cover
Contact Name
Johannis Siahaya
Contact Email
jurnal@stakterunabhakti.ac.id
Phone
+6281322661998
Journal Mail Official
jurnal@stakterunabhakti.ac.id
Editorial Address
Ds. Daratan 2, Sendang Arum, Kec. Minggir, Kab. Sleman, D.I. Yogyakarta 55562
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JURNAL TERUNA BHAKTI
ISSN : 2622514X     EISSN : 26225085     DOI : 10.47131
Jurnal Teruna Bhakti merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Agam Kristen Teruna Bhakti, Yogyakarta, dengan Scope: Teologi Sistematika, Teologi Biblika, Pendidikan Agama Kristen, Kepemimpnan Kristen, Teologi Praktika.
Articles 133 Documents
Kajian Biblikal tentang Manusia Rohani dan Manusia Duniawi Yonatan Alex Arifianto
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 3, No 1 (2020): Agustus 2020
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v3i1.51

Abstract

Immaturity in taking an attitude and acting as they should be following the way and order of God's Word can be called a worldly man who has the impact of jealousy, strife, so as to give rise to worldly people who do not know the truth. The natural man will also represent who the believer is. Spiritual maturity that involves God's role in the work of the Holy Spirit will continue to renew the mind and passion to continue fellowship with God. Likewise, what happens for humans who are in Jesus Christ will become a person in His image and become a blessing to others. With descriptive qualitative research methods, the author can describe the classification of the worldly man which refers to the immature in Christ, whose food is still limited to milk, and has an attitude of envy, strife and lives in a worldly manner. In addition, a spiritual person is described by the indicators: leaving childishness, accepting solid food and becoming a peacemaker, so that he can continue to grow, have a changed consciousness in all good things. In the end, the spiritual man can be a blessing and give good fruit to the lives of others. Abstrak Ketidakdewasaan dalam mengambil sikap dan bertindak sebagaimana seharusnya mengikuti cara dan tatanan Firman Tuhan dapat disebut sebagai manusia duniawi yang memiliki dampak iri hati, perselisihan sehingga memunculkan manusia duniawi yang tidak mengenal kebenaran. Manusia duniawi itu juga akan mepresentasikan siapa pribadi orang percaya. Kedewasaan rohani yang melibatkan peran Tuhan dalam karya Roh Kudus akan terus memperbaharui pikiran dan gairah untuk terus bersekutu dengan Tuhan. Demikianlah juga yang terjadi bagi manusia yang ada dalam Yesus Kristus akan menjadi pribadi yang serupa dengan gambarNya dan menjadi berkat bagi sesama. Dengan metode penelitian kualitatif deskriptif, penulis dapat mendeskripsikan klasifikasi manusia duniawi yang mengacu pada belum dewasa dalam Kristus, yang makanannya masih sebatas susu, serta memiliki sikap iri hati, perselisihan dan hidup secara duniawi. Selain itu, dideskripsikan manusia rohani dengan indikator: meninggalkan sifat kanak-kanak, menerima makanan keras dan menjadi pembawa damai, sehingga dapat terus bertumbuh, memiliki kesadaran berubah dalam segala hal yang baik. Pada akhirnya manusia rohani dapat menjadi berkat dan memberikan buah yang baik bagi kehidupan orang lain.
“Bahasa Tanah” sebagai Sarana Pemberitaan Injil Jemaat GPM Immanuel Kilang, Ambon Thomson F. E. Elias; Wiesye A. Wattimury
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 3, No 1 (2020): Agustus 2020
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v3i1.43

Abstract

This study aims to see how the role of the church in relation to cultural symbols, specifically the native language (land), of an area, to serve as a means of contextual theology. This study uses descriptive qualitative research, which is conducted in an interview method with key respondents. The church in its ministry must be able to understand that the cultural richness of a place is a means of preaching the gospel. It is in this process that the language of the land must be used as a means of preaching the Gospel in order to create a contextual theology. Abstrak Penelitian ini, bertujuan untuk melihat bagaimana peran gereja dalam hubungan-nya dengan simbol-simbol kebudayaan, secara khusus bahasa asli (tanah), suatu daerah, untuk dijadikan sebagai sarana teologi kontekstual. Penelitian ini, menggunakan penelitian kualitatif desriptif, di mana dilakukan dalam metode wawancara, terhadap responden kun-ci. Gereja dalam pelayanannya harus mampu memahami bahwa kekayaan budaya suatu tempat, merupakan sarana untuk memberitakan Injil. Dalam proses inilah maka bahasa ta-nah haruslah dipakai sebagai sarana pemberitaan Injil untuk terciptanya teologi yang kontekstual.
Pendidikan Kristiani dalam Membangun Kesadaran Hukum Positif di Indonesia Desi Arisandi Laga Nguru
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 3, No 2: Pebruari 2021
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v3i2.47

Abstract

Problems that arise in social life, in general, are due to community considerations regarding the observance of positive laws that apply. It is known that the law has a function to provide protection for the interests of every human being. Therefore the law must be implemented so that these interests can be protected. Every human being will be able to understand, negotiate, and obey positive laws that must be approved and understood through formal and non-formal education. Christian Religious Education is an effective means to take part in efforts to educate the nation's life through positive legal assistance in Indonesia. Christians do not oppose the positive laws that apply in Indonesia and the Bible which is the basis of all related to Christian Education clearly provides support for the observance of applicable laws. As such, Christian Religious Education seeks to improve relations with obedience to the law in society through formal and non-formal education in families, churches, and schools. Abstrak Persoalan-persoalan yang timbul dalam kehidupan bermasyarakat pada umumnya disebabkan oleh kurangnya kesadaran hukum dari masyarakat tentang ketaatan terhadap hukum positif yang berlaku. Diketahui bahwa hukum mempunyai fungsi untuk memberikan perlindungan terhadap kepentingan setiap manusia. Oleh karena itu hukum harus dilaksanakan agar kepentingan tersebut dapat terlindungi. Setiap manusia akan dapat mengerti, memahami, dan mentaati hukum positif yang berlaku apabila diberikan pemahaman dan diajarkan secara terus-menerus lewat pendidikan formal maupun nonformal. Pendidikan Agama Kristen merupakan sarana yang efektif untuk mengambil bagian dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa lewat pengajaran implementasi hukum positif di Indonesia. Sebab dapat diketahui bahwa secara umum pendidikan kristen tidak bertentangan dengan hukum positif yang berlaku di Indonesia dan Alkitab yang merupakan dasar dari semua pengajaran Pendidikan Kristen sangat jelas memberikan dukungan terhadap ketaatan hukum yang berlaku. Dengan demikian Pendidikan Agama Kristen berperan untuk mengimplementasikan pengajaran tentang ketaatan terhadap hukum di dalam masyarakat lewat pendidikan formal maupun nonformal di keluarga, gereja dan sekolah.percaya memiliki tanggung jawab social dan tanggung jawab dalam memelihara lingkungan.
Profil Guru Pendidikan Agama Kristen sebagai Pemimpin yang Melayai Arozatulo Telaumbanua
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 3, No 1 (2020): Agustus 2020
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v3i1.54

Abstract

The task of Christian religion teachers is not just teaching but also leaders of their students. The task of the Christian religion teacher is complex so as to enable his leadership to focus more on the concept of service that brings students more disciplined and quality. The Christian teacher as a leader who serves is to give his time, energy, thoughts, and life as an educator. Qualified Christian religion teachers are able to lead their students with exemplary leadership and love. Serving leadership, Christian religious teachers attach great importance to teaching that leads students to better understand the meaning of their lives as Christians. The concept of Christian religious teacher leadership is intended to focus more on the leadership of student characters. Character leadership is the goal of Christian religious education to produce great leaders and characters like the Lord Jesus Christ. In this study, the authors use library research methods, namely books and literature as a source of data. Abstrak Tugas guru agama Kristen tidak hanya sekadar mengajar tetapi juga pemimpin bagi muridnya. Tugas guru agama Kristen adalah kompleks sehingga memungkinkan kepemimpinannya lebih fokus pada konsep pelayanan yang membawa muridnya lebih disiplin dan berkualitas. Guru agama Kristen sebagai pemimpin yang melayani adalah memberikan waktu, tenaga, pikiran dan kehidupannya sebagai pendidik. Guru agama Kristen yang berkualitas mampu memimpin muridnya dengan kepemimpinan teladan dan kasih. Kepemimpinan yang melayani, guru agama Kristen mementingkan pengajaran yang membawa murid lebih memahami makna hidupnya sebagai orang Kristen. Konsep kepemimpinan guru agama Kristen yang dimaksudkan lebih fokus pada kepemimpinan karakter murid. Kepemimpinan karakter merupakan tujuan pendidikan agama Kristen untuk menghasilkan pemimpin yang hebat dan berkarakter seperti Tuhan Yesus Kristus. Di dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian pustaka, yakni buku dan literatur sebagai sumber data.
Analisis Yehezkiel 37:1-6 sebagai Identifikasi Kesetiaan Janji Allah di Masa Sulit Bimo Setyo Utomo
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 3, No 2: Pebruari 2021
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v3i2.59

Abstract

God's faithfulness to His promises is an eternal guarantee to His people that He will act according to what He has said. God's promises are certainly not just ideas, but steadfast initiatives from God that help every believer to find hope for a more victorious future. However, it cannot be denied that God's promises always intersect with pressing problems on the human side and make people doubt God's promises. This is the same as what was experienced by the Israelites when they were in Babylonian exile, their condition collapsed exactly as the vision of the dry bones seen by the prophet Ezekiel. This study aims to analyze the text of Ezekiel 37: 1-6 to obtain identification of the faithfulness of God's promises. The method used in this research is qualitative, by applying descriptive methods through grammatical and lexical analysis. In terms of identifying God's faithfulness to His promises in Ezekiel 37: 1-6, the following understanding is obtained: God initiates the promise of restoration, God acts in the history of salvation, and God assures His promises. Abstrak Kesetiaan Allah terhadap janji-Nya merupakan suatu jaminan yang kekal bagi umat-Nya bahwa Ia akan bertindak sesuai dengan apa yang telah difirmankan-Nya. Janji Allah tentu bukanlah sekedar ide saja, melainkan inisiatif yang teguh dari Allah dan membantu setiap orang percaya untuk mendapatkan pengharapan bagi masa depan yang lebih berkemenangan. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa di pihak manusia, janji Allah selalu bersinggungan dengan permasalahan yang menghimpit dan membuat manusia ragu terhadap janji Allah. Hal ini sama dengan yang dialami oleh bangsa Israel ketika berada di pembuangan Babel, kondisi mereka terpuruk sama persis seperti penglihatan tulang kering yang dilihat oleh nabi Yehezkiel. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa teks Yehezkiel 37:1-6 untuk diperoleh identifikasi kesetiaan janji Allah. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah kualitatif, dengan menerapkan metode deskriptif melalui analisis gramatikal dan leksikal. Dalam hal identifikasi kesetiaan Allah terhadap janji-Nya dalam Yehezkiel 37:1-6, maka didapatkan pemahaman sebagai berikut: Allah memberikan inisiatif janji pemulihan, Allah bertindak dalam sejarah penyelamatan, dan Allah memberikan jaminan dalam janji-Nya.
Keselamatan di Balik Penghukuman: Menelisik Situasi Sosial Kitab Mikha Melvin Malau
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 3, No 1 (2020): Agustus 2020
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v3i1.46

Abstract

The texts in the Book of Micah give rise to several interpretations. From several interpretations, it was written that there was a period of background in different social situations and that influenced the writing, reconstruction of the text, and message of theology. First, there is a shift in the social, political, economic, and religious situation. Second, these texts consist of several ideas, contents, and combinations. This paper presents a reading of Micah chapters 1-7 in a social-historical setting by considering its theological consequences. The research in this paper uses the social history analysis method to discuss texts as a form of meaningful language to communicate between writers, editors, composers, and listeners. The sources found are available to reconstruct the social world of ancient Israel. The results of the study emphasize that the themes of salvation after the condemnation of Micah chapters 1-7 are combined, edited during the three periods of social history namely the period pre-exile, in-exile and post-exile. Abstrak Teks-teks dalam Kitab Mikha menimbulkan beberapa penafsiran. Dari beberapa penafsiran dituliskan adanya periode latar belakang situasi sosial yang berbeda dan mempengaruhi kepenulisan, rekonstruksi peredaksian teks dan pesan teologi. Pertama, adanya pergeseran situasi sosial, politik, ekonomi, dan agama. Kedua, teks-teks ini terdiri dari beberapa ide, isi dan pengabungan-penggabungan. Tulisan ini memperlihatkan sebuah pembacaan Mikha pasal 1-7 dalam setting sejarah sosial dengan mempertimbangkan kon-sekuensi teologisnya. Penelitian dalam tulisan ini menggunakan metode analisis sejarah sosial membahas teks-teks sebagai bentuk bahasa yang bermakna untuk berkomunikasi antara penulis, redaktur, komposer dan pendengar. Sumber-sumber yang ditemukan terse-dia untuk merekonstruksi dunia sosial Israel kuno. Hasil dari penelitian menekankan bahwa tema-tema keselamatan setelah penghukuman Mikha pasal 1-7 digabungkan, diredaksi selama tiga periode sejarah sosial yaitu masa sebelum pembuangan, pembuangan dan setelah pembuangan.
Persepsi Orang tua Mengenai Belajar dari Rumah dan Pendampingan Keluarga Kristen Selama Masa Pandemi Covid-19 Ezra Pradeksa Widyawan; J Priyanto Widodo; Tan Lie Lie
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 4, No 1: Agustus 2021
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v4i1.77

Abstract

This research aims to describe the implementation of Learning from Home (BDR) based on the regulations of the Ministry of Education and Culture of the Republic of Indonesia, regarding parents' perception of the implementation of BDR and the implementation of Christian family assistance during the Covid19 pandemic. The type of research used is qualitative research. The results showed the impact of the Covid-19 pandemic, The government sets regulations related to learning, namely online learning. The results showed the impact of the Covid-19 pandemic, the government set regulations related to learning, namely online learning. Then parents' perception of BDR, online learning was done during the COVID-19 pandemic, students can use technological devices when learning from home, although many are still lazy to do tasks given by teachers and do not focus on learning. In terms of mentoring, many parents are unable to directly assist this because most parents work when BDR is done. The main factor that must be considered by the school in learning during the pandemic is cleanliness, school health facilities, implementation of health protocols, and schools/teachers being able to follow learning materials.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan Belajar dari Rumah (BDR) berdasarkan peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, mengenai persepsi orang tua terhadap pelaksanaan BDR dan pelaksanaan pendampingan keluarga Kristiani di masa pandemi Covid19. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan dampak pandemi Covid-19, pemerintah menetapkan peraturan terkait pembelajaran yaitu pembelajaran online. Kemudian persepsi orang tua terhadap BDR, pembelajaran online dilakukan pada masa pandemi COVID-19, siswa dapat menggunakan perangkat teknologi saat belajar dari rumah, meskipun banyak yang masih malas mengerjakan tugas yang diberikan guru dan tidak fokus belajar. Dalam hal pendampingan, banyak orang tua yang tidak dapat mendampingi secara langsung hal ini dikarenakan sebagian besar orang tua bekerja saat dilakukan BDR. Faktor utama yang harus diperhatikan pihak sekolah dalam melakukan pembelajaran pada masa pandemi adalah tentang kebersihan, fasilitas kesehatan sekolah, menerapkan protokol kesehatan dan sekolah/guru mampu mengikuti materi pembelajaran. 
Spirtualitas Kristen yang tidak Menjadi Batu Sandungan: Refleksi Roma 14:20-21 Daniel Agustinus P.L Tobing; Maria Evvy Yanti
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 4, No 1: Agustus 2021
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v4i2.115

Abstract

In Christian fellowship, it is important to accept one another, especially those who are weak in faith without judging their beliefs or lack of understanding. This study aims to analyze the meaning of not being a stumbling block in the text of Romans 14:20-21 to gain Paul's understanding of the ethics of Christian life in building fellowship in which the essence of God's kingdom is truth, peace, and joy by the Holy Spirit. The method used in this research is the descriptive method through technical analysis. Through this research, it is hoped that in Christian fellowship a Christian life will be created that does not become a stumbling block because of the love that is responsible for one another beyond anything let alone trivial things (food and drink) for the sake of the unity of the fellowship and Christian life.  AbstrakDalam persekutuan Kristen penting untuk saling menerima apalagi mereka yang lemah dalam iman tanpa menghakimi keyakinan atau kurangnya pemahaman mereka. Penelitian ini ber-tujuan menganalisa makna tidak menjadi batu sandungan dalam teks Roma 14:20-21 untuk mendapat-kan pemahaman Paulus tentang etika hidup Kristen dalam membangun persekutuan yang di dalam-nya ada esensi kerajaan Allah yaitu kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif melalui analisa teks. Melalui penelitian ini diharapkan dalam persekutuan Kristen tercipta kehidupan Kristen yang tidak menjadi batu sandungan karena adanya kasih yang bertanggug jawab terhadap satu sama lain melampaui apapun apalagi hal-hal sepele (makanan dan minuman) demi keutuhan persekutuan dan kehidupan Kristen.  
Kajian Teologis tentang Kehidupan Kristen dalam Berbangsa dan Bernegara: Refleksi Teologis Roma 13:1-7 Munatar Kause
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 4, No 1: Agustus 2021
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v4i1.98

Abstract

The church exists and is an integral part of the Indonesian nation. The church is expected to participate in the life of the nation because the Bible also recommends it. This article is a descriptive qualitative study that conducts an understanding of the text of Romans 13:1-7, in which Paul suggests that believers, Christians can perform their functions in order to live as citizens. AbstrakGereja ada dan menjadi bagian yang integral dari bangsa Indonesia. Gereja diharapkan dapat berpartisipasi dalam kehidupan berbangsa, karena Alkitab pun menyarankan demikian. Artikel ini merupakan sebuah kajian kualitatif deskriptif yang melakukan pemahaman terhadap teks Roma 13:1-7, di mana Paulus menyarankan agar umat percaya, orang Kristen dapat melakukan fungsinya dalam rangka hidup sebagai warga negara.    
Pendidikan Kristiani Inklusif-Dialogis dalam Konteks Perguruan Tinggi Sibarani, Apriani Magdalena
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 4, No 2: Pebruari 2022
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v4i2.110

Abstract

AbstractThis paper focuses  on Christian education in the context of higher education by proposing a dialogue-inclusive Christian education model as a manifestation of religious moderation. In this regard, the author uses Edward Foley's method of theological reflection which offers a new perspective of theological reflection in interreligious context by using the term reflective believing. Reflective believing becomes a space for interreligious experiences, cultures and traditions to connect and give meaning. Reflective believing will be linked to three important elements in Christian education developed by Jack L Seymour, namely identity, vocational and resources.The result is a dialogue-inclusive Christian education model, namely Christian education as an encounter of identity, vocational and resource; Christian education as a dialogue of experience and faith traditions; Christian education as a collective action.Keywords : christian education, religious moderation, reflective believing.

Page 4 of 14 | Total Record : 133