cover
Contact Name
Lilik Hanifah
Contact Email
pppm@stikesmus.ac.id
Phone
+6285725630249
Journal Mail Official
pppm@stikesmus.ac.id
Editorial Address
Jl. Ring Road No.Km 03, Mojosongo, Kec. Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57127 | email : info@stikesmus.ac.id | web : www.stikesmus.ac.id
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Avicenna : Journal of Health Research
ISSN : 26156458     EISSN : 26156466     DOI : https://doi.org/10.36419
Core Subject : Health,
Avicenna : Journal of Health Research published by Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Mamba’ul ‘Ulum Surakarta. Published twice a year in March and Oktober. Contains the writings of research results with the theme health. ISSN print: 2615-6458, ISSN Online: 2615-6466. Avicenna : Journal of Health focuses on the main problems like Midwifery, Nursing, Radiology, Physiotherapy, Health Analyst, Nutrition, Health Management, Health Psychology, Anastesiologi and other related thopics. Every article that goes to the editorial staff will be selected through Initial Review processes by Editorial Board. Then, the articles will be sent to peer reviewers and will go to the next selection by Blind Review Process. After that, the articles will be returned to the authors to revise. These processes take a month for a maximum time. For each manuscript, peer reviewers will rate the substantial and technical aspects, peer reviewers who collaborate with Avicenna : Journal of Health Research.
Articles 226 Documents
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PELAYANAN PRIMA PADA PEGAWAI PUSKESMAS KAYON PALANGKA RAYA Mimin Lestari; Supriandi Supriandi
Avicenna : Journal of Health Research Vol 2, No 2 (2019): Oktober
Publisher : STIKES Mamba'ul 'Ulum Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.948 KB) | DOI: 10.36419/avicenna.v2i2.297

Abstract

Latar Belakang: Pelayanan prima merupakan pelayanan yang diberikan kepada klien berdasarkan pada standar prosedur operasional dan pegawai merupakan sumber utama dalam melaksanakan pelayanan prima. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kinerja seseorang antara lain karakteristik individual (individual characteristic), karakteristik organisasi (organizational charasteristic), dan karakteristik kerja (work characteristics). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pelayanan prima di Puskesmas Kayon Palangka Raya. Metode: Desain penelitian ini yaitu penelitian analitik observasional dengan pendekatan Cross Sectional. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pegawai rawat jalan Puskesmas Kayon Palangka Raya yang berjumlah 52 orang. Pada penelitian ini menggunakan alat pengumpul data berupa kuesioner dan analisa data dalam penelitian ini menggunakan analisa univariat dan analisa bivariat. Hasil: Hasil analisa univariat pelayanan pegawai Puskesmas Kayon sebanyak 26 responden (50%) pegawai memberikan pelayanan prima dan sebesar 26 responden (50%) pegawai belum memberikan pelayanan prima. Pada faktor individual sebanyak 30 responden (57,7%) termasuk dalam usia dewasa, 48 responden (92,3%) berjenis kelamin wanita, 44 responden (84,6%) memiliki tingkat pendidikan tinggi, 49 responden (94,2%) sudah pernah menikah dan 49 responden (94,2%) memiliki masa kerja lama (lebih dari 3 tahun). Pada faktor pekerjaan sebanyak 27 responden (51,9%) memiliki ragam keahlian tinggi, 27 responden (63,5%) dengan identitas tugas tinggi, 28 responden (53,8%) dengan signifikansi tugas tinggi, 45 responden (86,5%) memiliki otonomi tinggi dan 49 responden (94,2%) memiliki umpan balik baik. Pada faktor organisasi 27 responden (51,9%) memiliki komitmen organisasi yang baik, 44 responden (84,6%) memiliki hubungan rekan kerja yang baik, dan 39 responden (75%) memiliki persepsi yang baik terhadap pola kepemimpinan atasan. Hasil analisa bivariat tidak ditemukan adanya hubungan bermakna antara faktor individu dengan pelayanan prima, ditemukan hubungan bermakana antara salah satu faktor pekerjaan yaitu otonomi dengan pelayanan prima, dan tidak ditemukan adanya hubungan bermakna antara faktor organisasi dengan pelayanan prima pegawai Puskesmas Kayon Palangka Raya. Simpulan: Tidak ada hubungan antara faktor individual dan faktor organisasi terhadap pelayanan prima pegawai. Namun ditemukan ada hubungan antara salah satu faktor pekerjaan yaitu otonomi dengan pelayanan prima pegawai Puskesmas Kayon Palangka Raya.
HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TENTANG HIV-AIDS PADA REMAJA DI KABUPATEN BOYOLALI Sri Iswahyuni; Sri Sayekti Heni S; Herbasuki Herbasuki
Avicenna : Journal of Health Research Vol 2, No 1 (2019): Maret
Publisher : STIKES Mamba'ul 'Ulum Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.454 KB) | DOI: 10.36419/avicenna.v2i1.260

Abstract

Latar Belakang : Jumlah pasien HIV/AIDS di dunia terus meningkakat. Di Indonesia termasuk di Kabupaten Boyolali jumlahnya juga terus meningkat. Di Kabupaten Boyolali penemuan kasus baru HIV/AIDS tahun 2015 sebanyak 72 kasus, mengalami peningkatan bila dibanding tahun 2014 sebanyak 43 kasus, dan proporsi penderita HIV/AIDS didominasi kaum laki-laki 65,75% perempuan 34,25%. Bila dilihat dari golongan umur, sebagian besar penderita HIV/AIDS didominasi pada usia produktif 25-49 tahun. Tingkat pengetahuan dan kesadaran mengenai pencegahan HIV/AIDS di sinyalir sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi tingginya peningkatan kasus penderita penyakit HIV/AIDS di masyarakat. Tujuan : Mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap tentang HIV/AIDS pada remaja di Kabupaten Boyolali, terutama di Desa Cabeankunti, Kecamatam Cempogo. Metode : Penelitian ini dilaksanakan dengan pendekatan waktu cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh remaja (Remaja : orang-orang yang berumur 10-19 dan tidak kawin yang tinggal di Desa Cabeankunti, Cempogo, Boyolali sebanyak 201 orang. Sampel diambil dengan purposive sampling dimana jumlah sampel dapat dimaksimalkan yang bisa dijangkau untuk mewakili populasi secara maksimal. Sampel dalam penelitian ini sejumlah 141 responden. Analisis hubungan menggunakan uji korelasi Kendall's tau-b Hasil : Pengetahuan tentang HIV/AID remaja cabeankunti, Cempogo, Boyolali adalah baik : 27 responden atau 19.15 %, cukup 90 responden atau 63.8 % dan kurang 24 responden atau 17.02 %. Sikap remaja terhadap HIV/AIDS. adalah baik 25 (17.73%) responden, cukup 77 (54.61%) responden, kurang 34 (27.66%) responden. Hasil analisis uji korelasi Kendall's tau-b ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan dan sikap remaja terhadap HIV/AIDS dimana diperoleh nilai p 0.000 dan p < 0.05. Nilai korelasi 0.558 menunjukkan korelasi positif dengan kekuatan korelasi sedang (antara 0.4 - < 0.6) Simpulan : ada hubungan antara pengetahuan dan sikap remaja tentang HID/AIDS di Kabupaten Boyolali.
SISTEM PERINGATAN DINI ANAK: A REVIEW Rejo Rejo; Inna Izazi Nur Saputri; Luthfiah Riska Sari; Rina Tri Handayani; Aris Widiyanto
Avicenna : Journal of Health Research Vol 3, No 1 (2020): MARET
Publisher : STIKES Mamba'ul 'Ulum Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.773 KB) | DOI: 10.36419/avicenna.v3i1.345

Abstract

Latar Belakang: Pasien anak merupakan pasien yang memiliki risiko untuk mengalami gangguan pernapasan atau henti jantung. Ketika hal ini terjadi diperkirakan hanya 15-36% anak yang dapat diselamatkan. Kondisi ini membuat para ahli merekomendasikan penerapan Sistem Intervensi Darurat yang disebut berdasarkan skor peringatan dini anak (Pediatric Early Warning System / PEWS). Namun di Indonesia PEWS di IGD masih jarang dilakukan. Tujuan: Memberikan penjelasan tentang skoring PEWS, validitas, dan juga gambaran penggunaannya di berbagai rumah sakit di Indonesia dan dunia. Metode: Review ini dilakukan dengan menelusuri database diantaranya PubMed dan Google scholar. Kata kunci yang digunakan antara lain: ‘Pediatric Early Warning System 'ATAU' ‘Pediatric Early Warning Score’ ATAU Pediatric Early Warning System AND review”. Penelusuran ini dilakukan mulai dari Februari hingga Maret 2020. Hasil: Berdasarkan penelitian ditemukan bahwa skor PEWS yang tinggi berkorelasi dengan transfer pasien ke ICU yang tidak direncanakan (sensitivitas 88%, dan spesifisitas 93%) untuk skor PEWS. PEWS telah diterapkan di berbagai rumah sakit di Belanda, Inggris dan juga negara lain dengan keandalan yang cukup teruji, sebuah studi menjelaskan bahwa pada 2.979 pasien anak yang masuk ke dalam satu ruang rawat inap selama 12 periode. PEWS terbukti valid dan reliabel untuk mengidentifikasi pasien yang perlu mendapat perawatan intensif atau tidak. Simpulan: PEWS menjadi suatu alat monitoring yang dianggap mampu membantu perawat dalam memantau dan mengontrol kondisi anak, sehingga dapat memberikan laporan secepat mungkin kepada dokter mengenai perburukan kondisi anak. PEWS juga dapat menentukan tingkat perawatan dan ruang dimana anak akan dirawat
FAKTOR RESIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PNEUMONIA PADA ANAK BALITA USIA 1-5 TAHUN DI BLUD RSUD dr. DORIS SYLVANUS PALANGKA RAYA. Supriandi Supriandi; H. Barto Mansyah
Avicenna : Journal of Health Research Vol 1, No 2 (2018): OKTOBER 2018
Publisher : STIKES Mamba'ul 'Ulum Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.835 KB) | DOI: 10.36419/avicenna.v1i2.233

Abstract

Latar Belakang : Pneumonia adalah penyebab utama kematian anak-anak di seluruh dunia, Pneumonia diperkirakan membunuh sekitar 1,6 juta anak usia dibawah lima tahun (balita) dalam setiap tahunnya. Dampak pneumonia dapat menimbulkan komplikasi akut berupa supurasi (abses paru maupun empyem thoracis) bila tidak ditangani dengan tepat maka tidak jarang penderita akan meninggal pada akhir minggu kedua yang terhitung sejak pasien menderita pneumonia. Tujuan Penelitian : untuk mengetahui Faktor Resiko yang berhubungan dengan kejadian Pneumonia pada anak balita usia 1-5 tahun di BLUD RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya. Metode : Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah adalah seluruh pasien balita rawat jalan yang terdiagnosis menderita pneumonia Periode tahun 2014 dan 2015 di BLUD RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya, yaitu sebanyak 325 kasus. Subyek penelitian ini yaitu balita penderita pneumonia di BLUD RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya yang berjumlah 73 anak. Alat pengumpulan data yang digunakan yaitu pengumpulan data primer dan sekunder. Hasil : p value pada variabel usia anak sebesar 0,016, riwayat pendidikan ibu sebesar 0,047, riwayat menyusui sebesar 0,002, riwayat imunisasi dasar sebesar 0,036 yang mana p value < α (0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan terhadap factor resiko kejadian Pneumonia sedangkan pada faktor berat badan lahir sebesar 0,899, jenis keamin sebesar 0,831dan status gizi sebesar 0,840 yang mana bertolak belakang dengan rumus p value sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan terhadap faktor resiko kejadian Pneumonia. Simpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara usia anak, riwayat pendidikan ibu, riwayat menyusui, riwayat imunisasi dasar terhadap factor resiko kejadian Pneumonia sedangkan pada faktor berat badan lahir, jenis keamin dan status gizi tidak ada hubungan yang signifikan terhadap faktor resiko kejadian Pneumonia Kata kunci: Faktor Resiko, Pneumonia, Balita.
The Canadian Emergency Department Triage & Acuity Scale (CTAS) dan Perubahannya: A REVIEW Aris Widiyanto; Rina Tri Handayani; Mahrifatulhijah Mahrifatulhijah; Joko Tri Atmojo; Aquartuti Tri Darmayanti
Avicenna : Journal of Health Research Vol 2, No 2 (2019): Oktober
Publisher : STIKES Mamba'ul 'Ulum Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.453 KB) | DOI: 10.36419/avicenna.v2i2.311

Abstract

Latar Belakang: Pengelolaan pasien yang efisien pada unit gawat darurat membutuhkan tim medis yang mampu mengidentifikasi dengan benar kebutuhan pasien, menetapkan prioritas dan menerapkan perawatan. Kanada berupaya untuk secara lebih akurat mendefinisikan kebutuhan pasien untuk perawatan yang tepat waktu, mengevaluasi tingkat ketajaman tenaga medis dalam menentukan skala prioritas pasien, mengidentifikasi kebutuhan sumber daya dan kinerja terhadap "tujuan" operasi tertentu. Sehingga dibentuk The Canadian Emergency Department Triage & Acuity Scale (CTAS). Tujuan: Pada aritkel kali ini penulis tertarik untuk membahas mengenai CTAS berkaitan dengan pembaruan dan juga reliabilitasnya. Metode: Review ini dilakukan dengan menelusuri database PubMed, EMBASE, dan CINAHL. Kata kunci yang digunakan antara lain: ‘Triage in emergency 'ATAU' ‘The Canadian Emergency Department Triage & Acuity Scale (CTAS)’ ATAU the Canadian Emergency Department Information System (CEDIS) update” ATAU “the Canadian Paediatric Society (CPS)” ATAU “The Canadian Emergency Department Triage & Acuity Scale (CTAS) update”.Penelusuran ini dilakukan mulai dari Agustus hingga September 2019. Hasil: Tiga perubahan dalam CTAS yaitu: (1) Perubahan level pada penyakit-penyakit yang berkaitan atau disebabkan oleh demam atau peningkatan suhu. (2) pengubah definisi kelemahan adalah “Setiap pasien yang sepenuhnya bergantung pada perawatan pribadi; siapa yang terikat kursi roda; menderita gangguan kognitif yang membatasi kesadaran mereka tentang lingkungan mereka atau kemampuan untuk menghargai waktu, menunjukkan tanda-tanda cachexia dan kelemahan umum; atau lebih dari 80 tahun kecuali jelas kuat secara fisik dan mental. (3) Pengubah demam ‘suhu lebih besar dari 38,5 ° C terlihat tidak sehat ’CTAS level 2 dan‘ suhu lebih tinggi dari 38,5 ° C terlihat baik CT CTAS level 3 akan terbatas untuk anak-anak 3-18 bulan. Simpulan: CTAS adalah triase dengan 5 level yang pada tahun 2016 terdapat 10 komponen triase yang masih menjadi fokus perhatian dan pembaruan. Hingga terdapat setidaknya 3 pembaruan penting. Namun penelitian telah menunjukan bahwa CTAS merupakan metode yang memiliki reliabilitas atau keandalan yang baik.
HUBUNGAN ANTARA STATUS GIZI DENGAN KADAR HEMOGLOBIN PADA IBU HAMIL TRIMESTER III Sabngatun Sabngatun; Ajeng Novita Sari
Avicenna : Journal of Health Research Vol 1, No 1 (2018): MARET 2018
Publisher : STIKES Mamba'ul 'Ulum Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (570.986 KB) | DOI: 10.36419/avicenna.v1i1.196

Abstract

Latar Belakang : Ibu hamil yang mengalami status gizi kurang dengan ukuran lingkar lengan atas < 23,5 cm beresiko terjadi anemia, anemia selama kehamilan dapat bersesiko perdarahan pada masa persalinan dan berseiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status gizi ibu hamil dengan kadar hemoglobin pada ibu hamil trimester III. Metode : Penelitian ini menggunakan metode survey analitik dengan pendekatan crossectional. Penelitian ini tidak menggunakan sampel tetapi menggunakan subyek penelitian yaitu seluruh ibu hamil trimester III di BPM Sri Suparti Boyolali. Hasil : Status gizi ibu hamil mayoritas normal 22 responden (68.75%), kadar hemoglobin mayoritas anemia 18 responden (56,25%), terdapat hubungan antara status gizi dan kadar hemoglobin pada ibu hamil trimester III dengan nila p = 0.009 < 0.005 pada taraf signifikan 5% dan nilai X2 hitung = 6,732 > X2 tabel = 4,619. Simpulan : ada hubungan antara status gizi dan kadar hemoglobin pada ibu hamil trimester III. Kata kunci : status gizi, kadar hemoglobin, ibu hamil trimester III
HUBUNGAN ANTARA VENTILASI DAN KEPADATAN HUNIAN DENGAN KEJADIAN PENYAKIT ISPA PADA BALITA DI DESA CABEAN KUNTI, KECAMATAN CEPOGO, KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2018 Sri Sayekti Heni Sunaryanti; Sri Iswahyuni; Herbasuki Herbasuki
Avicenna : Journal of Health Research Vol 2, No 2 (2019): Oktober
Publisher : STIKES Mamba'ul 'Ulum Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.19 KB) | DOI: 10.36419/avicenna.v2i2.302

Abstract

Latar belakang: Menurut WHO (World Health Organization) pada tahun 2011 di New York jumlah penderita ISPA adalah 48.325 anak dan diperkirakan di negara sedang berkembang berkisar 30-70 kali lebih tinggi dari negara maju dan diduga 20% dari bayi yang lahir di negara berkembang gagal mencapai usia 5 tahun dan 26-30% dari kematian anak disebabkan oleh ISPA. Hal ini dapat dilihat dari tingginya angka kesakitan dan kematian akibat ISPA. Kematian akibat penyakit ISPA pada balita mencapai 12,4 juta pada golongan umur 0-1 tahun dan sebanyak 80,3% kematian ini terjadi di negara berkembang (Kemenkes, 2011). Di Indonesia pada tahun 2013 prevalensi ISPA secara umum mencapai 25,0%, hasil Riset Kesehatan Dasar juga menjelaskan bahwa di Indonesia ISPA merupakan penyakit dengan angka kesakitan paling banyak berada pada kelompok umur balita yaitu sebesar 25,8% pada tahun 2013 dan propinsi Jawa Tengah prevalensi penyakit ISPA secara umum mencapai 26,6% sedangkan prevalensi ISPA pada balita di propinsi Jawa Tengah sebesar 31,5% (Balitbankes RI, 2013). Kondisi sanitasi perumahan yang kurang memenuhi persyaratan tehnis dan hygiene perumahan sehat dapat menimbulkan gangguan kesehatan, misalnya pada penyakit tuberkolosis dan penyakit saluran pernafasan. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara ventilasi dan kepadatan hunian dengan kejadian penyakit ISPA didesa Cabean Kunti, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik korelasional dengan rancangan Cross Sectional. Populasi sebanyak 162 orang dan sampel diambil dengan purposive sampling sebanyak 100 balita. Data kejadian ISPA diperoleh dengan menggunakan kuesioner dan pengamatan pada ventilasi dan kepadatan hunian pada rumah yang dihuni oleh balita. Analisa data dengan menggunakan analisis chi- Square. Hasil: Data balita umur terbanyak yang menderita penyakit ISPA dengan batuk > 7 hari sebesar 58 anak (58%), batuk < 7 hari sebesar (42) 42%, keadaan ventilasi yang memenuhi syarat sebesar (72%), tidak memenuhi syarat (28%), kepadatan hunian memenuhi standart (54%), tidak memenuhi standart(46%), hasil analisa dengan Chi-Square dengan hasil X2hitung= 2,879 dengan nilai p = 0,069 >.0,05 berarti tidak ada hubungan antara ventilasi dengan kejadian penyakit ISPA dan kurang signifikan, dengan nilai X2hitung = 0,896 dengan nilai p = 0,529 > 0,05, tidak ada hubungan antara kepadatan hunian dengan kejadian penyakit ISPA pada balita, dan kurang bermakna kemungkinan ada faktor lain yang mempengaruhi kejadian penyakit ISPA Simpulan: Tidak ada hubungan antara ventilasi dan kepadatan hunian dengan kejadian penyakit ISPA dan hasil nya kurang signifikan pada balita di Desa Cabean Kunti Kecamatan Cepogo Kabupaten Boyolali
PERILAKU IBU DALAM PENDIDIKAN SEKS PADA ANAK USIA 3-5 TAHUN Sab’ngatun Sab’ngatun; Sri Suparti; Tri Wahyu Agustina
Avicenna : Journal of Health Research Vol 2, No 1 (2019): Maret
Publisher : STIKES Mamba'ul 'Ulum Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.597 KB) | DOI: 10.36419/avicenna.v2i1.265

Abstract

Latar Belakang : Pendidikan seksual bagi anak merupakan suatu kebutuhan. Pengetahuan tentang seks pada anak dapat mencegah terjadinya penyimpangan seksual. Pendidikan seks harus ditanamkan oleh orang tua sejak dini agar anak tahu tentang seks. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku ibu dalam pendidikan seks pada anak usia 3-5 tahun. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian diskriptif dengan pendekatan crossectional, Sampel dalam penelitian in adalah semua populasi yaitu semua ibu yang memiliki anak usia 3-5 tahun di Posyandu RW 02 Desa Pranan, Polokarto, Sukoharjo sebanyak 47 responden. Alat pengumpul data berupa kuisioner. Analisa data disajikan dengan distribusi frekuensi. Hasil : Hasil penelitian ini mayoritas usia ibu 26-35 tahun sebanyak 29 responden (61.7%), berpendidikan menengah sebanyak 23 responden (49%) dan perilaku ibu dalam memberikan pendidikan seks pada anak usia 3-5 tahun pada kategori baik sebanyak 20 responden (42,6%). Kesimpulan : Perilaku ibu dalam memberikan pendidikan seks pada anak usia 3-5 tahun pada kategori baik.
KARAKTERISTIK KADER POSYANDU DALAM UPAYA DETEKSI DINI KANKER SERVIKS Lilik Hanifah; Ajeng Novita Sari
Avicenna : Journal of Health Research Vol 3, No 1 (2020): MARET
Publisher : STIKES Mamba'ul 'Ulum Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.788 KB) | DOI: 10.36419/avicenna.v3i1.350

Abstract

Latar Belakang : Kanker serviks merupakan suatu keganasan yang disebabkan oleh adanya pertumbuhan sel-sel epitel serviks yang tidak terkontrol. Pencegahan kanker serviks dapat dilakukan dengan melalukan pemeriksaan kesehatan serviks secara dini (skrining), karena gejala kanker serviks tidak terlihat sampai stadium yang lebih parah Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik kader posyandu dalam upaya deteksi dini kanker serviks Metode : Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh kader posyandu di Mojosongo Jebres Surakarta. Teknik sampling yang digunakan adalah actidental sampling pada kader posyandu yang hadir pada kegiatan refresing kader yaitu sejumlah 46 kader posyandu. Alat pengumpulan data berupa angket. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan distribusi frekuensi. Hasil : Kader posyandu mayoritas melakukan deteksi dini kanker servik baik melalui iva tes maupun papsmear sejumlah 32 orang (69,6%). Karakteristik usia responden adalah mayoritas usia reproduktif yaitu 30 orang (65,2%) pendidikan responden mayoritas adalah pendidikan menengah yaitu 25 orang (54,3%), pekerjaan responden mayoritas adalah tidak bekerja yaitu 39 orang (84,8%) dan paritas responden adalah mayoritas memiliki 1 – 2 anak yaitu 27 orang (58,7%). Kader posyandu yang melakukan deteksi dini kanker servik mayoritas pada usia reproduktif yaitu 18 orang (56,2%), mayoritas pada pendidikan menengah yaitu 18 orang (56,3%), mayoritas pada kader posyandu yang tidak bekerja yaitu 28 orang (87,5%) dan mayoritas pada paritas 1 – 2 anak yaitu 17 orang (53,1%). Simpulan: Karakteristik kader posyandu yang melakukan deteksi dini kanker servik adalah mayoritas pada usia reproduktif, pendidikan menengah, kader posyandu yang tidak bekerja dan memiliki paritas 1 – 2 anak.
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI OBESITAS PADA ORANG DENGAN DISABILITAS INTELEKTUAL : A LITERATURE REVIEW Erviana Erviana; Titiek Hidayati
Avicenna : Journal of Health Research Vol 2, No 1 (2019): Maret
Publisher : STIKES Mamba'ul 'Ulum Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.3 KB) | DOI: 10.36419/avicenna.v2i1.256

Abstract

Latar Belakang : Tahun 2016 lebih dari 1,9 miliar orang dewasa berusia 18 tahun ke atas mengalami kelebihan berat badan. Lebih dari 650 juta orang dewasa mengalami obesitas. Secara keseluruhan, sekitar 13% dari populasi orang dewasa di dunia mengalami obesitas pada tahun 2016. Prevalensi obesitas di seluruh dunia hampir tiga kali lipat antara tahun 1975 dan 2016. Pada 2016, diperkirakan 41 juta anak di bawah usia 5 tahun kelebihan berat badan atau obesitas dan lebih dari 340 juta anak-anak dan remaja berusia 5-19 kelebihan berat badan atau obesitas. Prevalensi kejadian obesitas lebih tinggi pada orang dengan kecacatan intelektual daripada populasi pada umumnya. Tujuan : Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan obesitas pada orang dengan disabilitas intelektual. Metode : Database kesehatan yang relevan termasuk EBSCO, PUBMED, Proquest dan Scholar dicari dengan menggunakan kombinasi tema : intellectual disability,obesity, adults, dan young people. Hasil : Berdasarkan hasil review artikel faktor-faktor yang mempengaruhi obesitas pada orang dengan disabilitas intelektual adalah kemiskinan,aktivitas fisik, alkohol, kebiasaan diet, lingkungan tempat tinggal, penggunaan obat, jenis kelamin, usia, pendidikan orang tua, down syndrom. Simpulan : Faktor- faktor yang menyebabkan obesitas pada orang disabilitas intelektual adalah diet, aktivitas fisik, kemiskinan, alkohol, lingkungan tempat tinggal, penggunaan obat, jenis kelamin, usia, pendidikan orang tua dan down syndrome.

Page 6 of 23 | Total Record : 226