cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
Jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
SECONDARY : Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah (JIPM)
ISSN : 27748022     EISSN : 27745791     DOI : -
Core Subject : Education,
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah (JIPM) terbit 4 (Empat) kali setahun pada bulan Januari, April, Juli dan Oktober, berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam smua disiplin ilmu yang berkaitan dengan Pendidikan Menengah.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 502 Documents
PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) BERBASIS STEM UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI PEMBAGIAN SUKU BANYAK DI SMA Andini Sahrani Daulay; Dian Elita Apriani; Mutia Hafiza; Nashwa Rahmadhani Simatupang; Nur Hafizah Nasution; Samuel Yordan Ambarita; Sri Vioni Novena Simanihuruk
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i3.11833

Abstract

This study was designed to investigate the enhancement of students' critical thinking capacities by implementing a Problem-Based Learning (PBL) model integrated with the Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) approach to polynomial division topics at the high school level. A quantitative method utilizing a Pre-Experimental One-Group Pretest–Posttest Design was managed in this framework. Through a purposive sampling technique, 14 students from class XI-1 at GKPI Padang Bulan Private Senior High School were determined as the research participants. The research data were gathered using critical thinking competency tests distributed prior to and following the learning intervention, which were subsequently computed through the N-Gain analysis. The empirical evidence indicated a noticeable shift in the students' performance, where the average pretest score of 52.14 substantially expanded to 76.43 during the posttest. Furthermore, the N-Gain computation demonstrated a mean score of 0.50, which falls into the moderate growth classification. This intellectual growth was visibly observed across several key parameters, including analysis, evaluation, inference, and the formulation of problem-solving pathways. These outcomes emphasize that combining the Problem-Based Learning framework with a STEM orientation successfully establishes a student-centered, active, and contextual learning environment that effectively drives critical reasoning within mathematics pedagogy. Consequently, STEM-driven Problem-Based Learning represents a promising instructional strategy to elevate high school students' critical thinking attributes regarding polynomial division materials. ABSTRAK Penelitian ini ditujukan guna menguji eskalasi kecakapan berpikir kritis peserta didik lewat implementasi model Problem-Based Learning (PBL) yang diintegrasikan dengan pendekatan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) pada topik pembagian suku banyak di jenjang SMA. Pendekatan kuantitatif dengan rancangan Pre-Experimental tipe One Group Pretest–Posttest diterapkan dalam riset ini. Penentuan subjek riset menggunakan teknik purposive sampling, yang menghasilkan sampel sebanyak 14 siswa kelas XI-1 SMA Swasta GKPI Padang Bulan. Pengumpulan data kuantitatif dilakukan melalui instrumen tes kemampuan berpikir kritis yang diselenggarakan pada fase sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) intervensi pembelajaran, di mana data yang diperoleh kemudian diolah menggunakan uji Normalized Gain (N-Gain). Hasil eksperimen memperlihatkan adanya pergeseran positif pada rerata skor siswa, dari yang semula sebesar 52,14 pada saat pretest melonjak menjadi 76,43 ketika posttest. Berdasarkan kalkulasi uji N-Gain, didapatkan nilai rata-rata sebesar 0,50 yang merepresentasikan tingkat peningkatan pada kategori sedang. Perkembangan kecakapan berpikir kritis ini teridentifikasi secara konkret pada indikator analisis, evaluasi, inferensi, serta keterampilan mendesain strategi penyelesaian masalah. Output riset ini mengonfirmasi bahwa perpaduan model Problem-Based Learning berorientasi STEM sukses menstimulasi lingkungan belajar yang interaktif, kontekstual, serta berorientasi pada kemandirian siswa (student-centered), sehingga berkontribusi nyata terhadap stimulasi nalar kritis dalam kurikulum matematika. Oleh karena itu, penerapan PBL berbasis STEM layak direkomendasikan sebagai salah satu opsi strategi instruksional yang andal demi memacu kemampuan berpikir kritis siswa SMA pada materi pembagian suku banyak.
SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW: PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI DAN KEMAMPUAN METAKOGNISI SISWA SMP DAN SMA (2021-2026) Ferra Tiana Ramadhani; Heni Pujiastuti
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i3.10525

Abstract

Mathematics learning emphasizes not only conceptual understanding but also the ability to manage, monitor, and evaluate thinking processes through metacognitive skills. However, students' mathematical metacognitive skills have not yet developed optimally, especially in the monitoring and evaluation aspects. Furthermore, differences in student characteristics and abilities require a flexible learning approach, one of which is through differentiated learning. This study aims to analyze the relationship between differentiated learning and mathematical metacognitive skills in junior high and senior high school students using the Systematic Literature Review (SLR) approach with reference to the PRISMA guidelines. The article search process was carried out using Publish or Perish with the Google Scholar database and SINTA-indexed journals in the 2021–2026 period using several keywords related to mathematical metacognition and differentiated learning. During the identification stage, 4,931 articles were obtained, then selected through a screening and eligibility process until 25 articles met the inclusion criteria. Data analysis was carried out descriptively and qualitatively through a process of grouping, comparing, and synthesizing research results. The results of the study indicate that students' metacognitive abilities are still variable and tend to be low, influenced by internal factors such as mathematical ability, learning interest, curiosity, and intelligence level. Furthermore, differentiated learning has a positive trend towards students' learning outcomes, motivation, creativity, and understanding of mathematical concepts, and has the potential to support the development of students' metacognitive abilities in mathematics learning. This study concludes that differentiated learning can be an alternative learning strategy to support the development of students' mathematical metacognitive abilities. However, research specifically examining the relationship between these two aspects is still limited, so further in-depth research is needed. ABSTRAK Pembelajaran matematika tidak hanya menekankan siswa dalam pemahaman konsep, tetapi juga kemampuan siswa dalam mengelola, memantau, dan mengevaluasi proses berpikir melalui kemampuan metakognisi. Namun, kemampuan metakognisi matematis siswa masih belum berkembang secara optimal, terutama pada aspek monitoring dan evaluasi. Selain itu, perbedaan karakteristik dan kemampuan siswa menuntut adanya pendekatan pembelajaran yang fleksibel, salah satunya melalui pembelajaran berdiferensiasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan pembelajaran berdiferensiasi dengan kemampuan metakognisi matematis siswa SMP dan SMA menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) dengan mengacu pada pedoman PRISMA. Proses pencarian artikel dilakukan menggunakan Publish or Perish dengan database Google Scholar dan jurnal terindeks SINTA pada rentang tahun 2021–2026 menggunakan beberapa kata kunci terkait metakognisi matematis dan pembelajaran berdiferensiasi. Pada tahap identifikasi diperoleh 4.931 artikel, kemudian diseleksi melalui proses screening dan eligibility hingga diperoleh 25 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif melalui proses pengelompokan, perbandingan, dan sintesis hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan metakognisi siswa masih bervariasi dan cenderung rendah, dipengaruhi oleh faktor internal seperti kemampuan matematika, minat belajar, rasa ingin tahu, dan tingkat kecerdasan siswa. Selain itu, pembelajaran berdiferensiasi menunjukkan kecenderungan positif terhadap hasil belajar, motivasi, kreativitas, dan pemahaman konsep matematis siswa serta berpotensi mendukung perkembangan kemampuan metakognitif siswa dalam pembelajaran matematika. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi dapat menjadi salah satu alternatif strategi pembelajaran dalam mendukung pengembangan kemampuan metakognisi matematis siswa. Namun, penelitian yang secara khusus mengkaji keterkaitan kedua aspek tersebut masih terbatas sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut secara mendalam.    
PENERAPAN MEDIA VLOG DALAM MENINGKATKAN MAHARAH KALAM PADA SISWA KELAS IX Ihsan Ramadhandi; Yeni Lailatul Wahidah
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i3.10939

Abstract

This study was motivated by the low speaking skills (maharah kalam) of students, which were caused not only by limited linguistic competence but also by the lack of authentic and continuous speaking practice in the learning process. The study aimed to implement Vlog media as a learning strategy to improve students’ Arabic speaking skills. This research employed a Classroom Action Research design based on the Kemmis and McTaggart model conducted in two cycles, consisting of planning, action, observation, and reflection stages. The subjects of the study were 32 students of class IX B at SMP Muhammadiyah 3 Bandar Lampung. Data were collected through tests, observations, interviews, and documentation, then analyzed quantitatively and qualitatively. The results showed a significant improvement in students’ maharah kalam, indicated by the increase in classical mastery from 0% in the pre-cycle to 15.63% in cycle I and reaching 90.63% in cycle II. The findings indicate that Vlog media is effective in creating a more participatory, communicative, and experience-based learning process. The implication of this study highlights the importance of optimizing information and communication technology-based media in teaching maharah kalam. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya maharah kalam siswa yang tidak hanya disebabkan oleh keterbatasan penguasaan linguistik, tetapi juga minimnya ruang praktik berbicara yang autentik dan berkelanjutan dalam pembelajaran. Penelitian ini bertujuan menerapkan media Vlog sebagai strategi pembelajaran untuk meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Arab siswa. Penelitian menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas model Kemmis dan McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian adalah 32 siswa kelas IX B SMP Muhammadiyah 3 Bandar Lampung. Data dikumpulkan melalui tes, observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan maharah kalam siswa, ditandai dengan kenaikan ketuntasan klasikal dari 0% pada pra-siklus menjadi 15,63% pada siklus I dan mencapai 90,63% pada siklus II. Temuan ini menunjukkan bahwa media Vlog efektif dalam menciptakan pembelajaran yang lebih partisipatif, komunikatif, dan berbasis pengalaman. Implikasi penelitian ini menunjukkan pentingnya pemanfaatan media berbasis teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran maharah kalam.
ANALISIS IMPLEMENTASI MODEL KOOPERATIF TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION (TAI) DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MEMAHAMI AYAT-AYAT AL-QUR’AN PADA SISWA KELAS X2 DI SMA IT BAITUL MUSLIM LABUHAN RATU Titin Dewiaminah; Jamiluddin Yacub
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i3.11343

Abstract

ABSTRACT Low student engagement in learning activities and difficulties in understanding Qur’anic verses remain significant challenges in Islamic Religious Education. This study aims to describe the implementation of the Team Assisted Individualization (TAI) cooperative learning model in improving students’ skills in understanding Qur’anic verses among Grade X2 students at SMA IT Baitul Muslim Labuhan Ratu. The study employed a qualitative approach with a descriptive method. The research subjects consisted of 35 students. Data were collected through observation, interviews, and documentation, and were analyzed using data reduction, data display, and conclusion drawing techniques. The findings indicate that the implementation of the Team Assisted Individualization (TAI) model increased students’ engagement in the learning process, as reflected in their active participation in asking questions, expressing opinions, engaging in discussions, and collaborating within learning groups. The model also assisted students in understanding the meanings of Qur’anic verses, identifying the values contained within them, and relating these teachings to everyday life. The formation of heterogeneous learning groups fostered more effective and collaborative interactions among students, resulting in a more active learning environment. Although challenges were encountered, including differences in students’ academic abilities and limited instructional time, the TAI model proved effective in supporting the improvement of students’ skills in understanding Qur’anic verses and creating a more effective learning atmosphere. These findings suggest that the TAI model can serve as a relevant cooperative learning alternative for enhancing the quality of Islamic Religious Education at the secondary school level. ABSTRAK Rendahnya keterlibatan siswa dalam pembelajaran serta kesulitan memahami ayat-ayat Al-Qur’an menjadi tantangan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi model pembelajaran kooperatif tipe Team Assisted Individualization (TAI) dalam meningkatkan keterampilan memahami ayat-ayat Al-Qur’an pada siswa kelas X2 SMA IT Baitul Muslim Labuhan Ratu. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Subjek penelitian terdiri atas 35 siswa. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Team Assisted Individualization (TAI) meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran melalui aktivitas bertanya, menyampaikan pendapat, berdiskusi, dan bekerja sama dalam kelompok. Model ini juga membantu siswa memahami makna ayat, mengidentifikasi nilai-nilai yang terkandung dalam ayat Al-Qur’an, serta mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari. Pembentukan kelompok belajar yang heterogen mendorong terjadinya interaksi yang lebih efektif dan kolaboratif antarsiswa sehingga proses pembelajaran berlangsung lebih aktif. Meskipun terdapat kendala berupa perbedaan kemampuan akademik siswa dan keterbatasan waktu pembelajaran, model TAI terbukti mendukung peningkatan keterampilan memahami ayat-ayat Al-Qur’an dan menciptakan suasana belajar yang lebih efektif. Temuan ini menunjukkan bahwa model TAI dapat menjadi alternatif pembelajaran kooperatif yang relevan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam di tingkat sekolah menengah.
INTEGRASI MODEL DEEP LEARNING DALAM INOVASI PEMBELAJARAN PAI UNTUK MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS DAN KESADARAN SPIRITUAL SISWA SMA Anifatur Rahmawati; Achmad Yusuf; Ahmad Marzuki; Muhammad Nur Hadi
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i3.11563

Abstract

ABSTRACT Balancing the strengthening of critical thinking and the formation of spiritual awareness in Islamic Religious Education (PAI) still presents a tension between content mastery orientation and students’ reflective depth. In many classroom practices, learning processes have not yet fully provided space for the elaboration of learning experiences, deep reasoning, and the internalization of religious values in everyday life. This study aims to examine the implementation of deep learning in PAI through a qualitative case study approach in an educational setting that applies reflection-based learning. Data were collected through observation, interviews, and documentation, then analyzed through data reduction, presentation, and thematic meaning-making. The findings indicate that the learning process is shaped by the teacher’s role as a facilitator, student-centered learning, the use of technology as a learning resource, and the strengthening of reflective activities such as muhasabah. This approach fosters the development of critical thinking skills while simultaneously deepening students’ spiritual awareness through the internalization of religious values in contextual situations. Overall, the implementation of deep learning contributes to a more meaningful, participatory, and holistic Islamic Religious Education learning experience. ABSTRAK Upaya menyeimbangkan penguatan berpikir kritis dan pembentukan kesadaran spiritual dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) masih menghadapi ketegangan antara orientasi penguasaan materi dan kedalaman reflektif siswa. Di banyak praktik kelas, proses pembelajaran belum sepenuhnya memberi ruang bagi elaborasi pengalaman belajar, penalaran mendalam, serta internalisasi nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk memotret penerapan deep learning dalam pembelajaran PAI melalui pendekatan studi kasus kualitatif pada satuan pendidikan yang mengembangkan pembelajaran berbasis refleksi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi, penyajian, dan penarikan makna secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran berlangsung melalui peran guru sebagai fasilitator, pembelajaran berpusat pada siswa, pemanfaatan teknologi sebagai sumber belajar, serta penguatan aktivitas reflektif seperti muhasabah. Pendekatan ini mendorong berkembangnya kemampuan berpikir kritis sekaligus memperdalam kesadaran spiritual siswa melalui penghayatan nilai agama dalam konteks kehidupan. Secara keseluruhan, deep learning berkontribusi pada pembelajaran PAI yang lebih bermakna, partisipatif, dan holistik.
EFEKTIVITAS KONSELING GESTALT DENGAN TEKNIK KURSI KOSONG UNTUK MENINGKATKAN KEPERCAYAAN DIRI Ni Komang Putri Leony; Putu Ari Dharmayanti; Dewi Arum Widhiyanti Metra Putri
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i3.11602

Abstract

ABSTRACT Self-confidence plays an important role in supporting students’ engagement in learning activities and social interactions at school. Nevertheless, some students still experience hesitation when speaking, are reluctant to express their opinions, and tend to avoid interacting with others. This condition encouraged the implementation of Gestalt counseling using the empty-chair technique as an intervention to help students recognize and overcome barriers affecting their self-confidence. This study employed a quantitative approach with a quasi-experimental design involving 12 students who were assigned to an experimental group and a control group. Data were collected through observation, interviews, and a self-confidence questionnaire, and subsequently analyzed using descriptive statistics and nonparametric tests. The counseling process consisted of problem identification, reflective dialogue through the empty-chair technique, self-exploration, and evaluation of behavioral changes. The findings revealed positive developments among students who participated in the counseling sessions. They demonstrated greater confidence in expressing opinions, communicating feelings, and engaging in social interactions. These results were supported by the statistical analysis, which yielded a significance value of 0.028 (p < 0.05), indicating a significant effect on the improvement of students’ self-confidence. Beyond promoting more adaptive behaviors, the integration of the empty-chair technique within Gestalt counseling provided students with opportunities to explore personal experiences and gain deeper self-understanding through reflective processes. Therefore, Gestalt counseling with the empty-chair technique can be considered an effective strategy for enhancing students’ self-confidence. ABSTRAK Kepercayaan diri berperan penting dalam mendukung keterlibatan siswa pada kegiatan pembelajaran dan interaksi sosial di lingkungan sekolah, namun sebagian siswa masih menunjukkan keraguan saat berbicara, enggan mengemukakan pendapat, serta cenderung menghindari interaksi dengan orang lain. Kondisi tersebut mendorong penerapan konseling Gestalt dengan teknik kursi kosong sebagai upaya membantu siswa mengenali dan mengatasi hambatan yang memengaruhi keyakinan terhadap dirinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi experimental yang melibatkan 12 siswa yang terbagi ke dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan angket kepercayaan diri, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif serta uji nonparametrik. Proses konseling dilaksanakan melalui identifikasi masalah, dialog reflektif menggunakan kursi kosong, pendalaman pemahaman diri, dan evaluasi perubahan perilaku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang mengikuti konseling mengalami perkembangan positif yang terlihat dari meningkatnya keberanian dalam menyampaikan pendapat, mengekspresikan perasaan, dan menjalin hubungan sosial dengan lingkungan sekitar. Temuan tersebut diperkuat oleh hasil uji statistik yang menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,028 (p < 0,05), yang mengindikasikan adanya pengaruh signifikan terhadap peningkatan kepercayaan diri siswa. Selain menghasilkan perubahan perilaku yang lebih adaptif, penggunaan teknik kursi kosong dalam konseling Gestalt juga memberikan ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi pengalaman dan memahami dirinya secara lebih reflektif. Berdasarkan temuan tersebut, konseling Gestalt dengan teknik kursi kosong dapat dipandang sebagai strategi yang efektif untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa.
PENGEMBANGAN MODEL KONSELING BERBASIS NEUROSAINS TEKNIK VISUAL IMAGERY UNTUK MENINGKATKAN KONSENTRASI BELAJAR SISWA SMP Ni Kadek Anggi Damayanthi; Kadek Suranata; Kadek Ari Dwiarwati
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i3.11658

Abstract

ABSTRACT Learning concentration is a fundamental prerequisite for successful learning; however, many junior high school students still experience difficulty maintaining attention throughout classroom activities. This condition highlights the need for guidance and counseling services that are not only preventive in nature but also grounded in an understanding of how the brain processes and sustains attention. In response to this need, the present study developed a neuroscience-based counseling guide incorporating the visual imagery technique as a strategy to enhance students’ learning concentration. The study employed the Research and Development (R&D) approach using the Borg and Gall model, integrated with a Single Subject Design (SSD) employing an A–B–A design. The development process involved needs assessment, planning, product development, expert validation, revision, and limited field testing involving three students from SMP Negeri 1 Sukasada. Data were collected through questionnaires, observations, and documentation, and were analyzed using the Content Validity Ratio (CVR), Content Validity Index (CVI), descriptive analysis, and the Wilcoxon test. The findings demonstrated that the developed counseling guide possessed very high validity, was highly practical for implementation, and effectively improved students’ learning concentration. The primary contribution of this study lies in integrating neuroscience principles with the visual imagery technique into a structured school counseling guide, offering an innovative evidence-based alternative for school counselors to deliver more systematic, scientifically grounded, and effective counseling services aimed at improving students’ learning concentration. ABSTRAK Konsentrasi belajar merupakan prasyarat penting bagi keberhasilan proses pembelajaran, namun masih banyak siswa sekolah menengah pertama yang mengalami kesulitan mempertahankan fokus selama kegiatan belajar. Kondisi ini menuntut tersedianya layanan bimbingan dan konseling yang tidak hanya bersifat preventif, tetapi juga didasarkan pada pemahaman mengenai cara kerja otak dalam mengoptimalkan perhatian. Berangkat dari kebutuhan tersebut, penelitian ini menghasilkan sebuah panduan konseling berbasis neurosains yang memanfaatkan teknik visual imagery sebagai strategi untuk meningkatkan konsentrasi belajar siswa SMP. Pengembangan produk dilakukan melalui pendekatan Research and Development model Borg and Gall yang dipadukan dengan desain Single Subject Design (SSD) pola A-B-A. Proses penelitian mencakup analisis kebutuhan, perancangan, pengembangan, validasi, revisi, dan uji coba terbatas pada tiga siswa SMP Negeri 1 Sukasada. Data diperoleh melalui angket, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan Content Validity Ratio (CVR), Content Validity Index (CVI), analisis deskriptif, serta uji Wilcoxon. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa panduan yang dikembangkan memiliki tingkat validitas yang sangat tinggi, praktis untuk diterapkan, dan efektif meningkatkan konsentrasi belajar siswa. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada pengintegrasian prinsip neurosains dengan teknik visual imagery ke dalam sebuah panduan konseling yang memberikan alternatif inovatif bagi guru bimbingan dan konseling dalam menyelenggarakan layanan yang lebih ilmiah, terstruktur, dan berorientasi pada peningkatan kualitas belajar siswa.
PENANAMAN SOCIAL SKILLS DALAM PEMBELAJARAN IPS UNTUK MENCEGAH BULLYING PADA PESERTA DIDIK KELAS VII Rezika Putri Mei Linda Prameswari; Yadi Suryadi
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i3.11696

Abstract

This study was motivated by the continued presence of bullying behavior among seventh-grade students at SMP Negeri 15 Semarang, including verbal, social, physical, and cyberbullying, which is linked to the students’ low social skills. The study aims to examine the implementation of social skills development in social studies instruction to prevent bullying, the integration of social skills into the social studies learning process, as well as the supporting and inhibiting factors. The study employed a qualitative approach using a case study design. Data were collected through participant observation, in-depth interviews, and documentation with informants including Social Studies teachers, guidance counselors, and seventh-grade students from classes VII C and VII E. Data analysis was conducted through the stages of data reduction, data presentation, and drawing conclusions using the Miles and Huberman model. The results of the study indicate that social studies teachers have implemented various learning strategies, such as group discussions, role-playing, Problem-Based Learning (PBL), and a personalized approach, to instill social skills in students. The development of social skills is also integrated into the planning, implementation, and evaluation of social studies instruction through materials related to everyday social life. This implementation has a positive impact on communication skills, cooperation, empathy, and responsibility, as well as reducing bullying behavior in the school environment. Supporting factors for this study include school culture, anti-bullying programs, and teacher involvement, while inhibiting factors include time constraints, differences in student personalities, lack of family support, and the influence of the environment outside of school. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih adanya perilaku bullying pada peserta didik kelas VII di SMP Negeri 15 Semarang, seperti bullying verbal, sosial, fisik, maupun cyberbullying yang berkaitan dengan rendahnya keterampilan sosial peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi penanaman social skills dalam pembelajaran IPS untuk mencegah bullying, integrasi social skills dalam proses pembelajaran IPS, serta faktor pendukung dan penghambatnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi dengan informan guru IPS, guru BK, dan peserta didik kelas VII C dan VII E. Analisis data dilakukan melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru IPS telah menerapkan berbagai strategi pembelajaran seperti diskusi kelompok, role play, Problem Based Learning (PBL), dan pendekatan personal untuk menanamkan keterampilan sosial peserta didik. Penanaman social skills juga diintegrasikan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran IPS melalui materi yang berkaitan dengan kehidupan sosial sehari-hari. Implementasi tersebut memberikan dampak positif terhadap kemampuan komunikasi, kerja sama, empati, tanggung jawab, serta mengurangi perilaku bullying di lingkungan sekolah. Faktor pendukung penelitian ini meliputi budaya sekolah, program anti-bullying, dan keterlibatan guru, sedangkan faktor penghambatnya yaitu keterbatasan waktu, perbedaan karakter peserta didik, kurangnya dukungan keluarga, dan pengaruh lingkungan luar sekolah.
PENGARUH MOTIVASI BELAJAR, EFIKASI DIRI, DAN LINGKUNGAN BELAJAR TERHADAP MINAT MELANJUTKAN PENDIDIKAN KE PERGURUAN TINGGI SISWA KELAS XII SMK JURUSAN BISNIS DIGITAL DI KOTA SURABAYA Dwi Sartika Putri; Finisica Dwijayati Patrikha
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i3.11731

Abstract

ABSTRACT Pursuing higher education has become an increasingly relevant issue in vocational education amid the growing demand for human resources capable of adapting to economic and digital technological developments. At the same time, not all graduates of Vocational High Schools (Sekolah Menengah Kejuruan/SMK) perceive higher education as their preferred pathway after graduation, including students enrolled in the Digital Business Program, who face a unique choice between entering the workforce and continuing their studies. This study aims to analyze the influence of learning motivation, self-efficacy, and learning environment on students’ interest in pursuing higher education among twelfth-grade students of the Digital Business Program in Surabaya. A quantitative approach with a survey design was employed by collecting data through a Likert-scale questionnaire administered to 195 students from five vocational high schools offering the Digital Business Program. The data were analyzed using multiple linear regression with the assistance of SPSS version 27. The findings reveal that learning motivation, self-efficacy, and learning environment have positive and significant effects on students’ interest in pursuing higher education, both partially and simultaneously. The coefficient of determination (R²) of 0.400 indicates that the proposed model explains 40% of the variance in students’ interest in continuing their education to the tertiary level. Within the context of digitally oriented vocational education, aspirations for higher education appear to be shaped not only by internal factors related to students’ confidence and learning orientation but also by supportive learning environments that facilitate personal development. This study contributes to a broader understanding of the factors underlying higher education aspirations among students in the Digital Business Program, a group that has received relatively limited attention in previous research. ABSTRAK Pilihan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi menjadi isu yang semakin relevan dalam pendidikan vokasi seiring meningkatnya kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan perkembangan ekonomi dan teknologi digital. Pada saat yang sama, tidak semua lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memandang pendidikan tinggi sebagai jalur yang akan ditempuh setelah lulus, termasuk siswa Program Keahlian Bisnis Digital yang berada pada posisi unik antara peluang memasuki dunia kerja dan melanjutkan studi. Penelitian ini difokuskan pada analisis pengaruh motivasi belajar, efikasi diri, dan lingkungan belajar terhadap minat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi pada siswa kelas XII Program Keahlian Bisnis Digital di Kota Surabaya. Pendekatan kuantitatif dengan desain survei diterapkan melalui pengumpulan data menggunakan kuesioner skala Likert yang melibatkan 195 siswa dari lima SMK penyelenggara Program Keahlian Bisnis Digital. Data dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan SPSS versi 27. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa motivasi belajar, efikasi diri, dan lingkungan belajar memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap minat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, baik secara parsial maupun simultan. Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,400 menunjukkan bahwa model penelitian mampu menjelaskan 40% variasi minat siswa. Dalam konteks pendidikan vokasi berbasis kompetensi digital, aspirasi untuk melanjutkan studi tampak tidak hanya dibentuk oleh dorongan internal yang berasal dari keyakinan dan orientasi belajar siswa, tetapi juga diperkuat oleh lingkungan yang mendukung proses pengembangan diri. Kajian ini memperkaya pemahaman mengenai dinamika pembentukan minat melanjutkan pendidikan pada siswa SMK Program Keahlian Bisnis Digital yang hingga kini masih relatif terbatas menjadi fokus penelitian.
INTERNALISASI NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL TRADISI MAPPATABE’ DALAM PEMBELAJARAN IPS: PERAN GURU DALAM MEMBENTUK KARAKTER SISWA Widya Astuti Muhlis; Fawziah Zahrawati B; Fuad Guntara; Jumaisa Jumaisa
SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/secondary.v6i3.11798

Abstract

The degradation of student character due to globalization has become a serious challenge in the world of education, characterized by a decline in respect and politeness both in the family and school environment. The mappatabe' tradition as the local wisdom of the Bugis people containing the values ​​of sipakatau, sipakalebbi and sipakainge has relevance in the formation of student character. This study aims to examine the values ​​of the mappatabe' tradition internalized in social studies learning, the role of teachers and instilling them in the formation of student character at UPT SMP Negeri 2 Pinrang. This study uses a qualitative approach with a phenomenological research type. Data were collected through in-depth interviews with social studies teachers and students, observation and documentation. The validity of the data was tested by triangulation of techniques and triangulation of sources, then analyzed using the Miles & Huberman model which includes data reduction, data presentation and drawing conclusions. The results of this study show that internalization is carried out through a contextual learning approach, habituation and role modeling. The role of teachers in shaping student character includes the role as educators, facilitators, motivators and role models. The implication of this internalization is the formation of polite, socially aware and disciplined characters. ABSTRAK Degradasi karakter siswa akibat arus globalisasi menjadi tantangan serius dalam dunia pendidikan, yang ditandai dengan menurunnya sikap hormat dan sopan santun baik di lingkungan keluarga maupun sekolah. Tradisi mappatabe’ sebagai kearifan lokal masyarakat suku bugis yang mengandung nilai-nilai sipakatau, sipakalebbi dan sipakainge memiliki relevansi dalam pembentukan karakter siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai-nilai tradisi mappatabe' diinternalisasikan dalam pembelajaran IPS, peran guru serta implikasinya terhadap pembentukan karakter siswa di UPT SMP Negeri 2 Pinrang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologi. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan guru IPS dan siswa, observasi serta dokumentasi. Keabsahan data diuji dengan triangulasi teknik dan triangulasi sumber, kemudian dianalisis menggunakan model Miles & Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa internalisasi dilakukan melalui pendekatan pembelajaran kontekstual, pembiasaan dan keteladanan. Peran guru dalam membentuk karakter siswa mencakup peran sebagai edukator, fasilitator, motivator dan teladan. Implikasi dari internalisasi ini terbentuknya karakter sopan santun, peduli sosial dan displin siswa.