cover
Contact Name
Moh Eko Nasrulloh
Contact Email
jas@unisma.ac.id
Phone
+6281334447073
Journal Mail Official
eko.nasrulloh@unisma.ac.id
Editorial Address
Jalan Mayjen Haryono 193 Malang 65144
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Ahwal Syakhshiyyah (JAS)
ISSN : -     EISSN : 27147398     DOI : 10.33474
Jurnal Ilmiah Ahwal Syakhshiyyah (JAS) is the scholarly journal that publishes original and contemporary researches and thoughts concerning with: Islamic Law Family Studies Marriage Inheritance Gender Human Rights
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 108 Documents
MENGGAPAI SAKINAH, MAWADDAH, DAN RAHMAH DALAM PERNIKAHAN PERSPEKTIF MARXISME DAN SUFISME Ach Faisol
JAS : Jurnal Ahwal Syakhshiyyah Vol 3 No 1 (2021): Jurnal Ilmiah Ahwal Syakhshiyyah (JAS)
Publisher : Fakultas Agama Islam UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jas.v3i1.8971

Abstract

This article seeks to answer the question of how a married couple can achieve sakinah, mawaddah, and rahmah families. To get the answer, the writer conducted a qualitative research by tracing written sources historically-chronologically-philosophically with a concentration on Marxism and Sufism. Although the author is also a taker of several other figures. The author gets the answer that a husband and wife partner to be able to reach a sakinah, mawaddah, and rahmah family must take a winding road and a long process. If a married couple has succeeded in achieving it, then that is a happy family. The ideal happy family according to the Quran is to have succeeded in achieving a solid degree of faith in Allah SWT and knowledgeable.Keywords: Sakinah, mawaddah, and rahmah, Marxism, Sufism
ANALISIS EFEKTIVITAS PERATURAN MA NO 1 TAHUN 2016 TERHADAP TINGKAT KEBERHASILAN MEDIASI DI PENGADILAN AGAMA GORONTALO DAN PENGADILAN AGAMA SUWAWA Abdur Rahman Adi Saputera; Umar Jaya M; Annisa Podungge; Shofiatul Jannah
JAS : Jurnal Ahwal Syakhshiyyah Vol 3 No 2 (2021): Jurnal Ilmiah Ahwal Syakhshiyyah (JAS)
Publisher : Fakultas Agama Islam UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jas.v3i2.10325

Abstract

Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian lapangan (field research), di mana penulis mengamati secara langsung objek penelitian dalam usaha mengumpulkan data dan informasi. Menggunakan pendekatan sosiologis empiris. Penelitian sosiologis empiris terdiri dari penelitian identifikasi terhadap hukum dan efektivitas hukum. Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas sumber data primer dan sumber data sekunder. Hasil dari penelitian yang penulis dapatkan bahwa Pengadilan Agama Gorontalo dan Pengadilan Agama Suwawa secara umum telah menerapkan PERMA ini dalam prosedur mediasi, hanya saja terkait batas waktu 30 hari terhitung sejak penetapan perintah melakukan mediasi tidak diberlakukan secara general dalam semua perkara. Pengadilan Pengadilan Agama Gorontalo dan Pengadilan Agama Suwawa hanya memberikan batas waktu 2 (dua) minggu untuk mediasi terhitung sejak penetapan perintah melakukan mediasi. Hal ini bersifat kondisional. Untuk efektivitas PERMA ini terhadap tingkat keberhasilan mediasi belum begitu efektif. Sepanjang tahun 2019 sampai Juni 2020, Pengadilan Agama Gorontalo hanya memiliki tingkat keberhasilan mediasi sebanyak 6% dari jumlah perkara yang masuk. Ini disebabkan kurangnya minat para pihak dalam melakukan mediasi, juga minimnya jumlah hakim yang bersertifikat mediator. Sedangkan Pengadilan Agama Suwawa memilki tingkat keberhasilan mediasi sebanyak 9% dari jumlah perkara yang masuk. 
PENAFSIRAN TEKS AGAMA MENENTUKAN KEDUDUKAN PEREMPUAN A Fatikhul Amin Abdullah; Muhammad Hadiatur Rahman
JAS : Jurnal Ahwal Syakhshiyyah Vol 3 No 1 (2021): Jurnal Ilmiah Ahwal Syakhshiyyah (JAS)
Publisher : Fakultas Agama Islam UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jas.v3i1.10946

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran bahwa kedudukan laki-laki dan perempuan tergantung pada menafsirkan terhadap teks agama (Islam). Hal ini karena banyaknya penafsiran pada teks agama dalam memandang perempuan yang berdampak pada terdiskrimasikannya kaum perempuan. Di sisi lain agama Islam merupakan agama yang sangat menjunjung keadilan. Sehingga terasa janggal jika diskriminasi perempuan didasarkan pada teks-teks agama (Islam). Studi ini menggunakan metode kualitatif deskripstif dengan teknik studi literature dan kajian konsep tentang perempuan yang bersumber dari berbagai sumber yang sesuai dengan data yang dibutuhkan dalam kajian ini. Sehingga didapati hasil bahwa anggapan posisi perempuan pada kedudukan subordinal merupakan konstruk budaya semata bukan dari teks agama (Islam). Dan beberapa teks agama yang menjadi landasan pendiskriminasian perempuan tidak serta merta memiliki makna tersebut jika dirafsiri sesuai dengan konteks waktu, sebab, dan zaman, serta keadaan. Bahkan teks tersebut menjadi penguat bahwa perempuan sebagai makhluk yang mulia dan berhak untuk dimuliakan.Kata Kunci: Perempuan, Diskriminasi, Keadilan.
BATASAN JUMLAH MAHAR (MASKAWIN) DALAM PANDANGAN ISLAM DAN HUKUM POSITIF Edo Ferdian
JAS : Jurnal Ahwal Syakhshiyyah Vol 3 No 1 (2021): Jurnal Ilmiah Ahwal Syakhshiyyah (JAS)
Publisher : Fakultas Agama Islam UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jas.v3i1.10984

Abstract

Dalam Perkawinan Islam, mahar merupakan salah satu syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh pihak mempelai laki-laki kepada pihak mempelai perempuan. Hal ini berdasarkan Firman Allah SWT dalam Al-Qur'an Surat An-Nisa ayat (4) : " Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya."Meskipun mahar diwajibkan, namun tidak diterangkan mengenai kepastian batasan jumlah mahar (maskawin) baik dalam pandangan Islam (Al-Qur'an, Hadits, Pendapat ulama) maupun Hukum Positif (KHI, UUD Perkawinan, Pendapat Sarjana). Dalam pandangan islam dan hukum positif sendiri, jumlah mahar adalah sesuai kemampuan/kesepakatan bersama kedua belah pihak (laki-laki dan perempuan) asalkan berbentuk dan bermanfaat. Wallahu A'lam Bishowab.
AKAD NIKAH ONLINE DENGAN MENGGUNAKAN VIA LIVE STREAMING PERSPEKTIF HUKUM ISLAM Wahibatul Maghfuroh
JAS : Jurnal Ahwal Syakhshiyyah Vol 3 No 1 (2021): Jurnal Ilmiah Ahwal Syakhshiyyah (JAS)
Publisher : Fakultas Agama Islam UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jas.v3i1.11034

Abstract

ABSTRAKAkad Nikah melalui live streaming merupakan akad nikah yang dilangsungkan menggunakan sosial media live streaming (seperti live instagram, whatsApp). Metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan pendekatan teologi normative (syar’i), yaitu pendekatan dengan menggunakan nash, KHI. Sehingga menimbulkan pertanyaan bagaimana Hukum akad nikah dengan menggunakan Live Streaming perspektif hukum Islam. Berdasarkan analisis data yang diperoleh kesimpulan bahwa Hukum Akad nikah melalui Live Streaming adalah sah. Kata Kunci: akad nikah, live streaming, hukum islam. ABSTRACT Akad Nikah through live streaming is a marriage contract that is held using social media live streaming (such as live instagram, whatsApp). The research method used is normative theological approach (syar'i), which is the approach using nash, KHI. So it raises the question of how the Law of marriage contract by using Live Streaming perspective of Islamic law. Based on the analysis of data obtained by the conclusion that the Law of Marriage Contract through Live Streaming is valid. keyword: marriage contract, live streaming, Islamic law.
“NUSUZ: ANTARA LEGALITAS HAK ASASI MANUSIA DAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DI INDONESIA” mohammad saddam
JAS : Jurnal Ahwal Syakhshiyyah Vol 3 No 2 (2021): Jurnal Ilmiah Ahwal Syakhshiyyah (JAS)
Publisher : Fakultas Agama Islam UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jas.v3i2.11041

Abstract

Recently, there are still many incidents of domestic violence, even among Muslims, in several studies it has been proven that one of the influences is the public's understanding of Nusuz which is still conventional in nature. Even though the Indonesian government has explicitly protected human rights and rejects any violent behavior against anyone and this has become legitimate in Indonesia. Therefore, what is the relevance of Nusuz in Islam with human rights and domestic violence. This research is a library research which attempts to describe and analyze the provisions of the nusuz in Islam with human rights and domestic violence in Indonesia. The results of this study indicate that basically the provisions of Nusantara in Islam do not contradict the rules of human rights and domestic violence in Indonesia. Kasus kekerasan dalam rumah tangga dewasa ini masik marak terjadi, bahkan di kalangan orang Islam sendiri, dalam beberapa penelitian dibuktikan bahwa salah satu yang mempengaruhi adalah pemahaman masyarakat terhadap nusuz yang masih bersifat konvensional. Padahal di lain sisi pemerintah Indonesia sudah secara tegas menjunjung tingi hak asasi mansia dan menolak adanya perilaku kekerasan terhadap siapapun dan hal tersebut sudah menjadi legitimasi di Indonesia. Lantas bagaimanakah relevansi antara nusuz dalam Islam dengan HAM dan KDRT. Penelitian ini merupakan penelitian pustaka yang mencoba mendeskripsikan dan menganalisi antara ketentuan nusuz dalam Islam dengan hak asasi manusia dan kekerasan dalam rumah tangga di Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada dasarnya ketentuan nusuz dalam Islam tidak bertentangan dengan aturan-aturan hak asasi manusia dan kekerasan dalam rumah tangga di Indonesia.
MENELISIK AKAR PENYEBAB KEKERASAN GENDER PADA MASYARAKAT PETANI PELADANG KECAMATAN GEDANGAN KABUPATEN MALANG Khoirul Asfiyak
JAS : Jurnal Ahwal Syakhshiyyah Vol 3 No 1 (2021): Jurnal Ilmiah Ahwal Syakhshiyyah (JAS)
Publisher : Fakultas Agama Islam UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jas.v3i1.11046

Abstract

Gender-based violence often occurs in social life both in urban areas and in rural areas. The government has been trying to reduce the rate of this gender based crime. However, incidents like this have always been repeated in various places in Indonesia. In Malang regency, gender-based violence often occurs with all the contributing factors. This incident is interesting to study, especially in relation to the factors behind the incident and various forms of gender violence experienced by women in Malang regency. In order to answer these questions, this research was constructed using a descriptive qualitative approach. Research data obtained from the results of field studies or observations, interviews and documentation studies. The research data were condensed as suggested by Miles, Hubberman and Saldana to obtain maximum validity of meaning. The results of the study present data that the factors causing gender-based violence in Malang district are: Factors of Lack of Fulfillment of the Family Economy, Suspicion of Infidelity, Village Community Traditions for Early Marriage, Gender Bias Opinion or Interpretation of Religion and Misogyny Culture in Village Communities, The forms of gender violence that often occur in Malang Regency society are physical, symbolic, domestic, public and economic violence
TAFSIR ASAS MONOGAMI DALAM SURAH AN-NISĀ’ AYAT 3 DAN 129 Syamsud Dhuha
JAS : Jurnal Ahwal Syakhshiyyah Vol 3 No 1 (2021): Jurnal Ilmiah Ahwal Syakhshiyyah (JAS)
Publisher : Fakultas Agama Islam UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jas.v3i1.11047

Abstract

Salah satu asas dalam perkawinan adalah monogami yang menyatakan bahwa seorang pria hanya diperbolehkan mempunyai seorang istri, begitupun sebaliknya. Terdapat poin dalam ayat al-Qur’an yang menyatakan asas perkawinan adalah monogami yaitu pada surat an-Nisa’ ayat 3 dan 129. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tafsir dari ayat monogami dari berbagai kalangan mufassir, baik mufassir klasik maupun mufassir kontemporer dalam memaknai arti secara harfiah maupun ijmali, serta asbabun nuzul dan historitas monogami dalam Islam. Metode penelitian dalam artikel ini menggunakan penelitian kualitatif. Sumber hukum yang digunakan adalah bahan hukum primer berupa kitab-kitab tafsir dan bahan hukum sekunder berupa artikel atau jurnal yang berkaitan dengan tema yang dibahas. Dalam penelitian ini terlihat bahwa ulama klasik sangat menyetujui monogami, karena beranggapan bahwa setiap suami tidak akan berlaku adil dalam mengemban rumah tangga yang lebih dari seorang istri. Namun bagi ulama kontemporer menilai bahwa poligami diberikan rukhsah disertai sikap kehati-hatian karena ditakutkan tidak dapat berlaku adil. Monogami dalam Islam dipandang sebagai pernikahan yang idealis sedangkan poligami adalah pernikahan minimalis karena harus dengan prinsip kehati-hatian dalam berbuat keadilan dalam membangun keluarga harmonis.
URGENSI PESANTREN DALAM PENGGUNAAN VAKSIN ASTRAZENECA DI MASA PANDEMI C-19 Konik Naimah; Dwi Runjani Juwita
JAS : Jurnal Ahwal Syakhshiyyah Vol 3 No 1 (2021): Jurnal Ilmiah Ahwal Syakhshiyyah (JAS)
Publisher : Fakultas Agama Islam UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jas.v3i1.11052

Abstract

peranan strategis pesantren di tengah masyarakat sebagai lembaga pendidikan dan dakwah islam dalam memberikan statemen / keputusan tentang penggunaan vaksin pruduk AstraZeneca di masa pandemi covid-19. Pesantren yang notabene di dalamnya para ulama dan kyai sangat dibutuhkan keterlibatan aktifnya dalam mensikapi setiap permasalahan yang ada di masyarakat, mengingat sampai dengan saat ini ulama dan kyai lah yang mempunyai kompetensi untuk menjawab permasalahan yang belum diketahui dasar hukumnya (halal-haram). keputusan para ulama dan kyai dalam forum bahtsul Masail LBM Nu dalam mensikapipenggunaan vaksin Produk AstraZeneca ini  (mubah) adalah jawaban yang dinantikan oleh masyyarakat luas.
MEMAHAMI MAQASHID ASY-SYARIAH PADA AYAT RADHA’AH PERSPEKTIF KEADILAN GENDER Siti Rohmatul Ummah
JAS : Jurnal Ahwal Syakhshiyyah Vol 3 No 1 (2021): Jurnal Ilmiah Ahwal Syakhshiyyah (JAS)
Publisher : Fakultas Agama Islam UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jas.v3i1.11057

Abstract

Abstrak Perintah pemberian ASI merupakan salah satu bentuk pemeliharaan terhadap bayi. Dalam istilah fikih, pemberian ASI diatur dalam hukum radha’ah. Salah satu dasar pelaksanaan radha’ah adalah ayat 233 surat al-Baqarah (2). Selain menjelaskan perintah menyusui, ayat ini juga mengandung perintah pemberian nafkah bagi ibu menyusui. Dengan maksud mengungkap tujuan syariat yang tersirat dalam perintah di ayat ini dan hubungan tujuan tersebut dengan keadilan gender penelitian ini dilakukan dengan mengikuti kaidah penelitian kualitatif deskriptif yang menjabarkan konsep hasil pembacaan, pengumpulan dan analisis data yang bersumber pada data di perpustakaan. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa dalam ayat ini penggunaan panggilan umum bagi ayah, ibu dan anak bertujuan untuk menyatakan bahwa kewajiban memberi dan hak menerima ASI berlaku secara umum bagi semua orang tanpa membedakan gendernya. Hasil lain yang peneliti dapat disini adalah bahwa dalam kegiatan pemberian ASI terdapat kelima jaminan perlindungan yang disebut sebagai maqashid asy-syari’ah paling penting. Dari kaca mata keadilan gender, kandungan ayat ini berhasil memberikan tugas yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing gender secara adil tanpa memihak salah satu di antara keduanya. Kata Kunci : Maqashid asy-syari’ah, Ayat radha’ah, dan Keadilan gender. AbstractThe order for breastfeeding is a form of caring for the baby. In fiqh terms, breastfeeding is regulated in the law of radha'ah. One of the bases for implementing radha'ah is verse 233 surah al-Baqarah (2). Apart from explaining the commandment for breastfeeding, this verse also contains instructions for providing support for breastfeeding mothers. To reveal the objectives of the Shari'a implied in the commands in this verse and the relationship between these goals and gender justice, this research was conducted by following the principles of descriptive qualitative research which outlines the concept of reading, collecting, and analyzing data sourced from data in the library. The results of this study explain that in this verse the use of general calls for father, mother, and child aims to state that the obligation to give and the right to receive breastfeeding applies in general to all people regardless of gender. Another result that the researchers got here is that in the activity of breastfeeding there are five guarantees of protection which are called the most important objectives of the Shari'a. From the point of view of gender justice, the content of this verse succeeds in giving a task that is regarding the abilities and conditions of each gender fairly without taking sides with either of the two.Keywords: The objectives of the Shari'a, Verse of radha’ah, and Gender justice.

Page 7 of 11 | Total Record : 108