cover
Contact Name
Johannis Siahaya
Contact Email
jurnal@stakterunabhakti.ac.id
Phone
+6281322661998
Journal Mail Official
jurnal@stakterunabhakti.ac.id
Editorial Address
Ds. Daratan 2, Sendang Arum, Kec. Minggir, Kab. Sleman, D.I. Yogyakarta 55562
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JURNAL TERUNA BHAKTI
ISSN : 2622514X     EISSN : 26225085     DOI : 10.47131
Jurnal Teruna Bhakti merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan Pendidikan Agama Kristen yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Agam Kristen Teruna Bhakti, Yogyakarta, dengan Scope: Teologi Sistematika, Teologi Biblika, Pendidikan Agama Kristen, Kepemimpnan Kristen, Teologi Praktika.
Articles 133 Documents
Gereja dan Pendidikan Kristen: Ekspresi Iman Mengatasi Isu Pemanasan Global pada Ruang Virtual dan Dunia Nyata Carolina Etnasari Anjaya; Reni Triposa; Alfinny Jelie Runtunuwu
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 4, No 1: Agustus 2021
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v4i1.93

Abstract

Global warming is one of the serious threats to the world related to the environment and human survival. Global warming requires lifelong prevention efforts, therefore the church as a Christian community has a responsibility in it as a form of implementing God's cultural mandate. This study aims to describe the role of the church in efforts to prevent global warming through education by establishing relationships and utilizing virtual space. The research method uses a descriptive qualitative approach with library research techniques. The results of the study conclude that the church can play an active role in preventing global warming which is formulated in the Christian education curriculum. Some strategies that can be implemented include: first, implementing integrated ecological theological education in the church. Second, form a real community and program as a concrete effort in society by using technology optimally. Third, establish cooperative relations with the community, educational institutions, and the business world in terms of preventing global warming. Fourth, conduct periodic evaluations as a form of the church's seriousness in this issue.  AbstrakPemanasan global menjadi salah satu ancaman serius bagi dunia terkait dengan lingkungan dan kelangsungan hidup manusia. Pemanasan global membutuhan upaya pencegahan seumur hidup, oleh karenanya gereja sebagai komunitas orang Kristen memiliki tanggungjawab di dalamnya sebagai wujud pelaksanaan mandat budaya Tuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peran gereja dalam usaha pencegahan pemanasan global melalui pendidikan dengan menjalin relasi dan pemanfaatan ruang virtual. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik studi pustaka. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa gereja dapat berperan aktif untuk mencegah pemanasan global yang dirumuskan dalam kurikulum pendidikan Kristen dan mem-bangun sinergitas. Beberapa strategi yang dapat dijalankan antara lain: pertama, menerapkan pen-didikan teologi ekologi yang terintegrasi dalam gereja. Kedua, membentuk komunitas dan program nyata sebagai upaya konkret dalam masyarakat dengan pemanfaatan teknologi secara optimal. Ketiga, menjalin relasi kerjasama dengan masyarakat, lembaga pendidikan dan dunia usaha dalam hal pencegahan pemanasan global. Keempat, melakukan evaluasi berkala sebagai bentuk keseriusan gereja dalam isu ini.
Perkembangan Spiritualitas Posmodern dalam Konteks Gereja Dwipayana, Akina; Idayanti, Esther; Runtuwene, Daniel
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 4, No 2: Pebruari 2022
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v4i2.95

Abstract

The postmodern mindset has succeeded in influencing all aspects of the world: art, technology, economy, politics, religion, and others. A subjective shift has occurred in people’s mindsets, resulting in a new ethical and spiritual direction. People no longer feel the need to live under an external decision, but focus on their internal preferences, including in their spiritual life. Unfortunately, not many churches are sensitive enough to prepare themselves for the dangers of postmodern spirituality. Current research on church and postmodernism often views postmodern spirituality as an independent “product” that exists outside the church. However, postmodern spirituality is not a standardized product, but a mindset capable of expressing and transforming into an unlimited number of forms inside the church.  Thus it is degrading its purity with subjective compromise. The Church may not support the development of this spirituality, however, it unconsciously allows postmodern spirituality to deconstruct the function of the Church today. This research uses literature study and observation through the media, with the aim of obtaining a specific depth of information and providing an accurate description of the theme. The results of this study describe how far the development of postmodern spirituality has occurred in the church today, and the need for the Church to innovate and adapt itself not only in its products and methods but also in its language and expressions.  AbstrakPengaruh pola pikir postmodern telah mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan masyakarat dunia, dimulai dari seni, teknologi, ekonomi, politik, agama, dan sektor-sektor lainnya. Suatu pergeseran subjektif telah terjadi dalam pola pikir manusia, sehingga menghasilkan pola kehidupan dengan etika yang baru. Manusia kini tidak lagi merasa perlu untuk hidup dibawah suatu ketetapan eksternal, melainkan lebih memilih untuk hidup berdasarkan preferensi internalnya, tak terkecuali dalam praktik spiritualitasnya. Gereja perlu peka untuk menyiapkan diri dalam menghadapi spiritualitas postmodern ini. Meski sudah cukup banyak penelitian akademis Kristen yang membahas mengenai topik terkait, namun masih memandang spiritualitas postmodern sebagai “produk” yang terdapat di luar gereja. Padahal, substansi dari pola pikir postmodern mampu melebur dengan fondasi pemikiran Kristen yang ada, mendegradasi kemurniannya dalam bentuk kompromi subjektif. Gereja mungkin tidak secara proaktif mendukung perkembangan spiritualitas ini, namun secara tidak disadari membiarkan pergeseran ini mendekonstruksi fungsi Gereja dari bentuknya yang orisinil. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan pendekatan interdisipliner teologi dan sosiologi, dengan tujuan memperoleh kedalaman informasi yang spesifik serta memberikan deskripsi tema yang akurat mengenai situasi sosial yang kompleks ini. Hasil penelitian ini memberikan usulan pendekatan yang dapat dilakukan oleh gereja dalam menghadapi spiritual postmodernisme melalui upaya-upaya yang inovatif dalam menyajikan konten yang diekspresikan pembinaan jemaat.
Mengembangkan Nilai-nilai Moral dan Pendidikan Kristiani melalui Penggunaan Media Pembelajaran pada Anak Usia Dini Suwandi Chuang; Maria Evvy Yanti
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 4, No 1: Agustus 2021
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v4i1.86

Abstract

 The religious and moral values of Indonesian society have recently been degraded so that the government of the Republic of Indonesia promotes the return of religious and moral education listed in Standard Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STTPA), Permendikbud RI no.137 of 2014 article 9 on Standard Content, namely the level of child development contains elements of religious and moral values. The development of religious and moral values must be pursued by all parties (stakeholders)be it the government, educational institutions, principals, teachers, and parents of students. All PAUD institutions in Indonesia must carry out a government mandate including the Christian PAUD institute. The Christian PAUD must help develop moral values and religious values based on Christian values or according to the word of God (Bible). The research aims to strive for the maximum development of Christian values and moral values through the medium of learning to early childhood. The method used in this research is qualitative research i.e. field research (interviews and observations) where phenomena occur. This research shows that maximum use of learning media will be very effective and efficient to develop Christian and Moral values in early childhood. AbstrakNilai-nilai agama dan nilai moral masyarakat Indonesia belakangan ini mengalami degradasi sehingga pemerintah Republik Indonesia menggalakkan kembali pendidikan agama dan pendidikan moral yang tercantum dalam Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STTPA), Permendikbud RI no.137 tahun 2014 pasal 9 Tentang Standar Isi yaitu tingkat perkembangan anak memuat unsur-unsur nilai agama dan moral. Perkembangan nilai agama dan nilai-nilai moral harus diupayakan oleh semua pihak (stake holder) baik itu pemerintah, yayasan pendidikan, lembaga pendidikan, kepala sekolah, guru, dan orang tua perserta didik. Semua lembaga PAUD di Indonesia harus melaksanakan amanah pemerintah termasuk lembaga PAUD Kristen. Lembaga PAUD Kristen harus ikut mengembangkan nilai moral dan nilai-nilai agama dengan berdasarkan nilai-nilai kristiani atau sesuai firman Tuhan (Alkitab). Penelitian bertujuan untuk mengupayakan perkembangan nilai-nilai agama Kristen dan nilai moral secara maksimal melalui media pembelajaran kepada anak usia dini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif yaitu penelitian lapangan (wawancara dan observasi) di tempat fenomena terjadi. Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran secara maksimal akan menjadi sangat efektif dan efisien untuk mengembangkan nilai-nilai agama Kristen dan Moral pada anak usia dini.
Pengaruh Sikap Kerendahan Hati dan Keteladanan Pemimpin Berdasarkan Yohanes 13:4-5 terhadap Pertumbuhan Gereja di Kota Batam Saragi, Lydia Caesera; Sanjaya, Yudhy; Simanjuntak, Fredy
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 4, No 2: Pebruari 2022
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v4i2.79

Abstract

This study aimed to determine the effect of humility and exemplary of a leader based on John 13:4-5 on church growth in Batam. The respondents of this study were church members who had been active for more than one year. The data analysis technique used is multiple linear regression analysis. It used a quantitative method with primary data sources obtained directly by using a questionnaire. The results showed that partially the leader’s humility based on John 13:4-5 had a positive effect but not significant on church growth in Batam. Meanwhile, the exemplary of a leader based on John 13:4-5 had a positive and significant effect on church growth in Batam. Simultaneously, it was found that the humility and exemplary of a leader based on John 13:4-5 had a significant positive effect on church growth in Batam.
Agama dalam Mewujudkan Kesejahteraan Sosial Soegiharto, Goei Theodore Hendy
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 4, No 2: Pebruari 2022
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v4i2.111

Abstract

Religion has a significant influence on the development of social welfare. Religious orders and teachings have become the basis for religious institutions to do social actions to help those who still live in poverty so that they can live properly. Through descriptive research methods with a qualitative approach, this study will discuss how the role of religion in realizing social welfare. In Christianity, the command to care for people in need has been taught in the Scriptures. In the Old Testament, the term tithe was known, namely an obligatory offering, which one of the purpose was to help people in need. In modern times, in the practice of Christianity, the Church has determined that one of the tasks that must do by the church is diakonia or serving. There are three types of diakonia, which is a caricature, reformative, and transformative diaconia. Health and education are two tools that are widely used to help people live prosperously. This is because these two things are essential factors for society. Without health, humans will not be able to be productive to work and without education, it will be difficult for someone to be able to get a job with good wages. Christianity is really aware of this and many churches and Christian institutions are actively involved in the ministry of health and education.  AbstrakAgama memiliki pengaruh yang cukup signifikan dalam mewujudkan kesejahteraan sosial. Perintah-perintah serta ajaran-ajaran agama telah menjadi dasar bagi lembaga keagamaan untuk melakukan tindakan sosial menolong mereka yang belum sejahtera agar dapat hidup secara layak. Melalui metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini akan membahas bagaimana peran agama dalam mewujudkan kesejahteraan sosial. Dalam Kekristenan sendiri perintah untuk memperhatikan orang yang berkekurangan sudah diajarkan dalam Kitab Suci. Pada masa Perjanjian Lama sudah dikenal istilah perpuluhan, yaitu persembahan yang bersifat wajib, di mana salah satu tujuannya adalah untuk menolong orang-orang yang membutuhkan. Dalam perkembangannya, pada praktik Kekristenan, Gereja menetapkan salah satu tugas yang harus dilakukan adalah diakonia, yaitu melayani. Ada tiga jenis diakonia, yaitu diakonia karitatif, reformatif, dan transformatif.  Kesehatan dan pendidikan menjadi dua alat yang banyak digunakan untuk menolong masyarakat agar hidup sejahtera. Hal ini dikarenakan kedua hal ini menjadi faktor esensial bagi masyarakat. Tanpa kesehatan manusia tidak akan bisa produktif untuk berkarya dan tanpa pendidikan akan sulit bagi seseorang untuk bisa mendapatkan pekerjaan dengan upah yang baik. Kekristenan sungguh menyadari hal ini dan banyak Gereja maupun lembaga Kekristenan yang terlibat aktif dalam pelayanan bidang kesehatan dan pendidikan.
Peran “Istri Yang Cakap” dalam Meningkatkan Perekonomian Keluarga pada Masa Pandemi Covid-19 Vera Herawati Siahaan; Mariati Br. Barus
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 4, No 1: Agustus 2021
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v4i1.78

Abstract

A capable wife in Proverbs 31: 10-31 and 1 Peter 3: 1 is a wife that wives today can emulate. Her godly life, how she arranges her family's economy, how she plans to prepare for the future of her family members, how she is obedient and submissive to her husband, and how she can please her husband really shows that she is a special woman, who is expensive as in verse 10 said to be a pearl that is difficult to find. This journal describes the analytical writing method with a qualitative approach. The analysis carried out is in the form of an analysis of the study of the Old Testament Fiman in Proverbs 31: 10-31 and the New Testament 1 Peter 3: 1 concerning the idea of a wise woman and obedient and submissive women. This related competent text is very helpful in improving the family economy, especially in this pandemic. So this journal describes how a capable wife is, how she allows her husband's heart, how she can become a good planner who is very helpful in meeting the needs of her household. And what he did all because of his marriage commitment.  AbstrakIstri yang cakap dalam Amsal 31:10-31 dan 1 Petrus 3 : 1 merupakan istri yang boleh diteladani oleh para istri zaman sekarang.  Hidupnya yang saleh, bagaimana dia menata perekonomian keluarganya, bagaimana dia merencanakan untuk persiapan masa depan anggota keluarganya, bagaimana ia taat dan tunduk pada suami serta bagaimana dia boleh berkenan kepada suaminya sangat menunjukkan kalau dia adalah seorang wanita yang istimewa, yang mahal sebagai mana dalam ayat 10 dikatakan sebagai mutiara yang sulit untuk ditemukan. Jurnal ini menjelaskan metode penulisanan alisis dengan pendekatan kualitatif. Analisis yang dilakukan berupa analisis studi Fiman Perjanjian Lama dalam Amsal 31:10-31 dan perjanjian Baru 1 Petrus 3:1 tentang ide wanita bijak dan wanita taat dan tunduk. Teks terkait yang cakap ini sangat menolong dalam peningkatan perekonomian keluarga khususnya dalam masa pandemiini. Maka itu dalam jurnal ini di paparkan bagaimanakah istri yang cakap itu, bagaimanadia memperkenankan hati suaminya, bagaimana dia boleh menjadi seorang perencana yang baik yang sangat menolong dalam memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Dan apa yang dilakukannya semua karena komitment pernikahan.
Perspektif Etis-Teologis terhadap Budaya “Kursi Raja” pada Jemaat GPM Imannuel Kilang, Ambon Elias, Thomson Framonty Eframinto; Wattimury, Wiesye A.; Siahaya, Karel M.
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 4, No 2: Pebruari 2022
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v4i2.88

Abstract

Mastery of Culture with Tradition Against Gospel Values, of course, is something that is not expected. Because it will make the Bible lose its meaning. This is what is found in the culture of the king's chair. For this reason, this study aims to analyze Christian Ethical and cultural forms as outlined in cultural symbols, specifically the culture of the King's chair, which is then expected that the church can place itself in an ethically Christian contextual theological effort. This study uses a descriptive qualitative method, which includes interview techniques, through key respondents. In conclusion, the King's Chair as part of local wisdom has Christian ethical-theological value that can be accounted for, in an effort to realize a civilized society, and the church is expected to see this in its theological efforts. The value of respect found in this culture is an ethical thing that must be maintained. On the other hand, the pattern of authoritarian behavior from the power possessed, is unethical, from the culture in question.  AbstrakPenguasaan Budaya dengan Tradisinya Terhadap Nilai Injil, tentunya adalah hal yang tidak diharapkan. Sebab akan membuat Injil kehilangan maknanya. Hal inilah yang ditemukan dalam budaya kursi raja. Untuk itulah maka Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara Etis Kristen, bentuk-bentuk kebudayaan yang dituangkan dalam symbol-simbol kebudayaan, secara khusus budaya kursi Raja, yang kemudian diharapkan agar gereja dapat menempatkan dirinya pada upaya berteologi yang kontekstual secara etis Kristen. Penelitian ini menggunakan metode Kualitatif des-kriptif, yang didalamnya menggunakan teknik wawancara, melalui para responden kunci. Kesim-pulannya, Kursi Raja sebagai bagian dari kearifan lokal, memiliki nilai etis-teologis Kristen yang dapat dipertanggungjawabkan, dalam upaya perwujuan masyarakat yang beradab, dan gereja diha-rapkan dapat melihat hal ini dalam upaya berteologi. Nilai penghormatan yang didapati dalam budaya ini menjadi hal etis yang harus dipertahankan. Sebaliknya pola perilaku otoriter dari kekua-saan yang dimiliki, adalah hal yang tidak etis, dari budaya yang dimaksud.
Menelisik Ketuhanan Yesus dalam Frasa “Eloi Eloi Lama Sabakthani”: Analisis Tekstual Markus 15:34 Marianus Patora; Nunuk Rinukti; Devi Maria Bungaa
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 4, No 1: Agustus 2021
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v4i1.74

Abstract

There are doubts about the divinity of Jesus from non-Christian circles and the limited understanding of lay Christians in providing an explanation of the phrase Eloi Eloi Lama Sabaktani. This research is a study of the meaning of the phrase "Eloi Eloi Lama Sabakthani" as well as the Christian faith's answer to questions about the doubts of Jesus' divinity through his words on the cross. [A1] This study uses a qualitative method with an exegetical exposition approach [A2] to Inil Markus 15:34. Thus, it can be concluded that the meaning of the phrase “Eloi Eloi Lama Sabakthani” is a condition of separation between Jesus and God the Father. Jesus was abandoned by God the Father because He became a substitute for sinners, namely to replace man's position before God and reconcile man's relationship with God which had been damaged by sin, redeemed man who was in the curse of sin and justified human existence in perfect righteousness before God.  AbstrakAdanya keraguan tentang Keilahian Yesus dari kalangan non ktistiani dan  keterbatasan pemahaman kalangan awam kristiani dalam memberikan penjelesan tentang frasa Eloi Eloi Lama Sabaktani. Penelitian ini merupakan suatu kajian terhadap pemaknaan frasa “Eloi Eloi Lama Sabakthani” sekaligus sebagai jawaban iman Kristen terhadap pertanyaan-pertanyaan atas keraguan keilahian Yesus melalui perkataannya di atas kayu salib. Penelitian ini mengunakan metode Kualitatif dengan pendekatanan eksposisi eksegesa  terhadap Inil Markus 15:34.  Dengan demikian, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa makna dari frasa “Eloi Eloi Lama Sabakthani” merupakan suatu kondisi keterpisahan antara Yesus dan Allah Bapa. Yesus ditinggalkan Allah Bapa karena Ia menjadi penganti orang berdosa, yaitu untuk menganti posisi manusia dihadapan Allah dan mendamaikan hubungan manusia dengan Allah yang telah rusak karena dosa, menebus manusia yang ada dalam kutuk dosa dan membenarkan keberadaan manusia dalam kebenaran yang sempurna dihadapan Allah.   
Kajian Teologis terhadap Praktik Peperangan Rohani Ferry Setiawan Budi
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 4, No 1: Agustus 2021
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v4i1.97

Abstract

Topik Peperangan Rohani ini telah berulang kali dibahas dalam pertemuan-pertemuan Kegerakan Lausanne, suatu kegerakan Injili yang dipelopori oleh Billy Graham, John Stott dkk. Dampaknya terhadap keberhasilan penginjilan, telah dapat diterima oleh kalangan injili. Walaupun demikian, salah satu subtopiknya yaitu Peperangan Rohani di Tingkat Strategis menghadapi roh-roh penguasa wilayah masih mendapat perdebatan. Peperangan Rohani Tingkat Strategis secara alkitabiah, bagaimana melakukannya misalnya melalui doa syafaat dan pemetaan rohani; apa saja dampaknya serta seberapa erat kaitannya terhadap pertumbuhan salah satu gereja injili di DKI Jakarta.  Penelitian dilakukan secara kualitatif secara studi kasus Ex-Post Facto, terhadap Gereja Jemaat Kristen Indonesia Hananeel.
Fundamentalitas Pendidikan Kristiani dalam Penguatan Moderasi Beragama di Indonesia Elias Modok; Vera Herawati Siahaan
JURNAL TERUNA BHAKTI Vol 4, No 1: Agustus 2021
Publisher : SEKOLAH TINGGI AGAMA KRISTEN TERUNA BHAKTI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47131/jtb.v4i2.101

Abstract

The Indonesian nation is a nation that has a society with various cultures, religions, ethnicities, races, languages, ethnicities, traditions, and so on. The reality of people's lives like this happens easily in the name of religion, ethnicity, a tradition so that it has an impact on the harmony of life. Observing, religious moderation in religious education is very much needed in the person of every Indonesian society. This shows that the fundamentality of Christian education in increasing religious moderation in Indonesia requires good initiative from each individual, showing that moderation in Christian education has a very fundamental role in using the heart to do everything in religious life. Based on a brief description of the problem above, the research method applied in the study is a qualitative method with a study approach from previous authors. The purpose of this paper is to discuss the fundamentals of Christianity in religious moderation in Indonesia as an effort to increase the enjoyment of true life for God and others, have the initiative to change life properly, do everything with the heart to form a harmonious life in diversity education, have Christ and able to change a challenge or problem in life together as a holistic force in diversity.  AbstrakBangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki masyarakat dengan beragam budaya, agama, etnis, ras, bahasa, suku, tradisi dan sebagainya. Realitas kehidupan masyarakat yang demi-kian, mudah terjadi kesalahpahaman yang mengatasnamakan agama, etnis, tradisi, sehingga berdampak pada keharmonisan hidup. Mencermati kesalahpahaman maka moderasi beragama dalam pendidikan agama sangat dibutuhkan dalam pribadi setiap masyarakat Indonesia. Hal ini menunjuk-kan bahwa fundamentalitas pendidikan Kristiani dalam penguatan moderasi beragama di Indonesia ditunutut inisiatif baik dari setiap individu, menunjukan bahwa moderasi dalam pendidikan Kristen memiliki peran yang sangat fundamental menggunakan hati untuk melakukan segala sesuatu dalam kehidupan yang beragama. Berdasarkan uraian singkat tentang masalah di atas metode penelitian yang di aplikasikan dalam penelitian adalah metode kualitatif dengan pendekatan kajian pustaka dari penulis-penulis terdahulu. Tujuan penulisan ini adalah membahas, fundamental pendidikan Kristen dalam moderasi beragama di Indonesia sebagai upaya untuk meningkatkan kenikmatan hidup yang benar bagi Tuhan dan sesama, memiliki inisiati untuk perubahan hidup yang benar, melakukan segala sesuatu dengan hati agar terbentuk bingkai kehidupan yang harmoni dalam keberagaman, memiliki karakter kristus serta mampu mengubah tantangan atau masalah dalam kehidupan bersama sebagai suatu kekuatan yang holistic dalam keberagaman.

Page 6 of 14 | Total Record : 133