cover
Contact Name
Florensius Tijan
Contact Email
admin@unka.ac.id
Phone
+6281227902049
Journal Mail Official
admin@unka.ac.id
Editorial Address
Jl.YC.Oevang Oeray Nomor 92 Baning Kota, Kecamatan Sintang, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat 78612
Location
Kab. sintang,
Kalimantan barat
INDONESIA
PIPER
ISSN : 19070403     EISSN : 27755738     DOI : 10.51826/piper
PIPER merupakan salah satu media/wadah untuk mengembangkan kemampuan ilmiah civitas akademika Fakultas Pertanian, terutama kemampuan berkomunikasi secara tertulis sesuai kaidah-kaidah ilmiah. Sebagai wadah menampung hasil-hasil penelitian ilmiah, PIPER dapat memperkaya khasanah ilmu dan pengetahuan melalui berbagai aktivitas penelitian. PIPER diharapkan berisi konsep-konsep pemikiran yang objektif, kritis, maju, konstruktif dan mengandung upaya memecahkan berbagai masalah sektor pertanian terutama di wilayah Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat maupun di Indonesia bahkan dunia.
Articles 262 Documents
Studi Karbon Pada Tegakan Hutan Mangrove Sekunder Di Desa Tanjung Harapan Kabupaten Kubu Raya Antonius -
Publikasi Informasi Pertanian Vol 16, No 31 (2020): JURNAL PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v16i31.436

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang simpanan karbon pada tegakan hutan mangrove sekunder di Desa Tanjung Harapan Kabuapten Kubu Raya.Analisis kandungan karbon tegakan hutan mangrove sekunder menggunakan metode survei dengan cara jalur berpetak. Pengumpulan data di lapangan menggunakan metode non destructive sampling (pengumpulan data tanpa pemanenan). Panjang jalur yang dibuat sepanjang 100 meter dengan jumlah jalur yang dibuat di dalam penelitian ini adalah sebanyak 10 jalur penelitian. Peletakan jalur penelitian dilakukan dengan metode purposive sistematik sampling, titik awal peletakan jalur 10 meter dari batas pinggir pantai dengan jarak antar jalur 150 meter. jalur tersebut dibuat sub-petak dengan ukuran 10 m x 10 m untuk tingkat pohon, dan 5 m x 5 m untuk tingkat pancang. Hasil penelitian menunjukan bahwa jumlah individu pancang sebesar 2.040 individu/ha, sedangkan jumlah pohon sebesar 340 individu/ha. Potensi karboon pada tingkat pancang sebesar 21,72 ton C/ha, sedangkan potensi karbon pada tingkat pohon sebesar 39,17 ton C/ha. Total jumlah karbon pada tegakan hutan mangrove sekunder di Desa Tanjung Harapan adalah sebesar 60,89ton C/ha atau setara dengan 223,47 ton CO2/ha. Kata Kunci: Karbon Tegakan, Hutan Mangrove Sekunder
Analisis Tutupan Lahan Di Wilayah Kerja Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Sintang Utara Menggunakan Sistem Informasi Geografis Ria Rosdiana Hutagaol; Robil Hidayat
Publikasi Informasi Pertanian Vol 15, No 29 (2019): JURNAL PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v15i29.341

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan tutupan lahan dan penyebab terjadinya perubahan tutupan lahan di Wilayah KPH Sintang Utara tahun 2013 - 2017. Metode yang digunakan adalah Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk melakukan analisis data spasial terhadap perubahan tutupan lahan. Berdasarkan analisa data spasial tutupan lahan di Wilayah Kerja KPH Sintang Utara diketahui terdapat 13 (tiga belas) kelas tutupan lahan yaitu Hutan Lahan Kering Sekunder, Hutan Lahan Kering Primer, Hutan Rawa Sekunder, Hutan Tanaman, Pertanian Lahan Kering Campuran, Perkebunan, Belukar Rawa, Belukar, Pertambangan, Sungai, Pemukiman, Pertanian Lahan Kering dan Tanah Terbuka. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Tutupan lahan di wilayah KPH Sintang Utara didominasi oleh Pertanian Lahan Kering Campuran seluas 145.400 hektar (53,755%) pada tahun 2013 dan bertambah seluas 3.962 hektar pada tahun 2017 menjadi 149.362 hektar (55,220%), diikuti oleh Hutan Lahan Kering Sekunder yang memiliki luas 42.235 hektar (15,614%) pada tahun 2013 yang bertambah luas pada tahun 2017 menjadi 62.197 hektar (22,994%), dan Hutan Lahan Kering Primer yang memiliki luas 49.499 hektar (18,300%) pada tahun 2013 dan berkurang seluas 21.475 hektar menjadi 28.024 hektar (10,361%) pada tahun 2017. Penyebab terjadinya perubahan tutupan lahan adalah deforestasi dan degradasi lahan di Wilayah KPH Sintang Utara, dimana deforestasi yang terjadi pada tahun 2013-2017 mengakibatkan perubahan tutupan yang berhutan menjadi tidak berhutan seluas 166.031 hektar.
STUDI JENIS TUMBUHAN PAKAN KELASI (Presbitis rubicunda) PADA KAWASAN HUTAN WISATA BANING KABUPATEN SINTANG Sri Sumarni
Publikasi Informasi Pertanian Vol 12, No 23 (2016): Jurnal PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v12i23.25

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis pakan Kelasi (Presbitis rubicunda) pada Kawasan Hutan Wisata Alam Baning Kabupaten Sintang. Hasil dari penelitian diharapkan dapat memberikan informasi dan ilmu pengetahuan mengenai jenis tumbuhan pakan Kelasi pada Kawasan Hutan Wisata Alam Baning serta sebagai bahan acuan dalam upaya pengelolaan dan pelestarian bagi pihak pemerintah. Peneitian ini menggunakan metode jalur yang diletakkan secara acak (purposive) dan merupakan jalur yang sering dilewati oleh kelasi. Jumlah jalur yang digunakan dalam survey adalah 2 jalur dengan total panjang jalur pengamatan adalah 200 m. Adapun hasil dari penelitian ditemukan sembilan (9) jenis tumbuhan yang dimakan Kelasi yaitu: Kepuak (Artocarpus elasticus), Cempedak (Arthocarputsentiger), Karet (Hevea braziliensis), Rambutan hutan (Nephelium ramboutan), Ubah (Eugeniasyzygium), Kembang Kupu-Kupu (Bauhinia purpurea), Akasia (Akasia mangium), Beringin ( Ficus benjamina) dan Jambu Monyet (Eugeniapycnanthum), selain itu populasi kelasi yang ditemukan sangat sedikit berkisar antara 11 sampai 12 ekor artinya dari luas total Kawasan Hutan Wisata Alam Baning 213 hektar hanya terdapat satu ekor kelasi per 18 hektar. Dalam pemilihan habitatnya, Kelasi melakukan seleksi terhadap daya dukung yang terdapat di lokasi tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi primata dalam memilih habitat antara lain adalah ketersediaan pakan dan kondisi vegetasi. Namun disebabkan letak Kawasan Hutan Wisata Alam Baning Kabupaten Sintang berbatsan langsung dengan pemukiman penduduk serta banyaknya aktifitas msyarakat sekitar kawasan. Oleh karena itu diperlukan upaya yang nyata dari pemerintah melalui instansi terkait dengan masyarakat untuk menjaga kelestarian fungsi kawasan dan keanekaragaman jenis tumbuhan pakan Kelasi yang dilindungi.
Pengaruh Pemberian Pupuk NPK Mutiara Terhadap Pertumbuhan Anakan Jernang (Daemonorops draco) Pada Tanah Podsolik Merah Kuning H.M.Kurniawan Candra
Publikasi Informasi Pertanian Vol 16, No 31 (2020): JURNAL PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v16i31.447

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk NPK Mutiara dan dosis yang terbaik dalam mempengaruhi pertumbuhan anakan Jernang (Daemonorops draco) pada tanah Podsolik Merah Kuning. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu dan pengetahuan terutama mengenai pengaruh pemberian pupuk NPK Mutiara terhadap pertumbuhan anakan Jernang pada tanah Podsolik Merah Kuning dan dapat dijadikan sebagai salah satu acuan dalam upaya pembibitan anakan Jernang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pola dasar Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan tunggal adalah pupuk NPK Mutiara yang terdiri dari 4 taraf perlakuan yaitu : Tanpa pupuk NPK Mutiara (N0), NPK Mutiara 40 gram per anakan (N1), NPK Mutiara 50 gram per anakan (N2) dan NPK Mutiara 60 gram per anakan (N3). Rancangan ini dipilih karena anakan Jernang, lingkungan tempat tumbuh dan alat yang digunakan dalam penelitian relatif homogen (seragam). Hasil penelitian diketahui bahwa Pemberian pupuk NPK Mutiara berpengaruh sangat signifikan terhadap pertambahan tinggi dan pertambahan jumlah daun anakan Jernang pada tanah Podsolik Merah Kuning. Perlakuan pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis 50 gram per anakan (N2) adalah yang terbaik dibandingkan dengan perlakuan lainnya, untuk meningkatkan pertambahan tinggi (rerata 5,50 cm) dan pertambahan jumlah daun anakan Jernang (rerata 3,33 helai). Perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam untuk melihat pengaruh pemberian pupuk NPK Mutiara terhadap pertumbuhan anakan Jernang yaitu dengan cara menambah lamanya waktu penelitian, sehingga didapatkan kesimpulan yang menyeluruh dan utuh. Kata Kunci: Pupuk NPK Mutiara, Pertumbuhan Tinggi dan Jumlah Daun, Tanah Podsolik Merah Kuning
Habitat Kelelawar Pemakan Buah (Penthetor lucassi) Di Hutan Bukit Beluan Kecamatan Hulu Gurung Kabupaten Kapuas Hulu Sri Sumarni
Publikasi Informasi Pertanian Vol 15, No 28 (2019): JURNAL PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v15i28.294

Abstract

Kelelawar pemakan buah (Penthetor lucasii) merupakan salah satu mamalia yang ada di kawasan hutan Bukit Beluan Kecamatan Hulu Gurung Kabupaten Kapuas Hulu. Kelelawar memiliki peran penting dalam ekologi hutan, sehingga keberadaannya di alam harus dilindungi terutama habitatnya. Metode penelitian yang digunakan deskriptif dengan teknik observasi. Habitat merupakan tempat hidup dan berkembangnya kelelawar, dan gua menjadi salah satu habitat tempat beristirahat pada siang hari. Gua di kawasan hutan Bukit Beluan sebagai habitat kelelawar dengan karakteristik terowongan dengan tinggi 6 m, panjang gua lebih kurang 70 m, lebar mulut gua 33,8 m dan lantai gua sedikit berkarang. Aliran sungai kecil sepanjang lebih kurang 20 m di dalam gua dan aliran sungai yang lebih pendek terdapat di mulut gua. Rata-rata suhu di dalam gua 25,23°C dengan kelembaban 90%. Vegetasi yang ada disekitar gua adalah Langsat, durian, engkuis (lengkeng hutan), puak (tampoi), jenis nangka-nangkaan, rambai, empakan (pekawai). Jenis satwa lain yang ditemui dalam gua adalah ular, cicak sedangkan di sekitar gua kura-kura, labi-labi, lele dan laba-laba.
Keanekaragaman Jenis Capung (Odonata) Di Desa Nibung Kecamatan Selimbau Kabupaten Kapuas Hulu Sri Sumarni
Publikasi Informasi Pertanian Vol 14, No 26 (2018): Jurnal Piper
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v14i26.131

Abstract

Capung (Odonata) merupakan salah satu ordo dari kelompok Arthropoda, sebagai parameter kualitas air dan pencemaran lingkungan. Hal ini dikarekan Capung termasuk serangga air yang sangat sensitif terhadap perubahan kandungan zat di dalam air. Manfaat capung secara langsung bagi manusia adalah saat Capung berwujud nimfa, menjadi pemangsa jentik-jentik nyamuk. Beberapa famili nimfa capung dikelompokkan dalam kategori serangga air yang sensitif terhadap pencemaran dan perubahan kandungan zat di dalam air. Sehingga perubahan jumlah nimfa capung dapat di jadikan sebagai indikator baik buruknya perairan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui mengetahui Keanekaragaman Jenis Capung (Odonata) yang terdapat di Desa Nibung Kecamatan Selimbau Kabupaten Kapuas Hulu. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan cara survei dan pengamatan langsung (tangkap lepas). Adapun dari hasil penelitian secara keseluruhan diperoleh 34 jenis Capung, pada areal perkebunan sebanyak 15 jenis, pada areal pemukiman 12 jenis dan pada areal sawah sebanyak 9 jenis, serta terdapat dua jenis Capung yang mampu hidup pada dua lokasi berbeda (di areal pemukiman dan perkebunan) dari jenis Orthetrum sabina dan Agriocnemis femina. Jumlah dan jenis Capung sangat dipengaruhi oleh sumber pakan baik yang berasal dari vegetasi maupun serangga yang dimangsanya. Semakin banyak sumber pakan, maka semakin banyak jumlah dan jenis Capung yang ditemukan pada suatu habitat. Jumlah dan jenis Capung yang ditemukan pada lokasi penelitian relatif cukup banyak dan memiliki nilai estetika tersendiri serta mampu menjaga keseimbangan ekosistem. Oleh karena itu, perlu adanya upaya secara terus menerus dan terintegrasi dari pemerintah dan masyarakat setempat untuk menjaga keseimbangan ekosistem, sehingga keanekaragaman jenis Capung dapat terjamin kelestariannya.
Pemberian Kompos Kulit Durian Dalam Meningkatkan Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) Di Main Nursery Markus Sinaga
Publikasi Informasi Pertanian Vol 16, No 30 (2020): JURNAL PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v16i30.376

Abstract

Pemberian kompos kulit durian pada bibit kelapa sawit selama berada di pembibitan diperlukan sebgai upaya dalam memenuhi kebutuhan hara serta memperbaiki aerasi tanah sehingga pertumbuhan bibit menjadi lebih baik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pemberian kompos kulit durian dalam meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit di main nursery, dan mengetahui taraf dosis kompos kulit durian yang meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit tertinggi di main nursery. Penelitian ini terdiri darikompos kulit durian sebagai variabel bebas, pertambahan tinggi bibit, dan pertambahan lilit batang sebagai variabel terikat. Penelitian ini menggunakan metode percobaan lapangan, rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK), sebagai perlakuan pada percobaan ini adalah kompos kulit durian yang terdiri dari lima taraf yaitu, tidak diberi kompos kulit durian (O0), 15 gram kompos kulit durian (O1), 30 gram kompos kulit durian (O2), 45 gram kompos kulit durian (O3), dan 60 gram kompos kulit durian (O4) masing-masing taraf diulang lima kali. Data hasil pengamatan dianalisis dengan analisis ragam. Hasil penelitian diketahui bahwa, Pemberian kompos kulit durian berpengaruh tidak nyata dalam meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit di main nursery. Tidak diperoleh dosis pemberian kompos kulit durian terbaik yang memberikan pengaruh nyata dalam meningkatkan pertumbuhan bibit kelapa sawit tertinggi di main nursery.
Studi Keanekaragaman Jenis Serangga Daerah Bekas Kebakaran Pada Kawasan Hutan Lindung Bukit Luwit Kecamatan Kelam Permai Kabupaten Sintang Antonius Anton
Publikasi Informasi Pertanian Vol 15, No 28 (2019): JURNAL PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v15i28.284

Abstract

Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui untuk mendapatkan informasi tentang keanekaragaman jenis serangga yang terdapat di hutan Lindung Bukit Luwit Kecamatan Kelam Permai Kabupaten Sintang. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode survei melalui inventarisasi langsung di lapangan. Metode inventarisasi yang dilakukan dengan membuat plot transek pengamatan berukuran 20 x 20 m, 10 x 10 m, dan 5 x 5 m. Penelitian dilakukan pada waktu pukul 08.00-12.00 WIB, dilanjutkan pukul 13.00-15.00 WIB. Pengambilan pada waktu tersebut berdasarkan pertimbangan waktu serangga aktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indeks keanekaragaman jenis tertinggi terdapat spesies Leptocorisa sp dengan nilai ID 0,225, selanjutnya Anopheles sp dengan nilai ID 0,155; Acherontia sp dengan nilai ID 0,042 ; Tenodora sp dengan nilai ID 0,029; Tenodora sp dengan nilai ID 0,024; Glossina sp dengan nilai ID 0,018; dan terendah adalah Aesha sp dengan nilai ID 0,012. Dominansi jenis tertinggi terdapat pada jenis spesies Leptocorisa sp dengan nilai 0,538 dan terendah spesies Aesha sp dengan nilai 0,005. Nilai densitas tertinggi yaitu spesies Leptocorisa sp dengan nilai Densitas 60,56; spesies Anopheles sp dengan nilai Densitas 30,85 dan spesies Acherontia sp dengan nilai Densitas 5,17. Nilai densitas terendah yaitu 1,82 pada spesies Aesha sp.; 2,49 pada spesies Glossina sp; 3,08 pada spesies Leptocarisa sp dan Tenodora sp; dan nilai Densitas sedang adalah spesies Tenodora sp dengan nilai 3,64. Nilai densitas digolongkan tinggi bila nilai densitas > 5. Untuk nilai densitas dikategorikan sedang bila berada pada kisaran 3,5 – 5. Sedangkan tergolong rendah bila nilai densitas kurang dari 3,5.
Pengaruh Pemberian Pupuk Daun Gandasil-D Terhadap Pertumbuhan Anakan Tekam (Hopea sp) Pada Tanah Podsolik Merah Kuning Muhammad Syukur
Publikasi Informasi Pertanian Vol 13, No 25 (2017): Jurnal PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v13i25.93

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk daun Gandasil-D dan dosis yang terbaik dalam mempengaruhi pertumbuhan anakan Tekam pada tanah Podsolik Merah Kuning.Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu dan pengetahuan terutama mengenai pengaruh pemberian pupuk daun Gandasil-D terhadap pertumbuhan anakan Tekam pada tanah Podsolik Merah Kuning dan dapat dijadikan sebagai salah satu acuan dalam upaya pembibitan anakan Tekam.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pola dasar Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan tunggal adalah dosis Pupuk Gandasil-D yang terdiri dari 8 perlakuan yaitu : Tanpa pupuk/Kontrol (G0), Pupuk Daun Gandasil-D 0,5 gram per liter air per 12 anakan (G1), Pupuk Daun Gandasil-D 1,0 gram per liter air per 12 anakan (G2), Pupuk Daun Gandasil-D 1,5 gram per liter air per 12 anakan (G3), Pupuk Daun Gandasil-D 2,0 gram per liter air per 12 anakan (G4), Pupuk Daun Gandasil-D 2,5 gram per liter air per 12 anakan (G5), Pupuk Daun Gandasil-D 3,0 gram per liter air per 12 anakan (G6) dan Pupuk Daun Gandasil-D 3,5 gram per liter air per 12 anakan (G7). Rancangan ini dipilih karena anakan Tekam dan alat penelitian yang digunakan relatif homogen.Hasil penelitian diketahui bahwa perlakuan pemberian pupuk daun Gandasil-D berpengaruh sangat signifikan terhadap pertumbuhan anakan Tekam pada tanah Podsolik Merah Kuning yaitu terhadap pertambahan jumlah daun dan tinggi anakan. Perlakuan pemberian pupuk Gandasil-D dengan dosis/konsentrasi 3,5 gram per liter air (G7) menunjukkan hasil yang terbaik untuk meningkatkan pertambahan jumlah daun dan tinggi anakan Tekam pada tanah Podsolik Merah Kuning, yaitu dengan rerata pertambahan jumlah daun sebanyak 2,67 helai dan rerata pertambahan tinggi anakan sebesar 2,33 cm.
PENGARUH PEMBERIAN UREA PADA BATANG BAWAH SATU BULAN SEBELUM OKULASI TERHADAP PERTUMBUHAN TUNAS BIBIT TANAMAN KARET (Havea brasiliensis, Muell Arg.) Ratri Yulianingsih
Publikasi Informasi Pertanian Vol 1, No 22 (2016): JURNAL PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v1i22.12

Abstract

Usaha untuk meningkatkan hasil tanaman karet tidak terlepas dari perawatan bibit yang baik. Salah satu cara memelihara bibit yaitu dengan memenuhi kebutuhan hara selama di pembibitan. Agar bibit dapat tumbuh baik maka pemberian pupuk anorganik seperti urea perlu dilakukan. Pupuk urea sangat diperlukan dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman karet karena tanaman karet memerlukan unsur nitrogen yang cukup untuk pertumbuhannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Pengaruh pemberian urea pada batang bawah terhadap pertumbuhan tunas bibit tanaman karet; (2) Dosis urea pada batang bawah yang memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan tunas bibit tanaman karet. Ruang lingkup penelitian meliputi variabel: (1) Variabel bebas, yaitu urea. (2) Variabel terikat, yaitu panjang tunas dan jumlah anak daun. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen lapangan dengan pola non faktoral Rancangan Acak Kelompok (RAK). Faktor perlakuan adalah urea (U) terdiri dari lima taraf, yaitu: u0 = tidak diberi urea; u1 = 2,5 gram urea per bibit; u2 = 5 gram urea per bibit; u3 = 7,5 gram urea per bibit; u4 = 10 gram urea per bibit. Jumlah tanaman dalam penelitian ini adalah seluruh tanaman pada tiap satuan percobaan, yaitu sebanyak 4 tanaman x 5 taraf urea x 5 ulangan = 100 tanaman. Sedangkan jumlah satuan pengamatan diambil 2 tanaman dari tiap satuan percobaan, jadi jumlah satuan pengamatan adalah 5 taraf urea x 5 ulangan x 2 tanaman = 50 tanaman pengamatan. Data dianalisis dengan sidik ragam, kemudian dilanjutkan dengan uji BNJ. Hasil pengamatan dan analisis data diketahui bahwa: (1) Pemberian urea pada batang bawah berpengaruh terhadap pertumbuhan tunas bibit karet yang ditandai dengan panjang tunas dan jumlah anak daun. (2) Pemberian 10 gram urea pada batang bawah menghasilkan panjang tunas rata-rata 8.05 cm dan jumlah anak daun rata-rata 5.10 daun.

Page 2 of 27 | Total Record : 262