cover
Contact Name
Ari firmanto
Contact Email
arifirmanto2@gmail.com
Phone
+62341-464318
Journal Mail Official
procediamapro@umm.ac.id
Editorial Address
GKB IV Kampus 3 Universitas Muhammadiyah Malang Jl. Raya Tlogomas no. 246 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Procedia Studi Kasus dan Intervensi Psikologi (Procedia) merupakan publikasi berkala yang diterbitkan oleh Program Studi Magister Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang. Procedia terbit mulai tahun 2013, terbit 4 kali setahun pada Maret, Juni, September dan Desember dalam bentuk elektronik/online. Artikel Procedia merupakan artikel hasil penelitian intervensi atau laporan praktik keprofesian psikologi. Procedia adalah publikasi akses terbuka dalam berbagai bidang intervensi psikologi, antara lain: klinis, sosial, pendidian, industri/organisasi dan perkembangan.
Articles 204 Documents
Efektivitas pelatihan kontrol diri untuk menurunkan ego depletion pada mahasiswa Fakhri, Nurfitriany; Islah, Nurul; Khumas, Asniar
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 12 No. 1 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v12i1.29622

Abstract

Individuals who experience ego depletion will find it difficult to control behavior so that they are less than optimal in carrying out their duties. Providing self-control training is expected to increase student self-control so that the level of ego depletion that occurs in students can decrease. This research is a type of pre-experimental research using a one group pretest-posttest design. There were 9 participants in this study who were students of the Faculty of Psychology UNM. The measuring instrument used in this study is the ego depletion scale, with a reliability value of 0.912. Data analysis used non-parametric statistical analysis Wilcoxon test. The results of this study indicate that self-control training is effective in reducing ego depletion in college students with a significant level of 0.008 (p<0.05). So it can be concluded that self-control training is effective for reducing ego depletion in students. Individu yang mengalami ego depletion akan sulit mengendalikan perilakunya sehingga kurang maksimal dalam menjalankan tugasnya. Pemberian pelatihan pengendalian diri diharapkan dapat meningkatkan pengendalian diri siswa sehingga tingkat ego depletion yang terjadi pada diri siswa dapat menurun. Penelitian ini merupakan jenis penelitian pra-eksperimental dengan menggunakan desain one group pretest-posttest design. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 9 orang yang merupakan mahasiswa Fakultas Psikologi UNM. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala ego depletion dengan nilai reliabilitas sebesar 0,912. Analisis data menggunakan analisis statistik non parametrik uji Wilcoxon. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelatihan pengendalian diri efektif mengurangi ego depletion pada mahasiswa dengan tingkat signifikan sebesar 0,008 (p<0,05). Jadi dapat disimpulkan bahwa pelatihan pengendalian diri efektif untuk mengurangi ego depletion pada siswa.
Pengaruh intervensi berbasis film terhadap self-esteem remaja di Surabaya Setiawan, Yuan Yovita; Setiasih
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 12 No. 1 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v12i1.29693

Abstract

Having middle and lower socioeconomic status in adolescence is associated with low adolescent self-esteem which results in high levels of involvement in criminal behavior and low learning performance at school. Film-based interventions can improve self-esteem. This study aims to test the effectiveness of a film-based intervention to increase self-esteem. The research design is a one group pre-test post-test experiment which uses film as a manipulation of the independent variable. The research subjects were 90 students (51.1% boys and 48.8% girls) of junior high schools in the city of Surabaya, aged 13-16 years. The experiment was carried out in three waves. At each meeting, the treatment given is watching a film together and then followed by a process with the facilitator to discuss the film that has been watched together. The pre-test and post-test were also completed using the Rosenberg Self-Celebrity Scale (RSES). The data analysis method used was the Wilcoxon signed rank test using SPSS 25 software. The results of the study showed that there was no significant difference in self-esteem scores between the scores before and after the intervention was given. Several things are thought to have caused the failure of this research: 1) Initial data collection was not representative of self-esteem conditions which were classified as innate (trait) or situational (state); 2) The use of social media and parenting patterns from parents contribute to more positive self-esteem; 3) Sociometric status is a more significant predictor of self-esteem than socio-economic status. There are several technical limitations, such as experimental designs that tend to be weak, time periods that are not long enough, and films that have not been curated by experts. Memiliki status sosial ekonomi menengah ke bawah pada masa remaja dikaitkan dengan rendahnya harga diri remaja yang mengakibatkan tingginya tingkat keterlibatan dalam perilaku kriminal dan rendahnya prestasi belajar di sekolah. Intervensi berbasis film dapat meningkatkan harga diri. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas intervensi berbasis film untuk meningkatkan harga diri. Desain penelitiannya adalah one group pre-test post-test eksperimen yang menggunakan film sebagai manipulasi variabel independen. Subyek penelitian adalah siswa SMP di kota Surabaya yang berjumlah 90 orang (51,1% laki-laki dan 48,8% perempuan) yang berusia 13-16 tahun. Percobaan dilakukan dalam tiga gelombang. Pada setiap pertemuan perlakuan yang diberikan adalah menonton film bersama kemudian dilanjutkan dengan proses bersama fasilitator untuk mendiskusikan film yang telah ditonton bersama. Pre-test dan post-test juga diselesaikan dengan menggunakan Rosenberg Self-Celebrity Scale (RSES). Metode analisis data yang digunakan adalah uji Wilcoxon sign rank test dengan menggunakan software SPSS 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan skor harga diri yang signifikan antara skor sebelum dan sesudah diberikan intervensi. Beberapa hal yang diduga menjadi penyebab kegagalan penelitian ini: 1) Pengumpulan data awal tidak mewakili kondisi harga diri yang tergolong bawaan (trait) atau situasional (keadaan); 2) Penggunaan media sosial dan pola asuh orang tua berkontribusi terhadap harga diri yang lebih positif; 3) Status sosiometri merupakan prediktor harga diri yang lebih signifikan dibandingkan status sosial ekonomi. Terdapat beberapa keterbatasan teknis, seperti desain eksperimen yang cenderung lemah, jangka waktu yang tidak cukup lama, dan film yang belum dikurasi oleh ahli.
Efektivitas program self-compassion untuk meningkatkan resiliensi individu dewasa awal Yuwono, Albertus Christian; Yudiarso, Ananta
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 12 No. 2 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v12i2.29799

Abstract

COVID-19 pandemic has been ongoing for more than 2 years and it had a lot of bad effect towards any people. This phenomenon requires someone to have a stronger adaptability to rise and live in the situation that changed extremely and drastically. In this kind of situation, self compassion as a concept of acceptance that someone can gave to theirselves regardless of how external condition, can be one of the solution for this phenomenon. Based on this, researchers are interested in seeing the effectiveness of the self-compassion program (SCP) to increase a person's resilience (a person's strength to recover from problems). Researchers provide scales during the pre-test and post-test in this program. There were 20 participants (N=20) aged between 18-25 years (early adulthood). The intervention in this study was a self-compassion program (SCP). Resilience measurements were carried out using the Resilience Scale for Adults. Data was analyzed using stacking and racking methods using the Winstep application. The results of the analysis showed that there was an increase in participants' resilience after SCP was carried out. The research results also showed that there was an increase in internal and personal resilience factors. Pandemi COVID-19 telah berlangsung selama lebih dari 2 tahun dan membawa banyak dampak buruk bagi siapa pun. Fenomena ini menuntut seseorang untuk memiliki kemampuan adaptasi yang lebih kuat untuk bangkit dan hidup dalam situasi yang berubah secara ekstrem dan drastis. Dalam situasi seperti ini, self-compassion sebagai sebuah konsep penerimaan yang dapat diberikan seseorang terhadap dirinya sendiri, apapun kondisi eksternalnya, dapat menjadi salah satu solusi atas fenomena tersebut. Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk melihat efektivitas self-compassion program (SCP) dalam meningkatkan resiliensi seseorang (kekuatan seseorang untuk pulih dari permasalahan). Peneliti memberikan skala pada saat pre-test dan post-test pada program ini. Partisipan berjumlah 20 orang (N=20) berusia antara 18-25 tahun (dewasa awal). Intervensi dalam penelitian ini adalah self-compassion program (SCP). Pengukuran resiliensi dilakukan dengan menggunakan Skala Resiliensi Dewasa. Data dianalisis dengan metode stacking dan racking dengan menggunakan aplikasi Winstep. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan resiliensi peserta setelah dilakukan SCP. Hasil penelitian juga menunjukkan adanya peningkatan faktor resiliensi internal dan pribadi.
Solution focused therapy : Penanganan permasalahan komunikasi orangtua dan remaja Purbasafir, Trialovena
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 12 No. 1 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v12i1.29889

Abstract

The family is a small social system that interacts each other. Changes that occur in one family member will affect all other members. Pathological family dynamics are not due to the characteristics of family members but rather due to faulty interaction systems and communication patterns. Indirect communication patterns and family rules that are too rigid can be a problem and disrupt harmony, especially for families with teenage children. The aim of this research is to determine the effectiveness of Solution Focused Therapy (SFT) in dealing with problems with parent and child communication patterns. The assessment methods used are interviews, observation, and the Parent-Adolescent Communication Scale (PACS). The results of the intervention showed that there were changes in communication patterns between parents and children. Initially indirect communication became more direct communication with openness and solutions in overcoming problems. Family rules that were initially too rigid become more democratic and provide space for discussion between parents and children. Keluarga adalah sistem sosial kecil yang saling berinteraksi. Perubahan yang terjadi pada salah satu anggota keluarga akan berdampak pada seluruh anggota lainnya. Dinamika keluarga yang patologis bukan disebabkan oleh karakteristik anggota keluarga melainkan karena kesalahan sistem interaksi dan pola komunikasi. Pola komunikasi tidak langsung dan aturan keluarga yang terlalu kaku dapat menjadi permasalahan dan mengganggu keharmonisan, terutama bagi keluarga yang memiliki anak remaja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas Solution Focused Therapy (SFT) dalam mengatasi permasalahan pola komunikasi orang tua dan anak. Metode penilaian yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan Skala Komunikasi Orang Tua-Remaja (PACS). Hasil intervensi menunjukkan adanya perubahan pola komunikasi antara orang tua dan anak. Awalnya komunikasi tidak langsung menjadi komunikasi yang lebih langsung dengan keterbukaan dan solusi dalam mengatasi permasalahan. Aturan keluarga yang awalnya terlalu kaku menjadi lebih demokratis dan memberikan ruang diskusi antara orang tua dan anak.
Cognitive-Behavioral therapy to change cognitive distortions among adolescents with Bipolar II Disorder Darusman, Mhd. Ricky; Hidayati, Diana Savitri
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 12 No. 2 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v12i2.29892

Abstract

Bipolar II disorder is a mood disorder characterized by extreme changes between the hypomanic period and depressive period. Hypomanic is a period that takes at least four days where a person experiences a high mood, excited, energetic, and impulsive conditions. However, hypomania does not reach the level of severe manic as in bipolar I. Meanwhile, the depressive period is characterized by feelings of sadness, hopelessness, loss of interest in activities involvement, and other depressive symptoms. Individuals with bipolar II experience significant mood swings between hypomania and depression. The purpose of this study is to see the effectiveness of cognitive behavioral therapy by reducing the symptoms of bipolar II disorder among adolescents. The subject of the study is a 16-year-old female. The assessment method used clinical interviews, observations, and psychological test tools. The intervention used cognitive-behavioral therapy. The results of the study have showed that there is a decrease in cognitive distortion and awareness in recognizing the mood changes to anticipate more extreme mood swings. Gangguan bipolar II merupakan gangguan mood yang ditandai dengan perubahan ekstrim antara periode hipomanik dan periode depresi. Hipomanik adalah suatu periode yang memakan waktu setidaknya empat hari di mana seseorang mengalami kondisi suasana hati yang tinggi, bersemangat, energik, dan impulsif. Namun hipomania tidak mencapai tingkat manik yang parah seperti pada bipolar I. Sedangkan masa depresi ditandai dengan perasaan sedih, putus asa, kehilangan minat untuk terlibat dalam aktivitas, dan gejala depresi lainnya. Individu dengan bipolar II mengalami perubahan suasana hati yang signifikan antara hipomania dan depresi. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat efektivitas terapi perilaku kognitif dengan mengurangi gejala gangguan bipolar II pada remaja. Subjek penelitian adalah seorang perempuan berusia 16 tahun. Metode penilaian menggunakan wawancara klinis, observasi, dan alat tes psikologi. Intervensinya menggunakan terapi kognitif-perilaku. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan distorsi kognitif dan kesadaran dalam mengenali perubahan suasana hati untuk mengantisipasi perubahan suasana hati yang lebih ekstrim.
Play therapy untuk meningkatkan interaksi sosial anak dengan Intellectual Disability Disorder Gobel, Sitti Rahmiwaty; Suharsono, Yudi
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 12 No. 1 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v12i1.29907

Abstract

Intellectual disability is a limitation in intellectual capacity as well as in adaptive abilities, such as the ability to carry out daily activities such as eating, dressing, communicating, or participating in group activities. Some problems that can cause children to experience intellectual disabilities are due to problems from the mother's pregnancy and deficiencies in biological organs, especially the brain. This research aims to improve social interactions in children with intellectual disabilities. The subject is a 9-year-old boy. The assessment methods used are clinical interviews, observation, and the WISC test. The intervention technique used is play therapy with wayang dolls. The results of the intervention led to increased social interaction in children, namely being able to start greeting friends first by saying the friend's name and playing together with friends. Disabilitas intelektual adalah keterbatasan kapasitas intelektual serta kemampuan adaptif, seperti kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari seperti makan, berpakaian, berkomunikasi, atau berpartisipasi dalam aktivitas kelompok. Beberapa permasalahan yang dapat menyebabkan anak mengalami disabilitas intelektual adalah karena adanya permasalahan dari kehamilan ibu dan kekurangan pada organ biologis khususnya otak. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan interaksi sosial pada anak tunagrahita. Subjeknya adalah seorang anak laki-laki berusia 9 tahun. Metode penilaian yang digunakan adalah wawancara klinis, observasi, dan tes WISC. Teknik intervensi yang digunakan adalah terapi bermain dengan boneka wayang. Hasil intervensi menyebabkan peningkatan interaksi sosial pada anak yaitu dapat memulai menyapa teman terlebih dahulu dengan menyebutkan nama temannya dan bermain bersama dengan temannya.
Solution-Focused Therapy for improving spouse’s communication pattern Ramadhana, Firgineta Salsabela; Pertiwi, Ratih Eka; Suryaningrum, Cahyaning
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 12 No. 3 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v12i3.29909

Abstract

Problems in the family, especially among married couples, are often caused by unhealthy communication patterns such as indirect communication. The aim of this research is to improve communication patterns between husband and wife to be more effective. The assessment was applied to the married couple using interviews, observation methods, and the Couple Communication Satisfaction Scale (CCSS). The results show that the husband and the wife had difficulties in expressing their aspirations and emotions. The husband is unable to communicate his loneliness after retirement. Moreover, he wants to spend time with his wife at home. On the other hand, the wife is busy with her work, she rarely pays attention to her husband at home. The intervention technique was 6 sessions of Solution-Focused Therapy (SFT) to improve the communication pattern between spouses. The results indicated that the therapy is an effective intervention to improve communication patterns. At the end of the intervention, the husband and wife can communicate directly and openly. Permasalahan dalam keluarga, khususnya pada pasangan suami istri, sering kali disebabkan oleh pola komunikasi yang tidak sehat seperti komunikasi tidak langsung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperbaiki pola komunikasi suami istri agar lebih efektif. Asesmen dilakukan pada pasangan suami istri dengan menggunakan metode wawancara, observasi, dan Couple Communication Satisfaction Scale (CCSS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa suami istri mengalami kesulitan dalam mengungkapkan aspirasi dan emosi. Suami tidak mampu mengomunikasikan rasa kesepiannya setelah pensiun. Selain itu, ia ingin menghabiskan waktu bersama istri di rumah. Di sisi lain, istri sibuk dengan pekerjaannya, ia jarang memperhatikan suaminya di rumah. Teknik intervensi yang dilakukan adalah Solution-Focused Therapy (SFT) sebanyak 6 sesi untuk memperbaiki pola komunikasi pasangan suami istri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi tersebut merupakan intervensi yang efektif untuk memperbaiki pola komunikasi. Di akhir intervensi, suami istri dapat berkomunikasi secara langsung dan terbuka.    
Cognitive behavioral therapy for psychosis to divert delusions in schizoaffective depressive type Takdir, Annisya Muthmainnah; Yuniardi, Muhammad Salis
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 12 No. 1 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v12i1.29912

Abstract

The schizoaffective disorder is a mental disorder characterized by a combination of symptoms of Schizophrenia and affective disorders. One symptom is delusions, which can lead to maladaptive behaviour. This research aims to overcome delusional symptoms which have an impact on sleepless behaviour. The assessment methods were clinical interviews, observation, WAIS test, Graphic test (Draw a Person (DAP) and BAUM), WWQ test, TAT test, Beck Depression Inventory (BDI), and World Health Organization Disability Assessment Scale 2.0 (WHODAS). Cognitive Behavioral Therapy for Psychosis (CBTP) intervention using cognitive reframing techniques and behavioural coping skills has been proven to be able to overcome the problems experienced by the subject. CBT helps subjects ignore, distract, and adapt to delusions but does not suppress or confront the delusions themselves. The subject diverts the delusion by thinking about a better goal in life, thereby helping to reduce the behaviour of sleeplessness experienced by the subject. Gangguan skizoafektif merupakan gangguan jiwa yang ditandai dengan kombinasi gejala Skizofrenia dan gangguan afektif. Salah satu gejalanya adalah delusi, yang dapat menyebabkan perilaku maladaptif. Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi gejala delusi yang berdampak pada perilaku sulit tidur. Metode penilaian yang digunakan adalah wawancara klinis, observasi, tes WAIS, tes Grafis (Draw a Person (DAP) dan BAUM), tes WWQ, tes TAT, Beck Depression Inventory (BDI), dan World Health Organization Disability Assessment Scale 2.0 (WHODAS). Intervensi Cognitive Behavioral Therapy for Psychosis (CBTP) dengan menggunakan teknik kognitif reframing dan keterampilan behavioral coping terbukti mampu mengatasi permasalahan yang dialami subjek. CBT membantu subjek mengabaikan, mengalihkan perhatian, dan beradaptasi terhadap delusi namun tidak menekan atau menghadapi delusi itu sendiri. Subjek mengalihkan khayalan tersebut dengan memikirkan tujuan hidup yang lebih baik sehingga membantu mengurangi perilaku sulit tidur yang dialami subjek.
Solution focused therapy untuk mengatasi permasalahan komunikasi pada pasangan suami dan istri Rehlinawati, Lely
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 12 No. 2 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v12i2.29914

Abstract

The problem that occurred in this case was ineffective communication between husband and wife. The methods used for were interviews, observation and  the couple communication satisfaction scale (CCSS). The results obtained after the intervention showed changes in interactions that were more effective for husbands and wife. Husband and wife realized that their communication patterns had been inappropriate and finally succeeded in changing their way of communicating to be better, namely being more open and understanding of each other. The results of this intervention can also be seen from the increase in the CCSS score which was initially in the low category to the medium category. It shows that there are quite good changes in communication satisfaction for husbands and wife. Based on the interventions that have been carried out, solution focused therapy has proven to be effective in improving husband and wife's communication patterns to communicate in a better, more open and mutually understanding way. Permasalahan yang terjadi dalam kasus ini adalah tidak efektifnya komunikasi antara suami dan istri. Metode yang digunakan adalah wawancara, observasi dan skala kepuasan komunikasi pasangan (CCSS). Hasil yang diperoleh setelah intervensi menunjukkan perubahan interaksi yang lebih efektif pada suami dan istri. Suami istri menyadari pola komunikasinya selama ini kurang tepat dan akhirnya berhasil mengubah cara berkomunikasinya menjadi lebih baik yaitu lebih terbuka dan pengertian satu sama lain. Hasil intervensi ini juga terlihat dari peningkatan skor CCSS yang awalnya berada pada kategori rendah menjadi kategori sedang. Hal ini menunjukkan adanya perubahan kepuasan komunikasi yang cukup baik pada suami dan istri. Berdasarkan intervensi yang telah dilakukan, terapi fokus solusi terbukti efektif memperbaiki pola komunikasi suami istri untuk berkomunikasi lebih baik, terbuka, dan saling pengertian.
Shaping techniques to increase independence in children with intellectual disabilities Prinanda, Jovita Nabila
Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 12 No. 2 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/procedia.v12i2.29921

Abstract

Intellectual disability disorder that appears during development and includes deficits in intellectual, adaptive, and social functions. These deficits can cause problems for children, including a lack of independence. This research aims to increase the ability to wear button-down t-shirts in children with intellectual disabilities. The subject in this study was an eight-year-old boy. The assessment methods used are interview, observation, psychological tests, Stanford-Binet test, Color Progressive Matrices (CPM), and Vineland Maturity Social Scale (VSMS). The shaping technique, carried out over nine sessions, can consistently increase children's independence in wearing button-up t-shirts. Parental support that gives children opportunities to do things independently also influences the success of this intervention. Gangguan disabilitas intelektual yang muncul selama perkembangan dan mencakup defisit fungsi intelektual, adaptif, dan sosial. Defisit tersebut dapat menimbulkan masalah bagi anak, termasuk kurangnya kemandirian. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan memakai kaos berkancing pada anak tunagrahita. Subjek dalam penelitian ini adalah seorang anak laki-laki berusia delapan tahun. Metode penilaian yang digunakan adalah wawancara, observasi, tes psikologi, tes Stanford-Binet, Color Progressive Matrices (CPM), dan Vineland Maturity Social Scale (VSMS). Teknik shaping yang dilakukan selama sembilan sesi secara konsisten dapat meningkatkan kemandirian anak dalam mengenakan kaos berkancing. Dukungan orang tua yang memberikan kesempatan anak untuk melakukan berbagai hal secara mandiri juga mempengaruhi keberhasilan intervensi ini.

Filter by Year

2013 2024


Filter By Issues
All Issue Vol. 12 No. 4 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 12 No. 3 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 12 No. 2 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 12 No. 1 (2024): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 4 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 3 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 2 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 11 No. 1 (2023): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 10 No. 4 (2022): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 10 No. 3 (2022): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 10 No. 2 (2022): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 10 No. 1 (2022): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 9 No. 4 (2021): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 9 No. 3 (2021): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 9 No. 2 (2021): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 9 No. 1 (2021): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 8 No. 4 (2020): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 8 No. 3 (2020): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 8 No. 2 (2020): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 8 No. 1 (2020): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 7 No. 2 (2019): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 7 No. 1 (2019): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 6 No. 2 (2018): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 6 No. 1 (2018): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 5 No. 2 (2017): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 5 No. 1 (2017): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 4 No. 2 (2016): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 4 No. 1 (2016): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 2 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 3 No. 1 (2015): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 2 No. 2 (2014): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 2 No. 1 (2014): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi Vol. 1 No. 1 (2013): Procedia : Studi Kasus dan Intervensi Psikologi More Issue