cover
Contact Name
Hamid Mukhlis
Contact Email
jiberdaya@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jiberdaya@gmail.com
Editorial Address
Lucky Arya Residence 2 No 18 RT/RW 003/001 Fajar Agung Barat Kecamatan Pringsewu
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Indonesia Berdaya
Published by Utan Kayu Institute
ISSN : 27163822     EISSN : 27210669     DOI : https://doi.org/10.47679/ib
The aim of this journal publication is to disseminate the conceptual thoughts or ideas and research results that have been achieved in the area of community services. Indonesia Berdaya particularly focuses on the main problems in the development of the sciences of community services areas as follows: - Community Services, People and Health; - Training, Marketing, Appropriate Technology, Design; - Community Empowerment, Social Access; - Student Community Services; - Border Region, Less Developed Region; - Education for Sustainable Development.
Articles 747 Documents
Efektivitas Pembinaan Lembaga Pemasyarakatan dalam Mencegah Residivis : Studi Kasus Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas III Mataram (The Effectiveness Of Correctional Institution Rehabilitation in Preventing Recidivism : Case Study Of The Class III Mataram Women's Correctional Institution) Wijayanti, Ni Made Riska Anjelia; Rahmatyar, Ana; Efendi, Saparudin
Indonesia Berdaya Vol 6, No 3 (2025)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20251143

Abstract

Abstrak. Salah satu masalah yang dihadapi saat ini adalah masih banyaknya tentang pelaku kejahatan yang “kambuh” atau kembali melakukan kejahatan tindak pidana yang sering disebut Residivis. Munculnya kelompok residivis atau kejahatan berulang, menunjukkan betapa pentingnya peran Lembaga Pemasyarakatan dalam proses pembinaan terhadap Narapidana guna meminimalisir tindakan residivis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian normatif-empiris. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas III Mataram melaksanakan pembinaan sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-undang No. 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan serta Peraturan Pemerintah No. 31 Tahun 1999 tentang Pembinaan dan Pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan yaitu berupa pembinaan kepribadian dan pembinaan kemandirian, dimana bentuk pembinaan yang diterapkan terhadap narapidana residivis tidak berbeda dengan pembinaan yang diberikan terhadap narapidana umum. Namun, pelaksanaan kegiatan pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas III Mataram masih belum berjalan secara efektif. Hal ini disebabkan oleh LPP Mataram tidak melaksanakan program asimilasi dengan alasan tidak tersedia LP Terbuka Khusus Perempuan di NTB serta beberapa hambatan yang dihadapi, antara lain terkait dengan sarana dan prasarana, dan Sumber Daya Manusia (SDM).  Abstract. One of the problems currently faced is the prevalence of criminals who "relapse" or return to committing crimes, often referred to as recidivists.The emergence of recidivist groups or repeat offenses highlights the crucial role of correctional institutions in the rehabilitation process of inmates to minimize recidivism.The method used in this research is the normative-empirical research method.The results of this study indicate that the Class III Mataram Women's Correctional Institution implements rehabilitation in accordance with the provisions regulated in Law No. 22 of 2022 on Corrections and Government Regulation No. 31 of 1999 on the Guidance and Coaching of Correctional Residents, which includes personality development and independence development. The form of rehabilitation applied to recidivist inmates is not different from the rehabilitation provided to general inmates.However, the implementation of rehabilitation activities at the Class III Women's Correctional Institution in Mataram has not yet been effective.This is due to LPP Mataram not implementing the assimilation program on the grounds that there is no Open Special Prison for Women in NTB, as well as several obstacles faced, including those related to facilities and infrastructure, and Human Resources (HR).
Denda Damai: Hukuman Tanpa Pembuktian | Peace Fines: Punishment Without Proof Siddiq, Nakzim Khalid; Tresna D, Lalu Panca
Indonesia Berdaya Vol 6, No 2 (2025)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20251130

Abstract

Abstrak. Pada prinsipnya dalam penegakan hukum, tidak seorangpun dapat dipidana tanpa adanya kesalahan yang telah terbukti secara sah dan meyakinkan berdasarkan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap sebagaimnana keberlakuan asas praduga tak bersalah (presumption of innocence) dalam hukum acara pidana.  Tujuan  dari  penelitian ini  adalah  untuk  mengkaji  denda damai termasuk sebagai hukuman dan dasar kewenangan Jaksa Agungmenjatuhkan denda damai. Metode penelitian yang diaplikasikan adalah penelitian  hukum normatif dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Sejalan dengan konsep pidana denda, upaya optimalisasi penegakan hukum pidana yang berorientasi pada keadilan restoratif (restorative justice), melalui perubahan undang-undang kejaksaan terbaru, Jaksa Agung memiliki tugas dan wewenang menggunakan denda damai dalam tindak pidana ekonomi. Denda dami merupakan penghentian perkara di luar pengadilan dengan membayar denda yang disetujui oleh Jaksa Agung. Dengan demikian, denda damai merupakan hukuman finansial yang diberikan oleh kejaksaan terhadap seseorang yang telah melakukan tindak pidana ekonomi sebagai bentuk penerapan asas oportunitas yang dimiliki oleh Jaksa Agung. Jaksa memiliki kewenangan mutlak untuk menggunakan denda damai atas dasar prinsip Restorative Justice. Hal ini jika disandingkan dengan teori kewenangan, maka dapat dianalisis bahwa kewenangan jaksa agung dalam memberlakukan denda damai atas dasar keadilan restoratif merupakan bentuk kewenangan atribusi yakni kewenangan yang bersumber dari hukum positif atau peraturan perundang-undangan. Abstract. In principle, within the enforcement of law, no individual may be subjected to criminal punishment without proven fault that has been legally and convincingly established by a court decision with permanent legal force, in accordance with the presumption of innocence principle in criminal procedural law. The aim of this research is to examine whether peace fines constitute a form of punishment and to explore the legal basis for the Attorney General’s authority to impose such fines. The research method applied is normative legal research, utilising both statutory and conceptual approaches. The findings of this study indicate that, in line with the concept of criminal fines, efforts to optimise the enforcement of criminal law oriented towards restorative justice, through recent amendments to the prosecution law, have vested the Attorney General with the duty and authority to apply peace fines in economic crimes. A peace fine is a means of terminating a case outside of court by paying a fine agreed upon by the Attorney General. Thus, a peace fine constitutes a financial sanction imposed by the prosecution on an individual who has committed an economic crime, as a form of application of the discretionary principle held by the Attorney General. The Attorney General possesses absolute authority to employ peace fines based on the principle of restorative justice. When juxtaposed with the theory of authority, it can be analysed that the Attorney General’s authority to implement peace fines on the grounds of restorative justice represents a form of attributional authority, namely authority derived from positive law or statutory regulations.
Educational and Outreach Initiatives to Support Community-Based Waste Management for a Sustainable Environment in Dech Charoen Village, Thailand Aktawan, Agus; Rahayu, Aster; Biddinika, Muhammad Kunta; Hakika, Dhias Cahya; Areeprasert, Chinnathan
Indonesia Berdaya Vol 6, No 3 (2025)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20251194

Abstract

The rapid rise in urbanization and waste production has significantly impacted the environment. Therefore, community-based waste management is a crucial approach for reducing the environmental impact of domestic and household waste. This community service project aims to promote environmental sustainability through community-based education on waste management. This initiative was carried out in Dech Charoen Village, Thailand, aiming to increase community awareness about the importance of sustainable waste management practices. This paper discusses the community service activities conducted in Dech Charoen Village and their impact on community empowerment and environmental sustainability. The activities included a sharing session on community-based waste management, outreach on the reduce, reuse, and recycle (3R) principle for inorganic waste, and practical outreach on processing organic waste using a composting machine. Results showed a considerable rise in awareness of waste management methods, with more than 90% of participants achieving a better understanding of waste segregation, recycling, composting practices, and the importance of community involvement.
Transformasi Digital Puskesmas: Meningkatkan Efektivitas Melalui Manajemen Rekam Medis Elektronik (Digital Transformation of Community Health Centers: Improving Effectiveness Through Electronic Medical Record Management) Panggabean, Anggia Dini Marsaroha; Suryandari, Putri Indra; Bisono, Eva Firdayanti; Ardila, Ninda Mulya Ike
Indonesia Berdaya Vol 6, No 2 (2025)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20251057

Abstract

Abstrak. Transformasi digital adalah proses perubahan suatu organisasi dalam menjalankan operasionalnya dengan memanfaatkan teknologi digital. Transformasi digital di Puskesmas dengan fokus pada peningkatan efektivitas manajemen rekam medis melalui pelatihan dan implementasi sistem rekam medis elektronik (RME). Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk memodernisasi proses pencatatan dan pengelolaan rekam medis yang selama ini dilakukan secara manual, dengan mengadopsi teknologi digital yang lebih efisien dan terintegrasi. Kegiatan pelatihan ini dirancang untuk memberikan pemahaman yang mendalam kepada tenaga kesehatan mengenai dasar-dasar RME, cara penggunaan perangkat lunak yang sesuai, serta praktik terbaik dalam manajemen rekam medis elektronik. Selama pelatihan, sebanyak 30 tenaga kesehatan dari Puskesmas setempat terlibat aktif dalam sesi workshop yang membahas secara rinci mengenai fungsi dan manfaat sistem RME. Peserta diberikan pengetahuan mengenai bagaimana sistem ini dapat mempercepat pencatatan data medis, meminimalkan kesalahan, dan mempermudah akses informasi kesehatan pasien. Implementasi sistem RME di Puskesmas tidak hanya berhasil meningkatkan efisiensi dalam pencatatan dan pengelolaan data medis, tetapi juga berdampak positif pada kualitas pelayanan kesehatan. Dengan adanya akses yang lebih cepat dan akurat terhadap data medis, tenaga kesehatan dapat memberikan pelayanan yang lebih baik dan responsif kepada pasien. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model bagi Puskesmas dalam upaya meningkatkan kualitas dan efisiensi pelayanan kesehatan melalui pemanfaatan teknologi informasi. Abstract. Digital transformation is the process of changing an organization in running its operations by utilizing digital technology. Digital transformation in the Health Center focuses on increasing the effectiveness of medical record management through training and implementation of an electronic medical record (EMR) system. The main objective of this activity is to modernize the process of recording and managing medical records which have been done manually, by adopting more efficient and integrated digital technology. This training activity is designed to provide health workers with an in-depth understanding of the basics of EMR, how to use appropriate software, and best practices in electronic medical record management. During the training, 30 health workers from the local Health Center were actively involved in a workshop session that discussed in detail the functions and benefits of the EMR system. Participants were given knowledge about how this system can accelerate medical data recording, minimize errors, and facilitate access to patient health information. The implementation of the EMR system in the Health Center has not only succeeded in increasing efficiency in recording and managing medical data, but also has a positive impact on the quality of health services. With faster and more accurate access to medical data, health workers can provide better and more responsive services to patients. This activity is expected to be a model for Puskesmas in an effort to improve the quality and efficiency of health services through the use of information technology.
Tinjauan Yuridis Kekerasan Seksual oleh Pelaku Penyandang Disabilitas: Dilema Perlindungan Korban dan Pertanggungjawaban Pidana [Juridical Review of Sexual Violence by Perpetrators with Disabilities: The Dilemma of Victim Protection and Criminal Responsibility] Firmana, Arba Setya; Efendi, Saparudin; Yusuf, Maulana Sykeh
Indonesia Berdaya Vol 6, No 3 (2025)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20251164

Abstract

Penelitian ini membahas problematika penerapan hukum pidana terhadap pelaku tindak pidana kekerasan seksual yang merupakan penyandang disabilitas, khususnya disabilitas mental. Fokus utama terletak pada dilema antara perlindungan hak korban dan hak rehabilitasi pelaku dalam kerangka hukum nasional, terutama setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS). Meskipun UU TPKS telah memberikan perlindungan yang kuat bagi korban, regulasi ini belum mengatur secara spesifik penanganan pelaku penyandang disabilitas, sehingga menimbulkan kekosongan hukum. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual. Hasil kajian menunjukkan perlunya penguatan regulasi dan integrasi dengan KUHP baru yang mengedepankan keadilan restoratif. Selain itu, diperlukan keterlibatan ahli kejiwaan dalam proses peradilan serta pembaruan kebijakan yang menjamin perlindungan dan kesetaraan hak bagi semua pihak. Dengan demikian, sistem hukum pidana diharapkan dapat menjawab kompleksitas kasus kekerasan seksual yang melibatkan pelaku penyandang disabilitas secara adil dan berkeadilan. Abstract. This study explores the legal challenges in addressing sexual violence committed by perpetrators with disabilities, particularly those with mental disabilities. The central issue lies in the dilemma between protecting victims' rights and ensuring the rehabilitation rights of disabled offenders within the national legal framework, especially following the enactment of Law Number 12 of 2022 concerning Sexual Violence Crimes (UU TPKS). Although the UU TPKS provides strong protection for victims, it lacks specific provisions for handling offenders with disabilities, resulting in a legal vacuum. This research employs a normative juridical method using statutory and conceptual approaches. The findings highlight the urgency of regulatory reform and the integration of restorative justice principles as introduced in the new Criminal Code (KUHP). Furthermore, the involvement of psychiatric experts in the judicial process and the formulation of policies that guarantee equal protection and rights for all parties are essential. Consequently, the criminal justice system is expected to address the complexities of sexual violence cases involving disabled perpetrators in a fair and balanced manner.
Sifat Melawan Hukum dalam Tindak Pidana Korupsi Pasca Disahkanya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Ahwan, Ahwan; Susilawati, Ika Yuliana
Indonesia Berdaya Vol 6, No 3 (2025)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20251145

Abstract

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 003/PUU-IV/2006 khususnya tafsiran terhadap penjelasan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang berkaitan dengan sifat melawan hukum materiil nampaknya belum mampu memberikan kesatuan pemahaman bahkan cenderung menjadi instrumen ketidakpastian dalam penegakan hukum. Dualisme tafsir dalam diskursus akademik serta ambivalensi dalam putusan pengadilan terhadap kasus korupsi menjadi dampak nyata dari ketidakjelasan tersebut. Disahkanya Undang-Undang Nomor 1 tahun 2023 tentang KUHP menjadi titik tolak baru untuk mendiskusikan kembali hal ini. Terlebih dengan dimasukkannya pasal-pasal yang merupakan core crime dari Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi serta diaturnya ketentuan tentang hukum yang hidup dalam masyarakat ke dalam KUHP baru. Dengan menggunakan penelitian hukum doktrinal, artikel ini hendak menjawab suatu pertanyaan penting yang muncul yaitu, setelah adanya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 Tentang KUHP, sifat melawan hukum materiil yang manakah (dalam arti positif atau negatif) yang secara konsep berlaku dalam tindak pidana korupsi? Hasil penelitian menunjukan bahwa, KUHP baru selain menerima penggunaan sifat melawan hukum materiil dalam arti negatif juga menerima penggunaan fungsi positif dari sifat melawan hukum materiil. Khusus terkait fungsi positifnya, Hal tersebut salah satunya didasarkan pada rumusan Pasal 2 ayat (1) KUHP. Meski demikian, ketentuan tersebut tidak dapat digunakan delik korupsi dalam KUHP. Sebab, rumusan pasal 2 ayat (1) hanya ditunjukkan terhadap tindak pidana ringan. Oleh karena demikian, tidak kompatibel untuk tindak pidana korupsi yang dalam struktur KUHP ditempatkan sebagai kejahatan luar biasa (extra ordinary crime). Abstract. The Constitutional Court Decision Number 003/PUU-IV/2006, especially the interpretation of the explanation of Article 2 paragraph (1) of the Corruption Eradication Law relating to the nature of the material against the law, does not seem to be able to provide unity of understanding and even tends to be an instrument of uncertainty in law enforcement. Dualism of interpretation in academic discourse and ambivalence in court decisions on corruption cases are the real impact of this uncertainty. The passing of Law Number 1 of 2023 concerning the Criminal Code is a new starting point to discuss this matter again. Especially with the inclusion of articles that are core crimes of the Corruption Act and the provisions on laws that live in society into the new Criminal Code. By using doctrinal legal research, this article aims to answer an important question that arises, namely, after the existence of Law No. 1 of 2023 concerning the Criminal Code, which material tort (in a positive or negative sense) conceptually applies in the crime of corruption? The results showed that, in addition to accepting the use of the material tort in the negative sense, the new Criminal Code also accepts the use of the positive function of the material tort. Specifically related to the positive function, this is based on the formulation of Article 2 paragraph (1) of the Criminal Code. However, this provision cannot be used in corruption offenses in the Criminal Code. This is because the formulation of Article 2 paragraph (1) is only shown against minor criminal offenses. Therefore, it is not compatible for the crime of corruption, which in the structure of the Criminal Code is placed as an extraordinary crime.
The Role of Women in Village Development in Dusun 001 Pasar Pedati Village, Pondok Kelapa Sub-District, Bengkulu Tengah Regency Risdiyanto, Bayu; Murwani, Anis Endang Sri; Lorita, Evi; Imanda, Antonio; Amin, Bando; Wahyudi, Agusman; Putri, Rahayu; Popytasari, Popytasari; Ferdinand, M.
Indonesia Berdaya Vol 2, No 2: July 2021
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20211133

Abstract

This community service project aims to enhance the role of women in village development, particularly in Dusun 001, Pasar Pedati Village, Pondok Kelapa Sub-district, Central Bengkulu Regency. The program stems from the awareness of women's contributions to non-physical development such as family economy and education, as well as underutilized local potential. Through observation, interviews, and group discussions, the project identified key issues faced by local women, including limited distribution access for MSME products, lack of digital literacy, and high rates of early marriage. The outcomes include recommendations for training programs, digital media utilization, and scholarship information sharing. This activity is expected to be the starting point for sustainable, locally-based women empowerment
Animated Video Strategy and Positive Reinforcement for Toilet Training Children Aged 1-3 Years in Saung Naga Village [Strategi Video Animasi dan Penguatan Positif untuk Toilet Training Anak 1–3 Tahun di Desa Saung Naga] Suparno, Suparno; Estiani, Meilia
Indonesia Berdaya Vol 6, No 3 (2025)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20251175

Abstract

Abstract. In a previous community service activity conducted in the working area of Puskesmas Tanjung Agung, children aged 1–3 years were found to be unprepared for toilet training. A total of 33.4% of children were unable to verbally express their need to urinate or defecate, and were not yet able to communicate this need in the bathroom. Additionally, 86.7% of children were unable to remove their lower garments independently. Parents, especially mothers, had not received any education on positive reinforcement techniques and modeling through animated videos as a medium for toilet training. This activity aimed to increase maternal knowledge and provide hands-on experience in implementing toilet training strategies through modified positive reinforcement and modeling using animated videos. The evaluation results showed an 80.7% increase in maternal knowledge after the activity. Mothers also gained practical experience by using star charts as a form of positive reinforcement and animated videos as a modeling medium. This strategy proved effective, as evidenced by the success of participating children in achieving all seven indicators of successful toilet training. In conclusion, this community service activity successfully enhanced maternal knowledge and skills in applying modified positive reinforcement techniques and modeling using animated videos to train children aged 1–3 years in toilet training. Abstrak. Pada kegiatan pengabdian sebelumnya di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Agung, ditemukan anak usia 1–3 tahun yang belum siap menjalani toilet training. Sebanyak 33,4% anak belum mampu mengungkapkan keinginan buang air kecil (BAK) atau buang air besar (BAB) secara verbal, dan belum dapat menyampaikannya di kamar mandi. Selain itu, 86,7% anak belum mampu membuka pakaian bawah secara mandiri. Belum pernah diberikan edukasi kepada orang tua, khususnya ibu, mengenai teknik penguatan positif dan modeling melalui video animasi sebagai media toilet training. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan memberikan pengalaman langsung kepada ibu mengenai strategi toilet training melalui modifikasi penguatan positif dan modeling berbasis video animasi. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan ibu sebesar 80,7% setelah kegiatan. Para ibu juga mendapatkan pengalaman langsung melalui penerapan bagan bintang sebagai bentuk penguatan positif dan penggunaan video animasi sebagai media modeling. Strategi ini terbukti efektif, ditunjukkan oleh keberhasilan anak peserta dalam memenuhi tujuh indikator keberhasilan toilet training. Kesimpulannya, kegiatan pengabdian ini berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu dalam menerapkan teknik penguatan positif dan modeling menggunakan video animasi untuk melatih toilet training pada anak usia 1–3 tahun.
Pelatihan pemasaran dan pembayaran syariah berbasis digital bagi pelaku UMKM di Desa Kragan Sidoarjo [Digital-Based Sharia Marketing and Payment Training for MSME Actors in Kragan Village, Sidoarjo] Adinugroho, Mukhtar; Gyrah, Zafirah Dwi Kahla; Khoirinnisa, Hamidati; El-Muhafidh, Diva Divya; Salsabilah, Aqilah; Haq, M Syifa Fatichul
Indonesia Berdaya Vol 6, No 3 (2025)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20251160

Abstract

Kragan village, a village in East Java, is currently transforming into one of the edu-tourism villages with great potential. This process relies not only on natural and local cultural potential but also on professional management established through the Village-Owned Enterprises (BUMDES). One of the key strategies taken is the professional management of culture within BUMDES Kragan as an effort to strengthen institutional capacity and drive the village economy towards a competitive edu-tourism village. The goal of this community service activity is to optimize the sales of Micro, Small, and Medium Enterprises (UMKM) in Kragan village by using a Sharia-based digital marketing system to stabilize sales targets, facilitate payments, and gain the blessings of Allah SWT for all efforts made based on Islamic principles. The low understanding of sharia-based digital marketing has resulted in the people of Kragan village still selling and making payments in a conventional manner. MSME actors think that the conventional payment system is the same as the sharia payment system. To improve the economy of the community in Kragan village, the service team provides an understanding of sharia-based digital marketing so that the community can understand the differences between conventional and sharia. Training is held to optimize the sales of Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) in Kragan village by using a sharia-based digital marketing system to stabilize sales targets, facilitate payments, and gain the blessings of Allah SWT for all efforts made based on Islamic law. Abstrak. Desa Kragan, sebuah desa di Jawa Timur, saat ini sedang bertransformasi menjadi salah satu desa edu-wisata yang berpotensi besar. Proses ini tidak hanya bergantung pada potensi alam dan budaya lokal, namun juga pada pengelolaan profesional yang dibangun melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDES). Salah satu strategi kunci yang diambil adalah pengelolaan budaya profesional di dalam BUMDES Kragan sebagai upaya penguatan kelembagaan dan penggerak ekonomi desa menuju desa edu-wisata yang berdaya saing. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah untuk mengoptimalkan penjualan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Desa Kragan dengan menggunakan sistem digital marketing berbasis syariah untuk menstabilkan target penjualan, mempermudah pembayaran dan mendapatkan ridho dari Allah SWT atas segala usaha yang dilakukan dengan berlandaskan syariat Islam. Rendahnya pemahaman tentang digital marketing berbasis syariah, masyarakat desa Kragan masih menjual dan melakukan sistem pembayaran dengan cara konvensional. Pelaku UMKM mengira sistem pembayaran dengan cara konvensional sama saja dengan pembayaran secara syariah. Untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di desa Kragan tim pengabdian memberikan pemahaman tentang digital marketing berbasis syariah agar masyarakat dapat memahami perbedaan konvensional dengan syariah. Mengadakan pelatihan demi mengoptimalkan penjualan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Desa Kragan dengan menggunakan sistem digital marketing berbasis syariah untuk menstabilkan target penjualan, mempermudah pembayaran dan mendapatkan ridho dari Allah SWT atas segala usaha yang dilakukan dengan berlandaskan syariat Islam.
Praktek dan perkembangan hukum islam pada masa modern (Sejarah Hukum Islam di Indonesia) [Practice and Development of Islamic Law in the Modern Era (History of Islamic Law in Indonesia)] Sanafiah, Fadri
Indonesia Berdaya Vol 6, No 3 (2025)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20251222

Abstract

Abstract. This study reviews the practice and development of Islamic Law in the Modern Era (History of Islamic Law in Indonesia). The aim of this research is, firstly, to provide both academic and practical benefits. Academically, the research is not only useful for the development of the author’s knowledge but can also benefit future researchers. The importance of this research for future researchers lies especially in the availability of initial data, characteristics, and issues that have not yet received focused analysis. Practically, this research serves as both an information source and a solution offered for the development of Islamic family law in Indonesia. This study is a library research, qualitative, and descriptive-analytical in nature. The results of this research indicate that changes and developments in Islamic law are an inseparable part of the effort to adapt Islamic law dynamically. Therefore, with every change in conditions and situations in a particular region, there should be efforts to harmonize the application of Islamic law, without forgetting the values contained in the Qur'an. For this reason, the process of ijtihad must continue to be encouraged, especially when encountering new problems or different conditions. Otherwise, Islamic law will stagnate and be unable to respond to the challenges of the times.  Abstrak. Penelitian ini mengulas tentang praktek dan perkembangan Hukum Islam pada Masa Modern (Sejarah Hukum Islam di Indonesia). Penelitian ini bertujuan untuk pertama,  Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi kegunaan  secara akademis dan praktis, dari sisi akademis kegunaan penelitian di samping berguna bagi pengembangan ilmu penulis juga dapat bermanfaat bagi peneliti-peneliti yang akandatang. Pentingnya hasil penelitian ini bagi peneliti-peneliti yang akandatang terutama terletak pada sisi ketersediaan data awal, karakteristik termasuk masalah-masalah yang belum mendapatkan analisis yang fokus. Secara praktis penelitian ini berguna bagi informasi dan sekaligus solusi yang ditawarkan bagi perkembangan hukum keluarga Islam di Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian pustaka (library research), bersifat kualitatif, deskriptif analitis. Adapun hasil dari penelitian ini Perubahan dan perkembangan hukum Islam itu merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam upaya penyesuaian hukum Islam yang dinamis tersebut. Karena itu, maka setiap perubahan kondisi dan situasi wilayah tertentu hendaknya ada upaya untuk saling tarik-menarik kesesuaian pemberlakuan hukum Islam, tetapi tidak melupakan nilai-nilai yang telah terkandung di dalam al-Quran. Untuk itulah, proses ijtihad harus terus digalakan, jika mendapatkan permasalahan baru ataupun kondisi yang berbeda. Jika tidak, hukum Islam akan mandeg, ajeg dan tidak bisa menjawab tantangan zaman.