cover
Contact Name
Fatwa Nurul Hakim
Contact Email
hakiimfatwa@gmail.com
Phone
+6282134205810
Journal Mail Official
mipksb2p3ks@gmail.com
Editorial Address
Jalan Kesejahteraan Sosial No. 1 Sonosewu, Kasihan Bantul DIY
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial
ISSN : 20884265     EISSN : 25279750     DOI : -
Core Subject : Social,
Hasil penelitian maupun studi literatur bidang kesejahteraan sosial meliputi Penanganan fakir miskin, rehabilitasi sosial, perlindungan dan jaminan sosial serta pemberdayaan sosial
Articles 136 Documents
Peran Panti Asuhan Putri Aisiyah Muhammadiyah dalam Menyiapkan Sumber Daya Manusia Berkualitas Murdiyanto Murdiyanto; Tri Gutomo
Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial Vol 40 No 2 (2016): Volume 40 Nomor 2 Agustus 2016
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31105/mipks.v40i2.2291

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui peran Panti Asuhan Putri Aisiyah  dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, serta faktor pendukung dan penghambat  yang dihadapi panti dalam melakukan pelayanan terhadap anak. Sumber data adalah orang-orang yang memahami dan berhubungan langsung dengan pelayanan di Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA), yaitu dipilih beberapa orang yang berfungsi sebagai key informan yang terdiri dari pengurus panti dan pengasuh, sebanyak lima orang. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, observasi, dan telaah dokumen. Teknik analisis data menggunakan deskriptif kualitatif, menggambarkan pelaksanaan pelayanan anak asuh. Hasil  penelitian menunjukkan bahwa peran PSAA dalam menyiapkan SDM berkulitas cukup baik, terlihat dalam  pelaksanaan pelayanan di PSAA meliputi  pembinaan fisik (pemberian makanan, pakaian, perawatan kesehatan), psikis pembinaan mental rohani (pemberian perhatian, kasih sayang, pendidikan agama dan budi pekerti, rekreasi), bimbingan sosial (kesempatan mengikuti kegiatan di sekolah, kebebasan memilih jurusan, mengikuti kegiatan waktu luang, kebebasan bergaul), dan pelayanan penunjang yang cukup baik (pembinaan intelektual, pelatihan keterampilan, dan pembinaan hidup mandiri). Kualitas sumber daya anak asuh cukup baik terlihat dalam  rutinitas melaksanakan ibadah, kepribadian melalui menghargai terhadap pendapat orang lain, kemandirian mengatasi kesulitan dalam belajar, percaya diri menyelesaikan pekerjaan, dan kejujuran dengan tidak mencontek terhadap pekerjaan orang lain. Faktor pendukung terhadap keberhasilan panti karena adanya semangat dari pengurus dan pengasuh mengantarkan anak asuh agar dapat hidup layak serta mandiri, kepedulian dan partisipasi dari pemerintah, lembaga sosial, dunia usaha, dan masyarakat. Faktor penghambat, terbatasnya tenaga pengasuh, daya tampung, dan pendanaan operasional panti. Disarankan agar panti dapat lebih mengoptimalkan pelayanan, melalui jejaring khususnya anak asuh yang berhasil,  pengasuh dan petugas panti. Pembimbing keterampilan perlu didukung oleh tenaga yang memiliki kualifikasi di bidangnya, jenis keterampilan disesuaikan dengan minat dan bakat anak asuh serta pasaran kerja.
Desaku Menanti: Menguatkan Selves Esteem Gelandangan Pengemis Tateki Yoga Tursilarini
Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial Vol 42 No 1 (2018): Volume 42 Nomor 1 April 2018
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31105/mipks.v42i1.2253

Abstract

Desaku Menanti merupakan program untuk merehabilitasi gepeng berbasis desa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui program Desaku Menanti dalam menumbuhkan dan memperkuat rasa berharga/self esteem bagi gepeng sehingga terwujud kemandirian ekonomi dan sosial. Sumber data terdiri dari 45 orang gepeng/penerima manfaat program Desaku Menanti, satu orang pendamping program/LKS Sahaja, satu orang kepala seksi rehabilitasi sosial Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, tiga orang kepala bagian dan kepala seksi rehabilitasi sosial Dinas Sosial Kabupaten Pasuruan, satu orang aparat Desa Prodo, satu orang Kepala Puskesmas, satu orang tokoh masyarakat. Teknik pengumpulan data  dengan wawancara, observasi, telaah dokumen. Data dianalisis dengan deskriptif kualitatif. Temuan penelitian terpenuhi kebutuhan dasar, kemanfaatan ketrampilan untuk mencari nafkah, meningkatnya peran dan status sosial gepeng/penerima manfaat di masyarakat sehingga mampu menumbuhkan dan memperkuat rasa berharga/self esteem gepeng, rasa percaya diri gepeng untuk berfungsi sosial di masyarakat. Berdasarkan temuan tersebut, maka direkomendasikan, Dinas Sosial Kabupaten Pasuruan, (1) Perlu ditingkatkan kemampuan dan ketrampilan usaha melalui jejaring dengan dunia usaha agar gepeng tumbuh jiwa wirausaha; (2)   Perlu pendampingan berkelanjutan agar penerima manfaat/gepeng benar-benar survive dengan kehidupan di Desaku Menanti. Kepada Pemerintah Daerah setempat hendaknya ada kebijakan berkait tentang program-program kesejahteraan sosial bagi gepeng di Desaku Menanti, sehingga gepeng akan benar-benar mampu mandiri ekonomi dan sosial. Dunia Usaha, perlu ditumbuhkan dan ditingkatkan CSR bagi gepeng di Desaku Menanti agar supaya mereka memiliki kemampuan, ketrampilan serta motivasi yang tinggi untuk kelangsungan hidupnya.
Bantuan Hukum Cuma-Cuma (Pro Bono) sebagai Perwujudan Akses Keadilan Bagi Masyarakat Miskin di Indonesia Nirmala Many; ahmad sofian
Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial Vol 44 No 3 (2020): Volume 44 Nomor 3 Desember 2020
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31105/mipks.v44i3.2308

Abstract

Negara berkewajiban menjamin setiap orang mendapat akses keadilan. Sebagai profesi terhormat (officium nobile), advokat mengemban tugas dan tanggung jawab mewujudkan prinsip negara hukum. Bantuan hukum secara cuma-cuma merupakan suatu kewajiban setiap advokat sebagaimana diamanatkan oleh UU Advokat. Penelitian ini menggunakan pendekatan normatif dan bersifat deskriptif analitis. Peneliti menggunakan data kepustakaan untuk mengolah data. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah pelaksanaan bantuan hukum pro bono oleh advokat dan organisasi advokat  di Indonesia. Meskipun organisasi advokat, dalam hal ini Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) membentuk unit kerja khusus untuk melaksanakan fungsi pemberian bantuan hukum secara cuma-cuma (pro bono), Pusat Bantuan Hukum di berbagai daerah di Indonesia, namun ditemukan bahwa pengawasan dan evaluasi terhadap program tersebut masih sangat minim dan terbatas. Sebagai penelitian awal terkait topik ini, Peneliti merekomendasikan penelitian lanjutan terkait pengawasan dan evaluasi tersebut.  
Kemampuan Ipwl Yayasan Nazar Dalam Rehabilitasi Sosial Korban Napza Chulaifah Chulaifah; Irmawan Irmawan
Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial Vol 40 No 3 (2016): Volume 40 Nomor 3 Desember 2016
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31105/mipks.v40i3.2302

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan  Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) Yayasan Nazar dalam merehabilitasi Korban NAPZA. Manfaat penelitian sebagai bahan pertimbangan Kementerian Sosial dalam menentukan kebijakan bahwa suatu lembaga Rehabilitasi Korban NAPZA dapat menjadi IPWL. Jenis penelitian eksploratif dengan pendekatan penelitian kualitatif, penentuan lokasi dan responden secara purposive yaitu di Medan Sumatera Utara, pada IPWL Panti Rehabilitasi Korban NAPZA Yayasan Nazar. Sumber data meliputi: IPWL, SDM yaitu pelaksanan IPWL dan Residen. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi, selanjutnya data dianalisa secara diskriptif kualitataif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa IPWL  Panti Rehabilitasi Sosial Koban NAPZA Yayasan Nazar telah mampu merehabilitasi Korban NAPZA, 40 orang per tahun sebelum mendapat bantuan dari Kementerian Sosial, kemudian per tahun 60 orang setelah mendapat bantuan dari Mensos.  Kemampuan ini didukung oleh  sarana dan prasarana antara lain Asrama yang memadai, SDM misal Psikolog, Konselor Adiksi dan batuan dari Mensos berupa Tenaga Kesejahteraan Sosial (TKS) serta biaya operasional.Artinya masih ada keterbatasan dana dan tenaga. Oleh karena itu direkomendasikan   kepada   Kementerian Sosial melalui Direktorat Penanggulangan korban Penyalahgunaan NAPZA agar dapat mempertahankan pemberian bantuan dana dan tenaga.  Dinas Sosial setempat agar dilibatkan dalam pelaksanaan Rehabilitasi Korban NAPZA di IPWL Nazar. Lembaga Rehabilitasi Korban NAPZA  ketika ditunjuk untuk menjadi IPWL  hendaknya: diteliti dengan sungguh-sungguh kebenaran syarat-syarat yang harus dipenuhi sesuai ketentuan.
Pemberdayaan Suku Kali Da'a Irmawan Irmawan
Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial Vol 41 No 2 (2017): Volume 41 Nomor 2 Agustus 2017
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31105/mipks.v41i2.2269

Abstract

Komunitas Adat Terpecil (KAT) merupakan salah satu masalah sosial di Indonesia yang perlu diberdayakan, agar dapat hidup sejahtera lahir dan batin. Penelitian tentang Pemberdayaan Suku Kaili Da’a bertujuan untuk mengetahui bagaimanakah hasil pemberdayaan Suku Kaili Da’a. Aspek yang diberdayakan adalah permukiman, pendidikan, kesehatan, kepercayaan dan agama. Lokasi penelitian di Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. Jenis penelitian deskriptif kualitatif. Jumlah informan 10 orang yang dipilih secara purposive dari tokoh adat, tokoh agama, instansi yang menangani KAT serta warga KAT. Pengumpulan data menggunakan panduan wawancara, observasi, pemotretan, telaah dokumen dan internet. Analisis data menggunakan SWOT. Keberhasilan pemberdayaan Suku Kaili Da’a dipengaruhi oleh seorang tokoh agama yang berjuang dengan gigih untuk memberdayakan Suku Kaili Da’a dengan menerapkan metode dakwah dari Walisanga yang bersikap toleran terhadap budaya lokal dengan memperbaiki perumahan, pendidikan, kesehatan, dan agama. Kementerian Sosial diharapkan menerapkan model pemberdayaan KAT dengan memberikan fasilitas kepada para tokoh agama yang bersedia berjuang untuk menyejahterakan KAT.
Pola Patron-Klien Pedagang Pasar Tradisional dalam Peningkatan Kesejahteraan Fatwa Nurul Hakim
Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial Vol 40 No 1 (2016): Volume 40 Nomor 1 April 2016
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31105/mipks.v40i1.2285

Abstract

Keberadaan pasar tradisional sebagai wahana aktivitas ekonomi mikro di masyarakat juga sebagai ruang publik dimana aktivitas sosial terbentuk di pasar. Aktivitas sosial yang dimaksud adalah pembeli dan pedagang tawar menawar untuk mendapatkan kesepakatan harga, interaksi sosial yang melibatkan antara juragan dengan pekerja. Pola hubungan yang dibangun di pasar tradisional inilah yang menarik untuk dikaji, salah satunya hubungan patron-klien di pasar tradisional. Hubungan patron-klien terbentuk kerjasama antar pedagang yang sangat berguna bagi kelangsungan usaha di pasar tradisional. Penelitian pola patron-klien pedagang pasar tradisional dalam peningkatan kesejahteraan ini dilakukan di Pasar Windujenar Surakarta. Informan terdiri atas pedagang, pengelola enam orang. Metode penelitian menggunakan deskriptif kualitatif, data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan menggunakan pedoman wawancara. Hasil dari penelitian ini adalah pola patron klien di pasar tradisional tercermin dari rekruitmen tenaga kerja, pembayaran upah, pembagian kerja, hubungan dengan mitra kerja, dan antara juragan dengan pekerja juga ada hubungan timbal balik berupa gotong royong apabila ada keperluan keluarga atau hajatan. Disarankan pada Direktorat Jenderal Penanganan Fakir Miskin Perkotaan Kementerian Sosial RI pola patron-klien selalu terjadi di setiap usaha, apabila pola patron klien ini di kembangkan di model pelayanan kesejahteraan sosial, maka dapat meminimalkan kesenjangan sosial antara juragan (pemilik modal) dengan pekerja (buruh). 
KENYAMANAN PENGGUNAAN ALAT BANTU BAGI PENYANDANG DISABILITAS CONVENIENCE OF USE OF AID TOOL FOR DISABILITIES Andayani Listyawati
Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial Vol 44 No 2 (2020): Volume 44 Nomor 2 Agustus 2020
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31105/mipks.v44i2.2105

Abstract

Abstrak Penyandang disabilitas sebagaimana layaknya warga pada umumnya menginginkan dapat beraktivitas secara mandiri tetapi berbagai keterbatasannya harus menggunakan alat bantu. Kenyataannya tidak semua penyandang merasa nyaman menggunakan alat bantu dengan berbagai alasan. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui kenyamanan penyandang disabilitas dalam menggunakan alat bantu. Jenis penelitian ini adalah deskriptif, metode pendekatan yang digunakan secara kualitatif, melalui teknik wawancara, FGD (Focus Group Discussion), observasi dan studi dokumentasi, untuk mengungkap data yang selanjutnya dianalisis menggunakan kualitatif interpretative. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa tidak semua penyandang merasa nyaman menggunakan alat bantu dengan berbagai alasan, seperti ukuran alat tidak proporsional dengan ukuran tubuh, ukuran alat tidak sesuai dengan ukuran tubuh (tidak proporsional), kualitas bahan alat mudah rusak, sarana dan prasarana aksesibilitas kurang memadai sehingga terkadang alat bantu tidak dipakai.  Rekomendasi ditujukan kepada Kementerian Sosial cq Direktorat Rehabilitasi Sosial agar dalam memberikan alat bantu bagi penyandang disabilitas dilaksanakan asesmen terlebih dahulu untuk mempertimbangkan faktor kesesuaian antara calon pemakai dengan ukuran alat. Selain itu rekomendasi juga ditujukan kepada pemerintah daerah melalui balai rehabilitasi agar mengalokasikan dana untuk membuat bengkel ortopedhi dengan harapan apabila ada kerusakan alat bantu dapat segera ditindaklanjuti. Kata kunci: kenyamanan; alat bantu; penyandang disabilitas AbstractPersons with disabilities as well as citizens in general want to be able to move independently because with various limitations must use tools. In fact, not all people feel comfortable using aids for various reasons. This study aims to determine the comfort of persons with disabilities in using assistive devices. The approach method used is qualitative, through questionnaire techniques, interviews, FGD (Focus Group Discussion), observation and documentation studies to uncover the data which is then analyzed using qualitative interpretative. The results showed that not all people feel comfortable using aids for various reasons, such as the size of the tool is not proportional to body size. Recommendations are addressed to the Ministry of Social Affairs cq the Directorate of Social Rehabilitation so that in providing assistance for persons with disabilities the assessment is carried out first to consider the suitability factor between the potential user and the size of the tool. In addition, recommendations are also addressed to local governments through rehabilitation centers in order to allocate funds to make orthopedic workshops in the hope that if there is damage to aids can be immediately followed up. Keywords: comfort; Device; people with disabilities 
Pewarisan Nilai Kepahlawanan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa Warto Warto
Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial Vol 40 No 3 (2016): Volume 40 Nomor 3 Desember 2016
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31105/mipks.v40i3.2297

Abstract

Kajian ini bertujuan menggali warisan nilai-nilai kepahlawanan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif yang lebih memfokuskan pada penelaahan kepustakaan sebagai basis utama. Pengumpulan data dilakukan dengan melacak berbagai informasi yang diperoleh dari sejumlah literatur ataupun dokumen yang relevan dengan tujuan pengkajian. Kajian menemukan, bahwa warisan nilai-nilai kepahlawanan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa meliputi sikap gagah dan keberanian yang luar biasa, keluhuran moral dan kekokohan mental, serta senantiasa memberikan keteladanan dalam berberilaku dan kesederhanaan hidup. Atas dasar temuan tersebut, direkomendasikan agar generasi penerus cita-cita bangsa selaku pelopor dan penggerak pembangunan dalam berjuang mengisi kemerdekaan senantiasa berlandaskan nilai-nilai kepahlawanan warisan Pangeran Diponegoro.
Fenomena Menikah Pada Usia Dini Fatwa Nurul Hakim; Chulaifah Chulaifah
Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial Vol 41 No 2 (2017): Volume 41 Nomor 2 Agustus 2017
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31105/mipks.v41i2.2264

Abstract

Persentase perempuan  menikah pada usia dini (anak) di Kepulauan Seribu tinggi. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor penyebab maraknya pernikahan usia dini. Lokasi penelitian dilakukan di Kepulauan Seribu yang diindikasikan marak terjadi pernikahan usia dini. Sumber data dipilih dari keluarga yang memiliki anak menikah usia muda, keluarga usia muda, tokoh masyarakat, aparat desa, dan remaja. Teknik penentuan informan secara snowball. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah wawancara, observasi, dan telaah dokumen. Data dianalisis  secara deskriptif kualitatif. Hasil kajian menunjukkan, bahwa kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah, dan faktor mental (budaya) sebagai penyebab utama terjadinya pernikahan usia dini di Kepulauan Seribu.  Direkomendasikan kepada pemerintah daerah melalui Dinas Sosial adanya upaya penyuluhan sosial kepada masyarakat tentang pentingnya peran aktif keluarga mencegah terjadinya pernikahan dini, mengelola ekonomi keluarga bagi pendidikan anak-anak, serta adanya regulasi (peraturan daerah) untuk mencegah terjadinya perkawinan usia dini.  
Penanganan Korban Penyalahgunaan Napza Di Pondok Inabah Etty Padmiati; Enni Hardiati
Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial Vol 40 No 1 (2016): Volume 40 Nomor 1 April 2016
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial, Kementerian Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31105/mipks.v40i1.2280

Abstract

Penelitian tentang Penanganan Korban Penyalahgunaan Napza di Pondok Inabah bertujuan untuk mengetahui bagaimana Pondok Inabah menangani korban penyalahgunaan  NAPZA. Lokasi penelitian ditetapkan secara purposif, maka ditentukan Kota Banjarmasin Provinsi Kalimantan Selatan. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Informan dalam penelitian iniditentukan secara purposive, sebanyak 14 orang yakni enam orang klien yang menjalani rawat inap, dua orang klien yang menjalani rawat jalan,  empat orang petugas pondok,dan orang orang aparat dari Dinas Sosial Kota Banjarmasin. Analisis data dalam penelitian ini diskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa Pondok Inabah yang berdiri tahun 2009 telah melaksanakan rehabilitasi untuk korban penyalahgunaan NAPZA dengan dua cara, yakni rawat jalan dan rawat inap. Tahapan yang dilakukan sudah sesuai dengan upaya pemulihan korban penyalahgunaan NAPZA. Dalam penanganan korban penyalahgunaan NAPZA menggunakan pendekatan agama, karena terapi yang dilaksanakan dikonsentrasikan pada terapi spiritual seperti ibadah sholat dan zikir. Pendekatan ini cukup diminati keluarga yang mempunyai masalah penyalahgunaan NAPZA, dengan tingkat keberhasilan pemulihan korban sekitar 80 persen. Keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan sumber daya manusia yang ada dan sarana prasarana yang tersedia, serta campur tangan pemerintah dalam hal ini Kementerian Sosial dengan membentuk lembaga ini menjadi Instalasi Penerima Wajib Lapor (IPWL) bagi korban penyalahgunaan NAPZA. Namun demikian, sumber daya manusia sebagai pelaksana rehabilitasi masih perlu ditingkatkan baik secara kuantitas maupun kualitas melalui pelatihan/diklat, danjuga sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk kelancaran pelaksanaan rehabilitasi. Berdasarkan temuan di atas, direkomendasikan kepada Kementrian Sosial, khususnya Direktorat Rehabilitasi Sosial Korban Penyalahgunaan Napza dalam pembinaan terhadap pelayanan rehabilitasi sosial  melalui panti baik swasta maupun pemerintah, agar pelayanan yang diberikan dapat berkelanjutansehingga proses rehabilitasi dapat tuntas untuk mencapai kondisi  ‘pulih ‘.

Page 8 of 14 | Total Record : 136