cover
Contact Name
Secretariat of Jurnal Gizi dan Pangan
Contact Email
jgizipangan@gmail.com
Phone
+62251-8621363
Journal Mail Official
jgizipangan@gmail.com
Editorial Address
Department of Community Nutrition, Faculty of Human Ecology, IPB University, Bogor 16680, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Gizi dan Pangan
ISSN : 19781059     EISSN : 24070920     DOI : 10.25182/jgp
Core Subject : Health,
Jurnal Gizi dan Pangan (Journal of Nutrition and Food) merupakan jurnal ilmiah yang memuat berbagai artikel hasil penelitian dan review (atas undangan) tentang gizi dan pangan, yang terkait dengan aspek biokimia, gizi klinik, gizi masyarakat, pangan fungsional, dan sosial ekonomi serta regulasi dan informasi gizi dan pangan. Jurnal ini merupakan publikasi resmi dari Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB dan PERGIZI PANGAN Indonesia yang telah terbit sejak tahun 2006. Penerbitan jurnal ini dilakukan secara teratur setahun 3 kali (bulan Maret, Juli, dan November).
Arjuna Subject : -
Articles 621 Documents
EVALUASI KESEPADANAN MUTU GIZI TEMPE KEDELAI PANGAN REKAYASA GENETIK (PRG) DAN NON-PRG SERTA DAMPAK KONSUMSINYA PADA TIKUS PERCOBAAN Maskar, Dadi Hidayat; Hardinsyah, Hardinsyah; Damayanthi, Evy; Astawan, Made; Wresdiyati, Tutik
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 10 No. 3 (2015)
Publisher : The Food and Nutrition Society of Indonesia in collaboration with the Department of Community Nutrition, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.768 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2015.10.3.%p

Abstract

ABSTRACTThis study was conducted to evaluate the effect of tempe that were made from Genetically Modified (GM) and non-GM soybean on protein quality, malondialdehide (MDA) levels, intracellular antioxidant superoxide dismutase (SOD) activity in the liver and kidneys, as well as spermatozoa profile of experimental rats. Fourty five Sprague Dawley rats divided into eight treatment grups and one control, fed with tempe and soybean from GM and non-GM at 10% and 20% concentrations for 90 days. The results showed that there was no significant difference in term of protein quality, tempe made from GM soybean is substantially equivalent with tempe made from non-GM soybean. Results showed that group which was given ration of 10% protein from conventional soybean had lower liver and kidney MDA levels as compared to GM tempe 10% and 20% groups, but was not significant compared to conventional soybean 20% and casein 10% groups. While the value of liver and kidney SOD activity were not significantly different (p>0.05) between the groups of rats. There was no significant differences among the spermatozoa profiles treatment groups and control and they were within normal condition. Results of protein quality, MDA, SOD, and spermatozoa profile showed that tempe made from GM soybean was substantially equivalent with the non-GM soybean.Keywords: GM soybean, MDA, non-GM tempe, SOD, spermatozoa profileABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh tempe Pangan Rekayasa Genetik (PRG) dan non-PRG meliputi kualitas protein, kadar malondialdehida (MDA) hati dan ginjal, aktivitas superoksida dismutase (SOD) hati dan ginjal, dan profil spermatozoa pada tikus percobaan. Sebanyak 45 tikus terbagi ke dalam delapan perlakuan dan satu kontrol yang diberikan perlakuan dengan ransum tempe dan kedelai, baik PRG maupun non-PRG, dengan konsentrasi 10% dan 20% selama 90 hari. Hasil percobaan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam kualitas protein, tempe PRG memiliki nilai yang sama dengan tempe non-PRG. Tikus yang diberi ransum 10% protein kedelai non-PRG mempunyai nilai MDA hati dan ginjal yang lebih rendah dibandingkan dengan tempe PRG 10% dan 20%, tetapi tidak signifikan dengan kelompok kedelai non-PRG 20% dan kasein 10%. Sementara itu, nilai SOD hati dan ginjal tidak signifikan antar grup perlakuan (p>0,05). Tidak ada perbedaan yang signifikan pada profil spermatozoa antar perlakuan. Hasil dari kualitas protein, MDA, SOD, dan profil spermatozoa menunjukkan bahwa kedelai dan tempe PRG memiliki kesamaan substansial dengan kedelai dan tempe non-PRG.Kata kunci: MDA, profil spermatozoa, SOD, tempe kedelai PRG, tempe kedelai non-PRG
IDENTIFIKASI KOMPONEN KIMIA DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DALAM TANAMAN TORBANGUN (Coleus amboinicus Lour) Suryowati, Trini; Rimbawan, Rimbawan; Damanik, Rizal M; Bintang, Maria; Handharyani, Ekowati
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 10 No. 3 (2015)
Publisher : The Food and Nutrition Society of Indonesia in collaboration with the Department of Community Nutrition, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.092 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2015.10.3.%p

Abstract

ABSTRACTThe objective of this study was to determine the chemical compound in leaves, stem, and root by GC-MS technique and antioxidant activity of torbangun leaves (Coleus amboinicus Lour). The torbangun leaves ethanol extract were tested to antioxidant activity assay using DPPH, and á-glucosidase inhibitory effects was measured with a spectrophotometric method. The analysis of leaves revealed the presence of Carbamic acid, monoammonium salt (CAS) Ammonium carbamate (11.73%), Hexadecanoic acid (CAS) Palmitic acid (8.35%), I-Limonene (5.92%), Heptadecene-(8)- carbonic acid-(1) (4.76%), Oxacycloheptadec-8-en-2-one (CAS) Ambrettolide (4.70%). The analysis of stem revealed the presence of Formamide (CAS) Methanamide (22.48%), 12,13- Dimethyl-2,7- dioxa 5,10 diazatricyclo [4.4.4.0(1,6)] trans -tetradecan-12 (13.22%), Hexadecanoic acid (CAS) Palmitic acid (11.51%), 2-Propanone, 1-hydroxy- (CAS) Acetol (10.14%), 9-Octadecen-1-ol, (Z)- (CAS) cis-9-Octadecen-1-ol (7.09%). The analysis of roots revealed the presence of Methanamine, N-methyl- (CAS) Dimethylamine (28.45%), Acetic acid (CAS) Ethylic acid (9.78%), 3.2-Propanone, 1-hydroxy- (CAS) Acetol (6.41%), 1-Propen-2-ol, acetate (CAS) Isopropenyl acetate (5.16%), 4.73 Phenol, 2-methoxy- (CAS) Guaiacol(4.73%). The DPPH result of torbangun leaves ethanol extract obtained by IC50 247,942 ppm and ascorbic acid standard was 1 ppm. IC50 values inhibition of á-glucosidase extract was >100 ppm and glucobay standard was 0.264 ppm. This research provided a chemical compound and the torbangun leaves ethanol extract capable of acting as antioxidant based on IC50 values.Keywords: antioxidant activity, chemical compound, Coleus amboinicus LourABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui komponen senyawa kimia dalam daun, dahan, dan akar menggunakan analisis Kromatografi Gas-Spektrometri Massa (GC-MS) serta aktivitas antioksidan daun torbangun (Coleus amboinicus Lour). Daun torbangun yang diekstrak etanol dianalisis aktivitas antioksidan menggunakan test DPPH, dan daya hambat enzim á-glukosidase diukur dengan metode spektrofotometer. Hasil analisis dalam daun menunjukkan komponen kimia Carbamic acid, monoammonium salt (CAS) Ammonium carbamate (11,73%), Hexadecanoic acid (CAS) Palmitic acid (8,35%), I-Limonene (5,92%), Heptadecene-(8)-carbonic acid-(1) (4,76%), Oxacycloheptadec-8-en-2-one (CAS) Ambrettolide (4,70%). Hasil analisis dalam dahan menunjukkan komponen kimia Formamide (CAS) Methanamide (22,8%), 12,13-Dimethyl-2,7-dioxa5,10diaza tricyclo [4.4.4.0(1,6)] trans-tetradecan-12 (13,22%), Hexadecanoic acid (CAS) Palmitic acid (11,51%), 2-Propanone,1-hydroxy-(CAS) Acetol (10,14%), 9-Octadecen-1-ol, (Z)- (CAS) cis-9-Octadecen-1-ol (7,09%). Hasil analisis dalam akar menunjukkan komponen kimia Methanamine, N-methyl-(CAS) Dimethylamine (28,45%), Acetic acid (CAS) Ethylic acid (9,78%), 3.2-Propanone, 1- hydroxy- (CAS) Acetol (6,41%), 1-Propen-2-ol, acetate (CAS) Isopropenyl acetate (5,16%), 4.73 Phenol, 2-methoxy- (CAS) Guaiacol (4,73%). Hasil uji antioksidan terhadap daun torbangun dengan metode DPPH didapatkan IC50 247,942 ppm dibandingkan standar vitamin C 1 ppm. Nilai IC50 dari penghambatan enzim á-glukosidase dalam ekstrak daun torbangun >100 ppm dibandingkan dengan standar glukobay 0,264 ppm. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa daun torbangun yang diekstrak dengan etanol mampu berperan sebagai antioksidan berdasarkan nilai IC50.Kata kunci: aktivitas antioksidan, Coleus amboinicus Lour, komponen kimia
BERAS ANALOG SEBAGAI PANGAN FUNGSIONAL DENGAN INDEKS GLIKEMIK RENDAH Noviasari, Santi; Kusnandar, Feri; Setiyono, Agus; Budijanto, Slamet
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 10 No. 3 (2015)
Publisher : The Food and Nutrition Society of Indonesia in collaboration with the Department of Community Nutrition, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.488 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2015.10.3.%p

Abstract

ABSTRACTThe objective of this research was to produce rice analogue as functional food with low glycemic index. The rice was made from white corn and sorghum with additional soybean flour. The physicochemical properties of rice analogue being analysed were resistant starch content, total phenolic content, dietary fiber, color (L*, +a, +b values) and whiteness (oHue). Rice analogue was potentially used as functional food indicated by high level of resistant starch 2.59%-3.31%, total phenolic content 0.18-0.25 mg GAE/g sample and dietary fiber 5.35%-6.14%. Rice analogue from white corn with and without soybean flour was further tested for glycemic index. Rice analogue from white corn has 69 GI value, while rice analogue from white corn with 10% soybean flour addition has 50 GI value.Keywords: functional food, glycemic index, rice analogueABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan beras analog yang berpotensi sebagai pangan fungsional dan bernilai indeks glikemik rendah. Beras analog dibuat dari bahan baku jagung putih dan sorgum dengan penambahan tepung kedelai. Sifat fisiko kimia beras analog yang dianalisis adalah pati resisten, total fenol, serat pangan, warna (nilai L*, +a, +b) dan derajat putih (oHue). Beras analog berpotensi sebagai pangan fungsional, yang ditunjukkan dengan tingginya kadar pati resisten yaitu sebanyak 2,59%-3,31%, total fenol sekitar 0,18-0,25 mg GAE/g sampel dan serat pangan antara 5,35%-6,14%. Beras analog berbahan baku jagung putih dengan dan tanpa penambahan kedelai dipilih untuk uji indeks glikemik. Beras analog dari jagung putih memiliki nilai IG 69 sedangkan beras analog dari jagung putih dengan penambahan tepung kedelai 10% memiliki nilai IG 50.Kata kunci: beras analog, indeks glikemik, pangan fungsional
KUALITAS KONSUMSI PANGAN DI DAERAH DEFISIT PANGAN PROVINSI RIAU Gevisioner, Gevisioner; Febriamansyah, Rudi; Ifdal, Ifdal; Tarumun, Suardi
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 10 No. 3 (2015)
Publisher : The Food and Nutrition Society of Indonesia in collaboration with the Department of Community Nutrition, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.357 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2015.10.3.%p

Abstract

ABSTRACTThis study was aimed to asses the quality of food consumption and analyze the associated factors to improve the quality of food consumption of Riau Province, the food deficit region. A descriptive analytical study method was applied; and the data used in this research was secondary data. Descriptive and multiple regression analysis were applied for this study. The results showed that the food consumption quality was low which was dominated by food derived from grains, oils and fats and sugar. Food availability quality, income percapita, and food prices were not significantly associated with the food consumption quality. The strategies to improve the quality of food consumption are through developing a better institutions for food processing and marketing in rural in order to improve the efficiency and effectiveness of food distribution, and the value-added; increasing people knowledge on food and nutrition.Keywords: deficit region, food quality, food security, nutrition educationABSTRAKPenelitian ini bertujuan menilai kualitas konsumsi pangan penduduk daerah defisit pangan Provinsi Riau dan menganalisis faktor yang memengaruhinya. Pendekatan penelitian adalah deskriptif analitis. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dan uji yang digunakan adalah regresi berganda. Hasil kajian menunjukkan kualitas konsumsi pangan penduduk belum baik, karena masih didominasi oleh konsumsi pangan yang berasal dari kelompok padi-padian, minyak dan lemak serta gula. Ketersediaan pangan, pendapatan per kapita penduduk, harga pangan secara bersama-sama tidak memengaruhi secara signifikan terhadap kualitas konsumsi pangan penduduk. Peningkatan kualitas konsumsi pangan penduduk di daerah defisit pangan dapat dilakukan antara lain dengan mengembangkan kelembagaan pengolahan dan pemasaran di perdesaan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas distribusi pangan dan peningkatan pengetahuan pangan dan gizi masyarakat yang berkelanjutan.Kata kunci: daerah defisit, ketahanan pangan, kualitas pangan, pendidikan gizi
KETAHANAN PANGAN DI KOTA PAGARALAM, PROVINSI SUMATERA SELATAN TAHUN 2001—2010 Frema Apdita; Yayuk Farida Baliwati
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 7 No. 2 (2012)
Publisher : Food and Nutrition Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.538 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2012.7.2.57-64

Abstract

ABSTRACTThis study aim to analyze the food resouces in Pagaralam District, South Sumatera Province in 2001—2010. The study design was retrospective with secondary data analysis covering policies, budgeting, food production, exports, imports and number of population. Data processing included analysis for production, exports, imports, food availability and food suffiency by trend, line, ratio availability and ratio of imports. Food availability policy and food availability budgeting were analyzed using content analysis. The results indicate increasing of production on some commodities but supply doesn’t fulfill the demand. Food availability increases and energy adequacy has already reached the Minimum Services Standard (90%), but not for intake protein. Desirable Dietary Pattern (DDP) score is still below 90. The food availability policy and budget do not support the General Policy for Food Security 2006—2010 and still focused on water resources management.Key words: energy and protein adequacy, food availabilityABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis sumberdaya pangan di Kota Pagaralam Provinsi Sumatera Selatan tahun 2001—2010. Data sekunder terdiri dari kebijakan anggaran, produksi pangan, ekspor dan impor pangan serta jumlah penduduk. Desain penelitian ini adalah retrospektif menggunakan data sekunder. Pengolahan data dimulai dengan menganalisis produksi, ekspor dan impor, ketersediaan pangan dan kecukupan pangan menggunakan analisis tren, analisis garis, analisis rasio ketersediaan dan analisis rasio impor. Kebijakan dan anggaran ketersediaan pangan dianalisis menggunakan analisis isi. Peningkatan produksi beberapa komoditi namun produksi belum mencukupi kebutuhan. Ketersediaan pangan mengalami peningkatan dan kecukupan energi sudah mencapai SPM (90%), akan tetapi kecukupan protein masih defisit. Skor PPH masih di bawah 90. Kebijakan dan anggaran belum sepenuhnya sesuai dengan Kebijakan Umum Ketahanan Pangan (KUKP) 2006—2010 dan masih terfokus pada sektor pengelolaan sumberdaya air.Kata kunci: kecukupan energi dan protein, ketersediaan pangan
INTERVENSI DENGAN PENERAPAN KONSEP MILLENNIUM ECO-VILLAGE DAN PERUBAHAN PERILAKU KONSUMSI PANGAN RUMAH TANGGA DI DESA PETIR, KECAMATAN DRAMAGA, KABUPATEN BOGOR Clara Meliyanti Kusharto; Siti Amanah; Ikeu Tanziha; Anna Fatchiya; Nunung Cipta Dainy; Risti Rosmiati
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 7 No. 2 (2012)
Publisher : Food and Nutrition Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.208 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2012.7.2.65-72

Abstract

ABSTRACTThe research aimed to assess the impact of interventions to the behaviour changes of household food consumption and to search the role of community institutions in accelerating the achievement of the millennium eco-village. The study involved thirty households in Desa Petir, Dramaga Subdistrict, District of Bogor (15 agricultural and 15 non agricultural-households). Pre and post test method was used to analyze the behaviour change, and focused group discussions were conducted to explore initiatives of the community group toward eco-village. The results indicated the changes of expenditure proportion for food and non food. At the agricultural households, changes are from 61.7% to 53.9%, whereas in the non agricultural household, the changes are from 59.9% to 41%. Food consumption for under five children become more diverse, nutritious, and balanced. Life Style on Clean Life and Health (PHBS) on family farmers and non farmers become better. Cooperation between community groups, local leaders, the government, and facilitators could strengthen institution to enable real action towards the millennium eco-village.Key words: food consumption, MDGs, social institutionsABSTRAKTujuan penelitian secara umum adalah untuk mengembangkan model millennium eco-village melalui intervensi prinsip eco-village. Sebanyak 30 keluarga terpilih sebagai subjek yang terdiri dari 15 keluarga petani (KP) dan 15 keluarga non-petani (KNP). Metode penelitian pre dan post digunakan untuk mengukur dampak intervensi terhadap perubahan pengetahuan, sikap, dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dan peran kelembagaan masyarakat dalam percepatan pencapaian MDGs. Hasil menunjukkan perubahan pada proporsi pengeluaran pangan dan non pangan, yakni pada KP dari 61.7% menjadi 53.9%, sedangkan pada KNP dari 59.9% menjadi 41%. Meskipun perubahan antara kedua kelompok tersebut tidak signifikan, namun terdapat peningkatan dalam kesejahteraan petani. Terjadi perbaikan status gizi balita yang signifikan (p=0.009). Terjadi perubahan konsumsi pangan balita menjadi lebih Beragam, Bergizi, dan Berimbang (3B). PHBS pada KP maupun KNP menjadi lebih baik. Kerjasama antara kelompok masyarakat, pemimpin informal, pemerintah desa, dan kader desa dapat memperkuat kelembagaan sosial.Kata kunci: kelembagaan sosial, konsumsi pangan, MDGs
POLA KONSUMSI PANGAN DAN ASUPAN ENERGI DAN ZAT GIZI ANAK STUNTING DAN TIDAK STUNTING 0—23 BULAN Aslis Wirda Hayati; Hardinsyah Hardinsyah; Fasli Jalal; Siti Madanijah; Dodik Briawan
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 7 No. 2 (2012)
Publisher : Food and Nutrition Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.82 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2012.7.2.73-80

Abstract

ABSTRACTThe objectives of this study were to analyze food consumption, energy, and nutrients intake patterns between stunting and non-stunting in young children of 0—23 months old, using the data from BHR (Basic Health Research) 2010. The data sub-set from BHR 2010 was obtained into e-files form. From 6 634 under-two children 3 539 were screened out due to incompleteness, outlier, and unusual food consumption during data collection. Nutritional status data were processed using the WHO AnthroPlus 2007, while the other data/statistics were processed using the Excel and SPSS for windows. The different on food consumption pattern was performed with Man-Whitney U test. Food consumption, energy and nutrients intake patterns which measured were type number of food consumption, group number of food consumption, frequency of food consumption, nutrient adequacy, nutrient quality, and nutrients density. The results of study showed that analyze food consumption, and energy and nutrients intake patterns were different between stunting and non-stunting YC according to their age group; the higher the age, the higher their difference. There was no difference in food consumption, and energy and nutrients intake patterns between stunting and non-stunting children 0—5 months. Meanwhile, there was difference in children 6—11 and 12—23 months. The average of protein adequacy and protein density was difference between stunting and non-stunting children 6—11 months. In children 12—23 months, the differences not only in the average of protein adequacy and protein density but also in average of energy and calcium adequacy and calcium density, phosphor, vitamin A, and C adequacy, nutrient quality, and type number of food. Implications for Indonesia that is necessary to study the efficacy of nutritional interventions to achieving optimal linear growth in young children.Key words: children 0—23 months old, food pattern, stuntingABSTRAKPenelitian ini bertujuan menganalisis pola konsumsi pangan dan asupan energi dan gizi anak stunting dan tidak stunting 0—23 bulan menggunakan data Riskesdas 2010. Sub-set data Riskesdas 2010 diperoleh dalam bentuk e-files. Dari 6 634 data anak baduta dalam e-files Riskesdas 2010, sejumlah 3 539 data anak dikeluarkan karena data tidak lengkap, pencilan, konsumsi pangan saat kondisi tidak biasa. Status gizi diolah menggunakan WHO AntroPlus 2007, pengolahan data lainnya menggunakan program Microsoft Excel 2007 dan SPSS for windows. Uji beda pola konsumsi pangan menerapkan Mann-Whitney U test. Pola konsumsi pangan dan asupan energi dan zat gizi yang diukur berupa jumlah jenis konsumsi pangan, jumlah kelompok konsumsi pangan, frekuensi konsumsi pangan, tingkat kecukupan zat gizi, mutu gizi asupan pangan, dan densitas asupan zat gizi. Hasil kajian menunjukkan pola konsumsi pangan dan asupan energi dan zat gizi anak stunting dan tidak stunting 0—23 bulan berbeda menurut kelompok umur; semakin bertambah umur semakin meningkat perbedaannya. Pada anak 0—5 bulan tidak ada perbedaan pola konsumsi pangan dan asupan energi dan gizi anak stunting dan tidak stunting; sebaliknya pada anak 6—11 dan 12—23 bulan. Pada anak 6—11 bulan, rata-rata tingkat kecukupan protein anak stunting dan tidak stunting berbeda, demikian pula densitas asupan protein. Pada anak 12—23 bulan, tidak hanya rata-rata tingkat kecukupan protein dan densitas asupan protein, tetapi rata-rata tingkat kecukupan energi, tingkat kecukupan kalsium dan densitas asupan kalsium, tingkat kecukupan fosfor, tingkat kecukupan vitamin A, tingkat kecukupan vitamin C, mutu gizi makanan, dan bahkan jenis pangan juga berbeda. Implikasi untuk Indonesia yaitu perlu dilakukan penelitian efikasi intervensi zat gizi tersebut untuk pencapaian pertumbuhan linier optimal anak.Kata kunci: anak 0—23 bulan, pola konsumsi pangan, stunting
POLA ASUH MAKAN, PERKEMBANGAN BAHASA, DAN KOGNITIF ANAK BALITA STUNTED DAN NORMAL DI KELURAHAN SUMUR BATU, BANTAR GEBANG BEKASI Nur Latifah Hanum; Ali Khomsan
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 7 No. 2 (2012)
Publisher : Food and Nutrition Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.98 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2012.7.2.81-88

Abstract

ABSTRACTThe purposes of this study were to identify the association between nutritional status, language and cognitive development and also differences of language and cognitive development between normal and stunted underfives children. The study design was a cross-sectional. Sample size was 70 children consisted of 35 normal and 35 stunted children. The highest percentage level of education of fathers and mothers only primary school and more than half of children from poor families. There was significant difference (p<0.05) of language and cognitive development between normal and stunted children. It was show that normal children had higher language and cognitive development scores than stunted children. Also there was significant difference (p<0.05) between age of children, mother level of education, and family income with language and cognitive development. Child care practices was no difference between stunted children and non-stunted children, non-stunted mothers child practices scores was higher than stunted children. There was a significant association between nutritional status based on Height/Age with language development (p<0.05).Key words: cognitive, language, stunting, underfives childrenABSTRAKTujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui kaitan status gizi dengan perkembangan bahasa dan kognitif pada anak yang berstatus gizi normal dan stunted. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Total subjek pada penelitian ini sebanyak 70 anak balita, terdiri dari 35 anak balita berstatus gizi stunted dan 35 anak berstatus gizi normal. Sebagian besar pendidikan orang tua adalah SD dan berasal dari keluarga miskin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan (p<0.05) skor perkembangan bahasa dan kognitif pada anak balita normal dan stunted berdasarkan usia balita, tingkat pendidikan ibu, pendapatan keluarga, dan besar keluarga. Kelompok balita normal memiliki pencapaian perkembangan bahasa dan kognitif yang lebih tinggi daripada kelompok anak balita stunted. Tidak terdapat perbedaan pola asuh makan anak balita normal dan stunted (p>0.05), namun skor pola asuh makan ibu anak balita normal lebih tinggi daripada anak balita stunted. Berdasarkan uji korelasi terdapat hubungan signifikan (p<0.05) antara status gizi indeks (TB/U) anak balita dengan perkembangan bahasa, namun tidak terdapat hubungan antara status gizi indeks (TB/U) dengan perkembangan kognitif balita.Kata kunci: anak balita, bahasa, kognitif, stunting
JENIS PANGAN SARAPAN DAN PERANNYA DALAM ASUPAN GIZI HARIAN ANAK USIA 6—12 TAHUN DI INDONESIA Hardinsyah Hardinsyah; Muhammad Aries
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 7 No. 2 (2012)
Publisher : Food and Nutrition Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.707 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2012.7.2.89-96

Abstract

ABSTRACTThe objective of this study was to analyze the type and amount of food consumed at breakfast and its also contribution in daily nutrient intake of school children (6—12 years old). The data used for this study was the secondary data of the Basic Health Survey 2010 (Riskesdas 2010) conducted by the Research and Development Agency, Ministry of Health. The data of 24-hour recall of food consumption and socio-economic were obtained from 35 000 school age children. The results of the study shows that ten most populer food consumed during breakfast are rice, scramble egg, fried tempeh, vegetable soup, fried fish, instant noodle, fried rice, stir vegetable, and fried tofu; and the five most populer beverages consumed during breakfast are drinking water, sweetened tea, milk creamer, powder milk, and tea. Nearly half (44.6%) of the children breakfast with low nutritional quality. Approximately 44.6%, 35.4%, 67.8%, 85.0%, 89.4%, and 90.3% of child-ren consume only <15% RDI for energy, protein, vitamin A, iron, calcium, and fiber respectively. Based on these results and inline with one of the dietary guidelines messages – do breakfast everyday – the healthy breakfast for school children need further promoted intensively. It is suggested that the healthy breakfast should be able to fulfill 15—30% of daily nutrients requirements.Key words: breakfast, RISKESDAS 2010, school childrenABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis jumlah dan jenis makanan dan minuman sarapan serta kontribusinya dalam asupan gizi harian anak usia sekolah (6—12 tahun). Data yang digunakan untuk penelitian ini adalah data sekunder (data konsumsi pangan) yang diperoleh dari hasil penelitian Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 yang dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Ke-sehatan Indonesia. Data konsumsi pangan (recall 24 jam) dan sosial ekonomi diperoleh dari 35 000 subjek anak usia sekolah (6—12 tahun). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sepuluh makanan yang paling favorit dikonsumsi saat sarapan adalah nasi putih, telur ceplok/dadar, tempe goreng, sayur berkuah, ikan goreng, mi instan, nasi goreng, sayuran (tumis), dan tahu goreng; sedangkan lima minuman terpopuler yang dikonsumsi sebagai sarapan adalah air putih, teh manis, susu kental manis, susu instan, dan air teh. Hampir separuh (44.6%) anak usia sekolah sarapan dengan kualitas gizi rendah. Sekitar 44.6%, 35.4%, 67.8%, 85.0%, 89.4%, dan 90.3% anak hanya memperoleh gizi <15% AKG dari sarapan (berturut-turut untuk energi, protein, vitamin A, zat besi, kalsium, dan serat). Berdasarkan hasil tersebut dan juga sejalan dengan salah satu isi Pesan Dasar Umum Gizi Seimbang (PUGS), yaitu “Sarapan setiap hari”, maka promosi mengenai kebiasaan sarapan sehat bagi anak usia sekolah perlu dilakukan lebih intensif dan berkelanjutan. Selain itu disarankan pula bahwa sarapan yang sehat sebaiknya mampu memenuhi sekitar 15—30% AKG.Kata kunci: anak usia sekolah, RISKESDAS 2010, sarapan
KEBIASAAN DAN KUALITAS SARAPAN PADA SISWI REMAJA DI KABUPATEN BOGOR Anna Febritta Intan Sari; Dodik Briawan; Cesilia Meti Dwiriani
Jurnal Gizi dan Pangan Vol. 7 No. 2 (2012)
Publisher : Food and Nutrition Society of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.259 KB) | DOI: 10.25182/jgp.2012.7.2.97-102

Abstract

ABSTRACTThe study aimed to describe breakfast habit among teenage girls of vocational high school Bogor. A cross-sectional study was conducted and was involving 68 students 14—18 years old from SMK Pelita Ciampea, Bogor District. Breakfast consumption was collected by a 7-day food records. The result showed that there were 45.6% schoolgirls having breakfast regularly. Breakfast frequency per week was associated with BMI and anaemic status (p<0.05). The subject mostly explained that breakfast is eat in the morning. Subjects explained more that breakfast have benefit, consist of a solid food and beverage, and in a medium portion. Types of good food for breakfast were bread and milk. Mother should prepare food for breakfast and it should be done at home before leaving house. The schoolgirls having a good quality breakfast consumed rice, bread, fruit, and milk; and those are having a low quality breakfast consume sweet tea and snack. Mother education and occupation, parents income, and number of family member are significantly related to habitual breakfast (p<0.05). There is significantly association between habitual breakfast and breakfast quality (r=0.539, p<0.05).Key words: breakfast, concept, quality, schoolgirlsABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mempelajari kebiasaan sarapan pada remaja siswi sekolah menengah kejuruan Bogor. Desain cross-sectional digunakan dengan subjek 68 siswi berusia 14—18 tahun dari SMK Pelita Ciampea, Kabupaten Bogor. Konsumsi sarapan dikumpulkan dengan food record selama 7 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 45.6% remaja siswi biasa sarapan setiap hari. Frekuensi sarapan dalam satu minggu berhubungan dengan IMT dan status anemia (p<0.05). Seluruh subjek mendefinisikan sarapan sebagai makan di pagi hari. Selebihnya subjek menjelaskan bahwa sarapan akan bermanfaat, terdiri dari makanan padat dan minuman, dan porsi sedang. Makanan saat sarapan yang baik adalah roti dan susu. Ibu sebaiknya menyiapkan makanan untuk sarapan dan sarapan dilakukan di rumah sebelum memulai aktivitas di luar rumah. Siswi dengan dengan kategori kualitas sarapan baik mengonsumsi nasi, roti, buah, dan susu sedangkan yang kualitas sarapan tidak baik lebih banyak minum teh manis dan jajanan. Pendidikan dan pekerjaan ibu, pendapatan orang tua, dan besar keluarga berhubungan dengan kebiasaan sarapan (p<0.05). Terdapat hubungan positif antara kebiasaan sarapan dengan kualitas sarapan (r=0.539, p<0.05).Kata kunci: konsep, kualitas, sarapan, siswi remaja