cover
Contact Name
Apriana Vinasyiam
Contact Email
akuakultur.indonesia@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
akuakultur.indonesia@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Akuakultur Indonesia
ISSN : 14125269     EISSN : 23546700     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Akuakultur Indonesia (JAI) merupakan salah satu sarana penyebarluasan informasi hasil-hasil penelitian serta kemajuan iptek dalam bidang akuakultur yang dikelola oleh Departemen Budidaya Perairan, FPIK–IPB. Sejak tahun 2005 penerbitan jurnal dilakukan 2 kali per tahun setiap bulan Januari dan Juli. Jumlah naskah yang diterbitkan per tahun relatif konsisten yaitu 23–30 naskah per tahun atau minimal 200 halaman.
Arjuna Subject : -
Articles 569 Documents
Effects of different doses of skt-b vibrio probiotic bacteria addition on survival and growth rate of tiger shrimp (Penaeus monodon) larva Widanarni, .; Lidaenni, M.A.; Wahjuningrum, Dinamella
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.851 KB) | DOI: 10.19027/jai.9.21-29

Abstract

Probiotic bacteria has been widely used as biocontrol agents in tiger shrimp hatcheries.  Vibrio SKT-b is one of the probiotic bacteria candidates that could suppressed the growth of pathogenic bacteria Vibrio harveyi and could increase survival rate of tiger shrimp larva. This experiment was carried out to study the effects of probiotic bacteria SKT-b Vibrio addition at different doses on survival and growth rate of tiger shrimp larva.  Experiment was conducted with five treatments and three replications, consisted of SKT-b Vibrio probiotic bacteria addition at the doses of 103 CFU/ml, 104 CFU/ml, 105 CFU/ml, and 106 CFU/ml and control (0 CFU/ml).  Results showed that optimum dose of probiotic bacteria for tiger shrimp was 104 CFU/ml with a survival rate of 94.67%. However, the addition of probiotic bacteria at this particular dose did not significantly increase shrimp growth rate as compared with control. Key words: Probiotic bacteria, SKT-b Vibrio, doses, tiger shrimp larva   ABSTRAK Bakteri probiotik telah banyak digunakan sebagai agen biokontrol dalam pembenihan udang windu.  Vibrio SKT-b merupakan salah satu jenis bakteri kandidat probiotik yang telah diuji dapat menekan pertumbuhan bakteri patogen Vibrio harveyi dan dapat meningkatkan kelangsungan hidup larva udang windu.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian bakteri probiotik Vibrio SKT-b dengan dosis yang berbeda terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva udang windu. Penelitian ini dilakukan dalam 5 perlakuan dengan masing-masing 3 ulangan, yaitu penambahan bakteri probiotik Vibrio SKT-b dengan dosis 103 CFU/ml, 104 CFU/ml, 105 CFU/ml, dan 106 CFU/ml dan kontrol (0 CFU/ml).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis optimal untuk larva udang windu adalah 104 CFU/ml dengan nilai kelangsungan hidup 94,67%. Namun, pemberian bakteri probiotik tersebut belum menghasilkan pertumbuhan yang berbeda nyata dengan kontrol. Kata kunci: Bakteri probiotik, Vibrio SKT-b, dosis, larva udang windu
Evaluation of the nutritional value of Leucaena leucophala leaf meal hydrolyzed by sheep rumen liquor enzyme extract on the growth performance of Nile tilapia (Oreochromis niloticus) Fitriliyani, Indira
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.482 KB) | DOI: 10.19027/jai.9.30-37

Abstract

This experiment was conducted to evaluatee the nutritional value of Leucaena leucocephala leaf meal (LLM) with supplementation of sheep rumen liquor crude enzyme on the growth of Nile tilapia. Fish were fed isonitrogenous (± 32% crude protein and C/P ± 9.25 ccal/kg) diets for 50 days.  Six diets were  formulated to contain hydrolyzed LLM at level 10%, 15%, 20%, 25% and 30% (Diet A, B, C, D and E respectively) and one diet acting as a control (Diet K, 0% LLM). All diets were isonitrogenous and isoenergy.  A seven week feeding trial was carried out on triplicate groups of eight fish (9.38  ± 0.41) in 18 aquarium with a recirculating system.  Fish were fed twice daily at satiation.  Results of the present study indicated that the fish fed diet contained 0%, 10% and 15% of lamtoro leaf meal had significantly higher in specific growth rate (SGR) than other groups (p
Study on food habits of herring (Clupea fimbriata) in Ujung Pangkah Waters, East Java Sulistiono, .; Robiyanto, M.; Brodjo, M.; Simanjuntak, C.P.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.913 KB) | DOI: 10.19027/jai.9.38-45

Abstract

Herring Clupea fibriata is an important fishery resource in Indonesia. This species is found in large number in Ujung Pangkah Waters. This study aims to investigate food habits of the species. The study was done from July to December 2005, in Ujung Pangkah Waters (Gresik, East Java Province), using samples of 313 individuals consisting of 147 males and 166 female fish, collected by gill net and fix net. Study result shows that food habit of the herring was consisted of Bacillariophyceae (7 genera), Crustacea (3 genera), Ciliate (2 genera), Dynophycea (2 genera), and detritus. Bacillariophyceae is a main food, Crustacea is additional food, and Ciliata and detritus is complementary food both for male and female fish. Electivity indeks of the fish varied from -0,99 to 0,45 (male) and -0,98 to 0,51 (female). According to the index, Skeletonema and Calanus are the dominant food of the fish collected in the Ujung Pangkah Waters. Key words:  Food habits, herring  (Clupea fibriata), Ujung Pangkah, Gresik   ABSTRAK Ikan tembang (Clupea fibriata) merupakan salah satu sumberdaya perikanan yang cukup penting di Indonesia. Jenis ikan ini cukup banyak ditemukan di perairan Ujung Pangkah. Penelitian bertujuan untuk menganalisis makanan ikan tembang yang tertangkap di daerah tersebut.  Penelitian dilaksanakan sejak Juli sampai Desember 2005, di daerah Perairan Ujung Pangkah (Gresik, Jawa Timur), dengan pengambilan sampel ikan sebanyak 313 ekor yang terdiri atas 147 ekor jantan dan 166 ekor betina, menggunakan alat tangkap jaring insang (gill net) dan jeger (fix net). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ikan tembang memiliki makanan yang terdiri atas Bacillariophyceae (7 jenis), Crustacea (3 jenis), Ciliata (2 jenis), Dynophycea (2 jenis), dan detritus.  Kelompok Bacillariophyceae merupakan kelompok makanan utama, Crustacea merupakan makanan pelengkap, dan Ciliata dan detritus merupakan makanan tambahan baik pada ikan jantan maupun ikan betina.  Indeks pilihan makanan ikan tembang berkisar antara -0,99 sampai 0,45 (pada ikan jantan) dan -0,98 sampai 0,51 (pada ikan betina). Berdasarkan  indeks tersebut, Skeletonema dan Calanus merupakan jenis yang banyak dimakan ikan tembang di perairan Ujung Pangkah. Kata kunci:  Makanan, ikan tembang (Clupea fibriata), Ujung Pangkah, Gresik
The growth performance of Osphronemus goramy reared in saline water with electrical field exposure Nirmala, Kukuh; Rasmawan, .
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.392 KB) | DOI: 10.19027/jai.9.46-55

Abstract

The aim of this study was to know the optimal salinity level on growth rates of giant gouramy Osphronemus goramy  reared in different salinity with electrical field exposure. Four different salinities tested were 0; 3; 6 and 9‰ with the electrical field exposure of 10 Volt. The experiment design was arranged in completely randoumizes design with four treatments and three replications. Stock density was 3 fish/l with mean initial total body length of 7.18±0.30 cm and initial body weight of 5.68±0.67 g. Result of study showed that the treatment of 3‰ shows the best growth performance with specific growth rates of 1.02±0.10% and growth of absolute length of 0.56±0.18 cm. Key words: Salinity, electrical field, growth rate, Osphronemus goramy   ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui salinitas optimal untuk pertumbuhan ikan gurame Osphronemus goramy yang dipelihara pada media bersalinitas berbeda dengan paparan medan listrik. Perlakuan meliputi empat salinitas media yang berbeda: 0, 3, 6, dan 9‰ dengan paparan medan listrik 10 Volt. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Padat penebaran ikan adalah 3 ekor/l dengan rata-rata panjang total 7,18±0,30 cm dan bobot rata-rata awal 5,68±0,67 g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan gurame terbaik pada penelitian ini dicapai pada salinitas 3‰ dengan pertumbuhan bobot 1,02±0,10% dan pertumbuhan panjang mutlak 0,56±0,18 cm.   Kata-kata kunci: Salinitas, medan listrik, laju pertumbuhan, Osphronemus goramy
Growth and survival of Collosoma sp. larvae at different water exchange rate in recirculating aquaculture system Sabariah, .
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.207 KB) | DOI: 10.19027/jai.9.56-60

Abstract

Recirculating aquaculture system (RAS) is one of aquaculture systems that aimed at providing good water quality as fish culture medium. The objective of this study was to examine the effect of water exchange rate in RAS on the growth and survival of Collosoma sp. Four different water exchange rates were tested, i.e. 0.003 ℓ/s, 0.005 ℓ/s, 0.008 ℓ/s, and 0.010 ℓ/s. Collosoma sp. larvae was stocked at a density of 50 fish/ℓ in plastic jar with a volume of 4ℓ. The observation showed that water exchange rate of 0.005 ℓ/s resulted in the best survival and growth. Key words: Circulating system, Collosoma larvae, water exchange rate, growth, survival ABSTRAK Akuakultur sistem sirkulasi merupakan salah satu sistem budidaya yang bertujuan untuk menyediakan kualitas air yang baik sebagai media pemeliharaan ikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh laju pergantian air terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva ikan bawal Collosoma sp. Perlakuan meliputi empat laju pergantian air yang berbeda yaitu, 0,003 ℓ/detik; 0,005 ℓ/detik; 0,008 ℓ/detik; and 0,010 ℓ/detik. Larva ikan bawal kemudian ditebar dalam stoples plastic dengan volume 4ℓ dengan kepadatan 50 ekor/ℓ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pergantian air sebanyak 0,005 ℓ/detik memberikan kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan bawal terbaik. Kata-kata kunci: Sirkulasi, larva ikan bawal, laju pergantian air, pertumbuhan, kelangsungan hidup
Study of gonadotropin (GtH) stimulating hormone on gonad maturation of climbing perch Anabas testudineus Bloch Suriansyah, .; Junior, M. Zairin; Sudrajat, Agus Oman
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.913 KB) | DOI: 10.19027/jai.9.61-66

Abstract

Gonadotropin can quicken the process of 17α-hidroxyprogesterone hormone synthesis becoming 17α, 20β-di hidroxyprogesterone as the maturation inducing steroids (MIS) and quicken the process of egg nucleus integration to germinal vesicle breakdown (GVBD) position. This research aimed to know the efficacy of gonadotropin hormone in the form of ovaprim on gonad maturation of climbing perch (Anabas testudineus Bloch). Stimulation of GtH with a dose of 0.5 ml/kg of fish body weight could improve the fish gonado somato index (GSI) to 2.72 %, improve the the final egg diameter to  0.70 mm (71.50 %), and shorten ovulation time which down to 4.30 hours. Key words: Gonadotropin hormone, gonad maturation, Anabas testudineus   ABSTRAK Hormon gonadotropin dapat mempercepat proses sintesa hormon 17α-hidroksiprogesteron menjadi 17α, 20β-dihidroksiprogesteron yang berfungsi sebagai steroid yang merangsang pematangan gonad dan mempercepat proses integrasi inti sel telur menuju posisi germinal vesicle breakdowan (GVBD). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas hormon gonadotropin yang terdapat dalam ovaprim terhadap pematangan gonad ikan betook Anabas testudineus Bloch. Pemberian hormon GtH dalam bentuk ovaprim dengan dosis 0,5 ml/kg bobot ikan dapat memperbaiki perkembangan gonad yang ditunjukkan dengan peningkatan nilai gonado somatik indeks (GSI) sebanyak 2,72%, peningkatan diameter telur menjadi 0,77 mm (71,50%) dan mempercepat waktu ovulasi menjadi 4,3 jam. Kata-kata kunci: Hormon gonadotropin, pematangan gonad, ikan betok
Ovarian development of female mud crab, Scylla serrata supplemented with cholesterol and injected with serotonin Pattiasina, Betsy J.; Junior, M. Zairin; Mokoginta, I.; Affandi, R.; Manalu, W.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.38 KB) | DOI: 10.19027/jai.9.67-76

Abstract

Cholesterol is known to play an important role in nutrition of crustacean and function as a precursor for steroids synthesis, while neurohormone of serotonin could induce ovarian maturation in crustacean. Ovarian development of adult females Scylla serrata was induced by adding cholesterol in the diet and serotonin injection. This research was designed to study the effectiveness of cholesterol supplementation and serotonin injection in ovarian development. Broodstocks were stocked in nine experimental units in three fiber tanks. The fiber tank was equipped with sands substrate and flow through seawater system. The experimental crabs were assigned into a completely randomized design with a 3 x 3 factorial arrangement. The first factor was cholesterol supplementation in the diet with 3 levels (0, 0,5 and 1,0%). The second factor was serotonin injection with 3 levels (0, 5 and 10 μg/g BW). Samples of broodstock were taken every four days to evaluate the stages of ovarian maturity and parameters were used to evaluate the ovarian maturation stage are gonad index (GI) and oocyte diameter, concentration of estradiol 17β, yolk protein concentrations, and fecundity. Results showed that female crabs supplemented with 0,5% cholesterol and a combination of cholesterol 0,5% supplementation and injection serotonin with a dose of 10 μg/g BW had better reproduction development. It is concluded that ovarian development of Scylla serrata could be improved by cholesterol supplementation and serotonin injection. Key words: Cholesterol, serotonin, ovarian development, Scylla serrata   ABSTRAK Kolesterol diketahui merupakan nutrien spesifik yang berperan dalam sisntesis hormon steroid dan mengontrol reproduksi, sementara serotonin merupakan salah satu neurohormon yang dilaporkan dapat merangsang pematangan ovari dan pemijahan pada krustase. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat pemberian kolesterol yang optimal dalam pakan buatan, serta dosis penyuntikan serotonin yang efektif untuk mempercepat proses perkembangan dan pematangan ovarium induk kepiting bakau Scylla serrata. Pemeliharaan induk dilakukan dengan menggunakan tiga buah bak fiber. Bak pemeliharaan dilengkapi dengan substrat pasir dan sistim air laut mengalir. Eksperimen menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial, dengan 9 satuan percobaan. Faktor pertama, suplemen kolesterol didalam pakan dengan 3 tingkat dosis (0; 0,5; dan 1%) dan faktor kedua, injeksi serotonin dengan 3 tingkat dosis (0, 5, dan 10 μg/g bobot tubuh). Pengamatan terhadap tingkat kematangan ovari dilakukan setiap 4 hari sekali. Paramater pengambilan sampel meliputi  tingkat kematangan ovari, indeks gonad dan diameter oosit, konsentrasi estradiol 17β, konsentrasi protein yolk, dan fekunditas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa induk kepiting yang disuplementasi dengan dosis kolesterol 0,5% dan induk kepiting yang mendapat perlakuan kombinasi, suplementasi kolesterol 0,5% dan injeksi serotonin dosis 10 μg/g bobot tubuh dapat menghasilkan perkembangan ovari yang terbaik. Jadi kolesterol dan serotonin dapat digunakan untuk meningkatkan perkembangan ovari. Kata-kata kunci: Kolesterol, serotonin, perkembangan ovari, Scylla serrata
Financial analysis of pond area extension in Pacific white shrimp culture at Cantigi Indramayu Diatin, Iis; Kusumawardany, U.
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.866 KB) | DOI: 10.19027/jai.9.76-83

Abstract

Pacific white shrimp is one of the primadona of fishery commodities. This shrimp is superior as it resists to diseases and also high productivity. Jati Hasil Diri (JHD) located in Cantigi Indramayu is one of the pacific white shrimp culture company. In order to develop the business, this company planned to extent their pond area from 26 to 42 Ha. This plan was therefore needed to be financially analyzed to confirm its feasibility. There were two different scenarios of area extension, first scenario was to extent pond area without any technical improvement, and the second scenario was to extent pond area with technical improvement. The result of the study shows that the pond area extension was feasible with NPV of Rp7.221.427.150,00  and  Rp29.867.006.067,00, the net B/C of  2,62 and 7,7  and  also the  IRR of 47,84%  and 146,55% for the first and second scenario, respectively. Sensitivity analysis indicated that the business is still feasible to be operated at a maximal of feed price the increase of 38,84% for the first scenario and 119,36% for the second scenario or if the shrimp price decrease with a maximum decrease of 18,81% and 41,12% at first and second scenario, respectively. The first business scenario is more sensitive as compare to the second scenario. Key words: Pacific white shrimp, Cantigi Indramayu, pond, technical improvement, sensitivity analysis   ABSTRAK Udang vaname merupakan salah satu komoditas perikanan yang menjadi primadona, karena keunggulannya yaitu tahan terhadap penyakit dan menghasilkan produktivitas yang cukup tinggi. Usaha Jati Hasil Diri (JHD) di Cantigi Indramayu adalah salah satu perusahaan yang bergerak dalam usaha budidaya udang vaname. Dalam rangka mengembangkan usahanya, perusahaan berencana untuk menambah  luas lahan tambaknya dari 26 Ha menjadi 42 Ha. Sehingga perlu dikaji melalui analisis kelayakan finansial, apakah penambahan luas lahan ini layak atau tidak untuk diusahakan. Pengembangan ini menggunakan dua skenario yaitu skenario pertama adalah perluasan lahan   tanpa ada perbaikan teknis dan skenario ke dua adalah   perluasan lahan yang disertai dengan perbaikan teknis. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengembangan luas lahan  pada  Usaha JHD layak untuk diusahakan  dengan  nilai NPV  pada skenario 1 dan 2 masing-masing sebesar  Rp7.221.427.150,00 dan  Rp29.867.006.067,00, net B/C sebesar 2,62 dan 7,7 dan IRR sebesar 47,84% dan 146,55%. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa usaha masih layak dijalankan jika terjadi kenaikan harga pakan udang  pada skenario 1 maksimal sebesar 38,84%  dan skenario 2 sebesar 119,36%, sedangkan penurunan harga jual udang  vaname  maksimal pada skenario 1 sebesar 18,81% dan skenario 2 sebesar 41,12%.  Pengembangan usaha pada skenario 1 lebih sensitif dibandingkan skenario 2. Kata kunci: Udang vaname, Cantigi Indramayu, tambak, perbaikan teknis, analisis sensitivitas
Bioflocs Technology: Theory and Application in Intensive Aquaculture System Ekasari, Julie
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.09 KB) | DOI: 10.19027/jai.8.117-126

Abstract

Bioflocs technology (BFT) is one of the developing technology in aquaculture which aimed to improve water quality and to enhance nutrient utilization efficiency. This technology is mainly based on the conversion of inorganic nitrogen in particular ammonia by heterotrophic bacteria into microbial biomass which further can be consumed by aquaculture organisms. The objective of this review is to discuss various aspect of BFT application in aquaculture including bioflocs formation process, technical requirement, bioflocs nutritional content and characterization techniques. Keywords: bioflocs, nitrogen, heterotrophic bacteria, ammonia, C/N ratio   ABSTRAK Teknologi bioflok (BFT) merupakan salah satu teknologi yang saat ini sedang dikembangkan dalam akuakultur yang bertujuan untuk memperbaiki kualitas air dan meningkatkan efisiensi pemanfaatan nutrient. Teknologi ini didasarkan pada konversi nitrogen anorganik terutama ammonia oleh bakteri heterotrof menjadi biomassa mikroba yang kemudian dapat dikonsumsi oleh organisme budidaya. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memaparkan berbagai aspek dalam BFT termasuk proses pembentukan bioflok, persyaratan teknis, kandungan nutrisi bioflok dan teknik karakterisasinya. Kata kunci: bioflok, nitrogen, bakteri heterotrof, ammonia, rasio C/N
Identification and Koch Postsulate Test of Fungal Causative Disease in Gouramy Fish Nuryati, Sri; Sari, F.B.P.; Taukhid, .
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.909 KB) | DOI: 10.19027/jai.8.127-133

Abstract

Micotic diseases caused by aquatic fungi is often found in gouramy fish (Osphronemus goramy Lac.) at various stages from egg hatching to adult. Samples of fungi were isolated and identified from eggs and fish indicated with fungal diseases infection. Saprolegnia was identified in infected egg whereas Aphanomyces sp. was identified in the internal part (underneath lesion) of gouramy fish. Postulate Koch tests was further confirmed that both species could infect gouramy fish.     Keyword : Gouramy, fungi, Saprolegnia and Aphanomyces   ABSTRAK Penyakit mikotik yang disebabkan oleh cendawan akuatik sering ditemui pada ikan gurame (Osphronemus goramy Lac.) dari fase penetasan telur sampai ukuran dewasa. Dari isolasi dan identifikasi yang dilakukan terhadap telur yang terinfeksi dan permukaan tukak diperoleh cendawan Saprolegnia, sedangkan isolasi dan dan identifikasi dari bagian internal (dibawah tukak) ikan gurame diperoleh cendawan Aphanomyces sp. Dari uji reinfeksi dengan menggunakan Postulat Koch diperoleh hasil bahwa cendawan Saprolegnia yang diisolasi dari telur gurame maupun cendawa cendawan Aphanomyces dari tukak dapat menginfeksi ikan gurame. Kata kunci : gurame, cendawan, Saprolegnia dan Aphanomyces

Filter by Year

2002 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 2 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 24 No. 1 (2025): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 2 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 23 No. 1 (2024): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 2 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 2 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 16 No. 1 (2017): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 2 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 15 No. 1 (2016): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 2 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 14 No. 1 (2015): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 2 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 13 No. 1 (2014): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 2 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 12 No. 1 (2013): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 2 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 11 No. 1 (2012): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 2 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 10 No. 1 (2011): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 2 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 9 No. 1 (2010): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 2 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 8 No. 1 (2009): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 2 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 7 No. 1 (2008): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 2 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 6 No. 1 (2007): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 2 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 5 No. 1 (2006): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 2 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 4 No. 1 (2005): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 3 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 2 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 3 No. 1 (2004): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 2 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 2 No. 1 (2003): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 3 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 2 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 1 No. 1 (2002): Jurnal Akuakultur Indonesia More Issue