cover
Contact Name
Arif Rahman Hikam
Contact Email
bioeksakta@gmail.com
Phone
+6285741954045
Journal Mail Official
bioeksakta@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Jl. dr. Soeparno No. 63 Purwokerto, Kabupaten Banyumas Kode Pos 53122
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed
ISSN : -     EISSN : 27148564     DOI : -
Jurnal BioEksakta menerbitkan artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang biologi umum termasuk Ekologi dan konservasi, Taksonomi dan Struktur, Biogeografi, Evolusi, Biodeversitas, Fisiologi dan Reproduksi, Biologi sel, Biologi Molekuler dan Genetika.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 6 No 1 (2024): Bioeksakta" : 8 Documents clear
Pengaruh pH dan Suhu terhadap Aktivitas Enzim Protease Isolat LG-37 Asal Sedimen Mangrove Pantai Logending Kebumen Sari, Dhea Nur Khomala; Kusharyati, Dyah Fitri; Ryandini, Dini
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 6 No 1 (2024): Bioeksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2024.6.1.4674

Abstract

Enzim protease merupakan enzim yang berfungsi menghidrolisis protein menjadi peptida dan asam amino. Setiap enzim memiliki kondisi atau aktivitas optimal berbeda-beda. Aktivitas enzim dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya adalah pH dan suhu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pH, suhu, dan kombinasi keduanya terhadap aktivitas enzim protease dari isolat LG-37 asal sedimen mangrove Pantai Logending. Metode penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial dengan dua faktor. Masing-masing faktor tersebut dilakukan pengulangan tiga kali. Faktor pertama yakni variasi pH 4, 5, dan 6, sedangkan faktor kedua yakni variasi suhu 45, 50, dan 55oC. Hasil penelitian menujukkan bahwa pH dan suhu berpengaruh terhadap aktivitas enzim protease isolat LG-37 asal sedimen mangrove Pantai Logending. Aktivitas protease tertinggi diperoleh pada perlakuan kombinasi pH 6 dan suhu 50oC dengan nilai unit aktivitas protease sebesar 1,067 U/mL.
Deteksi Seksual Dimorfisme Pada Benih Ikan Tawes (Barbonymus gonionotus Bleeker, 1850) Berdasarkan Morfologi Utaminingtyas, Siwiana Dinar; Bhagawati, Dian; Setiyono, Eko
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 6 No 1 (2024): Bioeksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2024.6.1.6439

Abstract

Ikan tawes merupakan ikan yang banyak di budidayakan di Indonesia. Budidaya ikan membutuhkan indukan yang berkualitas. Indukan dengan kualitas tinggi dapat didapatkan dari budidaya tunggal kelamin. Budidaya tunggal kelamin dilakukan dengan menyeleksi ikan berdasarkan jenis kelamin sejak benih. Penentuan jenis kelamin pada benih untuk budidaya memiliki kesulitan karena seksual dimorfisme belum terlihat jelas, sehingga perlu dilakukan penelitian mengenai seksual dimorfisme pada benih ikan tawes untuk mendukung budidaya ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah performa morfologi, meristik, dan truss morphometric dapat digunakan untuk membedakan benih ikan tawes jantan dan betina. Metode yang digunakan adalah metode survey dengan purposive sampling. Sampel yang diambil adalah 60 ekor sampel benih ikan tawes dengan dua kelompok ukuran. Kelompok pertama adalah benih dengan ukuran 5-6 cm dan kelompok kedua adalah benih dengan ukuran 6,1-7 cm. Sampel yang didapatkan diamati tampilan morfologinya yaitu performa morfologi, meristik, dan truss morphometric. Data performa morfologi dan meristik di analisis secara deskriptif, sedangkat data truss morphometric dianalisis menggunakan SPSS dengan Uji Mann Whitney. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa performa morfologi dan meristik tidak menunjukkan adanya seksual dimorfisme, sedangkan hasil pengukuran truss morphometric menunjukkan perbedaan yang signifikan pada garis A2 yaitu jarak antara ujung mulut dan batas akhir tulang kepala. Berdasarkan hasil rata-rata pengukuran truss morphometric pada garis A2, didapatkan hasil bahwa kepala bagian dorsal dari benih ikan tawes berukuran lebih panjang dan runcing dari benih ikan betina.
Optimasi Jenis Jamur Pelapuk Putih dan Bahan Lignoselulosik Limbah Pertanian dalam Pembuatan Biokomposit berbasis Miselium Rahmadianti, Maghfira Rizki; Mumpuni, Aris; Ekowati, Nuraeni
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 6 No 1 (2024): Bioeksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2024.6.1.6636

Abstract

Melimpahnya ketersediaan bahan lignoselulosik berupa limbah ampas tebu dan batang tanaman jagung serta kemampuan jamur pelapuk putih Ceriporia lacerata dan Auricularia auricula mendegradasi lignoselulosik dapat dimanfaatkan sebagai pengembangan biokomposit berbasis miselium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara jenis jamur pelapuk putih dengan komposisi bahan lignoselulosik limbah pertanian terhadap kualitas produk biokomposit yang dihasilkan serta mendapatkan jenis jamur pelapuk putih dan jenis substrat bahan lignoselulosik limbah pertanian yang optimal dalam pembuatan biokomposit berbasis miselium. Penelitian ini menggunakan metode experimental Rancangan Acak Lengkap dengan 10 perlakuan dan 3 kali ulangan. Variabel penelitian terdiri dari variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebas berupa jenis bahan lignoselulosik limbah pertanian dan jenis jamur pelapuk putih, sedangkan variabel terikat yaitu kualitas biokomposit berbasis miselium yang dihasilkan. Parameter yang diukur dalam penelitian ini yaitu parameter utama dan parameter pendukung. Parameter utama yaitu pertumbuhan jamur pada bahan komposit, kerapatan komposit, kadar air, pengembangan tebal komposit, modulus elastisitas dan modulus patah komposit. Parameter pendukungnya berupa biodegradabilitas komposit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jamur pelapuk putih dan komposisi bahan lignoselulosik yang berbeda berpengaruh secara nyata terhadap kualitas biokomposit yang dihasilkan kecuali pada parameter kadar air dan modulus patah. Hasil penelitian untuk parameter pertumbuhan miselium, kerapatan komposit, kadar air, pengembangan tebal, modulus elastisitas, dan modulus patah secara berturut-berturut berkisar antara 9,38-18,49 mm/hari, 0,11-0,21 g/cm3, 8,34%-16,19%, 3,01%-10,93%, 1188,33-14873,33 MPa, dan 1,76-25,11 MPa. Berdasarkan hasil skoring biokomposit yang dilakukan, perlakuan C. lacerata dengan komposisi pada ampas tebu 100% menghasilkan kualitas biokomposit terbaik.
KEPADATAN POPULASI DAN POLA DISTRIBUSI BULU BABI (Diedema setosum) di PULAU ABANG BATAM Efendi, Yarsi; Nurdiana, Juwita; Agustina, Fenny; Campina, Teny; Sefira, Anisa
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 6 No 1 (2024): Bioeksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2024.6.1.9755

Abstract

This research aims to describe the population density of Sea Urchin (Diadema setosum) and it’s distribution pattern in the waters of Abang Island, Galang District, Batam City - Indonesia. Carried out in June 2023. Observations at 3 stations, using survey methods. Sampling was carried out using 3 line transects 20 meters long at each station, placing the transects from the shoreline towards the sea and placing observation plots 1m x 1m on the left and right of the transects. Measurement of water quality parameters; pH, salinity, depth, Dissolved Oxygen (DO), and temperature. The highest density was 2.28 ind/m2 found at station I with a number of 228 individuals and the lowest was 0.81 ind/m2 found at station II with a number of 81 individuals. The distribution pattern of sea urchins (Diadema setosum) was in clustered were found at all stations.
Keanekaragaman Capung (Odonata) pada Taman di Kota Bogor Armanda, Dievo Al Qodri; Kurnia, Insan; Muzoffar, Ferdi; Sofyan, Michael Ghibran Putra; Napitupulu, Boni Fargas
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 6 No 1 (2024): Bioeksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2024.6.1.11119

Abstract

Kawasan ruang terbuka hijau (RTH) menjadi bagian penting dari ekosistem perkotaan. Kawasan RTH berperan secara ekologis, ekonomis, maupun sosial budaya. Capung (Odonata) merupakan unsur ekosistem yang dapat dijumpai di ekosistem perkotaan termasuk RTH. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi spesies capung di taman Kota Bogor. Penelitian dilaksakan pada Bulan Januari 2023 di 44 taman yang ada di Kota Bogor yang terbagi menjadi taman kota (21 taman), taman perumahan (21 taman), dan dua hutan kota. Data capung diambil dengan sensus seluruh area taman yang diamati Lima spesies capung ditemukan di 10 taman Kota Bogor, sementara 34 taman tidak dijumpai spesies capung. Spesies yang dijumpai yaitu Orthetrum sabina, Orthetrum testaceum, Pantala flavescens, Neurothemis ramburii, dan Libellago lineata. Total individu yang ditemukan di seluruh taman sebanyak 50 individu, dengan Pantala flavescens merupakan spesies dengan jumlah individu paling banyak yaitu 37 individu. Nilai H’ untuk seluruh lokasi taman yaitu 0,89 dan nilai E yaitu sebesar 0,55. Spesies yang paling banyak tersebar yaitu Pantala flavescens ditemukan di tujuh taman, sementara empat spesies lain ditemukan antara 1-3 taman.
Pengaruh Jenis Bahan Organik pada Pembuatan Eco-Enzyme terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphyloccocus aureus Haliza, Siti Nur; Tivani, Inur
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 6 No 1 (2024): Bioeksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2024.6.1.11368

Abstract

Sampah organik di Indonesia semakin meningkat akibat pertumbuhan jumlah penduduk. Dalam upaya menangani masalah ini, pemanfaatan sampah organik menjadi eco-enzyme adalah solusi yang mudah. Eco-enzyme merupakan hasil dari fermentasi sampah organik seperti kulit buah dan sayuran, gula molase dan air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan kemampuan eco-enzyme dari campuran jenis bahan organik yang berbeda dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Campuran bahan organik pada eco-enzyme yang digunakan dibagi kedalam 3 wadah. Eco-enzyme 1 berisi kulit lemon, gula, air. Eco-enzyme 2 terdiri dari kulit lemon, kulit nanas, gula, air. Eco-enzyme 3 berisi kulit lemon, kulit nanas, sayur kangkung, gula, air. Serta dilakukan uji aktivitas antibakteri dengan metode difusi. Metode analisis data yang digunakan yaitu uji statistik dengan metode One Way Analysis of Varience (ANOVA satu arah), dan menguji homogenitas serta uji post-hoc bonferroni. Berdasarkan hasil penelitian uji aktivitas antibakteri eco-enzyme terhadap S. aureus menunjukkan bahwa kombinasi bahan organik tertentu memiliki efektivitas yang berbeda. Kombinasi komponen organik yang paling signifikan untuk membunuh bakteri S. aureus adalah eko-enzim 3, dengan diameter zona hambat 11,39 mm. Hasil analisis data menunjukkan perbedaan signifikan dalam diameter hambat antara bahan organik dan campuran enzim. Uji homogenitas menujukkan bahwa antar kelompok eco-enzyme sama atau homogen dengan nilai signifikan 0.98. Hasil uji post-hoc bonfenni diperoleh eco-enzyme tiga yang paling berpengaruh dalam menghambat bakteri S. aureus. Kesimpulan dari penelitin yang dilakukan yaitu banyaknya campuran jenis bahan organik yang digunakan pada eco-enzyme, maka semakin kuat kemampuanya dalam menghambat bakteri S. aureus.
Jenis Tanaman pada Adat Mandi 7 Bulan Masyarakat Suku Dayak Bakumpai Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan Halwa, Aulia; Dharmono, Dharmono; Badruzsaufari, Badruzsaufari; Mahdian, Mahdian
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 6 No 1 (2024): Bioeksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2024.6.1.11485

Abstract

Masyarakat Dayak Bakumpai merupakan suku yang memiliki banyak adat istiadat. Masyarakat suku Dayak Bakumpai merupakan salah satu suku yang banyak tinggal di daerah pulau Kalimantan, salah satunya yaitu di wilayah kelurahan Lepasan dari provinsi Kalimantan Selatan. Masyarakat ini memiliki salah satu adat yaitu adat mandi 7 bulanan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui apa saja tumbuhan yang digunakan dalam ritual adat tersebut. Penelitian dilakukan dengan 4 kunci utama narasumber yang berasal dari suku Dayak Bakumpai. Pengamatan data dilakukan dengan cara mengamati lalu mendokumentasi foto-foto tumbuhan dengan bantuan alat berupa handphone, meteran jahit dan aplikasi untuk mengukur ketinggian pohon. Berdasarkan hasil wawancara terdapat 7 jenis tumbuhan yang digunakan dalam adat mandi 7 bulanan yaitu mawar, melati, kenanga, cempaka putih, kelapa, pinang, dan tebu. Bagian tumbuhan yang digunakan yaitu bunga dan buah. Penelitian yang dilkukan menunjukkan bahwa masyarakat setempat melestarikan tanaman-tanaman tersebut sampai saat ini sebagai bentuk pelestarian terhadap budaya setempat.
Primordial Germ Cells (PGCs) Embrio Ikan Nilem (Osteochilus vittatus) pada beberapa tahap perkembangan Habibah, Aulidya Nurul; Wijayanti, Gratiana Ekaningsih
BioEksakta : Jurnal Ilmiah Biologi Unsoed Vol 6 No 1 (2024): Bioeksakta
Publisher : Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.bioe.2024.6.1.11518

Abstract

Primordial Germ Cells (PGCs) merupakan prekusor gamet yang penting dalam reproduksi ikan. PGCs dialokasikan di luar gonad dan bermigrasi menuju gonad primordia selama masa perkembangan embrional ikan. Pengetahuan mengenai alokasi dan migrasi PGCs penting dalam pengembangan model penelitian gametogenesis dan peningkatan produksi akuakultur. Penelitian ini bertujuan mengetahui lokasi PGCs pada tahap embrio ikan nilem menggunakan metode hibridisasi in situ dengan penanda vasa germ cell ikan nilem. Embrio ikan nilem umur 30 menit, 60, 180 dan 240 menit paska fertilisasi difiksasi dalam NBF 10% kemudian didechorionasi. Selanjutnya dilakukan hibridisasi in situ dengan penanda vasa germ cell ikan nilem. PGCs pada embrio ikan nilem ditemukan pada daerah di sekitar alur pembelahan blastomere pada embrio umur 30 menit, 60 menit dan terdeteksi pada blastoderma di daerah kutub animalis pada embrio umur 18 menit dan 240 menit yang telah memasuki tahapan blastula dan gastrula.

Page 1 of 1 | Total Record : 8