cover
Contact Name
Heriyadi
Contact Email
psikoborneo@fisip.unmul.ac.id
Phone
+625414121765
Journal Mail Official
psikoborneo@fisip.unmul.ac.id
Editorial Address
Gedung Dekanat Fisipol Lantai 3, Jln. Tanah Grogot, Kampus Gn. Kelua Universitas Mulawarman - Samarinda 75119
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Psikoborneo : Jurnal Ilmiah Psikologi
Published by Universitas Mulawarman
ISSN : 24772666     EISSN : 24772674     DOI : 10.3872/psikoborneo
PSIKOBORNEO : Jurnal Ilmiah Psikologi is a peer-reviewed journal which is published by Mulawarman University, East Kalimantan publishes biannually in March, June, September and December. This Journal publishes current original research on psychology sciences using an interdisciplinary perspective, especially within Organitational and Industrial Psychology, Clinical Psychology, Educational Psychology, and Experimental Psychology Studies. PSIKOBORNEO : Jurnal Ilmiah Psikologi published regularly quarterly in March, June, September, and December. The purpose of this journal is to disseminate ideas and results of research conducted by universities, particularly Psychology Studies, Faculty of Social and Political Sciences at Mulawarman University, which can be applied in society. PSIKOBORNEO : Jurnal Ilmiah Psikologi contains a variety of activities carried out both internally by the Social Sciences Mulawarman University or from externally in handling and overcoming various problems that occur in society by applying science and technology which can then be beneficial to improve the welfare of the society.
Articles 933 Documents
Parental Support and Career Ambivalence: A Study of Vocational High School Students in Yogyakarta Natsir, Humairah; Harahap, Dewi Handayani; Rizqia, Ayu Gigih
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 3 (2025): Volume 13, Issue 3, September 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i3.20510

Abstract

Career indecision is a common challenge faced by vocational high school (SMK) students as they transition to the workforce or higher education. One contributing factor is parental support. This study aims to examine the relationship between parental support and career indecision among 12th-grade students at SMK Koperasi Yogyakarta. Using a quantitative correlational descriptive design, the study involved 88 students as the total population. The instruments used were Likert-scale questionnaires tested for validity and reliability, with Cronbach’s alpha of 0.927 for parental support and 0.759 for career indecision. Data were analyzed using descriptive statistics, classical assumption tests, Pearson correlation, and partial correlation with SPSS version 23. The results showed a significant negative correlation between parental support and career indecision (r = -0.381; p = 0.005). Moreover, partial correlation analysis revealed that only the informational support aspect had a significant relationship with the lack of information aspect in career indecision (r = 0.328; p = 0.023). These findings highlight the importance of informational parental support in assisting students in making informed career decisions.Kebimbangan dalam memilih karier (career indecision) merupakan tantangan umum bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam menghadapi transisi ke dunia kerja atau pendidikan tinggi. Salah satu faktor yang memengaruhi kebimbangan tersebut adalah dukungan orangtua (parental support). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan orangtua dan kebimbangan memilih karier pada siswa kelas XII SMK Koperasi Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional, melibatkan 88 siswa sebagai subjek studi populasi. Instrumen yang digunakan adalah skala Likert, yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya dengan koefisien alpha sebesar 0,927 untuk skala dukungan orangtua dan 0,759 untuk skala kebimbangan karier. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif, uji asumsi klasik, serta korelasi Pearson dan korelasi parsial dengan bantuan SPSS versi 23. Hasil menunjukkan terdapat hubungan negatif yang signifikan antara dukungan orangtua dan kebimbangan karier (r = -0,381; p = 0,005). Selain itu, uji korelasi parsial mengungkap bahwa hanya aspek dukungan informasional orangtua yang berkorelasi signifikan dengan aspek kekurangan informasi dalam kebimbangan karier (r = 0,328; p = 0,023). Temuan ini menekankan pentingnya peran orangtua, khususnya dalam memberikan informasi terkait pendidikan dan karier, untuk membantu siswa membuat keputusan yang tepat.
Unlocking career choices: The role of Self-Efficacy Final-Year Students Decision Making Hermawan, Michael Geri; Novita, Maria Prima
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 3 (2025): Volume 13, Issue 3, September 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i3.19395

Abstract

Final year students are often associated with problems in career decision making, one of these factors is student beliefs, in this case self-efficacy. This research aims to determine the relationship between self-efficacy and career decision making. The research was conducted using quantitative correlational methods, subjects were recruited using accidental sampling techniques and found 300 final year students in Central Java with 61% female subjects and 39% male subjects. The measuring instruments used are the General Self Efficacy Scale (GSES) and the Career Decision Making Proficiency Scale (CDMPS). Based on data that has been processed using the Spearman rho correlation test, it is stated that there is a significant positive relationship between self-efficacy and career decision making in final year students in Central Java with a value of r = 0.172 and sig. = 0.001, which indicates that the higher the self-efficacy, the higher the career decision making. This emphasizes the importance of the relationship between self-efficacy and career decision making, by motivating students and convincing students in their career choices, which increases confidence in the career choices they choose.Mahasiswa tingkat akhir seringkali dikaitkan dengan permasalahan dalam pengambilan keputusan karier salah satu faktor tersebut adalah keyakinan mahasiswa dalam hal ini efikasi diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara efikasi diri dengan career decision making. Penelitian dilakukan menggunakan metode kuantitatif korelasional,subjek direkrut menggunakan teknik accidental sampling dan ditemukan 300 mahasiswa tingkat akhir di Jawa Tengahdengan subjek perempuan sebanyak 61% dan laki-laki 39%. Alat ukur yang digunakan adalah skala General Self Efficacy Scale (GSES) dan Career Decision Making Proficiency Scale (CDMPS). Berdasarkan data yang telah diolah menggunakan uji korelasi spearman rho, dinyatakan ada hubungan positif dan signifikan (r = 0,172, sig.= 0,001) antara efikasi diri dengan career decision making pada mahasiswa tahun terahir di Jawa Tengah, yang mengindikasikan bahwa semakin tinggi efikasi diri, semakin tinggi career decision making. Hal tersebut menekankan kepentingan hubungan antara efikasi diri dengan career decision making, dengan memotivasi mahasiswa dan meyakinkan mahasiswa dalam pilihan karier mereka, yang meningkatkan keyakinan dari pilihan karier yang mereka pilih.
Family Communication Patterns on the Mental Health of Children from Divorced Families Nurhermaya, Amalia Rahma; Harahap, Farida
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 4 (2025): Volume 13, Issue 4, Desember 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i4.22099

Abstract

Studies show that children from divorced families tend to experience long-term psychological problems, including depression and difficulties in forming social relationships. This study aims to explore how parental divorce can affect children's mental health based on the experiences of four subjects who grew up in divorced families. The results show that divorce has a profound impact, especially during adolescence. The research design used in this study was qualitative phenomenology, conducting semi-structured interviews with four subjects. Several subjects experienced difficulties in adjusting and interacting in their social environment. Emotional closeness does not only depend on how often children communicate with their parents but can also be influenced by direct interaction. The reasons for divorce include incompatibility, differences in lifestyle, and irresponsibility of one of the parents, which are significant triggering factors. The results of this study highlight that the way children communicate with their parents has an influence on how they cope with the impact of divorce and the importance of emotional and social support in the adjustment process. The implication of these findings is that researchers, communities, and parents need to work together to create a supportive environment so that children can adapt to change and reduce the negative impact of divorce.Studi menunjukkan bahwa anak-anak dari keluarga yang bercerai cenderung mengalami masalah psikologis jangka panjang, termasuk depresi dan kesulitan dalam menjalin hubungan sosial. Penelitian ini bertujuan menggali bagaimana perceraian orang tua dapat mempengaruhi kesehatan mental anak pada pengalaman empat subjek yang tumbuh dari latar belakang keluarga bercerai menunjukan bahwa perceraian memberikan dampak yang mendalam, terutama pada masa remaja. Desain metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif fenomenologi dengan melakukan wawancara semi terstruktur dengan subjek sebanyak 4 orang. Beberapa subjek mengalami pengaruh dalam menyesuaikan diri dan berinteraksi dilingkungan sosial. Kedekatan emosional tidak hanya bergantung pada seberapa sering anak berkomunikasi dengan orang tua namun dapat dipengaruhi oleh interaksi secara langsung. Alasan perceraian yang terjadi diantaranya, ketidakcocokan, perbedaan gaya hidup dan ketidaktanggung jawaban dari salah satu orang tua menjadi faktor pemicu yang signifikan. Hasil penelitian ini menyoroti bahwa cara anak berkomunikasi dengan orang tua memiliki pengaruh pada bagaimana cara anak mengatasi dampak perceraian serta pentingnya dukungan emosional dan sosial dalam proses penyesuaian. Implikasi temuan ini dari peneliti yakni masyarakat dan orang tua perlu bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang mendukung agar anak-anak dapat beradaptasi dengan perubahan dan mengurangi dampak negatif dari perceraian.
Psychometric properties of the Healthy and Unhealthy Eating Behavior Scale (HUEBS) among Indonesian college students based on the Rasch model Pratiwi, Trisasanti Mega; Srisayekti, Wilis; Devy Kumalasari, Asteria; Muliadi, Rahmad
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 4 (2025): Volume 13, Issue 4, Desember 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i4.20523

Abstract

Eating behavior is a crucial aspect of human life, encompassing multiple dimensions. Unfortunately, no Indonesian-language instrument is specifically designed to measure healthy and unhealthy eating behaviors. This study aimed to evaluate the validity and reliability of the Indonesian version of the Healthy and Unhealthy Eating Behavior Scale (HUEBS) among 210 first-year undergraduate students. The data collection used a random sampling technique among first-year university students in one of the private universities in Indonesia. The HUEBS consists of two subscales: healthy eating behavior and unhealthy eating behavior. The Rasch model was employed to examine the scale's psychometric properties, including unidimensional, rating scale functioning, item fit, and differential item functioning (DIF). The results indicated that all items met the recommended fit criteria (infit and outfit MNSQ) and demonstrated adequate point-measure correlations (> 0.30). The 7-point rating scale functioned optimally and consistently. Item and person reliability values (.99 and .85–.86, respectively) were categorized as good to excellent, supporting the scale’s sensitivity in distinguishing levels of eating behavior. The results show that HUEBS can measure healthy eating and unhealthy eating behavior among university students and can be used as a basis for intervention related to lifestyle.Perilaku makan merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia. Namun, hingga saat ini belum tersedia instrumen berbahasa Indonesia yang secara khusus dirancang untuk mengukur perilaku makan sehat dan tidak sehat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi validitas dan reliabilitas versi Indonesia dari Healthy and Unhealthy Eating Behavior Scale (HUEBS) pada 210 mahasiswa sarjana tahun pertama. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik random sampling pada mahasiswa tahun pertama di salah satu universitas swasta di Indonesia. HUEBS terdiri atas dua subskala, yaitu perilaku makan sehat dan perilaku makan tidak sehat. Model Rasch digunakan untuk menguji karakteristik psikometris skala, meliputi unidimensionalitas, fungsi skala penilaian, item fit, serta differential item functioning (DIF). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh butir memenuhi kriteria kelayakan (infit dan outfit MNSQ) serta memiliki korelasi point-measure yang memadai (> 0,30). Skala penilaian 7 poin berfungsi secara optimal dan konsisten. Nilai reliabilitas butir (.99) maupun reliabilitas responden (.85–.86) termasuk dalam kategori baik hingga sangat baik, sehingga mendukung sensitivitas skala dalam membedakan tingkat perilaku makan. Dengan demikian, HUEBS terbukti mampu mengukur perilaku makan sehat dan tidak sehat pada mahasiswa, serta dapat dijadikan dasar bagi pengembangan intervensi terkait gaya hidup.
Dark Triad Personality and Cyber-Aggression: A Study of Second Social Media Account Users Asri, Herini Wahyu; Hendriyani, Rulita
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 3 (2025): Volume 13, Issue 3, September 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i3.19848

Abstract

The growing use of social media in Indonesia has led to the emergence of the second account phenomenon-alternative accounts used in a more private and anonymous manner. These accounts are often utilized as spaces for self-expression beyond social expectations but can also serve as platforms for deviant behaviors such as cyber-aggression. This study aims to examine the relationship between Dark Triad personality traits-comprising Machiavellianism, Psychopathy, and Narcissism-and cyber-aggression among second account users on social media. A quantitative correlational approach was employed, involving 475 participants who own second accounts. Instruments used include the Cyber-Aggression Questionnaire for Adolescents (CYBA) and the Indonesian version of the Dark Triad Dirty Dozen (DTDD). Multiple linear regression analysis revealed that Machiavellianism (β = 0.2231, p < .001) and Psychopathy (β = 0.2727, p < .001) significantly influenced cyber-aggression, while Narcissism did not show a significant effect (β = 0.0690, p = 0.179). The model explained 20% of the variance in cyber-aggression behavior (Adjusted R² = 0.200). These findings indicate that individuals with Machiavellian and subclinical psychopathic traits are more prone to engaging in online aggression, particularly in contexts that offer anonymity. This study underscores the importance of considering personality aspects in understanding deviant behavior on social media and highlights the need for psychological interventions in anonymous digital spaces.Penggunaan media sosial yang semakin meluas di Indonesia mendorong munculnya fenomena penggunaan second account, yaitu akun alternatif yang digunakan secara lebih privat dan anonim. Akun ini kerap dimanfaatkan sebagai ruang ekspresi diri di luar ekspektasi sosial, namun juga dapat menjadi sarana untuk mengekspresikan perilaku menyimpang seperti cyber-aggression. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara kepribadian Dark Triad yang terdiri dari Machiavellianism, Psychopathy, dan Narcissism dengan perilaku cyber-aggression pada pengguna second account media sosial. Pendekatan kuantitatif korelasional digunakan dengan melibatkan 475 partisipan yang memiliki second account. Instrumen yang digunakan adalah Cyber-Aggression Questionnaire for Adolescents (CYBA) dan Dark Triad Dirty Dozen (DTDD) versi Indonesia. Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa Machiavellianism (β = 0.2231, p < .001) dan Psychopathy (β = 0.2727, p < .001) berpengaruh signifikan terhadap cyber-aggression, sedangkan Narcissism tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan (β = 0.0690, p = 0.179). Model menjelaskan 20% variansi perilaku cyber-aggression (Adjusted R² = 0.200). Temuan ini mengindikasikan bahwa individu dengan sifat Machiavellian dan psikopat subklinis lebih rentan melakukan agresi daring, terutama dalam konteks akun yang memberikan anonimitas. Penelitian ini menyoroti pentingnya perhatian terhadap aspek kepribadian dalam memahami perilaku menyimpang di media sosial serta perlunya intervensi psikologis dalam ruang digital yang bersifat anonim.
From Family Values to Mate Selection: A Gender Moderation Study Amatulah, Dinda Ayu Safira; Rohmah Nurhayati, Siti
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 4 (2025): Volume 13, Issue 4, Desember 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i4.21636

Abstract

The background of this study is grounded in the shifting values of modern society, where individuals often experience conflicts between personal preferences and traditional family values. In the context of mate selection, family values remain an important factor that can influence individual decisions, even though personal freedom in choosing a partner is increasingly emphasized in contemporary times. Furthermore, gender is considered relevant as a moderating variable due to differences in how men and women interpret family values and determine their partner preferences. Based on this context, the present study aims to examine the influence of family values on mate selection preferences among emerging adults, as well as to explore the role of gender as a moderating variable. This research employed a quantitative method with a survey approach involving 385 emerging adult respondents (aged 20–40 years, unmarried, and residing in Indonesia). The instruments used were the Family Values Scale and the Mate Selection Preference Scale, both of which had been tested for validity and reliability. Data were analyzed using moderation regression. The findings revealed that family values had a significant effect on mate selection preferences, and gender moderated this relationship. These results highlight the importance of considering family values and gender in the formation of mate selection preferences. The implications of this study are directed toward individuals, counselors, parents, and policymakers in designing premarital readiness programs.Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pergeseran nilai dalam masyarakat modern, di mana individu sering kali mengalami konflik antara preferensi pribadi dan nilai tradisional keluarga. Dalam konteks pemilihan pasangan, nilai-nilai keluarga tetap menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi keputusan seseorang, meskipun kebebasan memilih semakin ditekankan pada era kontemporer. Selain itu, jenis kelamin dipandang relevan sebagai variabel moderator karena adanya perbedaan pandangan antara laki-laki dan perempuan dalam memaknai nilai keluarga dan menentukan pilihan pasangan. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh nilai-nilai keluarga terhadap preferensi pemilihan pasangan pada dewasa awal, serta menelaah peran jenis kelamin sebagai variabel moderator. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan survei terhadap 385 responden dewasa awal (usia 20–40 tahun, belum menikah, dan berdomisili di Indonesia). Instrumen yang digunakan adalah skala nilai-nilai keluarga dan skala preferensi pemilihan pasangan yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan dengan regresi moderasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai keluarga berpengaruh signifikan terhadap preferensi pasangan, dan jenis kelamin memoderasi hubungan tersebut. Temuan ini menegaskan pentingnya mempertimbangkan nilai-nilai keluarga dan peran jenis kelamin dalam pembentukan preferensi pasangan. Implikasi penelitian ditujukan bagi individu, konselor, orang tua, dan pembuat kebijakan dalam merancang program kesiapan pernikahan.
Self-Esteem As A Mediator In Parental Attachment And Life Satisfaction In Adolescence Puspitahati, Claudia Maharani; Widyorini, Endang
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 3 (2025): Volume 13, Issue 3, September 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i3.20693

Abstract

One of the expectations of very individual including teenagers is the achievement of life satisfaction. However, not all teenagers are capable to achieve their life satisfaction. In Indonesia, the level of life satisfaction is still relatively low. The purpose of this study is to look the effect of parental attachment on life satisfaction with self-esteem as a mediator in one of the private Junior High Schools in Kudus. The hypothesis proposed is that self-esteem plays a mediator role in the influence of parental attachment on adolescent life satisfaction. This study uses a quantitative approach, with a sample of 128 students selected through total sampling techniques. The measurement instruments used include Inventory Parent and Peer Attachment (IPPA), Satisfaction With Life Scale (SWLS), and Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES). Mediation analysis uses the SEM mediation analysis featured of JASP software version 16.1. The outcome showed that parental attachment had a significant effects on life satisfaction directly with a value of 0,001 (p <0,05). Then the indirect of parental attachment on life satisfaction and self-esteem as mediators was obtained with a value of p 0,001 (p <0,05), which means that self-esteem can play a mediator between parental attachment and life satisfaction. The influence of parental attachment and self-esteem together on life satisfaction was 98,3%.Salah satu keinginan yang diharapkan setiap individu termasuk remaja adalah mencapai life satisfaction. Namun tidak semua remaja mampu mencapai life satisfactionnya. Di Indonesia sendiri tingkat life satisfaction masih tergolong dalam kategori rendah. Tujuan penelitian ialah untuk melihat pengaruh parental attachment terhadap life satisfaction dengan self-esteem sebagai variabel mediator pada salah satu SMP swasta di Kudus. Adapun hipotesis yang diajukan yaitu self-esteem berperan sebagai mediator pada pengaruh parental attachment terhadap life satisfaction remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan sampel yang digunakan sebanyak 128 siswa/siswi yang dipilih melalui teknik sampling total. Alat ukur yang digunakan meliputi Inventory Parent and Peer Attachment(IPPA), Satisfaction With Life Scale (SWLS), dan Rosenberg Self-Esteem (RSES). Analisis mediasi menggunakan fitur SEM mediation analysis dari software JASP versi 16.1. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa parental attachment berpengaruh signifikan terhadap life satisfaction secara langsung dengan nilai p 0,001 (p <0,05). Kemudian pengaruh tidak langsung parental attachment terhadap life satisfaction dan self-esteem sebagai mediator diperoleh nilai p 0,001 (p <0,05), yang berarti self-esteem dapat berperan sebagai mediator antara parental attachment dan life satisfaction. Besar pengaruh parental attachment dan self-esteem secara bersama-sama terhadap life satisfaction sebesar 98,3%.
The Work-Life Balance Phenomenon Among Teachers: What Role Does Perceived Organizational Support Play? Faeqotus Soleha, Tiki; Dyan Prastika, Netty
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 3 (2025): Volume 13, Issue 3, September 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i3.20362

Abstract

Work-life balance is the ability to fairly divide roles between work life and personal life. One of the driving factors that can improve work-life balance is the perceived organizational support that makes teachers feel well-being in living their work life. So this perceived is needed to achieve work-life balance. However, in reality there are still teachers who lack the perceived organizational support. The purpose of this study was to determine the relationship between the perceived organizational support and work-life balance. The research method used was quantitative. The subjects of this study were 158 high school teachers with civil servant status in Samarinda with simple random sampling data collection techniques. The collection method used was the work-life balance scale and perceived organizational support. The data analysis technique used was the Pearson product moment correlation. The results of the validity test of the work-life balance scale and perceived organizational support obtained a value of r> 0.300 with all items declared valid. Based on the results of the study, it was found that there was a significant relationship between the perceived organizational support and work-life balance with r count 0.408> r table 0.131 and a sig value of 0.000 <0.05 which indicated a positive relationship. The higher the perceived organizational support, the higher the work-life balance of teachers. Therefore, schools and education stakeholders are expected to facilitate the psychological well-being of teachers by providing adequate support. With this support, it is hoped that teachers can carry out their duties better without sacrificing aspects of their personal lives, thus having a positive impact on the quality of education.Keseimbangan kehidupan kerja merupakan kemampuan membagi peran secara adil antara kehidupan pekerjaan dengan kehidupan pribadi. Salah satu faktor pendorong yang dapat meningkatkan keseimbagan kehidupan kerja yaitu faktor persepsi dukungan organisasi yang membuat guru merasakan kesejahteraan dalam menjalani kehidupan pekerjaan. Sehingga persepsi ini dibutuhkan untuk mencapai keseimbangan kehidupan kerja. Namun, kenyataannya masih ada guru yang kurang memiliki persepsi dukungan organisasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan persepsi dukungan organisasi dengan keseimbangan kehidupan kerja. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif. Subjek penelitian ini adalah 158 guru SMA sederajat berstatus PNS di Samarinda dengan teknik pengumpulan data simple random sampling. Metode pengumpulan yang digunakan adalah dengan skala keseimbangan kehidupan kerja dan persepsi dukungan organisasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah korelasi pearson product moment. Hasil uji validitas skala keseimbangan kehidupan kerja dan persepsi dukungan organisasi didapatkan nilai r > 0.300 dengan seluruh aitem dinyatakan valid. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa terdapat hubungan signifikan antara persepsi dukungan organisasi dan keseimbangan kehidupan kerja dengan r hitung 0.408 > r tabel 0.131 dan nilai sig 0.000 < 0.05 yang menunjukkan hubungan ke arah positif. Semakin tinggi persepsi dukungan organisasi maka semakin tinggi pula keseimbangan kehidupan kerja pada guru. Oleh karena itu, sekolah dan pemangku pendidikan diharapkan dapat memfasilitasi kesejahteraan psikologis guru dengan memberikan dukungan yang memadai. Dengan adanya dukungan tersebut, diharapkan para guru dapat menjalankan tugas mereka dengan lebih baik tanpa mengorbankan aspek kehidupan pribadi, sehingga berdampak positif pada kualitas pendidikan.
Self-Esteem and Life Satisfaction Among Adolescents in Semarang: Communication with Peers as a Mediator Kusuma, Arneta Nadila; Widyorini, Endang
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 4 (2025): Volume 13, Issue 4, Desember 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i4.20645

Abstract

The decline in life satisfaction during adolescence is a significant concern due to its negative effects on psychological well-being and development. Factors contributing to life satisfaction include self-esteem and communication with peers. This study aimed to examine the relationship between self-esteem and life satisfaction among adolescents in Semarang, with communication with peers as a mediating variable. The proposed hypothesis was that communication with peers mediates the relationship between self-esteem and life satisfaction. The population of this study includes students who are actively attending junior high schools in Semarang. A quantitative approach with a simple mediation design was used. Data were collected from 296 participants using three instruments: the Rosenberg Self-Esteem Scale, the Satisfaction with Life Scale–Children (SWLS-C), and the Adolescent Peer Communication Scale. Data were analyzed using Structural Equation Modeling (SEM). The results showed a positive and significant relationship between self-esteem and life satisfaction, mediated by communication with peers (coefficient = 0.019; 95% CI [0.008–0.029]). These findings highlight the important role of peer communication in mediating the relationship between self-esteem and life satisfaction in adolescents. This underscores the importance of developing peer communication skills as a strategy to enhance adolescents’ life satisfaction.Penurunan life satisfaction selama masa remaja merupakan masalah penting yang dapat berdampak negatif pada kesejahteraan psikologis dan perkembangan remaja. Beberapa faktor yang berkontribusi terhadap life satisfaction adalah self-esteem dan communication with peers. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-esteem dan life satisfaction pada remaja di Kota Semarang yang dimediasi oleh communication with peers. Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara self-esteem dan life satisfaction pada remaja di Semarang yang dimediasi oleh communication with peers. Populasi penelitian meliputi siswa yang aktif bersekolah di tingkat Sekolah Menengah Pertama di Kota Semarang. Pendekatan kuantitatif dengan desain mediasi sederhana digunakan dalam penelitian ini. Data dikumpulkan dari 296 partisipan menggunakan tiga instrumen, yaitu Rosenberg Self-Esteem Scale, Satisfaction with Life Scale–Children (SWLS-C), dan skala Adolescent Peer Communication. Analisis data dilakukan dengan metode Structural Equation Modelling (SEM). Hasil menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara self-esteem dan life satisfaction yang dimediasi oleh communication with peers (koefisien = 0,019; 95% CI [0,008–0,029]). Hasil penelitian ini menegaskan peran penting communication with peers dalam memediasi hubungan antara self-esteem dan life satisfaction remaja. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya pengembangan keterampilan komunikasi antar teman sebaya sebagai strategi untuk meningkatkan kepuasan hidup remaja.
The Role of Father Involvement in Adolescent Anxiety: A Gender Perspective Putri, Raras Shinta; Widyorini, Endang
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 13, No 4 (2025): Volume 13, Issue 4, Desember 2025
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v13i4.20701

Abstract

Adolescence is a transitional period that is highly vulnerable to anxiety due to significant physical, cognitive, and social changes. National data show that one in three adolescents in Indonesia experiences mental health problems, including anxiety. One factor that plays a role in reducing anxiety is father involvement, as fathers can provide emotional support, a sense of security, and serve as role models for adolescents. This study aims to examine the effect of father involvement on adolescent anxiety and the role of gender as a moderating variable. Participants consisted of 179 male and female adolescents aged 13–15 years, selected using total sampling. The instruments used were the Beck Anxiety Inventory (BAI) and the Father Involvement Scale (FIS). Data were analyzed using IBM SPSS Statistics version 26 and PROCESS v4.2. The results showed that father involvement had a significant negative effect on adolescent anxiety (b = -0.172, p = 0.009). Gender had no significant effect (p = 0.672) and did not moderate the relationship (p = 0.971). Father involvement significantly reduced anxiety in both male adolescents (b = -0.172, p = 0.002) and female adolescents (b = -0.175, p = 0.006), with a slightly stronger effect in males (β = -0.327) compared to females (β = -0.278). These findings indicate that father involvement is an important factor in reducing adolescent anxiety regardless of gender. The results highlight the importance of father involvement as a protective factor against adolescent anxiety, underscoring the need for family and school programs that encourage fathers’ active participation, as well as further research with broader psychosocial approaches.Masa remaja merupakan periode transisi yang rentan terhadap kecemasan akibat perubahan fisik, kognitif, dan sosial yang signifikan. Data nasional menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja di Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental, termasuk kecemasan. Salah satu faktor yang berperan dalam menurunkan kecemasan adalah keterlibatan ayah, karena figur ayah dapat memberikan dukungan emosional, rasa aman, serta menjadi role model bagi remaja. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh keterlibatan ayah terhadap kecemasan remaja serta peran jenis kelamin sebagai variabel moderator. Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah keterlibatan ayah berpengaruh terhadap kecemasan remaja dan bagaimana jenis kelamin memoderatori hubungan antara keterlibatan ayah terhadap kecemasan pada remaja. Hipotesis yang diuji dalam penelitian ini, yaitu terdapat hubungan antara keterlibatan ayah terhadap kecemasan pada remaja dengan jenis kelamin sebagai variabel moderator serta terdapat perbedaan hubungan keterlibatan ayah dengan kecemasan pada remaja laki-laki dan perempuan. Partisipan penelitian adalah remaja laki-laki dan perempuan berusia 13-15 tahun sebanyak 179 orang. Penelitian ini menggunakan teknik total sampling, di mana seluruh individu dalam populasi yang memenuhi syarat dijadikan responden. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan skala Beck Anxiety Inventory (BAI) dan Father Involvement Scale (FIS). Skala tersebut disusun dengan model skala likert. Penelitian ini menggunakan IBM Statistik SPSS versi 26 serta PROCESS v42. Hasil penelitian menunjukkan keterlibatan ayah berpengaruh negatif signifikan terhadap kecemasan remaja (b= -0,172, p = 0,009), sementara jenis kelamin tidak berpengaruh signifikan (p= 0,672) dan tidak memoderasi hubungan tersebut (p=o,971). Keterlibatan ayah secara signifikan menurunkan kecemasan pada remaja laki-laki (b= -0,172, p= 0,002) maupun perempuan (b= -0,175, p= 0,006), dengan pengaruh sedikit lebih kuat pada laki-laki (β = -0.327) dibandingkan perempuan (β = -0,278). Hal ini menunjukkan bahwa keterlibatan ayah merupakan faktor penting dalam menurunkan kecemasan remaja, tanpa perbedaan jenis kelamin. Hasil ini menekankan pentingnya keterlibatan ayah sebagai faktor protektif kecemasan remaja, sehingga diperlukan program keluarga dan sekolah yang mendorong peran aktif ayah serta penelitian lanjutan dengan pendekatan lebih luas.

Filter by Year

2013 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 4 (2025): Volume 13, Issue 4, Desember 2025 Vol 13, No 3 (2025): Volume 13, Issue 3, September 2025 Vol 13, No 2 (2025): Volume 13, Issue 2, Juni 2025 Vol 13, No 1 (2025): Volume 13, Issue 1, Maret 2025 Vol 12, No 4 (2024): Volume 12, Issue 4, Desember 2024 Vol 12, No 3 (2024): Volume 12, Issue 3, September 2024 Vol 12, No 2 (2024): Volume 12, Issue 2, Juni 2024 Vol 12, No 1 (2024): Volume 12, Issue 1, Maret 2024 Vol 11, No 4 (2023): Volume 11, Issue 4, Desember 2023 Vol 11, No 3 (2023): Volume 11, Issue 3, September 2023 Vol 11, No 2 (2023): Volume 11, Issue 2, Juni 2023 Vol 11, No 1 (2023): Volume 11, Issue 1, Maret 2023 Vol 10, No 4 (2022): Volume 10, Issue 4, Desember 2022 Vol 10, No 3 (2022): Volume 10, Issue 3, September 2022 Vol 10, No 2 (2022): Volume 10, Issue 2, Juni 2022 Vol 10, No 1 (2022): Volume 10, Issue 1, Maret 2022 Vol 9, No 4 (2021): Volume 9, Issue 4, Desember 2021 Vol 9, No 3 (2021): Volume 9, Issue 3, September 2021 Vol 9, No 2 (2021): Volume 9, Issue 2, Juni 2021 Vol 9, No 1 (2021): Volume 9, Issue 1, Maret 2021 Vol 8, No 4 (2020): Volume 8, Issue 4, December 2020 Vol 8, No 3 (2020): Volume 8, Issue 3, September 2020 Vol 8, No 2 (2020): Volume 8, Issue 2, June 2020 Vol 8, No 1 (2020): Volume 8, Issue 1, March 2020 Vol 7, No 4 (2019): Volume 7, Issue 4, December 2019 Vol 7, No 3 (2019): Volume 7, Issue 3, September 2019 Vol 7, No 2 (2019): Volume 7, Issue 2, June 2019 Vol 7, No 1 (2019): Volume 7, Issue 1, March 2019 Vol 6, No 4 (2018): Volume 6, Issue 4, December 2018 Vol 6, No 3 (2018): Volume 6, Issue 3, September 2018 Vol 6, No 2 (2018): Volume 6, Issue 2, June 2018 Vol 6, No 1 (2018): Volume 6, Issue 1, March 2018 Vol 5, No 4 (2017): Volume 5, Issue 4, Desember 2017 Vol 5, No 3 (2017): Volume 5, Issue 3, September 2017 Vol 5, No 2 (2017): Volume 5, Issue 2, June 2017 Vol 5, No 1 (2017): Volume 5, Issue 1, Maret 2017 Vol 4, No 4 (2016): Volume 4, Issue 4, Desember 2016 Vol 4, No 3 (2016): Volume 4, Issue 3, September 2016 Vol 4, No 2 (2016): Volume 4, Issue 2, Juni 2016 Vol 4, No 1 (2016): Volume 4, Issue 1, Maret 2016 Vol 3, No 4 (2015): Volume 3, Issue 4, Oktober 2015 Vol 3, No 3 (2015): Volume 3, Issue 3, Juli 2015 Vol 3, No 2 (2015): Volume 3, Issue 2, April 2015 Vol 3, No 1 (2015): Volume 3, Issue 1, Januari 2015 Vol 2, No 4 (2014): Volume 2, Issue 4, Oktober 2014 Vol 2, No 3 (2014): Volume 2, Issue 3, Juli 2014 Vol 2, No 2 (2014): Volume 2, Issue 2, April 2014 Vol 2, No 1 (2014): Volume 2, Issue 1, Januari 2014 Vol 1, No 4 (2013): Volume 1, Issue 4, October 2013 Vol 1, No 3 (2013): Volume 1, Issue 3, Juli 2013 Vol 1, No 2 (2013): Volume 1, Issue 2, April 2013 Vol 1, No 1 (2013): Volume 1, Issue 1, Januari 2013 More Issue