cover
Contact Name
Apriana Vinasyiam
Contact Email
akuakultur.indonesia@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
akuakultur.indonesia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Akuakultur Indonesia
ISSN : 14125269     EISSN : 23546700     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Akuakultur Indonesia (JAI) merupakan salah satu sarana penyebarluasan informasi hasil-hasil penelitian serta kemajuan iptek dalam bidang akuakultur yang dikelola oleh Departemen Budidaya Perairan, FPIK–IPB. Sejak tahun 2005 penerbitan jurnal dilakukan 2 kali per tahun setiap bulan Januari dan Juli. Jumlah naskah yang diterbitkan per tahun relatif konsisten yaitu 23–30 naskah per tahun atau minimal 200 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 582 Documents
Sex Reversal of Red Tilapia (Oreochromis sp.) by Larval Immersion using Aromatase Inhibitor Sudrajat, M. Agus; Astutik, I.D.; Arfah, H.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.429 KB) | DOI: 10.19027/jai.6.103-108

Abstract

This study was performed to verify the effect of red Nile tilapia (Oreochromis sp.) larval immersion using aromatase inhibitor (1,3-Diaza-2,4-Cyclopentadience) on percentage of male fish.  Nine-day-old of Nile tilapia larva was immersed in aromatase inhibitor at the dose of 0, 10, 20 and 30 mg/L water for 10 hours.  Number of larva immersed was 100 fish per treatment.  The results of study indicated that immersing of 9-day-old larva for 10 hours was ineffective in producing male fish. The highest male percentage was 59.5% at the dose of 20 mg/L, and statistically similar with other treatments including control.  However, this treatment has possibility to produce hermaphrodite, and had no effect on survival of fish. Keywords: red Nile tilapia, Oreochromis, Aromatase Inhibitor, immersion   ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efek perendaman ikan nila merah (Oreochromis sp.) menggunakan aromatase inhibitor (1,3-Diaza-2,4-Cyclopentadience) terhadap persentase ikan jantan.  Larva ikan nila umur 9 hari direndam dengan aromatase inhibitor dengan dosis 0, 10, 20 dan 30 mg/L air selama 10 jam.  Jumlah larva yang direndam sebanyak 100 ekor per perlakuan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman pada fase larva umur 9 hari selama 10 jam terbukti kurang efektif untuk menghasilkan ikan jantan. Persentase jantan tertinggi hanya mencapai 59,5% dengan dosis 20 mg/L aromatase inhibitor dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan lainnya termasuk kontrol. Namun perlakuan tersebut berpeluang menghasilkan individu hermaprodit, dan tidak berpengaruh terhadap kelangsungan hidup ikan. Kata kunci: ikan nila merah, Oreochromis, Aromatase Inhibitor, perendaman
Prospect use of Phaleria macrocarpa to prevent motile aeromonad septicaemia disease in Patin Catfish Pangasianodon hypophthalmus Wahjuningrum, D.; Angka, S.L.; Lesmanawati, W.; Sa’diyah, .; Yuhana, M.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.545 KB) | DOI: 10.19027/jai.6.109-117

Abstract

Motile Aeromonad Septicaemia (MAS) disease is one of bacterial disease frequently infecting freshwater fishes including patin catfish Pangasianodon hypophthalmus.  This study was performed to determine antimicrobial of Phaleria macrocarpa (PM) and its potency against MAS disease caused by Aeromonas hydrophila.  The in vitro susceptibility test was performed by pour plate methods at the dosages of 2, 4, 6, 8, and 10 g/l PM. At the in vivo test, fish were fed with the addition of PM into the diet at a dosage of 6, 12, and 18 g/l and 0 g/l as a control for 8 days. At ninth day, fish were infected with A.hydrophila. For seven days after infection the clinical signs and blood pictures were observed. The in vitro test indicated that PM had an antibacterial effect to A.hydrophila at the dosage of 6 g/l. Addition of PM in the diet for 8 days increased haemoglobine. The results showed that lowest clinical sign and smallest number of in fected fish was found at dosage of 12 g/l PM. PM can be used as a preventive method for MAS. Keywords:  Phaleria macrocarpa, antibacterial, "patin", MAS disease, Aeromonas hydrophila   Abstrak Penyakit MAS (Motile Aeromonad Septicaemia) merupakan penyakit bakterial yang banyak menyerang ikan-ikan air tawar termasuk patin Pangasianodon hypophthalmus. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kemampuan antibakteri dari mahkota dewa (MD) Phaleria macrocarpa terhadap Aeromonas hydrophila penyebab penyakit MAS dan potensinya dalam pencegahan penyakit ini.  Pada uji in vitro dilakukan pengujian aktivitas antibakteri MD terhadap A. hydrophila dengan metode hitungan cawan pada dosis MD 2, 4, 6, 8, dan 10 g/l. Pada uji in vivo, ikan uji diberi pakan yang dicampur MD dengan dosis berbeda yaitu 0 g/l (kontrol +), 6, 12, dan 18 g/l, selama 8 hari. Pada hari kesembilan ikan disuntik dengan A. hydrophila dan pengamatan dilanjutkan selama 7 hari, meliputi pengamatan gejala klinis dan gambaran darah.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa MD bersifat antibakteri terhadap A. hydrophila dengan dosis efektif 6 g/l. Pemberian MD selama 8 hari dapat meningkatkan kadar hemoglobin, kadar hematokrit, jumlah lekosit, serta meningkatkan kemampuan fagositik darah. Dosis MD sebesar 12 g/l menunjukkan hasil paling baik yang ditunjang oleh gejala klinis paling ringan (sampai tahap nekrosis), dengan jumlah ikan yang terinfeksi paling sedikit (45%) dan waktu penyembuhan paling cepat (hari ke 6). Dengan demikian, MD dapat digunakan untuk mencegah penyakit MAS. Kata kunci:  mahkota dewa, antibakterial, ikan patin, penyakit MAS, Aeromonas hydrophila
Relation on phitoplankton community with Litopenaeus vannamei productivity in biocrete pond Budiardi, T.; Widyaya, I.; Wahjuningrum, D.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.641 KB) | DOI: 10.19027/jai.6.119-125

Abstract

ABSTRACTManagement of phytoplankton is generally conducted by controlling the concentration of organic matter, fertilization and water exchange.  Organic materials are from uneaten feed and excretion of shrimp.  By using post facto method it was found four class of phytoplankton in biocrete pond at one cycle rearing of white shrimp (Litopenaeus vannamei).  Population at early rearing period was dominated by Bacillariophyceae (50.4%; 13 species) and Cyanophyceae (42.41%; 1 species), followed by Dynophyceae (6.2%; 5 species) and Chlorophyceae (1.3%; 1 species).  Increment in phytoplankton density was followed by increment in chlorophyll-a and oxygen from photosynthesis, and productivity was 2132 kg/pond.Keywords: phytoplankton, white shrimp, Litopenaeus vannamei, biocrete pond ABSTRAKPengelolaan fitoplankton umumnya dilakukan dengan mengoptimalkan bahan organik serta pemupukan dan pergantian air. Bahan organik berasal dari pakan buatan yang tidak terkonsumsi (sisa pakan) dan ekskresi dari udang. Dengan menggunakan metode post facto selama satu siklus pemeliharaan udang vaname (Litopenaeus vannamei) pada tambak biocrete diperoleh empat kelas fitoplankton. Dominasi Bacillariophyceae (50,4%; 13 jenis), Cyanophyceae (42,41%; 1 jenis) terjadi pada awal pemeliharaan yang diiukuti oleh Dynophyceae (6,2%; 5 jenis) dan Chlorophyceae (1,3%; 1 jenis). Peningkatan kelimpahan fitoplankton secara keseluruhan diikuti oleh peningkatan kandungan klorofil-a dan oksigen hasil fotosintesis total sehingga produktifitasnya mencapai 2132 kg/petakKata kunci: fitoplankton, udang vaname, Litopenaeus vannamei, tambak biocrete
Efficacy of Andrographis paniculata, Psidium guajava and Piper betle as Prevention on Motile Aeromonad Septicaemia Infection in African Catfish (Clarias sp.) Wahjuningrum, D.; Tarono, .; Angka, S.L.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.563 KB) | DOI: 10.19027/jai.6.127-133

Abstract

An effort to prevent Motile Aeromonad Septicaemia (MAS) disease in African catfish (Clarias sp.) performed using antibiotic was less safety and expensive ways.  An herbal medicine may be able to be a safety and cheap way to prevent of the MAS disease.  This study was conducted to determine efficacy of herbal medicine combination of sambiloto (Andrographis paniculata), daun jambu (Psidium guajava) and daun sirih (Piper betle). Herbal medicines were mixed to diet and fish were fed on the diet containing the herbal medicine for 7 days of rearing.  The dosage of herbal medicine per 100 gram of diet was PI (1.0 g sambiloto, 0.75 g daun jambu and 0.25 g daun sirih), PII (1.0 g sambiloto,  0.50 g daun jambu,  0.50 g daun sirih), and PIII (1.0 g sambiloto, 0.25 g daun jambu, and 0.75 g daun sirih).  On 8th day, fish were injected intramuscularly with 1 ml of Aeromonas hydrophila (105 cfu/ml) every 1 kg of fish.  Clinical symptom, feed response, fish weight, number of fish survive and visually changing of internal organs.  The results of study indicated that administration of herbal medicine A. paniculata, P. guajava and P. betle mixed into the diet effectively prevented A. hydrophila infection.  Combination of 1.0 gram A. paniculata, 0.75 gram P. guajava and 0.25 gram P. betle gave higher efficacy against A. hydrophila infection. Keywords: Andrographis paniculata, Psidium guajava, Piper betle, Motile Aeromonad septicaemia, African catfish   ABSTRAK Upaya penanggulangan penyakit MAS (Motil Aeromonad Septicaemia) pada ikan lele dumbo (Clarias sp.) yang dilakukan menggunakan antibiotik cenderung kurang aman dan mahal. Pencegahan menggunakan obat herbal diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut secara aman dan murah.  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas obat herbal kombinasi sambiloto (Andrographis paniculata), daun jambu biji (Psidium guajava) dan sirih (Piper betle) dengan dosis berbeda yang diberikan melalui pakan selama 7 hari.  Perlakuan dosis obat herbal per 100 gram pakan adalah PI (1,0 g sambiloto, 0,75 g daun jambu dan 0,25 g daun sirih), PII (1,0 g sambiloto,  0,50 g daun jambu,  0,50 g daun sirih), dan PIII (1,0 g sambiloto, 0,25 g daun jambu, 0,75 g dan daun sirih.  Pada hari ke-8 pemeliharaan ikan dilakukan penyuntikan secara intramuskular dengan Aeromonas hydrophila dengan konsentrasi 105 cfu/ml sebanyak 1 ml/kg bobot ikan.  Ikan uji diamati selama 7 hari yang meliputi gejala klinis, respon pakan, bobot ikan uji, jumlah ikan hidup dan perubahan visual organ dalam.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian obat herbal sambiloto (Andrographis paniculata), daun jambu biji (Psidium guajava) dan sirih (Piper betle) melalui pakan terbukti efektif untuk mencegah serangan A. hydrophila.  Kombinasi 1,0 gram sambiloto, 0,75 gram daun jambu biji dan 0,25 gram daun sirih dalam setiap 100 gram pakan menghasilkan efek pencegahan yang paling efektif. Kata kunci: Ikan lele, sambiloto, jambu biji, sirih, Motil Aeromonad Septicaemia dan lele dumbo
The Use of Zeolit and Activated Carbon on Packing System of Corydoras aenus Supriyono, E.; Supendi, E.; Nirmala, K.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.032 KB) | DOI: 10.19027/jai.6.135-145

Abstract

Problem frequently found by Indonesian exporter in sending ornamental fish including Corydoras aenus to overseas is the low survival rate that caused by decrease in water quality during transportation.  Suitable and efficient packing technology is very needed to send live fish for long time transportation.  Two third of packing plastic volume was filled by oxygen, and Corydoras aenus 20 fish/pack.  Packing plastic was placed into styrofoam and ice was added to maintain at low temperature.  Zeolit and activated carbon was cover up by cloth and then placed into the pack.  Dosage treatment of zeolit and activated carbon was 20 gram zeolit, 15 gram zeolit and 5 gram activated carbon, 10 gram zeolit and 10 gram activated carbon, 5 gram zeolit and 15 gram activated carbon, 20 gram activated carbon, and no added zeolit and no activated carbon as control.  Fish condition was observed every 6 hours, while water quality measurement was performed every 24 hours for 120 hours.  The results of study showed that adding 20 gram zeolit without activated carbon in closed packing system of Corydoras aenus in 20oC could maintained in lower concentration of total nitrogen ammonia and unionized ammonia (NH3), reached of 7.83±0.13 mg/l and 0.046±0.003 mg/l, respectively.  The level of total nitrogen ammonia and unionized ammonia were relatively lower compared to mix of zeolit and activated carbon, and only activated carbon.  Survival rate of fish by this treatment was 100%, higher than other treatment (85-95%). Keywords: zeolit, activated carbon, packing, Corydoras   ABSTRAK Permasalahan yang sering dihadapi oleh para eksportir Indonesia dalam pengiriman ikan hias termasuk Corydoras aenus ke luar negeri adalah rendahnya survival rate diantaranya disebabkan oleh kualitas air yang memburuk selama pengangkutan. Teknologi pengepakan yang tepat dan efisien sangat dibutuhkan dalam rangka pengiriman ikan hidup untuk tempat tujuan yang membutuhkan waktu lama. Kantong pengepakan diisi Corydoras aenus 20 ekor/kantong.  Dua per tiga bagian kantong diisi oksigen.  Kantong dimasukkan ke dalam styrofoam dan ditambahkan es batu untuk menjaga suhu tetap rendah.  Zeolit dan karbon aktif dibungkus kain dan dimasukan ke dalam kantong.  Perlakuan  dosis zeolit dan karbon aktif adalah 20 gram zeolit, 15 gram zeolit dan 5 gram karbon aktif, 10 gram zeolit dan 10 gram karbon aktif, 5 gram zeolit dan 15 gram karbon aktif, 20 gram karbon aktif, dan tanpa zeolit dan tanpa karbon aktif sebagai kontrol.  Pengamatan kondisi ikan dilakukan setiap 6 jam, sementara pengukuran kualitas air dilakukan setiap 24 jam hingga jam ke-120.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian 20 gram zeolit tanpa Carbon aktif pada pengepakan tertutup ikan Corydoras aenus dengan suhu sekitar 20oC mampu menekan kenaikan kadar total amonia nitrogen dan kadar amonia tak terionisasi (NH3) masing-masing mencapai tingkat 7,83±0,13 mg/l dan 0,046±0,003 mg/l. Konsentrasi tersebut relatif lebih rendah bila dibandingkan dengan penggunaan campuran zeolit dan arang aktif maupun arang aktif saja. Tingkat kelangsungan hidup yang dicapai oleh sistem pengepakan menggunakan 20 gram zeolit mencapai 100% yang juga lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lain yang hanya mencapai 85-95%. Kata kunci: zeolit, karbon aktif, pengepakan, Corydoras
Potency of Garlic Extract Against Koi Herpesvirus (KHV) in Common Carp Nuryati, Sri; Puspitaningtyas, D.; Wahjuningrum, D.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.178 KB) | DOI: 10.19027/jai.6.147-154

Abstract

Prevention of koi herpesvirus (KHV) infection using chemicals or medicines was ineffective way.  In this study garlic extract was used to prevent KHV infection.  Virus suspension of 0.1 ml and garlic extract of 0.1 ml in different dosage, i.e., 100, 200 and 300 ppt, was injected into common carp body.  Hemoglobin concentration, red and white blood cell numbers, and leukocyte number were counted.  The results of study showed that administration of 300 ppt of garlic extract could produce higher survival rate (67.5%), good blood parameters and clinical symptoms compared to other treatments. Keywords: garlic, KHV, common carp   ABSTRAK Upaya penanggulangan wabah Koi Herpesvirus (KHV) menggunakan bahan-bahan kimia atau obat-obatan adalah tidak efektif. Pada penelitian ini dilakukan pemberian ekstrak bawang putih untuk menanggulangi infeksi KHV.  Suspensi virus sebanyak 0,1 ml ditambahkan dengan 0,1 ml ekstrak bawang putih dengan berbagai konsentrasi, yaitu 100, 200 dan 300 ppt, disuntikkan ke dalam tubuh ikan mas.  Kadar hemoglobin, jumlah sel darah merah dan sel darah putih jenis dan jumlah leukosit diamati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak bawang putih sebanyak 300 ppt menghasilkan kelangsungan hidup (67,5%) yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan lainnya, dan begitu pula dengan gambaran darah serta gejala klinisnya.   Kata kunci: bawang putih, KHV, ikan mas
Efficacy of Honey on Sex Reversal of Guppy (Poecilia reticulata Peters) Soelistyowati, D.T.; Martati, E.; Arfah, H.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.836 KB) | DOI: 10.19027/jai.6.155-160

Abstract

This study was performed to determine effectiveness of honey on sex reversal of guppy.  Guppy broodstock was dipped on 1 L of water containing 0, 20, 40 or 60 mL of honey, for 10 hours.  Sex identification was carried out by morphologically and histological method.  The results of study show that percentage of male progeny tends to increase by increasing the dose of honey used.  Higher percentage of male fish is obtained by the dose of 60 ml/L (59.5% male), about 2.4 fold higher than that of control (24.3% male).  Dipping of honey has no effect on survival of broodstock and larvae.  Keywords: honey, sex reversal, monosex, Poecilia reticulata   ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas madu dalam pengarahan diferensiasi kelamin ikan gapi. Induk ikan gapi direndam dalam 1 L air yang mengandung 0, 20, 40 atau 60 mL madu, selama 10 jam.  Jenis kelamin ikan gapi diidentifikasi secara morfologis dan metode histologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase anak ikan gapi jantan cenderung meningkat seiring dengan peningkatan dosis madu yang diberikan. Persentase tertinggi ikan gapi jantan diperoleh pada perlakuan 60 mg/l media (59,5%), sekitar 2,4 kali lebih tinggi daripada kontrol (24,3%). Perendaman dengan madu terbukti tidak mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup induk dan larva. Kata kunci: madu, pengarahan kelamin, monoseks, Poecilia reticulata
Dietary Zinc Requirement of Young Giant Gouramy (Osphronemus gouramy, Lac.) Setiawati, Mia; Azwar, N.R.; Mokoginta, I.; Affandi, R.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.885 KB) | DOI: 10.19027/jai.6.161-169

Abstract

This experiment was conducted to determine the dietary zinc requirement of young giant gouramy. Five experimental diets were used in this experiment containing iso-nitrogenous and iso-energy with different levels of zinc (0, 25, 50, 100, and 200 mg per kg). The initial means of body weight of body the fishes was 0.82 g per individual. The fishes were fed upon the diets at satiation, three times daily, for 12 weeks. The results indicated no zinc deficiency symptoms in this experiment. The daily growth rate, feed efficiency, survival rates and protein and lipid retention were not significantly different from all the diets. However, fish fed upon 25 mg Zn/kg diets produced the highest protein and total digestibility. The zinc contents of 25 mg Zn/kg diets gave the highest value in zinc accumulation in the bone, blood serum and eyes. The highest accumulation of the zinc in the liver occurred in 50 mg Zn/kg diets. There was increase in zinc content of the tissues after increasing levels of dietary zinc. Thus, Zn requirement for juvenile of giant gouramy was 25-50 mg/kg diets. Keywords: Osphronemus gouramy, Zinc, diet   ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kebutuhan seng dalam pakan untuk benih ikan gurame.  Lima jenis pakan percobaan yang diuji mengandung iso-nitrogen dan iso-energi dengan kadar seng (Zn) yang berbeda (0, 25, 50, 100, and 200 mg per kg).  Bobot rata-rata benih yang digunakan adalah 0,82 g per ekor.  Ikan dipelihara selama 12 minggu dan diberi pakan 3 kali sehari.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada gejala defisiensi Zn.  Laju pertumbuhan harian, efisiensi pakan, kelangsungan hidup dan rentesi protein dan lemak tidak berbeda nyata untuk semua perlakuan.  Namun demikian, ikan yang diberi Zn sebanyak 25 mg/kg pakan menghasilkan kecernaan total dan protein tertinggi.  Perlakuan tersebut juga menghasilkan akumulasi Zn tertinggi dalam tulang, serum darah dan mata.  Akumulasi Zn tertinggi dalam hati diperoleh pada perlakuan 50 mg Zn/kg pakan.  Kandungan Zn dalam jaringan meningkat sejalan dengan meningkatnya kadar Zn dalam pakan. Dengan demikian, kebutuhan Zn bagi benih ikan gurame adalah sebanyak 25-50 mg /kg pakan. Kata kunci: Osphronemus gouramy, seng, pakan
Growth performance of African catfish (Clarias sp.) juvenile fed on the diets containing various chromium content Aryansyah, H.; Mokoginta, I.; Jusadi, D.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.584 KB) | DOI: 10.19027/jai.6.171-176

Abstract

This experiment was conducted to determine the effect of different dietary chromium level on the growth performance of catfish (Clarias sp.) juvenile. Five experimental diets contain different chromium level, namely diet A (as a control diet) 0.01; B 1.30; C 2.60; D 3.90 and E 5.20 mg/kg diet were used in this experiment. Fish with body weight of  5.57 ± 0.01 g/ind, fed on the experimental diet, twice a day, at satiation. Feeding trial was conducted for 60 days. Based on the evaluation of protein level of the whole body, protein and lipid retention, daily growth rate and feed efficiency, it was concluded that the optimum dietary chromium level for catfish  juvenile was 2.60 mg/kg diet. Keywords: chromium, growth, Clarias sp.   ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian kromium dengan level berbeda terhadap pertumbuhan ikan lele (Clarias sp.) juvenil.  Lima jenis pakan yang mengandung kromium berbeda, yaitu pakan A  (kontrol) 0,01; B 1,30; C 2,60; D 3,90 dan pakan E 5,20 mg/kg digunakan dalam penelitian ini. Ikan dengan bobot 5,57 ± 0,01 g/ind., diberi pakan 2 kali sehari secara satiasi.  Pemeliharaan ikan dilakukan selama 60 hari.  Berdasarkan analisa retensi protein, kandungan protein dan retensi lemak dalam tubuh ikan lele, disimpulkan bahwa kadar kromium yang optimum untuk juvenil ikan lele adalah 2,60 mg/kg pakan. Kata kunci: kromium, pertumbuhan, Clarias sp.
Rapid method for identification of transgenic fish zygosity Alimuddin, .; Yoshizaki, G.; Carman, O.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.956 KB) | DOI: 10.19027/jai.6.177-182

Abstract

Identification of zygosity in transgenik fish is normally achieved by PCR analysis with genomic DNA template extracted from the tissue of progenies which are derived by mating the transgenic fish and wild-type counterpart.  This method needs relatively large amounts of fish material and is time- and labor-intensive. New approaches addressing this problem could be of great help for fish biotechnologists.  In this experiment, we applied a quantitative real-time PCR (qr-PCR) method to analyze zygosity in a stable line of transgenic zebrafish (Danio rerio) carrying masu salmon, Oncorhynchus masou D6-desaturase-like gene. The qr-PCR was performed using iQ SYBR Green Supermix in the iCycler iQ Real-time PCR Detection System (Bio-Rad Laboratories, USA).  Data were analyzed using the comparative cycle threshold method.  The results demonstrated a clear-cut identification of all transgenic fish (n=20) classified as a homozygous or heterozygous.  Mating of those fish with wild-type had revealed transgene transmission to the offspring following expected Mendelian laws. Thus, we found that the qTR-PCR to be effective for a rapid and precise determination of zygosity in transgenic fish. This technique could be useful in the establishment of breeding programs for mass transgenic fish production and in experiments in which zygosity effect could have a functional impact. Keywords: quantitative real-time PCR; zygosity; transgenic fish; mass production   ABSTRAK Identifikasi sigositas ikan transgenik biasanya dilakukan menggunakan analisa PCR dengan cetakan DNA genomik yang diekstraksi dari jaringan ikan hasil persilangan antara ikan transgenik dan ikan normal.   Metode ini memerlukan ikan dalam jumlah yang banyak, dan juga waktu serta tenaga.  Pendekatan baru untuk mengatasi masalah tersebut akan memberikan manfaat besar kepada peneliti bioteknologi perikanan.  Pada penelitian ini, kami menggunakan metode PCR real-time kuantitatif (krt-PCR) untuk menganalisa sigositas pada satu strain ikan zebra (Danio rerio) transgenik yang membawa gen D6-desaturase-like dari ikan salmon masu, Oncorhynchus masou.  krt-PCR dilakukan menggunakan iQ SYBR Green Supermix pada mesin iCycler iQ Real-time PCR Detection system (Bio-Rad Laboratories, USA).  Data dianalisis menggunakan metode pembandingan nilai cycle threshold.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua ikan transgenik (n=20) yang diidentifikasi dapat diklasifikasikan secara jelas sebagai ikan homosigot atau heterosigot.  Persilangan antara ikan transgenik tersebut dengan ikan normal menunjukkan transmisi transgen ke keturunannya mengikuti hukum segregasi Mendel.  Dengan demikian, metode krt-PCR adalah efektif untuk penentuan sigositas secara cepat dan tepat pada ikan transgenik.  Teknik ini dapat berguna dalam program produksi ikan transgenik secara massal dan dalam percobaan dimana faktor sigositas memberikan pengaruh nyata. Kata kunci: kuantitatif real-time PCR; sigositas, ikan transgenik; produksi massal

Filter by Year

2002 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2026): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 2 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 1 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia More Issue