cover
Contact Name
Partini
Contact Email
partiniprasetia2@gmail.com
Phone
+6281378522370
Journal Mail Official
unisiagribisnis@gmail.com
Editorial Address
Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Islam Indragiri Jl. Provinsi Parit 1, Tembilahan Hulu Indragiri Hilir, Riau
Location
Kab. indragiri hilir,
Riau
INDONESIA
Jurnal Agribisnis
ISSN : 23015330     EISSN : 2598733x     DOI : https://doi.org/10.32520/agribisnis
Jurnal Agribisnis fokus mempublikasikan artikel artikel dalam bidang ilmu sosial ekonomi pertanian yang meliputi agribisnis mulai dari pengadaan sarana produksi, usahatani, agroindustri, pemasaran dan sarana penunjang termasuk sektor kelembagaan Agribisnis, serta penyuluhan pertanian, perencanaan pembangunan wilayah pertanian, pemberdayaan masyarakat petani dan kebijakan pembangunan pertanian . Scope/Ruang lingkup kajian jurnal Agribisnis mencakup hasil penelitian atau artikel review yang berkaitan dengan pertanian mulai dari hulu sampai hilir serta seluruh sektor pendukungnya.
Articles 158 Documents
Kinerja Keuangan dan Kepuasan Anggota Koperasi Sawit (Kopsa) Usaha Manunggal Desa Seresam Kecamatan Seberida Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau. Aris Triyono; Sri Indrastuti S; Ujang Paman Ismail
JURNAL AGRIBISNIS Vol. 14 No. 2 (2025): Jurnal Agribisnis Volume 14 No 2 Tahun 2025
Publisher : Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/agribisnis.v14i2.4741

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis kinerja keuangan, kepuasan anggota dan upaya meningkatkan kinerja keuangan dan kepuasan anggota Koperasi Sawit (Kopsa) Usaha Manunggal. Metode survey. Sampel sederhana (Simple Random Sampling) yaitu terhadap 41 orang anggota KOPSA. Model analisis yang digunakan dalam mengukur kinerja keuangan adalah Rasio Likuditas, Rasio Solvabilitas dan Rasio Profitabilitas. Untuk menganalisis kepuasan anggota model IPA dan CSI. Hasil, Analisis kinerja keuangan KOPSA Usaha Manunggal dari tahun 2020-2024 menunjukkan kemampuan yang baik dalam membayar kewajiban jangka pendek. Rata-rata current ratio adalah 108,11, quick ratio 104,00, dan cash ratio 0,20. Ini mengindikasikan kemampuan koperasi membayar utang jangka pendek dengan aset lancar. Namun, rasio solvabilitas menunjukkan sebagian besar aset dibiayai utang (Total Asset To Debt Ratio 80,61%), Dept to Equity Ratio 415,96% ini mengindikasikan bahwa untuk setiap satu rupiah modal yang dimiliki oleh anggota (ekuitas), koperasi memiliki lebih dari empat rupiah utang. Dari segi rentabilitas, koperasi mampu menghasilkan laba bersih 1,13% dari aset (ROA) dan 8,47% dari modal sendiri (ROE) Net Profit Margin 10,09%. Hasil IPA mengidentifikasi beberapa atribut dengan prioritas rendah yang perlu diperbaiki, yaitu penampilan pengurus, kelengkapan fasilitas, kemudahan akses informasi, ketepatan waktu pembayaran hasil penjualan, kejujuran pengurus, dan biaya sosial. Nilai CSI mencapai 80,78%, menunjukkan kepuasan yang Puas terhadap kinerja keuangan Koperasi Sawit (KOPSA) Usaha Manunggal. Upaya peningkatan kinerja keuangan dan kepuasan anggota dengan mengurangi jumlah piutang tidak tertagih, penghematan dalam pengalokasian biaya, meningkatkan kualitas produk yang dijual (Tandan Buah Segar-TBS)This study aims to analyze the financial performance, member satisfaction, and efforts to improve the financial performance and satisfaction of members of the Palm Oil Cooperative (Kopsa) Usaha Manunggal. The survey method. Simple Random Sampling, namely 41 KOPSA members. The analytical models used in measuring financial performance are the Liquidity Ratio, Solvency Ratio, and Profitability Ratio. To analyze member satisfaction, the IPA and CSI models were used. Results: Analysis of KOPSA Usaha Manunggal's financial performance from 2020-2024 shows a good ability to pay short-term obligations. The average current ratio is 108.11, quick ratio 104.00, and cash ratio 0.20. This indicates the cooperative's ability to pay short-term debt with current assets. However, the solvency ratio shows that most of the assets are financed by debt (Total Asset To Debt Ratio 80.61%), Dept to Equity Ratio 415.96% indicates that for every one rupiah of capital owned by members (equity), the cooperative has more than four rupiah of debt. In terms of profitability, the cooperative is able to generate a net profit of 1.13% of assets (ROA) and 8.47% of equity (ROE) Net Profit Margin 10.09%. The IPA results identified several low priority attributes that need to be improved, namely the appearance of the management, completeness of facilities, ease of access to information, timeliness of payment of sales proceeds, honesty of management, and social costs. The CSI value reached 80.78%, indicating Satisfaction with the financial performance of the Palm Oil Cooperative (KOPSA) Usaha Manunggal. Efforts to improve financial performance and member satisfaction by reducing the number of uncollectible receivables, saving on cost allocation, and improving the quality of products sold (Fresh Fruit Bunches - FFB).
Analisis Struktur Pasar Ekspor Crude Palm Oil (CPO) Indonesia di Pasar Dunia: Pendahuluan, Metode Penelitian, Hasil dan Pembahasan, Penutup Oskarlina, Nia; Azharuddin M Amin; Detri Karya
JURNAL AGRIBISNIS Vol. 15 No. 1 (2026): Jurnal Agribisnis Volume 15 Nomor 1
Publisher : Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/qgvhbh67

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur pasar CPO Indonesia dengan Malaysia sebagai pesaing utama di pasar dunia. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan memanfaatkan data sekunder untuk produk CPO kode HS 151110, dengan periode analisis 2014–2023 pada lima negara tujuan ekspor utama, yaitu India, Belanda, Italia, Spanyol, dan China. Analisis data dilakukan menggunakan metode pangsa pasar (Sij) serta konsentrasi pasar (CRn dan HHI) untuk menentukan karakteristik struktur pasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa India merupakan pasar dominan bagi ekspor CPO Indonesia dan Malaysia sepanjang periode penelitian. Indonesia memiliki rata-rata pangsa pasar sebesar 64,03% dengan laju pertumbuhan 6,90% per tahun, sedangkan Malaysia memiliki rata-rata pangsa pasar 57,30% dengan pertumbuhan 3,57% per tahun. Di kawasan Eropa (Belanda, Italia, dan Spanyol) pangsa pasar ekspor CPO kedua negara menunjukkan tren fluktuatif namun cenderung menurun. Sementara itu, di pasar China, pangsa pasar ekspor CPO Indonesia dan Malaysia relatif kecil, yaitu kurang dari 0,1% terhadap total ekspor. Nilai rata-rata konsentrasi pasar menunjukkan bahwa struktur pasar CPO Indonesia dan Malaysia sangat terkonsentrasi dengan karakteristik oligopoli ketat, ditunjukkan oleh nilai CR5 Indonesia sebesar 82,50% dan Malaysia 85,46%, serta nilai HHI masing-masing sebesar 4.421,88 dan 3.802,53.
Analisis Ketahanan Pangan di Provinsi Riau Sati, Juliani; Azharuddin M Amin; Septina Elida
JURNAL AGRIBISNIS Vol. 15 No. 1 (2026): Jurnal Agribisnis Volume 15 Nomor 1
Publisher : Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/xbxt2t68

Abstract

Ketahanan pangan merupakan aspek strategis dalam pembangunan daerah karena menentukan kemampuan wilayah dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat secara berkelanjutan. Provinsi Riau menghadapi tantangan ketahanan pangan yang ditandai oleh penurunan produksi tanaman pangan rata-rata sebesar –9,14% per tahun selama periode 2020–2024, sementara kebutuhan pangan meningkat 1,27% per tahun. Kondisi ini menyebabkan defisit pangan mencapai 319.834 ton pada tahun 2024. Penelitian ini bertujuan menganalisis status ketahanan pangan dari aspek ketersediaan pangan, akses pangan dan pemanfaatan pangan terhadap pada 10 kabupaten dan 2 kota di Provinsi Riau. Analisis dilakukan menggunakan indikator Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA), yang mencakup tiga dimensi ketahanan pangan: ketersediaan, akses, dan pemanfaatan pangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Riau memiliki indeks ketahanan pangan sebesar 63,83 dan berada pada kategori “cukup tahan pangan”, namun terdapat disparitas antarwilayah. Sebelas kabupaten/kota berada dalam kategori “sangat rawan pangan”, terutama dipengaruhi oleh rendahnya ketersediaan pangan, tingginya tingkat kemiskinan, serta terbatasnya akses dan pemanfaatan pangan. Sementara itu, Kota Pekanbaru merupakan daerah dengan tingkat ketahanan pangan terbaik. Temuan ini menegaskan perlunya intervensi spesifik wilayah untuk mengurangi kerawanan pangan dan meningkatkan pemerataan ketahanan pangan di Provinsi Riau
Preferensi Konsumen Terhadap Komoditi Jagung Manis di Kecamatan Rengat Kabupaten Indragiri Hulu Joko Ruswinto; Sawitri, Nina; Gunawan Syahrantau
JURNAL AGRIBISNIS Vol. 15 No. 1 (2026): Jurnal Agribisnis Volume 15 Nomor 1
Publisher : Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/vbvxah79

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui atribut apa saja yang menjadi preferensi konsumen dalam keputusan pembelian jagung manis di Kecamatan Rengat dan untuk mengetahui atribut apakah yang paling dipertimbangkan konsumen dalam keputusan pembelian jagung manis di Kecamatan Rengat. Metode pengambilan sampel pada penilitian ini adalah dengan menggunakan metode insidental sampling. Sementara pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dengan menggunakan skala likert dan analisis multi atribut Fishbein. Atribut produk yang menjadi preferensi konsumen dalam keputusan pembelian jagung manis dipasar tradisional Kecamatan Rengat adalah rasa, tekstur daging, tampilan buah dan ukuran. Atribut jagung manis yang paling dipertimbangkan dalam keputusan pembelian jagung manis di pasar tradisional Kecamatan Rengat adalah atribut rasa. Urutan atribut dari yang paling dipertimbangkan sampai dengan yang kurang dipertimbangkan adalah rasa, tekstur daging, tampilan buah dan ukuran. This study aims to  identify the attributes that influence consumer preferences in purchasing sweet corn in Rengat District and  determine which attribute is most considered by consumers in purchasing sweet corn in Rengat District. The sampling method used in this study is insidental sampling. Meanwhile, data processing in this study employs quantitative descriptive analysis using a Likert scale and Fishbein's multi-attribute analysis. The product attributes that influence consumer preferences in purchasing sweet corn at traditional markets in Rengat District are taste, kernel texture, fruit appearance, and size. The most considered attribute in purchasing sweet corn at traditional markets in Rengat District is taste. The ranking of attributes from the most considered to the least considered is taste, kernel texture, fruit appearance, and size.
Inovasi Mesin Vertical Retort Bagi Umkm Pangan: Analisis Peluang, Tantangan, dan Keberlanjutan di Sumatera Barat Nurul Fauzi; Iis Ismawati; Firmansyah; Haris; Dwi Setyaningsih; Nova Sillia
JURNAL AGRIBISNIS Vol. 15 No. 1 (2026): Jurnal Agribisnis Volume 15 Nomor 1
Publisher : Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/wjjjrj05

Abstract

Pengembangan inovasi teknologi pengolahan pangan menjadi salah satu strategi penting dalam meningkatkan daya saing Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pangan, khususnya yang berbasis produk lokal. Salah satu teknologi yang mulai diterapkan adalah mesin vertical retort, yang berfungsi dalam proses sterilisasi termal pangan olahan tanpa penggunaan bahan pengawet kimia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan mesin vertical retort pada UMKM pangan di Sumatera Barat serta mengidentifikasi peluang dan tantangan yang dihadapi dalam proses adopsinya. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi lapangan, wawancara, dan studi dokumentasi pada pelaku UMKM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan mesin vertical retort berpotensi meningkatkan efisiensi proses produksi, mutu produk, serta umur simpan pangan olahan sehingga mendukung pemenuhan standar keamanan pangan. Namun demikian, adopsi teknologi ini masih menghadapi sejumlah kendala, antara lain keterbatasan modal investasi, rendahnya literasi teknologi, serta belum optimalnya pendampingan teknis dan kelembagaan. Dari perspektif keberlanjutan, penerapan mesin vertical retort memberikan kontribusi positif terhadap aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan UMKM pangan. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan pelaku industri dalam mendorong adopsi teknologi secara berkelanjutan. The development of food processing technology innovation is an important strategy to enhance the competitiveness of micro, small, and medium enterprises (MSMEs), particularly those based on local food products. One of the emerging technologies is the vertical retort machine, which is used for thermal sterilization of processed foods without chemical preservatives. This study aims to analyze the implementation of vertical retort technology in food MSMEs in West Sumatra and to identify the opportunities and challenges in its adoption. A qualitative descriptive approach was employed, with data collected through field observations, interviews, and document analysis involving MSME actors. The findings indicate that the application of vertical retort technology has the potential to improve production efficiency, product quality, and shelf life, thereby supporting compliance with food safety standards. However, several constraints remain, including limited investment capital, low technological literacy, and insufficient technical and institutional support. From a sustainability perspective, the use of vertical retort technology contributes positively to the economic, social, and environmental dimensions of food MSMEs. Strengthening collaboration among local governments, vocational higher education institutions, research organizations, and industry stakeholders is therefore essential to promote sustainable technology adoption.
Studi komparasi Kelayakan Ekonomi Usahatani Padi Sawah dan Padi Ladang di Kecamatan Tilongkabila Kabupaten Bone Bolango Mahmud, Yuyan; Gobel, Yusriyah Atikah; DJibran, Moh Muchlis; Djaini, Aditya
JURNAL AGRIBISNIS Vol. 15 No. 1 (2026): Jurnal Agribisnis Volume 15 Nomor 1
Publisher : Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/zmeyex15

Abstract

Penelitian ini mengkaji komparasi efisiensi ekonomi dan kelayakan finansial petani pada usahatani padi sawah dan padi ladang di Kecamatan Tilongkabila, Kabupaten Bone Bolango. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi trade-off antara efisiensi biaya (R/C Ratio) dan pendapatan nominal yang diterima petani dari kedua sistem tersebut. Data dikumpulkan melalui survei terhadap 64 petani, terdiri dari 43 petani padi sawah (simple random sampling) dan 21 petani padi ladang (sampling jenuh). Hasil analisis menunjukkan fenomena menarik yakni secara efisiensi modal, usahatani padi ladang justru lebih unggul dengan R/C Ratio 1,59 dibandingkan padi sawah sebesar 1,48, namun dari sisi nominal pendapatan bersih, padi sawah memberikan hasil yang signifikan lebih tinggi sebesar Rp 3.907.744 per musim tanam, dibandingkan padi ladang yang memperoleh Rp 3.003.523. Temuan ini mengindikasikan bahwa keunggulan pendapatan nominal padi sawah tidak diimbangi oleh efisiensi rasio biaya. Penelitian ini merekomendasikan perlunya intervensi teknologi hemat biaya pada padi sawah untuk meningkatkan efisiensi, serta perbaikan manajemen risiko iklim bagi petani padi ladang. This study examines the comparative economic efficiency and financial feasibility of irrigated and rainfed rice farming systems in Tilongkabila District, Bone Bolango Regency. The objective is to evaluate the cost structure, revenue, net income, and economic feasibility of switching between farming systems. Data were collected through a survey of 64 farmers, comprising 43 irrigated rice farmers selected via simple random sampling and 21 rainfed rice farmers selected via saturated sampling. The analysis reveals an interesting phenomenon: in terms of capital efficiency, rainfed rice farming is actually superior with an R/C Ratio of 1.59 compared to 1.48 for irrigated rice farming. However, in terms of nominal net income, irrigated rice farming yields significantly higher returns of IDR 3,907,744 per planting season, compared to rainfed rice farming which generates IDR 3,003,523. The Incremental B/C Ratio of 3.21 confirms that transitioning from rainfed to irrigated rice is economically feasible. These findings indicate that the higher nominal income of irrigated rice farming is not matched by its cost efficiency ratio. This study recommends the implementation of cost-saving technology interventions in irrigated rice farming to enhance efficiency, as well as irrigation infrastructure support for farmers currently dependent on rainfed rice farming.
Analisis Nilai Tambah dan Strategi Pengembangan Ubi Jalar sebagai Bahan Pangan Subtitusi Tepung Terigu di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur Dini Nafisatul Mutmainah; Ahmad Haris Hasanuddin Slamet; Sekar Ayu Wulandari
JURNAL AGRIBISNIS Vol. 15 No. 1 (2026): Jurnal Agribisnis Volume 15 Nomor 1
Publisher : Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/1vztx698

Abstract

Sweet potato is a local commodity with great potential for development into alternative flour due to its abundant raw material availability and good nutritional content. This study aimed to analyze the added value of sweet potato processing into local flour and formulate a development strategy as a food substitute for wheat flour in Mojokerto Regency, East Java. The research method used was descriptive and analytical with quantitative and qualitative approaches. The value-added analysis was conducted using the Hayami method, while the development strategy formulation was analyzed using the SWOT method. The results showed that processing sweet potato into local flour produces an added value of IDR 22,000/kg with a value-added ratio of 62.85% and a profit level of 98.66%, indicating that this business is feasible and economically profitable. Based on the SWOT analysis, recommended development strategies include increasing product promotion, developing healthy food-based product innovations, gradual technology investment, and strengthening consumer education. Overall, the development of sweet potato flour has the potential to increase the economic value of local commodities while supporting national food security.
Karakteristik Pengunjung dan Tingkat Kepuasannya terhadap  Agrowisata Agrefi Kota Bengkulu Mulyasari, Gita; Novanda, Ridha Rizki; M Tegar Hendarto
JURNAL AGRIBISNIS Vol. 15 No. 1 (2026): Jurnal Agribisnis Volume 15 Nomor 1
Publisher : Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32520/3t9k3b33

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kepuasan pengunjung serta mengidentifikasi atribut wisata yang menjadi prioritas perbaikan pada Agrowisata Agrefi Kota Bengkulu. Pengembangan agrowisata sebagai bagian dari diversifikasi ekonomi berbasis pertanian terus meningkat, namun masih dihadapkan pada permasalahan kualitas layanan dan pengalaman wisata yang belum optimal. Kondisi ini berpotensi memengaruhi minat kunjungan ulang dan keberlanjutan destinasi, sementara kajian empiris yang mengukur kepuasan pengunjung sekaligus menentukan prioritas perbaikan pada agrowisata di Bengkulu masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini menjawab pertanyaan mengenai tingkat kepuasan pengunjung dan atribut apa saja yang perlu diprioritaskan untuk ditingkatkan. Penelitian dilakukan pada Mei–Juni 2024 menggunakan metode survei terhadap 100 responden yang dipilih secara accidental sampling. Analisis data menggunakan Customer Satisfaction Index (CSI) dan Importance-Performance Analysis (IPA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kepuasan pengunjung mencapai 87,2% dan termasuk kategori sangat puas. Namun, analisis IPA mengidentifikasi beberapa atribut prioritas perbaikan, yaitu keindahan alam dan tata ruang, keragaman objek dan aktivitas, ketersediaan tempat bersantai, kejelasan papan nama lokasi, kesepadanan biaya perjalanan, serta promosi yang lebih menarik dan mutakhir. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pada atribut-atribut tersebut diperlukan untuk menjaga loyalitas pengunjung dan mendukung keberlanjutan pengembangan agrowisata. This study aims to analyze visitor satisfaction levels and identify priority attributes for improvement at Agrefi Agrotourism, Bengkulu City. The development of agrotourism as part of agriculture-based economic diversification has increased significantly; however, many destinations still face challenges related to service quality and visitor experience. These issues may affect revisit intentions and the sustainability of the destination, while empirical studies integrating satisfaction measurement and improvement priorities in local agrotourism contexts remain limited. Therefore, this study addresses the extent of visitor satisfaction and identifies which attributes should be prioritized for improvement. The study was conducted from May to June 2024 using a survey method involving 100 respondents selected through accidental sampling. Data were analyzed using the Customer Satisfaction Index (CSI) to measure overall satisfaction and Importance-Performance Analysis (IPA) to determine priority attributes for improvement. The results show that the visitor satisfaction level reached 87.2%, categorized as very satisfied. However, IPA results reveal several priority attributes requiring improvement, including landscape aesthetics and spatial arrangement, diversity of attractions and activities, availability of relaxation areas, clarity of signage, affordability of travel costs, and more attractive and up-to-date promotion. These findings indicate that improving specific attributes is essential to maintain visitor loyalty and support the sustainable development of agrotourism.