cover
Contact Name
Isma Masrofah
Contact Email
isma.masrofah@unsur.ac.id
Phone
+62263-283578
Journal Mail Official
jmtsi@unsur.ac.id
Editorial Address
Universitas Suryakancana, Gd. Fakultas Teknik Jl. Pasir Gede Raya, Cianjur 43216 Tel / fax : (0263) 283 578
Location
Kab. cianjur,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Media Teknik dan Sistem Industri
ISSN : 25810561     EISSN : 25810529     DOI : https://doi.org/10.35194/jmtsi.v4i1.844
Jurnal Media Teknik dan Sistem Industri (JMTSI) is a publication media for papers with the scope of industrial-engineering field and other relevant fields such as and not limited to: Industrial systems Manufacturing systems Systems Engineering & Ergonomics Industrial Management Supply Chain and Logistics
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 2 (2025)" : 10 Documents clear
Penerapan Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke (5S) pada Industri: Kajian Literatur Setiadi, Muhamad Aldi; Novita, Clara Elva; Revaldy, Ahmad; Nugroho, Aditya Rafi; Purba, Humiras Hardi
Jurnal Media Teknik dan Sistem Industri Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jmtsi.v9i2.4925

Abstract

This study aims to analyze the implementation of the 5S method (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke) across various industries to improve efficiency, productivity, and work quality. The research method employed is a systematic literature review, analyzing 50 national and international journals selected based on relevance to the topic, industrial sectors, and 5S implementation outcomes. The findings show that 5S implementation provides multiple benefits, such as reducing operational time, improving storage efficiency, minimizing waste, enhancing workplace safety, and reducing material or tool searching time. Practical examples include an 8% reduction in blowing operational time in the plastic manufacturing industry and a 95.37% reduction in spare part searching time in the printing sector. In the healthcare sector, 5S has also proven effective in reducing patient waiting times to a more efficient level. The study further reveals that the success of 5S implementation is highly influenced by management commitment and active employee participation. In some cases, 5S not only increases productivity but also improves employee morale and job satisfaction. Nevertheless, some studies note challenges such as a lack of training and limited understanding of 5S concepts, which may hinder successful implementation. Overall, the 5S method is an effective approach to optimizing work processes, reducing waste, and enhancing organizational competitiveness across various industrial sectors. With planned and sustainable application, 5S can serve as a strong foundation for lean manufacturing transformation and a more productive work culture. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi metode 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke) dalam berbagai industri untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan kualitas kerja. Metode penelitian yang digunakan adalah literature review dengan pendekatan sistematis, melalui analisis terhadap 50 jurnal nasional dan internasional yang dipilih berdasarkan relevansi topik, sektor industri, serta hasil implementasi 5S. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan 5S memberikan berbagai keuntungan, seperti pengurangan waktu operasional, peningkatan efisiensi ruang penyimpanan, penurunan limbah, peningkatan keselamatan kerja, dan pengurangan waktu pencarian material atau alat. Contoh nyata dari penerapan ini terlihat dalam pengurangan waktu operasional blowing hingga 8% di industri manufaktur plastik dan pengurangan waktu pencarian spare part sebesar 95,37% pada sektor percetakan. Selain itu, pada sektor kesehatan, 5S mampu mengurangi waktu tunggu pasien di rumah sakit hingga ke tingkat yang lebih efisien. Penelitian ini juga menemukan bahwa keberhasilan penerapan 5S sangat dipengaruhi oleh komitmen manajemen dan partisipasi aktif karyawan. Dalam beberapa kasus, implementasi 5S tidak hanya meningkatkan produktivitas tetapi juga meningkatkan moral dan kepuasan kerja karyawan. Kendati demikian, beberapa studi mencatat adanya tantangan, seperti kurangnya pelatihan dan pemahaman konsep 5S, yang dapat menghambat keberhasilan implementasi. Secara keseluruhan, metode 5S merupakan pendekatan yang efektif untuk mengoptimalkan proses kerja, mengurangi pemborosan, dan meningkatkan daya saing organisasi di berbagai sektor industri. Dengan penerapan yang terencana dan berkelanjutan, 5S dapat menjadi fondasi yang kuat bagi transformasi lean manufacturing dan budaya kerja yang lebih produktif.
Perbaikan Kualitas Produk Tas LC menggunakan Metode Six Sigma dan FMEA di PT TIJ Maharani, Annastasya Devita; Dewayana, Triwulandari Satitidjati; Habyba, Anik Nur
Jurnal Media Teknik dan Sistem Industri Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jmtsi.v9i2.4606

Abstract

PT TIJ is a manufacturing company that produces bags under the LC brand. The problem is the number of defective products returned by the QA department to the production department, with an average return percentage of 4% from June to August 2022. This research aims to identify defects, provide suggestions for minimizing defects, and improve the production process's quality using the Six Sigma method. The define stage is done by making an Operational Process Map and Critical to Quality (CTQ). The measuring stage is carried out by making a U attribute control chart, then calculating the Defect per Million Opportunities (DPMO) value and the sigma level before repair of 5200 with a sigma level of 4.06. The analysis phase is done by making Pareto diagrams, Ishikawa diagrams, and Failure Mode and Effect Analysis. According to the Pareto diagram, the dominant types of defects are stitches, stains, and holes/tears. The highest RPN value is the shift pattern of 288, the thread breaker does not function appropriately by 280, the operator error when setting the machine is 240, and the operator is not careful by 210—training for operators and using tools in the form of clamp s. In the Control Stage, an evaluation was made of the results of the implementation of the proposed improvements, resulting in a decrease in the DPMO value of 1500 (from 5200 to 3700), as well as an increase in the sigma level value of 0.12 (from 4.06 sigma to 4.18 sigma). PT TIJ merupakan perusahaan manufaktur yang memproduksi tas dengan merek LC. Permasalahan yang terjadi adalah banyaknya produk cacat yang di retur oleh departemen QA ke bagian produksi dengan rata-rata persentase retur sebesar 4% pada bulan Juni hingga Agustus 2022. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kecacatan, memberikan usulan perbaikan untuk meminimasi kecacatan dan meningkatkan kualitas proses produksi dengan menggunakan metode Six Sigma. Tahap defines dilakukan dengan membuat Peta Proses Operasi dan Critical to Quality (CTQ). Tahap measure dilakukan dengan membuat peta kendali atribut U, lalu menghitung nilai Defect per Million Opportunities (DPMO) dan tingkat sigma sebelum perbaikan sebesar 5200 dengan tingkat sigma 4.06. Tahap analyzes dilakukan dengan membuat diagram pareto, diagram ishikawa, dan Failure Mode and Effect Analysis. Jenis kecacatan dominan menurut diagram pareto adalah jahitan, noda, dan bolong/robek. Nilai RPN tertinggi yaitu pola bergeser sebesar 288, pemutus benang tidak berfungsi dengan baik sebesar 280, kesalahan operator saat melakukan setting mesin sebesar 240, dan operator kurang berhati-hati sebesar 210. Tahap Improve dilakukan perancangan usulan perbaikan berupa pembuatan Checklist pengecekan mesin jahit, pemberian pelatihan kepada operator, serta penggunaan tools berupa clamp . Tahap Control dilakukan evaluasi dari hasil implementasi usulan perbaikan, diperoleh penurunan nilai DPMO sebesar 1500 (dari 5200 menjadi 3700), serta peningkatan nilai tingkat sigma sebesar 0,12 (dari 4,06 sigma menjadi 4,18 sigma).
Pengaruh Digital Marketing Terhadap Keputusan Pembelian Produk Lokal Erwan, Friesca; Zuhri, Sarika; Khaila, Nurul
Jurnal Media Teknik dan Sistem Industri Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jmtsi.v9i2.5095

Abstract

Digital marketing is a key strategy in the era of the Fourth Industrial Revolution, aimed at expanding market reach, improving cost efficiency, and boosting sales. Although previous studies have explored the impact of digital marketing on consumer behavior, research focusing on local Acehnese products remains limited. Preliminary observations suggest that digital marketing has the potential to influence consumer purchasing decisions for these products. This study therefore analyzes the factors affecting consumer purchase decisions of local Acehnese products through digital marketing, examining trust, ease of use, information quality, and price. Data were collected via open-ended and closed-ended questionnaires distributed through Google Forms, using a non-probability sampling technique. A total of 30 respondents completed the closed-ended questionnaire, and 174 respondents completed the open-ended questionnaire. Data analysis was conducted using Structural Equation Modelling (SEM) with AMOS software. The results indicate that ease of use, information quality, and price significantly influence digital marketing, while trust does not. Overall, the findings provide empirical evidence of the relationship between digital marketing and consumer purchasing decisions for local Acehnese products, addressing a gap in research on regional product promotion. Keywords— digital marketing; local product; purchasing decision; Structural Equation Modelling (SEM). Digital marketing merupakan salah satu strategi dalam era Revolusi Industri 4.0, yang bertujuan untuk memperluas jangkauan pasar, meningkatkan efisiensi biaya, dan mendorong peningkatan penjualan. Meskipun penelitian sebelumnya telah meneliti pengaruh pemasaran digital terhadap perilaku konsumen, studi yang fokus pada produk lokal Aceh masih terbatas. Observasi awal menunjukkan bahwa pemasaran digital berpotensi memengaruhi keputusan pembelian konsumen terhadap produk-produk tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keputusan pembelian konsumen terhadap produk lokal Aceh melalui pemasaran digital, dengan variabel yang diteliti meliputi kepercayaan, kemudahan penggunaan, kualitas informasi, dan harga. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner terbuka dan tertutup yang disebarkan melalui platform google forms dengan teknik purposive sampling. Sebanyak 30 responden mengisi kuesioner tertutup, dan 174 responden mengisi kuesioner terbuka. Analisis data dilakukan menggunakan Structural Equation Modelling (SEM) dengan bantuan perangkat lunak AMOS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemudahan penggunaan, kualitas informasi, dan harga berpengaruh signifikan terhadap pemasaran digital, sedangkan kepercayaan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Secara keseluruhan, temuan ini memberikan bukti empiris tentang hubungan antara digital marketing dan keputusan pembelian konsumen terhadap produk lokal Aceh, sekaligus menjawab kesenjangan penelitian terkait promosi produk regional.
Peningkatkan Produktivitas di Industri Otomotif Melalui Optimalisasi Sistem Produksi dengan Metode Lean Manufacturing Setiawan, Setiawan; Wiyatno, Tri Ngudi; Setiawan, Indra
Jurnal Media Teknik dan Sistem Industri Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jmtsi.v9i2.4943

Abstract

Every manufacturing industry is required to make continuous improvements, one of which is reducing waste in order to achieve efficiency and productivity in the production process. One of them is the assembly manufacturing industry in Indonesia. Based on initial observations, one of the manufacturing industries in the Cikarang Industrial Area has experienced failure to achieve production targets by the company, thus disrupting productivity. Currently, the achievement of 76% is still below the target of 80%. The purpose of this study is to improve the production process by reducing waste so that efficiency and productivity can be increased. A suitable and relevant method is to combine the Lean Manufacturing-based method with the Kaizen concept because it is believed to be able to increase productivity by using many improvement tools. This study uses two data collection techniques, namely observation and focus group discussion. The results of the study showed a reduction in the number of workers by 1 person and a reduction in process time from 184.6 seconds to 90.4 seconds or 51%. These results indicate that the implementation of lean manufacturing can increase the efficiency of the assembly process. Setiap industri manufaktur dituntut untuk melakukan perbaikan secara berkesinambungan salah satunya mengurangi pemborosan agar dicapainya efisiensi dan produktivitas dalam proses produksi. Salah satunya industri manufaktur perakitan yang ada di Indonesia. Berdasarkan observasi awal bahwa salah satu industri manufaktur yang ada di Kawasan Industri Cikarang telah mengalami ketidaktercapain target produksi oleh perusahaan sehingga mengganggu produktivitas. Saat ini, ketercapaian sebesar 76% masih di bawah target sebesar 80%. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperbaiki proses produksi dengan mengurangi pemborosan sehingga efisiensi dan produktivitas dapat ditingkatkan. Metode yang cocok dan relevan adalah dengan menggabungkan metode Lean berbasis Manufaktur dengan konsep Kaizen karena diyakini dapat meningkatkan produktivitas dengan menggunakan banyak tool perbaikan. Penelitian ini menggunakan dua teknik pengumpulan data yaitu observasi dan focus group discussion. Hasil penelitian menunjukkan pengurangan jumlah tenaga kerja sebanyak 1 orang dan pengurangan waktu proses dari 184,6 detik menjadi 90,4 detik atau sebesar 51%. Hasil ini menunjukkan bahwa implementasi lean manufacturing dapat meningkatkan efisiensi proses perakitan.
Perancangan Tata Letak Berdasarkan GMP & 5S Di PD Sumpia 17 Mauluddin, Yusuf; Yulistiani, Sri
Jurnal Media Teknik dan Sistem Industri Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jmtsi.v9i2.4885

Abstract

Implementing standards in the food industry is mandatory for companies aiming to compete in the market. These standards are known as Good Manufacturing Practices (GMP) in food production processes. GMP implementation ensures product safety and compliance with industry requirements. This study aims to analyze the application of GMP standards at PD Sumpia 17. The 5S method (seiri, seiton, seiso, seiketsu, and shitsuke) was incorporated to improve the work environment during production activities. The analysis revealed that the company needs to optimize its facility layout. The Systematic Layout Planning (SLP) method, optimized with CRAFT, was used to redesign the layout. As the proposed improvements require investment, an economic feasibility test was conducted to assess their viability. The study recommends that facility and layout upgrades align with GMP and 5S standards, presenting the proposed layout in a 3D visualization. The required investment amounts to IDR 37,768,000. Feasibility analysis shows an IRR of 27.89%, exceeding the MARR of 16.35%, confirming the investment's financial viability.. Penerapan standar dalam industri makanan merupakan kewajiban bagi perusahaan yang ingin berkompetisi di pasar. Dalam proses produksi makanan dikenal dengan Good Manufacturing Practices (GMP). Penerapan standar GMP untuk memastikan keamanan produk dan memenuhi standar industri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan standar GMP di PD Sumpia 17. Metode 5S (seiri, seiton, seiso, seiketsu, dan shitsuke) ditambahkan untuk menciptakan lingkungan kerja yang baik pada kegiatan proses produksinya. Berdasarkan analisis tersebut, diperoleh temuan bahwa perusahaan perlu melakukan perbaikan tata letak fasilitas pabriknya. Metode yang digunakan untuk perancangan tata letak fasilitas adalah metode Systematic Layout Planning (SLP) yang dioptimalisasi dengan metode CRAFT. Implementasi rancangan perbaikan memerlukan investasi, untuk itu perlu dilakukan uji kelayakan secara ekonomis apakah perbaikan layak dilaksanakan. Hasil penelitian merekomendasikan perbaikan fasilitas dan tata letak agar sesuai standar GMP dan 5S. Rancangan tata letak usulan disajikan dalam bentuk visualisasi 3D. Investasi yang diperlukan sebesar Rp 37.768.000,00. Analisis kelayakan menunjukkan IRR 27,89%, melebihi MARR 16,35%, sehingga investasi ini layak dijalankan.
Pendekatan Simulatif Untuk Meningkatkan Pemahaman Outbound Logistics Isrofi, Nisa; Rachmaniar, Desita Nur; Hajar, Granita
Jurnal Media Teknik dan Sistem Industri Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jmtsi.v9i2.5163

Abstract

The increasingly dynamic and unpredictable global economic developments have driven the importance of effective outbound logistics management, particularly in ensuring products reach consumers efficiently. Logistics is the process of planning, implementing, and controlling the flow of goods and services, encompassing several activities such as distribution, inventory management, and transportation, all of which are part of outbound logistics. The complexity and interconnectedness of logistics elements necessitate appropriate strategies for decision-making, such as determining the appropriate mode of transportation, determining optimal inventory levels, and selecting efficient distribution routes. The primary focus of outbound logistics is efforts to minimize total logistics costs, where logistics costs are crucial in determining company performance. This study emphasizes the importance of logistics analysis as a basis for improving distribution efficiency, supporting accurate decision-making in the context of outbound logistics, and supporting the company's continued competitiveness in the face of global market uncertainty. This study shows that by simulating the dynamics of outbound logistics in a structured manner, supply chain actors can better understand the impact of imbalances between warehouse capacity, transportation mode options, and responses to fluctuating market demand. Key findings indicate that appropriate decision-making in terms of inventory management and distribution route selection can significantly reduce total logistics costs and improve service efficiency. Perkembangan ekonomi global yang semakin dinamis dan tidak terduga mendorong pentingnya pengelolaan outbound logistics yang efektif, terutama dalam memastikan produk dapat sampai ke konsumen dengan efisien. Logistik merupakan proses perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian aliran barang maupun jasa, yang didalamnya terdiri dari beberapa aktivitas seperti distribusi, pengelolaan persediaan dan transportasi yang termasuk dalam bagian outbound logistics. Kompleksitas dan keterkaitan antar elemen logistik membutuhkan adanya strategi yang tepat dalam pengambilan keputusan seperti menentukan moda transportasi yang sesuai, menentukan jumlah persediaan optimal dan rute distribusi yang efisien. Fokus utama outbound logistics adalah upaya untuk meminimalkan total biaya logistic dimana biaya logistic merupakan hal yang krusial dalam menentukan kinerja perusahaan. Penelitian ini menekankan pada pentingnya pemahaman logistic sebagai dasar untuk meningkatkan efisiensi distribusi, mendukung ketepatan pengambilan keputusan dalam konteks outbound logistics dan mendukung keberlangsungan daya saing perusahaan dalam menghadapi ketidakpastian pasar global. Studi ini menunjukkan bahwa dengan menyimulasikan dinamika outbound logistics secara terstruktur, pelaku rantai pasok dapat lebih memahami dampak dari ketidakseimbangan antara kapasitas gudang, pilihan moda transportasi, serta respons terhadap permintaan pasar yang fluktuatif. Temuan utama menunjukkan bahwa pengambilan keputusan yang tepat dalam hal pengelolaan persediaan dan pemilihan rute distribusi dapat secara signifikan menurunkan total biaya logistik dan meningkatkan efisiensi layanan.
Transformasi IKM Tempe Sanan dengan Lean Management dan Value Stream Mapping (VSM) untuk Efisiensi Proses Produksi Purnomo, Purnomo; Wicaksono, Soetam Rizky; Setiawan, Rudy
Jurnal Media Teknik dan Sistem Industri Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jmtsi.v9i2.4824

Abstract

Penelitian ini membahas penerapan lean management pada Industri Kecil Menengah (IKM) Tempe Sanan di Malang untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi produksi. Lean management diterapkan menggunakan Value Stream Mapping (VSM) untuk memvisualisasikan dan mengidentifikasi pemborosan dalam proses produksi. Future state map dirancang untuk meminimalkan waktu siklus dan mengurangi aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah. Dalam tahap implementasi, dilakukan sosialisasi dan uji coba skala kecil yang menunjukkan hasil positif dalam mengurangi pemborosan di tahapan produksi seperti pendinginan dan perebusan. Meski demikian, penerapan penuh VSM menghadapi kendala dalam bentuk keterbatasan sumber daya dan pemahaman dari pemilik IKM. Implementasi lean management ini juga mencakup penggunaan teknologi tepat guna, seperti panci berinsulasi dan sistem pendingin berbasis konveksi alami, yang dapat diterapkan secara sederhana namun efektif dalam meningkatkan efisiensi proses. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lean management melalui alat VSM dapat menjadi pendekatan strategis untuk meningkatkan daya saing IKM, dengan pemantauan berkelanjutan melalui KPI seperti waktu siklus, tingkat inventori, dan tingkat keterlambatan. Monitoring ini diharapkan dapat membawa perbaikan yang berkelanjutan dalam proses produksi, yang berdampak positif pada profitabilitas dan pertumbuhan IKM Tempe Sanan.
Perancangan Strategi Implementasi Agile Governance Pada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Ridwan, Ridwan; Susanti, Lusi; Zadry, Hilma Raimona; Meilani, Difana
Jurnal Media Teknik dan Sistem Industri Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jmtsi.v9i2.4978

Abstract

ImplementingAgile Governance in Regional Government Organization (RGO) is crucial for improving the efficiency and effectiveness of public services. However, its implementation still faces various challenges such as rigid and slow bureaucracy, lack of cross-functional collaboration, suboptimal utilization of digital technology, and human resources who are not accustomed to Agile work patterns. This research is designed to develop implementation strategies forAgile Governance at Regional Government Organization (RGO). The aim is to accelerate the transformation towards a moreAgile Governance in Regional Government Organization (RGO). The research methodology adopts the MEAD (Macroergonomics Analysis and Design) macroergonomics approach that integrates human factors, technology, and work organization. In evaluating the current conditions and the importance of performance indicators, a survey was conducted using a questionnaire validated by the Content Validity Index (CVI) and analyzed using Importance-Performance Analysis (IPA). The first priority results will be used to design strategies and Key Performance Indicators for each of the proposed strategies. The research findings indicate a gap between the current conditions and the importance levels of Agile Governance performance aspects. IPA identified several priority areas that require improvement, including career development and training, risk management, transparency, job suitability, adequacy of work facilities and employee welfare. Based on these findings, strategies and Key Performance Indicators (KPIs) were formulated to enhance the implementation of Agile Governance in Regional Government Organization (RGO). ImplementasiAgile Governance pada Organisasi Perangkat Daerah (OPD) menjadi penting untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas layanan publik. Namun, penerapannya masih menghadapi berbagai tantangan seperti birokrasi yang kaku dan lambat, kurangnya kolaborasi lintas fungsi, pemanfaatan teknologi digital yang belum optimal, serta sumber daya manusia yang belum terbiasa dengan pola kerja Agile. Penelitian ini dilakukan untuk merancang strategi implementasiAgile Governance pada Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Tujuannya adalah mempercepat transformasi menuju tata kelola yang lebih Agile pada Organisasi Perangkat Daerah. Metodologi penelitian mengadopsi pendekatan ergonomi makro, Macroergonomics Analysis and Design (MEAD) yang mengintegrasikan antara faktor manusia, teknologi dan organisasi kerja. Dalam evaluasi kondisi saat ini dan kepentingan aspek kinerja dilakukan survei dengan kuesioner yang divalidasi menggunakan Content Validity Index (CVI) dan dianalisis menggunakan Importance-Performance Analysis (IPA). Hasil prioritas utama menjadi fokus perancangan strategi dan Key Performance Indikator (KPI) untuk masing-masing strategi yang dirancang. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan antara kondisi saat ini dan tingkat kepentingan aspek-aspek kinerja Agile Governance. IPA mengidentifikasi beberapa area prioritas yang memerlukan perbaikan, termasuk pengembangan karir dan pelatihan, pengelolaan risiko, transparansi, kesesuaian jabatan, dan kelengkapan sarana kerja, dan kesejahteraan karyawan. Berdasarkan temuan tersebut, dirumuskan strategi dan Key Performance Indicators (KPI) untuk meningkatkan implementasi Agile Governance pada Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Pendekatan Terpadu pada Perancangan Rute Distribusi untuk Meminimasi Biaya Transportasi Helmi, Muhammad Nurman; Yogaswara, Yogi; Andryanto, Bram; Asri, Ryry Rizky; Setyawan, Widy
Jurnal Media Teknik dan Sistem Industri Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jmtsi.v9i2.5663

Abstract

An integrated approach to distribution route design considers several aspects of the distribution network simultaneously such as customer distribution grouping, warehouse locations, routes and vehicle capacity. This approach aims to optimize these factors as an integrated system so that vehicle travel routes are shorter and more efficient and save overall costs. For this purpose, the use of complex mathematical models in designing distribution routes is unavoidable. Distribution route design begins with grouping retailers/agents so that transport vehicles in only one trip can complete their tasks using the Fuzzy c-Means Clustering approach. The next step is the selection of warehouse locations that consider the distribution of demand from retailers/agents in each cluster. For warehouse location selection that is centered on the distribution of retail/agent demand, geographic analysis is very important to map areas with high demand concentrations, so that placing warehouses close to the majority of customers can speed up delivery times and minimize transportation costs. This step uses the P-Median approach with the Greedy Dropping Heuristic Algorithm. This design ends by determining the optimization route using Insertion Heuristic or Vehicle Routing Problem in each cluster, starting with the vehicle departing from the warehouse providing service until all retailers/agents in the cluster are served and returning to the warehouse in just one iteration. The next approach, Tabu Search metaheuristic, is carried out to see other possible shortest distance alternatives by optimizing the shortest distance obtained in the previous stage. This design is applied to the 3 kg gas distribution route in East Bandung City which has six intermediary warehouses and 72 retailers/agents. The integrated design of the 3 kg distribution route produces a cost efficiency of 72.28%. Pendekatan terpadu terhadap perancangan rute distribusi mempertimbangkan sejumlah aspek jaringan distribusi secara bersamaan seperti pengelompokan sebaran pelanggan, lokasi Gudang, rute dan kapasitas kendaraan. Pendekatan ini bertujuan mengoptimalkan faktor-faktor tersebut sebagai satu sistem yang terintegrasi sehingga rute tempuh kendaraan lebih pendek dan efisien serta menghemat biaya keseluruhan. Untuk tujuan ini, penggunaan model matematika kompleks dalam merancang rute distribusi tidak dapat dihindari. Desain rute distribusi diawali dengan mengelompokkan ritel/agen agar kendaraan angkut dalam hanya satu ritasi dapat menyelesaikan tugasnya dengan pendekatan Fuzzy C-Means Clustering. Langkah berikutnya adalah pemilihan lokasi gudang yang mempertimbangkan sebaran permintaan daripada ritel/agen di setiap klaster. Untuk pemilihan lokasi gudang yang berpusat pada sebaran permintaan ritel/agen, analisis geografis sangat penting untuk memetakan area dengan konsentrasi permintaan tinggi, sehingga menempatkan gudang dekat dengan mayoritas pelanggan dapat mempercepat waktu pengiriman dan meminimalkan biaya transportasi. Langkah ini menggunakan pendekatan P-Median dengan Greedy Dropping Heuristic Algorithm. Perancangan ini diakhiri dengan menetapkan rute optimasi menggunakan Insertion Heuristik atau Vehicle Routing Problem pada setiap klaster dengan diawali kendaraan berangkat dari gudang memberi pelayanan hingga semua ritel/agen dalam klaster terlayani dan kembali ke gudang hanya dalam satu ritasi. Pendekatan berikutnya metaheuristik Tabu Search dilakukan untuk melihat kemungkinan alternatif jarak terpendek lainnya dengan melakukan optimisasi jarak terpendek yang telah diperoleh pada tahapan sebelumnya. Perancangan ini diterapkan pada rute distribusi gas 3 kg Kota Bandung Timur yang mempunyai enam gudang perantara dan 72 ritel/agen. Perancangan terpadu rute distribusi 3 kg menghasilkan efisiensi biaya sebesar 72,28%.
Analisis Eksperimen Tingkat Kebasahan Clay pada Proses Dryer di Laboratorium PT. XYZ Prastycia, Brighitta Natalia; hidayah, nur yulianti
Jurnal Media Teknik dan Sistem Industri Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jmtsi.v9i2.4640

Abstract

PT. XYZ is a manufacturing company that produces ceramic roof tiles. A good tile specification is if the clay as raw material has a wetness level after the drying process ?2.5%. The level of clay wetness affects the quality of the product. If the level of wetness after the drying process does not meet the specifications, the product will break easily. Currently, the average initial wetness level of clay (before the drying process) is 18%-22%. This research aims to determine the right time setting in the ceramic tile drying process to produce a wetness level after drying according to specifications by conducting an experimental study at the Company's Laboratory. Experiments were conducted on five clay samples with initial wetness levels of 18.60%; 19.87%; 20.45%; 21.42%; and 22.03%. Each sample was dried for 30, 40, 50, 60, and 70 minutes to produce post-drying wettability according to specifications. The experimental results were processed by Two-Way ANOVA without interaction to evaluate the effect of initial wetness level and drying duration on clay wetness level after drying process. The analysis resulted in clay drying duration for initial wetness of 18.60% at least 40 minutes, initial wetness of 19.87% at least 50 minutes, initial wetness of 20.45% and 21.42% at least 60 minutes, and initial wetness of 22.03% at least 70 minutes with a temperature of 180°C, resulting in clay wetness after drying according to specifications. Based on these findings, an SOP for checking the initial wetness of clay for the drying process was developed to produce good quality roof tiles. PT. XYZ merupakan perusahaan manufaktur yang memproduksi genteng keramik. Spesifikasi genteng yang baik adalah jika clay sebagai bahan baku memiliki tingkat kebasahan setelah proses pengeringan ?2,5%. Tingkat kebasahan clay berpengaruh terhadap mutu produk. Jika tingkat kebasahan setelah proses pengeringan tidak sesuai spesifikasi, akan berakibat pada produk mudah pecah. Saat ini, rata-rata tingkat kebasahan awal clay (sebelum proses pengeringan) adalah 18%-22%. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaturan waktu yang tepat pada proses pengeringan genteng keramik untuk menghasilkan tingkat kebasahan clay setelah proses pengeringan sesuai spesifikasi dengan melakukan studi eksperimen di laboratorium PT. XYZ serta menyusun SOP pengecekan kebasahan awal clay. Eksperimen dilakukan terhadap lima sampel clay dengan tingkat kebasahan awal 18,60%; 19,87%; 20,45%; 21,42%; dan 22,03%. Masing-masing sampel dikeringkan selama 30, 40, 50, 60, dan 70 menit hingga menghasilkan tingkat kebasahan clay setelah proses pengeringan sesuai spesifikasi. Hasil eksperimen diolah dengan Two-Way ANOVA tanpa interaksi untuk mengevaluasi pengaruh tingkat kebasahan awal clay dan durasi pengeringan terhadap tingkat kebasahan clay setelah proses pengeringan. Hasil analisis menghasilkan durasi pengeringan clay untuk kebasahan awal 18,60% selama 40 menit, kebasahan awal 19,87% selama 50 menit, kebasahan awal 20,45% dan 21,42% selama 60 menit, dan kebasahan awal 22,03% selama 70 menit dengan suhu 180°C sehingga menghasilkan tingkat kebasahan clay setelah proses pengeringan sesuai spesifikasi. Berdasarkan temuan ini, disusun SOP pengecekan kebasahan awal clay untuk proses pengeringan agar menghasilkan kualitas genteng yang baik.

Page 1 of 1 | Total Record : 10