cover
Contact Name
Nuraida
Contact Email
wpaj@unsub.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
wpaj@unsub.ac.id
Editorial Address
Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Subang, Jl RA Kartini No 01, KM 3 Subang, Jawa Barat
Location
Kab. subang,
Jawa barat
INDONESIA
The World of Public Administration Journal
Published by Universitas Subang
ISSN : 27222225     EISSN : 27222233     DOI : https://doi.org/10.37950/wpaj
Core Subject : Social,
The World of Public Administration Journal is a scientific journal that publishes original articles on the latest knowledge, research or applied research and other developments in the fields of Government, Pubic Policy, political institutions, politics, village governance, collaborative government, social participation and empowerment, social development and welfare, ecology, sociology, politics and government public administration, public goods, leadership. Since 2019 this journal has been published routinely twice a year (June and December).
Articles 80 Documents
Inovasi Kebijakan Publik dalam Pengendalian Karhutla di Papua Selatan: Sinergi Pemerintah, Komunitas Adat, dan Teknologi Rianto, Jujuk; Syahruddin, Syahruddin; Tjilen, Alexander Phuk
The World of Public Administration Journal Volume 7 Issue 2, Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/wpaj.v7i2.2438

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model kebijakan publik inovatif yang mengintegrasikan teknologi deteksi dini, penguatan kelembagaan, dan kearifan lokal masyarakat adat guna meningkatkan efektivitas pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua Selatan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berorientasi analisis kebijakan publik, penelitian ini menggali interaksi kompleks antara aktor pemerintahan, komunitas adat, dan sistem teknologi dalam tata kelola karhutla daerah. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan analisis dokumen, melibatkan pemangku kepentingan kunci seperti pejabat pemerintah, petugas pemadam, tokoh adat, operator teknologi, dan lembaga swadaya lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya pengendalian karhutla masih terhambat oleh lemahnya integrasi teknologi, koordinasi kelembagaan yang terfragmentasi, serta belum optimalnya pengakuan dan pemanfaatan kearifan lokal dalam kebijakan formal. Meskipun perangkat pemantauan seperti sistem informasi geospasial telah tersedia, efektivitasnya terbatas akibat keterlambatan akses data dan respons operasional yang tidak terstruktur. Di sisi lain, praktik adat yang memiliki nilai ekologis tinggi belum terdokumentasi dan belum masuk dalam sistem pencegahan resmi. Penelitian ini menyimpulkan perlunya model kebijakan yang lebih adaptif, inklusif, dan berkelanjutan untuk menjembatani berbagai kesenjangan tersebut. Model terintegrasi yang diusulkan diharapkan mampu memperkuat pencegahan, meningkatkan sinergi multiaktor, serta memperkuat ketangguhan tata kelola karhutla di Papua Selatan. Kata kunci:  Kebijakan Publik; Pengendalian Karhutla; Kearifan Lokal; Teknologi Deteksi; Sinergi Kelembagaan Abstract This study aims to formulate an innovative public policy model that integrates early detection technology, institutional strengthening, and indigenous local wisdom to enhance the effectiveness of forest and land fire (karhutla) management in South Papua. Using a descriptive qualitative approach with a public policy analysis orientation, the research explores the complex interactions among governmental actors, indigenous communities, and technological systems within the regional karhutla governance framework. Data were collected through in-depth interviews, field observations, and document analysis, involving key stakeholders such as government officials, firefighting personnel, indigenous leaders, technology operators, and environmental NGOs. The findings reveal that current karhutla control efforts remain constrained by weak technological integration, fragmented institutional coordination, and insufficient incorporation of indigenous ecological knowledge into formal policies. Although technological tools such as geospatial monitoring systems are available, their impact is limited by delayed data access and unstructured operational responses. At the same time, indigenous practices that support ecological balance are not yet systematically recognized or digitized within the policy system. The study concludes that a more adaptive, inclusive, and sustainable model is needed to bridge these gaps. The proposed integrated policy model is expected to strengthen preventive measures, improve multi-actor synergy, and enhance the overall resilience of South Papua’s karhutla governance. Keywords: Public Policy; Forest and Land Fire Control; Local Wisdom; Detection Technology; Institutional Synergy
Sinergi Kebijakan Publik dan Manajemen Pelayanan dalam Meningkatkan Kualitas Pencatatan Nikah di KUA Kabupaten Merauke Iswanda, Nur; Syahruddin, Syahruddin; Ririhena, Samel W
The World of Public Administration Journal Volume 7 Issue 2, Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/wpaj.v7i2.2439

Abstract

Abstrak  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sinergi antara kebijakan publik dan manajemen pelayanan dalam meningkatkan kualitas pencatatan nikah di Kantor Urusan Agama (KUA) Kabupaten Merauke. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan desain studi kasus, penelitian ini melibatkan kepala KUA, petugas pencatatan nikah, staf administrasi, tokoh masyarakat adat, serta pasangan yang menerima layanan sebagai informan utama. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan dokumentasi terkait regulasi, prosedur, dan praktik pelayanan. Analisis data dilakukan secara tematik untuk mengidentifikasi faktor pendukung, penghambat, dan mekanisme sinergi antara kebijakan publik dan manajemen pelayanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi regulasi nasional, seperti UU Perkawinan dan Peraturan Menteri Agama terkait pencatatan pernikahan, dapat berjalan efektif apabila diterjemahkan ke dalam praktik pelayanan yang adaptif terhadap kondisi geografis, sosial, dan budaya masyarakat Merauke. Faktor pendukung meliputi digitalisasi administrasi, pelatihan SDM, koordinasi internal, serta keterlibatan tokoh masyarakat adat, sementara faktor penghambat utama adalah keterbatasan infrastruktur, jarak antar wilayah, dan perbedaan persepsi budaya. Penelitian ini menghasilkan model sinergi kebijakan publik manajemen pelayanan yang dapat dijadikan referensi untuk pengembangan kebijakan nasional dan peningkatan mutu pelayanan di daerah terpencil.  Kata Kunci: Kebijakan Publik; Manajemen Pelayanan; Pencatatan Nikah; KUA Merauke; Sinergi Kebijakan  Abstract  This study aims to analyze the synergy between public policy and service management in improving the quality of marriage registration at the Merauke Regency Religious Affairs Office (KUA). Using a qualitative approach and a case study design, this study involved the head of the KUA, marriage registration officers, administrative staff, indigenous community leaders, and couples receiving services as key informants. Data were collected through in-depth interviews, direct observation, and documentation related to regulations, procedures, and service practices. Data analysis was conducted thematically to identify supporting factors, obstacles, and mechanisms for synergy between public policy and service management. The results indicate that the implementation of national regulations, such as the Marriage Law and the Minister of Religious Affairs Regulation concerning marriage registration, can be effective if translated into service practices that adapt to the geographical, social, and cultural conditions of the Merauke community. Supporting factors include administrative digitization, human resource training, internal coordination, and the involvement of indigenous community leaders. While the main inhibiting factors are limited infrastructure, distance between regions, and differences in cultural perceptions. This study produces a synergy model for public policy and service management that can serve as a reference for developing national policies and improving service quality in remote areas.  Keywords: Public Policy; Service Management; Marriage Registration; Merauke Office of Religious Affairs; Policy Synergy 
Kebijakan Informasi Pasar Kerja di Kabupaten Subang Hirawan, Zaenal; Fitriani, Dini Rizki; Haniati, Hera
The World of Public Administration Journal Volume 7 Issue 2, Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/wpaj.v7i2.2533

Abstract

Abstract Job market information (IPK) is one of the needs of the community, especially the workforce, in obtaining job opportunities. Public accessibility to this information is crucial, and the government plays a key role in facilitating this policy. This research focuses on the social and economic conditions of the community, which are crucial elements in supporting the implementation of labor market information policies. The results indicate that labor market information has not been able to reduce the unemployment rate in Subang Regency, as evidenced by the highly fluctuating unemployment figures. The government is working to provide the Subang Job Center platform, hoping to increase community participation in the workforce, although this information requires specific education and skills. The government acts as a facilitator between the community and the business world, ensuring the clarity of the information provided. Consistency of information provided by implementers to the public is also key to the success of labor market information policies. Educational support can also influence the types of job openings available. However, the relatively high poverty rate is also an equally important factor in labor force participation in Subang Regency. Keywords: policy implementation, labor job market information   Abstrak Informasi pasar kerja (IPK) merupakan salah satu kebutuhan dari masyarakat terutama angkatan kerja dalam memperoleh kesempatan kerja. Tentunya aksesibilitas masyarakat terhadap informasi tersebut menjadi hal penting dan pemerintah menjadi salah fasilitator dalam kebijakan tersebut. Penelitian ini berfokus pada kondisi sosial, ekonomi masyarakat yang menjadi salah satu elemen penting dalam mendukung terwujudnya kebijakan informasi pasar kerja. Hasil penelitian menunjukan bahwa informasi pasar kerja belum dapat menurunkan tingkat pengangguran di Kabupaten Subang, terlihat dari jumlah pengangguran yang sangat fluktuatif. Pemerintah berupaya dengan menyediakan flatform Subang Job center diharapkan partisipasi masyarakat dalam angkatan kerja semakin meningkat, walaupun informasi tersebut mempunyai kriteria pendidikan dan keahlian tertentu. Pemerintah bertindak sebagai fasilitator antara masyarakat dengan dunia usaha, sehingga pemerintah juga memastikan informasi yang disampaikan benar-benar jelas. Konsistensi informasi yang disampaikan oleh pelaksana kepada masyarakat juga menjadi kunci dalam keberhasilan kebijakan informasi pasar kerja. Daya dukung tingkat pendidikan juga dapat menjangkau jenis lowongan pekerjaan yang dapat disediakan. Namun tingkat kemiskinan yang cukup tinggi juga menjadi salah satu faktor yang tidak kalah pentingnya dalam partisipasi angkatan kerja di Kabupaten Subang Kata Kunci: implementasi kebijakan, informasi pasar kerja
Konstruksi Masalah dan Kesenjangan Implementasi Kebijakan Pangan: Studi Kasus Beras Oplosan di Indonesia Silahudin, Silahudin; Basuni, Akhmad; Soleh, Soleh
The World of Public Administration Journal Volume 7 Issue 2, Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/wpaj.v7i2.2535

Abstract

AbstractThe phenomenon of adulterated rice, uncovered through investigations by the Ministry of Agriculture and mass media, reveals a crisis in Indonesia’s food distribution and regulatory systems. This study aims to examine how the issue of rice adulteration is constructed as a public problem and to identify gaps in the implementation of national food policy. Using a qualitative approach and media content analysis, the article finds that weak quality control, ambiguous labeling standards, and poor law enforcement have enabled irresponsible economic actors to dominate the market. These findings reflect a failure in food distribution governance and the absence of state accountability in ensuring food justice. The article recommends reforming food labeling systems, strengthening the capacity of regulatory institutions, and involving civil society in distribution oversight.   Keywords: Adulterated Rice, Food Policy, Policy Sociology, Problem Construction, Distribution Inequality, Governance   AbstrakFenomena beras oplosan yang terungkap melalui investigasi Kementerian Pertanian dan media massa memperlihatkan realitas krisis dalam sistem distribusi dan pengawasan pangan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana kasus beras oplosan dikonstruksi sebagai masalah publik serta mengidentifikasi kesenjangan dalam implementasi kebijakan pangan nasional. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan analisis konten media, artikel ini mengungkap bahwa lemahnya pengawasan mutu, ketidakjelasan standar pelabelan, dan lemahnya penegakan hukum telah menciptakan ruang dominasi pasar oleh aktor-aktor ekonomi yang tidak bertanggung jawab. Temuan ini merefleksikan kegagalan tata kelola distribusi pangan dan ketidakhadiran negara dalam menjamin keadilan pangan. Artikel ini menyarankan perlunya reformasi sistem pelabelan pangan, penguatan kapasitas institusi pengawas, serta pelibatan masyarakat sipil dalam pengawasan distribusi.   Kata kunci: Beras Oplosan, Kebijakan Pangan, Sosiologi Kebijakan, Konstruksi Masalah, Ketimpangan Distribusi, Governance
Komunikasi Kebijakan Dalam Pengelolaan Sampah Studi Kasus Implementasi Retribusi Pelayanan Persampahan di Kabupaten Bandung Hadisutisna, Soleh; Munggaran, Nantia Rena Dewi; Basuni, Akhmad
The World of Public Administration Journal Volume 7 Issue 2, Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/wpaj.v7i2.2536

Abstract

 Abstract Waste management is a major challenge in urban areas in Indonesia, including Bandung Regency. Waste management is a shared responsibility of all levels of society and the local government. Waste management services are a regional government responsibility, and their implementation requires costs and budgets, not all of which can be funded by the local government. Public contributions are essential to financing waste management through the payment of waste service fees. This study aims to analyze how policy communication between local governments and the public influences the successful implementation of waste service fees. Using a sociology of communication approach and qualitative analysis methods, this article examines the role of communication in mediating the interests of the state and citizens. The study's results indicate that participatory, adaptive, and education-based communication is key to building legitimacy and citizen compliance with waste levy policies.   Keywords: policy communication, garbage collection fees   Abstrak Pengelolaan sampah menjadi tantangan besar di wilayah urban Indonesia, termasuk Kabupaten Bandung. Masalah persampahan menjadi tanggung jawab bersama dari seluruh lapisan masyarakat dan Pemerintah Daerah. Pelayanan persampahan merupakan tugas Pemerintah Daerah yang dalam pelaksanaannya membutuhkan biaya dan anggaran yang tidak semua pembiayaannya dapat didanai oleh Pemerintah Daerah. Kontribusi masyarakat diperlukan dalam pembiayaan pengelolaan sampah ini melalui pembayaran retribusi pelayanan persampahan. Studi ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana komunikasi kebijakan antara pemerintah daerah dan masyarakat mempengaruhi keberhasilan implementasi retribusi pelayanan persampahan. Menggunakan pendekatan sosiologi komunikasi dan metode analisis kualitatif terhadap dokumen Background Study Peraturan Bupati No. 288 Tahun 2023 Tentang Tata Cara Pemungutan Retribusi Daerah, artikel ini mengkaji peran komunikasi dalam memediasi kepentingan negara dan warga. Hasil kajian menunjukkan bahwa komunikasi yang bersifat partisipatif, adaptif, dan berbasis edukasi menjadi kunci dalam membangun legitimasi dan kepatuhan warga terhadap kebijakan retribusi sampah.   Kata Kunci: komunikasi kebijakan, retribusi sampah  
Model Collaborative Governance Dalam Pengelolaan Dan Pengembangan Ekosistem Pelabuhan Patimban Di Kabupaten Subang Andani, Diah
The World of Public Administration Journal Volume 7 Issue 2, Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/wpaj.v7i2.2537

Abstract

Abstract The Patimban Port in Subang Regency is a national strategic project that plays a crucial role in supporting logistics development and industrialization within the Rebana Region. However, the complexity of actors and overlapping cross-sectoral authorities requires a collaborative governance approach in managing the port ecosystem. This study aims to analyze the dynamics of collaborative governance in the management and development of the Patimban Port ecosystem and to formulate a collaboration model that aligns with the characteristics of multi-level governance in the region. The research employs a qualitative approach with a case study design through in-depth interviews, field observations, and document analysis of national and regional policies. Thematic analysis was conducted with reference to the collaborative governance model proposed by Ansell and Gash. The findings indicate that inter-agency collaboration has not functioned effectively due to unequal starting conditions between the central and local governments, fragmented institutional design, limited facilitative leadership capacity at the local level, and dialogic processes that are more informative than deliberative. Power asymmetries, the absence of formal collaborative platforms, and low participation from coastal communities further exacerbate the gap between national policy directions and local needs. Based on these findings, this study develops the Patimban Collaborative Governance Model, emphasizing three main pillars: establishing cross-actor collaboration platforms, strengthening facilitative leadership of local governments, and creating structured participatory mechanisms for affected communities. This study contributes to the development of collaborative governance concepts in the context of strategic infrastructure and provides practical recommendations for national, provincial, and Subang Regency governments in building a more inclusive, adaptive, and sustainable port governance system. Keywords:  Collaborative Governance   Abstrak Pelabuhan Patimban di Kabupaten Subang merupakan proyek strategis nasional yang berperan penting dalam pengembangan logistik dan industrialisasi Kawasan Rebana. Namun, kompleksitas aktor dan tumpang tindih kewenangan lintas sektor membuat pengelolaan ekosistem pelabuhan memerlukan pendekatan tata kelola yang kolaboratif. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika collaborative governance dalam pengelolaan dan pengembangan ekosistem Pelabuhan Patimban serta merumuskan model kolaborasi yang sesuai dengan karakter tata kelola multi-level di wilayah tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan studi dokumentasi terhadap kebijakan pusat dan daerah. Analisis dilakukan secara tematik dengan merujuk pada model collaborative governance Ansell dan Gash. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi antarlembaga belum berjalan efektif karena adanya ketidakseimbangan starting conditions antara pemerintah pusat dan daerah, desain kelembagaan yang terfragmentasi, terbatasnya kapasitas kepemimpinan fasilitatif di tingkat daerah, serta proses dialog yang lebih bersifat informatif daripada deliberatif. Ketimpangan kewenangan, minimnya platform kolaborasi formal, dan rendahnya partisipasi masyarakat pesisir memperkuat gap antara arah kebijakan pusat dan kebutuhan lokal. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengembangkan Model Collaborative Governance Patimban yang menekankan tiga pilar utama: pembentukan platform kolaborasi lintas aktor, penguatan kepemimpinan fasilitatif pemerintah daerah, dan mekanisme partisipatif terstruktur untuk masyarakat terdampak. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan konsep collaborative governance dalam konteks infrastruktur strategis serta memberikan rekomendasi praktis bagi pemerintah pusat, provinsi, dan Kabupaten Subang dalam membangun tata kelola pelabuhan yang lebih inklusif, adaptif, dan berkelanjutan. Katakunci: Collaborative Governance
Model Teoritis Kepercayaan, Persepsi Risiko, dan Kapabilitas Digital Terhadap Adopsi Asuransi Mikro UMKM di Jawa Barat: Sebuah Kajian Literatur Sistematis Hidayat, Rachmad; Nidar, Sulaeman Rahman
The World of Public Administration Journal Volume 7 Issue 2, Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/wpaj.v7i2.2539

Abstract

Abstrak Artikel ini mengembangkan model teoritis yang menganalisis hubungan antara kepercayaan, persepsi risiko, dan kapabilitas digital dalam adopsi asuransi mikro oleh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Jawa Barat. Berdasarkan kajian literatur sistematis yang merujuk pada 60 artikel terindeks Scopus periode 2014–2025, serta sumber nasional dan internasional lainnya. Faktor-faktor tersebut dieksplorasi untuk mengidentifikasi pengaruhnya terhadap keputusan adopsi. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan pendekatan PRISMA, yang mencakup penyaringan dari 2.341 artikel awal menjadi 60 artikel final. Hasil menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap penyedia asuransi dan teknologi digital menjadi pendorong utama, sementara persepsi risiko tinggi—termasuk ketidakpastian klaim dan ketidaksesuaian produk—menghambat adopsi. Kapabilitas digital UMKM, seperti akses internet dan literasi teknologi, berperan krusial dalam meningkatkan aksesibilitas produk asuransi mikro, meskipun dibatasi oleh infrastruktur di Jawa Barat. Kajian ini juga mengintegrasikan perspektif ketahanan UMKM, di mana microinsurance berkontribusi pada stabilisasi arus kas dan pemulihan pascabencana, dengan bukti bahwa microinsurance dapat mengurangi kerugian pascabencana hingga 40% di negara berkembang. Rekomendasi mencakup peningkatan literasi finansial-digital, desain produk adaptif, dan kolaborasi dengan modal sosial untuk mendukung inklusi keuangan. Penelitian ini memberikan kontribusi bagi kebijakan di Jawa Barat guna memperkuat ketahanan ekonomi UMKM pasca-pandemi COVID-19.   Kata Kunci: Kepercayaan, Persepsi Risiko, Kapabilitas Digital, Asuransi Mikro, UMKM, Ketahanan Bisnis   Abstract This article develops a theoretical model that analyzes the relationship between trust, risk perception, and digital capabilities in the adoption of microinsurance by Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) in West Java. Based on a systematic literature review referring to 60 Scopus-indexed articles from 2014 to 2025, as well as other national and international sources. These factors are explored to identify their influence on adoption decisions. The method used is a Systematic Literature Review (SLR) with a PRISMA approach, which includes screening 2,341 initial articles down to 60 final articles. The results show that trust in insurance providers and digital technology are the main drivers, while high risk perceptions—including claim uncertainty and product mismatch—hinder adoption. The digital capabilities of MSMEs, such as internet access and technological literacy, play a crucial role in increasing the accessibility of microinsurance products, although they are limited by infrastructure in West Java. This study also integrates the perspective of SME resilience, where microinsurance contributes to cash flow stabilization and post-disaster recovery, with evidence that microinsurance can reduce post-disaster losses by up to 40% in developing countries. Recommendations include improving digital financial literacy, adaptive product design, and collaboration with social capital to support financial inclusion. This study contributes to policy-making in West Java to strengthen the economic resilience of MSMEs after the COVID-19 pandemic.   Keywords: Trust, Risk Perception, Digital Capability, Microinsurance, MSMEs, Business Resilience
Tinjauan Literatur: Peran Kualitas Pelayanan dan Kualitas Produk/Jasa Dalam Meningkatkan Loyalitas Peserta BPJS Kesehatan di Fasilitas Kesehatan Andrianto, Charles; Hilmiana, Hilmiana; Nidar, Sulaeman Rahman
The World of Public Administration Journal Volume 7 Issue 2, Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/wpaj.v7i2.2540

Abstract

Abstrak Kualitas pelayanan dan kualitas produk/jasa merupakan dua komponen fundamental yang memengaruhi tingkat kepuasan dan loyalitas pelanggan dalam berbagai sektor layanan publik, termasuk program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan. Di tingkat fasilitas kesehatan, khususnya klinik kesehatan, peningkatan kualitas pelayanan dan mutu layanan medis menjadi faktor krusial dalam memastikan pengalaman positif peserta. Artikel ini bertujuan untuk meninjau secara komprehensif literatur terbaru (2019–2024) mengenai peran kualitas pelayanan dan kualitas produk/jasa dalam meningkatkan loyalitas peserta BPJS Kesehatan dengan kepuasan peserta sebagai variabel mediasi. Metode yang digunakan adalah systematic literature review dengan pendekatan PRISMA, melibatkan 30–50 artikel ilmiah yang disaring berdasarkan kriteria inklusi–eksklusi yang relevan. Hasil tinjauan menunjukkan bahwa kualitas pelayanan yang mencakup keandalan, keamanan, kecepatan, jaminan, empati, serta kualitas produk/jasa kesehatan seperti ketersediaan fasilitas, kompetensi tenaga medis, dan ketepatan prosedur layanan, memiliki pengaruh kuat terhadap kepuasan dan loyalitas peserta. Kepuasan terbukti bertindak sebagai mediator signifikan yang menghubungkan kualitas layanan dengan loyalitas. Temuan ini memiliki implikasi praktis penting bagi klinik kesehatan dalam meningkatkan kualitas layanan berbasis evidence. Di akhir artikel, disusun rekomendasi strategis untuk meningkatkan loyalitas peserta BPJS Kesehatan melalui penguatan kualitas layanan secara menyeluruh.   Kata Kunci: kualitas pelayanan, kualitas produk/jasa, kepuasan peserta, loyalitas, BPJS Kesehatan, klinik kesehatan.       Abstract Service quality and product/service quality are two fundamental components that influence customer satisfaction and loyalty in various public service sectors, including the National Health Insurance (JKN) program administered by BPJS Kesehatan. At the healthcare facility level, particularly in health clinics, improving service quality and medical care are crucial factors in ensuring a positive participant experience. This article aims to comprehensively review the latest literature (2019–2024) on the role of service quality and product/service quality in increasing BPJS Kesehatan participant loyalty, with participant satisfaction as a mediating variable. The method used was a systematic literature review with the PRISMA approach, involving 30–50 scientific articles screened based on relevant inclusion–exclusion criteria. The review results indicate that service quality, including reliability, safety, speed, assurance, empathy, and the quality of health products/services such as the availability of facilities, the competence of medical personnel, and the accuracy of service procedures, have a strong influence on participant satisfaction and loyalty. Satisfaction was shown to act as a significant mediator linking service quality with loyalty. These findings have important practical implications for health clinics in improving the quality of evidence-based services. At the end of the article, strategic recommendations are formulated to increase the loyalty of BPJS Kesehatan participants by strengthening the overall quality of services.   Keywords: service quality, product/service quality, participant satisfaction, loyalty, BPJS Health, health clinic
Implementasi Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) di Kabupaten Subang Nuraida, Nuraida; Sobari, Ahmad; Pathony, Tony; Somantri, Qonita Azmiana
The World of Public Administration Journal Volume 7 Issue 2, Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/wpaj.v7i2.2541

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) di Kabupaten Subang. Program YESS merupakan program strategis pemerintah yang dirancang untuk mendorong regenerasi petani muda dan pengembangan kewirausahaan di sektor pertanian. Namun, dalam pelaksanaannya program ini belum menunjukkan hasil yang optimal. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis implementasi program menggunakan model implementasi kebijakan Jones (1996) yang meliputi tiga dimensi utama, yaitu organisasi, pemahaman, dan penerapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Program YESS di Kabupaten Subang belum optimal. Pada dimensi organisasi, ditemukan permasalahan pada struktur organisasi dan keterbatasan sumber daya manusia, khususnya tingginya tingkat pengunduran diri fasilitator. Pada dimensi pemahaman, program telah disosialisasikan dengan cukup baik kepada pelaksana dan peserta. Namun, pada dimensi penerapan, tingkat partisipasi peserta masih rendah dan capaian target penerima manfaat belum sesuai dengan perencanaan. Oleh karena itu, diperlukan penguatan organisasi, peningkatan komitmen fasilitator, serta strategi penerapan program yang lebih adaptif agar tujuan regenerasi petani muda dapat tercapai secara optimal. Katakunci:  implementasi kebijakan, program YESS, petani muda, kewirausahaan pertanian, Kabupaten Subang.   Abstract This study aims to analyze the implementation of the Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) Program in Subang Regency. The YESS Program is a strategic government initiative designed to encourage the regeneration of young farmers and promote entrepreneurship in the agricultural sector. However, its implementation has not yet achieved optimal results. This study employs a qualitative descriptive approach, with data collected through observation, interviews, and documentation. The analysis is based on Jones’ (1996) policy implementation model, which consists of three dimensions: organization, interpretation, and application. The findings indicate that the implementation of the YESS Program in Subang Regency remains suboptimal. Organizational challenges include inadequate organizational structure and limited human resources, particularly the high resignation rate among facilitators. In terms of interpretation, the program has been sufficiently communicated to both implementers and participants. However, in the application dimension, participant involvement remains low and the achievement of beneficiary targets falls short of expectations. Therefore, strengthening organizational capacity, improving facilitator commitment, and enhancing program application strategies are essential to achieve effective young farmer regeneration. Keywords:  policy implementation, YESS program, young farmers, agricultural entrepreneurship, Subang Regency.
Inovasi Mal Pelayanan Publik (MPP) di Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Subang Rachmat, Iwan Setiawan; Ruchendi, Hani; Rosidi, Didi; Aprilia, Regina
The World of Public Administration Journal Volume 7 Issue 2, Desember 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37950/wpaj.v7i2.2542

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis inovasi Mal Pelayanan Publik (MPP) di Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Subang dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada masih ditemukannya hambatan dalam penyelenggaraan pelayanan, seperti keterlambatan penyelesaian dokumen, keterbatasan integrasi layanan antar instansi, serta belum optimalnya penyampaian informasi kepada masyarakat. Penelitian ini menggunakan teori difusi inovasi Rogers yang mencakup lima karakteristik inovasi, yaitu keunggulan relatif, kesesuaian, kerumitan, dapat diuji coba, dan dapat diamati. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri dari pejabat struktural, operator pelaksana, serta masyarakat pengguna layanan MPP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inovasi MPP di Kabupaten Subang telah berjalan cukup baik, terutama dalam aspek integrasi layanan dan kemudahan akses, namun belum sepenuhnya optimal. Beberapa indikator inovasi belum terpenuhi secara konsisten, khususnya terkait efisiensi waktu pelayanan, kejelasan alur layanan, serta pemanfaatan teknologi dan sumber daya manusia. Penelitian ini merekomendasikan perlunya evaluasi berkala, penguatan koordinasi antar instansi, serta peningkatan kapasitas aparatur guna memastikan keberlanjutan dan efektivitas inovasi pelayanan publik berbasis MPP. Kata kunci: Innovation, Public Service Mall, Public Service, DPMPTSP, Service Effectiveness.