cover
Contact Name
Apriana Vinasyiam
Contact Email
akuakultur.indonesia@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
akuakultur.indonesia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Akuakultur Indonesia
ISSN : 14125269     EISSN : 23546700     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Akuakultur Indonesia (JAI) merupakan salah satu sarana penyebarluasan informasi hasil-hasil penelitian serta kemajuan iptek dalam bidang akuakultur yang dikelola oleh Departemen Budidaya Perairan, FPIK–IPB. Sejak tahun 2005 penerbitan jurnal dilakukan 2 kali per tahun setiap bulan Januari dan Juli. Jumlah naskah yang diterbitkan per tahun relatif konsisten yaitu 23–30 naskah per tahun atau minimal 200 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 582 Documents
Optimation of Production Input in White Shrimp (Litopenaeus vannamei) Culture: A Case Study in UD. Jasa Hasil Diri at Desa Lamaran Tarung, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu Diatin, I.; Arifianty, S.; Farmayanti, N.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.812 KB) | DOI: 10.19027/jai.7.39-49

Abstract

UD Jasa Hasil Diri (UD JHD) is a company in Indramayu which culture the white shrimp. UD JHD started this culture in 2003, and now UD JHD's dam out area has reach 26 ha. Total production of white shrimp in 2006 was 125,854.5 kg.  The production cost of white shrimp culture that must be spending by UD JHD reached IDR 2,842,427,294. This production cost was allocated to get all variable input such as: seed, food, calcium, fertilizer, vitamin, probiotic, medicine, labor, diesel fuel, and gasoline. The used of production input already in optimum condition. Based on the result of linear study for seed used was optimum at 7,830,667 tails, foods at 204,387.7 kg, calcium at 25,170.9 kg, fertilizer at 503.4 kg, vitamins at 75.5 kg, probiotic at 683.4 kg, medicines at 4,279.1 kg, harvests at 1,258.5 hours, diesel fuel at 104,459.2 liters, and gasoline at 1,200 liters. The cost of production input based on linear study was IDR 2,403,220,000. Thus, UD JHD could reduce this cost by IDR 439,207,294 to get 125,854.5 kg shrimps. Keywords: optimum, production input, cost, white shrimp   ABSTRAK UD Jasa Hasil Diri (UD JHD) merupakan sebuah perusahan yang membudidayakan udang vaname di Indramayu.  Perusahaan ini memulai usahanya sejak tahun 2003, dan saat ini memiliki tambak seluas 26 ha.  Total produksi udang vaname pada tahun 2006 adalah 125.854,5 kg.  Biaya yang harus dikelurkan oleh UD JHD untuk memproduksi budidaya udang vaname mencapai Rp. 2.842.427.294.  Biaya produksi ini dialokasikan untuk memperoleh berbagai input produksi seperti benur, pakan, kalsium, pupuk, vitamin, probiotik, obat-obatan, tenaga kerja, solar dan bensin.  Penggunaan input produksi telah mencapai kondisi optimum.  Berdasarkan hasil uji linier, kondisi optimum untuk benih yang ditebar adalah 7.830.667 ekor, pakan sebanyak 204.387,7 kg, kalsium 25.170,9 kg, pupuk 503,4 kg, vitamin 75,5 kg, probiotik 683,4 kg, obat-obatan 4.279,1 kg, masa pemeliharaan 1.258,5 jam, solar 104.459,2 liter, and bensin 1.200 liter.  Berdasarkan analisis linier, biaya input produksi adalah Rp. 2.403.220.000.  Dengan demikian, UD JHD dapat menurunkan biaya menjadi Rp. 439,207,294 untuk memperoleh 125.854,5 kg udang vaname. Kata kunci: optimum, input produksi, biaya , udang vaname
Preliminary Study on Bacterial Pathogenic in Grouper Culture and Its Inhibitor Bacteria in Lampung Bay Hatmanti, A.; Nuchsin, R.; Darmayati, Y.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.862 KB) | DOI: 10.19027/jai.7.51-58

Abstract

Investigation of pathogenic bacteria and its inhibitor on grouper culture in some places of Lampung Bay had been carried out. Six strains of pathogenic bacteria and 28 strains of inhibitior bacteria were found in grouper and its habitat.  By inhibition test, 4 strains inhibited pathogenic bacteria were obtained. Inhibition test for Vibrio harveyi had also been performed using a bacterial collection of Marine Microbiology Laboratory of Research Center of Oceanography-LIPI.  The result showed that 3 strains could be used against bacterial infection. This study offers a positive prospect to prevent outbreak of bacterial diseases in grouper culture. Keywords: grouper culture, Lampung, inhibitor bacteria, pathogenic bacteria, inhibition test   ABSTRAK Penelitian penyakit bakterial dan bakteri penghambatnya pada budidaya ikan kerapu di beberapa tempat di perairan Teluk Lampung telah dilakukan. Enam strain bakteri patogen dan 28 strain bakteri penghambat telah berhasil diisolasi dari ikan kerapu dan habitat tempat hidupnya.  Dari hasil uji tantang (inhibition test) yang dilakukan, diperoleh 4 strain bakteri penghambat yang mampu menekan pertumbuhan bakteri patogen. Selain itu, uji tantang terhadap bakteri patogen Vibrio harveyi, menggunakan bakteri penghambat koleksi Laboratorium Mikrobiologi Laut Puslit Oseanografi LIPI juga telah dilakukan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa 3 strain bakteri mampu memberikan hambatan terhadap pertumbuhan Vibrio harveyi.  Studi ini memberikan prospek positif terhadap penanggulangan penyakit bakterial pada budidaya ikan kerapu. Kata kunci: budidaya kerapu, Lampung, bakteri penghambat, bakteri patogen, uji tantang
Effect of different feeding dossage on the growth of Cyprinus carpio and Macrones sp. by Cage-Cum-Cage system Tossin, M.R.; Sunarto, .; Sabariah, .
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.163 KB) | DOI: 10.19027/jai.7.59-64

Abstract

ABSTRACTFeed is an element which requires largest cost in fish culture.  Inefficient in feeding can reduce profit.  In additon, intensive fish culture system requires efficiently the use of area.  Generally, not all space in fish cage filled by fish, because of the nature of fish that lives in some particular space on water such as the surface, middle space or bottom.  Cyprinus carpio andMacrones sp. was reared with gillnet inside gillnet (cage-cum-cage) and fed commercial diet in dose of 3%, 6%, 9% and 12%. Result show that feeding dose of 6% was an efficien mean by relative growth rate.  Growth rate of Cyprinus carpio was about 150.47% and Macrones was 208.87%.  Feed efficiency was about 81.89%. Survival rate of Cyprinus carpio was about 91.67% and Macrones was 86.67%.  Thus, feeding dose of 6% is recommended for Cyprinus carpio andMacrones in cage-cum-cage culture system.Keywords:  growth, Cyprinus carpio,Macrones sp., feeding dose, cage-cum-cage ABSTRAKPakan merupakan komponen yang membutuhkan biaya terbesar dalam usaha budidaya. Penggunaan pakan yang tidak efisiensi dapat mengurangi  keuntungan usaha. Selain itu budidaya yang intensif juga menuntut penggunaan ruang gerak ikan yang efisien. Umumnya tidak semua kolom air dalam karamba terisi dengan ikan yang dibudidayakan, karena sifat ikan mendiami bagian tertentu dalam air seperti di permukaan, di pertengahan atau di dasar perairan.  Ikan mas dan ikan baung dipelihara dengan jaring di dalam jaring (cage-cum-cage) dan diberi pakan dengan dosis  3%; 6%; 9% dan 12%. Hasil menunjukan bahwa dosis pakan 6% merupakan dosis yang efisien dalam penggunaan pakan dengan laju pertumbuhan relatif ikan mas 150,47 % dan ikan baung 208,87%, efisiensi pakan 81,89% dan kelangsungan hidup ikan mas 91,67% dan ikan baung 86,67%.  Dosis pakan 6% direkomendasikan sebagai dosis  yang sesuai untuk ikan mas dan ikan baung pada sistem cage-cum-cage.Kata kunci : pertumbuhan, ikan mas, ikan baung, Cyprinus carpio, Macrones, dosis pakan, cage-cum-cage.
Rearing of Humpback Grouper (Cromileptes altivelis) Fed on Pellet and Trash Fish in Cage Culture System Fauzi, I.A.; Mokoginta, I.; Yaniharto, D.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.293 KB) | DOI: 10.19027/jai.7.65-70

Abstract

This experiment was conducted in order to have comparative description about the growth of humpback grouper (Cromileptes altivelis) fed by artificial diets compare to the trash fish in cage culture system. The protein level of the artificial diet was 42.5%, and the trash fish was 51-70%. Fish fed on the experimental diet twice a day, at satiation, for 60 days. Result showed that the growth rate of fish fed on the artificial diet are slightly lower (6.37% and 8.38%) than that of trash fish (11.11% and 10.18%). Though the growth levels are lower, the feed conversion ratio (3.55 and 3.13) showed a better value than that of fish fed on trash fish (4.81 and 5.83). The use of artificial feed is also more economical than trash fish feed based on  cost of the feed.  With that fact we can conclude that artificial feed can equalize or even substitute the trash fish feed for Humpback grouper rearing in cage culture system. Keywords: artificial diets, cage culture, humpback grouper, Cromileptes altivelis   ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis) antara yang diberi pakan buatan dan ikan rucah, yang dipelihara pada keramba jaring apung.  Kadar protein pakan buatan adalah 42,5%, dan ikan rucah adalah 51-70%.  Ikan diberi pakan 2 kali sehari, secara satiasi, selama 60 hari pemeliharaan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan ikan yang diberi pakan buatan lebih rendah (6,37% dan 8,38%) dibandingkan dengan yang diberi ikan rucah (11,11% dan 10,18%).  Meskipun laju pertumbuhan lebih rendah, konversi pakannya (3,55 dan 3,13) lebih baik dibandingkan dengan ikan yang diberi pakan berupa ikan rucah (4,81 dan 5,83).  Berdasarkan biaya untuk pakan, penggunaan pakan buatan lebih ekonomis dibandingkan ikan rucah.  Dengan demikian, pakan buatan dapat menggantikan ikan rucah dalam pemeliharaan ikan kerapu bebek di keramba jaring apung. Kata kunci: pakan buatan, keramba jaring apung, ikan kerapu bebek, Cromileptes altivelis
Determination of Suitable Water Salinity and Live Food in The Rearing of Eel (Anguilla bicolor) Fry Sutrisno, .
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.923 KB) | DOI: 10.19027/jai.7.71-77

Abstract

This study was conducted to determine suitable water salinity and live food in the rearing of eel,  Anguilla bicolor fry.  Eel fry in weight of 0.15±0.008 g/tail were reared at controlled tank at density of 2 fish liter-1 for 42 days.  Experiment was devided into two steps.  In the first step of experiment, eel fry were reared at different water salinity, i.e., 0; 5; 10 and 15 ppt.  Fish were fed on Tubifex at satiation.  The best result from the first experiment was then used in the second step of study to examine proper live food for eel fry.  Fish were fed on live food (Tubifex, Artemia, or Spirulina) at 10% body weight.  Survival rate, specific growth rate and food conversion ratio were observed.  The result of experiment showed that survival rate of eel fry reared in water salinity of 5 ppt (100%), 10 (96%) and 15 ppt (97%) was higher (p
The use of Cattapa Leaves Terminalia cattapa as Preventive and Curative Methods in Patin Catfish Pangasionodon hypophthalmus Infected With Aeromonas hydrophila Wahjuningrum, D.; Ashry, N.; Nuryati, Sri
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.375 KB) | DOI: 10.19027/jai.7.79-94

Abstract

Motile Aeromonad Septicaemia (MAS) caused by Aeromonas hydrophila induced serious epidemics of ulcerative disease in freshwater fish including patin catfish Pangasionodon hypophthalmus. In vitro study for antibacterial test of cattapa leaves Terminalia cattapa (TC) were done previous to the in vivo test. The in vitro susceptibility test was performed at the dosages of 30, 60 and 90 g/l TC. At the in vivo test, fish were injected intramusculary with TC at the dosages of 60 g/l for the prevention and 120 g/l for curative efficacy. Results from blood picture, clinical sign and mortaliyt showed that TC were better and more effective as preventive than curative for MAS in patin catfish. Keywords :  Terminalia cattapa, Aeromonas hydrophila, patin catfish   ABSTRAK Penyakit MAS (Motile Aeromonad Septicaemia) yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophila sering menyebabkan wabah penyakit tukak pada ikan-ikan air tawar termasuk pada ikan patin Pangasionodon hypophthalmus. Uji antibakteri secara in vitro dari daun ketapang Terminalia cattapa (TC) dilakukan sebelum uji in vivo. Pada uji in vitro dilakukan pengujian aktivitas antibakteri TC terhadap A. Hydrophila pada dosis TC 30, 60 dan 90 g/l. Pada uji in vivo, ikan diinfeksi secara intramuskular dengan TC, untuk pencegahan dengan dosis 60 g/l TC dan pengobatan pada dosis 120 g/l TC. Hasil yang diperoleh dari gambaran darah, gejala klinis dan kematian ikan patin menunjukkan bahwa TC lebih baik dan sangat efektif untuk pencegahan daripada pengobatan untuk penyakit MAS pada ikan patin. Kata kunci: Terminalia cattapa, Aeromonas hydrophila, ikan patin
Potency of Garlic (Allium sativum) Extract Against Motile Aeromonad Septicaemia Disease Caused by Aeromonas hydrophila in Pangasionodon hypophthalmus Yuhana, M.; Normalina, I.; Sukenda, .
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.101 KB) | DOI: 10.19027/jai.7.95-107

Abstract

An infectious disease caused by motile members of the genus Aeromonas, is among the most common diseases of fish cultured in freshwater, including the Thai catfish, Pangasionodon hypophthalmus. Motile aeromonad infections have been recognized for many years by various names, including motile aeromonad septicemia (MAS), motile aeromonad infection (MAI), hemorrhagic septicemia, red pest, and red sore. In our experiment, we study the potency of a phytopharmacia agent, garlic extract for prevention and curing off the experimental infections by Aeromonas hydrophila. In series of in vitro assays, the garlic extract showed inhibition capacity on the bacterial growth. The extract dosage of 25 mg/ml (2.5 g/l) was found to be the most effective among other dosages i.e 1, 2, 5, 10, 20, 50, respectively. Whereas in an in vivo assay using 25 mg/ml, it showed to be the most effective dosage for prevention against the intramuscularly experimental injection of A. hydrophila rather than as a curing agent. Keywords:  Pangasionodon hypophthalmus, Allium sativum, dan Aeromonas.   ABSTRAK Salah satu penyakit yang sering menyerang ikan patin (Pangasionodon hypophthalmus) dan ikan air tawar lainnya adalah penyakit MAS (Motile Aeromonad Septicemia). Penyakit ini juga dikenal sebagai penyakit bercak merah yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila dan mudah menular. Secara in vitro, ekstrak bawang putih (Allium sativum) berpotensi sebagai antibakteri yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri A. hydrophila. Dosis ekstrak bawang putih sebesar 25 mg/ml (2,5 g/l) merupakan dosis  yang efektif untuk menghambat pertumbuhan A. hydrophila pada uji in vitro. Pada uji in vivo ekstrak bawang putih yang disuntikkan terhadap ikan patin, dengan dosis ekstrak sebesar 25 mg/ml (2,5 g/l) menunjukkan hasil yang lebih efektif dalam mencegah infeksi A. hydrophila dibandingkan pengobatan. Kata kunci: patin, Pangasionodon hypophthalmus, bawang putih, Allium sativum, MAS dan Aeromonas.
Growth and Survival Rate of Redclaw Crayfish Cherax quadricarinatus Reared with Different Density in Recirculation System Budiardi, Tatag; Irawan, D Y; Wahjuningrum, Dinamella
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.796 KB) | DOI: 10.19027/jai.7.109-114

Abstract

The objective of this research was to know the growth and survival rate of redclaw crayfish (Cherax quadricarinatus) reared in recirculation system with density 20, 30, 40 and 50 m-2. Lobster with 6.02 ± 0.13 cm length and 6.23 ± 0.51 gram initial body weights were cultured in 60 x 30 x 40 cm aquarium and compiled in recirculation system, for 42 days. Result of research showed that there are statistically difference at growth rate daily weight, coefficient of variances and feed efficiency (p0.05). From this research it can be concluded that the best density for freshwater crayfish (Cherax quadricarinatus) was 50 m-2.Keywords: density, growth, survival rate, redclaw crayfish,  Cherax quadricarinatus ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan kelangsungan hidup lobster capit merah (Cherax quadricarinatus) yang dipelihara pada sistem resirkulasi dengan kepadatan 20, 30, 40 dan 50 ekor/m2. Benih lobster yang digunakan memiliki panjang awal rata-rata 6,02 ± 0,13 cm dan berat 6,23 ± 0,51 gram, dipelihara pada akuarium dengan ukuran 60 x 30 x 40 cm yang diisi air setinggi 20 cm dan disusun dalam sistem resirkulasi, selama 42 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan nyata pada laju pertumbuhan bobot harian, koefisien keragaman dan efisiensi pakan (p0,05). Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa padat penebaran yang dapat memberikan hasil maksimum adalah 50 ekor/m2.Kata kunci: padat penebaran, pertumbuhan, kelangsungan hidup, lobster capit merah, Cherax quadricarinatus
Characterization of β-Actin Promoter from Nile Tilapia (Oreochromis niloticus) Alimuddin, .; Octavera, A.; Arifin, O.Z.; Sumantadinata, K.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.672 KB) | DOI: 10.19027/jai.7.115-127

Abstract

Promoter is one of the factors determining the successful of transgenesis.  In this study we isolated and characterized β-actin promoter from Nile tilapia (tiBP) towards production of autotransgenic tilapia.  β-actin promoter has high activity in muscle.  Sequence of tiBP promoter was isolated by using PCR method. Sequencing was performed using ABI PRISM 3100 machine. Analysis of sequences was conducted using GENETYX version 7 and TFBind softwares. DNA fragment of PCR amplification product digested from the vector cloning was then ligated with pEGFP-N1 to generate ptiBP-EGFP construct. The construct was microinjected into one-cell stage of zebrafish (Danio rerio) embryos to test the tiBP promoter activity. EGFP gene expression was observed by fluorescence microscope.  The result of sequence analysis showed that the length of DNA fragment obtained is about 1.5 kb and containing the evolutionary conserved sequences of transcription factor for β-actin promoter including CCAAT, CArG and TATA boxes.  Furthermore, tiBP sequence in ptiBP-EGFP construct could regulated GFP expression in muscle of zebrafish embryos injected with the construct. The results suggested that PCR amplification product is the regulator sequence of tilapia β-actin gene. Autotransgenic tilapia can be then produced by changing GFP gene fragment of ptiBP-EGFP construct with genes from tilapia encoding important traits in aquaculture. Keywords:  cloning, β-actin promoter, autotransgenic, EGFP, Oreochromis niloticus, Danio rerio   ABSTRAK Promoter merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan transgenesis.  Pada penelitian ini kami mengisolasi dan mengkarakterisasi promoter β-actin dari ikan nila (tiBP) dalam rangka pembuatan ikan nila autotransgenik. Promoter β-actin memiliki aktivitas tinggi pada jaringan otot. Sekuens promoter tiBP diisolasi menggunakan metode PCR.  Sekuensing dilakukan menggunakan mesin ABI PRISM 3100. Analisa sekuens menggunakan software GENETYX versi 7 dan TFBind.  Fragment DNA hasil amplifikasi PCR yang didigesti dari vektor kloning selanjutnya diligasi dengan pEGFP-N1 untuk membuat konstruksi ptiBP-EGFP. Konstruksi ptiBP-EGFP dimikroinjeksi ke embrio ikan zebra (Danio rerio) fase 1 sel untuk menguji aktivitas promoter tiBP. Ekspresi gen EGFP diamati menggunakan mikroskop fluoresens. Analisa sekuens menunjukkan bahwa panjang fragmen DNA hasil amplifikasi PCR sekitar 1,5 kb dan memiliki faktor transkripsi yang konserf untuk promoter β-actin, yaitu CCAAT, boks CArG dan TATA.  Selanjutnya, sekuens tiBP dalam konstruksi ptiBP-EGFP mampu mengendalikan ekspresi gen EGFP pada jaringan otot embrio ikan zebra yang dimikroinjeksi dengan konstruksi tersebut.  Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa fragmen DNA hasil amplifikasi PCR tersebut merupakan sekuens promoter β-actin ikan nila. Pembuatan ikan nila autotransgenik selanjutnya dapat dilakukan dengan mengganti gen EGFP pada pktBA-EGFP dengan gen-gen asal ikan nila yang mengkodekan karakter penting dalam budidaya ikan. Kata kunci:  kloning, promoter β-actin, autotransgenik, EGFP, Oreochromis niloticus, Danio rerio
Administration of Vibrio SKT-b Probiotic Bacteria on Tiger Shrimp Larvae Through Artemia Enrichment Widanarni, .; Soelistyowati, D.T.; Suwanto, A.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (141.908 KB) | DOI: 10.19027/jai.7.129-137

Abstract

This experiment was conducted to study the effects of probiotic bacteria (Vibrio SKT-b) administration on tiger shrimp larvae through Artemia enrichment.  This experiment was done in two treatments; shrimp larvae fed on Vibrio SKT-b enriched Artemia and fed on Artemia without enrichment.  Enrichment of Vibrio SKT-b into Artemia rearing media used initial concentration of 106 CFU/ml.  Application of Artemia to shrimp larvae was done in fourteen days.  Growth in length and weight of shrimp larvae were observed at the beginning and at the end of the experiment; while survival rate of larvae was observed at the end of the experiment.  Growth in body length and weight of shrimp larvae fed on Vibrio SKT-b enriched Artemia were higher than control.  Survival rate were 89-93%, and insignificantly different than that of control (70-80%). Keywords: tiger shrimp, larvae, probiotic, Vibrio SKT-b, enrichment, Artemia   ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian bakteri probiotik Vibrio SKT-b pada larva udang windu melalui pengkayaan Artemia.  Percobaan dilakukan dengan dua perlakuan; pertama larva udang diberi pakan Artemia yang diperkaya dengan Vibrio SKT-b dan kedua larva udang diberi pakan Artemia tanpa pengkayaan (kontrol).  Pengkayaan dilakukan dengan cara menambahkan Vibrio SKT-b pada media pemeliharaan Artemia dengan konsentrasi awal 106 CFU/ml media.  Pemberian Artemia ke larva udang dilakukan selama 14 hari.  Pertumbuhan panjang dan bobot larva udang diamati pada awal dan akhir percobaan, sedangkan kelangsungan hidup dihitung pada akhir percobaan.  Larva udang yang diberi Artemia yang diperkaya dengan Vibrio SKT-b memiliki laju pertumbuhan harian bobot dan panjang yang lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol.  Kelangsungan hidup tidak berbeda nyata antara perlakuan dan kontrol dengan nilai antara 80-93% untuk yang diberi pakan Artemia yang diperkaya dengan Vibrio SKT-b dan 70-80% untuk kontrol. Kata kunci: udang windu, larva, probiotik, Vibrio SKT-b, pengkayaan, Artemia

Filter by Year

2002 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2026): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 2 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 1 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia More Issue