cover
Contact Name
Muh Amiruddin
Contact Email
riwayah@iainkudus.ac.id
Phone
+6285641567175
Journal Mail Official
riwayah@iainkudus.ac.id
Editorial Address
https://journal.iainkudus.ac.id/index.php/riwayah/about/editorialTeam
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Riwayah : Jurnal Studi Hadis
ISSN : 2460755X     EISSN : 25028839     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/riwayah.v6i1
Riwayah : Jurnal Studi Hadis invites scholars, researchers, and university students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Hadith Studies and Living Hadith with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science, economics and others.
Articles 218 Documents
HADITH ON WEALTH DISTRIBUTION AND BUSINESS ETHICS: A Bibliometric Analysis of Global Research Trends
RIWAYAH Vol 11, No 2 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i2.33846

Abstract

The research paper is a bibliometric mapping of the world's research on hadith and wealth allocation and the ethics of Islamic business. Using VOSviewer software, the analysis based on the 158 articles indexed by Scopus in the period of 2008-2025 was used to determine the growth of publications, networks of collaboration, institution performance, and development of themes. The findings show that there were six times more publications at the time of study, with Malaysia, Indonesia, and the United States becoming the major contributors. Some of the major institutions, like the Eberly College of Business and Information Technology, Kent Business School, and the International Centre of Education in Islamic Finance, are strategic in promoting this subject. According to keyword mapping, there are five key thematic clusters, which lay stress on a transition between the institutional and financial focus and the philanthropic ones, namely waqf, zakat, and redistribution of wealth. The research provides an immense gap in the literature since it represents the first bibliometric mapping of the scholarship on hadith in both economic and ethical aspects, thus contributing to the theoretical formulation of Islamic economics and giving direction to future cross-disciplinary work.[Makalah penelitian ini merupakan pemetaan bibliometrik atas penelitian global mengenai hadis, alokasi kekayaan, dan etika bisnis Islam. Dengan menggunakan perangkat lunak VOSviewer, analisis yang didasarkan pada 158 artikel yang terindeks oleh Scopus pada periode 2008-2025 digunakan untuk menentukan pertumbuhan publikasi, jaringan kolaborasi, kinerja institusi, dan perkembangan tema. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah publikasi meningkat enam kali lipat pada saat penelitian, dengan Malaysia, Indonesia, dan Amerika Serikat menjadi kontributor utama. Beberapa institusi utama, seperti Eberly College of Business and Information Technology, Kent Business School, dan International Centre of Education in Islamic Finance, berperan strategis dalam mempromosikan bidang ini. Berdasarkan pemetaan kata kunci, terdapat lima kluster tematik utama yang menekankan transisi antara fokus institusional dan keuangan dengan fokus filantropis, yaitu waqf, zakat, dan redistribusi kekayaan. Penelitian ini mengisi celah besar dalam literatur karena mewakili pemetaan bibliometrik pertama tentang studi hadis dalam aspek ekonomi dan etika, sehingga berkontribusi pada formulasi teoretis ekonomi Islam dan memberikan arah bagi kerja lintas disiplin di masa depan.]
CONTESTING THE AUTHENTICITY OF ABU HURAIRAH’S MISOGYNISTIC HADITH: Bennett and Mernissi’s Critical Perspectives
RIWAYAH Vol 11, No 1 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i1.31878

Abstract

The critique of Prophet Muhammad’s originality, both historical and theological, has long been a central concern among Orientalist scholars challenging the authenticity of Islam. Clinton Bennett, a Christian theologian, presents himself as a Western academic adopting an independent stance in evaluating the rationale behind Muhammad’s teachings. While acknowledging the canonical status of Sahih al-Bukhari, Bennett questions the reliability of Abu Hurairah as a hadith transmitter, arguing that the honorific title Amir al-Muʾminin is inappropriate for a narrator of misogynistic traditions. His critique aligns with feminist scholar Fatima Mernissi’s gender-sensitive readings, particularly her concerns regarding the authenticity of certain historical narratives. A prominent example is Abu Hurairah’s narration of a woman condemned to hell for neglecting a female cat, an account interpreted as symptomatic of misogynistic tendencies within Islamic tradition. This study explores the authenticity of such a hadith and its implications for understanding misogyny in Islamic discourse through an inclusive and analytical lens. Employing a qualitative, descriptive-analytical method, it addresses the following question: How do Orientalist and feminist methodologies evaluate the authenticity of misogynistic hadiths in relation to Abu Hurairah’s credibility? The findings reveal that both Bennett and Mernissi assess Abu Hurairah’s reliability through a historical-critical framework, focusing on his age, proximity to the Prophet, and personal character. Their shared conclusion positions him as a junior companion whose close access to the Prophet arguably enabled a more consistent and guided transmission of hadiths. [Kritik orisinalitas posisi Nabi mengenai identitas historis dan teologisnya, menjadi salah satu perhatian Orientalis dalam menggugat otentisitas Islam. Clinton Bennettt sebagai teolog Kristen berupaya memposisikan dirinya sebagai akademisi Barat yang independen dalam mengkritisi nalar ajaran Muhammad. Pengakuan dirinya atas orisinialitas Sahih al-Bukhari, menemukan bantahan atas keadalahan Abu Hurairah sebagai sahabat Nabi. Karena, predikat gelar Amir al-Mukminin tidak selayaknya disematkan kepada perawi hadis misoginis. Tuduhan Bennettt, berpihak atas kontribusi stereotip gender tokoh Feminis, Fatimah Mernissi dalam mempertimbangkan otentisitas narasi sejarah. Pernyataan Abu Hurairah, menarasikan peristiwa masuknya seorang perempuan ke dalam neraka atas perbuatan menelantarkan kucing betina. Penelitian ini membuka ruang eksplorasi dalam mendialogkan oetentisitas hadis tersebut secara inklusif dan analitis terkait pemahaman misoginis dalam tradisi Islam. Metode penelitian yang digunakan kualitatif yaitu deskriptif analitis. Permasalahan akademis yang muncul dalam bentuk pertanyaan penelitian yaitu bagaimana metode autentisitas hadis misoginis perspektif Orientalis dengan Feminis dalam meniai menilai kredibilitas Abu Hurairah sebagai perawi misoginis?. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keduanya menilai kredibilitas Abu Hurairah melalui analisis pendekatan Kritik sejarah dengan menguraikan fakta historisitas usia, aksebilitas perawi serta karakter. Pandangan Bennett dan Mernissi terhadap Abu Hurairah sebagai golongan sahabat junior lebih konsisten dalam melestarikan periwayatan hadis, sebab dalam bimbingan nabi yang lebih intens].  
MARAHIL, LA MANAHIJ: Categorization of Hadith Critics and the Development of Isnad Criticism
RIWAYAH Vol 11, No 2 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i2.12426

Abstract

The development of ḥadith criticism throughout history demonstrates a complex dynamic, both in terms of the quality and quantity of evaluations, the perspectives of critics, and the types of works produced. Within the tradition of ḥadīth studies, critics are commonly classified into three main categories, mutasyaddid(strict), muʿtadil (moderate), and mutasahil (lenient), based on their evaluative tendencies toward transmitters of ḥadith. However, this categorization has often been accepted taken for granted by subsequent scholars without critical reassessment. As a result, it not only limits the inclusion of new figures within these categories but also perpetuates certain classificatory inaccuracies that have never been reexamined. In response to this problem, the study employs a qualitative approach, utilizing critical historical methods and library research to address two main objectives. First, it reexamines the tripartite classification of ḥadith critics by revisiting the figures most frequently cited within these categories. This analysis reveals the existence of a pattern of periodization that significantly shaped tendencies in ḥadith criticism. Second, the study explores this periodization and its relationship to the emergence and dominance of the zahir al-isnad orientation. The findings demonstrate that the categories of mutasyaddid, muʿtadil, and mutasahil essentially represent stages in the historical periodization of ḥadith criticism (marahil zamaniyyah), rather than methodological approaches (manahij). Consequently, these terms should not be understood as manahij al-jarḥ wa al-taʿdil. While useful as heuristic tools for classification, such categorization oversimplifies the complexity of ḥadith criticism and risks polarizing the field within the narrow framework of the zahir al-isnad school.[Perkembangan kritik hadis sepanjang sejarah menunjukkan dinamika yang kompleks, baik dari segi kualitas dan kuantitas penilaian, perspektif kritikus, maupun jenis karya yang dihasilkan. Dalam tradisi studi hadis, para kritikus sering diklasifikasikan ke dalam tiga kategori utama, yakni mutasyaddid (ketat), mu‘tadil (moderat), dan mutasahil (longgar), berdasarkan kecenderungan penilaian mereka terhadap periwayat hadis. Namun, kategorisasi ini cenderung diterima secara taken for granted oleh para peneliti berikutnya tanpa kajian ulang yang kritis, sehingga tidak hanya menutup kemungkinan masuknya tokoh-tokoh baru dalam kategori tersebut, tetapi juga mempertahankan sejumlah kekeliruan klasifikasi yang tidak pernah direevaluasi. Berangkat dari problem tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode sejarah kritis dan kajian kepustakaan untuk membahas dua fokus utama. Pertama, mengkaji ulang pengelompokan kritikus hadis ke dalam tiga kategori tersebut dengan melibatkan tokoh-tokoh yang selama ini dijadikan rujukan. Kajian ini mengungkap adanya pola periodisasi yang memengaruhi kecenderungan kritik hadis. Kedua, penelitian ini menganalisis periodisasi tersebut serta kaitannya dengan kemunculan dan dominasi kelompok zhāhir al-isnād. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kategori mutasyaddid, mu‘tadil, dan mutasahil sejatinya merepresentasikan tahapan periodisasi kritik hadis (marāḥil zamāniyyah), bukan metode kritik (manāhij). Oleh karena itu, ketiga istilah tersebut tidak tepat dipahami sebagai manāhij al-jarḥ wa al-ta‘dīl. Meskipun berguna sebagai alat bantu klasifikasi, kategorisasi ini terbukti menyederhanakan kompleksitas kritik hadis dan berpotensi mempolarisasi kajian hadis ke dalam kerangka sempit mazhab zhāhir al-isnād.]
THE POWER OF THE SANAD NETWORK AND ISLAMIC DISCOURSE IN THE ARBA'IN HADITH MANUSCRIPTS OF NUSANTARA SCHOLARS
RIWAYAH Vol 8, No 2 (2022): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v8i2.30971

Abstract

Islam Nusantara was introduced as a response to the issue of radicalism and terrorism that was emerging on the international stage. The pesantren-style education model, which focuses entirely on studying the kitab kuning (turats), is considered effective in addressing this issue. The kitab kuning serves as an effective medium for promoting religious moderation within the socio-cultural context of Muslims in the Nusantara. One approach is by exploring the manuscript heritage written by Nusantara scholars. This paper examines Arba’in hadith manuscripts written by Nusantara scholars, namely the works of Mahfuzh al-Tarmasi, Hasyim Asy’ari, Nawawi al-Bantani, and Yasin al-Fadani, from the 17th to the 20th century. Using a philological approach, the findings of this study show that these books were written in the context of Indonesia’s colonial period and aimed to provide a counter-narrative to religious orthodoxy. The Islamic discourse embedded in these works relates to: 1) Morality, which encourages a moderate attitude towards everyone, all creatures on earth, even towards enemies; 2) Religious moderation, by considering those of different faiths as brothers; 3) Work discipline, aimed at fostering the spirit of striving for a decent life; 4) The concepts of sunnah and bid’ah are explained to provide a counter-narrative to the Wahhabi-style religious discourse that attacks local traditions. Furthermore, at roughly the same time, Muslims in Haramain took a stricter stance toward tradition and sought to return religion solely to the Qur'an and Hadith, while Muslims in the Nusantara were more receptive to local traditions. This is evidenced by the incorporation of local contexts into Arba’in hadith works, such as the emphasis on mutual compassion in the context of Dutch colonialism. This represents the scholarly independence of hadith studies developed by Nusantara hadith scholars.Kuasa Jaringan Sanad dan Diskursus Keislaman dalam Naskah Hadis Arba’in Ulama Nusantara. Islam Nusantara diperkenalkan sebagai respon atas isu radikalisme dan terorisme yang sedang mencuat di kancah internasional. Model pendidikan ala pesantren yang tertumpu penuh pada pengkajian kitab kuning (turats) dinilai efektif untuk membendung isu tersebut. Kitab kuning menjadi media yang efektif untuk melakukan gerakan moderasi beragama dalam konteks sosio-kultural umat Islam di Nusantara. Salah satunya dengan menggali khazanah manuskrip yang ditulis oleh ulama Nusantara. Tulisan ini mengkaji naskah-naskah hadis Arba’in yang ditulis oleh ulama Nusantara, yakni karya Syaikh Mahfuzh al-Tarmasi, karya Syaikh Hasyim Asy’ari, karya Syaikh Nawawi al-Bantani, dan karya Syaikh Yasin al-Fadani, pada abad ke-17 hingga ke-20. Dengan pendekatan filologi, temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa kitab-kitab tersebut ditulis dalam konteks penjajahan Indonesia sekaligus bertujuan untuk kontra narasi terhadap ortodoksi beragama. Diskursus keislaman yang ditanamkan adalah berkaitan dengan; 1) Moralitas yang mengarah pada upaya moderasi sikap terhadap siapapun, seluruh makhluk di muka bumi, sekalipun terhadap musuh. 2) Moderasi beragama dengan cara menganggap saudara kepada mereka yang tidak seiman. 3) Kedisiplinan dalam bekerja ditujukan untuk menumbuhkan semangat perjuangan mendapatkan kehidupan yang layak. 4) sunnah dan bid’ah dijelaskan untuk memberikan kontra narasi terhadap wacana keagamaan ala Wahabisme yang menyerang tradisi-tradisi lokal. Selanjutnya, dalam waktu yang relatif bersamaan, Muslim di Haramain lebih keras terhadap tradisi dan mencoba mengembalikan agama kepada al-Qur’an dan hadis an sich, sementara Muslim di Nusantara lebih ramah terhadap tradisi lokal. Terbukti memasukkan konteks lokalitas dalam penyusunan karya hadis Arba’in, seperti saling mengasihi kepada sesama dalam konteks penjajahan Belanda. Inilah bentuk independensi keilmuan hadis yang dimiliki oleh ulama hadis di Nusantara.
THE USE OF HUMAN CHIP IMPLANTS FROM THE HADITH PERSPECTIVE Fharadillah, Vira; Ghifari, Muhammad; Ash, Abil
RIWAYAH Vol 11, No 1 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i1.32233

Abstract

The advancement of chip implant technology in humans has introduced profound transformations across multiple sectors, particularly in healthcare, security, and digital finance. These microelectronic devices, embedded within the human body, serve various functions ranging from medical monitoring and identification to real-time control of digital systems. In medical contexts, chip implants have demonstrated potential in managing chronic illnesses and streamlining access to patient health records. However, their integration into human life also provokes ethical and theological debates, especially within Islamic discourse. This study explores the Islamic ethical framework—focusing on the hadith of Prophet Muhammad Pbuh. —in evaluating the permissibility of chip implants. Employing a qualitative literature review, this research analyzes classical hadith texts alongside contemporary Islamic scholarship, fatwas, and bioethical debates. The study finds that while chip implants are not directly addressed in hadith, foundational Islamic legal principles such as lā ḍarar wa lāḍirār (no harm and no reciprocating harm), ḥifẓ al-nafs (protection of life), and privacy preservation provide normative guidelines. From this perspective, chip implants for urgent medical purposes are conditionally permissible, whereas their use for luxury, surveillance, or non-essential purposes may contravene Islamic ethical standards. This research contributes to contemporary Islamic bioethics by offering a hadith-based framework for navigating emerging biomedical technologies.[Kemajuan teknologi implan chip pada manusia telah membawa perubahan besar di berbagai bidang, khususnya dalam layanan kesehatan, keamanan, dan transaksi keuangan digital. Perangkat mikroelektronik ini, yang ditanamkan ke dalam tubuh manusia, memiliki berbagai fungsi mulai dari pemantauan medis dan identifikasi hingga pengendalian sistem digital secara real-time. Dalam konteks medis, implan chip menunjukkan potensi dalam menangani penyakit kronis serta mempermudah akses cepat terhadap data kesehatan pasien. Namun, integrasi teknologi ini dalam kehidupan manusia juga menimbulkan perdebatan etis dan teologis, terutama dalam wacana Islam. Studi ini mengkaji kerangka etika Islam—dengan fokus pada hadis Nabi Muhammad Saw. —dalam menilai kebolehan penggunaan implan chip. Dengan menggunakan metode kajian literatur kualitatif, penelitian ini menganalisis teks-teks hadis klasik bersama literatur keislaman kontemporer, fatwa, dan perdebatan bioetika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun implan chip tidak secara eksplisit dibahas dalam hadis, prinsip-prinsip dasar hukum Islam seperti lā ḍarar wa lāḍirār (tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain), ḥifẓ al-nafs (perlindungan jiwa), dan perlindungan privasi memberikan pedoman normatif. Dari sudut pandang ini, penggunaan implan chip untuk keperluan medis yang mendesak dapat dibolehkan secara syar’i, sedangkan penggunaannya untuk tujuan non-medis, kemewahan, atau yang berpotensi melanggar privasi dan membahayakan, dinilai bertentangan dengan standar etika Islam. Penelitian ini berkontribusi pada wacana bioetika Islam kontemporer dengan menawarkan kerangka etis berbasis hadis untuk menyikapi kemajuan teknologi biomedis.]
PROBLEMATIC HADITHS IN QURRAH AL-ASHFIYA’ BY KIAI ZAINULLAH MALANG: An Intertextual Analysis Hilal, Muhammad
RIWAYAH Vol 10, No 2 (2024): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v10i2.26675

Abstract

Qurrah al-Ashfiya’ ‘ala Syarh Nazhm Hidayah al-Adzkiya’ is a manuscript on Sufism written by Kiai Zainullah Malang. The book contains 74 hadiths and, after takhrij was carried out, three of them were found to have no original source in hadith compilation. This research aims to analyze these “problematic hadiths” using intertextual analysis developed by Julia Kristeva. Thus, this research is a hadith research with a multidisciplinary approach. The design used here is library research with a qualitative approach. The analysis technique used here is content analysis. This research finds that there are three problematic hadiths in Qurrah al-Ashfiya’. Through intertextual analysis, it is found that the first hadith is proven to be typographical error and subsequently disqualified as a hadith. The second one is narration bi al-ma‘na. The third one was found to have been inaccurately transcribed by Kiai Zainullah. Furthermore, it is proven that intertextual analysis can be an effective tool for resolving the limitations of takhrij al-hadits. The implication is that since intertextual analysis assumes that a text is always born in a network of multitext, all hadith basically have a source whose origins can be traced. Intertextual analysis does not recognize the term la ashl lahu (no chain of transmission is found).[Kitab Qurrah al-Ashfiyā’ ‘alā Syarh Nazhm Hidāyah al-Adzkiyā’ adalah sebuah manuskrip kitab tentang tasawuf yang ditulis oleh Kiai Zainullah dari Kabupaten Malang. Kitab ini berisi 74 hadis dan, setelah dilakukan takhrīj terhadapnya, tiga di antaranya tidak ditemukan dalam kitab-kitab himpunan hadis. Penelitian ini bertujuan menganalisis “hadis-hadis problematik” tersebut dengan menggunakan analisis intertekstual yang dikembangkan oleh Julia Kristeva. Penelitian ini adalah penelitian hadis dengan pendekatan multidisipliner. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan kualitatif. Teknik analisis yang digunakan adalah Analisis Isi. Penelitian ini menemukan bahwa terdapat tiga buah hadis problematik dalam kitab Qurrah al-Ashfiyā’. Melalui analisis intertekstual, didapati bahwa hadis pertama mengalami kekeliruan tipografis dan akibatnya tidak tergolong sebagai sebuah hadis. Hadis kedua adalah riwayat bi al-ma‘nā. Hadis ketiga didapati sebagai tertulis secara tidak akurat oleh Kiai Zainullah. Lebih dari itu, penelitian ini membuktikan bahwa analisis intertekstual bisa menjadi alat efektif untuk menyelesaikan batasan-batasan yang dimiliki oleh takhrīj al-ḥadīth. Implikasinya, oleh karena analisis intertekstual berasumsi bahwa sebuah teks senantiasa lahir dalam sebuah jaringan multiteks, maka semua hadis pada dasarnya punya sumber yang asal-usulnya bisa dilacak. Analisis intertekstual tidak mengakui terma lā ashl lahu (sanadnya tidak ditemukan).]
LIVING HADITH IN JAVANESE MUSLIM SOCIETY: Studi of Sesaji Rewanda Tradition in Semarang Munsarif, Alyatal Husn; Zakiyah, Qonita; Musyafiq, Ahmad; Rochmawati, Nikmah; Ilhami, Muhammad Sodik
RIWAYAH Vol 11, No 2 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i2.33809

Abstract

The Sesaji Rewanda tradition at Kreo Cave, Semarang, serves as a tangible manifestation of Living Hadith, wherein the prophetic value of ihsan is actualized within the cultural framework of Javanese Muslim society. This study examines the intersection between local tradition and Islamic textuality, focusing on the ritual of Gunungan Sego Kethek, the collective feeding of wild monkeys, as an expression of compassion toward living beings. Employing a qualitative methodology, this research integrates a Living Hadith approach by synthesizing textual analysis of relevant prophetic traditions and classical commentaries (sharh) by Ibn Ḥajar al-ʿAsqalānī, Imam al-Nawawī, and Ibn Rajab al-Ḥanbalī, complemented by ethnographic observations of the ritual praxis. The findings indicate that the Sesaji Rewanda tradition represents the principle of ihsan ila al-ḥayawan (kindness toward animals), elevating cultural practice into a form of worship (‘ibadah) provided it remains within the boundaries of monotheistic (tawhid) principles. Furthermore, this study highlights how the tradition creates a harmonious synergy between religion, local culture, and ecological preservation. By contextualizing prophetic values into communal life, Sesaji Rewanda functions as a medium for transformative da’wah and socio-ecological ethics, proving that the Sunnah can be dynamically preserved through intimate local wisdom and inclusive cultural expressions. [Tradisi Sesaji Rewanda di Gua Kreo, Semarang, merupakan manifestasi nyata dari Living Hadis, di mana nilai profetik ihsan diaktualisasikan dalam kerangka budaya masyarakat Muslim Jawa. Penelitian ini mengkaji titik temu antara tradisi lokal dan tekstualitas Islam, dengan fokus pada ritual Gunungan Sego Kethek, di mana praktiknya memberi makan kepada monyet liar secara kolektif, sebagai bentuk ekspresi kasih sayang terhadap sesama makhluk hidup. Menggunakan metodologi kualitatif, penelitian ini mengintegrasikan pendekatan living hadis dengan menyintesis analisis tekstual terhadap hadis-hadis terkait serta syarah klasik dari Ibn Ḥajar al-ʿAsqalānī, Imam al-Nawawī, dan Ibn Rajab al-Ḥanbalī, yang dipadukan dengan observasi etnografis atas praksis ritual tersebut. Temuan penelitian menunjukkan bahwa tradisi Sesaji Rewanda merepresentasikan prinsip ihsan ila al-ḥayawan (berbuat baik kepada hewan), yang mengangkat praktik budaya menjadi sebuah nilai ibadah sejauh tetap terjaga dalam batasan prinsip tauhid. Lebih lanjut, studi ini menyoroti bagaimana tradisi tersebut menciptakan sinergi yang harmonis antara agama, budaya lokal, dan pelestarian ekologis. Dengan mengontekstualisasikan nilai-nilai kenabian ke dalam kehidupan komunal, Sesaji Rewanda berfungsi sebagai medium transformasi dakwah dan etika sosio-ekologis, yang membuktikan bahwa sunnah dapat dipelihara secara dinamis melalui kearifan lokal yang intim dan ekspresi budaya yang inklusif.]
FROM HADITH TO HEALTH: Contextualizing the One-Third Eating Principle in Light of Modern Nutritional Science Hildayana, Tri; Darta, Ali
RIWAYAH Vol 11, No 1 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i1.33299

Abstract

This study investigates the integration of Hadith teachings on dietary practices with modern nutritional science within the Muslim community of Tanjung Morawa B Village. Employing an ethnographic approach, the research draws on in-depth interviews with 40 respondents and participatory observations of 20 individuals. The findings reveal that 77.5% of participants practice the "one-third" eating principle—eating before hunger intensifies, stopping before fullness, and dining before Maghrib. These habits align with contemporary nutritional strategies such as portion control and time-restricted eating, both of which contribute to metabolic health. Notably, despite 65% of respondents coming from economically disadvantaged backgrounds, they maintain healthy diets rooted in religious values by utilizing accessible local foods like pumpkin, cassava, and legumes. The study also notes adaptive strategies for health conditions such as gastritis, reflecting the principle’s flexibility. Overall, the research underscores the potential of integrating religious principles with modern health frameworks, offering a culturally relevant model for dietary intervention in Muslim communities.[Penelitian ini mengkaji integrasi ajaran hadis tentang pola makan dengan ilmu gizi modern dalam konteks komunitas Muslim di Desa Tanjung Morawa B. Dengan menggunakan pendekatan etnografi, penelitian ini melibatkan wawancara mendalam terhadap 40 responden dan observasi partisipatif terhadap 20 di antaranya. Hasil temuan menunjukkan bahwa 77,5% responden menerapkan prinsip makan sepertiga—makan sebelum merasa lapar, berhenti sebelum kenyang, serta makan malam sebelum Maghrib. Pola ini selaras dengan konsep gizi modern seperti pengendalian porsi dan pola makan dengan waktu terbatas (time-restricted eating) yang terbukti mendukung kesehatan metabolik. Meskipun 65% responden berasal dari keluarga kurang mampu, mereka tetap menjaga pola makan sehat yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan dengan memanfaatkan pangan lokal seperti labu, singkong, dan kacang-kacangan. Penelitian ini juga mencatat adanya penyesuaian terhadap kondisi kesehatan tertentu seperti gastritis, yang menunjukkan fleksibilitas prinsip ini. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi nilai-nilai religius dengan pendekatan kesehatan modern, serta menawarkan model intervensi gizi yang kontekstual bagi komunitas Muslim guna meningkatkan kesejahteraan mereka.]
THE INFLUENCE OF LIVING HADITH ON COMMERCIAL TRANSACTIONS AMONG BANJAR Z GENERATION IN PALANGKA RAYA Ahmad, Zakaria; Wakhidah, Nur
RIWAYAH Vol 11, No 1 (2025): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v11i1.31661

Abstract

Technological developments and shifting consumption patterns have significantly influenced the manifestation of living hadith practices among the Banjar community in Palangka Raya, particularly among members of Generation Z. This study investigates how this generation interprets and applies prophetic values within contemporary sale and purchase contracts in a digital environment. Employing a qualitative methodology, data were gathered through interviews, observation, and documentation, and analyzed using thematic analysis. The findings reveal five key transformations: the shift from verbal contracts to general social expressions; from religious dialogue to functional economic acts; from symbolic transaction spaces to digital platforms; the tension between traditional and modern contractual contexts; and the emergence of fragmented symbolic consciousness. This research contributes to the scholarship of living hadith by conceptualizing its transformation within the sphere of contemporary economic practices. Moreover, it offers critical insights into how Islamic ethical values can be maintained and rearticulated in the midst of evolving digital cultures and consumer behavior. [Perkembangan teknologi dan perubahan pola konsumsi telah memengaruhi secara signifikan praktik living hadith di kalangan masyarakat Banjar di Palangka Raya, khususnya pada Generasi Z. Penelitian ini mengkaji bagaimana generasi ini menginterpretasikan dan menerapkan nilai-nilai kenabian dalam praktik akad jual beli di lingkungan digital. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian mengungkapkan lima transformasi utama: pergeseran dari akad verbal ke ekspresi sosial umum; dari dialog religius ke tindakan fungsional; dari ruang transaksi simbolik ke platform digital; ketegangan antara konteks tradisional dan modern; serta munculnya kesadaran simbolik yang terfragmentasi. Studi ini memberikan kontribusi konseptual terhadap kajian living hadith dengan menyoroti adaptasinya dalam praktik ekonomi kontemporer. Selain itu, penelitian ini menawarkan wawasan penting mengenai upaya pelestarian dan artikulasi ulang nilai-nilai etika Islam di tengah budaya digital dan perilaku konsumtif yang terus berkembang.]
RELIGIOUS MODERATION IN WATER USE PRACTICES BASED ON BULUGH AL-MARAM AT SALAF ISLAMIC BOARDING SCHOOLS: A Study of Living Hadith Nurudin, Muhamad; Saerozi, Ahmad; Rochmah, Zahrotur
RIWAYAH Vol 8, No 2 (2022): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v9i2.36208

Abstract

This study is motivated by the increasing urgency of religious moderation in a plural society amid the growing crisis of water resources, particularly within Islamic boarding schools (pesantren). Bulugh al-Maram, as a primary reference for hadith ahkam studied in pesantren, holds significant potential for fostering values of moderation, especially through hadiths regulating proportional and efficient water use. However, a purely textual understanding of certain hadiths may also lead to rigid or even radical attitudes if not properly contextualized. Therefore, this research aims to examine the values of religious moderation embedded in the hadiths on water usage in Bulugh al-Maram and their implementation in Salaf pesantren along the northern coast of Java. This study employs a qualitative research method using both library and field approaches within the framework of living hadith studies. Hermeneutic analysis is applied to interpret the hadith texts, while field data are collected through observations and interviews conducted in several Salaf pesantren in Kudus and its surrounding areas. The findings reveal that Bulugh al-Maram contains numerous hadiths that promote moderate religious attitudes, such as prohibitions against excessive water use (israf), flexibility in purification practices, and recognition of diversity in ritual observance. These values are reflected in pesantren practices, including water-saving behaviors, the use of tayammum when appropriate, and tolerant attitudes toward differences among Islamic legal schools. This study recommends strengthening contextual approaches to hadith understanding through living hadith studies so that the values of religious moderation can be more effectively internalized, while simultaneously contributing to water resource conservation and the promotion of social harmony within pesantren communities.  [Penelitian ini dilatarbelakangi oleh semakin menguatnya urgensi moderasi beragama di tengah masyarakat plural serta krisis energi air yang kian mengkhawatirkan, khususnya di lingkungan pesantren. Kitab Bulugh al-Maram sebagai rujukan utama hadis-hadis ahkam di pesantren memiliki potensi besar dalam menanamkan nilai moderasi, terutama melalui hadis-hadis yang mengatur penggunaan air secara proporsional dan efisien. Namun, pemahaman tekstual terhadap hadis-hadis tertentu juga berpotensi melahirkan sikap kaku bahkan radikal jika tidak dikontekstualisasikan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengkaji nilai-nilai moderasi beragama dalam hadis penggunaan air dalam Bulugh al-Maram serta implementasinya di pesantren salaf di wilayah Pantura Jawa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan dan lapangan (living hadis). Analisis hermeneutik digunakan untuk menafsirkan teks hadis, sementara data lapangan diperoleh melalui observasi dan wawancara di beberapa pesantren salaf di Kudus dan sekitarnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bulugh al-Maram memuat hadis-hadis yang mendorong sikap moderat, seperti larangan israf dalam penggunaan air, fleksibilitas dalam bersuci, serta pengakuan terhadap keragaman praktik ibadah. Implementasi nilai-nilai tersebut tampak dalam praktik penghematan air, pemanfaatan tayamum, serta sikap toleran terhadap perbedaan mazhab di pesantren. Penelitian ini merekomendasikan perlunya penguatan pemahaman kontekstual hadis melalui kajian living hadis agar nilai moderasi beragama dapat terinternalisasi secara lebih efektif, sekaligus berkontribusi pada upaya konservasi sumber daya air dan penguatan harmoni sosial di lingkungan pesantren]