cover
Contact Name
Muhammad Shidiq
Contact Email
shidiqmuhammad17393@gmail.com
Phone
+6281222979930
Journal Mail Official
jurnalatrat@gmail.com
Editorial Address
Jalan Buah Batu No.212, Cijagra, Kec. Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat, kode pos: 40265
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Atrat: Jurnal Seni Rupa
ISSN : 23391642     EISSN : 27227200     DOI : http://dx.doi.org/10.26742
Atrat is a Journal of Visual Arts containing scientific papers which includes Fine Art and Design, publisher by Jurusan Seni Rupa STSI Bandung (p-ISSN 2339-1642 & e-issn 2722-7200). Jurnal Atrat also embodies the results of various forms of scientific research as well as the creation of artworks, which can become new knowledge published in scientific articles, so it is worthy to be read and understood by readers. Atrat aims to give land to Artists, Designers, Art Students, Teachers/ Lecturers, and Fine Arts Society to exchange insights.
Articles 404 Documents
KOTAK SCOPOPHILIA VISUALISASI PROSES SUBLASI MEKANISME PERTAHANAN EGO Nandang Gumelar Wahyudi
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 9, No 1 (2021): KARYA RUPA DALAM PERSPEKTIF MAKNA, FUNGSI, DAN IMPLEMENTASI
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v9i1.1667

Abstract

This work is a process of designing and creating three-dimensional works of art that rely on Sigmund Freud's Psychoanalysis as a grand theory, focusing on the sublation process of the Human Ego Defense Mechanism which is visualized through the Free Association method with various visual symbols produced from various media and mixed techniques (painting, drawing, collage, found objects, digital photos, lights, sound, assembling) which are placed in a number of boxes made of wood which are designed in such a way as a 'space' representation of the visual concept framework of Scopophilia. Departing from the theme of scopophilia and visual ideas placed within the framework of Freud's Psychoanalysis, the Scopophilia Box is expected to be a bridge for interpreting the spaces of erotic desire in the creative process carried out by the author as an art creator by placing it in the position of subject and object that cannot be tamed by language, law, morality or religion.Keywords: Scopophilia, Box, Sublimation, Ego Defense Mechanisms, Psychoanalysis.-------------------------------------------------------------------------------------Karya ini merupakan proses perancangan dan penciptaan karya seni rupa tiga dimensi yang bersandar pada Psikoanalisa Sigmund Freud sebagai grand theory, berfokus pada proses sublasi dari Mekanisme Pertahanan Ego Manusia yang divisualisasikan melalui metode Asosiasi Bebas dengan berbagai simbol visual yang dihasilkan dari beragam media dan teknik campuran (painting, drawing, collage, benda temuan, foto digital, lampu, suara, assembling) yang diletakan dalam sejumlah kotak yang terbuat dari kayu yang dirancang sedemikian rupa sebagai ‘ruang’ representasi dari kerangka konsep visual Scopophilia. Berangkat dari tema scopophilia dan ide visual yang diletakkan dalam kerangka Psikoanalisa Freud, Kotak Scopophilia diharapkan menjadi sebuah jembatan tafsir ruang-ruang hasrat erotik dalam proses berkreasi yang dilakukan penulis sebagai kreator seni dengan menempatkannya pada posisi subyek sekaligus obyek yang tak bisa dijinakkan bahasa, hukum, moralitas atau agama. Kata Kunci: Scopophilia, Kotak, Sublasi, Mekanisme Pertahanan Ego, Psikoanalisa.
PIKUKUH PITUTUR APES LINGSEM BAGI MASYARAKAT KAMPUNG ADAT DUKUH KABUPATEN GARUT Ai Juju Rohaeni; Nia Emilda
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 8, No 3 (2020): MOTIF, MAKNA, DAN MEDIA DALAM TEKNIK KARYA RUPA
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v8i3.1598

Abstract

The life of the people that is lived is inseparable from the customs and the concept of life so that it can be reflected how the attitudes, behaviors and actions of their daily life patterns, as well as the indigenous people of Kampung Dukuh Dalam, Garut Regency who continue to carry out the concept of life that has been passed down from generation to generation. customary leaders until now, among them about the concept of life of Apes Lingsem. Apes Lingsem according to the narrative of the customary leader, Mama Uluk, has a very deep meaning and meaning and becomes the principle of life for the people who live in the Dukuh Traditional Village. Its meaning and meaning is a simple life, harmony with others and the natural environment that is implemented in daily life and also according to the religious rules adhered to by the community, namely Islam. The research method used is descriptive analytical, with the expected results, namely the cultural literacy model of the traditional community leaders' pikukuh pitutur in maintaining traditions that have been carried out from generation to generation, as a development material in social and cultural science lectures. Keywords:  Apes Lingsem, Traditional Leaders, Indigenous Peoples------------------------------------------------------------------------------------------Kehidupan masyarakat yang dijalani tidak terlepas dari adat kebiasaan dan konsep hidup sehingga dapat tercermin bagaimana sikap, perilaku dan perbuatan dari pola hidup sehari-harinya, begitu pula pada masyarakat adat Kampung Dukuh Dalam, Kabupaten Garut yang terus menjalankan konsep hidup yang diwariskan secara turun temurun dari pemimpin adatnya sampai sekarang di antaranya tentang konsep hidup Apes Lingsem. Apes Lingsem menurut penuturan pimpinan adat yaitu Mama Uluk, mempunyai arti dan makna yang sangat dalam dan menjadi prinsip hidup bagi penduduk yang mendiami Kampung Adat Dukuh.  Arti dan maknanya yaitu hidup yang sederhana, harmonis dengan sesama dan alam lingkungan yang terimplementasi dalam hidup dan penghidupan sehari-hari juga sesuai aturan agama yang dianut oleh masyarakat yaitu Islam. Metode penelitian yang digunakan deskriptif analitis, dengan hasil yang diharapkan yaitu model literasi budaya pikukuh pitutur pimpinan masyarakat adat dalam menjaga tradisi yang secara turun temurun dilaksanakan, sebagai bahan pengembangan dalam perkuliahan ilmu sosial dan budaya. Kata Kunci: Apes Lingsem, Pimpinan Adat, Masyarakat Adat
PERANCANGAN BOARD GAME PENGENALAN HEWAN DAN HABITATNYA UNTUK ANAK USIA 4-5 TAHUN Raden Afni Nurul Fadillah; Dyah Nurhayati; Irma Rachminingsih
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 9, No 1 (2021): KARYA RUPA DALAM PERSPEKTIF MAKNA, FUNGSI, DAN IMPLEMENTASI
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v9i1.1662

Abstract

For children, playing is the most enjoyable activity. Playing while learning is more useful. The game designed here is an introduction to animal and habitat board game for children aged 4-5 years. A board game is a game played on a board and aims to introduce various kinds of animals and their habitats. The methods used in this design are literature study, pictorial study, and interview study. With the number of animals and habitats introduced, this board game can be played by 1-2 children to make it more effective. Board games are played by sorting and matching animals and their habitats. According to a psychological perspective, the process of playing the board game can train children's motor skills, especially hand movements when taking various animal shapes and can also train children's sensory on the material used in the animal media, namely acrylic.Keywords: Board Game, Kids Education, Animals, Graphic Design------------------------------------------------------------------------------------------Bagi anak, bermain adalah aktivitas yang paling menyenangkan. Bermain sambil belajar merupakan hal yang lebih bermanfaat. Permainan yang dirancang di sini yaitu board game pengenalan hewan dan habitatnya untuk anak usia 4-5 tahun. Board game adalah permainan yang dimainkan di atas papan dan bertujuan untuk memperkenalkan berbagai macam hewan dan habitatnya. Metode yang dilakukan dalam perancangan ini yaitu studi literatur, studi pictorial, dan studi wawancara. Dengan jumlah hewan dan habitat yang diperkenalkan, board game ini dapat dimainkan oleh 1-2 orang anak agar lebih efektif. Board game dimainkan dengan cara memilah dan mencocokkan hewan dan habitatnya. Menurut perspektif psikologi, proses memainkan board game tersebut dapat melatih motorik anak, khususnya pergerakan tangan saat mengambil berbagai macam bentuk hewan dan juga dapat melatih sensorik anak terhadap bahan yang digunakan pada media hewan tersebut yaitu akrilik.Kata Kunci: Board Game, Edukasi Anak, Hewan, Desain Grafis
MITOLOGI TENUN GEDOGAN INDRAMAYU: IDE DAN PROSES KONSTRUKSI WACANA Dewi Mustikasari
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 9, No 1 (2021): KARYA RUPA DALAM PERSPEKTIF MAKNA, FUNGSI, DAN IMPLEMENTASI
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v9i1.1657

Abstract

The motifs of Babaran, Kluwungan, Poléng Méntisa, and Udan Mas Prambutan are the four motifs of Gedogan Indramayu weaving which are mythized by the user community as narratives of defense mechanisms for systems that have been practiced for a long time. In principle, a mythology is formed by the people themselves to gain their own knowledge in reading the phenomena of life and the natural surroundings. Mythology stems from the perception of the people who are arbitrary and connotative in deciphering the meanings of Gedogan Indramayu weaving. The connotation of believing and being believed together becomes a kind of collective 'faith'. The connotative perception is then uniformized and turned into a fixed and absolute rule or into a kind of convention. Furthermore, when testing the validity of the convention, it persists in its application in society, so that its predicate turns into a myth. Then this myth is also tested by time, survives in the community, reaches the side of a solid belief for the people, so that it becomes a system of thinking and living for the Juntikebon community. Keywords: Mythology, Weaving Gedogan Indramayu, Babaran, Kluwungan, Poléng Méntisa, Udan Mas Prambutan. -----------------------------------------------------------------------------------------Motif Babaran, Kluwungan, Poléng Méntisa, dan Udan Mas Prambutan adalah empat motif tenun Gedogan Indramayu yang dimitoskan oleh masyarakat penggunanya sebagai narasi mekanisme pertahanan bagi sistem-sistem yang telah dijalani sejak dulu. Pada prinsipnya, suatu mitologi dibentuk oleh masyarakatnya sendiri untuk mendapatkan pengetahuannya sendiri dalam membaca fenomena hidup dan alam sekitar. Mitologi bermula dari persepsi masyarakatnya yang arbiter dan konotatif dalam menguraikan makna-makna tenun Gedogan Indramayu. Konotasi itu dipercaya dan diyakini secara bersama-sama menjadi semacan ‘iman’ kolektif. Persepsi yang konotatif itu kemudian diseragamkan dan berubah menjadi suatu aturan yang tetap dan mutlak atau menjadi semacam konvensi. Selanjutnya, waktu menguji keberlakuan konvensi itu tetap bertahan dalam penerapannya di masyarakat, sehingga predikatnya berubah menjadi sebuah mitos. Kemudian mitos ini juga diuji oleh waktu, bertahan di masyarakatnya, mencapai pada sisi keyakinan yang mantap bagi masyarakatnya, hingga menjadi suatu sistem berpikir dan berkehidupan bagi masyarakat Juntikebon. Kata Kunci: Mitologi, Tenun Gedogan Indramayu, Babaran, Kluwungan, Poléng Méntisa, Udan Mas Prambutan.
ENIGMA PENGARYAAN SENI PATUNG SEBAGAI PENGHARGAAN TERHADAP PROSES PENCIPTAAN MANUSIA Biru Aulia Birrul Walidain; Gustiyan Rachmadi; Gabriel Aries Setiadi
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 8, No 3 (2020): MOTIF, MAKNA, DAN MEDIA DALAM TEKNIK KARYA RUPA
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v8i3.1604

Abstract

MOTIF BATIK KLASIK CUPAT MANGGU DAN AKSARA KAGANGA SEBAGAI REFLEKSI MOTIF KHAS TASIKMALAYA JAWA BARAT Handayani, Wuri; Nurhayati, Dyah
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 8, No 3 (2020): MOTIF, MAKNA, DAN MEDIA DALAM TEKNIK KARYA RUPA
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v8i3.1599

Abstract

PERANCANGAN KACAMATA DENIM DENGAN ORNAMEN MEGA MENDUNG Rachman, Zandria Arriela; Mustaqin, Khairul; Rachminingsih, Irma
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 9, No 1 (2021): KARYA RUPA DALAM PERSPEKTIF MAKNA, FUNGSI, DAN IMPLEMENTASI
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v9i1.1663

Abstract

Glasses are parts of human life. People wear them for various reasons. Yet, many have complained about inconveniences while they are using it. Thus, the writer designed glasses made of denim decorated with mega mendung ornament. The design process was initiated by collecting data or references through both a literature study and a pictorial study. The glasses were made of denim waste of the home industry that had gone through stiffening. In addition, the vintage style is shown by its round-shaped frames. Also, the mega mendung ornament decorating the glasses temples is an effort to preserve Indonesian, especially West Java art and culture heritage.  Keywords: Glasses, Denim, Mega Mendung------------------------------------------------------------------------------------------Kacamata dipakai manusia karena beragam alasan sesuai kebutuhan masing-masing individu. Hal ini menunjukkan bahwa kacamata merupakan barang yang sangat melekat dan sulit dipisahkan dengan kehidupan masyarakat. Namun seringkali ditemui banyak orang yang mengeluh tentang ketidaknyamanan mereka saat menggunakan kacamata. Perancangan Kacamata Denim dengan Motif Mega Mendung ini menggunakan beberapa metode atau tahapan untuk mencari data yang diperlukan sebagai referensi dalam pembuatan karya, sebagai berikut: 1.Studi Literatur; 2. Studi Piktorial. Kacamata ini dibuat dengan memanfaatkan bahan denim sisa industri rumahan yang melalui proses pengkakuan. Selain itu, bingkai kacamata dibuat dengan desain vintage yaitu lensa yang berbentuk bulat. Lalu di bagian luar gagang kacamata menerapkan dekorasi ornamen Mega Mendung sebagai bentuk upaya melestarikan seni dan kebudayaan Indonesia khususnya Jawa Barat. Kata Kunci: Kacamata, Denim, Mega Mendung
MODEL PASAR TRADISIONAL URBAN Winarno, Ari; Alif, M Zaini
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 9, No 1 (2021): KARYA RUPA DALAM PERSPEKTIF MAKNA, FUNGSI, DAN IMPLEMENTASI
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v9i1.1658

Abstract

This article discusses an alternative marketplace that is distinct and unique. Most markets facilitate the transaction of primary or secondary needs without heeding either the local cultural potential or educational values for its surrounding society. Thus, buyers and sellers complete the transaction without acquiring either additional values or experiences. This condition occurs in traditional markets at large, modern markets, and even online marketplaces. Qualitative approach and critical analysis applied in processing the data resulted in a market model. The Grimpon market is a design that fuses traditional and urban markets by implementing the management approach of Planning, Organization, Actuating, and Controlling (POAC) and executed through some stages, such as making market organization concept, appointing market organizing committee, writing a proposal of market organization, publication and promotion, sponsor issues, displays, implementation, control, and evaluation of the market. Keywords: Market model, traditional urban-----------------------------------------------------------------------------------------Tulisan ini membahas keberadaan pasar tempat jual beli alternatif yang memiliki keunikan dan berbeda. Mayoritas pasar merupakan tempat jual beli kebutuhan pokok maupun kebutuhan lainnya sehingga mengabaikan potensi kultural setempat maupun edukasi terhadap masyarakat, sehingga para pembeli maupun penjual bertransaksi tanpa mendapatkan nilai tambah maupun pengalaman yang lain setelah kegiatan itu usai. Kondisi yang seperti ini terjadi di pasar tradisional pada umumnya, pasar modern maupun pasar yang dilaksananakan secara online yang masih eksis hinggga kini. Melalui pendekatan kualitatif dan analisa kritis disertai dengan data acuan lapangan pasar yang sudah ada maka dapat diformulasikan sebuah tahapan sebagai model pasar. Adalah pasar Grimpon merupakan rancangan perwujudan menggabungkan antara pasar tradisi dan urban yang dirancang malalui pendekatan managemen Planing, Organisation, Actuating, dan Controling (POAC) dan kemudian dieksekusi melalui tahapan: Konsep Penyelenggaraan Pasar, Penetuan Tim Pelaksana Pasar, PenyusunanProposal penyelenggaraan pasar, Publikasi dan Promosi Pasar, Masalah Sponsor, Penataan/display Pasar, Acara Pelaksanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pasar. Kata kunci : Model Pasar, Tradisional Urban
MAKNA SIMBOLIK PATUNG MONUMEN DI TAMAN BALAI KOTA BANDUNG Falah, Asep Miftahul
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 8, No 3 (2020): MOTIF, MAKNA, DAN MEDIA DALAM TEKNIK KARYA RUPA
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v8i3.1605

Abstract

PENGARUH MAKNA EMOTIF DARI MODIFIKASI MOTOR DENGAN GAYA SCRAMBLER TERHADAP PENGGUNA Muttaqien, Teuku Zulkarnain
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 8, No 2 (2020): ANALISIS MAKNA KARYA VISUAL DALAM SENI PUBLIK
Publisher : Jurusan Seni Rupa ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/atrat.v8i2.1528

Abstract

People use expression when they see something. The expressions such as ‘macho’ and ‘cool’ for a modified scrambler motorcycle may be meaningless, but they can cause the owner to feel an emotional tie towards his motorcycle and thus affects his feeling and attitude. Emotive meaning involves feelings between a person who expresses and another person who receives its expression. Its meaning is positive in nature. The study aims to analyze the effect of wording on the behavior of modified scrambler motorcycle riders. All this time the impressions formed about the riders of modified scrambler motorcycle are uncouth, disobedient, etc. It is expected that the positive expressions that come from the riders’ environment can reduce the negative impressions. The researcher identified the positive expressions by using a semantic approach and then analyzed their impact on the riders. Changes in the riders’ behavior cannot be noticed immediately because it takes some time to change habits, yet environmental support is very helpful in achieving the goal. Keywords: emotive meaning, modification, behavior, scrambler____________________________________________________________________ Ungkapan menunjukan rasa tertarik muncul ketika seseorang melihat sesuatu yang bagus, salah satunya adalah modifikasi motor scrambler, ungkapan gagah atau keren itu sekilas tidak memiliki makna namun dapat menimbulkan kaitan emosional antara pemilik dengan motornya sehingga memengaruhi perasaan dan sikap pemilik. Makna emotif adalah makna yang melibatkan perasaan antara yang mengungkapkan dengan penerimanya, makna emotif bersifat positif meskipun kadang menunjuk pada sesuatu yang lain yang tidak sama dengan dunia nyata. Tujuan dari kajian ini adalah menganalisa pengaruh kata-kata ungkapan pada perilaku pengguna motor modifikasi, kesan yang ditimbulkan dari motor modifikasi adalah urakan, tidak patuh aturan dan lain-lain, diharapkan dengan adanya ungkapan positif yang muncul dari lingkungan pengguna dapat mengurangi kesan negatif tersebut. Metode yang dilakukan adalah mengidentifikasi kata ungkapan yang muncul dengan pendekatan semantik lalu menganalisa dampaknya terhadap pengguna. Perubahan perilaku pengguna tidak dapat diketahui seketika, perlu waktu untuk merubah kebiasaan, dukungan lingkungan sangat membantu dalam mencapai tujuan.Kata kunci: makna emotif, modifikasi, perilaku, scrambler

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 13 No 2 (2025): PERANAN SENI TRADISI DALAM PERKEMBANGAN KARYA VISUAL Vol 13 No 1 (2025): INOVASI DAN KREATIVITAS DALAM KARYA DESAIN Vol 12 No 2 (2024): KREATIVITAS DAN INOVASI SENI VISUAL DALAM KARYA DESAIN Vol 12, No 1 (2024): TRADISI KARYA RUPA DESAIN Vol 12 No 1 (2024): TRADISI KARYA RUPA DESAIN Vol 11, No 3 (2023): KARYA RUPA DALAM BINGKAI TRADISI DAN BUDAYA Vol 11 No 3 (2023): KARYA RUPA DALAM BINGKAI TRADISI DAN BUDAYA Vol 11 No 2 (2023): KARAKTERISTIK RUPA DALAM TRADISI DAN BUDAYA Vol 11, No 2 (2023): KARAKTERISTIK RUPA DALAM TRADISI DAN BUDAYA Vol 11 No 1 (2023): INOVASI DAN APLIKASI PADA KARYA VISUAL Vol 11, No 1 (2023): INOVASI DAN APLIKASI PADA KARYA VISUAL Vol 10, No 3 (2022): EKSISTENSI SENI DAN BUDAYA DALAM INTERPRETASI VISUAL Vol 10 No 3 (2022): EKSISTENSI SENI DAN BUDAYA DALAM INTERPRETASI VISUAL Vol 10 No 2 (2022): ESTETIKA DALAM MAKNA, MEDIA, DAN TEKNIK VISUAL Vol 10, No 2 (2022): ESTETIKA DALAM MAKNA, MEDIA, DAN TEKNIK VISUAL Vol 10 No 1 (2022): MEDIA PENERAPAN KARYA RUPA DALAM TEKNIK DAN TEKNOLOGI Vol 10, No 1 (2022): TEKNIK DAN TEKNOLOGI MEDIA KARYA VISUAL Vol 9, No 3 (2021): EKSPLORASI DAN IMPLEMENTASI POTENSI RUPA Vol 9 No 3 (2021): EKSPLORASI DAN IMPLEMENTASI POTENSI RUPA Vol 9, No 2 (2021): VISUAL ARTISTIK DALAM TEKNIK DAN POLA RUPA Vol 9, No 1 (2021): KARYA RUPA DALAM PERSPEKTIF MAKNA, FUNGSI, DAN IMPLEMENTASI Vol 8, No 3 (2020): MOTIF, MAKNA, DAN MEDIA DALAM TEKNIK KARYA RUPA Vol 8, No 2 (2020): ANALISIS MAKNA KARYA VISUAL DALAM SENI PUBLIK Vol 8, No 1 (2020): REPRESENTASI, PARTISIPASI, DAN GERAKAN SENI Vol 7, No 3 (2019): IMPLEMENTASI IDENTITAS BUDAYA LOKAL Vol 7, No 2 (2019): POTENSI TRADISI DALAM BUDAYA KONTEMPORER Vol 7, No 1 (2019): IDENTITAS BUDAYA VISUAL: APRESIASI DAN EKSPLORASI Vol 6, No 3 (2018): IMPLEMENTASI MEDIA DAN TEKNIK DALAM KARYA RUPA Vol 6, No 2 (2018): REFLEKSI TRADISI DALAM ESTETIKA RUPA Vol 6, No 1 (2018): APLIKASI, STRATEGI, DAN ORIENTASI SENI DALAM RUPA, MEDIA, DAN WACANA Vol 5, No 3 (2017): EKSPLORASI RAGAM HIAS DAN BUSANA KONTEMPORER Vol 5, No 1 (2017): EKSPLORASI SENI DALAM PANGGUNG DAN RUPA Vol 4, No 3 (2016): KEARIFAN LOKAL DALAM TRANSFORMASI VISUAL Vol 3, No 3 (2015): DIALEKTIKA RUPA DALAM KEBUDAYAAN KONTEMPORER Vol 3, No 1 (2015): REALITAS TRADISI DALAM PERSEPSI VISUAL Vol 1, No 3 (2013): REPRESENTASI POTENSI DAN ESTETIKA SENI RUPA Vol 1, No 2 (2013): JERAT TRADISI DALAM KONTEMPORER Vol 1, No 1 (2013): MEDIA DALAM BUDAYA RUPA More Issue