cover
Contact Name
Dina Elisabeth Latumahina
Contact Email
dina.latumahina@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
dina.latumahina@gmail.com
Editorial Address
Jl. Indragiri No. 5, Kota Wisata Batu, Jawa Timur, Indonesia, 65301
Location
Kota batu,
Jawa timur
INDONESIA
Missio Ecclesiae
ISSN : 20865368     EISSN : 27218198     DOI : -
Missio Ecclesiae adalah jurnal open access yang menerbitkan artikel tentang praktek, teori, dan penelitian dalam bidang teologi, misiologi, konseling pastoral, kepemimpinan Kristen, pendidikan Kristen, dan filsafat agama melalui metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Kriteria publikasi jurnal ini didasarkan pada standar etika yang tinggi dan kekakuan metodologi dan kesimpulan yang dilaporkan.
Articles 147 Documents
MAKNA PENDERITAAN ORANG SALEH MENURUT KITAB AYUB Dora Hutasoit
Missio Ecclesiae Vol. 4 No. 2 (2015): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v4i2.50

Abstract

Hukum providensia Tuhan, seringkali diinterpresentasikan terlalu dangkal: Orang saleh diberkati, orang fasik dihukum. Akibatnya pada hakikatnya kata saleh dan menderita tidak dapat bertemu. Kendati demikian, justru kitab Ayub memaparkan bahwa kedua hal itu bertemu di dalam pengalaman hidup Ayub.
MENYEMBAH TUHAN: SUATU STUDI EXEGETIS MAZMUR 100 Gustaf R. Rame
Missio Ecclesiae Vol. 4 No. 2 (2015): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v4i2.51

Abstract

Mazmur 100 dikategorikan dalam jenis mazmur korban ucapan syukur yang terdiri dari dua bait yakni: bait pertama ayat 1-3, dan bait kedua ayat 4-5 masing-masing bait terdiri dari dua undangan dan alasan yang kuat mengapa harus menyembah TUHAN. Karena hubungan kedua bait sangat erat, maka mazmur ini sering dinyanyikan dengan berbalas-balasan dalam suatu jemaah atau sebagai nyanyian perarakan masuk ke dalam bait suci. Tetapi juga sebagai pengakuan iman kepada Allah sebagai Raja yang harus dilayani dan dimuliakan. Pesan utama dari Mazmur 100 adalah bahwa keselamatan tidak lagi dikhususkan kepada Israel saja melainkan keselamatan itu adalah bersifat universal, dimana tidak ada lagi diskriminasi dan pengurangan peran dari pihak lain untuk memuji dan menyembah TUHAN terhadap orang-orang dari segala bangsa di dunia yang telah ditebus TUHAN. Dengan demikian di dalam Mazmur 100 ini, Israel melihat hubungan TUHAN dengan bangsa-bangsa secara baru dan karena itu Israel juga harus memperbaharui pula. Karena hanya TUHAN-lah Allah dan tidak ada yang lain, maka hanya ada satu umat dan satu ibadah.
THEODICY : MENGGUGAT KEADILAN ALLAH? Dina Elisabeth Latumahina
Missio Ecclesiae Vol. 4 No. 2 (2015): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v4i2.52

Abstract

Melihat kondisi-kondisi di atas, sangatlah penting bagi Gereja-gereja Tuhan dan hamba-hamba Tuhan di Indonesia memikirkan secara serius untuk memberikan pemahaman yang benar kepada setiap orang Kristen mengenai cara dan sikap yang benar ketika menghadapi masalah. Martyn Lloyd dalam bukunya Ketika Iman Diadili, mengatakan bahwa untuk menjawab pertanyaan dan kebingungan sekitar theodicy, harus ada pendekatan yang benar karena sebagian besar masalah dan kebingungan dalam kehidupan orang Kristen adalah cara pendekatan yang tidak benar. Yang dimaksud dengan pendekatan yang benar adalah cara berpikir rohani bukan rasional. Cara berpikir yang sesuai dengan cara Tuhan melalui firmanNya dan bukan cara manusia yang dianggap logis yang sesuai dengan rasio atau otaknya. Misalnya: manusia sering ingin mendapatkan jawaban yang gamblang dan cepat terhadap masalah tertentu,namun Alkitab tidak selalu mengajarkan manusia tentang satu cara. Manusia juga sering panik dan cepat mengambil kesimpulan salah bila hal-hal yang tidak diharapkan terjadi atau jika menurutnya Allah memperlakukannya dengan cara yang ‘aneh.’ Dalam setiap keadaan, kita harus mengetahui cara bertindak yang tepat. Berpikir secara rohani juga artinya bahwa orang Kristen harus melihat keadilan Allah dari perspektif-Nya sendiri karena KedaulatanNya dan bukan dari perspektif manusiawinya yang bagaimanapun sangat terbatas. Jika orang Kristen mempunyai perspektif yang benar tentang keadilan Allah seperti yang dinyatakan dalam firman-Nya, mereka mampu menghadapi kesulitan apapun yang Allah izinkan tanpa meragukan keadilan dan kasih-Nya. Yang pasti adalah: Hati Allah sungguh-sungguh remuk ketika umat-Nya sedang mengalami penderitaan yang dalam karena kita sangat berharga bagi-Nya (Yes 43:4; Mzm 8:5). Dia mengasihi kita dengan kasih yang tak terbatas. Dia ada di sana, di tempat kita di siksa, dipenjara, di rumah kita yang terbakar atau hanyut atau yang tinggal puing-puing, atau di antara keluarga kita yang hilang. Bagaimana kita dapat memahami Allah dengan keadaan seperti ini? Tidak lain, harus berpegang dan percaya akan sifat-sifat-Nya yang tidak berubah bahkan ketika Dia tidak dapat dipahami. Sebagai orang beriman, kita perlu mempercayai ada waktunya Allah, bahkan ketika segala sesuatunya terlihat begitu terlambat. Masalah bisa datang silih berganti baik terhadap pribadi maupun kelompok, persekutuan atau gereja, anggota atau masyarakat dan lain-lain. Tetapi Allah tidak pernah mengingkari firman dan janji-Nya sendiri. Pada waktu dan cara-Nya-lah, Dia pasti menunjukkan keadilan-Nya bagi orang yang terus berharap kepada-Nya. Oleh karena itu : Let’s God to be God ! Amin !
KONSEP GEMBALA MENURUT YEHEZKIEL 34:1-16 SERTA IMPLIKASINYA BAGI GEMBALA JEMAAT Simon Petrus Siahaan
Missio Ecclesiae Vol. 4 No. 2 (2015): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v4i2.53

Abstract

Kemajuan suatu gereja baik secara kwalitas maupun secara kwantitas tidak bisa dilepaskan dari sikap gembala atau pemimpinnya terhadap domba-domba-Nya atau jemaat-Nya. Seorang pemimpin mau tidak mau dituntut untuk hidup menjadi panutan bagi yang dipimpin (jemaat). Dan seorang pemimpin bukanlah seorang penguasa. Seringkali dapat dilihat bagaimana jikalau seorang pemimpin atau gembala itu sangat memperhatikan jemaatnya, memberi makanan rohani sesuai dengan Firman Tuhan, mengarahkan, melindungi, dan mengasihi jemaatnya, maka secara otomatis jemaatnya pun mengasihi pemimpinya. Akan tetapi jikalau seorang pemimpin atau gembala yang memiliki sifat yang kasar, tamak, kejam dan bengis serta tidak bertanggung jawab, maka dapat dibayangkan bagaimana reaksi dari jemaatnya atau orang yang dipimpin (“domba-dombanya”).
PERAN ORANG PERCAYA DALAM MEWUJUDKAN KEADILAN SOSIAL Jammes Juneidy Takaliuang
Missio Ecclesiae Vol. 4 No. 2 (2015): Oktober
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v4i2.54

Abstract

Peran serta orang Kristen dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia bukan hanya partial, tetapi harus holistik. Karena tujuan pencapaian ini adalah manusia seutuhnya yang pada prinsipnya adalah keselarasan hubungan antara manusia dengan Tuhan-nya, antara sesama manusia serta lingkungan alam sekitarnya, keserasian hubungan antara bangsa-bangsa dan juga keselarasan antara cita-cita hidup di dunia dan mengejar kebahagian di akhirat. Jadi orang Kristen adalah agen untuk mewujudkan cita-cita mulia ini dengan berlandaskan kepada Kristus yang adalah sumber keadilan, serta status orang Kristen yang adalah warga kerajaan surga seperti yang digambarkan oleh Rasul Paulus dalam Filipi 3:20. Implementasi dari warga kerajaan surga adalah menjadi warga negara Indonesia yang benar dan bertanggung jawab, sehingga jelas bahwa orang Kristen harus mengambil peran dalam menentukan arah bangsa ini. Sikap skeptis dan pesimistis bukanlah bagian dalam diri orang Kristen. Lebih jelas lagi dalam ranah praksis orang Kristen wajib: 1) Memiliki perbuatan yang luhur, yang tercermin dalam sikap dan suasana kekeluargaan serta gotong royong; 2) Menjalankan sikap adil terhadap sesama dengan cara menghormati hak-hak orang lain; 3) Sistem balancing yaitu menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban; 4) Tidak menciptakan dehumanisasi melalui pereduksian harkat dan martabat manusia; 5) Memiliki cara hidup dan gaya hidup sederhana (menentang sifat hedonisme dan materialisme yang menonjolkan spirit individualisme); dan 6) Bekerja keras, memiliki integritas diri yang tinggi, kreatif dan inovatif serta nasionalis.
YESUS: SOSOK GURU AGUNG (KOMPETENSI DAN PROFESIONALITAS DASAR GURU PAK) Magdalena Grace K Tindagi
Missio Ecclesiae Vol. 5 No. 1 (2016): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v5i1.55

Abstract

Guru merupakan figur penting dalam menyukseskan kegiatan belajar-mengajar. Kegiatan belajar-mengajar senantiasa mengharapkan guru berkualitas. Guru berkualitas artinya berkaitan dengan iman, spiritualitas, watak, pengetahuan, kemampuan dan keterampilan. Guru Kristen perlu memahami pribadi Yesus sebagai guru yang harus diteladani dalam hidup sehari-hari dan dalam pelaksanaan tugas keguruan. Seorang guru Kristen juga perlu menyadari bahwa peranan Roh Kudus bukan hanya berlangsung dalam rangka pendewasaan iman dan kesadaran akan kesucian hidup, tetapi juga dalam rangka mengemban profesi sehari-hari. Seorang guru, sebagai pengajar iman Kristen, sudah tentu sangat memerlukan ketergantungan terhadap kuasa, urapan dan kehadiran Roh Kudus. Sebab Dia-lah yang sanggup membuka mata hati orang untuk memahami kebenaran (Ef. 3:16,17,18). Guru yang berkualitas harus memahami profesi keguruan. Guru perlu meningkatkan dirinya menjadikan pribadinya sebagai instrumen yang handal di dalam Tuhan. Dalam melakukan kewenangan profesionalnya, seorang guru dituntut memiliki kompetensi yang beraneka ragam. Guru seperti ini harus mempunyai semacam kualifikasi formal. Dengan demikian, guru PAK harus dapat melaksanakan tugas mengajar dan mendidik di bidang PAK dengan berkarakter dan berdisiplin tinggi, mampu menggunakan berbagai wacana dalam rangka mengembangkan visi dan kemampuan mengajar serta dapat mengembangkan keterampilan dengan mengikuti berbagai kegiatan pelatihan, lokakarya maupun seminar. Jadi guru PAK yang profesional tidak hanya terpaku kepada kurikulum yang telah ditetapkan oleh Pemerintah, tetapi harus mampu mengembangkan kurikulum tersebut untuk pertumbuhan iman peserta didik. Pertumbuhan iman harus dimulai dari diri guru. Jati dirinya dalam Kristus harus terbentuk dengan kuat. Guru profesional harus dapat menghayati permasalahan yang dihadapi dalam proses pembelajaran, sehingga termotivasi, kritis dan reflektif untuk memecahkan persoalan pendidikan. Peran guru sebagai sumber belajar merupakan peran yang sangat penting. Peran sebagai sumber belajar berkaitan erat dengan penguasaan materi pelajaran. Secara khusus dalam konteks sekolah, guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompentensi, sertifikasi pendidik, sehat jasmani dan rohani, sehingga profesionalitas guru PAK juga melekat pada dirinya sebagai seorang pendidik, maka termasuk di dalamnya tuntutan kompetensi dan profesional yang sama. Sedangkan salah satu cara efektif untuk menggali serta meningkatkan kemampuan tersebut adalah dengan mengevaluasi diri sendiri, secara khusus bentuk evaluasi pada materi profesionalisme guru PAK itu, mengacu pada sosok Tuhan Yesus sebagai Guru Agung. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hal utama bagi seorang guru PAK adalah mengajarkan Firman Allah agar siswa memiliki pedoman dalam kehidupannya, yang pada akhirnya mereka mengalami suatu perubahan, oleh karena di dalamnya terkandung maksud dari firman Allah yang bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran (2 Tim 3:16).
PEMBINAAN WARGA GEREJA DEWASA MENURUT SURAT EFESUS 4:11-16 Jeny Marlin
Missio Ecclesiae Vol. 5 No. 1 (2016): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v5i1.56

Abstract

Berdasarkan hasil analisa dan eksegese Surat Efesus 4:11-16 yaitu bahwa Kristus memperlengkapi orang-orang kudus dengan berbagai karunia adalah merupakan wujud dari pembinaan yang dilakukan-Nya sendiri. Keperbedaan karunia-karunia tersebut semuanya mengarah kepada pemberitaan Injil, sehingga Tubuh Kristus dapat bertumbuh mencapai kedewasaan penuh di dalam Kristus. Jemaat Efesus merupakan jemaat yang sudah percaya kepada Kristus, akan tetapi Kristus menginginkan agar keberadaan orang percaya yang telah diselamatkan itu dapat hidup berpadanan dengan panggilannya sebagai orang-orang yang telah dipanggil dan dikuduskan Allah. Oleh karena itu setiap gereja atau orang-orang yang telah dikuduskan Allah adalah anggota Tubuh Kristus, di mana Kristus sebagai Kepala. Tubuh membutuhkan suatu pertumbuhan agar mencapai kedewasaaan, sehinggga bukan lagi seperti anak-anak, akan tetapi bertumbuh menjadi dewasa, yaitu memiliki pengetahuan dan pengenalan yang benar akan Anak Allah, serta bertumbuh di dalam Kristus. Adapun wujud pemberian Allah adalah rasul-rasul, nabi-nabi, pemberita-pemberita Injil, gembala-gembala dan pengajar-pengajar, menunjuk kepada tugas yang Tuhan berikan kepada seorang anggota jemaat. Oleh karena itu seseorang yang memperoleh jabatan khusus itu, berarti bahwa ia dipilih Tuhan untuk suatu pekerjaan khusus dalam jemaat-Nya. Keberagaman karunia ini bukan untuk mempertentangkan antara karunia yang satu dengan yang lainnya, demikian pula bukan sesuatu yang harus dibangga-banggakan karena karunia-karunia tersebut tidak ada yang lebih tinggi/rendah, melainkan masing-masing diberikan oleh Kristus untuk suatu maksud atau tujuan yang khusus, memperlengkapi dan memberi sarana orang-orang percaya bagi pembangunan Tubuh Kristus, sehingga gereja dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai orang yang dipanggil Allah/rekan sekerja-Nya yaitu memberitakan Injil sesuai dengan karunia masing-masing. Paulus sebagai rasul Kristus melakukan pembinaan bagi murid-muridnya, bahkan kepada seluruh jemaat di Efesus melalui berbagai macam cara/ metode pembinaan yaitu: melalui persekutuan-persekutuan, khotbah-khotbah, pengajaran-pengajaran, nasihat-nasihat, doa, bahkan melalui sarana pendidikan. Hal ini dapat terlihat dari usaha Paulus dengan menyewa sebuah ruang kuliah dan setiap hari ia berbicara, penyampaian pengajaran-pengajaran tentang Kristus di ruang kuliah Tiranus (Kis. 19). Paulus memberikan pembinaan bagi setiap penatua, dan diaken yang ada di Efesus melalui doa dan nasihat-nasihat, agar melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang Tuhan percayakan yaitu menggembalakan jemaat dengan melengkapi/ mempersiapkan orang-orang percaya lainnya (sebagai anggota Tubuh Kristus) untuk lebih produktif, yaitu siap melayani Tuhan dan aktif turut membangun Tubuh Kristus (Kis. 20). Tugas panggilan gereja tidak pernah berubah. Tetapi bentuk-bentuk penerapannya tidak selalu sama dari tempat ke tempat, dan dari jaman ke jaman. Strategi pelayanan bagi orang dewasa disesuaikan dengan fungsi perkembangan, serta dengan isu penting di sekitar usia tersebut.[1] Rancangan program pembinaan di jemaat harus disesuaikan dengan pergumulan individu maupun kelompok. [1] Samuel Sidjabat, Pendewasaan ...., 39
TINJAUAN ETIS KRISTEN TERHADAP POLITISASI AGAMA DI INDONESIA Kurnia Sondang Lumban Gaol
Missio Ecclesiae Vol. 5 No. 1 (2016): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v5i1.57

Abstract

Prinsip kepercayaan yang dibuat bersifat politik sesungguhnya adalah tindakan yang dilakukan oleh para elit politik di Indonesia dikarenakan masalah kekuasaan, keinginan untuk mendapatkan posisi penghormatan, penghargaan. Penggunaan agama sebagai alat pencapai kekuasaan juga didukung oleh lemahnya integritas, identitas, dan kredibilitas para tokoh agama yang mau diperalat untuk memperoleh keuntungan pribadi dan keinginan untuk berkuasa. Politisasi Agama tidak pernah dapat menyelesaikan masalah, justru memperburuk kondisi bangsa, mencederai demokrasi bangsa, dan merugikan bangsa. Sehingga menggunakan agama yang transenden sebagai bagian dalam proses politik praktis tidaklah etis. Tugas orang percaya sebagai warga negara yang bertanggungjawab adalah melakukan politik agama bukan politisasi agama, sebagai garam dan terang gereja harus melakukan politik kenabian. Orang percaya yang bersikap anti politik berarti menganggap bahwa pengajaran Yesus pada masa lampau tidak dapat diaplikasikan bagi persoalan politik masa kini. Bersikap anti politik dengan alasan bahwa politik selalu menggunakan kekuasaan untuk memaksa, tidaklah mendasar. Orang-orang Kristen boleh menerima dan menjalankan jabatan pemerintahan bila mereka terpanggil untuk itu (Kis. 10:1-2). Namun harus mampu bersikap benar dalam menghadapi persoalan dan situasi bangsa Orang percaya harus melaksanakan fungsinya sebagai “garam” dan “terang” dunia. Keterlibatan dalam politik dapat dilakukan dengan berbagai cara. Kegiatan politik tidak hanya melalui partai politik atau institusi politik lainnya yang dibentuk oleh pemerintah, tetapi juga dapat berbentuk kegiatan pada organisasi kemasyarakatan. Kehadiran orang Kristen dalam dunia perpolitikan haruslah digunakan untuk memuliakan Tuhan. Orang Kristen harus berhati-hati agar tidak terjebak dengan agamaisasi politik dan politisasi agama. Takut akan Tuhan adalah dasar politik moral orang percaya dalam bersentuhan dengan politik praktis.
STUDI EKSEGETIS KEJADIAN 12:1-3 DAN RELEVANSI MISIOLOGISNYA BAGI GEREJA TUHAN MASA KINI Wilianus Illu
Missio Ecclesiae Vol. 5 No. 1 (2016): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v5i1.58

Abstract

Kitab Kejadian adalah kitab Perjanjian Lama yang pertama dan sebagai pendahuluan dari seluruh Alkitab, yang mencatat tentang penciptaan, permulaan sejarah manusia, asal mula bangsa Ibrani dan perjanjian Allah dengan Abraham, nenek moyang mereka. Allah menciptakan manusia menurut peta dan teladanNya sendiri, dan diciptakan-Nya mereka laki-laki dan perepuan (Kej. 1:26-27). Kejatuhan manusia dalam dosa merusak segalanya. Manusia tidak lagi dapat membedakan yang jahat dan yang baik, dan kecenderungan manusia selalu berbuat yang jahat. Dosa semakin berkembang, dosa manusia tidak pernah berkurang, mulai dari manusia pertama hingga saat ini. Dosa merupakan penyebab terputusnya hubungan antara manusia dan khalik-Nya. Akibatnya, manusia mengalami kesuraman dan hidup tanpa masa depan. Semua kejahatan lahir dari keadaan umat manusia yang berdosa, walaupun demikian banyak orang tidak mengetahui asal usul dosa dan akbitanya. Namun dari sisi lain Tuhan tidak membiarkan manusia ciptaan-Nya terus hidup dalam dosa, maka Dia melakukan aktivitas misi-Nya dengan cara mencari manusia dengan kasih-Nya (Kej. 3:8-9). Dengan adanya kenyataan ini, maka pemanggilan Abraham dalam teks Kejadian 12:1-3 adalah sebagai awal penggenapan janji keselamatan manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa (Kej. 3:15), atau sebagai awal babak baru dalam penyataan Perjanjian Lama mengenai maksud Allah untuk menebus dan menyelamatkan umat manusia dari dosa. Allah bermaksud memilih seseorang yang mengenal dan melayani-Nya, dan dengan iman yang tulus dapat mengenal, mengajarkan, dan memelihara jalan-jalan Tuhan dengan baik. Pemanggilan Abram mutlak atas inisiatif Allah. Itu berarti bahwa Allah yang memanggil Abram adalah Allah yang dengan sendirinya ada, juga berkuasa atas alam semesta dan atas semua suku bangsa di dunia. Pemanggilan Abram bukan hanya menjadi berkat bagi keluarga dan keturunannya saja, melainkan bagi semua suku bangsa, seperti ditulis dalam Galatia 3:8,16 bahwa “berkat yang menunjuk pada Injil Kristus yang ditawarkan kepada semua bangsa.” Itu berarti bahwa janji berkat kepada Abraham bersifat universal. Jadi berkat tersebut menyangkut, baik berkat material (jasmani) maupun berkat rohani. Berkat jasmani ini mencakup harta benda yang banyak, yang dapat membahagiakan kehidupan Abram dan keturunannya. Sedangkan berkat rohani mencakup keselamatan jiwa manusia yang bersifat kekal, yaitu di dalam Yesus Kristus yang adalah keturunan Daud, menjadi berkat penebusan bagi semua suku bangsa tanpa memandang suku, ras, dan golongan. Gereja (orang percaya) harus menyadari bahwa berkat itu diberikan secara cuma-cuma melalui penebusan Yesus Kristus. Maka gereja (orang percaya) harus menyalurkan berkat tersebut kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan Yesus, dengan tujuan supaya mereka juga dapat percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan yang hidup yang dapat menyelamatkan umat manusia dari dosa. Misi harus menjadi tanggung jawab gereja dalam memberitakan Injil, karena gereja adalah pusat atau wadah yang dapat membina warga jemaat untuk dapat terlibat dalam pekerjaan Tuhan. Dalam hal ini gereja harus mampu melakukan tindakan nyata (memberitakan Injil) untuk menolong orang-orang yang belum percaya kepada Yesus Kristus. Gereja sebagai wakil Allah di dunia, harus mampu merealisasikan ketaatannya terh adap mandat misi Allah dalam menjangkau setiap orang yang belum percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Gereja dalam melakukan misi, harus menjangkau semua golongan, dalam hal ini gereja tidak membuat suatu patokan atau batasan dalam melaksanakan misi Allah. Karena misi Allah adalah misi yang universal yang harus dilakukan oleh semua gereja. Gereja harus memperluas pengetahuannya tentang misi, sehingga dapat menjalankan misi Allah. Gereja tidak lagi berputar-putar pada diri sendiri melainkan harus memikirkan dan menjangkau seluruh suku bangsa yang belum percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Gereja juga mempelajari firman Tuhan dengan tekun, sehingga semua pengajaran yang disampaikan kepada orang-orang yang belum percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dapat sungguh dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Mengacu pada pemaparan di atas, maka penulis memberikan beberapa rekomendasi yang berupa saran, yang ditunjukkan kepada gereja-gereja yang bertanggungjawab untuk dapat menjalankan misi Allah. Tugas gereja Tuhan masa kini adalah menjalankan misi Allah dengan benar dan dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Dalam memberitakan firman Allah kepada jemaat, tidak hanya dalam pemberitaannya berisi tentang moral, memiliki karakter yang baik, rajin berdoa, rajin membaca Alkitab, mengikuti ibadah di gereja dan membawa persembahan. Tetapi juga tugas seorang Pendeta adalah sebagai mediator berkat, yang harus menjadi teladan dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang pemimpin yang handal. Itu sebabnya gereja Tuhan perlu melaksanakan misi Allah secara serius, juga mampu merealisasikan misi tersebut kepada jemaat, agar jemaat juga dapat menyadari bahwa misi Allah adalah penting untuk dilakukan dengan sungguh-sungguh dan kelak akan dipertanggung jawabkan kepada Allah. Seorang pemimpin gereja harus memiliki hati untuk menolong orang-orang yang ada di luar Kristus. Hal ini tidak terbatas pada pelayanan Firman Tuhan tetapi juga dituntut lewat sikap hidup seorang pemimpin gereja. Tugas seorang pemimpin gereja adalah mempersiapkan dan membina jemaat untuk menjadi berkat, garam dan terang dalam keluarga, gereja, masyarakat, negara dan dunia melalui pemberitaan Injil.
PERANAN KEPEMIMPINAN TRANSFORMASI GEMBALA SIDANG BAGI PERTUMBUHAN GEREJA MASA KINI Innawati Innawati
Missio Ecclesiae Vol. 5 No. 1 (2016): April
Publisher : Institut Injil Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52157/me.v5i1.59

Abstract

Gereja yang sehat adalah gereja yang Gembala Sidangnya (pemimpinnya) sehat jasmani, rohani dan spiritualitasnya. Gembala sidang sebagai seorang pemimpin rohani yang dipanggil Tuhan memiliki kepemimpinan transformasi yang dijiwai semangat kristiani; yang menentukan visi yang dari Allah bagi jemaat dan pertumbuhan gerejanya, yang mengubah pola pikir, sikap, perilaku dan karakter seseorang supaya sesuai dengan karakter Kristus yang bertujuan untuk memiliki nilai lebih bagi dirinya, keluarganya, gerejanya, pelayanannya, organisasinya, pekerjaannya, masyarakatnya dan bangsanya dan yang menentukan pertumbuhan gereja dari segi kuantitas dan kualitas serta kompleksitas organisasi gereja. Peranan gembala sidang transformatif adalah sebagai pemimpin katalisator yang berjiwa hamba yang karismatik dan berintegritas penuh kreativitas dan inovasi yang akan membawa perubahan dan pertumbuhan bagi gerejanya. Peranan gembala sidang transformatif adalah sebagai pelayan bagi jemaat dan gerejanya, ia mempraktikkan kepemimpinan hamba (servant leadership) dari Yesus Kristus. Peranan gembala sidang transformatif adalah sebagai komunikator dan koordinator yang baik; sebagai pemimpin yang memberdayakan jemaat di gerejanya. Gembala sidang yang transformatif adalah seorang mentor dan organisator (manajer) yang baik. Ia melatih, memberdayakan, mengkoordinir dan melibatkan jemaatnya dalam pelayanan dengan bijaksana. Peranan gembala sidang transformatif adalah sebagai pemimpin yang fleksibel, seorang komunikator dan katalisator yang handal. Kemampuan komunikasinya yang baik dan pribadinya yang karismatik, membuat orang lain mudah mengikutinya. Ia bisa bergaul, menjalin hubungan dan berkomunikasi dengan siapa saja. Seorang Gembala Sidang yang transformatif adalah seorang komunikator yang memiliki Identity, Integrity, Intimacy yang jelas tercermin di dalam Character, Competency, Conviction dan Commitment dalam kehidupan pelayanannya. Mengingat hasil kajian terhadap peranan kepemimpinan transformasi gembala sidang berpengaruh besar dan positif terhadap pertumbuhan gereja di masa kini, maka sebagai masukan, dapat disarankan kepada para gembala sidang untuk meningkatkan kepemimpinannya dengan mengimplementasikan prinsip kepemimpinan transformasi dalam perannya sebagai gembala sidang di gerejanya masing-masing. Kiranya kajian ini dapat memberikan wacana baru, membuka paradigma dan memberikan harapan baru terhadap para gembala sidang di dalam melaksanakan tugas penggembalaan yang telah dipercayakan Allah kepada mereka.

Page 4 of 15 | Total Record : 147