cover
Contact Name
Evi Maha Kastri
Contact Email
redaksikelasa@gmail.com
Phone
+6285279491107
Journal Mail Official
redaksikelasa@gmail.com
Editorial Address
Jalan Beringin II No.40 Kompleks Gubernuran Telukbetung, Bandar Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Kelasa : Kelebat masalah bahasa dan sastra
ISSN : 19077165     EISSN : 27214672     DOI : https://doi.org/10.26499/kls.v15i1.21
Core Subject : Education,
KELASA is a journal aiming to publish literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literatures. The scope of KELASA includes linguistic, applied linguistic, interdisciplinary linguistic studies, theoretical literary studies, interdisciplinary literary studies, literature and identity politics, philology, and oral tradition. KELASA is published by Kantor Bahasa Lampung, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. KELASA accepts articles from authors of national or international institutions. Authors are free of charge throughout the whole process including article submission, review and editing process, and publication.
Articles 107 Documents
Ambivalensi Tokoh-Tokoh dalam Novel Pangeran dari Timur Karya Iksaka Banu dan Kurnia Effendi: Kajian Poskolonial Muharrsyam Dwi Anantama; Puspita Trie Utami; Aditya Setiawan
Kelasa Vol 15, No 1 (2020): Kelasa
Publisher : Kantor Bahasa Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/kelasa.v15i1.20

Abstract

This paper seeks to illuminate the ambivalence experienced by the characters in the novel Pangeran Dari Timur by Iksaka Banu and Kurnia Effendi with a postcolonial perspective. This novel is set in colonial history that tells the life journey of Raden Saleh and the events of colonialism in Indonesia to grasp independence. The postcolonial perspective used in this study functions to identify the ambivalence experienced by the characters in the novel Pangeran Dari Timur as a result of colonial discourse that is always in the dominant pole and the natives are in a subaltern position. The method used in this research is descriptive qualitative. The data source of this research is the novel Pangeran Dari Timur by Iksaka Banu and Kurnia Effendi. The data taken in this study were then analyzed using an interactive analysis model. The results showed that ambivalence was experienced by Raden Saleh and Mother Ratna Juwita in the novel Pangeran Dari Timur. Even though both of them lived by imitating the Dutch, they were still considered Natives who were culturally far below the Dutch. AbstrakTulisan ini berupaya meneroka ambivalensi yang dialami tokoh-tokoh dalam novel Pangeran Dari Timur karya Iksaka Banu dan Kurnia Effendi dengan perspektif poskolonial. Novel ini berlatar sejarah kolonial yang menceritakan perjalanan hidup Raden Saleh dan peristiwa penjajahan di Indonesia hingga menggenggam kemerdekaan. Perspektif poskolonial yang digunakan dalam penelitian ini difungsikan untuk mengidentifikasi ambivalensi yang dialami tokoh-tokoh dalam novel Pangeran Dari Timur sebagai akibat wacana kolonial yang selalu berada dalam kutub dominan dan pribumi berada di posisi subaltern. Metode yang digunakan dalam penelitin ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini adalah novel Pangeran Dari Timur karya Iksaka Banu dan Kurnia Effendi. Data yang telah diambil dalam penelitian ini selanjutnya dianalisis dengan model analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ambivalensi dialami oleh tokoh Raden Saleh dan tokoh Ibunda Ratna Juwita dalam novel Pangeran Dari Timur. Meskipun keduanya hidup dengan meniru Belanda, mereka tetap dianggap kaum Pribumi yang secara kebudayaan berada jauh di bawah Belanda.
STRATIFIKASI SOSIAL PADA CERPEN “SENYUM KARYAMIN” KARYA AHMAD TOHARI Andi Widiono
Kelasa Vol 12, No 1 (2017): Kelasa
Publisher : Kantor Bahasa Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/kelasa.v12i1.36

Abstract

AbstractShort story is one of the literary works that presents a story about social stratification. Socialstratification is a picture of human life in a society that is divided into several levels or socialclasses. According to Budiyono, social stratification is divided into three classes, namely upper,middle, and lower. The picture of social stratification is clearly depicted by the characters in thestory. The method used in this research is descriptive qualitative and library research is used as thedata collection technique. The results obtained in this study is that the short story "SenyumKaryamin" by Ahmad Tohari contains various classes of social stratification as mentioned above,namely middle and lower social stratification. AbstrakCerpen salah satu karya sastra yang memuat cerita tentang stratifikasi sosial. Stratifikasi sosialmerupakan gambaran kehidupan manusia dalam bermasyarakat yang terbagai menjadi beberapatingkatan atau kelas-kelas sosial. Menurut Budiyono stratifikasi sosial terbagi menjadi tiga kelasyaitu stratifikasi sosial atas, menengah, dan bawah. Gambaran stratifikasi sosial ini secara jelasdari tokoh-tokohnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatifdengan teknik pengumpulan data studi pustaka. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalahcerpen “Senyum Karyamin” karya Ahmad Tohari berisi tentang berbagai kelas stratifikasi sosialyaitu stratifikasi sosial atas, stratifikasi sosial menengah, dan stratifikasi sosial bawah.
TEACHER DISCOURSE IN EFL CLASSROOM: A GENDER AND DISCOURSE STUDY Laila Ulsi Qodriani; Zahra Muti’ah
Kelasa Vol 12, No 2 (2017): Kelasa
Publisher : Kantor Bahasa Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/kelasa.v12i2.52

Abstract

AbstractThe relationship between language and gender has long been interest within sociolinguistic andrelated disciplines. In particular, it looks at the ways in which male and female use languagedifferently. Thus, the objective of the present study is to find out and describe how male andfemale teachers in EFL classroom use language differently in the classroom interaction,particularly in English Speaking class. This exploratory case study was carried out with 2 male and2 female English Speaking 1 teachers of English Literature Study Program Universitas TeknokratIndonesia. The data collected included direct observation of classroom interaction, audio andvideo recording of the teacher and students` interactions. The analysis of the data revealed that infact both male and female teachers used language to advice the students. It was all because theaim of teaching is to improve students’ ability, so the teachers frequently used language to giveadvices and suggestions for the students’ improvement. In the other hand, male teachers morefocus on the goal of teaching to maintain their status meanwhile female teachers more concern onthe process of teaching to build relationship with the students. AbstrakHubungan antara bahasa dan gender telah lama diminati dalam sosiolinguistik dan disiplin terkait.Secara khusus, hal ini dapat melihat cara penggunaan bahasa oleh pria dan wanita secaraberbeda. Oleh sebab itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menggambarkanbagaimana guru pria dan wanita di kelas EFL menggunakan bahasa secara berbeda dalaminteraksi kelas, khususnya dalam kelas Berbahasa Inggris. Studi kasus eksplorasi ini dilakukan pada2 orang guru pria dan 2 orang guru wanita kelas bahasa Inggris 1 Program Studi Sastra InggrisUniversitas Teknokrat Indonesia. Data yang dikumpulkan meliputi pengamatan langsung terhadapinteraksi kelas, rekaman audio dan video interaksi guru dan siswa. Analisis data menunjukkanbahwa guru laki-laki dan perempuan menggunakan bahasa untuk memberi nasehat kepada siswa.Itu semua karena tujuan pengajarannya adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa, sehinggapara guru sering menggunakan bahasa untuk memberi nasehat dan saran untuk peningkatansiswa. Di sisi lain, guru laki-laki lebih fokus pada tujuan mengajar untuk mempertahankanstatusnya sementara guru perempuan lebih memperhatikan proses pengajaran untukmembangun hubungan dengan siswa.
Mitos Martandu: Kecendekiaan Lokal Suku Moronene di Kabaena dalam Potensi Banjir di Sungai Lakambula Heksa Biopsi Puji Hastuti; NFN Rahmawati
Kelasa Vol 13, No 2 (2018): Kelasa
Publisher : Kantor Bahasa Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/kelasa.v13i2.69

Abstract

Martandu Myth is the story of one mythological creature (described as a giant-snake like creature with horns) within Moronene tribe in Kabaena island, precisely in the upstream of Lakambula River. Problems research issued in this article are how the Martandu myth represents the local genius of the Moronene tribe in Kabaena in relation with the flood potential in the Lakambula River and how the relevance of the Martandu Myth is to the present situation. Therefor, the aims of the research are to describe the local genius of Moronene tribe in Kabaena island in relation with flood potential in Lakambula river and to describe the relevance of Martandu Myth to the present situation. Data in the form of Martandu Myth and the reality of the present conditions at the research locus were obtained from literature tracing and interviews with informan. Data were analyzed qualitatively using mitem analysis techniques, readings, and interpretations. The results of the analysis show that the Martandu Myth represents the Moronene tribe in Kabaena local genius in relation to the flood potential in the Lakambula river in the form of a scenario containing a number of layered warnings if someone makes a mistake in violating the rules. In the last section, it is ilustrated when outsiders who want to occupy their wealth come, to be prevented indeed. This myth has relevance to the present situation in which the modernity changes the pattern of thinking of its people to be more instant and feels as if they are no longer fully dependent on the goodness of nature. Likewise, the final scenario of the Martandu against the sharks/marine martandu is relevant to the arrival of people from outside who want to take part in taking advantage of the Moronene earth nature treasure in Kabaena. AbstrakMitos Martandu adalah kisah tentang satu makhluk mitologis (digambarkan sebagai makhluk serupa ular raksasa yang bertanduk) dalam suku Moronene di Pulau Kabaena, tepatnya di hulu Sungai Lakambula. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana mitos Martandu merepresentasikan kecendekiaan lokal suku Moronene di Kabaena dalam kaitannya dengan potensi banjir di Sungai Lakambula dan bagaimana relevansi Mitos Martandu dengan keadaan yang ada sekarang. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan mendeskripsikan representasi kecendikiaan lokal suku Moronene di Kabaena dalam Mitos Martandu dalam kaitannya dengan potensi banjir di Sungai Lakambula dan relevansinya dengan keadaan saat ini. Data berupa Mitos Martandu dan realitas kondisi sekarang di lokus penelitian diperoleh dari penelusuran pustaka dan wawancara dengan informan. Data dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan teknik analisis mitem, pembacaan, dan pemaknaan melalui perelasian. Hasil analisis menunjukkan bahwa Mitos Martandu merepresentasikan kecendekiaan lokal suku Moronene di Kabaena terkait potensi banjir di Sungai Lakambula dalam bentuk skenario berisi sejumlah peringatan berlapis apabila ada yang melakukan kesalahan melanggar aturan. Pada bagian terakhir, diskenariokan apabila datang pihak luar yang ingin menguasai kekayaan mereka, maka harus dicegah.  Mitos ini memiliki relevansi dengan keadaan sekarang di saat arus modernitas mengubah pola berpikir manusianya menjadi lebih instan dan merasa seolah tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kebaikan alam.  Demikian pula skenario akhir martandu yang melawan hiu/martandu laut, relevan dengan kedatangan orang-orang dari  luar yang hendak turut serta mengambil manfaat dari kakayaan alam bumi Moronene di Kabaena. 
Kata Kerja Mengatakan dalam Tuturan Bahasa Banjar Rissari Yayuk
Kelasa Vol 14, No 1 (2019): Kelasa
Publisher : Kantor Bahasa Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/kelasa.v14i1.85

Abstract

Verbs say are often used in everyday communication. These words are usually structurally predicate in sentences.However, the pragmatic semantics of these words can be used in a variety of functions and types of speech. This research is titled verbs say in Banjar language speech. The problem under consideration is the use of verbs to mean significant in affix in Banjar language and Banjar language speech strategy using verbs. The purpose of the study is to describe the use of verbs to say meaningful affixes meN- in the language of Banjar and Banjar language speech strategies that use the verb says. This study uses a structural, semantic, and pragmatic perspective. The method of this research is descriptive. Techniques used in data retrieval are recording and documentation techniques. Method of data analysis is by qualitative way. Data presentation techniques using ordinary words. The results of the study concluded that the use of verbs means that the meN- affix in Banjar speech includes the commanding verb, giving information, agreement, and expectation. The banjar language spoken language strategy using the verb says. Includes paying attention to the needs of the said partners, involving the said partner. Avoiding discrepancies, and growing an optimistic attitude. AbstrakKata kerja mengatakan digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Kata ini memiliki fungsi predikat dalam kalimat. Kata ini dapat digunakan dalam ragam fungsi dan jenis tuturan. Masalah penelitian yaitu makna kata mengatakan imbuhan meN- dan strategi menggunakan kata kerja mengatakan dalam tuturan bahasa Banjar. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan penggunaan makna kata mengatakan imbuhan meN- dan strategi menggunakan kata kerja mengatakan dalam tuturan bahasa Banjar. Penelitian ini menggunakan teori struktural, semantik, dan pragmatik. Metode penelitian ini adalah deskriptif. Teknik yang digunakan dalam pengambilan data adalah teknik  rekam dan dokumentasi. Teknik penyajian data dengan menggunakan kata-kata biasa.  Hasil penelitian yaitu makna imbuhan meN- dalam kata kerja mengatakan  dalam tuturan bahasa Banjar  meliputi kata kerja memerintah, memberikan informasi, perjanjian, dan harapan. Strategi tuturan bahasa Banjar yang menggunakan kata kerja mengatakan meliputi  memperhatikan kebutuhan mitra tutur,  melibatkan mitra tutur, menghindari ketidakcocokan, dan menumbuhkan sikap optimis.
Ekspresi Verbal dan Nonverbal Anak Autis Program Awal, Menengah, dan Pengayaan Rita Novita
Kelasa Vol 14, No 2 (2019): Kelasa
Publisher : Kantor Bahasa Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/kelasa.v14i2.6

Abstract

PESAN POLITIK MEGAWATI SOEKARNOPUTRI DALAM PIDATO ULANG TAHUN KE-44 PDI PERJUANGAN Ali Kusno
Kelasa Vol 12, No 2 (2017): Kelasa
Publisher : Kantor Bahasa Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/kelasa.v12i2.47

Abstract

AbstractChairman of the Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati delivered a politicalspeech in the 44th anniversary of PDIP, Megawati's speech reaped a variety of criticisms fromsome parties without intrepreting the whole content of the speech thoroughly. This study aims toanalyze the political messages contained in the discourse of Megawat’s political speech. This studyuses a model of critical discourse analysis by Fairclough. The data are taken from the discourse ofMegawati's speech. The data are analyzed using an interactive model. The results show thatMegawati’s political speech does not harm certain parties. The message delivered is a purepersuasion to the country to uphold Pancasila, the 1945 Constitution, and to maintain the nationalunity which is knows as Bhineka Tunggal Ika. Even if there is an apposing party, it could bepossible because of differences in political views and interests. The issue often arises when peoplein the political parties are sometimes too reactive to the statement and associate it with racialissues. The problems that actually have nothing to do with the racial issues can be a big issuebecause they were exaggerated. AbstrakKetua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati menyampaikan pidatopolitik dalam HUT ke-44 PDIP. Pidato Megawati itu menuai beragam kecaman dari beberapa pihaktanpa memaknainya secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan menganalisis pesan politik yangterdapat dalam pidato Megawati tersebut. Penelitian ini menggunakan analisis wacana kritisModel Fairclough. Data penelitian diambil dari wacana pidato Megawati tersebut. Teknik analisisdata menggunakan model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Megawati dalam pidatopolitiknya tidak ada satu pernyataan pun yang mencederai pihak tertentu. Hal yang disampaikanmurni persuasi terhadap bangsa Indonesia untuk menjunjung pancasila, UUD 1945, dan menjagapersatuan bangsa yang Berbhineka Tunggal Ika. Kalaupun ada pihak lain menentang, bisadimungkinkan karena perbedaan pandangan politik dan kepentingan. Persoalan justru seringmuncul ketika tokoh-tokoh tersebut reaktif terhadap pernyataan dan mengaitkannya dengan isuSARA. Permasalahan yang sebenarnya tidak ada kaitannya (SARA) dapat menjadi isu besar karenadibesar-besarkan.
PELANGGARAN IMPLIKATUR PERCAKAPAN DALAM HUMOR MINANG BASIGINYANG Yulfi Zawarnis
Kelasa Vol 13, No 1 (2018): Kelasa
Publisher : Kantor Bahasa Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/kelasa.v13i1.64

Abstract

AbstractThis research is a qualitative research that aims to describe the form of conversational implicatur used in Minang humors contained in Minang song album "Basiginyang". Data in the form of conversations in Minang language that contain humors. The data obtained is then transcribed in writing and then translated into Indonesian. The data obtained were then analyzed using speech act theory proposed by Leech and Grice. The results showed that of the twelve Minang-based humors stories analyzed it was found that most humors contained an element of violation of the maxim of relevance and maxim acceptance. Violations of these maxims are made to obtain fun and interesting effects. In addition, based on the results of the analysis is also known that in one humors is not only one violation of the principle of cooperation and the principle of decency.AbstrakPenelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk implikatur percakapan yang digunakan dalam humor Minang yang terdapat dalam album lagu Minang “Basiginyang”. Data berupa percakapan dalam bahasa Minang yang mengandung humor. Data yang diperoleh kemudian ditranskripsikan dalam bentuk tulisan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Data yang diperoleh dianalisis dengan teori tindak tutur yang dikemukakan oleh Leech dan Grice. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam dua belas cerita humor berbahasa Minang yang dianalisis ditemukan bahwa sebagian besar humor mengandung unsur pelanggaran terhadap maksim relevansi dan maksim penerimaan. Pelanggaran maksim-maksim ini dilakukan untuk memperoleh efek lucu dan menarik. Selain itu, berdasarkan hasil analisis juga diketahui bahwa dalam satu humor tak hanya terdapat satu pelanggaran prinsip kerja sama ataupun prinsip kesopanan.
Penerapan Model Integratif Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Menulis dan Bercerita Rangkum Buku Nonfiksi Murakip Murakip
Kelasa Vol 14, No 1 (2019): Kelasa
Publisher : Kantor Bahasa Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/kelasa.v14i1.80

Abstract

The results of a preliminary study of writing and telling the result of summary nonfiction books of a low so the reseascher need to solve the problem using the learning integrative model. The purpose of this study is to describe the application of the Integrative Learning Model to improve learning outcomes of writing a summary, and to tell the results of a nonfiction book summary.The research method developed was Classroom Action Research, Kemmis and Taggart models. The results showed that the results of writing a summary in the form of a series of main ideas in the content of non-fiction books, 21 students completed (65.63%) cycle I, 28 students completed (87.50%) cycle II, and told the results of the summary in the form of a series main ideas of the contents of the nonfiction book made, 20 students completed (62.50%) cycle I, 29 students completed (90.63%) cycle II. The results of the study prove that the application of the Integrative Learning Model can improve the assessment of learning outcomes of writing a summary and retelling the results of a nonfiction book summary for students of class VII-B of SMP Negeri 3 Pamekasan. AbstrakHasil studi pendahuluan menulis dan bercerita hasil rangkuman buku nonfiksi rendah sehingga peneliti perlu memecahkan masalah dengan menggunakan model Integratif Learning. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan Model Integratif Learninguntuk meningkatkan hasil belajar menulis rangkuman, dan bercerita hasil rangkuman buku nonfiksi.Metode penelitian yang dikembangkan adalahPenelitian Tindakan Kelas, model Kemmis dan Taggart.Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil menulis rangkuman dalam bentuk rangkaian gagasan pokok isi buku nonfiksi, 21 peserta didik tuntas (65,63%) siklus I, 28 Peserta didik tuntas (87,50%) siklus II, dan menceritakan hasil rangkuman dalam bentuk rangkaian gagasan pokok isi buku nonfiksi yang dibuat, 20 peserta didik tuntas (62,50%) siklus I, 29 Peserta didik tuntas (90,63%) siklus II. Hasil penelitian membuktikan bahwa penerapan Model Integratif Learning dapat meningkatkan penilaian hasilbelajar menulis rangkuman dan menceritakan kembali hasil rangkuman buku nonfiksipada peserta didik kelas VII-B SMP Negeri 3 Pamekasan.
BAHASA INDONESIA DI RUANG PUBLIK Achril - Zalmansyah
Kelasa Vol 16, No 1 (2021): Kelasa
Publisher : Kantor Bahasa Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/kelasa.v16i1.129

Abstract

AbstrakPeranan bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa sudah menjadi suatu keniscayaan bahawa bahasa itu harus dijunjung tinggi oleh penggunanya, bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia yang digunakan di ruang publik, khususnya bahasa tulis tentu perlu mendapat perhatihanus, terutama dalam kaitannya dengan kaidah bahasa Indonesia. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menentukan bentuk-bentuk penyimpangan kaidah kebahasaan pada ruang publik di Provinsi Lampung. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa papan nama instansi/lembaga pemerintah dan  nonpemerintah, nama jalan, permukiman, merek dagang, petunjuk atau rambu-rambu, fasilitas umum, spanduk, dan reklame. Penelitian penggunaan bahasa Indonesia ini difokuskan pada penggunaan bahasa Indonesia secara murni atau bercampur dengan bahasa asing dan bahasa daerah.  Bentuk penyimpanganan penggunaan bahasa Indonesia meliputi penyimpangan pada kaidah kebahasaan, seperti kesalahan penulisan huruf, penggunaan tanda baca pada kata dan kalimat.Kata-kata kunci: bahasa Indonesia, ruang publik, kaidah bahasa AbstractThe role of Indonesia language as the unifying language of the nation has become a necessity that the language must be upheld by its users, the Indonesian people. The Indonesian language used in public spaces, especially written language, certainly needs attention, especially in relation to the rules of the Indonesian language. This study aims to describe and determine forms of language deviation in public spaces in Lampung Province. This research use desciptive qualitative approach. The research data is in the form of government and non-government institutions such as name boards, street names, settlements, trademarks, signs or signs, public facilities, banners, and billboards. The research of the use of Indonesian language is focused on the use of pure Indonesian or mixed with foreign languages and regional languages. Forms of deviation from the use of Indonesian include deviations from linguistic rules, such as errors in writing letters, use of punctuation marks on words and sentences.Keywords: bahasa Indonesia, public space, language rules

Page 7 of 11 | Total Record : 107