cover
Contact Name
Florensius Tijan
Contact Email
admin@unka.ac.id
Phone
+6281227902049
Journal Mail Official
admin@unka.ac.id
Editorial Address
Jl.YC.Oevang Oeray Nomor 92 Baning Kota, Kecamatan Sintang, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat 78612
Location
Kab. sintang,
Kalimantan barat
INDONESIA
PIPER
ISSN : 19070403     EISSN : 27755738     DOI : 10.51826/piper
PIPER merupakan salah satu media/wadah untuk mengembangkan kemampuan ilmiah civitas akademika Fakultas Pertanian, terutama kemampuan berkomunikasi secara tertulis sesuai kaidah-kaidah ilmiah. Sebagai wadah menampung hasil-hasil penelitian ilmiah, PIPER dapat memperkaya khasanah ilmu dan pengetahuan melalui berbagai aktivitas penelitian. PIPER diharapkan berisi konsep-konsep pemikiran yang objektif, kritis, maju, konstruktif dan mengandung upaya memecahkan berbagai masalah sektor pertanian terutama di wilayah Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat maupun di Indonesia bahkan dunia.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 22 No 1 (2026): Issue in Progress" : 8 Documents clear
ECOTHERAPY HEALING FOREST SEBAGAI EKOWISATA MINAT KHUSUS DI WILAYAH KONSERVASI TAMAN WISATA ALAM GUNUNG KELAM SINTANG KALIMANTAN BARAT Vincencia Septaviani Issera Sulistya Putri; Antonius Antonius
Publikasi Informasi Pertanian Vol 22 No 1 (2026): Issue in Progress
Publisher : Universitas Kapuas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v22i1.1720

Abstract

Ecotherapy healing forest (EHF) merupakan ekowisata minat khusus untuk program intervensi nonfarmakologis dan memperbaiki kesehatan mental (depresi, kecemasan, stres) menggunakan atraksi lingkungan alami sebagai penunjang terapi. Manfaatnya untuk menurunkan tingkat kejenuhan, depresi/kecemasan/stress, sehingga meningkatkan produktivitas dan kesehatan melalui panca indera, sehingga lingkungan terjaga, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat meningkat, selaras dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Penelitian ini dilakukan di Kawasan TWA Gunung Kelam, Kabupaten Sintang. Waktu pengambilan data bulan Agustus 2023 – Januari 2024. Lokasi ditentukan secara purposive dengan mempertimbangkan (1) ± sekitar 20 Km dari kota Sintang; (2) Tempat terjangkau; (3) waktu tempuh ± 30 menit dengan menggunakan kendaraan pribadi; (4) memiliki obyek wisata alam yang eksotis. Metode yang digunakan adalah identifikasi tapak pada jalur yang telah tersedia dan terbagi menjadi 6 titik pengukuran dengan panjang keseluruhan jarak tracking ± 3,9 km dan luasan lahan ± 8 Ha, meliputi pengukuran: (1) pengukuran vegetasi (2) mikroklimat (3) tingkat kebisingan (4) kecepatan angin (5) kandungan ion negatif; dan rekomendasi desain untuk site of ecotherapy healing forest. Berdasarkan hasil analisis identifikasi tapak, persepsi dan preferensi masyarakat, daya dukung tapak, kenyamanan termal dan rekomendasi desain site, maka wilayah konservasi Taman Wisata Alam Gunung Kelam Sintang, sangat representatif untuk menjadi site of ecotherapy healing forest.
RESPON FISIOLOGIS DAN PERTUMBUHAN KEDELAI TERHADAP KOMBINASI AMELIORAN DAN NPK PADA LAHAN SULFAT MASAM JENUH AIR Baaqiy Amri Annisa; Nurjani Nurjani; Nadya Muliandari
Publikasi Informasi Pertanian Vol 22 No 1 (2026): Issue in Progress
Publisher : Universitas Kapuas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lahan sulfat masam merupakan lahan suboptimal yang berpotensi dikembangkan untuk budidaya kedelai, namun dibatasi oleh kemasaman tanah, toksisitas aluminium, serta rendahnya ketersediaan hara. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kombinasi amelioran dan komposisi pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan respons fisiologis tanaman kedelai pada sistem budidaya jenuh air. Penelitian dilaksanakan di lahan sulfat masam tipe luapan C menggunakan rancangan acak kelompok lengkap faktorial dengan dua faktor, yaitu amelioran (pupuk kandang ayam dan kombinasi dolomit) dan komposisi pupuk NPK. Variabel pengamatan meliputi jumlah daun, luas daun, indeks luas daun, laju asimilasi bersih, laju pertumbuhan tanaman, dan rasio luas daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi pupuk kandang dan dolomit meningkatkan perkembangan tajuk serta efisiensi fisiologis tanaman melalui peningkatan luas daun, indeks luas daun, laju asimilasi bersih, dan laju pertumbuhan tanaman. Komposisi pupuk NPK yang seimbang menghasilkan pertumbuhan vegetatif dan stabilitas fisiologis yang lebih baik dibandingkan komposisi hara yang tidak proporsional. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sinergi amelioran dan keseimbangan hara berperan penting dalam meningkatkan efisiensi fotosintesis dan distribusi biomassa tanaman pada lahan sulfat masam dengan sistem jenuh air. Hasil penelitian ini bermanfaat sebagai dasar pengembangan teknologi pengelolaan kesuburan tanah dan strategi pemupukan berimbang untuk meningkatkan produktivitas kedelai pada lahan suboptimal.
PERBANDINGAN PERTUMBUHAN POPULASI TRIBOLIUM spp. DAN SIFAT FISIK LIMA JENIS TEPUNG Mia Ardina; Tris Haris Ramadhan; Edy Syahputra
Publikasi Informasi Pertanian Vol 22 No 1 (2026): Issue in Progress
Publisher : Universitas Kapuas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tribolium spp. merupakan salah satu hama gudang yang sering menyerang produk tepung selama penyimpanan dan menyebabkan penurunan kualitas serta kuantitas bahan pangan. Perbedaan jenis tepung diduga memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan Tribolium spp. karena adanya variasi kandungan nutrisi, kadar air, dan sifat fisik media pakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertumbuhan populasi larva, pupa, dan imago Tribolium spp. pada lima jenis tepung, yaitu tepung gandum, tepung jagung, tepung tapioka, tepung kacang hijau, dan tepung ketan putih. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Hama Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura selama tiga bulan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor dengan lima perlakuan dan empat ulangan. Setiap unit percobaan terdiri atas 250 g tepung yang diinfestasi 10 pasang imago Tribolium spp. berumur 7–14 hari. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan populasi larva, pupa, dan imago, berat dan panjang imago, persentase susut berat tepung, serta kadar air bahan sebelum dan sesudah penelitian. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal–Wallis dan Mann–Whitney untuk data nonparametrik, serta analisis ragam (ANOVA) dan uji DMRT untuk data parametrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis tepung berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan populasi Tribolium spp. pada seluruh stadia perkembangan. Tepung gandum menghasilkan pertumbuhan populasi tertinggi, sedangkan tepung tapioka dan tepung ketan putih tidak mampu mendukung perkembangan hingga fase imago. Hasil ini menunjukkan bahwa perbedaan kandungan nutrisi, kadar air, dan tekstur media pakan eberhasilan perkembangan Tribolium spp.
POPULASI DAN INTENSITAS SERANGAN HAMA ULAT GRAYAK JAGUNG (Spodoptera frugiperda) PADA TIGA VARIETAS TANAMAN JAGUNG (Zea mays L.) Serly Afrilyana; Tris Haris Ramadhan; Indri Hendarti
Publikasi Informasi Pertanian Vol 22 No 1 (2026): Issue in Progress
Publisher : Universitas Kapuas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ulat grayak jagung (Spodoptera frugiperda) merupakan hama invasif utama yang menimbulkan kerusakan serius pada pertanaman jagung di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui populasi dan intensitas serangan S. frugiperda pada tiga varietas jagung, yaitu Bonanza F1, Kumala F1, dan NK 212. Penelitian dilaksanakan pada Juli–November 2025 di Desa Sebalo, Kecamatan Bengkayang, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor dengan enam ulangan. Pengamatan dilakukan pada umur tanaman 2–8 minggu setelah tanam (MST) dengan lima tanaman sampel per petak. Parameter yang diamati meliputi populasi larva, persentase dan intensitas serangan, serta berat tongkol jagung. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA), uji Kruskal–Wallis, dan korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi larva S. frugiperda mulai terdeteksi pada umur 2 MST dan mencapai puncak pada umur 3–4 MST, kemudian menurun pada umur selanjutnya. Populasi larva antar varietas umumnya tidak berbeda nyata pada sebagian besar umur pengamatan. Persentase dan intensitas serangan tertinggi terjadi pada umur 4–5 MST dengan kategori ringan hingga sedang. Varietas Kumala F1 menunjukkan intensitas serangan terendah, sedangkan Bonanza F1 menunjukkan persentase serangan tertinggi. Analisis korelasi menunjukkan adanya hubungan positif kuat antara intensitas serangan dan berat tongkol jagung (r = 0,808). Varietas NK 212 menunjukkan toleransi yang lebih baik terhadap serangan S. frugiperda dan mampu mempertahankan hasil panen. Disimpulkan bahwa tingkat serangan S. frugiperda dipengaruhi oleh fase pertumbuhan tanaman dan karakter genetik varietas.
PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PENGELOLAAN TAMAN WISATA ALAM BANING SEBAGAI RUANG TERBUKA HIJAU DI KABUPATEN SINTANG M. Kurniawan Candra; Surya Aspita; Rezki Handuri
Publikasi Informasi Pertanian Vol 22 No 1 (2026): Issue in Progress
Publisher : Universitas Kapuas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v22i1.1898

Abstract

Taman Wisata Alam (TWA) Baning merupakan hutan rawa gambut yang terletak di pusat Kota Sintang dan berfungsi sebagai ruang terbuka hijau sekaligus kawasan konservasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat terhadap pengelolaan TWA Baning sebagai ruang terbuka hijau di Kabupaten Sintang. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif dengan metode kuantitatif dan kualitatif melalui wawancara kepada 40 responden masyarakat sekitar serta pihak pengelola dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah II Sintang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek pengetahuan masyarakat mengenai fungsi TWA Baning dikategorikan kuat dengan skor 75,30%. Aspek dukungan masyarakat terhadap pengelolaan kawasan dikategorikan sangat kuat dengan skor 81,25%, sedangkan aspek kesediaan masyarakat untuk bekerja sama dalam pengelolaan kawasan juga tergolong sangat kuat dengan skor 81,73%. Hasil ini mengindikasikan bahwa masyarakat tidak hanya memahami pentingnya peran TWA Baning dalam menjaga kualitas lingkungan perkotaan, tetapi juga memiliki kepedulian dan komitmen tinggi untuk mendukung pengelolaan berkelanjutan kawasan. Kesimpulannya, persepsi masyarakat terhadap TWA Baning secara umum positif dan menjadi modal sosial penting dalam upaya pelestarian ruang terbuka hijau di Kota Sintang.
ETNOZOOLOGI AMFIBI DAN REPTIL DI DESA PENYANGGA TAMAN NASIONAL BUKIT BAKA BUKIT RAYA (STUDI KASUS: DESA NUSA PORING) Umar Fhadli Kennedi; Sitti Maisyara; Sri Sumarni; Sepiska Michello Wanimbo; Rino Evrianto; Wendi Prameswari; Ari Wan Gandara; Firasadi Nursub’i
Publikasi Informasi Pertanian Vol 22 No 1 (2026): Issue in Progress
Publisher : Universitas Kapuas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v22i1.1902

Abstract

Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya merupakan rumah bagi berbagai jenis flora dan fauna diantaranya 82 spesies amfibi dan 71 spesies reptil. Kawasan ini juga memiliki peranan penting bagi penduduk asli, yaitu suku Dayak yang menempati desa penyangga disekitarnya. Kehidupan masyarakat suku Dayak memiliki kaitan erat dengan hutan, hal ini tercermin dari perburuan untuk pemanfaatan dan penggunaan sumberdaya alam sejak dahulu, diantaranya amfibi dan reptil. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pemanfaatan amfibi dan reptil oleh masyarakat di Desa Nusa Poring, sebagai desa penyangga Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Penelitian dilakukan pada Maret - April 2025 menggunakan metode wawancara semi terstruktur dengan penentuan responden melalui snowball sampling (n=15). Setidaknya tercatat 11 spesies amfibi dan 21 spesies reptil yang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Nusa Poring. Tujuan pemanfaatan amfibi dan reptil berupa sumber makanan (100%), peliharaan (9.37%), dan penggunaan kepercayaan lokal. Berdasarkan daftar spesies amfibi dan reptil secara keseluruhan di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, diperkirakan 13.41% spesies amfibi dan 29.57% spesies reptil yang dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Nusa Poring. Salah satu reptil yaitu Cakau (Manouria emys) yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia dan tujuh spesies yang tergolong terancam punah (vulnerable, endangered, dan critically endangered) berdasarkan IUCN Red List termasuk dalam daftar yang dimanfaatkan masyarakat. Kontak erat antara manusia dan satwa dalam proses pemanfaatan amfibi dan reptil akan meningkatkan risiko transmisi zoonosis yang dapat merugikan kesehatan manusia dan satwa lain. Pemanfaatan amfibi dan reptil oleh masyarakat hendaknya dapat diatur dan dilakukan secara bijaksana dan berkelanjutan agar keberadaan tetap lestari dan kesehatan terjaga.
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR BATANG PISANG TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN LOBAK (Raphanus sativus L.) Fatmawati Fatmawati; Mangardi Mangardi; Syarif Nizar Kartana
Publikasi Informasi Pertanian Vol 22 No 1 (2026): Issue in Progress
Publisher : Universitas Kapuas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu upaya untuk meningkatkan produksi tanaman lobak pada tanah Podsolik Merah Kuning dengan tingkat kesuburannya dan kandungan bahan organik rendah, yaitu dengan cara mengaplikasikan pupuk organik cair (POC) batang pisang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh POC batang pisang terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman lobak. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode percobaan lapangan dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 5 taraf perlakuan POC batang pisang, yaitu B0 = kontrol/tanpa pemberian, B1 = 12,5 ml/aplikasi, B2 = 25 ml/aplikasi, B3 = 37,5 ml/aplikasi, B4 = 50 ml/aplikasi. Variabel pengamatan yang diukur antara lain, jumlah daun, panjang umbi, dan berat umbi. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA) untuk mengetahui pengaruh perlakuan, apabila berpengaruh nyata maka dilanjutkan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaplikasian POC batang pisang secara nyata dapat meningkatkan jumlah daun, panjang umbi dan berat umbi tanaman lobak. Pemberian POC batang pisang dengan dosis tertinggi, yaitu 50 ml/aplikasi menghasilkan pertumbuhan dan hasil tertinggi, dengan rerata jumlah daun 12,96 helai, panjang umbi 18,23 cm, berat umbi 340,04 g.
PENGARUH PEMBERIAN PUPUK NPK TERHADAP PERTUMBUHAN ANAKAN TEMBESU (Fagraea fragrans Roxb) Muhammad Syukur
Publikasi Informasi Pertanian Vol 22 No 1 (2026): Issue in Progress
Publisher : Universitas Kapuas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v22i1.1915

Abstract

Tembesu (Fagraea fragrans Roxb.) adalah jenis pohon yang penting secara ekonomi dan ekologi, namun mulai langka di Kabupaten Sintang. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian dan dosis pupuk NPK yang terbaik dalam memacu pertumbuhan anakan Tembesu. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), dengan perlakuan tunggal pupuk NPK, terdiri atas 4 taraf perlakuan yaitu,  Tanpa pupuk NPK (N0), NPK 1,50 gram per anakan (N1), NPK 3,0 gram per anakan (N2) dan NPK 4,50 gram per anakan (N3). Rancangan ini dipilih karena tinggi dan jumlah daun anakan Tembesu relative seragam, dengan tinggi anakan 12-13 cm dan daun berjumlah 5-6 helaI. Hasil penelitian diketahui bahwa (1) Pemberian pupuk NPK memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap pertambahan jumlah daun dan tinggi anakan Tembesu; (2). Pemberian pupuk NPK sebanyak 3 gram per anakan (N2) adalah perlakuan yang terbaik dibandingkan dengan seluruh perlakuan lainnya dalam memacu pertumbuhan daun anakan Tembesu, yaitu sebanyak 3 helai; dan (3)  Pemberian pupuk NPK sebanyak 1,5 gram per anakan (N1) adalah perlakuan yang terbaik dibandingkan dengan seluruh perlakuan lainnya dalam memacu pertumbuhan tinggi anakan Tembesu, yaitu   dengan pertambahan tinggi rerata sebesar 2,50 cm dan. Perlu dilakukan kajian yang mendalam yaitu dengan menambah waktu penelitian, agar didapatkan kesimpulan yang lebih utuh dan menyeluruh.

Page 1 of 1 | Total Record : 8