusi atau etika berbicara perempuan kepada laki-laki berupa perkataan yang baik sesuai syari’at, dan kemaslahatan yang terdapat pada QS.Al-Ahzab [33]:32 adalah hifdz al-nasl supaya tidak terjerumus oleh zina. Hal tersebut juga memberikan arti bahwa al-Qur’an turun untuk menjunjung kehormatan perempuan.
REPRESENTASI MAKNA “TAHIYYAH” Q.S AL-NISA’/4:86 DALAM KONTEKS PERDAMAIAN (ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES) Rosyid Darman, Muhaammad Syawal
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 9 No. 1 June 2023
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ushuluna.v9i01.28700

Abstract

This study discusses the use of the message of the meaning of tahiyah in the Qur'an with the semiotic analysis of Roland Barthes. In interpreting the word tahiyah, it doesn't just stop at the greeting. Furthermore, it works as the basic argument of Islam in creating peace between religious communities. This study uses the library method by collecting and processing data to translate into writing. The purpose of this research is to answer the question how is Roland Barthes' semiotic analysis on the meaning of the word tahiyah in QS al-Nisa '/4:86 and what is the message contained in the word. The results of this study indicate that the initial myth of the word tahiyah is the saying of hayaka Allah as a representation with fellow people in the Jahiliyah era. Then, the myth states by saying assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. This is the identity of Muslims when greeting. Furthermore, the hidden message contained in the meaning of tahiyah is an expression of Islam in and maintaining peace between religious communities by respecting various differences as a sign.
FRAMEWORK PENAFSIRAN AYAT-AYAT ASTRONOMI Rahman, Ryan Arief; Azizi, Imdad Fahmi; hidayat, muhammad sofian; Da'i, Rahmat Ardi Nur Rifa
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 8 No. 1 June 2022
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ushuluna.v8i1.29181

Abstract

Kemajuan ilmu pengetahauan turut mempengaruhi perkembangan penafsiran Al-Qur’an. Namun hal ini memunculkan dilematis dimana begitu mudahnya ilmuwan muslim menafsirkan Al-Quran dari sudut pandangnya terkhusus tentang astronomi. Hal ini yang kemudian perlu dijelaskan bahwa penafsiran Al-Quran memiliki syarat dan ketentuan dalam tafsir terutama tentang ayat-ayat astronomi. Artikel ini mencoba menguraikan frame work penafsiran ayat-ayat astronomi dengan menggunakan penelitian kepustakaan atau library research dengan menggunakan pendekatan deskriptif-analisis. Ditemukan bahwa penafsiran ayat astronomi di dalam Al-Quran harus berangkat dari penafsiran ma’thur. Terutama yang berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern harus memperhatikan bahwa sebuah penafsiran harus berangkat dari penafsiran secara ma’thur (naqly), kemudian penafsiran (penakwilan) secara ijtihadi (‘aqly).
RELASI ISLAM DAN KRISTEN (KATOLIK): PERAN PENTING PEMUKA AGAMA Wasil, Wasil
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 6 No. 2 December 2020
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ushuluna.v6i2.29390

Abstract

AbstrakArtikel ini merupakan hasil penelitian lapangan (field research) tentang relasi Islam dan Kristen (Katolik) di tengah masyarakat Sumenep, Madura yang religius. Hubungan keduanya dalam landscape Indonesia seringkali up and down dan rentan konflik. Salah satu faktor utama relasi keduanya bisa rukun dan damai atau sarat konflik sangat ditentukan oleh peran penting pemuka agama. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa relasi Islam dan Kristen (Katolik) di Sumenep berjalan harmonis yang termanifestasi dalam sejumlah interaksi dan kerjasama yang baik, bukan sekedar kerukunan yang pasif atau ‘semu’. Relasinya tampak dalam bidang sosial-keagamaan, pendidikan dan ekonomi di mana pemuka agama sangat memainkan peranannya dalam menciptakan dan merawat relasi baik atau kerukunan tersebut. Peran yang dilakukan pemuka agama adalah internalisasi teologi kerukunan dan penyebaran paham keagamaan moderat.  Kata Kunci: Relasi, Islam, Kristen, Pemuka Agama, Peran
MODERNITAS DAN RESPON AGAMA (TELAAH TENTANG FEMINISME DISKURSUS GENDER DALAM ISLAM) Rohmatullah, Yuminah
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 8 No. 1 June 2022
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ushuluna.v8i1.29936

Abstract

Abstrak Modernisme telah menerima dan mendorong perempuan untuk bisa berkiprah di sektor publik, tetapi sekaligus ia pun dituntut agar tetap dapat berkiprah di sektor domestic . Konsekuensinya, gerakan perempuan terpengaruh dan harus  mengikuti arus modernisasi.Ketertindasan dan suborninasi yang dirasakan kaum perempuan bukanlah disebabkan oleh kodratnya tetapi terjadi karena adanya konstruksi sosial-budaya yang memang sengaja diciptakan oleh pihak yang berkepentingan yaitu kaum laki-laki. Ketertindasan perempuan bukan saja dalam ranah domestik (rumah tangga) dan publik, juga terjadi dalam konstruksi ilmu pengetahuan.  Dalam konsep epistemologi modern kekuasan kaum perempuan telah ditelikung dan dilumpuhkan, ilmu pengetahuan sosial yang bersifat positivistik menciptakan kondisi yang meletakkan wanita sebagai posisi yang lemah, ilmu pengetahuan sosial dikontruksikan oleh kaum laki-laki yang menampilkan dirinya sangat seksis dan androsentris yang disusun berdasarkan praksangka-prasangka negatif dan inferior kaum laki-laki terhadap kaum perempuan.Epistemologi feminis adalah langkah untuk melakukan upaya mencari jalan keluar dari ketertindasan, dibutuhkan adanya penafsiran yang berperspektif gender yang tidak lain adalah sebuah penafsiran yang memberikan perhatian dan kepemihakan terhadap kelompok jenis kelamin yang tertindas, yang membela hak-hak perempuan. Maka perlu adanya penafsiran berprespektif gender yang  tidak mesti harus dicurigai sebagai upaya westernisasi pemahaman al Qur`an. Karena al Qur`an tidak menafikan adanya perbedaan anatomi biologis, tetapi bagaimana perbedaan ini tidak dijadikan dasar untuk mengistimewakan jenis kelamin yang satu dengan jenis kelamin lainnya.AbstractModernism has accepted and encouraged women to take part in the public sector, but at the same time it is demanded to remain active in the domestic sector. Consequently, the women's movement is affected and must follow the flow of modernization.The oppression and subordination felt by women are not caused by nature but occured because of the socio-cultural construction that was deliberately created by the interested parties of men. Women's oppression is not only in the domestic (household) and public sphere, also occurs in the construction of science. In modern epistemological concepts the power of women has been torn and paralyzed, positivistic social science creates conditions that place women as weak positions, social sciences are constructed by men who present themselves highly sexist and androcentric based on prejudices negative and inferior male to female.           Feminist epistemology is the step to make an effort to find a way out of oppression, it needs a gender perspective interpretation that is nothing but an interpretation that gives attention and cares to the oppressed sex group, which defends the rights of women.So there needs to be a gender perspective interpretation that should not be suspected as an attempt westernisasi understanding of the Qur'an. Because the Qur'an does not deny the existence of biological anatomical differences, but how this difference is not used as a basis to privilege the sex of one with the other gender.
MULTIKULTURALISME DALAM AL-QUR’AN (STUDI PENAFSIRAN QURAISH SHIHAB DAN MUHAMMAD ASAD) Azizah, Ulfah Nur
Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 6 No. 2 December 2020
Publisher : Faculty of Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ushuluna.v6i2.29987

Abstract

Multikulturalisme merupakan sebuah fenomena dunia modern yang ada pada tahun 1960-an kemudian mendapatkan pengakuan pada tahun 1970-an. Multikulturalisme termasuk mode alternatif dalam rangka membangun, mengelola dan mengatasi kemajemukan rakyat dalam bernegara. Multikulturalisme merupakan alat untuk membangun sebuah negara dalam mengelola keanekaragaman di tengah masyarakat, khususnya di Indonesia dengan masyarakat yang majemuk dengan berbagai perbedaannya.Hasil penelitian penafsiran ayat-ayat multikultural yang komprehensif  menunjukkan nilai-nilai dasar dari konsep multikulturalisme dijelaskan di dalam al-Qur’an tentang perbedaan bahwa Allah swt,. menciptakan manusia dengan berbangsa-bangsa dan bersuku- suku agar saling mengenal satu sama lain, termasuk keberagaman dari dialek, bahasa, warna kulit. Pada sisi lain, al- Qur’an menjelaskan bahwa Allah Swt tidak menghendaki umat manusia menjadi satu, sebenarnya umat manusia itu diciptakan dari asal yang sama yaitu Adam dan pasangannya, namun Allah menghendaki umat manusia tidak menjadi umat yang satu. Realitas multikulturalisme bahwa diciptakan manusia dari seorang ayah dan ibu, namun yang dimaksud adalah persamaan tentang hakikat kemanusiaan bagi setiap orang, tidak ada hak untuk menghina dan merendahkan satu sama lain.

Filter by Year

2015 2026


Filter By Issues
All Issue Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 12 No. 1 June 2026 Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 11 No. 2 December 2025 Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 11 No. 1 June 2025 Vol 10, No 2 (2024): USHULUNA: JURNAL ILMU USHULUDDIN | VOL. 10 NO. 2 DECEMBER 2024 Vol 10, No 1 (2024): USHULUNA: JURNAL ILMU USHULUDDIN | VOL. 10 NO. 1 JUNE 2024 Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 10 No. 2 December 2024 Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 10 No. 1 June 2024 USHULUNA: JURNAL ILMU USHULUDDIN | VOL. 9 NO. 2 DECEMBER 2023 USHULUNA: JURNAL ILMU USHULUDDIN | VOL. 9 NO. 1 JUNE 2023 USHULUNA: JURNAL ILMU USHULUDDIN | VOL. 8 NO. 2 DECEMBER 2022 USHULUNA: JURNAL ILMU USHULUDDIN | VOL. 8 NO. 1 JUNE 2022 USHULUNA: JURNAL ILMU USHULUDDIN | VOL. 7 NO. 2 DECEMBER 2021 USHULUNA: JURNAL ILMU USHULUDDIN | VOL. 7 NO. 1 JUNE 2021 USHULUNA: JURNAL ILMU USHULUDDIN | VOL. 6 NO. 2 DECEMBER 2020 USHULUNA: JURNAL ILMU USHULUDDIN | VOL. 6 NO. 1 JUNE 2020 Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 5 No. 2 December 2019 Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 5 No. 1 June 2019 Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 4 No. 2 December 2018 Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 4 No. 1 June 2018 Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 3 No. 2 December 2017 Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 3 No. 1 June 2017 Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 2 No. 2 December 2016 Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 2 No. 1 June 2016 Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 1 No. 2 December 2015 Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin | Vol. 1 No. 1 June 2015 More Issue