cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
Jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
SECONDARY : Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah (JIPM)
ISSN : 27748022     EISSN : 27745791     DOI : -
Core Subject : Education,
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah (JIPM) terbit 4 (Empat) kali setahun pada bulan Januari, April, Juli dan Oktober, berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam smua disiplin ilmu yang berkaitan dengan Pendidikan Menengah.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 502 Documents
PENGGUNAAN MEDIA VIDEO PEMBELAJARAN DALAM MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA SMA Roi Chardo S Naibaho; Jety D. Lempas; Niny Makaliwe
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i3.12326

Abstract

ABSTRACT This study aimed to analyze the effect of instructional video use on student engagement in Economics learning at SMA Negeri 2 Tondano. The use of instructional videos is considered an effective strategy to enhance students’ attention, participation, interest, and enjoyment during the learning process. This study employed a quantitative approach using a descriptive survey method. The sample was selected through purposive sampling and consisted of 27 students from Class XA of SMA Negeri 2 Tondano. Data were collected using a questionnaire designed to measure students’ attention, participation, interest, and enjoyment during learning, as well as their perceptions of the use of instructional videos as a learning medium. Data were analyzed using the Chi-Square (χ²) test and the contingency coefficient. The results indicated that the use of instructional videos had a significant effect on student engagement in Economics learning. This finding was demonstrated by the calculated χ² value of 18.616, which exceeded the χ² table value of 9.488 at the 5% significance level. Furthermore, the contingency coefficient analysis revealed a significant relationship between the use of instructional videos and student engagement. The findings suggest that instructional videos can enhance students’ attention, interest, participation, and enjoyment through more engaging, interactive, and easily understandable learning materials. Practically, instructional videos can be utilized as an alternative instructional medium to create a more effective Economics learning environment and encourage active student engagement. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan video pembelajaran terhadap keterlibatan siswa dalam pembelajaran Ekonomi di SMA Negeri 2 Tondano. Penggunaan video pembelajaran dipandang sebagai salah satu strategi yang dapat meningkatkan perhatian, partisipasi, minat, dan kesenangan siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei deskriptif. Sampel penelitian ditentukan melalui teknik purposive sampling yang melibatkan 27 siswa kelas XA SMA Negeri 2 Tondano. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang mengukur perhatian, partisipasi, minat, dan kesenangan siswa selama pembelajaran, serta persepsi terhadap penggunaan video pembelajaran sebagai media belajar. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Kuadrat (χ²) dan koefisien kontingensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan video pembelajaran berpengaruh signifikan terhadap keterlibatan siswa dalam pembelajaran Ekonomi. Temuan ini ditunjukkan oleh nilai χ² hitung sebesar 18,616 yang lebih besar dibandingkan χ² tabel sebesar 9,488 pada taraf signifikansi 5%. Selain itu, hasil koefisien kontingensi menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara penggunaan video pembelajaran dan keterlibatan siswa. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa video pembelajaran mampu meningkatkan perhatian, minat, partisipasi, dan kesenangan siswa melalui penyajian materi yang lebih menarik, interaktif, dan mudah dipahami. Secara praktis, video pembelajaran dapat dimanfaatkan sebagai alternatif media pembelajaran untuk menciptakan proses belajar Ekonomi yang lebih efektif dan mendorong keterlibatan aktif siswa.
PENGARUH LINGKUNGAN SEKOLAN DAN PERAN GURU TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA SMK Villi Soriton; Jety Deisye Lempas; Silvana Shirly Alice Oroh
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i3.12327

Abstract

ABSTRACT Learning interest is one of the important factors influencing the success of students’ learning processes. However, learning interest is not only affected by internal factors but also by external factors, such as the school environment and the teacher’s role in creating a conducive learning atmosphere. This study aims to analyze the influence of the school environment and the teacher’s role on students’ learning interest. The research employed a quantitative approach using a survey method conducted at SMK Negeri 1 Pusomaen, involving 62 students as research respondents. Data were collected through Likert-scale questionnaires and analyzed using multiple linear regression.The results revealed that both the school environment and the teacher’s role had a positive and significant effect on students’ learning interest, both partially and simultaneously. Partially, the school environment significantly influenced students’ learning interest with a regression coefficient of 0.352 and a significance value of 0.001, while the teacher’s role demonstrated a stronger influence with a regression coefficient of 0.478 and a significance value of 0.000. Simultaneously, the school environment and the teacher’s role significantly affected students’ learning interest, as indicated by an F-value of 46.782 and a significance level of 0.000. The coefficient of determination (R² = 0.611) indicates that 61.1% of the variation in students’ learning interest can be explained by the school environment and the teacher’s role, while the remaining 38.9% is influenced by other factors outside the research model. These findings highlight that enhancing students’ learning interest requires both a supportive school environment and the optimization of teachers’ roles in the learning process. ABSTRAK Minat belajar merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi keberhasilan proses pembelajaran siswa. Namun, minat belajar tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal, tetapi juga oleh faktor eksternal, seperti lingkungan sekolah dan peran guru dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh lingkungan sekolah dan peran guru terhadap minat belajar siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei yang dilaksanakan di SMK Negeri 1 Pusomaen terhadap 62 siswa sebagai responden penelitian. Data dikumpulkan melalui angket menggunakan skala Likert dan dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan sekolah dan peran guru berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat belajar siswa, baik secara parsial maupun simultan. Secara parsial, lingkungan sekolah berpengaruh signifikan terhadap minat belajar siswa dengan koefisien regresi sebesar 0,352 dan nilai signifikansi 0,001, sedangkan peran guru menunjukkan pengaruh yang lebih besar dengan koefisien regresi sebesar 0,478 dan nilai signifikansi 0,000. Secara simultan, lingkungan sekolah dan peran guru berpengaruh signifikan terhadap minat belajar siswa dengan nilai F sebesar 46,782 dan signifikansi 0,000. Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,611 menunjukkan bahwa 61,1% variasi minat belajar siswa dapat dijelaskan oleh lingkungan sekolah dan peran guru, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian. Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan minat belajar siswa memerlukan dukungan lingkungan sekolah yang kondusif serta optimalisasi peran guru dalam proses pembelajaran.
PENGARUH LINGKUNGAN TEMAN SEBAYA DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP MINAT MELANJUTKAN STUDI KE PERGURUAN TINGGI SISWA SMK Mawar Putri Lestari; Novi Trisnawati
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i3.12366

Abstract

This study aims to analyze the influence of peer environment and learning motivation on students’ interest in pursuing higher education at SMK PGRI 2 Sidoarjo. The study was motivated by the relatively low interest of vocational high school students in continuing their education to higher education institutions, as many prefer to enter the workforce immediately after graduation. This research employed a quantitative approach using a survey method. The population consisted of all 70 twelfth-grade students of the Office Management and Business Services Program (MPLB) at SMK PGRI 2 Sidoarjo. The sampling technique used was total sampling. Data were collected through questionnaires and analyzed using multiple linear regression. The findings revealed that the peer environment had a positive and significant effect on students’ interest in pursuing higher education. In contrast, learning motivation did not have a significant effect on students’ interest in pursuing higher education. However, peer environment and learning motivation simultaneously had a significant effect on students’ interest in pursuing higher education. The coefficient of determination (R Square) was 0.534, indicating that both variables explained 53.4% of the variance in students’ interest in pursuing higher education, while the remaining 46.6% was influenced by other factors outside the scope of this study. These findings indicate that the peer environment is a more dominant factor in encouraging vocational high school students to continue their education to higher education institutions. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh lingkungan teman sebaya dan motivasi belajar terhadap minat melanjutkan studi ke perguruan tinggi pada siswa SMK PGRI 2 Sidoarjo. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih rendahnya minat sebagian siswa SMK untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi karena lebih memilih memasuki dunia kerja setelah lulus sekolah. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas XII Program Keahlian Manajemen Perkantoran dan Layanan Bisnis (MPLB) SMK PGRI 2 Sidoarjo yang berjumlah 70 siswa. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan teman sebaya berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Motivasi belajar tidak berpengaruh signifikan terhadap minat melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Namun, lingkungan teman sebaya dan motivasi belajar secara simultan berpengaruh signifikan terhadap minat melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Nilai koefisien determinasi (R Square) sebesar 0,534 menunjukkan bahwa kedua variabel mampu menjelaskan 53,4% variasi minat melanjutkan studi ke perguruan tinggi, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian. Temuan ini mengindikasikan bahwa lingkungan teman sebaya menjadi faktor yang lebih dominan dalam mendorong minat siswa SMK untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
ANALYSIS THE QUALITY OF HIGH SCHOOL STUDENTS' ANSWERS USING SOLO TAXONOMY BASED INSTRUMENTS Seila Agustina; Irham Ramadhani
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i3.12494

Abstract

Students’ understanding of fluid concepts at the senior high school level remains relatively low, as many students are able to apply formulas but still experience difficulties in connecting concepts comprehensively. This study aimed to analyze the quality of students’ responses on fluid topics based on the SOLO Taxonomy. A quantitative descriptive method was employed involving 80 eleventh-grade students of SMA Negeri 1 Medan selected through cluster sampling. The research instrument was a SOLO Taxonomy-based diagnostic test consisting of 12 valid items. Data were analyzed by classifying students’ responses into SOLO levels and determining the distribution of understanding levels achieved. The results showed that the instrument had good reliability with a coefficient of 0.887, discrimination indices predominantly in the very good category, and varied levels of difficulty. The analysis revealed that the multistructural level was the most dominant level of understanding achieved by students. This finding indicates that most students were able to understand several relevant concepts but had not yet integrated them into a coherent conceptual framework. Consequently, students’ understanding tended to reflect surface learning rather than deep learning. Therefore, instructional strategies that promote higher levels of conceptual understanding are needed. ABSTRAK Pemahaman konsep fluida pada siswa sekolah menengah atas masih tergolong rendah karena banyak siswa mampu menggunakan rumus, tetapi mengalami kesulitan dalam menghubungkan konsep secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas jawaban siswa pada materi fluida berdasarkan Taksonomi SOLO. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan melibatkan 80 siswa kelas XI SMA Negeri 1 Medan yang dipilih melalui teknik cluster sampling. Instrumen penelitian berupa tes diagnostik berbasis Taksonomi SOLO yang terdiri atas 12 butir soal valid. Data dianalisis dengan mengelompokkan jawaban siswa ke dalam level SOLO dan menghitung distribusi tingkat pemahaman yang dicapai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa instrumen memiliki reliabilitas yang baik dengan koefisien sebesar 0,887, daya pembeda yang didominasi kategori sangat baik, serta tingkat kesukaran yang bervariasi. Analisis jawaban siswa menunjukkan bahwa level multistruktural merupakan tingkat pemahaman yang paling dominan. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa telah mampu memahami beberapa konsep yang relevan, tetapi belum mampu mengintegrasikannya secara utuh sehingga pemahaman yang dimiliki masih cenderung berada pada tahap surface learning dibandingkan deep learning. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang dapat mendorong siswa mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi.
REKONSTRUKSI KONSEPTUAL ETNOPEDAGOGI UNTUK MENGEMBANGKAN INTEGRASI BERBASIS BUDAYA DALAM PENDIDIKAN VOKASI: SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Abdul Marta Nurdin; Ujang Jamaludin
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i3.12504

Abstract

ABSTRACT Vocational education in an era of social, economic, and technological transformation faces the challenge of producing graduates who are not only technically competent but also capable of adapting to cultural contexts and community needs. However, existing studies indicate that vocational education practices remain predominantly focused on job-related skills and have not fully integrated local cultural values, knowledge, and practices as learning resources. This study aims to reconstruct the concept of ethnopedagogy as a culture-based integrative approach in vocational education through a systematic literature review. The study employed a Systematic Literature Review (SLR) method by examining scholarly publications related to vocational education, local knowledge, practice-based learning, authentic assessment, teacher identity, entrepreneurship, inclusivity, and sustainability. The analysis was conducted through identification, selection, evaluation, and synthesis processes to identify consistent conceptual patterns within the literature. The findings reveal that vocational education should be understood as a contextual learning process that connects occupational competencies, cultural practices, learners’ experiences, and community needs. The integration of ethnopedagogy encompasses eight major dimensions, namely contextual curriculum, activity-based learning, authentic assessment, teacher and learner identity, vocational skills, local entrepreneurship, inclusivity, and sustainability. This study concludes that ethnopedagogy provides a conceptual framework capable of strengthening the cultural relevance of vocational education while enhancing learners’ readiness to respond to labor market demands and ongoing social change. ABSTRAK Pendidikan vokasi pada era perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi menghadapi tantangan untuk tidak hanya menghasilkan lulusan yang kompeten secara teknis, tetapi juga memiliki kemampuan beradaptasi dengan konteks budaya dan kebutuhan masyarakat. Namun, berbagai kajian menunjukkan bahwa praktik pendidikan vokasi masih cenderung berorientasi pada penguasaan keterampilan kerja dan belum sepenuhnya mengintegrasikan nilai, pengetahuan, serta praktik budaya lokal sebagai sumber pembelajaran. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi konsep etnopedagogi sebagai pendekatan integrasi berbasis budaya dalam pendidikan vokasi melalui kajian literatur sistematis. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan menelaah berbagai artikel ilmiah yang berkaitan dengan pendidikan vokasi, pengetahuan lokal, pembelajaran berbasis praktik, asesmen autentik, identitas guru, kewirausahaan, inklusivitas, dan keberlanjutan. Analisis dilakukan melalui proses identifikasi, seleksi, evaluasi, dan sintesis literatur untuk menemukan pola konseptual yang konsisten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan vokasi perlu dipahami sebagai proses pembelajaran kontekstual yang menghubungkan kompetensi kerja, praktik budaya, pengalaman peserta didik, dan kebutuhan komunitas. Integrasi etnopedagogi mencakup delapan dimensi utama, yaitu kurikulum kontekstual, pembelajaran berbasis aktivitas, asesmen autentik, identitas guru dan peserta didik, keterampilan vokasional, kewirausahaan lokal, inklusivitas, serta keberlanjutan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa etnopedagogi merupakan kerangka konseptual yang mampu memperkuat relevansi pendidikan vokasi dengan budaya lokal sekaligus meningkatkan kesiapan peserta didik menghadapi tuntutan dunia kerja dan perubahan sosial yang berkelanjutan.
PENGARUH PERSEPSI SALAH JURUSAN TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA AKUNTANSI SMK SE-KABUPATEN ENREKANG Nursanti Nursanti; M. Ridwan Tikollah; Asmar Asmar
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i3.12532

Abstract

Learning interest is one of the important factors determining students’ success in the learning process. One of the internal factors that may influence learning interest is students’ perception of the major they choose. Misperception of majors occurs when students feel that their chosen major does not match their interests, talents, abilities, or personal goals. This study aims to determine the effect of misperception of majors on students’ learning interest in accounting majors at vocational high schools in Enrekang Regency. This study employed a quantitative approach with an ex post facto design. The sample consisted of 42 students selected using purposive sampling. Data were collected through questionnaires and documentation. The data were analyzed using descriptive statistics, validity tests, reliability tests, simple linear regression, t-tests, and coefficient of determination (R²). The results showed that students’ misperception of majors was categorized as high with a percentage of 63.41%, while learning interest was also categorized as high with a percentage of 62.66%. The regression analysis produced the equation Y = 74.692 – 0.975X. The t-test showed a significance value of 0.000 < 0.05 with a t-value of -16.413. Furthermore, the coefficient of determination (R²) of 0.871 indicated that misperception of majors contributed 87.1% to students’ learning interest. Therefore, it can be concluded that misperception of majors has a negative and significant effect on students’ learning interest in accounting majors at vocational high schools in Enrekang Regency. ABSTRAK Minat belajar merupakan salah satu faktor penting yang menentukan keberhasilan proses pembelajaran siswa. Salah satu faktor internal yang diduga memengaruhi minat belajar adalah persepsi siswa terhadap jurusan yang dipilih. Persepsi salah jurusan dapat muncul ketika siswa merasa bahwa jurusan yang ditempuh tidak sesuai dengan minat, bakat, kemampuan, maupun tujuan pribadinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh persepsi salah jurusan terhadap minat belajar siswa jurusan akuntansi SMK se-Kabupaten Enrekang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan ex post facto. Sampel penelitian berjumlah 42 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui statistik deskriptif, uji validitas, uji reliabilitas, regresi linear sederhana, uji t, dan koefisien determinasi (R²). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi salah jurusan berada pada kategori tinggi dengan persentase sebesar 63,41%, sedangkan minat belajar berada pada kategori tinggi dengan persentase sebesar 62,66%. Hasil regresi linear sederhana menunjukkan persamaan Y = 74,692 – 0,975X. Hasil uji t menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05 dengan nilai t hitung sebesar -16,413. Selain itu, nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,871 menunjukkan bahwa persepsi salah jurusan memberikan kontribusi sebesar 87,1% terhadap minat belajar siswa. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa persepsi salah jurusan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap minat belajar siswa jurusan akuntansi SMK se-Kabupaten Enrekang.
HUBUNGAN ANTARA KESADARAN HUKUM PESERTA DIDIK DENGAN SIKAP KEPATUHAN TATA TERTIB SEKOLAH PADA SISWA KELAS XI SMA Feby Dwi Ana Rahmah; Mardi Widodo
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i3.11815

Abstract

ABSTRACT Students’ compliance with school regulations is not always developed solely through supervision and the enforcement of sanctions. The persistence of various disciplinary violations indicates the importance of understanding internal factors that encourage students to obey rules based on their own awareness. Against this background, this study examined the relationship between legal awareness and attitudes toward compliance with school regulations among eleventh-grade students at SMA Negeri 1 Tuban. The study employed a quantitative correlational approach involving 96 students selected from the entire population of eleventh-grade students in the 2025/2026 academic year. Data were collected using questionnaires designed to measure indicators of legal awareness and compliance with school regulations and were analyzed using the Karl Pearson Product Moment correlation technique. The findings revealed a very strong and significant positive relationship between the two variables (r = 0.811; p = 0.000), with legal awareness contributing 65.7% to the variance in students’ compliance. These results suggest that higher levels of legal awareness are associated with a greater tendency among students to follow school regulations voluntarily and responsibly. This study highlights the important role of legal awareness in fostering a sustainable culture of discipline and suggests that its development should be integrated into learning activities, behavioral habituation programs, and the broader school culture. ABSTRAK Kepatuhan peserta didik terhadap tata tertib sekolah tidak selalu terbentuk hanya melalui pengawasan dan penerapan sanksi. Masih ditemukannya berbagai bentuk pelanggaran menunjukkan pentingnya memahami faktor internal yang dapat mendorong peserta didik menaati aturan secara sadar. Berangkat dari kondisi tersebut, penelitian ini menelaah keterkaitan antara kesadaran hukum dan sikap kepatuhan terhadap tata tertib sekolah pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Tuban. Kajian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan melibatkan 96 siswa yang dipilih dari populasi seluruh peserta didik kelas XI Tahun Ajaran 2025/2026. Data diperoleh melalui angket yang mengukur indikator kesadaran hukum dan kepatuhan terhadap tata tertib sekolah, kemudian dianalisis menggunakan teknik korelasi Product Moment Karl Pearson. Hasil analisis memperlihatkan adanya hubungan positif yang sangat kuat dan signifikan antara kedua variabel (r = 0,811; p = 0,000), dengan kontribusi sebesar 65,7% terhadap variasi kepatuhan peserta didik. Temuan tersebut menunjukkan bahwa semakin baik kesadaran hukum yang dimiliki peserta didik, semakin besar kecenderungan mereka untuk menjalankan aturan sekolah secara sukarela dan bertanggung jawab. Penelitian ini menegaskan bahwa penguatan kesadaran hukum memiliki posisi penting dalam mendukung terbentuknya budaya disiplin yang berkelanjutan, sehingga pengembangannya perlu menjadi bagian integral dari proses pembelajaran, pembiasaan perilaku, dan budaya sekolah.
HUBUNGAN ANTARA BUDAYA GOTONG ROYONG DENGAN SIKAP TANGGUNG JAWAB PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 TUBAN Silvia Agustin; Mardi Widodo
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i3.12039

Abstract

ABSTRACT The practiice of gotong royong (muituial cooperatiion) iin schools not only reflects a long-standiing sociial valuie embedded iin Iindonesiian sociiety buit also contriibuites to the development of stuidents' character, partiicuilarly theiir sense of responsiibiiliity. The graduial decliine of thiis collectiive cuiltuire, driiven by iincreasiingly iindiiviiduialiistiic liifestyles among youinger generatiions, proviided the context for thiis stuidy iinvolviing tenth-grade stuidents at SMA Negerii 1 Tuiban. A quiantiitatiive correlatiional approach was employed wiith 99 partiiciipants selected throuigh siimple random sampliing from a popuilatiion of 396 stuidents. Data were collected uisiing a closed-ended Liikert-scale quiestiionnaiire that had met the requiiired valiidiity and reliiabiiliity standards. Statiistiical analyses were conduicted uisiing IiBM SPSS Statiistiics, iincluidiing tests of normaliity, liineariity, and the Pearson Produict Moment correlatiion. The fiindiings confiirmed that the data were normally diistriibuited and demonstrated a liinear relatiionshiip between the variiables. Correlatiion analysiis produiced a coeffiiciient of 0.961 wiith a siigniifiicance valuie of 0.000 (p < 0.05), iindiicatiing a posiitiive and very strong associiatiion between the cuiltuire of gotong royong and stuidents' responsiibiiliity. Fuirthermore, the coeffiiciient of determiinatiion (R² = 0.924) revealed that 92.4% of the variiance iin stuidents' responsiibiiliity couild be explaiined by the cuiltuire of gotong royong. These fiindiings hiighliight the suibstantiial contriibuitiion of strengtheniing gotong royong practiices iin fosteriing stuidents' responsiibiiliity and suipportiing character development wiithiin the school enviironment. ABSTRAK Pembiiasaan buidaya gotong royong dii liingkuingan sekolah tiidak hanya mencermiinkan niilaii sosiial yang diiwariiskan dalam kehiiduipan bermasyarakat, tetapii juiga berpotensii membentuik karakter peserta diidiik, teruitama dalam menuimbuihkan siikap tangguing jawab. Fenomena melemahnya praktiik gotong royong dii kalangan generasii muida akiibat berkembangnya kecenderuingan hiiduip iindiiviiduialiistiis menjadii dasar diilakuikannya peneliitiian iinii pada siiswa kelas X SMA Negerii 1 Tuiban. Kajiian diilaksanakan mengguinakan pendekatan kuiantiitatiif dengan rancangan korelasiional terhadap 99 responden yang diipiiliih secara siimple random sampliing darii total popuilasii 396 siiswa. Data diiperoleh melaluiii angket tertuituip berskala Liikert yang telah memenuihii persyaratan valiidiitas dan reliiabiiliitas, kemuidiian diianaliisiis mengguinakan IiBM SPSS Statiistiics melaluiii penguijiian normaliitas, liineariitas, serta korelasii Pearson Produict Moment. Hasiil pengolahan data memperliihatkan bahwa sebaran data memenuihii asuimsii normaliitas dan menuinjuikkan pola huibuingan yang liinear. Analiisiis korelasii menghasiilkan koefiisiien sebesar 0,961 dengan niilaii siigniifiikansii 0,000 (p<0,05), yang mengiindiikasiikan adanya huibuingan posiitiif dengan tiingkat keeratan yang sangat kuiat antara buidaya gotong royong dan siikap tangguing jawab siiswa. Besarnya koefiisiien determiinasii sebesar 0,924 menuinjuikkan bahwa 92,4% variiasii siikap tangguing jawab dapat diijelaskan oleh buidaya gotong royong. Temuian tersebuit memperliihatkan bahwa penguiatan buidaya gotong royong meruipakan faktor yang sangat pentiing dalam menduikuing pembentuikan karakter tangguing jawab peserta diidiik dii liingkuingan sekolah.
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SPRINT MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TGT PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 35 MALUKU TENGAH Rahna Astrid Pawae; Albertus Fenanlampir; Johny Melvin Tahapary
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i3.12135

Abstract

Physical education plays an important role in developing students’ motor competence; however, sprint learning at SMP Negeri 35 Central Maluku still faces obstacles in the form of low learning outcomes and minimal active student involvement in the learning process. This study aims to describe and analyze the improvement of sprint learning outcomes among grade VII students through the implementation of the Teams Games Tournament (TGT) learning model. This research employed a Classroom Action Research (CAR) approach using the Kemmis and McTaggart spiral design, which consists of four stages, namely planning, acting, observing, and reflecting, conducted across two cycles. The research subjects comprised 18 students, consisting of 10 male students and 8 female students. Data were collected through performance tests, structured observation, written tests, and documentation, then analyzed using quantitative descriptive techniques. The results showed a significant improvement in learning mastery, increasing from 6% in the pre-action stage to 50% in cycle I, and reaching 100% in cycle II. The class average score also rose from 64 in the pre-action stage to 73 in cycle I and 78 in cycle II. Therefore, it can be concluded that implementing the cooperative Teams Games Tournament (TGT) learning model effectively improves sprint learning outcomes. ABSTRAK Pendidikan jasmani memegang peran penting dalam pengembangan kompetensi gerak peserta didik, namun pembelajaran lari sprint di SMP Negeri 35 Maluku Tengah masih menghadapi kendala berupa rendahnya hasil belajar serta minimnya keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis peningkatan hasil belajar sprint siswa kelas VII melalui penerapan model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT). Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan desain spiral Kemmis dan McTaggart yang terdiri atas empat tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi, yang dilaksanakan dalam dua siklus. Subjek penelitian berjumlah 18 siswa yang terdiri atas 10 siswa laki-laki dan 8 siswa perempuan. Pengumpulan data dilakukan melalui tes unjuk kerja, observasi terstruktur, tes tertulis, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan ketuntasan belajar yang signifikan, yaitu dari 6% pada pra-tindakan menjadi 50% pada siklus I, dan mencapai 100% pada siklus II. Nilai rata-rata kelas juga meningkat dari 64 pada pra-tindakan menjadi 73 pada siklus I dan 78 pada siklus II. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) terbukti efektif untuk meningkatkan hasil belajar lari sprint pada siswa kelas VII SMP Negeri 35 Maluku Tengah secara menyeluruh dan berkelanjutan.  
STRATEGI GURU PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DALAM MENGATASI KECANDUAN GAME ONLINE PADA SISWA SMA Trisnawati Simanullang; Silvana Natalia Nainggolan; Din Oloan Sihotang
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i3.12706

Abstract

ABSTRACT Online game addiction has become one of the challenges in the field of education due to its potential impact on students’ learning discipline, academic responsibility, social interactions, and character development. This phenomenon requires the active involvement of teachers, particularly Catholic Religious Education teachers, in providing guidance that extends beyond academic achievement to include the strengthening of moral values, spiritual awareness, and students’ self-control in the use of digital technology. This study aims to describe the strategies employed by Catholic Religious Education teachers in addressing online game addiction and to examine the condition of online game addiction among students at SMA Negeri 1 Silaen. The study adopted a descriptive qualitative approach, with data collected through observations, interviews, and documentation, and analyzed through data reduction, data presentation, and data verification. The findings reveal that the strategies implemented include spiritual guidance, collaboration with parents, educational sanctions, and structured assignments as forms of continuous mentoring. These strategies contributed to improving students’ discipline, responsibility, and ability to regulate their online gaming behavior, although several symptoms of addiction were still identified among some students. The findings underscore that a guidance approach integrating moral, spiritual, social, and academic dimensions is effective in minimizing the negative impacts of online gaming while also providing practical contributions to the development of character-building models within the school environment. ABSTRAK Kecanduan game online menjadi salah satu tantangan dalam dunia pendidikan karena berpotensi memengaruhi kedisiplinan belajar, tanggung jawab akademik, interaksi sosial, dan pembentukan karakter peserta didik. Fenomena tersebut menuntut keterlibatan guru, khususnya Guru Pendidikan Agama Katolik, dalam memberikan pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi juga pada penguatan nilai moral, spiritual, dan pengendalian diri siswa dalam memanfaatkan teknologi digital. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi Guru Pendidikan Agama Katolik dalam mengatasi kecanduan game online serta menggambarkan kondisi kecanduan game online pada siswa SMA Negeri 1 Silaen. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang dianalisis secara tematik melalui proses reduksi, penyajian, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi yang diterapkan meliputi bimbingan rohani, kolaborasi dengan orang tua, pemberian sanksi edukatif, dan penugasan sebagai bentuk pembinaan berkelanjutan. Penerapan strategi tersebut berkontribusi dalam meningkatkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan siswa mengendalikan penggunaan game online, meskipun masih ditemukan beberapa gejala kecanduan pada sebagian peserta didik. Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan pembinaan yang memadukan aspek moral, spiritual, sosial, dan akademik merupakan strategi yang efektif dalam meminimalkan dampak negatif game online sekaligus memberikan kontribusi praktis bagi pengembangan model pembinaan karakter di lingkungan sekolah.