cover
Contact Name
Secretariat of Jurnal Gizi dan Pangan
Contact Email
jgizipangan@gmail.com
Phone
+62251-8621363
Journal Mail Official
jgizipangan@gmail.com
Editorial Address
Department of Community Nutrition, Faculty of Human Ecology, IPB University, Bogor 16680, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Gizi dan Pangan
ISSN : 19781059     EISSN : 24070920     DOI : 10.25182/jgp
Core Subject : Health,
Jurnal Gizi dan Pangan (Journal of Nutrition and Food) merupakan jurnal ilmiah yang memuat berbagai artikel hasil penelitian dan review (atas undangan) tentang gizi dan pangan, yang terkait dengan aspek biokimia, gizi klinik, gizi masyarakat, pangan fungsional, dan sosial ekonomi serta regulasi dan informasi gizi dan pangan. Jurnal ini merupakan publikasi resmi dari Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB dan PERGIZI PANGAN Indonesia yang telah terbit sejak tahun 2006. Penerbitan jurnal ini dilakukan secara teratur setahun 3 kali (bulan Maret, Juli, dan November).
Arjuna Subject : -
Articles 621 Documents
GAYA HIDUP, KONSUMSI PANGAN, DAN HUBUNGANNYA DENGAN TEKANAN DARAH PADA LANSIA ANGGOTA POSBINDU Wulandari, Ruth Ayu; Madanijah, Siti
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 10 No. 2 (2015)
Publisher : The Food and Nutrition Society of Indonesia in collaboration with the Department of Community Nutrition, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.341 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2015.10.2.%p

Abstract

ABSTRACTThe purpose of this study was to determine the relationship of life style and food consumption to blood pressure among elderly in Posbindu Al-Wusto in Bogor District. The study design was cross-sectional study. Subjects were consisted of eight men and 31 women from Posbindu Al-Wusto in Bogor District. The result showed most subject had hypertension (64.1%). There was no significant relationship between life style (smoking, coffee consumption, and exercise) with blood pressure (p>0.05). There was significantly negative relationship between hypertension preventive food (broccoli and sunflower seeds) and hypertension triggering food (crackers and salted fish) with systolic blood pressure (p<0.05). There was significantly positive food high blood pressure induce (boiled fish) with systolic blood pressure (p<0.05).Keywords: blood pressure, elderly, food consumption, life styleABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan gaya hidup dan konsumsi pangan dengan tekanan darah pada lansia di Posbindu Al-Wusto Kabupaten Bogor. Desain penelitian ini adalah cross-sectional. Subjek terdiri atas delapan orang laki-laki dan 31 orang perempuan dari Posbindu Al-Wusto Kabupaten Bogor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar subjek (64,1%) mempunyai hipertensi. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara gaya hidup (merokok, konsumsi kopi, dan olahraga) dengan tekanan darah (p>0,05). Terdapat hubungan signifikan negatif antara pangan pencegah (brokoli dan biji bunga matahari) dan pangan pemicu (crackers dan ikan asin) dengan tekanan darah sistolik (p<0,05). Terdapat hubungan signifikan positif antara pangan pemicu (ikan pindang) dengan tekanan darah sistolik (p<0,05).Kata kunci: gaya hidup, konsumsi pangan, lansia, tekanan darah
PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PRAKTEK GIZI IBU TERKAIT IODIUM DAN PEMILIHAN JENIS GARAM RUMAH TANGGA DI WILAYAH PEGUNUNGAN CIANJUR Amalia, Leily; Permatasari, Inke Indah; Khomsan, Ali; Riyadi, Hadi; Herawati, Tin; Nurdiani, Reisi
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 10 No. 2 (2015)
Publisher : The Food and Nutrition Society of Indonesia in collaboration with the Department of Community Nutrition, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.809 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2015.10.2.%p

Abstract

ABSTRACTThis study was aimed to analyze levels of knowledge, attitude, and practice on nutrition related to iodine, and iodine source consumption pattern, and household’s usage of iodized salt among mothers in mountainous area of Cianjur District. Design of this study was a cross-sectional, conducted during May-July 2012 at three sub-districts of Cianjur which were categorized as IDD (Iodine Deficiency Disorders) endemic areas. The subjects were 153 household mothers, living in the study area. The data were collected by interview using pre-tested questionnaires. Data on iodine content of salt was analyzed at Laboratory of Balai GAKI, Magelang. The result shows that subjects were mostly categorized as poor (73.2%), namely their income/cap/month was lower than poverty line of rural West Java. Nutritional knowledge related to iodine of subjects was categorized as moderate (score 64.2). Nutritional attitude related to iodine of subjects indicated the negative attitude (score <75), and the nutritional practice was categorized as poor (score 58.3). Type of iodine food source which frequently consumed by households were salted fish and egg. The salt consumed by households was wholely iodized salt, but only 11.1% of them complied with the iodized salt standard (>30 ppm).Keywords: attitude, iodine, knowledge, practiceABSTRAKPenelitian ini bertujuan menganalisis tingkat pengetahuan, sikap, dan praktek gizi ibu terkait iodium, serta pola konsumsi pangan sumber iodium dan penggunaan garam beriodium pada ibu rumahtangga di wilayah pegunungan Cianjur. Desain penelitian ini merupakan cross sectional, dilakukan pada bulan Mei-Juli 2012 di tiga kecamatan yang tergolong endemik GAKI (Gangguan Akibat Kekurangan Iodium) di Kabupaten Cianjur. Subjek adalah ibu rumahtangga sebanyak 153 orang. Data dikumpulkan dengan metode wawancara menggunakan kuesioner yang telah diujicobakan sebelumnya. Data kandungan iodium pada garam diperoleh berdasarkan analisis di laboratorium Balai GAKI, Magelang. Hasil penelitian menunjukkan subjek umumnya tergolong miskin (73,2%) karena pendapatan/kapita/bulan lebih rendah dari Garis Kemiskinan Jawa Barat untuk wilayah perdesaan. Pengetahuan gizi ibu terkait iodium tergolong sedang (skor 64,2). Sikap gizi ibu terkait iodium menunjukkan sikap yang negatif (skor <75) dan praktek gizi ibu terkait iodium tergolong rendah (skor 58,3). Jenis pangan sumber iodium yang sering dikonsumsi subjek adalah ikan asin dan telur. Garam yang dikonsumsi subjek semuanya sudah mengandung iodium, tetapi hanya 11,1% yang mengandung iodium dalam jumlah mencukupi (>30 ppm).Kata kunci: iodium, pengetahuan, praktek, sikap
PEMANFAATAN PREBIOTIK XYLOOLIGOSAKARIDA (XOS) DALAM PENGOLAHAN COOKIES FUNGSIONAL UNTUK KESEHATAN SALURAN PENCERNAAN PENYANDANG AUTIS Isnaini, Cahyuning; Marliyati, Sri Anna
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 10 No. 2 (2015)
Publisher : The Food and Nutrition Society of Indonesia in collaboration with the Department of Community Nutrition, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.667 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2015.10.2.%p

Abstract

ABSTRACTThis research was aimed to study the formulation of cookies enriched with prebiotics Xylooligosaccharides (XOS) as functional food for the health of the autism digestive tract. This research used complete randomized design. Selected formula was determined by the ability to grow lactic acid bacteria, fiber, and organoleptic test results. The main materials used were kepok bananas, corn flour, and prebiotic XOS which were safe for the gluten free casein free diet (GFCF). Selected cookies using the main ingredient in the form of banana flour by 67 g and 33 g of corn flour with the addition of 5% XOS prebiotic ingredients. Serving size of the selected prebiotic cookies was 50 g. Selected prebiotic cookies were able to meet 15.4% of energy needs, 2.3% of protein needs, 19.1% of fat needs, and 36.5% of carbohydrate needs. Selected prebiotic cookies could meet the claim of ‘contains fiber’.Keywords: autism, cookies, GFCF diet, prebioticsABSTRAKPenelitian ini bertujuan mempelajari formulasi pengolahan cookies yang diperkaya dengan prebiotik Xylooligosakarida (XOS) sebagai pangan fungsional untuk kesehatan saluran pencernaan penyandang autis. Desain penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap. Formula terpilih ditentukan berdasarkan kemampuan menumbuhkan bakteri asam laktat, kandungan serat, dan hasil uji organoleptik.Bahan utama yang digunakan adalah pisang kepok, tepung jagung, dan tepung prebiotik XOS yang aman untuk diet gluten free casein free (GFCF). Formula cookies prebiotik terpilih menggunakan bahan utama berupa tepung pisang sebesar 67 g dan tepung jagung 33 g dengan penambahan prebiotik XOS sebesar 5% adonan. Takaran saji cookies prebiotik terpilih adalah sebesar 50 g. Cookies prebiotik terpilih per takaran sajinya mampu memenuhi sebesar 15,4% kebutuhan energi, 2,3% kebutuhan protein, 19,1% kebutuhan lemak, dan 36,5% kebutuhan karbohidrat untuk anak usia 5-7 tahun. Cookies terpilih dapat memenuhi klaim ‘mengandung serat’.Kata kunci: autis, cookies, diet GFCF, prebiotik
PENAMBAHAN PEGAGAN (Centella asiatica) DENGAN BERBAGAI KONSENTRASI DAN PENGARUHNYA TERHADAP SIFAT FISIKO-KIMIA COOKIES SAGU Saputri, Imelda; Damayanthi, Evy
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 10 No. 2 (2015)
Publisher : The Food and Nutrition Society of Indonesia in collaboration with the Department of Community Nutrition, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.445 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2015.10.2.%p

Abstract

ABSTRACTThe objective of this research was to study antioxidant activity in pegagan sago cookies with various concentrations of pegagan powder. This research was conducted in two stages which was preliminary and main research. Preliminary research included making of pegagan powder, cookies formula, and organoleptic test. Primary research included formulation and making cookies with various concentrations of pegagan powder, physico-chemical properties observations, antioxidant activity and organoleptic test. The method used in this research was Complete Randomized Design with the factor was pegagan powder concentration. Pegagan powder concentration used in this research were 0%, 5.5%, 6.5%, and 7.5%. The determination of selected products made by considering the results of organoleptic test, antioxidant activity, and total amount of phenol. The selected cookies was the 7.5% cookies which had antioxidant activity as much as 15.2% and equivalent to 140 mg of vitamin C and 905.4 mg phenols in 100 g of cookies. The result of variance analysis showed that addition of pegagan with various concentrations did not significantly affect the antioxidant activity and total phenol of cookies (p<0.05).Keywords: antioxidant, cookies, pegagan, sago, total phenolABSTRAKTujuan penelitian adalah mempelajari aktivitas antioksidan cookies sagu pegagan dengan berbagai konsentrasi serbuk pegagan. Penelitian dilakukan dalam dua tahapan, yaitu penelitian pendahuluan dan utama. Penelitian pendahuluan mencakup pembuatan serbuk pegagan, formula cookies dan uji organoleptik. Penelitian utama terdiri atas formulasi dan pembuatan cookies dengan berbagai konsentrasi serbuk pegagan, pengamatan sifat fisiko-kimia, aktivitas antioksidan, dan uji organoleptik. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan faktor konsentrasi serbuk pegagan pada pembuatan cookies dengan empat taraf yaitu 0%, 5,5%, 6,5%, dan 7,5%. Penentuan produk terpilih dilakukan dengan mempertimbangkan hasil uji organoleptik, aktivitas antioksidan, dan total fenol cookies. Cookies sagu pegagan yang terpilih adalah cookies 7,5% yang memiliki aktivitas antioksidan sebanyak 15,2% dan kekuatannya setara dengan 140 mg vitamin C/100 g cookies serta mengandung 905,4 mg total fenol dalam 100 g cookies. Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa penambahan pegagan dengan berbagai konsentrasi tidak berpengaruh nyata terhadap aktivitas antioksidan dan total fenol cookies (p>0,05).Kata kunci: antioksidan, cookies, pegagan, sagu, total fenol
PERUBAHAN STATUS GIZI BALITA PADA PROGRAM EDUKASI DAN REHABILITASI GIZI Ariska, Yusi; Kustiyah, Lilik; Widodo, Yekti
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 10 No. 3 (2015)
Publisher : The Food and Nutrition Society of Indonesia in collaboration with the Department of Community Nutrition, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.763 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2015.10.3.%p

Abstract

ABSTRACTThis study was aimed to analyze factors that influence the change in nutritional status of children under-five years who participated in Nutrition Education and Rehabilitation Program. This research used secondary data with a pre-post intervention study (one group before and after intervention design) of 141 subjects. Six months intervention program which applied to the children consisted of provision of complementary feeding and supplement of zinc along with nutrition and health education for the mothers. This research conducted at District of East Kutai, Province of East Kalimantan. The average WAZ score of subjects after participating had increased significantly (-1.9±0.6) compared before participating in this program (-2.3±0.5) (p<0.05). Subjects with a good appetite tended to increase WAZ score four times than the worse one, while diarrhea subjects tended to have 0.3 times smaller WAZ score increase than non-diarrhea subjects.Keywords: children under-five years, diarrhea, nutrition education, rehabilitationABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perubahan status gizi balita pada Program Edukasi dan Rehabilitasi Gizi. Penelitian ini menggunakan data sekunder. Desain yang digunakan adalah pre-post intervention study dengan jumlah subjek sebanyak 141 balita. Intervensi yang diberikan pada balita berupa pemberian makanan tambahan bersama, suplemen zink, dan penyuluhan gizi dan kesehatan bagi ibu balita. Intervensi tersebut diberikan selama 6 bulan dan dilaksanakan di Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur. Rata-rata z-score BB/U balita setelah mengikuti Program Edukasi dan Rehabilitasi Gizi adalah nyata lebih tinggi (-1,9±0,6) dibandingkan sebelum mengikuti program tersebut (-2,3±0,5) (p<0,05). Anak balita yang memiliki nafsu makan yang baik cenderung mengalami kenaikan status gizi (BB/U) empat kali lebih besar daripada balita yang nafsu makannya kurang baik. Balita yang mengalami diare memiliki kecenderungan 0,3 kali lebih kecil mengalami kenaikan status gizi (BB/U) dibandingkan yang tidak mengalami diare.Kata kunci: balita, diare, edukasi gizi, rehabilitasi
ASUPAN PROTEIN NABATI DAN KEJADIAN ANEMIA WANITA USIA SUBUR VEGAN Nugroho, Fajar Ari; Handayani, Dian; Apriani, Yosi
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 10 No. 3 (2015)
Publisher : The Food and Nutrition Society of Indonesia in collaboration with the Department of Community Nutrition, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.89 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2015.10.3.%p

Abstract

ABSTRACTThe purpose of this study was to determined the role of vegetable protein intake and anaemia incidence among vegan reproductive aged women. This study was observational research with cross-sectional study design. Sixty-five subjects were selected by simple random sampling method. Data collection for intake was done by 24-hours recall technique, and haemoglobin levels was measured by cyanmethemogloblin method. The results showed that 26.1% from 31-anaemia vegan subjects classified as less vegetable protein intake individuals, and 43% from 34-non anaemia vegan subjects known as enough vegetable protein intake individuals. Chi-square test authenticate that there was a significant relationship between the vegetable protein intakes with anaemia incidence among vegan reproductive aged women (p=0.002). The conclusion showed that vegetable protein intake has a role to the risk of anaemia incidence among vegan reproductive aged women.Keywords: anaemia, reproductive aged women, vegan, vegetable proteinABSTRAKTujuan penelitian ini adalah mengetahui peran asupan protein nabati terhadap kejadian anemia pada wanita usia subur (WUS) vegan. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian observasional dengan desain cross sectional. Sebanyak 65 subjek WUS dipilih menggunakan metode simple random sampling. Pengambilan data asupan dilakukan menggunakan metode 24-hours recall, sedangkan kadar hemoglobin dianalisis menggunakan metode cyanmethemoglobin. Hasil penelitian menunjukkan 31 WUS vegan yang anemia sebesar 26,1% diantaranya menunjukkan memiliki asupan protein kurang, sedangkan 34 WUS vegan yang tidak anemia (43%), memiliki asupan protein nabati cukup. Analisis chi square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara asupan protein nabati dengan kejadian anemia (p=0,002). Kesimpulan penelitian ini adalah asupan protein nabati berperan terhadap risiko anemia pada WUS vegan.Kata kunci: anemia, protein nabati, vegan, WUS
KEPATUHAN KONSUMSI SUPLEMEN BESI DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI KOTA TANGERANG Fitri, Yuni Pradilla; Briawan, Dodik; Tanziha, Ikeu; Amalia, Leily
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 10 No. 3 (2015)
Publisher : The Food and Nutrition Society of Indonesia in collaboration with the Department of Community Nutrition, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.734 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2015.10.3.%p

Abstract

ABSTRACTThe objective of this cross sectional study was to analyze the iron supplementation compliance and its influences on anemia prevalence among pregnant women in Tangerang. Structured interviews with pregnant women (n=91) were conducted between February and June 2015 in Tangerang, Banten. Duration of pregnancy, frequency of antenatal care (ANC) visits, and health worker’s practices on iron supplementation were correlated with women’s compliance to take the iron supplements (p<0.05). The prevalence of anemia was 42.9%. Poor compliance with iron supplementation was significantly associated with increased risk of anemia (OR=4.250; 95%CI: 1.425-12.671). This study implies the importance of enhancing the quality of ANC counselling to improve utilization of iron supplements and prevent anemia among pregnant women.Keywords: anemia, compliance, iron supplementation, pregnant womenABSTRAKPenelitian cross sectional study ini bertujuan untuk menganalisis kepatuhan konsumsi suplemen besi dan pengaruhnya terhadap kejadian anemia pada ibu hamil di Kota Tangerang. Wawancara terstruktur kepada ibu hamil (n=91) dilakukan pada bulan Februari sampai Juni 2015 di Tangerang, Banten. Usia kehamilan, frekuensi kunjungan antenatal care (ANC), dan praktik petugas kesehatan dalam suplementasi besi berhubungan dengan kepatuhan ibu dalam mengonsumsi suplemen (p<0,05). Prevalensi anemia pada ibu hamil sebesar 42,9%. Ketidakpatuhan ibu dalam mengonsumsi suplemen besi meningkatkan risiko terjadinya anemia secara signifikan (OR=4,250; 95%CI: 1,425-12,671). Hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya meningkatkan kualitas konseling saat ANC untuk meningkatkan kepatuhan konsumsi suplemen besi dalam upaya pencegahan dan penanggulangan anemia pada ibu hamil.Kata kunci: anemia, ibu hamil, kepatuhan, suplementasi besi
PERCENT FAT MASS AND BODY MASS INDEX AS CARDIORESPIRATORY FITNESS PREDICTORS IN YOUNG ADULTS Dewi, Mira; Kustiyah, Lilik; Kuswari, Mury
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 10 No. 3 (2015)
Publisher : The Food and Nutrition Society of Indonesia in collaboration with the Department of Community Nutrition, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.674 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2015.10.3.%p

Abstract

ABSTRACTThe present study aimed to analyze the association between body fatness measures, i.e. body mass index (BMI) and percent fat mass (% FM) with cardiorespiratory fitness (CRF) in young adults. Seventy five undergraduate students aged 19-21 years were included in this cross sectional study. Body composition was assessed by tetra polar Bioelectrical Impedance Analysis method, and CRF was determined as VO2 max level by conducting Balke test and flexibility by sit-and-reach test. Regression tests were performed to assess the associations between the body fatness measures and CRF. The mean (SD) % FM and BMI were 25.6 (8.3) % and 22.4 (4.2) kg/m2, respectively. Both BMI and % FM were inversely associated with VO2 max and flexibility. The associations of % FM with each CRF measure were stronger (% FM-VO2 max: R2=0.45, p<0.0001; % FM-flexibility: R2=0.16, p<0.0001) than those of BMI (BMI-VO2 max: R2= 0.12, p=0.002; BMI-flexibility: R2=0.07, p<0.0001). Including gender as a variable predictor greatly improved almost all associations. We suggest that %FM is a better predictor for VO2max than BMI. Further studies are needed to elucidate the relationships of body fatness measures adjusted for potential confounding factors with CRF measures other than VO2 max.Keywords: body mass index, cardiorespiratory fitness, percent fat massABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menentukan hubungan antara persentase lemak tubuh (PLT) dan indeks massa tubuh (IMT) dengan kebugaran kardiorespiratorik (KKR) pada dewasa muda. Penelitian menggunakan desain potong lintang dengan melibatkan 75 orang mahasiswa usia 19-21 tahun. PLT ditentukan dengan metode tetra polar Bioelectrical Impedance dan KKR ditentukan dengan VO2max berdasarkan uji Balke dan fleksibilitas dengan uji sit-and-reach. Hubungan antara PLT dan IMT dengan KKR dianalisis dengan uji regresi. Rata-rata (standar deviasi) dari PLT dan IMT berturut-turut adalah 25,6 (8,3)% dan 22,4 (4,2) kg/m2. Baik PLT maupun IMT berbanding terbalik dengan nilai VO2 max dan fleksibilitas. Korelasi antara PLT dengan kedua komponen KKR lebih kuat (PLT-VO2 max: R2=0,45 p<0,0001; PLT-fleksibilitas: R2=0,16 p<0,0001) dibanding IMT (IMT-VO2 max: R2=0,12 p=0,002; IMT-fleksibilitas: R2=0,07 p<0,0001). Memasukkan gender sebagai prediktor variabel memperkuat semua korelasi kecuali antara PLT dan fleksibilitas. Diperlukan studi lebih lanjut untuk mempelajari hubungan antara komposisi tubuh termasuk faktor perancu potensial dengan fleksibilitas dan komponen KKR lainnya.Kata kunci: indeks massa tubuh, kebugaran kardiorespiratorik, persen lemak tubuh
FORMULASI RUMPUT LAUT Gracilaria sp. DALAM PEMBUATAN BAKSO DAGING SAPI TINGGI SERAT DAN IODIUM Princestasari, Lovi Dwi; Amalia, Leily
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 10 No. 3 (2015)
Publisher : The Food and Nutrition Society of Indonesia in collaboration with the Department of Community Nutrition, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.157 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2015.10.3.%p

Abstract

ABSTRACTThe objective of this study was to formulate seaweed Gracilaria sp. in producing meatballs with high fiber and iodine content. The formulation was made by seaweed porridge addition as much as 30%, 40%, and 50% of total weight of raw material. Meatball product with the addition of 40% of seaweed porridge was the most accepted in organoleptic tests. The proximate analysis of the selected meatballs showed that the content of water, ash, fat, protein, and carbohydrate was 76.93%, 2.31%, 0.5%, and 8.11% respectively. The total dietary fiber and iodine content was 5.98% and 1.14 ppm. The acceptance test done by 31 elementary school students showed that 90% of them stated “like” and could accept the product properly. The contribution of selected product to nutrient adequacy level of 6-12 years old’s children was 2.12-2.67% for energy, 7.03-12.05% for protein, 0.36-0.42% for fat, 2.19-2.87% for carbohydrate, 10.37-14.13% for fiber, and 49.4% for iodine. Hence, the meatball product with addition of Gracilaria sp. 40% is a high fiber and iodine product.Keywords: fiber, Gracilaria sp. seaweed, iodine, meatballsABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk memformulasikan rumput laut Gracilaria sp. dalam pembuatan bakso daging sapi agar diperoleh produk dengan kadar serat dan iodium yang tinggi. Formulasi dibuat dengan penambahan bubur rumput laut Gracilaria sp. sebesar 30%, 40%, dan 50% terhadap berat adonan total. Produk bakso dengan penambahan rumput laut sebanyak 40% menunjukkan nilai penerimaan tertinggi secara organoleptik dan dipilih sebagai produk terpilih. Hasil uji proksimat kadar air, abu, lemak, protein, dan karbohidrat secara berturut-turut adalah 76,93%; 2,31%; 0,5%; 8,11%, dan 12,16%. Kadar serat pangan total dan iodium produk terpilih masing-masing adalah 5,98% dan 1,14 ppm. Hasil uji daya terima terhadap 31 anak SD menunjukkan 90,3% subjek menyatakan suka dan dapat menerima produk bakso terpilih dengan baik. Produk bakso terpilih memberikan kontribusi energi 2,12-2,78%, protein 7,03-12,05%, lemak 0,36-0,42%, karbohidrat 2,19-2,87%, serat 10,37-14,13%, dan iodium 49,4% terhadap AKG anak usia 6-12 tahun. Dengan demikian, produk bakso dengan penambahan 40% rumput laut Gracilaria sp. merupakan produk tinggi serat dan iodium.Kata kunci: bakso daging sapi, iodium, rumput laut Gracilaria sp, serat
FORMULASI, KANDUNGAN GIZI, DAN DAYA TERIMA KUE-KUE TRADISIONAL MAKASSAR BERBASIS TEPUNG PUPAE–MULBERRY (PURY) SEBAGAI MAKANAN BERGIZI MASA DEPAN Kusharto, Clara Meliyanti; Astuti, Trina; Aisyah, Aisyah; Marliyati, Sri Anna; Rosmiati, Risti
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 10 No. 3 (2015)
Publisher : The Food and Nutrition Society of Indonesia in collaboration with the Department of Community Nutrition, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.172 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2015.10.3.%p

Abstract

ABSTRACTThe aims of this research was to formulate and improve the nutrient content and define of makassar traditional snack which was enriched with Pupae-mulberry (Pury) powder. Experimental study was conducted and proximate analysis was used to determine nutrient content of the product and acceptance test was used by hedonic test of 25-32 semi-trained panelists. This research produced three kinds of traditional snacks, namely Rampari sponge cake, Deppatori Pury, and Pury sticks. Based on organoleptic test product Deppatori was selected to develop further by mixing basic substances consist of rice flour, glutinous rice flour, brown sugar, sesame and water with pupae-mulberry (pury) powder. The formulas were F1 (pury powder 5%), F2 (pury powder 10%), and F3 (pury powder 15%). The study showed that by hedonic scale, the panel preferred F2 because the addition more than 10% of Pury powder will make texture harder. Hedonic quality scale indicated that F2 had characteristics yellowish brown color, taste and flavor close to neutral. Nutrient content of Deppatori Pury 10% (per 100 g) was water 7.92 g, ash 1.19 g, protein 5.80 g, fat 25.99 g, carbohydrates 67.02 g, energy 484 kcal, calcium 74.14 mg, iron 1.96 mg, phosporus 97.23 mg, respectively and result of microbiology test was 390 cfu/g. Protein contribution of Deppatori-Pury 10% per 100 g serving size to RDA of elderly was 9.4-10.4%. Therefore, two serving size is recommended for Deppatori-Pury as future food to reach 20% RDA protein.Keywords: acceptability, deppatori, makassar’s snack, pury powderABSTRAKTujuan penelitian adalah melakukan formulasi dan meningkatkan kandungan zat gizi serta daya terima kue-kue tradisional Makassar yang diperkaya tepung pupae-mulberry (Pury). Penelitian ini merupakan studi eksperimental yang melakukan analisis kandungan zat gizi secara proksimat dan uji penerimaan panelis (organoleptik) menggunakan uji hedonik oleh 25-32 orang panelis semi terlatih. Pembuatan kue tradisional menghasilkan tiga jenis produk yaitu bolu-sponge Rampary, Deppatori-Pury, dan Pury-Stick. Berdasarkan hasil uji organoleptik, satu produk perlu dikembangkan lebih lanjut yaitu Deppatori yang memiliki tingkat kesukaan terendah. Formulasi Deppatori-Pury dilakukan dengan mencampurkan bahan dasar yang terdiri atas tepung beras, tepung ketan, tepung pury, gula merah, wijen, dan air. Formula Deppatori-Pury terdiri atas F1 (tepung pury 5%), F2 (tepung pury 10%), dan F3 (tepung pury 15%). Pada uji hedonik, panelis lebih menyukai F2 yakni formula dengan penambahan tepung pury sebesar 10%, karena penambahan tepung pury yang semakin banyak akan membuat tekstur semakin keras. Hasil uji mutu hedonik juga menunjukkan bahwa F2 memiliki karakteristik warna cokelat kekuningan, rasa dan aroma yang netral, serta tekstur yang padat agak keras. Kudapan Deppatori-Pury 10% per 100 g mengandung kadar air 7,92 g, abu 1,19 g, protein 5,80 g, lemak 25,99 g, karbohidrat 67,02 g, energi 484 kkal, kalsium 74,14 mg, besi 1,96 mg, fosfor 97,23 mg. Hasil uji mikrobiologis 390 cfu/g. Kontribusi protein Deppatori-Pury 10% dengan takaran saji 100 g terhadap AKG untuk kelompok lansia sebesar 9,4-10,4%, sehingga untuk mencapai kadar protein 20% dari AKG dianjurkan untuk dikonsumsi sebanyak dua kali takaran saji sebagai makanan masa depan.Kata kunci: daya terima, deppatori-pury, kue makassar, tepung pury