cover
Contact Name
Theodorus Miraji
Contact Email
jojo.luvjesus@gmail.com
Phone
+6282134184629
Journal Mail Official
jurnalberea@gmail.com
Editorial Address
Jalan Cemara No.72 Salatiga
Location
Kota salatiga,
Jawa tengah
INDONESIA
LOGIA : Jurnal Teologi Pentakosta
ISSN : 27164322     EISSN : 27162834     DOI : https://doi.org/10.37731/log.v2i1.47
LOGIA : Jurnal Teologi Pentakosta adalah jurnal nasional yang dikelola oleh Sekolah Tinggi Teologi Berea dan berfokus pada isu-isu kebaruan Teologi Pentakosta. Sebagai wadah publikasi, LOGIA menerima hasil penelitian ilmiah para akademisi dan praktisi. Semua artikel yang masuk akan di-review oleh reviewer yang ahli di bidangnya dengan menerapkan proses double blind review. Jurnal yang terbit 2 kali setahun ini (Juni dan Desember) memiliki scope: Teologi Biblika Teologi Sistematika Teologi Praktika Pendidikan Kristen yang semuanya memiliki ciri khas Pentakosta
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 89 Documents
Tinjauan Teologis : Fenomena Kepenuhan Roh Kudus kepada Anak Irawaty, Felicia; Stefani, Stefani
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 4, No 1 (2022): Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v4i1.112

Abstract

Tujuan Penelitian ini adalah, untuk menjelaskan karakteristik spiritual anak secara umum. Kedua, untuk menjelaskan karakteristik spiritual anak menurut pandangan Alkitab. Ketiga untuk mendapatkan pemahaman yang benar tentang kepenuhan Roh Kudus kepada anak berdasarkan Kitab Kisah Para Rasul 2:1-13 dan Kitab Yoel 2:28. Menurut hasil questioner yang disebarkan, didapati beberapa pandangan dan  pendapat tentang apakah anak dapat mengalami kepenuhan Roh Kudus di dalam kehidupannya. Ada yang berpendapat bahwa sulit untuk menjelaskan Roh Kudus kepada anak; anak masih ikut-ikutan dan belum bisa dipastikan dapat mengalami kepenuhan Roh Kudus; anak belum memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengalami kepenuhan Roh Kudus; namun ada juga yang berpendapat anak sudah dapat mengalami kepenuhan Roh Kudus Kesimpulan karya ilmiah ini adalah ; pertama, kepenuhan Roh kudus dapat dialami siapa saja, semua orang, tidak memandang umur, jenis kelamin, dan golongan apapun, tentunya ini termasuk anak-anak. Kedua, anak-anak dan teruna-teruna atau remaja bahkan dapat menerima dan memanifestasikan karunia Roh untuk membangun jemaat dalam Tubuh Kristus.Kata kunci : Tinjuan Teologis; Kepenuhan Roh Kudus, Anak
Spiritualitas Pentakosta Dalam Menghadapi Tantangan di Era Post Truth Siregar, Viktor Deni; Pasaribu, Jabes; Ndruru, Foera-era
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 4, No 1 (2022): Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v4i1.98

Abstract

Spiritualitas menjadi bagian penting bagi aliran pentakosta sebagai identitas dan juga landasan untuk mengukuhkan keimanan yang dimiliki oleh individu, namun mengalami tantangan dalam kehidupan di era post-truth yang dapat dilihat secara jelas dengan intensitas Hoax yang tinggi sehingga kevalidan hampir sulit dibedakan. Tujuan penelitian dilakukan untuk melihat bagaimana bagaiman staitmen pentakostalisme untuk menghadapi perubahan zaman khususnya era post truth. Metode yang digunakan dalam kajian ini menggunakan metode kualitatif tinjauan pustaka, dengan mengumpulkan data, meninjau dan memmberikan argument pada kajian yang dilakukan sehingga ditemukan hasil yang kongrit pada penelitian. Hasil penelitian yang ditemukan pada kajian yang dilakukan tentunya untuk terus menghidupi pentakosta tersebut dan harus melihat pada spiritualitas pentakosta klasik yang sudah sangat baik.
Disiplin Hidup Sederhana: Karakteristik Hamba Tuhan Pentakosta Sari, Sinta Kumala; Retjelina, Dorkas
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 4, No 1 (2022): Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v4i1.116

Abstract

Disiplin hidup sederhana merupakan karakteristik hamba Tuhan pentakosta.  Hidup sederhana berbeda dengan kemiskinan, hidup sederhana berbeda dengan asketisme, hidup sederhana juga berbeda dengan hidup kaya.  Hidup sederhana tidak menolak harta benda tetapi hidup hidup sederhana dapat menempatkan harta benda sesuai dengan maksud dan tujuannya.  Disiplin hidup sederhana telah menjadi gaya hidup dari jemaat mula-mula dan para rasul yang menjadi teladan bagi hamba Tuhan pentakosta.  Tujuan artikel ini adalah agar setiap hamba Tuhan memiliki gaya hidup sederhana yang menunjukkan karakteristik seorang hamba Tuhan Pentakosta.  Melalui metode penelitian kualitatif studi pustaka, tulisan ini akan menjelaskan pemahaman yang benar tentang disiplin hidup sederhana merupakan pengajaran yang sangat penting.  Itu sebabnya penelitian ini akan berfokus pada ayat-ayat tertentu dalam Alkitab baik secara tersurat maupun tersirat yang di dalamnya memberikan pemahaman tentang pola hidup sederhana.  Untuk mencapai pembuktiannya, maka pada bagian pertama tulisan ini diawali dengan pemaparan mengenai contoh-contoh kasus gaya hidup hedonisme, konsumerisme dan materialisme. Bagian kedua mengeksposisi ayat-ayat Alkitab yang menunjukkan tentang disiplin hidup sederhana.  Bagian ketiga menunjukkan pentingnya disiplin hidup sederhana.Kata-kata kunci: Hidup sederhana, hamba Tuhan, Pentakosta
Trajektori Pentakostalisme di Indonesia: Menulis Ulang Sejarah, Teologi, dan Identitas Kenusantaraan Tambunan, Elia
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 4, No 1 (2022): Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v4i1.100

Abstract

Lewat studi kritik sejarah dengan pendekatan kualitatif, mengumpulkan data historis dari sumber data yang telah terpublikasi di sejumlah literatur, ditemukan bahwa Pantekostalisme di Indonesia, (dilihat dari sejarah, tokoh, isi teologi, maupun identitas) ialah varian tersendiri. Kesejarahannya memiliki trajektori khas tidak bisa disamakan dengan Pantekosta di kawasan dunia lain. Tulisan ini bertujuan untuk memasukkan Pantekostalisme terhadap studi Pentakostalisme global yang belum terpikirkan peneliti sebelumnya. Pantekostalisme sebagai sumbangsih untuk mengoreksi memori kolektif tentang sejarah gereja-gereja Pantekostal Indonesia dari masa formatifnya di era kolonialisme Hindia Belanda yang secara serampangan disebut sambungan gerakan Azusa Street, Amerika secara langsung. Juga, Pantekostalisme sebagai proyek akademik dengan menggunakan studi kawasan global dan nilai-nilai lokal untuk memulai penulisan ulang sejarah gereja Asia agar distingsi Pantekostalisme dari Indonesia tampak.
Struktur Ulangan 6 dan Spiritualitas Pentakosta Gabriel, Silwanus
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 4, No 1 (2022): Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v4i1.117

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk memaparkan struktur Ulangan 6:1-25 dengan menggunakan pendekatan sinkronis. Pendekatan ini menempatkan ay. 4, yang didalamnya tercantum pernyataan keesaan Tuhan (shema) sebagai pusat dari pasal itu, dan diikuti dengan tiga bagian lainnya: serangkaian perintah dalam bentuk w perfek (ay. 5-9), paparan berkat (protasi) dan syarat (apodosis) di ay. 10-19, kinderkatechese (ay.20-25) dan ay. 1-3 adalah pendahuluan untuk semuanya itu. Struktur tersebut digunakan untuk menjelaskan spiritualitas pentakosta yang terbangun di atas dasar pengakuan terhadap keesaan Tuhan. Dan berdasasrkan pengakuan tersebut spiritualitas pentakosta harus meliputi bagian berikut: ortodoksi, ortopraksi dan ortopati yang dilanjutkan dengan kesadaran untuk mewariskannya pada generasi berikutnya.
Meninjau Ulang Narasi Pertemuan Ibadah Menurut Kisah Para Rasul 2:41-47 dari Aplikasi Kaum Pentakostal di Era Digital Fransiska, Fransiska
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 4, No 2 (2023): JUNI 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v4i2.111

Abstract

Pesatnya kemajuan teknologi di awal abad 21 yang begitu masif mempengaruhi sistem komunikasi dan informasi, juga menyentuh agama serta praktik peribadatannya. Ibadah lekat dengan pemahaman sebagai perwujudan iman dari seseorang yang memeluk agama atau keyakinan tertentu. Maraknya perkembangan teknologi informasi ini secara khusus penggunaannya dalam peribadatan disikapi kaum Pentakostal sebagai sebuah pembingkaian terhadap kemampuan menyetarakan kemajuan tekhnologi dengan keterlibatan Roh Kudus. Tujuan penelitian ini ingin meninjau ulang narasi pertemuan ibadah menurut Kisah Para Rasul 2:41-47 dalam aplikasi kaum Pentakostal di era digital. Metode penelitian yang dipilih untuk menyelesaikan artikel ini mengunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskripsi analitik dan kajian literatur. Artikel ini membahas deskripsi Alkitab tentang ibadah, karakteristik ibadah menurut Kisah Para Rasul 2: 41-47, dan aplikasi kaum Pentakostal di era digital. Disimpulkan, bagi kaum Pentakostal peribadatan yang dilaksanakan di era digital berupa ibadah online tidaklah bertentangan dengan pandangan Alkitab, memaksimalkan penggunaan tekonologi informasi, pertemuan tidak dibatasi tempat, perluasan jangkauan pelayanan, dan unggul dalam komunikasi. Kata kunci : jemaat mula-mula; ibadah; ibadah Kristiani; teologi Pentakostal The rapid advancement of technology in the early 21st century has massively affected communication and information systems, as well as touched religion and its worship practices. Worship is closely related to understanding as a manifestation of the faith of someone who embraces a particular religion or belief. The rise of the development of information technology, specifically its use in worship, is perceived by the Pentacostals as a framing of the ability to equalize technological progress with the involvement of the Holy Spirit. The purpose of this research is to review the narrative of worship meetings according to Acts 2:41-47 in the application of Pentecostals in the digital era. The research method chosen to complete this article uses a qualitative method with an analytical description approach and a literature review. This article discusses the Bible's description of worship, the characteristics of worship according to Acts 2: 41-47, and the application of Pentecostals in the digital age. In conclusion, for Pentacostals worship carried out in the digital era in the form of online worship does not conflict with the views of the Bible, maximizes the use of information technology, meetings are not limited by place, expands the reach of services, and excels in communication.   
Perspektif Pentakosta Tentang Persembahan Persepuluhan dalam Konsep Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru Harianto, Yusup Heri
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 4, No 2 (2023): JUNI 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v4i2.145

Abstract

 Persepuluhan adalah milik Allah dan harus dikembalikan kepada Allah. Namun dalam prakteknya sekarang ini terjadi pro dan kontra sebab ada gereja-gereja yang berpendapat bahwa persepuluhan itu sudah tidak berlaku lagi karena persepuluhan itu ada dalam zaman Taurat. Sedangkan disisi yang lain ada banyak gereja yang dengan tertib masih mentaati untuk mengembalikan persepuluhan tersebut. Itu sebabnya dalam penulisan karya ilmiah ini, fokus penelitian adalah menggali konsep persepuluhan baik melalui Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru serta melihat sejauh mana penerapan persepuluhan tersebut dalam era gereja masa kini khususnya terhadap gereja-gereja yang ada. Dengan menggunakan menggunakan metode kualitatif deskriftif pendekatan studi. Temuan pada artikel ini mengemukakan bahwa mayoritas gereja mengakui dan menerapkan perpuluhan ini. Mayoritas gereja mengajarkan dan menghimbau sebagai sebuah kewajiban kepada para jemaat.  Kata-kata Kunci:  Persepuluhan, Hukum Taurat, Gereja, hamba Tuhan. Tithing belongs to God and must be returned to God. But in practice today there are pros and cons because there are churches that argue that tithing is no longer valid because tithing existed in Torah times. While on the other hand there are many churches that are still in an orderly manner to return the tithing. That is why in writing this scientific paper, the focus of research is to explore the concept of tithing both through the Old and New Testaments and see the extent of the application of tithing in the current church era, especially to existing churches. By using qualitative descriptive methods of study approach. The findings in this article suggest that the majority of churches recognize and apply this tithing. The majority of churches teach and exhort as an obligation to the congregation. 
Fatherhood dalam Surat Efesus 6:4 Sebagai Perspektif Baru tentang Peran Pengasuhan Ayah Terhadap Perkembangan Anak-Anak Baskoro, Paulus Kunto; Dewantari, Shinta; Umboh, Steven Tommy Dalekes
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 4, No 2 (2023): JUNI 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v4i2.93

Abstract

AbstractThe parenting pattern of fathers towards children is an important thing to understand and study seriously, because it is related to a generation. This understaning is called Fatherhood. The principles of parenting fathers to children, known as Fathergood, will be studied specifically through Ephesians 6:4. Paul in his letter discusses relationship in the family and specifically Paul advises fathers not to raise their children in anger that causes bitterness. Instead of educating children with the truth of God’s Word. So that the principles of Fatherhood can be implemented in the lives of believers today. The method used is descriptive literature method. This research will discuss about effective ways of evangelism, so that evangelism is more effective and can be applied in all ages. The Purpose of this writing is First, to find the principles of Fatherhood in Ephesians 6:4. Second, make every Chirstian family an example and pattern in educating children. Third, applying parenting patterns to children today. Keywords : Fatherhood, Role, Upbringing, Father, Son, Ephesus, Colossians  AbstrakPola asuh ayah terhadap anak menjadi hal penting untuk dipahami dan dipelajari secara serius, sebab berhubungan dengan sebuah generasi. Pemahaman inilah yang disebut dengan Fatherhood. Prinsip-prinsip pola asuh ayah kepada anak yang dikenal dengan Fatherhood inilah yang akan dipelajari secara khusus lewat Surat Efesus 6:4. Paulus dalam suratnya membahas mengenai hubungan dalam keluarga dan secara khusus Paulus menasihatkan para ayah untuk tidak mendidik anak mereka dalam kemarahan yang menyebabkan kepahitan. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif literatur. Penelitian ini akan membahas tentang cara yang efektif dalam penginjilan, sehingga penginjilan lebih tepat guna dapat diaplikasikan dalam segala zaman. Tujuan dalam penulisan ini adalah Pertama, menemukan prinsip-prinsip Fatherhood dalam Surat Efesus 6:4. Kedua, menjadikan setiap keluarga Kristen menjadi teladan dan pola dalam mendidik anak yang sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Ketiga, mengaplikasikan pola asuh ayah kepada anak-anak pada masa kini. Kata-kata Kunci: Fatherhood, Peran, Asuh, Ayah, Anak, Efesus 
Menaklukkan Dan Memelihara Bumi: Kajian Teologis Mengenai Tugas Manusia Berdasarkan Dokumen Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Nainggolan, Hanna Yohana; Marpaung, Frans Best Soma; Harianja, Mikael; Hasibuan, Ricky Pramono
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 5, No 1 (2023): Jurnal Logia
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v5i1.184

Abstract

This article explores a comparison between the positive ideals presented in the Bible regarding the creation of the Earth and the current reality where the Earth is confronted with various environmental challenges such as pollution and climate crises. Although the Bible teaches that humans bear the responsibility of caring for and wisely using Earth's resources, the present reality reveals that human activities are causing environmental harm. Building upon this, the article delves into the meaning of humanity's task to subdue and cultivate the Earth, as outlined in Genesis 1:28. Employing a qualitative approach, the author intricately examines theological perspectives and documents from the Protestant Christian Batak Church (HKBP) to comprehend and apply the responsibility of preserving and nurturing the Earth. The emphasis is placed on the notion that involvement in these efforts extends beyond a global duty, encompassing a personal and familial calling to ensure the sustainability of the Earth as God's creation.
Menilik Kisah Kepemimpinan Raja Saul dari Kajian Masa Kini Gabriel, Silwanus
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 4, No 2 (2023): JUNI 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v4i2.150

Abstract

Saul adalah salah seorang figur pemimpin karismatis di Perjanjian Lama.  Riwayat kepemimpinannya memberikan banyak pemahaman pada pergumulan kepemimpinan karismatik.  Telah banyak tulisan yang mengulas teks-teks tentang Saul, namun dari sisi pergeseran sistem pemerintahan Israel kuno dari teokrasi ke monarki dan kegagalan kepemimpinannya dari segi kerohanian.  Penelitian yang mengulas kepemimpinannya yang karismatis dengan menggunakan metode penelitian narasi belum banyak ditemukan, demikian juga halnya dengan paparan tentang tokoh karismatis Saul dengan menggunakan teknik perbandingan antara Saul dengan tokoh-tokoh Perjanjian Lama lainnya.  Tujuan tulisan ini adalah mengeksplorasi sisi karismatis kepemimpinan Saul seperti yang ditampilkan dengan teknik bercerita narasi Perjanjian Lama.  Dengan menggunakan metodologi Analisa penokohan dalam narasi Perjanjian Lama dan Analisa arti kata pada beberapa kata penting yang dipilih, pemahaman terhadap pergumulan kepemimpinan karismatis Saul akan dapat dipahami, yaitu bahwa Saul mendapatkan karisma kepemimpinannya dari Tuhan dan prestasi kepemimpinannya yang dicapai melalui beberapa kemenangan dalam peperangan telah meneguhkan karisma itu di hadapan rakyat Israel.  Namun karisma kepemimpinan tersebut perlu dibarengi dengan karakter untuk memperpanjang kepemimpinan dan melanggengkan pengaruh kepemimpinannya. Kata kunci: karisma, kepemimpinan karismatik, narasi Perjanjian Lama, penokohan, Saul AbstractSaul was one of the charismatic leaders of the Old Testament. His leadership story provides a lot of insights into the struggles of charismatic leadership. There have been many research on Saul, but in terms of the shift from theocracy to monarchy and his spiritualtiy that leads to leadership failures. Researches on his charismatic leadership that utilizes narrative research methods has not been found, as well as the explanation of Saul's charismatic figure using characterization techniques between Saul and other Old Testament figures. The purpose of this article is to explore the charismatic side of Saul's leadership as shown by Old Testament narrative storytelling techniques. Using Old Testament narrative characterization analysis and word study of selected key words, an understanding of Saul's charismatic leadership can be understood.  It is the divine favor that makes Saul a charismatic leader, his victory in war legalizeshis leadership in front of the people.  However, lack of character shortened the duration of his leadership and eliminates its legacy Keywords: charisma, charismatic leadership, Old Testament narrative, characterization, Saul