cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Fitopatologi Indonesia
ISSN : 02157950     EISSN : 23392479     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Fitopatologi Indonesia (JFI) is an official publication owned by the Indonesian Phytopathology Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia). In 2010, JFI management was given to PFI Komda Bogor. Since then, JFI has been published 6 times (January, March, May, July, September, and November).
Arjuna Subject : -
Articles 412 Documents
Nanoparticles of Chitosan and Bougainvillea Leaf Extract: Characterization and Its Application to Control Bean common mosaic virus strain Blackeye Cowpea: Nanoparticles of Chitosan and Bougainvillea Leaf Extract: Characterization and Its Application to Control Bean common mosaic virus strain Blackeye Cowpea Islami, Nisa Fadhila; Damayanti, Tri Asmira; Santoso, Sugeng; Akhiruddin, Akhiruddin
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 20 No. 2 (2024): Maret 2024
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.20.2.88-100

Abstract

Kitosan dan ekstrak kasar daun bugenvil diketahui mampu mengendalikan beberapa virus tanaman termasuk Bean common mosaic virus strain Blackeye Cowpea (BCMV-BlC). Untuk mengurangi penggunaan bahan baku dan peningkatan keefektifan juga stabilitasnya, kedua bahan perlu disintesis menggunakan teknologi nanpopartikel (NP). Penelitian bertujuan menyintesis nanopartikel kitosan, ekstrak daun bugenvil, dan kombinasinya menggunakan modifikasi metode gelasi ionik, mengarakterisasi NP dan mengevaluasi potensi NP untuk mengendalikan BCMV-BlC pada tanaman indikator Chenopodium amaranticolor. Nanopartikel kitosan (Kit-NP), ekstrak daun bugenvil (EDB-NP), dan kombinasinya (KEDB-NP) berhasil disintesis dengan rata-rata ukuran partikel berturut-turut sebesar 99.72, 163.68, dan 221.42 nm berdasarkan pengamatan di bawah transmission electron microscope (TEM) dan berbentuk bola (sferis) berdasarkan hasil analisis scanning electron microscope (SEM). Hasil analisis fourier transform infrared (FTIR), KEDB-NP menunjukkan gugus fungsi berturut-turut hidroksil, alkena, amina, cincin aromatik, dan senyawa alifatik organohalogen. Daun C. amaranticolor yang diberi perlakuan Kit-NP, EDB-NP, KEDB-NP dan juga non-NP pada konsentrasi 100-800 ppm sebelum inokulasi virus menunjukkan jumlah rata-rata lesio lokal nekrotik (LLN) nyata lebih rendah dibandingkan kontrol tanaman sakit tanpa perlakuan dan tidak berbeda nyata antarkonsentrasi. Perlakuan NP dan non-NP sebelum inokulasi virus secara nyata memperpanjang periode inkubasi dan menekan pembentukan LLN dengan keefektifan 67.5%–100% dibandingkan dengan aplikasi setelah inokulasi virus. Di antara konsentrasi yang diuji, konsentrasi NP antara 100 dan 300 ppm yang diaplikasikan sebelum penularan virus menunjukkan paling efektif dalam menghambat pembentukan LLN. Sintesis EDB-NP, Kit-NP, dan KEDB-NP menggunakan sangat sedikit bahan baku, namun keefektifannya sebanding dengan bentuk non-NPnya dalam mengendalikan infeksi BCMV.
Analisis Keterkaitan Budi Daya Petani terhadap Penyakit Tular Tanah Lada di Bangka: Analysis of the Correlation between Farmers' Cultivation and Soil-borne Diseases of Pepper in Bangka Nurmansyah, Ali; Hartono, Arief; Widodo; Budi, Ferri Stya
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 20 No. 3 (2024): Mei 2024
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.20.3.126-139

Abstract

Penurunan luas areal tanam dan produksi lada (Piper nigrum) di Bangka dipengaruhi oleh penyakit tular tanah seperti penyakit kuning, busuk pangkal batang, dan jamur akar putih. Penyakit tular tanah berkaitan erat dengan faktor biotik dan abiotik yang memicu perkembangannya, termasuk teknik budi daya yang dilakukan oleh petani. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi sebaran dan faktor teknik budi daya yang memicu perkembangan penyakit tular tanah pada tanaman lada di Bangka. Penelitian dilakukan di Kabupaten Bangka Selatan, Bangka Tengah, Bangka, dan Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pengumpulan data lapangan dilakukan melalui pengamatan insidensi penyakit dan wawancara terstruktur kepada petani. Hasil analisis disajikan dalam tabel tabulasi silang untuk masing-masing penyakit tular tanah yang dilengkapi dengan plot korespondensi untuk melihat sebaran kelompok faktor budi daya terhadap tingkat insidensi penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit kuning ialah penyakit tular tanah dominan pada pertanaman lada di Pulau Bangka, diikuti oleh penyakit busuk pangkal batang dan jamur akar putih. Analisis korespondensi menggunakan uji chi-square pada α 0.05 menunjukkan faktor budi daya yang berkaitan erat dengan insidensi penyakit kuning adalah umur tanaman, populasi tanaman, asal bibit, pola tanam, bahan organik, dan kondisi naungan. Sedangkan faktor yang berpengaruh nyata terhadap penyakit busuk pangkal batang ialah asal bibit, kondisi naungan, dan sanitasi kebun. Pemangkasan sulur berkaitan erat dengan insidensi penyakit jamur akar putih. Teknik budi daya terbukti menjadi faktor penting dalam perkembangan penyakit tular tanah di Bangka. Penelitian lanjutan untuk mengidentifikasi keterkaitan antarfaktor tersebut diperlukan.
Potensi Minyak Kayu Putih dan Minyak Serai Dapur dalam Menekan Faktor Virulensi Bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae: Potensi Minyak Kayu Putih dan Minyak Serai Dapur dalam Menekan Faktor Virulensi Bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae Alifia Nur Ayusma; Triwidodo Arwiyanto; Widiastuti, Ani
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 20 No. 4 (2024): Juli 2024
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.20.4.195-203

Abstract

Penyakit hawar daun yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae (Xoo), merupakan salah satu jenis penyakit yang penting pada tanaman padi dan dapat menyebabkan kehilangan hasil mencapai 10-50%. Upaya pengendalian penyakit hawar daun bakteri pada tanaman padi dengan minyak kayu putih dan minyak serai dapur belum banyak dilaporkan. Tujuan penelitian ialah mengevaluasi daya hambat dan penekanan faktor virulensi dari minyak kayu putih dan minyak serai dapur terhadap Xoo kode isolat BaK_2 secara in vitro. Pengujian daya hambat dilakukan dengan metode double layer. Pengujian faktor virulensi dilakukan terhadap pembentukan biofilm, pembentukan eksopolisakarida (EPS), serta motilitas X. oryzae pv. oryzae. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak kayu putih maupun minyak serai dapur dapat menghambat pertumbuhan X. oryzae pv. oryzae secara in vitro. Potensi minimum inhibitory concentration (MIC) pada masing-masing yaitu 15% pada minyak kayu putih dan 5% pada minyak serai dapur. Faktor virulensi pada tiga pengujian, menunjukkan bahwa minyak kayu putih dan minyak serai dapur tidak berpengaruh signifikan terhadap pembentukan biofilm, namun dapat menurunkan pembentukan EPS dan mampu membuat pergerakan bakteri minimum inhibitory concentration menjadi terbatas baik secara swimming motility maupun secara twitching motility.
Cover Jurnal Fitopatologi Vol. 20 No. 1, Januari 2024: Cover Jurnal Fitopatologi Vol. 20 No. 1, Januari 2024 Editors Jurnal Fitopatologi Indonesia
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 20 No. 1 (2024): Januari 2024
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.20.1.i

Abstract

This editorial contains the front cover, editorial page, and back cover of the Jurnal Fitopatologi Vol. 20 No. 1, Januari 2024.
ERRATUM: ERRATUM Editors Jurnal Fitopatologi Indonesia
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 20 No. 1 (2024): Januari 2024
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.20.1.54-55

Abstract

Erratum pada artikel: Hartati S, Meliansyah R, Mayanti T. 2024. Potensi Senyawa Volatil dari Khamir untuk Mengendalikan Cercospora coffeicola. Jurnal Fitopatologi Indonesia. 20(1):1-16. DOI: https://doi.org/10.14692/jfi.20.1.1-14. Fauziyah Q, Ramdan EP, Risnawati R, Yulianti F. 2024. Perlakuan Panas Kering dan Ekstrak Rimpang Lengkuas terhadap Benih Kedelai Terinfeksi Xanthomonas axonopodis. Jurnal Fitopatologi Indonesia. 20(1):17-25. DOI: https://doi.org/10.14692/jfi.20.1.15-23. Kurniawati F, Supramana, Hidayat SH, Tondok ET, Syafutra H. 2024. Perbanyakan Nematoda Daun Aphelenchoides fragariae pada Biakan Cendawan. Jurnal Fitopatologi Indonesia. 20(1):26-33. DOI: https://doi.org/10.14692/jfi.20.1.24-31. Pada versi asli artikel ini, gaya selingkung untuk judul dan keterangan pada tabel dan gambar hanya tertulis dalam bahasa Indonesia. Perubahan gaya selingkung telah dilakukan pada seluruh tabel dan gambar, yaitu dengan judul dan keterangan dalam bahasa Inggris. Selain itu, terdapat perubahan nomor halaman terhadap tiga artikel di atas, yaitu: Nomor halaman untuk artikel Hartati S, Meliansyah R, Mayanti T. 2024. Potensi Senyawa Volatil dari Khamir untuk Mengendalikan Cercospora coffeicola. Jurnal Fitopatologi Indonesia. 20(1):1-16. DOI: https://doi.org/10.14692/jfi.20.1.1-14 tertulis “1-14” diubah menjadi “1-16’. Nomor halaman untuk artikel Fauziyah Q, Ramdan EP, Risnawati R, Yulianti F. 2024. Perlakuan Panas Kering dan Ekstrak Rimpang Lengkuas terhadap Benih Kedelai Terinfeksi Xanthomonas axonopodis. Jurnal Fitopatologi Indonesia. 20(1):17-25. DOI: https://doi.org/10.14692/jfi.20.1.15-23 tertulis “15-23” diubah menjadi “17-25”. Nomor halaman untuk artikel Kurniawati F, Supramana, Hidayat SH, Tondok ET, Syafutra H. 2024. Perbanyakan Nematoda Daun Aphelenchoides fragariae pada Biakan Cendawan. Jurnal Fitopatologi Indonesia. 20(1):26-33. DOI: https://doi.org/10.14692/jfi.20.1.24-31 tertulis “24-31” diubah menjadi “26-33” Perbaikan telah dilakukan di situs web dan versi artikel PDF.
Potensi Mikrob Endofit dalam Menekan Penyakit Busuk Umbi pada Tanaman Bawang Merah: Potential of Endophytic Microbes in Suppressing Basal Rot Disease in Shallot Plants Sari, Rahmah Dian; Tondok, Efi Toding; Dinarti, Diny; Hidayat, Sri Hendrastuti
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 20 No. 3 (2024): Mei 2024
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.20.3.115-125

Abstract

Bawang merah adalah salah satu komoditas hortikultura unggulan di Indonesia. Salah satu kendala produksi bawang merah di Indonesia adalah penyakit busuk pangkal yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum. Beberapa mikrob endofit telah dilaporkan perannya sebagai agens hayati dan efektif menekan penyakit tanaman. Penelitian ini bertujuan mengetahui kemampuan Bacillus siamensis, Chaetomium sp., Cuvularia lunata, dan Trichoderma asperellum dalam menekan pertumbuhan F. oxysporum. Mikrob endofit merupakan koleksi Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor. Pengujian secara in vitro dilakukan dengan metode uji koloni ganda dan uji produksi senyawa organik volatil (SOV) anticendawan dengan metode tangkup. Pengujian SOV dilakukan pada medium ADK dan TSA dengan tingkat konsentrasi, yaitu 20%, 40%, 60%, 80%, dan 100%. Uji in vivo dilakukan dengan menanam umbi bawang merah setelah direndam dalam suspensi mikrob endofit, kemudian dilakukan inokulasi F. oxysporum pada 1 minggu setelah tanam. Hasil uji koloni ganda menunjukkan hambatan sebesar 51.41% (B. siamensis), 71.04% (Chaetomium sp.), 69.45% (C. lunata), dan 74.55% (T. asperellum), sedangkan uji produksi SOV menunjukkan nilai THR yaitu 34.45% (B. siamensis), 14.53% (Chaetomium sp.), 35.23% (C. lunata), dan 42.57% (T. asperellum). Penghambatan insidensi penyakit oleh mikrob endofit pada uji in vivo berkisar 60.00% sampai dengan 73.33%.
First Report of Celery mosaic virus Infecting Celery (Apium graveolens) in Indonesia: Laporan Pertama Celery mosaic virus yang Menginfeksi Seledri (Apium graveolens) di Indonesia Makyorukty, Dhayanti; Damaiyanti, Kartika Catur; Sianipar, Theresia Aprilia; Nurulita, Sari
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 20 No. 3 (2024): Mei 2024
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.20.3.109-114

Abstract

Celery mosaic virus (CeMV), anggota dari genus Potyvirus dilaporkan pertama kali di Indonesia, menginfeksi seledri (Apium graveolens) pada lahan pertanaman sayuran di Berastagi, Provinsi Sumatera Utara. Tanaman tersebut memiliki gejala mosaik dan pemucatan tulang daun yang merupakan ciri khas infeksi CeMV. Infeksi virus dikonfirmasi dengan RT-PCR menggunakan degenerate primer potyvirus yang mengamplifikasi genom virus, yaitu sebagian protein selubung dan 3’-UTR. Analisis pohon filogenetik menempatkan isolat CeMV Indonesia dalam satu klaster terpisah dalam kelompok CeMV dan memiliki kemiripan nukleotida sebesar 96.5%–96.7% dengan isolat contoh CeMV.
Direct Isolation Method for Tomato-Infecting Phytophthora infestans : Metode Isolasi Langsung untuk Phytophthora infestans yang Menginfeksi Tanaman Tomat Parlindo, Fitra; Khairani, Hagia Sophia; Papona, Alisya Talita; Tondok, Efi Toding
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 20 No. 2 (2024): Maret 2024
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.20.2.101-107

Abstract

Infection of Phytophthora infestans at high altitudes in tropical regions causes symptoms of tomato late blight throughout the year. Even though it is very easy to find in the field, P. infestans is often very difficult to isolate aseptically in the laboratory. This study aims to evaluate direct isolation techniques that can increase the success of isolating P. infestans. Isolation was carried out on a non-specific medium, consisting of potato dextrose agar (PDA), corn meal agar (CMA), oatmeal agar (OMA), and water agar (WA) with three alternative types of antibiotics, i.e. chloramphenicol, amoxicillin, and rifampicin. Observations were carried out to determine the effect of the medium on sporangia induction and the age of the original colony’s growth in CMA and OMA media. The results showed that the isolation of P. infestans using the direct method was successfully carried out on non-specific PDA, CMA, OMA and WA medium. The highest isolation success rate was obtained on CMA medium with the addition of 50 mg L-1 rifampicin. The fastest sporangia induction (8 days) was shown by colonies grown on OMA medium with the addition of 50 mg L-1 rifampicin based on the category of abundant sporangia after 20 days of incubation. Rejuvenation of P. infestans colonies for research purposes in the laboratory is recommended to be carried out routinely twice a month. This research provides practical guidance for understanding the bioecology of P. infestans infecting tomato plants, especially for further study on oomycetes fungi.
Potensi Dark Septate Endophyte Isolat Sumatera Utara terhadap Ganoderma boninense Penyebab Busuk Pangkal Batang Kelapa Sawit: Potential of Dark Septate Endophytes North Sumatra Isolates Against Ganoderma boninense the Pathogen of Basal Stem Rot of Oil Palm Firdani, Citra; Lisnawita; Siregar, Luthfi Aziz Mahmud
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 20 No. 3 (2024): Mei 2024
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.20.3.154-164

Abstract

Penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh Ganoderma boninense menyebabkan kerusakan signifikan pada perkebunan kelapa sawit di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia. Penggunaan fungisida kimia yang intensif terhadap Ganoderma dapat berdampak negatif terhadap lingkungan, kesehatan, dan terganggunya keseimbangan ekologi. Aplikasi mikrob sebagai agens hayati menggunakan cendawan endofit antagonis, salah satunya dark septate endophyte (DSE) berpotensi sebagai pengendalian Ganoderma. Penelitian ini bertujuan mendapatkan isolat DSE lokal Sumatera Utara dari areal endemik Ganoderma yang berpotensi untuk mengendalikan G. boninense. Eksplorasi cendawan DSE dilakukan pada areal dengan insidensi Ganoderma moderat (5%-30%) di Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang dan pengujian dilakukan secara in vitro. Hasil penelitian didapat lima isolat cendawan DSE, yaitu isolat II 3 A CM, Gelap A, II 4 CM, II 3 A CC, dan abu-abu. Kemampuan daya hambat terhadap perkembangan G. boninense secara in vitro dari yang paling tinggi berturut-turut adalah isolat Gelap A (100%), abu-abu (90.87%), II 3 A CC (82.83%), II 3 A CM (82.23%), dan II 4 CM (74.88%) pada 7 hari setelah inokulasi. Temuan ini merupakan data awal akan potensi cendawan DSE sebagai agens hayati G. boninense dan merupakan laporan pertama untuk cendawan DSE asal tanaman kelapa sawit di Sumatera Utara.
Diversity of Colletotrichum Species Assosiated with Imported Citrus Fruits, and their Potential to Infect Chili, Rubber, and Cacao Trees in Indonesia: Diversity of Colletotrichum Species Assosiated with Imported Citrus Fruits, and their Potential to Infect Chili, Rubber, and Cacao Trees in Indonesia Hidayat, Joni; Hidayat, Sri Hendrastuti; Wiyono, Suryo; Widodo
Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 20 No. 3 (2024): Mei 2024
Publisher : The Indonesian Phytopathological Society (Perhimpunan Fitopatologi Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14692/jfi.20.3.140-153

Abstract

Spesies Colletotrichum telah banyak dilaporkan sebagai agens penyebab penyakit antraknosa pada tanaman jeruk. Importasi buah jeruk dari beberapa negara produsen ke Indonesia berpotensi membawa masuk spesies Colletotrichum yang belum dilaporkan terdapat di Indonesia. Penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi spesies Colletotrichum yang terbawa melalui impor jeruk dan mengevaluasi potensinya menginfeksi tanaman hortikultura dan perkebunan penting di Indonesia. Sebanyak 7 isolat Colletotrichum diisolasi dari buah jeruk impor asal Cina, Pakistan dan jeruk lokal asal Indonesia. Isolat-isolat Colletotrichum tersebut diamati karakter morfologi dan molekulernya serta patogenisitasnya pada tanaman jeruk, cabai, karet, dan kakao. Analisis filogenetik dilakukan dengan metode analisis multilokus gen (multilocus sequence analysis) dengan mengombinasikan lokus gen ITS, ACT, TUB2, dan GAPDH. Identifikasi isolat Colletotrichum menghasilkan satu spesies grup C. boninense kompleks spesies (C. karstii), 3 spesies grup C. gloeosporioides kompleks spesies (C. fructicola, C. gloeosporioides sensu stricto, dan C. siamense). Isolat Colletotrichum asal jeruk Indonesia diidentifikasi sebagai C. gloeosporioides s.s. Strain C. fructicola mampu menginfeksi cabai, sedangkan strain C. karstii menginfeksi cabai, dan kakao. Strain C. gloeosporioides s.s. dan C. siamense memiliki kisaran inang yang lebih luas yaitu cabai, karet, dan kakao. Beberapa spesies Colletotrichum yang terbawa oleh buah jeruk impor berpeluang menjadi patogen pada beberapa tanaman penting di Indonesia, yaitu cabai, karet, dan kakao.

Filter by Year

2012 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 21 No. 1 (2025): Maret 2025 - IN PROGRESS Vol. 20 No. 6 (2024): November 2024 - IN PROGRESS Vol. 20 No. 5 (2024): September 2024 Vol. 20 No. 4 (2024): Juli 2024 Vol. 20 No. 3 (2024): Mei 2024 Vol. 20 No. 2 (2024): Maret 2024 Vol. 20 No. 1 (2024): Januari 2024 Vol 19 No 6 (2023): November 2023 Vol 19 No 5 (2023): September 2023 Vol. 19 No. 4 (2023): Juli 2023 Vol 19 No 4 (2023): Juli 2023 Vol 19 No 3 (2023): Mei 2023 Vol 19 No 2 (2023): Maret 2023 Vol. 19 No. 2 (2023): Maret 2023 Vol 19 No 1 (2023): Januari 2023 Vol. 18 No. 6 (2022): November 2022 Vol. 18 No. 5 (2022): September 2022 Vol. 18 No. 4 (2022): Juli 2022 Vol. 18 No. 3 (2022): Mei 2022 Vol. 18 No. 2 (2022): Maret 2022 Vol. 18 No. 1 (2022): Januari 2022 Vol 17 No 6 (2021) Vol 17 No 5 (2021) Vol 17 No 4 (2021) Vol 17 No 3 (2021) Vol 17 No 2 (2021) Vol 17 No 1 (2021) Vol 16 No 6 (2020) Vol. 16 No. 5 (2020) Vol 16 No 4 (2020) Vol. 16 No. 3 (2020) Vol 16 No 2 (2020) Vol 16 No 1 (2020) Vol 15 No 6 (2019) Vol 15 No 2 (2019) Vol 15 No 1 (2019) Vol 14 No 6 (2018) Vol 14 No 5 (2018) Vol 14 No 4 (2018) Vol. 14 No. 3 (2018) Vol. 14 No. 2 (2018) Vol. 14 No. 1 (2018) Vol 14 No 1 (2018) Vol. 13 No. 6 (2017) Vol. 13 No. 5 (2017) Vol 13 No 5 (2017) Vol 13 No 4 (2017) Vol. 13 No. 3 (2017) Vol. 13 No. 2 (2017) Vol. 13 No. 1 (2017) Vol 12 No 6 (2016) Vol 12 No 5 (2016) Vol 12 No 4 (2016) Vol 12 No 3 (2016) Vol 12 No 2 (2016) Vol 12 No 1 (2016) Vol 11 No 6 (2015) Vol 11 No 5 (2015) Vol 11 No 4 (2015) Vol 11 No 3 (2015) Vol 11 No 2 (2015) Vol 11 No 1 (2015) Vol 10 No 6 (2014) Vol 10 No 5 (2014) Vol 10 No 4 (2014) Vol 10 No 3 (2014) Vol 10 No 2 (2014) Vol 10 No 1 (2014) Vol 9 No 6 (2013) Vol 9 No 5 (2013) Vol 9 No 4 (2013) Vol 9 No 3 (2013) Vol 9 No 2 (2013) Vol 9 No 1 (2013) Vol 8 No 6 (2012) Vol 8 No 5 (2012) Vol 8 No 4 (2012) Vol. 8 No. 3 (2012) Vol. 8 No. 2 (2012) Vol. 8 No. 1 (2012) More Issue