cover
Contact Name
Florensius Tijan
Contact Email
admin@unka.ac.id
Phone
+6281227902049
Journal Mail Official
admin@unka.ac.id
Editorial Address
Jl.YC.Oevang Oeray Nomor 92 Baning Kota, Kecamatan Sintang, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat 78612
Location
Kab. sintang,
Kalimantan barat
INDONESIA
PIPER
ISSN : 19070403     EISSN : 27755738     DOI : 10.51826/piper
PIPER merupakan salah satu media/wadah untuk mengembangkan kemampuan ilmiah civitas akademika Fakultas Pertanian, terutama kemampuan berkomunikasi secara tertulis sesuai kaidah-kaidah ilmiah. Sebagai wadah menampung hasil-hasil penelitian ilmiah, PIPER dapat memperkaya khasanah ilmu dan pengetahuan melalui berbagai aktivitas penelitian. PIPER diharapkan berisi konsep-konsep pemikiran yang objektif, kritis, maju, konstruktif dan mengandung upaya memecahkan berbagai masalah sektor pertanian terutama di wilayah Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat maupun di Indonesia bahkan dunia.
Articles 258 Documents
Peranan Mol Rebung Dalam Meningkatkan Hasil Tanaman Bayam Cabut (Amaranthus hybridus, L.) Pada Tanah PMK Nining Sri Sukasih; suciana susanti
Publikasi Informasi Pertanian Vol 15, No 28 (2019): JURNAL PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v15i28.289

Abstract

Tanah PMK dikenal dengan tanah ultisol yang memiliki beberapa kekurangan seperti pH rendah, bahan organik rendah, unsur hara rendah serta kandungan Al dan Fe yang tinggi sehingga menghambat penyerapan hara. Agar dapat diusahakan maka pemberian MOL rebung dapat memperbaiki struktur tanah dan menambah unsur hara. Membaiknya struktur tanah dan tersedianya unsur hara menyebabkan tanaman bayam tumbuh dan berproduksi dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan MOL rebung dalam meningkatkan hasil bayam cabut pada tanah PMK. Penelitian ini dilakukan dengan metode percobaan lapangan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan MOL rebung sebagai perlakuan yang terdiri dari 5 (lima) taraf dan lima ulangan yaitu: tidak diberi MOL rebung (M0), 15 ml MOL rebung (M1), 30 ml MOL rebung (M2), 45 ml MOL rebung (M3), dan 60 ml MOL rebung (M4). Hasil penelitian diketahui bahwa Pemberian MOL rebung berpengaruh terhadap hasil bayam cabut pada tanah PMK, yang ditandai dengan berat segar tanaman. Pemberian 60 ml MOL rebung menghasilkan hasil bayam cabut yang tertinggi pada tanah PMK, rata-rata 40,70 gram per tanaman.
Diversitas Tumbuhan Buah Lokal Pada Areal Tembawang Desa Engkersik Kabupaten Sekadau Ria Rosdiana Hutagaol
Publikasi Informasi Pertanian Vol 13, No 25 (2017): Jurnal PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v13i25.98

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Areal Tembawang yang terdapat di Desa Engkersik Kabupaten Sekadau Kalimantan Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui diversitas tumbuhan buah lokal di areal Tembawang Desa Engkersik Kabupaten Sekadau Kalimantan Barat. Untuk mendapatkan jenis-jenis tumbuhan buah lokal dilakukan pengamatan pada transek yang ditentukan secara purposive. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa terdapat 15 jenis tumbuhan buah lokal pada areal Tembawang Desa Engkersik pada berbagai habitus yaitu semai, pancang, tiang dan pohon. Hasil analisis vegetasi menunjukkan bahwa INP tertinggi terdapat pada jenis durian habitus pohon dengan INP sebesar 101,58. Indeks Keanekaragaman (H’) tertinggi dimilik oleh jenis durian dengan nilai H’ sebesar 1,31.
Studi Jenis Reptil Pada Kawasan Hutan Adat Rasau Sebaju Kabupaten Melawi Surya Aspita; Nobertus Jimi
Publikasi Informasi Pertanian Vol 16, No 30 (2020): JURNAL PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v16i30.380

Abstract

Reptil adalah hewan vertebrata berdarah dingin (ektotermal) yang bernafas dengan paru-paru. Hewan ektotermal adalah hewan yang memerlukan sumber panas eksternal untuk melakukan kegiatan metabolismenya, hal itulah yang menyebabkan reptil sering dijumpai berjemur di tempat-tempat yang terkena sinar matahari. Sebagian besar reptil memiliki kulit bersisik yang tidak saling terpisah, dengan warna kulit beragam dari menyerupai lingkungannya hingga berwarna khas. Semua reptil tidak memiliki telinga eksternal (Adler; 2000). Terdapat beberapa ordo dan sub ordo dari kelas reptilia yang tersebar di seluruh dunia kecuali daerah kutub. Indonesia memiliki tiga dari keempat ordo tersebut yaitu Ordo Testudinata, Crocodylia dan Squamata. Sedangkan Tuarata merupakan reptil primitif yang terdiri dari satu jenis dan hanya terdapat di Selandia Baru (Srinivasan; 2008). Jumlah Jenis Reptil yang di temukan selama pengamatan di Kawasan Hutan Adat Rasau Sebaju sebanyak 8 jenis dan 26 individu yaitu Ophidia (bangsa ular) sebanyak (3 jenis dengan 5 individu) yaitu Ular Segitiga Merah (Xenochrophis Trianguligerious) sebanyak 1 individu, Ular Pelangi (Xenopeltis Unicolor) sebanyak 2 individu, Ular Cincin Emas (Boiga Dendrophila) sebanyak 2 individu. Sauria (Kadal) sebanyak (2 jenis dengan 11 individu) yang terdiri dari Bunglon Sisir (Calotes Versicolor) sebanyak 6 individu, Kadal Kebun (Mabouya Multifasciata) sebanyak 11 individu. dan Testudinata (Kura-Kura) sebanyak (3 jenis dengan 4 individu). terdiri dari kura-kura duri (heosemys spinosa) sebanyak 2 individu, labi-labi hutan (dogania subplana) sebanyak 1 individu, kura-kura patok (cuora amboinensis) sebanyak 1 individu. Dari semua jenis Reptil yang ada di Hutan Adat Rasau Sebaju yang terbagi di dalam dua zona yaitu Zona Hijau dan Zona Pemanfaatan. Jenis yang ditemukan karena pakannya yang tersedia, lingkungannya sangat mendukung terhadap tempat tumbuh dan berkembang biaknya hewan Reptil. Reptil banyak ditemukan di habitat teresterial di zona hijau, karena di zona hijau batang-batang pohon masih banyak terdapat dan jarak antara satu pohon kepohon yang lain tidak terlalu jauh, sehingga banyak tempat berlindung atau tempat tinggal. Sebaliknya pada zona pemanfaatan yang didalam zona tersebut jarak antara pohonnya tidak terlalu rapat, karena manusia banyak melakukan aktivitas, sehingga jumlah yang di temukan sedikit.
PENGARUH BOKASHI SEKAM PADI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KANGKUNG DARAT (Ipomoea reptans Poir.) Ratri Ratri Yulianingsih
Publikasi Informasi Pertanian Vol 14, No 27 (2018): Jurnal PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v14i27.200

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian bokashi sekam padi terhadap pertumbuhan dan hasil kangkung darat, dan untuk mendapatkan dosis bokashi sekam padi mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tertinggi pada tanaman kangkung darat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian bokashi sekam padi berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil kangkung darat, yang ditandai dengan tinggi tanaman, jumlah daun, dan berat segar tanaman. Pemberian 2,5 kg bokashi sekam padi menghasilkan pertumbuhan terbaik tanaman kangkung. Tinggi tanaman rata-rata 16,50 cm, dan rata-rata jumlah daun 14,00 daun pertanaman, sedangkan pemberian 2,5 kg bokashi sekam padi menghasilkan berat segar tanaman tertinggi dengan berat rata-rata 10,20 gram per tanaman.
Pengaruh Pemberian Pupuk Npk Mutiara Terhadap Pertumbuhan Bibit Jati Belanda (Guazuma Ulmifolia Lamk) Pada Tanah Podsolik Merah Kuning H.M.Kurniawan Candra
Publikasi Informasi Pertanian Vol 13, No 25 (2017): Jurnal PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v13i25.89

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk NPK Mutiara dan dosis yang terbaik dalam mempengaruhi pertumbuhan bibit Jati Belanda pada tanah Podsolik Merah Kuning.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan tunggal dosis pupuk NPK Mutiara yang terdiri dari 6 taraf perlakuan yaitu : Tanpa pupuk NPK Mutiara (N0), NPK Mutiara 3 gram per tanaman (N1), NPK Mutiara 4 gram per tanaman (N2), NPK Mutiara 5 gram per tanaman (N3) dan NPK Mutiara 6 gram per tanaman (N4) dan NPK Mutiara 7 gram per tanaman (N5). Rancangan ini dipilih karena bibit Jati Belanda dan alat penelitian yang digunakan seragam/homogen.Hasil penelitian diketahui bahwa Pemberian pupuk NPK Mutiara berpengaruh sangat signifikan terhadap pertambahan jumlah daun dan pertambahan tinggi bibit Jati Belanda pada tanah Podsolik Merah Kuning. Perlakuan pemberian pupuk NPK Mutiara dengan dosis 6 gram per bibit (N4) dan 7 gram per bibit (N5) adalah yang terbaik dibandingkan dengan perlakuan lainnya, yang mampu memacu rerata pertambahan jumlah daun sebanyak 16,75 (helai) dan rerata pertambahan tinggi bibit Jati Belanda sebanyak 33,50 cm.
STUDI HABITAT JENGGER (Ploiarium alternifolium (Vahl) Melchior) DI KAWASAN BERHUTAN DESA MANTER KABUPATEN SINTANG Ria Rosdiana Hutagaol
Publikasi Informasi Pertanian Vol 1, No 22 (2016): JURNAL PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v1i22.8

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui habitat jengger yang meliputi faktor biotik dan faktor abiotik di kawasan berhutan Desa Manter Kecamatan Sungai Tebelian Kabupaten Sintang. Penelitian dilaksanakan selama 2 minggu di lapangan yaitu tanggal 7 Pebruari sampai tanggal 20 Pebruari 2016.Metode pengambilan sampel dilakukan dengan Metode Petak Tunggal dimana peletakan petak dilakukan secara purposive sampling. Petak berukuran 100 m x 60 m, dalam petak tunggal ini selanjutnya dibuat lagi petak pengamatan yang berukuran 2m x 2m untuk pengamatan tingkat semai, 5m x 5m untuk pengamatan tingkat pancang, 10m x 10m untuk pengamatan tingkat tiang dan 20m x 20m untuk pengamatan tingkat pohon, sehingga terdapat 15 petak pengamatan dalam petak tunggal tersebut.Hasil penelitian menunjukkan terdapat 463 individu pertumbuhan tingkat semai, 923 individu tingkat pancang, 11 individu tingkat tiang dan 9 individu tingkat pohon. Hasil analisis Indeks Nilai Penting (INP) menunjukkan bahwa  INP tertinggi dari seluruh tingkat pertumbuhan adalah Temau 173,1457% pada tingkat pohon,  Temau 128,6315%  pada tingkat tiang,  Jengger 146,2587% pada tingkat pancang dan  jenis jengger 150,7852% pada tingkat semai.Jenis Jengger dapat tumbuh dengan baik di lokasi penelitian pada kondisi tanah dengan pH H2O = 3,78, C Organik = 2,23%, N = 0,09, P =32,55 ppm, KTK = 13,50 C mol/, K = 0,07 C mol/, Ca = 0,32 C mol/, Mg = 0,17 C mol/, KB = 4,13, Clay = 18,08, Silt = 58,88%, F. Sand = 22,46%, dan C. Sand = 0.57%.
ANALISIS KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN EKOWISATA EKOSISTEM HUTAN RAWA GAMBUT PADA KAWASAN TAMAN WISATA ALAM BANING Antonius .
Publikasi Informasi Pertanian Vol 14, No 27 (2018): Jurnal PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v14i27.190

Abstract

Kawasan Taman Wisata Alam Baning merupakan ekosistem hutan rawa gambut yang tergolong rapuh, sehingga diperlukan pengelolaan yang penuh kehati-hatian. Sebagai kawasan konservasi, Taman Wisata Alam Baning mengalami permasalahan karena tekanan masyarakat sekitar, seperti penyerobotan kawasan dan pembuatan kanal/parit sekeliling kawasan. Terganggunya fungsi ekologis berimplikasi pada aspek sosial ekonomis karena menurunnya daya tarik kawasan sebagai objek wisata, sehingga diperlukan penanganan secara kelembagaan. Studi ini dilakukan untuk menganalisis status dan indeks keberlanjutan pengelolaan Taman Wisata Alam Baning berdasarkan dimensi sosial ekonomi, ekologi dan institusional/kelembagaan. Analisis menggunakan metode Multi Dimensional Scaling (MDS). Tujuan kedua adalah untuk menganalisis atribut yang mempengaruhi sensitivas indeks dan keberlanjutan status leverage. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis dimensi sosial ekonomi, ekologi dan institusional/kelembagaan cukup berkelanjutan yakni berturut-turut sebesar 55,08%; 73,12% dan 51,42%.
Kerajinan Tangan Hasil Pengolahan Tumbuhan Hutan Oleh Masyarakat Desa Nibung Kecamatan Selimbau Kabupaten Kapuas Hulu Mumammad Syukur
Publikasi Informasi Pertanian Vol 13, No 24 (2017): Jurnal PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v13i24.64

Abstract

Penelitian  ini  bertujuan  untuk  mengetahui  jenis  tumbuhan  hutan  yang dipergunakan  dan  jenis  kerajinan  tangan  hasil  pengolahan  tumbuhan  hutan  oleh masyarakat  di  Desa  Nibung  Kecamatan  Selimbau  Kabupaten  Kapuas  Hulu.  Hasil penelitian  ini  diharapkan  dapat  menambah  ilmu  dan  pengetahuan  terutama  mengenaijenis  tumbuhan  hutan  dan  keragaman  kerajinan  tangan  dan  cara  pembuatannya.  serta dapat  dijadikan  sebagai  data  base  dalam  upaya  menjaga  kelestarian  jenis  tumbuhan hutan  yang  dapat  dijadikan  sebagai  bahan  baku  untuk  membuat  kerajinan  tangan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Dalam pelaksanaannya  penelitian  dilakukan  melalui  dua  tahap,  yaitu  tahap  pertama  adalah observasi  pada  kawasan  hutan  untuk  menginventarisir  seluruh  jenis  tumbuhan  hutan yang  digunakan  untuk  membuat  kerajinan  tangan  dan  tahap  kedua  dilakukan  melalui pengamatan  langsung  dan  wawancara  mengenai  cara  dan  bagian  tumbuhan  yang digunakan untuk membuat kerajinan tangan  yang berasal dari tumbuhan hutan. Hasil penelitian  diketahui  bahwa  jenis  tumbuhan  hutan  yang  digunakan  untuk  membuat kerajinan tangan adalah Perupuk (Pandan), Gerinis (Palem Hutan), Senggang (Lengkuas Hutan), Kulan (Pandan  Hutan), Durik Antuk (Rotan Antuk), Durik Segak Aik (Rotan Sega Air), Durik Tapah (Rotan Tapah), Buluh Ajan (Bambu Ajan), Resam dan pohon Kepuak.  Terdapat  12  jenis  kerajinan  tangan  hasil  pengolahan  tumbuhan  hutan,  yaitu Bakul, Bubu Ikan, Capan, Keranjang Ikan, Ntudung, Pemukul Tilam dan Bantal, Ragak, Seruak,  Tanggui,  Tengkalang,  Tengkin  dan  Tikar.  Bahan  baku  di  alam  semakin berkurang dan produk kerajinan tangan merupakan sebuah potensi yang dapat dijadikan sebagai  alternatif  mata  pencaharian.  Oleh  karena  itu,  perlu  adanya  pembinaan  dan pendampingan secara terus menerus dan terintegrasi dari pemerintah sampai masyarakat mampu mandiri melalui intansi  yang terkait dalam memberdayakan masyarakat,  yaitu melalui  budidaya  tanaman  bahan  baku,  pelatihan  mengolah  tumbuhan  hutan  menjadi sebuah  kerajinan,  dan  adanya   jaminan  pasar  yang  siap  untuk  membeli  setiap  produk yang dihasilkan, sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Mikrohabitat Katak Bertanduk (Megophrys nasuta) di Hutan Bukit Beluan Kecamatan Hulu Gurung Kabupaten Kapuas Hulu Sri Sumarni
Publikasi Informasi Pertanian Vol 16, No 31 (2020): JURNAL PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v16i31.435

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi mikrohabitat katak Megophrys nasuta di Hutan Bukit Beluan Kecamatan Hulu Gurung Kabupaten Kapuas Hulu.Manfaat penelitian ini diharapkan menjadi informasi awal tentang mikrohabitat katak Megophrys nasuta dan yang nantinya digunakan sebagai databasedalam kelestarian katak Megophrys nasuta di Kawasan Hutan Bukit Beluan Kecamatan Hulu Gurung Kabupaten Kapuas Hulu. Penelitian ini menggunakan Metode Visual Encounter Survey (VES) dikombinasikan dengan metode pembuatan perangkap (Trapping), untuk pengukuran parameter lingkungan mikrohabitat menggunakan Sistem Transek secara purposive berdasarkan dua tipe habitat yaitu akuatik dan terestrial.Hasil penelitian menunjukan bahwa mikrohabitat M. nasuta berada pada kisaran suhu 24-25ÚC dengan nilai rata-rata 24,4ÚC, kelembaban udara 90-93% dengan nilai rata-rata 91,75%, pH air mendekati normal (7) yaitu 6,8, kedalaman serasah ditemukan M. nasuta adalah8,37 cm, pada ketinggian permukaan air sekitar 30-72,6 cmdengan nilai rata-rata 54 cm dan ketinggian tempat ditemukan M. nasuta kisaran antara 141-195 m.dpl. Keadaan sungai bersih, dengan tutupan tajuk yang cukup, terdapat banyak serasah daun dan ranting-ranting pohon pada daratan yang menjadi tempat tinggal, tempat bertahan hidup dan berkembang biak. Diketahui dari data Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa temperatur rata-rata di kawasan Kapuas Hulu pada saat penelitian berkisar antara 26.80-27.80ÚC, hari hujan rata-rata 22 hari dan curah hujan rata-rata 404.70 mm. Kata Kunci:Mikrohabitat, Katak Bertanduk (Megophrys nasuta), Hutan Bukit Beluan
Pemberian Pupuk Organik Cair Kotoran Kambing Dalam Meningkatkan Hasil Terung (Solanum melongena, L.) Ratri Yulianingsih
Publikasi Informasi Pertanian Vol 15, No 29 (2019): JURNAL PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v15i29.340

Abstract

Pemanfaatan bahan organik kotoran kambing perlu diberikan pada tanaman melalui tanah dengan kandungan bahan organik dan unsur hara rendah. Supaya bahan organik tanah bertambah serta unsur hara di dalamnya dapat terserap oleh tanaman maka pupuk kandang diberikan dalam bentuk pupuk organik cair. Penelitian ini ingin mengetahui pengaruh pemberian pupuk organik cair kotoran kambing dalam meningkatkan hasil tanaman terung. Penelitian ini menggunakan metode percobaan lapangan, percobaan dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok. Perlakuan pada penelitian ini adalah POC kotoran kambing, yang terdiri dari lima taraf yaitu: P0 (tanpa POC kotoran kambing), P1 (4 ml), P2 (8 ml), P3 (12 ml), P4 (16 ml). Data hasil penganatan dianalisis dengan uji F dan dilanjutkan dengan uji BNJ. Hasil penelitian diketahui bahwa pemberian pupuk organik cair kotoran kambing sebanyak 16 ml dapat meningkatkan hasil tanaman terung dengan jumlah buah rata-rata 4,90 buah dan berat buah rata-rata 0,44 kg per tanaman. Kata kunci: POC kotoran kambing, Hasil, Terung

Page 4 of 26 | Total Record : 258