cover
Contact Name
Machrozi Alfian
Contact Email
machrozialfian@student.ub.ac.id
Phone
+6282280000315
Journal Mail Official
machrozialfian@student.ub.ac.id
Editorial Address
Tata Surya Malang
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Hubungan Tingkat Pengetahuan Petugas Pengelola Obat dengan Tingkat Ketersediaan Obat Di Puskesmas Kota Malang
ISSN : -     EISSN : 2461114X     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan petugas pengelola obat dengan tingkat ketersediaan obat di beberapa Puskesmas Kota Malang. Penelitian yang dilakukan merupakan observasional analitik cross sectional. Teknik pengambilan sampel responden adalah dengan total sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner pengetahuan petugas pengelola obat dan lembar pengumpul data tingkat ketersediaan yang dilihat dari data LPLPO
Articles 155 Documents
POTENSI α-MANGOSTIN DARI EKSTRAK PERIKARP MANGGIS (Garcinia mangostana L.) DALAM MENGHAMBAT SEKRESI PROTEIN CULTURE FILTRATE PROTEIN (CFP)-10 PADA Mycobacterium tuberculosis H37Rv Yanura, Alify
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tuberkulosis (TB) merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang memiliki permasalahan Multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB) sehingga dibutuhkan adanya agen baru dalam terapi TB yang tidak memiliki potensi tinggi menyebabkan resistensi. Ekstrak perikarp manggis (Garcinia mangostana L.), dengan kandungan aktif α-mangostin, dapat berfungsi sebagai antituberculosis. Penelitian ini merupakan suatu studi eksperimental laboratorik dengan desain post test yang bertujuan untuk mengetahui potensi α-mangostin ekstrak perikarp manggis dalam menghambat sekresi Culture Filtrate Protein-10 (CFP-10), protein yang berperan dalam virulensi dan patogenisitas M. tuberculosis. Skrining fitokimia menunjukkan ekstrak perikarp manggis memiliki kandungan yakni triterpenoid, tannin, polifenol, saponin, alkaloid dan flavonoid. Kuantifikasi menggunakan metode HPLC MS/MS menunjukkan konsentrasi α-mangostin dalam ekstrak sebesar 5984,55 μg/ml. Ekstrak perikarp manggis dengan berbagai konsentrasi 522,25 μg/ml (mengandung α-mangostin 3,125 μg/ml);1044,5 μg/ml (mengandung α-mangostin 6,25 μg/ml); dan 2089 μg/ml (mengandung α-mangostin 12,5 μg/ml) dipaparkan pada media BD BACTEC MGIT 960 SIRE yang telah diinokulasikan M. tuberculosis. Analisis menggunakan SDS PAGE dengan metode pewarnaan Coomassie blue dan Silver stain menunjukkan bahwa ekstrak perikarp manggis dengan konsentrasi 522,25 μg/ml memiliki pita protein yang paling tipis. Uji spesifisitas dengan metode dot blot dan analisis dengan ImageQuant LAS 500 menunjukkan dan mengindikasikan bahwa ekstrak perikarp manggis dengan konsentrasi 522,25 μg/ml memiliki sinyal pembacaan yang paling rendah. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak perikarp manggis dengan konsentrasi 522,25 μg/ml  memiliki potensi penghambatan sekresi CFP-10 yang paling baik di antara perlakuan lainnya.
Uji Efek Antibakteri Ekstrak Air Bunga Nagasari (Mesua ferrea L.) terhadap Isolat Klinis Escherichia coli Resisten Siprofloksasin Jauhari, Ahmad
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kasus resistensi Escherichia coli terhadap siprofloksasin pada ISK cukup tinggi sehingga mendorong pengembangan antibakteri alternatif. Nagasari telah digunakan secara tradisional untuk mengobati gangguan saluran kemih dan terbukti memiliki aktivitas antibakteri. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi aktivitas antibakteri ekstrak air bunga nagasari terhadap isolat klinis Escherichia coli resisten siprofloksasin secara in vitro berdasarkan nilai KHM. Ekstrak air bunga nagasari yang diperoleh melalui proses perebusan diencerkan dengan konsentrasi (µg/mL): 512, 409, 327, 261, dan 208.  Kontrol positif dan negatif yang digunakan berturut-turut yaitu sefotaksim 3 mg/mL dan aquades proinjeksi. Nilai KHM ditentukan dengan metode difusi sumuran berdasarkan diameter zona hambat. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak air memiliki efek antibakteri terhadap Escherichia coli sensitif siprofloksasin dengan nilai KHM 327 µg/mL, namun pada Escherichia coli resisten siprofloksasin tidak menunjukkan efek antibakteri.
EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN PASCABEDAH APENDISITIS AKUT DI RSUD KABUPATEN PASURUAN TAHUN 2018 (Penelitian dilakukan di Instalasi Rawat Inap RSUD Kabupaten Pasuruan) Wirda, Wirda Anggraini; Wiraningtias, Novia Beta; Inayatilah, Fidia Rizkiah; Indrawijaya, Yen Yen Ari
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Apendisitis akut adalah infeksi yang terjadi di apendiks vermiformis sehingga perlu segera dilakukan apendektomi. Apendektomi termasuk operasi kategori bersih kontaminasi yang memungkinkan terjadinya Infeksi Luka Operasi (ILO). Penggunaan antibiotik pada pasien pascabedah diharapkan untuk mencegah terjadinya infeksi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi profil penggunaan antibiotik dan mengetahui kuantitas serta kualitas penggunaan antibiotik. Penelitian ini menggunakan studi cross sectional yang dilakukan secara retrospektif menggunakan data rekam medis pasien pascabedah apendisitis akut Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Pasuruan periode Januari-Desember 2018. Analisis data yang dilakukan pada penelitian ini secara deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa profil penggunaan antibiotik terapeutik tertinggi untuk monoterapi adalah Sefuroksim (25,81%) dan untuk terapi kombinasi adalah Fosfomisin + Metronidazol (8,06%) dan Seftriakson + Metronidazol (8,06%). Kuantitas penggunaan antibiotik menggunakan metode Anatomical Therapeutic Chemical/ Defined Daily Dose (ATC/DDD) diperoleh nilai DDD total 52,01 DDD/100 patient-days dengan antibiotik tertinggi Metronidazol rute parenteral 14,00 DDD/100 patient-days. Antibiotik yang masuk dalam segmen Drug Utilization (DU) 90% adalah (Metronidazol, Seftriakson, Fosfomisin, Sefuroksim, Gentamisin) dengan rute parenteral. Kualitas penggunaan antibiotik berdasarkan pedoman Infectious Disease Society of America (IDSA) tepat indikasi (11,86%), tepat dosis (52,54%), tepat interval (22,03%), tepat lama pemberian (28,81%) dan tepat rute (96,61%).
Hubungan Tingkat Pengetahuan Dan Ketepatan Penggunaan Obat Simvastatin Pada Pasien Hiperkolesterolemia Di Apotek Kota Malang Hariadini, Ayuk Lawuningtyas
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.pji.2020.005.02.4

Abstract

Simvastatin adalah obat yang harus diperoleh dengan resep dokter. Ketidaktepatan penggunaannya dapat berdampak kesalahan dalam pengobatan dan berisiko menimbulkan reaksi obat yang tidak dikehendaki (ROTD). Penggunaan obat yang tidak tepat salah satunya disebabkan oleh informasi yang tidak lengkap atau tidak benar yang didapatkan pasien dimana akan berpengaruh pada tingkat pengetahuan pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan ketepatan penggunaan obat simvastatin pada pasien hiperkolesterolemia di Apotek Kota Malang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional, pemilihan sampel apotek dilakukan dengan teknik random sampling secara cluster sampling. Untuk pemilihan sampel responden digunakan teknik purposive sampling yaitu dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Pada penelitian ini subyek penelitian berjumlah 100 responden, analisis yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan ketepatan penggunaan obat simvastatin adalah analisis korelasi somers’d. Didapatkan hasil penelitian responden yang memiliki tingkat pengetahuan baik cenderung lebih tepat dalam penggunaan simvastatin (tepat = 51,8%, tidak tepat= 48,2%) dibandingkan dengan responden yang memiliki pengetahuan yang cukup (tepat= 27,3%, tidak tepat= 72,7%) dan kurang(tepat= 16,7%, tidak tepat= 83,3%). Hasil analisis uji somers’d menunjukkan p=0.000 (p<0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan ketepatan penggunaan obat simvastatin dan dari uji somers’d diketahui koefisien korelasi sebesar 0,287 sehingga keeratan hubungan adalah lemah tapi pasti antara tingkat pengetahuan dan ketepatan penggunaan obat simvastatin.Kata kunci :Pengetahuan, Ketepatan, Simvastatin, Hiperkolesterolemia
Pendekatan Struktur Aktivitas dan Penambatan Molekul Senyawa 2-iminoethyl 2-(2-(1-hydroxypentan-2-yl) phenyl)acetate Hasil Isolasi Fungi Endofit Genus Fusarium sp pada Enzim β-ketoasil-ACP KasA Sintase Rollando, Rollando
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fungi endofit dapat memproduksi senyawa yang memiliki aktivitas biologi, diantaranya senyawa flavonoid, alkaloid, fenolik, dan terpenoid. Fungi endofit genus Fusarium sp yang diisolasi dari daun tanaman meniran menghasilkan senyawa 2-iminoethyl 2-(2-(1-hydroxypentan-2-yl) phenyl)acetate yang mempunyai aktivitas dapat menghambat pertumbuhan bakteri Mycobacterium tuberculosis dengan nilai EC50 sebesar 18,98 µM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mekanisme aksi senyawa 2-iminoethyl 2-(2-(1-hydroxypentan-2-yl) phenyl)acetate pada enzim asam siklopropan mikolik sintase dan β-ketoasil-ACP KasA sintase. Enzim asam siklopropan mikolik sintase dan enzim β-ketoasil-ACP KasA sintase memiliki andil yang besar dalam pembentukan asam mikolat, bila aktivitas kedua enzim terhambat maka pembentukan asam mikolat juga akan terhambat sehingga dapat menyebabkan kematian pada bakteri Mycobacterium tuberculosis. Pendekatan dilakukan dengan metode penambatan molekul (molecular docking) dengan didahului optimasi dan validasi metode. Reseptor yang digunakan adalah 2WGE dan 3HEM yang didapat dari Protein Data Bank. Hasil analisis menunjukan senyawa 2-iminoethyl 2-(2-(1-hydroxypentan-2-yl) phenyl)acetate mampu berikatan dengan lebih baik terhadap enzim asam mikolik siklopropan sintase dan enzim β-ketoasil-ACP KasA sintase dibandingkan dengan positif dan native ligand. Dari analsis tersebut disimpulkan bahwa senyawa 2-iminoethyl 2-(2-(1-hydroxypentan-2-yl) phenyl)acetate mampu bertindak sebagai inhibitor enzim asam mikolik siklopropan sintase dan enzim β-ketoasil-ACP KasA sintase pada bakteri Mycobacterium tuberculosis secara in-silico.
Cost - Effectiveness Analysis of Chloramphenicol, Ceftriaxone and Cefixime Use in Pediatric Thypoid Fever Patient (Research Conducted at Karsa Husada Batu Hospital) Ni Made Diah Pramesti Dewi; Ratna Kurnia Illahi; Diana Lyrawati
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol. 5 No. 1 (2019)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Typhoid fever in Indonesia is still high at 1.6% from 0.3% -3%. Typhoid fever can be treated with several alternative of antibiotic therapy that is chloramphenicol, ceftriaxone and cefixime. This research aimed to analyze the cost-effectiveness the usage of chloramphenicol, ceftriaxone and cefixime antibiotic from health care providers perspective. Medical records and direct medical cost for typhoid fever patients aged 6–12 years were analyzed retrospectively from January 2016–December 2018. Samples were 48 patients and used total sampling method. The usage of chloramphenicol, ceftriaxone and cefixime antibiotics are based on length of stay, ie 3–4; 3,125–5; 3,667–6 days. The use of chloramphenicol, ceftriaxone and cefixime antibiotics are based on the duration of fever, ie 1–2; 1,625–3,667; 1-2,667 days. ICER value in Seruni Utama showed that the usage of chloramphenicol required an additional cost of Rp. 91.382,72 to reduce one day of hospitalization compared to cefixime. ICER value in Seruni 1 showed that the usage of chloramphenicol required an additional cost of Rp. 51.018,575 to reduce one day of hospitalization compared to cefixime and Rp. 587.358,81 to reduce one day of fever compared to ceftriaxone. ICER value in Seruni 2 showed that the usage of ceftriaxone required an additional cost of Rp. 118.760,74 to reduce one day of hospitalization and Rp. 374.498,22 to reduce one day of fever compared to cefixime. ICER value in Seruni 3 showed that the usage of chloramphenicol required an additional cost of Rp. 664.304,50 to reduce one day of hospitalization and Rp. 1.650.777,72 to reduce one day of fever compared to cefixime. The usage of chloramphenicol is more cost-effective in Seruni Utama, 1 and 3 and ceftriaxone is more cost-effective in the Seruni 2.
Kejadian Efek Samping Potensial Terapi Obat Anti Diabetes Pada Pasien Diabetes Melitus Berdasarkan Algoritme Naranjo Achmad, Anisyah
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kejadian Efek Samping Potensial Terapi Obat Anti Diabetes Pada Pasien Diabetes Melitus Berdasarkan Algoritme Naranjo  Oleh :Raden Joddy Sutama Putra, Anisyah Achmad, Hananditia Rachma PProgram Studi Farmasi, Jurusan Farmasi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya MalangEmail : achmadanisyah@gmail.com Meningkatnya prevalensi penyakit diabetes melitus di Indonesia menyebabkan peningkatan penggunaan obat anti diabetes yang berpengaruh pada prevalensi kejadian efek samping. Untuk mengkaji efek samping pada penggunaan obat, digunakan Algoritme Naranjo, yang merupakan skala resmi di Indonesia untuk mengukur  potensi efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji potensi efek samping terapi obat anti diabetes pada pasien diabetes melitus rawat jalan di Puskesmas Kota Malang. Penelitian ini sudah lolos kode etik dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Penelitian merupakan observasional dengan metode pengambilan sampel yaitu purposive sampling dan menggunakan Algoritme Naranjo sebagai alat bantu pengukuran potensi efek samping. Penelitian ini dilakukan dengan cara wawancara dan pengisian kuesioner oleh responden sebanyak 69 pasien. Dilakukan penghitungan jumlah skor Algoritme Naranjo dan pencocokan terhadap skala potensi efek samping. Pada hasil penelitian ditemukan efek samping potensial mual pada penggunaan Metformin 18,525 (Definite) dan Glimepiride 13,33% (Definite). Glibenklamid berpotensi menimbulkan efek samping hipoglikemia 15,79% (Definite). Kesimpulan penelitian adalah penggunaan obat anti diabetes dapat menimbulkan efek samping potensial berdasarkan pengukuran Algoritme Naranjo. Kata Kunci: Algoritma Naranjo, efek samping, diabetes melitus.
Probiotic Usage as Therapy on Diabetes Mellitus Type II. A Literature Review Murti, Lendy Nugroho Wisnu
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A B S T R A C TBackground: Type 2 diabetes has turned into a worldwide medical issue. Probiotic as the microorganisms in the intestinal tract has the potential impact to anticipate the improvement of insulin opposition and glycemic control in patients with type 2 diabetes. This literature review focused on the effects, mechanism of action and potential utilization of probiotic in type 2 diabetes. Results: As therapy in type 2 diabetes, probiotic ready to bring down fasting glucose, HbA1C and HOMA-IR percentage or increment insulin levels. Dicussion: The impact of the probiotic agent acquired on type 2 diabetes through the decrease of lipopolisacharide (LPS), increased  short chain fatty acids (SCFA), inhibition of immune response and oxidative stress, increased  glucagon like peptide-1 (GLP-1), secretion of insulinotropic polypeptides, or increased activity of  glucose transporter-4 (GLUT 4). Conclusion: Probiotic can be a choice to keep up insulin sensitivity and anticipate the beginning of hyperglycemia in type 2 diabetes.
Penggunaan NSAID dan Potensi Interaksi Obatnya Pada Pasien Penyakit Muskuloskeletal Di Bandar Lampung Isnenia, Isnenia
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit musculoskeletal ditandai salah satunya dengan rasa nyeri yang bersifat kronis. Terapi utama dalam mengatasi nyeri adalah penggunaan non steroid antiinflamatory drugs (NSAIDs) baik sebagai monoterapi atau kombinasi dengan obat dari golongan yang sama atau penghilang nyeri dari golongan lainnya, seperti kortikosteroid, analgesiok opioid, dan adjuvant. Selain terapi obat yang bersifat simtomatis, diberikan juga obat yang bersifat kausatif. Pemakaian lebih dari satu obat berpotensi menimbulkan interaksi yang dapat mempengaruhi outcome pasien. Penelitian ini bertujuan untuk melihat karakteristik sosiodemografi dan klinis pasien, serta mencari hubungan potensi interaksi obat dengan variable tersebut.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan design cross sectional. Data diambil dari 100 rekam medik pasien pada sebuah rumah sakit tipe C di Bandar Lampung yang terdiagnosa lima besar penyakit muskuloskeletal, yaitu gonarthrosis, radiculopathy, arthritis unspesifik, lower back pain (nyeri punggung bawah), dan myalgia. Data dianalisis secara deskriptif untuk jenis kelamin, usia, jumlah obat, jenis obat, dan potensi interaksi obat. Analisis korelasi bivariate dengan Chi-Square  antara variabel potensi interaksi obat dengan variabel jenis kelamin, usia, jenis diagnosa, jenis NSAID.Hasil penelitian  menunjukkan bahwa pasien musculoskeletal berjenis kelamin laki-laki sebesar 44%, perempuan 56%. Pasien musculoskeletal terbanyak pada usia 18-65 tahun (78%). Pasien yang memperoleh obat < 5 sejumlah 68% dan ≥ 5 sebesar 32%. 54% pasien menggunakan NSAID diklofenak, dan hanya 5% pasien menggunakan kombinasi dua obat NSAID (diklofenak-ibuprofen). 22% pasien berpotensi mengalami interaksi obat. Tidak ada hubungan bermakna (p > 0,05) antara potensi interaksi obat dengan usia, jenis kelamin, jenis NSAID, dan jenis diagnosa.
PENGARUH RASIO KITOSAN DAN ATENOLOL TERHADAP KARAKTERITIK FISIK DAN PROFIL PELEPASAN PADA MIKROSFER ATENOLOL Almiahsari, Ashri; Danimayostu, Adeltrudis Adelsa; Permatasari, Dahlia
Pharmaceutical Journal of Indonesia Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakHipertensi banyak dialami oleh geriatri yang cenderung sulit menelan tablet konvensional, sehingga modifikasi bentuk sediaan fast disintegrating tablet (FDT) diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut. Taste masking merupakan suatu pertimbangan penting dalam merancang formula FDT. Sehingga dikembangkan teknik taste masking dengan metode enkapsulasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengaruh rasio kitosan dan atenolol terhadap diameter ukuran, efisiensi penjerapan, dan profil pelepasan mikrosfer atenolol dengan metode emulsifikasi dan mengetahui formula optimum berdasarkan diameter ukuran, efisiensi penjerapan, dan profil pelepasannya. Formula mikrosfer atenolol dibuat dengan rasio kitosan dan atenolol 1 : 0,5 (FI), 1 : 1 (FII), dan 1 : 1,5 (FIII). Karakterisasi mikrosfer yang dilakukan meliputi sifat alir, ukuran dan distribusi ukuran, efisiensi penjerapan, dan profil pelepasan. Berdasarkan hasil penelitian, efisiensi penjerapan tertinggi ditunjukkan pada FI dengan hasil sebesar 68,46 ± 8,95 % yang berbeda signifikan berdasarkan analisis statistika (p < 0,05). Profil pelepasan yang paling tinggi juga ditunjukkan pada FI yaitu 73,162 ± 4.507 % dalam 30 menit yang berbeda signifikan berdasarkan analisis statistic (p<0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah variasi rasio kitosan dan atenolol tidak berpengaruh signifikan terhadap sifat alir dan diameter ukuran mikrosfer, jumlah kitosan yang lebih tinggi menghasilkan efisiensi penjerapan dan persen pelepasan yang lebih besar, dan formula mikrofer yang menghasilkan karakteristik fisik dan profl pelepasan yang optimum adalah formula dengan rasio kitosan dan atenolol sebesar 1 : 0,5.Kata Kunci : Atenolol, Emulsifikasi, Hipertensi, Kitosan, Taste Masking 

Page 5 of 16 | Total Record : 155