cover
Contact Name
Nurbaiti
Contact Email
jurnal.tunasmedika@gmail.com
Phone
+62811243530
Journal Mail Official
jurnal.tunasmedika@gmail.com
Editorial Address
Jl. Terusan Pemuda no 1 A
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan
ISSN : 20896042     EISSN : 25797514     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Tunas Medika : Jurnal Kedokteran & Kesehatan adalah jurnal Ilmiah yang memuat naskah publikasi Ilmiah di bidang Kedokteran dan Kesehatan yang meliputi bidang Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, Biomedis serta Pendidikan Kedokteran.Tunas Medika : Jurnal Kedokteran & Kesehatan merupakan memuat publikasi ilmiah Dosen, Mahasiswa dan peneliti lainnya di bidang Kedokteran dan Kesehatan dan diharapkan daptat memperkaya khazanah Pendidikan dan pengetahuan Indonesia
Articles 236 Documents
Hubungan antara Jenis Persalinan dengan Kondisi Janin Saat Lahir pada Kejadian Preeklampsia pada Ibu Bersalin di RSUD Waled Kabupaten Cirebon Tahun 2017 Nurlita Fauziyyah Basri; Dadan Ramadhan Apriyanto; Catur Setiya Sulistiyana
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 6, No 1 (2020): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Preeklampsia adalah suatu penyakit yang dialami oleh ibu hamil yang ditandai dengan adanya tanda-tanda hipertensi (tekanan darah tinggi), edema (pembengkakan), dan proteinuria (kadar protein dalam urin meningkat). Dampak preeklampsia pada ibu adalah eklampsia, dan sindrom HELLP yaitu hancurnya sel darah merah, peningkatan enzim hati, dan jumlah trombosit yang rendah yang dapat menyebabkan kematian pada ibu bahkan janinnya. Sedangkan dampak preeklampsia pada janin adalah kekurangan nutrisi, yang dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan janin dalam kandungan, BBLR, asfiksia neonatorum, dan prematur yang dapat menimbulkan cacat janin yang lebih besar. Jenis persalinan pada ibu preeklampsia, dapat dilakukan dengan cara induksi persalinan agar dapat lahir dengan persalinan normal atau seksio sesarea. Tujuan: Menganalisis Hubungan antara Jenis Persalinan dengan Kondisi Janin Saat Lahir pada Kejadian Preeklampsia pada Ibu Bersalin di RSUD Waled Kabupaten Cirebon Tahun 2017. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasional analitik dengan metode cross sectional. Teknik pengambilan sampel dengan cara Total Sampling. Data yang sudah dikumpulkan diolah metode analisis tabulasi silang (crosstabs) dengan uji chi-square. Hasil: Kejadian ibu preeklampsia sebanyak 236 responden dengan preeklampsia ringan terdapat sebanyak 65 responden (27,5%) mengalami persalinan normal dan sebanyak 17 responden (7,2%) mengalami persalinan caesar, sedangkan untuk  responden yang preeklampsia berat terdapat sebanyak 98 responden (41,5%) dan mengalami persalinan normal sebanyak 56 responden (23,7%)  mengalami persalinan caesar. analisis hubungan didapatkan bahwa nilai p sebesar 0,013 (p ≤0,05). Simpulan: Terdapat hubungan antara kejadian preeklampsia pada ibu bersalin dengan jenis persalinan dan kondisi janin saat lahir di RSUD Waled Kabupaten Cirebon.Kata Kunci: Preeklampsia, Jenis Persalinan, Kondisi Janin ABSTRACTIntroduction: Preeclampsia is a disease of pregnant women characterized by signs of hypertension (high blood pressure), edema (swelling), and proteinuria (increased urinary protein levels). Several effect of preeclampsia on the mother is eclampsia, and HELLP syndrome is the destruction of red blood cells, elevated liver enzymes, and low platelet counts that can cause death to the mother and even the fetus. Several effects of preeclampsia on the fetus are nutritional deficiencies, which can lead to impaired fetal growth in uterine, LBW, neonatal asphyxia, and prematures that can cause greater fetal deformities. The type of labor in the mother of preeclampsia, can be done by induction of labor in order to be born with a normal delivery or cesarean section. Objective: To analyze the relationship between preeclampsia incidence in maternal mothers with the type of childbirth in RSUD Waled Kabupaten Cirebon in 2017. Methods: The type of research used is observational analytic research with cross sectional method. Sampling technique by Total Sampling. The collected data was processed by cross-tabulation analysis method (crosstabs) with chi-square test. Results: The incidence of preeclampsia mothers was mild preeclampsia with experienced normal and Caesarean delivery delivery of 65 respondents (27.5%) and 17 respondents (7.2%), respectively. Meanwhile the incidence of preeclampsia mothers was severe preeclampsia with experienced normal and Caesarean delivery delivery of 98 respondents (41.5%)% and 56 respondents (23.7%), respectively. Relationship analysis found that the p value of 0.013 (p ≤0.05). Conclusions: There is a correlation between preeclampsia incidence in maternal mother with type of childbirth and condition of fetus at birth in RSUD Waled Kabupaten Cirebon.Keywords: Preeclampsia, Type of Labor, Fetal Conditions
Karakteristik Penderita Karsinoma Laring di Departemen Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher Rumah Sakit dr Hasan Sadikin Bandung Periode Januari 2013 – Juli 2015 Ismi Cahyadi; Agung Dinasti Permana; Yussy Afriani Dewi; Nur Akbar Aroeman
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 3, No 1 (2016): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karsinoma laring adalah tumor ganas yang berasal dari epitel laring. Penyebabnya adalah merokok, konsumsi alkohol, infeksi human papiloma virus, dan laringofaringeal reflux. Diagnosis berdasarkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, laringoskopi serat optik, topografi komputer, dan histopatologi. Rancangan penelitian deskriptif retrospektif dari catatan medis penderita yang datang berkunjung ke poli THT KL FK Unpad RSHS Bandung periode Januari 2013- Juli 2015. Dari 1439 penderita keganasan kepala dan leher yang datang ke poli THT-KL sub bagian onkologi RSHS Bandung didapatkan 100 (6,95%) penderita karsinoma laring yang menempati urutan ke 3 pada keganasan kepala leher. Perbandingan laki-laki dengan perempuan sebesar 10:1 dengan usia terbanyak terjadi pada dekade 50 tahun sebanyak 30%. Faktor risiko disebabkan lebih banyak oleh merokok sebanyak 99% dan pasien datang dengan keluhan utama terbanyak adalah sesak nafas sebanyak 54%. Penderita terbanyak datang pada stadium III sebanyak 37%, penatalaksanaannya sebanyak 44% dengan operasi dan radioterapi. Komplikasi yang paling sering adalah terbentuk fistula sebanyak 12%.Kata kunci : karsinoma laring, insidensi, Januari 2013-Juli 2015.Laryngeal carcinoma is a malignant tumor of the larynx. The causes are smoking, alcohol consumption, infection with human papilloma virus, and laringofaringeal reflux. The Diagnosis is based on history, physical examination, laryngoscopy fiber optics, computerized topography, and histopathology findings. The design of descriptive retrospective study from medical records of patients who come to visit ORL-HNS oncology clinic of Hasan Sadikin general hospital Bandung from January 2013 until July 2015. From 1439 patients with head and neck cancers obtained 100 (6, 95%) patients with laryngeal carcinoma. Comparison of men to women is 10: 1. The age of majority in the decade of 50 years as much as 30%. Risk factors resulting from smoking 99%. Most major complaint is difficulty of breathing as 54%. Patients arrive at most stadium III as much as 37%. Patients mostly treated with surgery and radiotherapy as much as 44%. The most frequent complications is fistula formation as much as 12%.Key Word : Laryngeal cancers, incidencies, January 2013 to July 2015
Uji Efektivitas Antimikroba Sari Lidah Buaya (Aloe Vera) Terhadap Bakteri Escherichia Coli Ouve Rahadiani Permana; Lita Lestari
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 1, No 3 (2014): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKEscherichia coli merupakan bakteri Gram negatif yang sering menyebabkan diare dan infeksi saluran kemih (ISK), di Indonesia angka morbiditas dan mortalitas akibat diare masih tinggi, pengobatan dengan menggunakan antibiotik yang tidak terkontrol dapat mendorong terjadinya perkembangan resistensi bakteri sehingga dibutuhkan alternatif pengobatan  untuk menghindarinya. Lidah buaya merupakan salah satu tanaman yang dipercaya mempunyai efek antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas antimikroba sari lidah buaya (Aloe vera) terhadap bakteri Escherichia coli. Penelitian ini meupakan penelitian eksperimental dengan post test only control group design. Uji statistik menggunakan uji Anova dan Post hoc. Uji Anova diperoleh nilai  P<0,05. Uji post hoc menunjukkan perbedaan bermakna pada kelompok kontrol, kelompok perlakuan 1, 2, 3 dan 4  (P<0.05), tetapi pada kelompok perlakuan 4 dan 5 tidak didapatkan perbedaan bermakna (P>0,05).Penelitian ini menunjukkan bahwa Sari buaya (Aloe vera) mempunyai efek antimikroba terhadap bakteri Escherichia coli.Kata Kunci: Aloe vera, Escherichia coli, Antimikroba ABSTRACTEscherichia coli  is Gram negative bacterial which caused diarrhea and ureter infection. In Indonesia numbers of morbidity and mortality of diarrhea is quite high. Medicinal that using uncontrol antibiotic can caused bacteria resistant. That’s why people need alternative medical to avoid it. Aloe vera is one of plant that believe has antimicrobial effect. The purpose of this research to find out antimicrobial Aloe vera juice effectiveness  to Escherichia coli. Experimental research with post test only control group design. Statistic test used Anova test and Post hoc. Result of the test can be found P<0,05. Result of the post hoc test show that significant differences between treatment group and control group 1,2,3 and 4 (P<0,05), but in 4 and 5 treatment group there was no significant differences (P>0,05). Conclusion: Aloe vera juice has antimicrobial effect to Escherichia coli.Keywords: Aloe vera, Escherichia coli, Antimicrobial
HUBUNGAN USIA IBU BERESIKO DENGAN ANGKA KEJADIAN PRETERM DI WILAYAH PUSKESMAS PERKOTAAN (Studi Observasi di Puskesmas Gunung Sari, Kesambi, dan Jalan Kembang Kota Cirebon) Putri Puspa Lestari; Ignatius Hapsoro Wirandoko; Dadan Ramadhan Apriyanto
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 4, No 2 (2018): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPendahuluan : Kelahiran kurang bulan (Preterm) adalah istilah yang digunakan untuk mendefinisikan neonatus yang dilahirkan kurang dari 37 minggu atau terlalu dini. Kelahiran Preterm merupakan masalah gelobal, karena 1,1 juta bayi di dunia meninggal setiap tahunnya akibat komplikasi dari kelahiran preterm dan terdapat lebih dari 60% terjadi di Negara Asia dan Afrika. Salah satu faktor resiko preterm adalah usia ibu yang terlalu muda atau terlalu tua saat melahirkan. Tujuan : Untuk mengetahui hubungan antara usia ibu dengan kejadian preterm di Puskesmas Gunung Sari, Kesambi, dan Jalan Kembang Kota Cirebon. Metode Penelitian : Penelitian ini dilakukan dengan metode cross sectional dengan jumlah sampel yaitu 1.877 ibu melahirkan selama 3 tahun di Puskesmas Gunung Sari, Kesambi dan Jalan Kembang Kota Cirebon. Teknik pengambilan sampel dengan cara Total Sampling. Instrumen yang digunakan adalah  buku kohort ibu. Analisis data menggunakan analisis univariat dang analisis bivariat dengan uji chi square. Hasil Penelitian : Dari 1.877 responden, ibu yang memiliki usia beresiko yaitu <20 tahun sebanyak 172 (9.2%) dan  >35 tahun sebanyak 291 (15.5%). Untuk kejadian preterm di dapatkan 31 kejadian (sangat prematur = 6 kejadian, premetur sedang = 12 kejadian, dan borderline premature = 13 kejadian) dengan usia ibu beresiko sebanyak 17 responden dan usia ibu yang tidak beresiko sebanyak 14 responden. Di dapatkan nilai p value 0.000 dan rasio prevalens 3.812. Kesimpulan : Ada hubungan usia ibu beresiko dengan angka kejadian preterm di wilayah perkotaan. Kata Kunci : preterm, Puskesmas Gunung Sari, Puskesmas Kesambi, Puskesmas Jalan Kembang Kota Cirebon, Usia ibu.  ABSTRACT Introduction: Preterm birth is the term used to define born neonates who are born less than 37 weeks or earlier. A Preterm birth is a global problem because there are 1.1 million of infants die in annual caused by the complication of preterm birth and it happens more than 60% in Asian and African Countries. The most risk factor of preterm birth is pregnancy in adolescence or in old age during childbirth. Objectives: To know the correlation between risk maternal age and preterm birth at Gunung Sari public health, Kesambi, and Jalan Kembang Cirebon CitY. Method: This research was conducted by using cross sectional method with 1.877 birth mothers for last 3 years at Gunung Sari public health, Kesambi and Jalan Kemban Cirebon City. The sampling technique used Total Sampling. The instruments of the research used mother’s cohort book. The data analysis of the research used univariate analysis and bivariate analysis with chi square test. Results: For 1,877 respondents, the maternal who had riskedage,it was obtained that more than 20 years old (<20 years old) was 172 (9.2%) and >35 years old was 291 (15.5%). For number of preterm itself, it was obtained 31 cases ( Extremely Premature = 6 cases, Moderately Premture = 12 cases, and borderline preterm = 13 cases), with the risked maternal age got preterm was 17 respondents and not risked maternal age was 14 respondents. It was obtained that p value was 0.000 and prevalent ratio was 3.812.  Finding: There was a correlation between maternal age and number of preterm birth in urban area. Keywords: Preterm, Gunung Sari public health, Kesambi and Jalan Kembang Cirebon City, maternal age.
HUBUNGAN USIA, JENIS KELAMIN, RIWAYAT KELUARGA, OBESITAS DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN HIPERTENSI DI PUSKESMAS KALITANJUNG KOTA CIREBON Ahmad Fariz Malvi Z Zein; Hendy Ekananda Saputra
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 2, No 4 (2015): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi atau yang lebih dikenal dengan nama penyakit darah tinggi adalah suatu keadaan di mana terjadipeningkatan tekanan darah di atas ambang batas normal yaitu 120/80mmhg. Hipertensi adalah faktor risikoutama penyakit-penyakit kardiovaskular yang merupakan penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Datapenelitian Departemen Kesehatan RI menunjukkan hipertensi dan penyakit kardiovaskular masih cukup tinggidan bahkan cenderung meningkat seiring dengan gaya hidup yang semakin kurang sehat. Insidensi hipertensimeningkat seiring dengan pertambahan umur dan usia lanjut, faktor gender, dan aktivitas. Tujuan penelitian iniuntuk mengidentifikasi hubungan usia, jenis kelamin, riwayat keluarga, obesitas dan aktivitas fisik denganhipertensi di Puskesmas Kalitanjung Kota Cirebon. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian observasidengan desain Cross sectional yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktorrisiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada satu waktu. Besarsampel sebanyak 40 pasien. Analisis data menggunakan uji korelasi rank spearman. Hasil penelitianmenunjukan bahwa semua variabel bebas yaitu usia, jenis kelamin, riwayat keluarga, obesitas dan aktivitas fisikmempunyai hubungan yang bermakna dengan hipertensiKata Kunci : Hipertensi, Usia, Jenis Kelamin, Riwayat Keluarga, Obesitas, Aktivitas FisikABSTRACTHypertension, or better known as high blood pressure is a condition where an increase of blood pressure abovethe normal threshold of 120 / 80mmHg. Hypertension is a major risk factor for cardiovascular disease which isthe leading cause of death in Indonesia. Ministry of Health research data indicate hypertension andcardiovascular disease is still quite high and even tends to increase with lifestyles less healthy.The incidence ofhypertension increases with age and old age, gender factors, and activity. The aim of research To identify therelationship of age, gender, family history, obesity and physical activity with hypertension in the Public HealthCenters Kalitanjung Cirebon.This type of research is observational research with cross sectional design of astudy to study the dynamics of the correlation between risk factors with effects, the approach, observation ordata collection at once at a time, with samples taken 40. Analyzing data use rank spearman test. From allindependent variables were taken, it was found the presence of all meaningful relationships with hypertension.This means that all independent variables (age, gender, family history, obesity and physical activity) associatedwith hypertensionKeywords: Hypertension, Age, Gender, Family History, Obesity, Physical Activity
Tes Seleksi Mahasiswa Baru Sebagai Prediktor Terhadap Prestasi AkademikTes Seleksi Mahasiswa Baru Sebagai Prediktor Terhadap Prestasi Akademik Tissa Octavira Permatasari; Yayi Suryo Prabandari; Tri Nur Kristina
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 3, No 1 (2016): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses penerimaan mahasiswa baru di Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati (FK Unswagati) lebih menekankan pada hasil tes seleksi akademik sebagai faktor kognitif, sedangkan faktor non kognitif kurang diperhitungkan. Penelitian ini bertujuan menganalisis tes seleksi mahasiswa baru sebagai prediktor prestasi akademik. Metode yang digunakan adalah potong lintangdengan sampel total berjumlah 97 orang terdiri dari mahasiswa angkatan 2009 dan 2010. Prestasi akademik diukur melalui IPK S.ked, rerata nilai blok, dan OSCE komprehensif. Tes seleksi akademik memiliki hubungan yang bermakna (r=0,40) dan mempengaruhi IPK sebesar 16% dan nilai blok sebesar 11,9%. Maka, tes seleksi akademik memiliki predictive validity terhadap prestasi akademik mahasiswa kedokteran.Kata kunci: prestasi akademik, tes akademik, kognitif, predictive validity The admission process at FM SGJU is more emphasis on academic test results, whereas non cognitive factors are still underestimated. The aim of this study is to analyze academic test in the admission process of new student as predictor of academic achievement. The research method was cross sectional. The total sample consist of 97 students of batch 2009 and 2010. Academic achievement was measured through the GPA, average block grade. Academic test has significant correlation (r=0,40) and affects 16% of the GPA and 11,9% of average block grade. Therefore, academic test on the admission process has predictive validity for academic achievement.Keywords: academic achievement, academic test, cognitive, predictive validity
Perbandingan Efektivitas Lengkuas Merah (Alpinia Purpurata K Schum) dan Lengkuas Putih (Alpinia Galanga) Terhadap Pertumbuhan Jamur Candida Albicans Secara In Vitro Yandri Naldi; Icka Siti Aisah
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 1, No 4 (2014): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Jamur penyebab mikosis opportunistik yang paling sering adalah Candida albicans, Cryptococcus neoformans, dan Aspergillus fumigatus. Perkiraan insidensi tahunan dari mikosis invasif Candida adalah 72 sampai 228 infeksi per sejuta populasi. Di beberapa negara Asia dan Afrika, 80% dari populasi bergantung pada pengobatan tradisional sebagai primary health care. Ekstrak herba beberapa tanaman telah diuji aktivitas antijamur, tanaman Lengkuas sebagai tanaman herbal mengandung beberapa komponen yang berfungsi sebagai antijamur. Tujuan : Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan perbandingan efektivitas Lengkuas merah (Alpinia purpurata K. Schum) dan Lengkuas putih (Alpinia galanga L.) terhadap pertumbuhan jamur Candida albicans secara in vitro. Metode : Desain penelitian eksperimental di laboratorium dengan rancangan penelitian post test only control group design. Menguji perbandingan efektivitas lengkuas merah (Alpinia purpurata K. Schum) dan lengkuas putih (Alpinia galanga) terhadap pertumbuhan jamur candida albicans secara in vitro. Terdapat dua puluh enam cawan petri yang berisi isolat candida albicans dengan media Sabouraud Dextrose Agar. Dalam setiap cawan petri tersebut dibuat dua buah sumuran. Dari seluruh isolat candida albicans dalam cawan petri tersebut diberikan perlakuan dalam berbagai konsentrasi mulai dari 0%, 5%, 10%, 15% dan 20%. Kemudian diinkubasi pada suhu 300C selama 24 jam. Data dianalisis dengan uji Analisis of Varians. Hasil : Hasil penelitian ini menunjukan bahwa p < α (0.05) yang berarti Terdapat perbedaan signifikan antara lengkuas merah dan lengkus putih. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan nilai Mean lengkuas merah 6.33mm sedangkan lengkuas putih 5.00 hal tersebut menunjukan bahwa lengkuas merah lebih efektif dibandingkan lengkuas putih dalam menghambat pertumbuhan candida albicans. Kata Kunci : Lengkuas merah (Alpinia purpurata K. Schum), Lengkuas putih (Alpinia galanga L.), Candida albicans. Background : The fungus causes the most frequent opportunistic mycoses are Candida albicans , Cryptococcus neoformans , and Aspergillus fumigatus . The estimated annual incidence of invasive mycoses Candida infections is 72 to 228 per million population. In some countries of Asia and Africa , 80 % of the population relies on traditional medicine as primary health care. Herbaceous plant extracts have been tested several antifungal activity , galangal plant as herbal plants contain several components that serve as antifungal . Objective : The objective of this study was to compare the effectiveness of red galangal ( Alpinia purpurata K. Schum ) and white galangal ( Alpinia galanga L. ) on the growth of the fungus Candida albicans in vitro . Methods : This study is an experimental research in the laboratory with the study design post test only control group design . Examine the comparative effectiveness of red ginger ( Alpinia purpurata K. Schum ) and white ginger ( Alpinia galanga ) on the growth of the fungus Candida albicans in vitro . There are twenty- six Petri dishes containing isolates of Candida albicans in Sabouraud Dextrose Agar media . In each petri dish is made of two pieces of pitting . Candida albicans isolates from all over the petri dish is given treatment in various concentrations ranging from 0 % , 5 % , 10 % , 15 % and 20 % . Then incubated at 300C for 24 hours . Data were analyzed by analysis of variance test . Results : The results of this study indicate that p < α ( 0.05), which means that there are significant differences between red ginger and white ginger . Based on the results of the study showed mean values of red ginger 6.33mm and white ginger 5:00 whereas it is shown that red ginger is more effective than white ginger in inhibiting the growth of Candida albicans Keywords : red galangal ( Alpinia purpurata K. Schum ) , white galangal ( Alpinia galanga L. ) , Candida albicans.
Perbandingan Pengaruh Ekstrak Buah Naga Putih (Hylocereus undatus) dengan Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) terhadap Kolesterol Total, LDL DAN HDL Tikus Putih (Rattus norvergicus) Hiperlipidemia Atik Sutisna; Dudy Humaedi
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 3, No 4 (2016): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Hiperlipidemia adalah salah satu faktor risiki penyakit jantung koroner. Buah naga memiliki kandungan untuk memperbaiki profil lipid. Namun yang telah banyak diteliti adalah buah naga merah, oleh karena itu perlu diteliti mengenai buah naga putih dan membandingkan pengaruhnya dengan buah naga merah pengaruhnya kolesterol total, LDL, dan HDL dengan buah naga merah.Tujuan: Membandingkan pengaruh ekstrak buah naga putih dan merah terhadap kadar kolesterol total dan HDL pada tikus putih hiperlipidemia. Metode : Penelitian ini menggunakan metode pre dan postes. Dibuat 6 kelompok, 2 kelompok kontrol dan 4 kelompok perlakuan. Setiap kelompok dibuat hiperlipidemia, kelompok perlakuan 1 diberi ekstrak buah naga putih 30mg/200gbb,perlakuan 2 diberi ekstrak buah naga putih 60mg/200gbb, perlakuan 3 diberi ekstrak buah naga merah dosis 30mg/200gbb dan perlakuan 4 diberi ekstrak buah naga merah dosis 60mg/200gbb.Hasil : Hasil menunjukan penurunan kolesterol total secara bermakna pada perlakuan 1,2,3 dan 4 (41.60mg/dl, 63.89mg/dl, 59.09mg/dl dan 89.26mg/dl dengan p<0.05). Penurunan LDL secara bermakna pada kelompok 2,3 dan 4 (17.04mg/dl, 24.83mg/dl dan 42.13mg/dl dengan p<0.05) sedangkan kelompok 1 tidak bermakna (3.24mg/dl dengan p>0.05). Peningkatan HDL secara bermakna pada kelompok 2,3 dan 4 (32.65mg/dl, 7.87mg/dl dan 51.79mg/dl dengan p<0.05) sedangkan kelompok 1 tidak bermakna (0.58mg/dl dengan p>0.05).Terdapat perbedaan bermakna  rerata pengaruh ekstrak buah naga putih dengan merah baik dalam dosis 30 mg/200gbb dan 60 mg.200/gbb dengan nilai p<0.05. Simpulan: Buah naga putih tidak lebih baik dari buah naga merah dalam mempengaruhi kadar kolesterol total, LDL, dan HDL dikarenakan memiliki zat antihiperlipid lebih sedikit.Kata Kunci : buah naga merah, buah naga putih, HDL Kolesterol total, LDL ABSTRACTBackground: Hyperlipidemia is a risk factor of coronary heart disease. Pitaya’s ekstracts can improves lipid content. However, the most research that have been studied is only the red pitaya, therefore white pitaya need to be studied of it’s and try to compare their effects on total cholesterol, LDL, and HDL. Objective: To compare the effects of extracts white pitaya and red pitaya on total cholesterol, LDL, and HDL in the rat with hyperlipidemia. Methods: The research used a pre-post test method. There were 6 groups, 2 control groups and 4 treatment groups. Each group would be made hyperlipidemia, the first treatment received extracts of white pitaya 30mg / 200gbb, second  treatment group  received extracts of white pitaya 60mg / 200gbb, third treatment group received extracts of red pitaya 30mg / 200gbb and fourth treatment group received extracts of red pitaya 60mg / 200gbbResults: The results showed the total cholesterol decreased significantly at treatment group 1,2,3 and 4 (41.60mg/dl, 63.89mg/dl, 59.09mg/dl dan 89.26mg/dl with p<0.05). LDL decreased significantly at treatment group 2,3 and 4(17.04mg/dl, 24.83mg/dl dan 42.13mg/dl with p<0.05) then did not decreased significantly at treatment group 1(3.24mg/dl with p>0.05). HDL increased significantly at treatment group 2,3 and 4(32.65mg/dl, 7.87mg/dl dan 51.79mg/dl with p<0.05) then did not increase significantly at treatment group 1(0.58mg/dl with p>0.05). there were significant different between the white pitaya and red pitaya at dose 30mg/200gbb and 60mg/200gbb with p value <0.05. Conclusion: The effect of white pitaya is not better than the red pitaya in improve of total cholesterol, LDL and HDL because it has less antihyperlipid content.Keywords: White Pitaya, Red pitaya. Total cholesterol, LDL, HDL.
Korelasi Right Ventricular Outflow Tract Systolic Excursion dengan Forced Expiratoy Volume-1 Pada Pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik Irwan Meidi Loebis
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 5, No 2 (2019): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas terbanyak di dunia dengan prevalensi yang terus meningkat. Manifestasi ekstrapulmonal dari PPOK salah satunya pada sistem kardiovaskular yang terjadi pada 50% penderita PPOK yang dirawat, diantaranya gagal jantung kanan, hipertensi pulmonal, dan penyakit jantung iskemik. Gagal jantung kanan merupakan nilai prognostik yang buruk bagi pasien PPOK dan dianggap sebagai stadium akhir dari penyakit paru. Pemeriksaan spirometri merupakan baku emas untuk menilai fungsi paru, dengan parameter forced expiratory volume-1 (FEV1) untuk menilai derajat obstruksi saluran pernafasan. Pemeriksaan right ventricular outflow tract systolic excursion (RVOT-SE) dengan ekokardiografi merupakan parameter baru untuk menilai fungsi sistolik ventrikel kanan dengan sensitifitas dan spesifisitas 100%. Penelitian ini bertujuan untuk menilai korelasi antara RVOT-SE dengan FEV1 pada penderita PPOK. Dilakukan penelitian observasional dengan rancangan potong lintang, periode Oktober 2013-Januari 2014 di Instalasi Rawat Jalan Paru Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Rumus korelasi digunakan untuk menentukan besar sampel, didapat jumlah sampel minimal sebesar 32 subjek. Pemilihan subjek dengan consecutive sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Subjel dilakukan pemeriksaan spirometri dan ekokardiografi. Uji korelasi Pearson dan korelasi parsial dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak statistical product and service solution versi 17. Hasil dari 32 subjek, sebagian besar laki-laki dengan rata-rata usia 66,53±10,08 tahun, rata-rata FEV1 51,42±12,11%, rata-rata RVOT-SE 0,82±0,28 cm, median waktu sejak terdiagnosis PPOK 7,05(27+5) tahun, dan sebagian besar memiliki frekuensi eksaserbasi <2 kali per tahun (78%). Uji korelasi Pearson menunjukkan tidak ada korelasi antara RVOT-SE dengan FEV1 (r=0,228; p=0,209). Uji korelasi parsial dengan menyesuaikan variabel waktu sejak terdiagnosis PPOK menunjukkan korelasi positif bermakna antara RVOT-SE dengan FEV1 (r=0,315; p=0,042). Simpulan, terdapat korelasi positif bermakna antara RVOT-SE dengan FEV1 pada penderita PPOK setelah menyesuaikan variabel waktu sejak terdiagnosis PPOK.Kata kunci: forced expiratory volume-1, penyakit paru obstruktif kronik, right ventricular outflow tract systolic excursion. Chronic obstructive pulmonary disease (COPD) is a major cause of chronic morbidity and mortality with increasingly prevelance throughout the world. COPD is associated with significant extrapulmonary effects among which cardiac manifestation is the most common, accounts of 50% of all hospitalization,consists of right heart failure, pulmonary hypertension and ischaemic heart disease. Right heart failure is an important prognostic factor and considered to be an end stage pulmonary disease. Spirometry is the gold standard for accurate and repeatable measurement of lung function, whereas forced expiratory volume-1 (FEV1) represent the severity of airway obstruction. Echocardiography provides a rapid, noninvasive and accurate method to evaluate right heart function. A novel parameter right ventricular outflow tract systolic excursion (RVOT-SE) can identify reduced right ventricular function with 100% sensitivity and 100% specificity.This study aims to analyze the correlation of RVOT-SE and FEV1 in COPD patients. An observational cross-sectional study was done during October 2013- January 2014 at Pulmonology outpatient installation of Dr. Hasan Sadikin Hospital,Bandung. Sample was chosen by consecutive sampling according to the inclusion and exclusion criteria. The selected samples were evaluated by spiromtery and echocardiography. Pearson correlation and partial correlation was analyzed using statistical product and service solution version 17 software.Results of total of 32 samples mostly male with mean age 66,53±10,08 years, mean FEV1 51,42±12,11%, mean RVOT-SE 0,82±0,28 cm, median of time since COPD diagnosis 7,05(275) years, and mostly <2 exacerbation a year (78%).There was no correlation between RVOT-SE and FEV1 (r=0,228; p=0,209) on bivariat analysis. Partial correlation with adjustment of time since COPD diagnosis showed a signifcant positive correlation between RVOT-SE and FEV1 (r=0,315; p=0,042). We conclude that there is a significant positive correlation between RVOT-SE and FEV1 after adjusting the time since COPD diagnosis.Keywords: forced expiratory volume-1, chronic obstructive pulmonary disease, right ventricular outflow tract systolic excursion.
Efektivitas Ekstrak Daun Patikan Kebo (Euphorbia hirta L.) Dibandingkan dengan Povidone Iodine 10% terhadap Ketebalan Epitelisasi pada Luka Insisi Tikus Putih Jantan Nurbaiti Nurbaiti; Ari Fajar Ramdani; Hikmah Fitriani
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 4, No 1 (2018): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & kesehatan
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK  Latar Belakang: Luka insisi yaitu adanya robekan linier pada kulit dan jaringan di bawahnya karena teriris oleh instrumen tajam. Penyembuhan luka dapat dibagi ke dalam tiga fase, yaitu fase inflamasi, proliferasi, dan remodelling. Epitelisasi mulai terbentuk pada fase proliferasi. Ekstrak daun patikan kebo (Euphorbia hirta L.) mengandung tanin, saponin, dan senyawa flavonoid yang berperan dalam proses penyembuhan luka yang melibatkan proses epitelisasi.Tujuan : Mengetahui perbandingan efektivitas ekstrak daun patikan kebo (Euphorbia hirta L.) dibandingkan dengan povidone iodine terhadap ketebalan epitelisasi pada luka insisi tikus putih jantan.Metode : Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan rancangan post test only control group design dengan menggunakan hewan percobaan tikus putih jantan galur wistar sebagai subjek penelitian. Penelitian ini menggunakan lima kelompok yaitu satu kelompok kontrol negatif, satu kelompok kontrol positif menggunakan povidone iodine 10%, dan tiga kelompok perlakuan menggunakan dosis 2,75%, 5,50% dan 8,25%. Uji statistik menggunakan One Way ANOVA.Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun patikan kebo (Euphorbia hirta L.) dengan dosis 8,25% lebih efektif dibandingkan povidone iodine 10% sebesar 66.360 µm (P<0.05).Kesimpulan : Pemberian ekstrak daun patikan kebo (Euphorbia hirta L.) terhadap proses ketebalan epitelisasi pada luka insisi lebih efektif dibandingkan dengan povidone iodineKata Kunci : Ketebalan epitelisasi, luka insisi, patikan kebo, povidone iodine 10%

Page 6 of 24 | Total Record : 236


Filter by Year

2014 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 11 No 2 (2025): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 11 No 1 (2025): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 10 No 4 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 10 No 3 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 10 No 2 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 10 No 1 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 9 No 1 (2023): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 8, No 2 (2022): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 8, No 1 (2022): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 7, No 2 (2021): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 7, No 1 (2021): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 6, No 2 (2020): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 6, No 1 (2020): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 5, No 2 (2019): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 5, No 1 (2019): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 4, No 2 (2018): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN Vol 4, No 1 (2018): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & kesehatan Vol 3, No 4 (2016): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 3, No 3 (2016): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 3, No 2 (2016): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 3, No 1 (2016): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 2, No 4 (2015): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 2, No 3 (2015): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 2, No 2 (2015): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 2, No 1 (2015): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 1, No 4 (2014): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 1, No 3 (2014): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 1, No 2 (2014): Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan More Issue