cover
Contact Name
Sofyan Musyabiq Wijaya
Contact Email
obiqwijaya@gmail.com
Phone
+6281559678993
Journal Mail Official
jkunila@gmail.com
Editorial Address
Jl Prof.Dr.Soemantri Brojonegoro No 1 , Bandar Lampung, Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
JK Unila (Jurnal Kedokteran Universitas Lampung)
Published by Universitas Lampung
ISSN : 25273612     EISSN : 26146991     DOI : 10.23960/jku
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung (JK Unila) is a journal of scientific publications published every six months using a peer review system for article selection. Jurnal Kedokteran Universitas Lampung (JK Unila) can receive original research articles relevant to medicine and health, meta-analysis , case reports and medical science update.
Articles 294 Documents
Orbital Apex Syndrome in an Uncontrolled Diabetes Mellitus Patient: Case Report Rahayu, Astriani
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 9 No. 2 (2025): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v9i2.pp122-126

Abstract

Introduction: Orbital apex syndrome (OAS) is a complex neurological disorder characterized by a constellation of multiple dysfunctions of cranial nerves II, III, IV, V1, and VI, typically resulting from pathologies affecting adjacent structures, such as the orbit and paranasal sinuses. Early recognition and appropriate treatment are essential due to its potentially rapid progression and risk of permanent vision loss. Case Report: A 63-year-old male with uncontrolled diabetes mellitus, hypertension, and gout arthritis who presented with left periorbital pain, swelling, redness, followed by vision loss and ophthalmoplegia. Clinical examination showed no light perception, severe ptosis, proptosis, decreased corneal sensation, and a relative afferent pupillary defect (RAPD) in the left eye. Laboratory investigations showed leukocytosis and an elevated HbA1c (12%). A brain CT scan demonstrated opacification of the left ethmoid and sphenoid sinuses and enhancement at the left orbital apex. Based on clinical, radiologic, and laboratory findings, the patient was diagnosed with orbital apex syndrome secondary to ethmoid and sphenoid sinusitis. Discussion: The clinical presentation and imaging findings indicated orbital apex syndrome resulting from the contiguous spread of bacterial sinusitis in an immunocompromised host, such as those with uncontrolled diabetes. Uncontrolled diabetes likely contributed to the rapid progression. Early diagnosis and identification of the underlying causes are essential for initiating targeted therapy, including antibiotics and supportive care. Conclusion: OAS secondary to sinusitis should be considered in patients presenting with painful ophthalmoplegia and visual impairment, particularly those with poorly controlled diabetes. Early recognition and intervention are crucial for improving outcomes. Keyword: orbital apex syndrome, ophthalmoplegia, sinusitis, cranial neuropathy, vision loss
Penggunaan Finerenone pada Tatalaksana Penyakit Ginjal Kronik dengan Komorbiditas Diabetes Melitus Tipe 2: Sebuah Tinjauan Pustaka Sidik, Faizah Zahrah; Kurniawaty, Evi; Rohman, Miftahur; Mustofa, Syazili
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 9 No. 2 (2025): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v9i2.pp127-132

Abstract

Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan kelainan struktural atau fungsional ginjal yang berlangsung lebih dari tiga bulan dan memiliki implikasi terhadap kesehatan. Salah satu faktor risiko utama PGK adalah diabetes melitus tipe 2, di mana hiperglikemia kronik menyebabkan aktivasi sistem renin–angiotensin–aldosteron (RAAS), stres oksidatif, inflamasi, dan fibrosis yang berujung pada penurunan fungsi ginjal progresif. Meskipun terapi konvensional berbasis penghambatan RAAS telah menjadi standar tatalaksana, risiko progresivitas PGK dan kejadian kardiovaskular tetap tinggi. Finerenone, antagonis reseptor mineralokortikoid (MRA) nonsteroid selektif, menunjukkan manfaat klinis yang signifikan melalui efek renoprotektif dan kardioprotektif tanpa peningkatan bermakna terhadap risiko efek samping berat. Berdasarkan hasil berbagai uji klinis besar seperti FIDELIO-DKD, FIGARO-DKD, dan analisis gabungannya (FIDELITY), finerenone terbukti menurunkan risiko penurunan laju filtrasi glomerulus terestimasi (eGFR), gagal ginjal terminal, serta kejadian kardiovaskular mayor seperti infark miokard nonfatal dan gagal jantung. Efek terapeutik ini bersifat konsisten pada berbagai kelompok pasien, termasuk mereka yang menggunakan inhibitor SGLT2, serta independen terhadap kontrol glikemik dan resistensi insulin. Walaupun terdapat peningkatan risiko hiperkalemia, kejadian tersebut umumnya ringan, dapat diprediksi, dan dapat dikelola melalui pemantauan kadar kalium secara berkala. Dengan demikian, finerenone merupakan terapi tambahan yang efektif dan aman pada pasien PGK dengan diabetes melitus tipe 2, dengan potensi memperlambat progresi penyakit ginjal serta menurunkan risiko kejadian kardiovaskular jangka panjang. Kata kunci: penyakit ginjal kronik, diabetes melitus, finerenone
Manajemen Penyakit Kardiovaskular pada Populasi Octogenarian: Tinjauan Sistematis Laksono, Sidhi; Widyani, Wella
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 9 No. 2 (2025): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v9i2.pp133-141

Abstract

Peningkatan angka harapan hidup global telah memperbesar populasi usia ≥80 tahun (octogenarian), yang memiliki prevalensi penyakit kardiovaskular (CVD) tertinggi dan tantangan klinis tersendiri. Kondisi ini berdampak pada efektivitas dan keamanan berbagai strategi terapi pada kelompok usia ini. Tinjauan sistematis ini bertujuan meninjau bukti terbaru mengenai manajemen CVD pada populasi octogenarian, mencakup efektivitas, keamanan, dan luaran klinis berbagai intervensi. Pencarian dilakukan dengan kata kunci ("cardiovascular disease" OR "CVD" OR "heart disease") AND ("management" OR "treatment" OR "therapy" OR "intervention") AND ("octogenarians" OR "≥80 years") pada PubMed dan Scopus untuk artikel berbahasa Inggris tahun 2022–2025. Inklusi ditetapkan dengan kerangka PICO (P: pasien ≥ 80 tahun (octogenarians) dengan CVD; I: strategi manajemen CVD; C: pasien usia lebih muda atau metode intervensi lain; O: efektivitas dan luaran klinis). Artikel dikeluarkan bila akses terbatas atau duplikasi. Dari 484 artikel yang terkumpul, 54 dieliminasi karena pengulangan, 43 bukan artikel original, 360 tidak sesuai PICO, dan 5 memiliki akses terbatas. Dari 22 studi yang dianalisis, diketahui bahwa berbagai strategi manajemen kardiovaskular, baik farmakologis maupun intervensi, umumnya tetap efektif dan aman pada pasien octogenarian bila dilakukan dengan seleksi pasien dan pemantauan yang tepat. Terapi seperti SGLT2 inhibitor, CRT, NOAC, AVR/TAVR, PCI, serta reperfusi terbukti memberikan manfaat klinis bermakna, meskipun risiko komplikasi meningkat pada kondisi tertentu. Manajemen penyakit kardiovaskular pada octogenarian dapat tetap efektif dan aman dengan strategi terapi yang disesuaikan dengan kondisi fungsional, komorbiditas, dan risiko komplikasi pasien. Hal ini menekankan pentingnya pendekatan individual berbasis bukti dalam populasi usia lanjut.
The Growing Burden of Climate Change and Air Pollution on COPD Morbidity and Mortality wibowo, adityo
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 9 No. 2 (2025): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v9i2.pp311-317

Abstract

Chronic obstructive pulmonary disease (COPD) arises from interactions between genetic susceptibility and long-term exposure to harmful particles or gases. While smoking is known as the primary risk factor, environmental and occupational pollutants (particulate matter, biomass smoke, and diesel emissions) significantly contribute to disease development and progression. Climate change further worsens COPD by increasing ambient particulate matter, ground-level ozone, and extreme temperature events. These exposures induce oxidative stress, airway inflammation, mucus hypersecretion, and structural lung injury, leading to accelerated lung function decline and more frequent exacerbations. Extreme heat and cold further increase hospitalization and mortality in COPD patients, while indoor environmental factors driven by air-conditioning use, humidity, and poor ventilation exacerbate the symptoms. These findings highlight the growing impact of environmental pollution and climate change on COPD burden worldwide.
PEMERIKSAAN PENUNJANG UNTUK PENEGAKAN DIAGNOSIS DAN EVALUASI PENGOBATAN EMPIEMA PARU Mustofa, Syazili
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 9 No. 2 (2025): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v9i2.pp142-148

Abstract

Empiema paru merupakan komplikasi yang disebabkan oleh infeksi pleura yang ditandai oleh akumulasi pus akibat proses inflamasi dan respon imun kompleks. Dalam praktik klinis, pemeriksaan biomarker memiliki peran penting dalam membantu diagnosis dini, menentukan tingkat keparahan, serta memantau respons terapi pasien. Biomarker klasik seperti C-reactive protein (CRP), procalcitonin (PCT), dan lactate dehydrogenase (LDH) memiliki nilai diagnostik tinggi dalam membedakan efusi parapneumonik sederhana dan kompleks. Parameter cairan pleura seperti kadar glukosa rendah dan pH <7,2 menandakan aktivitas infeksi aktif yang memerlukan intervensi. Selain itu, biomarker modern seperti presepsin (sCD14-subtype) menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap infeksi bakteri pleura, sedangkan pentraxin-3 (PTX-3), calprotectin, dan neutrophil gelatinase-associated lipocalin (NGAL) menggambarkan aktivitas inflamasi dan kerusakan jaringan pada tingkat lokal. Sitokin proinflamasi seperti interleukin-6 (IL-6), interleukin-8 (IL-8), tumor necrosis factor-alpha (TNF-α), serta enzim matrix metalloproteinase (MMP) turut berperan dalam meningkatkan permeabilitas pleura dan pembentukan pus. Kombinasi antara analisis biomarker sistemik dan lokal dengan temuan klinis dan radiologis meningkatkan akurasi diagnosis, membantu pemilihan terapi yang tepat, serta memberikan penilaian prognosis yang lebih baik. Dengan demikian, pendekatan multimarker yang melibatkan CRP, PCT, presepsin, PTX-3, calprotectin, NGAL, dan mediator inflamasi lain dapat mendukung tata laksana Empiema paru secara lebih individual, komprehensif, dan berbasis bukti ilmiah
Pertusis, Batuk 100 Hari yang Terlupakan: Sebuah Laporan Kasus Arief, Skolastika Faustina Ivana; Saputra, Oktadoni; Kurniawan, Diva Ardhana; Atha, Fidela Anindya
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 9 No. 2 (2025): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v9i2.pp149-155

Abstract

Pertusis atau yang dikenal sebagai batuk rejan merupakan penyakit infeksi saluran napas akut yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Penyakit ini bersifat sangat menular dan ditandai dengan episode batuk paroksismal yang panjang dengan sekret saluran napas yang sangat kental dan disertai respiratory cough. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan bahwa pada tahun 2023 terdapat peningkatan 5,4 kali lipat suspek pertusis dibandingkan tahun sebelumnya dengan sebagian besar kasus terjadi pada bayi berusia di bawah satu tahun (38 %). Seorang anak laki-laki usia 1 tahun 2 bulan datang dengan keluhan batuk berdahak dengan dahak yang sulit dikeluarkan disertai dengan demam yang hilang timbul. Pada pemeriksaan fisik didapatkan konjungtiva tampak anemis dan ronkhi bilateral tanpa wheezing maupun retraksi dinding dada. Pemeriksaan darah didapatkan penurunan kadar hemoglobin, leukositosis, dan trombositosis. Pemeriksaan rontgen thorax menunjukkan gambaran bronkopneumonia dextra. Dilakukan penatalaksanaan berupa antibiotik golongan makrolida yang dikombinasikan dengan antibiotik golongan sefalosporin. Pertusis pada pasien ini disebabkan oleh riwayat penyakit keluarga dengan kakak pasien yang mengalami keluhan serupa. Pertusis adalah kasus yang terlupakan tentang batuk yang berkepanjangan. Setelah pandemi Covid-19, peningkatan kasus pertusis kembali teridentifikasi sehingga tenaga kesehatan perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit ini. Upaya pencegahan pertusis berfokus pada pelaksanaan imunisasi yang efektif dan penguatan surveilans epidemiologis secara berkelanjutan. Kata Kunci: Pertusis pada anak, batuk rejan, batuk 100 hari
Hubungan Kecemasan dengan Kejadian Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) pada Petani suharmanto, suharmantoarman
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 9 No. 2 (2025): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v9i2.pp155-159

Abstract

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) masih menjadi masalah di dunia dan Indonesia yang dapat disebabkan faktor psikologis. Tujuan penelitian ini menganalisis hubungan kecemasan dengan kejadian GERD pada petani. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Lokasi penelitian di Desa Marga Agung Kecamatan Jati Agung Lampung Selatan bulan April-Mei 2025. Pada penelitian ini populasinya adalah seluruh masyarakat di Desa Marga Agung, pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Variabel independen dalam penelitian ini adalah kecemasan dan variabel dependennya adalah kejadian GERD. Alat pengumpul data dalam penelitian menggunakan kuesioner. Analisis data dengan menyajikan persentase dan uji yang digunakan adalah Chi-Square. Sebagian besar responden tidak mengalami kecemasan dan sama dalam proporsi antara tidak dan mengalami GERD. Sebagian besar responden yang tidak GERD adalah responden dengan tidak mengalami kecemasan dan sebagian besar responden yang mengalami GERD adalah responden yang mengalami kecemasan. Tidak ada hubungan antara kecemasan dengan kejadian GERD pada petani. Kata kunci: GERD, kecemasan, petani.
Gambaran Gaya Hidup Petani penderita GERD suharmanto, suharmantoarman
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 9 No. 2 (2025): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v9i2.pp160-164

Abstract

Angka kejadian Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) masih tinggi di dunia dan Indonesia. Kondisi ini dapat disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan gaya hidup pada petani yang mengalami GERD. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Lokasi penelitian di Desa Marga Agung Kecamatan Jati Agung Lampung Selatan bulan April-Mei 2025. Pada penelitian ini populasinya adalah seluruh masyarakat di Desa Marga Agung, pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Variabel penelitian meliputi aktivitas fisik, pola makan, merokok, konsumsi jamu, dan konsumsi alkohol. Alat pengumpul data dalam penelitian menggunakan kuesioner. Analisis data dengan menyajikan persentase masing-masing variabel. Sebagian besar responden adalah berumur 41-60 tahun (46,7%), perempuan (84,4%) dan pendidikan SMA (35,6%). Sebagian besar responden melakukan aktivitas ringan (51,1%), pola makan baik (91,1%), tidak merokok (88,9%), tidak konsumsi jamu (64,4%) dan tidak konsumsi alkohol (100,0%). Kata kunci: gaya hidup, GERD, petani.
MicroRNA sebagai Regulator Regenerasi Jaringan: Tinjauan Literatur Nurfatihah Z, Zahara
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 9 No. 2 (2025): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v9i2.pp165-169

Abstract

Regenerasi jaringan berlangsung melalui rangkaian proses terkoordinasi yang bertujuan mengembalikan fungsi organ. Proses ini bergantung pada pembentukan sel baru, migrasi, regulasi inflamasi, dan penataan ulang matriks. MicroRNA berperan sebagai regulator yang memengaruhi berbagai tahap dalam regenerasi jaringan melalui regulasi ekspresi gen. Tinjauan ini merangkum temuan ilmiah terkait peran microRNA dalam tahap regeneratif dengan menyoroti pengaruhnya pada jalur molekuler. miR-21, miR-221 dan miR-31 berperan dalam peningkatan proliferasi serta migrasi keratinosit melalui penekanan inhibitor sinyal. miR-200b/c-3p diketahui dapat mengatur plastisitas epitelial yang membantu pemulihan lapisan permukaan. Pada fase inflamasi, miR-155 memicu produksi mediator pro-inflamasi, sedangkan miR-146a, miR-223, dan miR-124 menurunkan aktivasi sel imun untuk menjaga kestabilan respon. Keseimbangan inflamasi menjadi faktor penting karena kelebihan mediator pro-inflamasi dapat menghambat tahap regeneratif berikutnya. Pada fase remodeling, kelompok miR-29, miR-27a-3p, miR-133a, miR-30a, dan miR-142-3p menekan aktivasi fibroblas serta deposisi kolagen sehingga pembentukan jaringan parut lebih rendah dan struktur jaringan baru tersusun lebih teratur. Berbagai temuan menunjukkan bahwa microRNA meregulasi beberapa tahap penting dalam proses regenerasi jaringan melalui jalur molekuler yang saling berhubungan. Peran luas tersebut dapat menjadi dasar untuk pengembangan biomarker dan strategi terapetik yang menarget microRNA guna mendukung hasil regenerasi yang lebih baik.
Mitokondria sebagai Penentu Umur Sel: Tinjauan Pustaka Peran mtDNA pada Aging dan Penyakit Degeneratif Handayani, Sri Octa
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol. 9 No. 2 (2025): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jkunila.v9i2.pp170-177

Abstract

Penuaan merupakan proses biologis yang kompleks dan progresif, ditandai oleh penurunan fungsi seluler, hilangnya homeostasis, serta meningkatnya kerentanan terhadap berbagai penyakit degeneratif. Di antara berbagai mekanisme molekuler yang terlibat, mitokondria memegang peran sentral sebagai pengatur umur sel melalui produksi energi, kontrol redoks, sinyal inflamasi, serta mekanisme kematian sel terprogram. DNA mitokondria (mtDNA), yang berada di dalam organel tersebut, memiliki sifat unik seperti tingginya tingkat mutasi, ketiadaan proteksi histon, kedekatan dengan sumber pembentukan ROS, serta keterbatasan sistem perbaikan DNA. Faktor-faktor ini membuat mtDNA sangat rentan mengalami kerusakan dan akumulasi mutasi seiring bertambahnya usia. Akumulasi mutasi mtDNA, variasi jumlah salinan, perubahan heteroplasmi, serta disrupsi dinamika mitokondria berkontribusi terhadap penurunan fungsi rantai transpor elektron, gangguan respirasi seluler, peningkatan stres oksidatif, dan inflamasi kronis tingkat rendah (inflammaging). Konsekuensi ini telah dikaitkan dengan patogenesis berbagai kondisi degeneratif, termasuk penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson, penyakit kardiovaskular akibat kegagalan produksi energi, serta sarkopenia sebagai akibat dari menurunnya biogenesis mitokondria pada jaringan otot rangka. Tinjauan ini merangkum bukti ilmiah terbaru yang menyoroti peran kunci mtDNA dalam proses penuaan dan perkembangan penyakit degeneratif, serta menekankan pentingnya intervensi berbasis mitokondria sebagai strategi potensial untuk memperlambat penuaan dan meningkatkan kesehatan pada usia lanjut.