cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB Principal Contact: Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd. (085239967417) Technical Support Contact: Randi Pratama M., M.Pd. (085781267181) Email: jurnalp4i@gmail.com
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
CENDEKIA : Jurnal Ilmu Pengetahuan
ISSN : 27748030     EISSN : 27744183     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 758 Documents
ANALISIS BISNIS CAPTIKUS DI DESA TONDEI KECAMATAN MOTOLING BARAT KABUPATEN MINAHASA SELATAN Rivaldo Kumayas; Johny Taroreh; Edwin Wantah
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.11599

Abstract

ABSTRACT Captikus is a traditional Minahasan beverage that holds economic and cultural value for local communities. However, studies on the development of Captikus businesses that integrate business management and local wisdom remain limited, resulting in a lack of adequate management strategies. This study aims to analyze Captikus business practices in Tondei Village, South Minahasa Regency, and identify its development potential and challenges. A descriptive qualitative approach was employed through observations and interviews with 10 informants consisting of Captikus producers, community leaders, and individuals knowledgeable about Captikus production and marketing activities. Data were analyzed through the stages of data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that Captikus production is still carried out through traditional methods by utilizing local knowledge in raw material selection, palm sap tapping, and processing practices. Marketing activities are still dominated by local networks and word-of-mouth promotion, while business management is not yet supported by systematic financial record-keeping. The main challenges include limited capital, fluctuations in raw material availability, low managerial capacity, and business legality issues. On the other hand, Captikus has considerable development potential through institutional strengthening, product diversification, business legalization, and the utilization of digital marketing based on local cultural values. This study concludes that Captikus has the potential to be developed as a local wisdom-based MSME that can increase community income while preserving Minahasan cultural heritage. The findings provide a foundation for formulating sustainable local economic development strategies. ABSTRAK Captikus merupakan minuman tradisional khas Minahasa yang memiliki nilai ekonomi dan budaya bagi masyarakat lokal. Namun, kajian mengenai pengembangan usaha Captikus yang mengintegrasikan aspek bisnis dan kearifan lokal masih terbatas sehingga strategi pengelolaannya belum terdokumentasi secara memadai. Penelitian ini bertujuan menganalisis praktik bisnis Captikus di Desa Tondei, Kabupaten Minahasa Selatan, serta mengidentifikasi potensi dan kendala pengembangannya. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif melalui observasi dan wawancara terhadap 10 informan yang terdiri atas pelaku usaha Captikus, tokoh masyarakat, dan pihak yang memahami aktivitas produksi serta pemasaran Captikus. Data dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi Captikus masih dilakukan secara turun-temurun dengan memanfaatkan pengetahuan lokal dalam pemilihan bahan baku, penyadapan nira, dan proses pengolahan. Pemasaran masih didominasi jaringan lokal dan promosi dari mulut ke mulut, sementara pengelolaan usaha belum didukung pencatatan keuangan yang sistematis. Kendala utama meliputi keterbatasan modal, fluktuasi bahan baku, rendahnya kapasitas manajerial, dan permasalahan legalitas usaha. Di sisi lain, Captikus memiliki peluang pengembangan melalui penguatan kelembagaan usaha, diversifikasi produk, legalisasi usaha, serta pemanfaatan pemasaran digital berbasis budaya lokal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Captikus berpotensi dikembangkan sebagai UMKM berbasis kearifan lokal yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus mendukung pelestarian budaya Minahasa. Temuan penelitian memberikan dasar bagi penyusunan strategi penguatan ekonomi lokal yang berkelanjutan.
TRANSFORMASI SISTEM PENDIDIKAN INDONESIA DI ERA DIGITAL: KAJIAN KEBIJAKAN DAN IMPLIKASI SISTEMIK Ahmad Saeful Ahyar; Muhammad Ihsan Dacholfany; Ayub Kumalla; Akbar Rahman; Darul Mustofa
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.11799

Abstract

Educational transformation in the digital era requires comprehensive changes in the education system, not merely the use of technological devices in learning. This article aims to analyze the transformation of the Indonesian education system in the digital era through the perspective of educational systems and policy document analysis. This study employs qualitative research based on document analysis using content analysis. The sources include literature on educational systems and five national regulations, namely Minister of Education, Culture, Research, and Technology Regulation Number 12 of 2024, Minister of Primary and Secondary Education Regulation Number 13 of 2025, Government Regulation Number 17 of 2025, Minister of Communication and Digital Affairs Regulation Number 9 of 2026, and the 2026 Joint Ministerial Decree on Guidelines for the Utilization and Learning of Digital Technology and Artificial Intelligence. The findings show that digital education transformation is a systemic change involving curriculum, learning processes, teachers, students, families, school governance, and child protection. The distinctive contribution of this article lies in mapping digital education transformation as a systemic process that integrates curriculum policy, artificial intelligence literacy, academic ethics, and child protection into a single analytical framework. This article concludes that the transformation of the Indonesian education system in the digital era requires integration among policy, educational practice, school readiness, family roles, digital literacy, academic integrity, personal data protection, and the safety of the digital ecosystem. ABSTRAK Transformasi pendidikan di era digital menuntut perubahan sistem pendidikan secara menyeluruh, bukan hanya penggunaan perangkat teknologi dalam pembelajaran. Artikel ini bertujuan menganalisis transformasi sistem pendidikan Indonesia di era digital melalui perspektif sistem pendidikan dan analisis dokumen kebijakan. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif berbasis studi dokumen dengan teknik analisis isi. Sumber kajian meliputi literatur tentang sistem pendidikan serta lima regulasi nasional, yaitu Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024, Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025, PP Nomor 17 Tahun 2025, Permenkomdigi Nomor 9 Tahun 2026, dan SKB Pedoman Pemanfaatan dan Pembelajaran Teknologi Digital dan Kecerdasan Artifisial Tahun 2026. Hasil kajian menunjukkan bahwa transformasi pendidikan digital merupakan perubahan sistemik yang melibatkan kurikulum, pembelajaran, guru, peserta didik, keluarga, tata kelola satuan pendidikan, dan pelindungan anak. Kontribusi khas artikel ini terletak pada pemetaan transformasi pendidikan digital sebagai proses sistemik yang mempertemukan kebijakan kurikulum, literasi kecerdasan artifisial, etika akademik, dan pelindungan anak dalam satu kerangka analisis. Artikel ini menyimpulkan bahwa transformasi sistem pendidikan Indonesia di era digital memerlukan keterpaduan antara kebijakan, praksis pendidikan, kesiapan satuan pendidikan, peran keluarga, literasi digital, integritas akademik, pelindungan data pribadi, dan keamanan ekosistem digital.
PEMBUATAN APLIKASI PENJUALAN DAN MANAJEMEN STOK BERAS DENGAN FIFO BERBASIS WEBSITE Noel Chrisdian Dyto; Handoko Handoko
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.11869

Abstract

Digital transformation has become an essential requirement for micro, small, and medium enterprises (MSMEs) to improve operational efficiency, data management accuracy, and market reach. However, Toko Beras AD still relied on manual processes for sales transactions, inventory management, and order recording, creating risks of data inaccuracies, service delays, and inventory monitoring difficulties. This study aimed to develop a web-based sales and rice inventory management application to support the digitalization of business processes at Toko Beras AD. The system was developed using an iterative development method consisting of requirements, design, implementation and testing, and review stages. The application was built using the MERN stack (MongoDB, Express.js, React.js, and Node.js) and integrated with the Midtrans payment gateway to support digital payment transactions. The results indicate that the developed application successfully automated transaction recording, enabled real-time inventory monitoring through the First In First Out (FIFO) method, and facilitated online product ordering. The User Acceptance Test (UAT) conducted with 10 respondents revealed a user acceptance rate of 98.89%, with 61.11% strongly agreeing, 37.78% agreeing, and 1.11% moderately agreeing with the system’s performance. These findings demonstrate that the application effectively improves transaction management efficiency, inventory control, and customer service quality. This study contributes by providing an integrated web-based digital solution for rice-trading MSMEs that combines inventory management, online transactions, and digital payment services within a single platform. ABSTRAK Transformasi digital menjadi kebutuhan penting bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk meningkatkan efisiensi operasional, akurasi pengelolaan data, serta memperluas jangkauan pemasaran. Namun, Toko Beras AD masih menjalankan proses penjualan, pencatatan transaksi, dan pengelolaan stok secara manual sehingga berpotensi menimbulkan kesalahan pencatatan, keterlambatan pelayanan, serta kesulitan dalam pemantauan persediaan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan aplikasi penjualan dan manajemen stok beras berbasis website yang mampu mendukung digitalisasi proses bisnis pada Toko Beras AD. Metode pengembangan sistem yang digunakan adalah metode iteratif yang meliputi tahapan requirements, design, implementation and testing, serta review. Aplikasi dikembangkan menggunakan teknologi MERN (MongoDB, Express.js, React.js, dan Node.js) serta terintegrasi dengan payment gateway Midtrans untuk mendukung transaksi digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi yang dikembangkan mampu mengotomatisasi pencatatan transaksi, memfasilitasi pemantauan stok secara real-time menggunakan metode First In First Out (FIFO), serta mendukung proses pemesanan produk secara daring. Hasil User Acceptance Test (UAT) terhadap 10 responden menunjukkan tingkat penerimaan pengguna sebesar 98,89%, yang terdiri atas 61,11% responden menyatakan sangat setuju, 37,78% setuju, dan 1,11% cukup setuju terhadap kinerja sistem. Temuan ini menunjukkan bahwa aplikasi yang dikembangkan efektif dalam meningkatkan efisiensi pengelolaan transaksi, pengendalian persediaan, dan kualitas layanan kepada pelanggan. Penelitian ini berkontribusi dalam menyediakan solusi digital berbasis web bagi UMKM sektor perdagangan beras yang mengintegrasikan manajemen stok, transaksi daring, dan pembayaran digital dalam satu platform.
EFEKTIFITAS KOMBINASI EKSTRAK JAHE DAN SEREH SEBAGAI FITOBIOTIK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Azwar G Mamba; Dewi Shinta Achmad; Susan Mokoolang
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.11870

Abstract

Nile tilapia farming faces various challenges, particularly in improving fish growth and survival in a sustainable manner without relying on synthetic chemicals. One potential alternative is the use of natural phytobiotics derived from ginger (Zingiber officinale) and lemongrass (Cymbopogon citratus), which contain bioactive compounds that may enhance fish health and growth performance. This study aimed to determine the effect of a combination of ginger and lemongrass extracts as phytobiotics on the growth and survival of Nile tilapia (Oreochromis niloticus). The study employed an experimental method using a Completely Randomized Design (CRD) consisting of four treatments with three replications: P0 (control without extract), P1 (ginger extract at 5.63 g/kg feed), P2 (lemongrass extract at 5.63 g/kg feed), and P3 (combination of ginger extract 2.8 g/kg and lemongrass extract 2.8 g/kg feed). Observed parameters included absolute length growth, absolute weight gain, survival rate (SR), and water quality parameters consisting of temperature, pH, and dissolved oxygen. The results showed that the administration of ginger and lemongrass extracts had a significant effect (p<0.05) on the length growth of Nile tilapia but did not significantly affect weight gain. The combination treatment produced the highest average length growth of 5.25 cm and a weight gain of 1.00 g. The highest survival rate was observed in the lemongrass extract treatment, reaching 89%, while the lowest survival rate was recorded in the control treatment at 75.57%. In conclusion, ginger and lemongrass extracts have the potential to be used as natural phytobiotics to support the growth and survival of Nile tilapia. Their application may serve as an alternative strategy for promoting healthy, environmentally friendly, and sustainable aquaculture practices. ABSTRAK Budidaya ikan nila menghadapi berbagai tantangan, terutama dalam meningkatkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan secara berkelanjutan tanpa ketergantungan pada bahan kimia sintetis. Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah fitobiotik berbahan alami, seperti jahe (Zingiber officinale) dan daun sereh (Cymbopogon citratus), yang diketahui mengandung senyawa bioaktif berpotensi meningkatkan kesehatan dan performa pertumbuhan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kombinasi ekstrak jahe dan daun sereh sebagai fitobiotik terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan nila (Oreochromis niloticus). Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas empat perlakuan dan tiga ulangan, yaitu P0 (kontrol tanpa ekstrak), P1 (ekstrak jahe 5,63 g/kg pakan), P2 (ekstrak daun sereh 5,63 g/kg pakan), dan P3 (kombinasi ekstrak jahe 2,8 g/kg + ekstrak daun sereh 2,8 g/kg pakan). Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan panjang mutlak, pertambahan bobot mutlak, tingkat kelangsungan hidup (survival rate), serta kualitas air yang mencakup suhu, pH, dan oksigen terlarut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak jahe dan daun sereh memberikan pengaruh nyata (p<0,05) terhadap pertumbuhan panjang ikan nila, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap pertambahan bobot. Perlakuan kombinasi ekstrak jahe dan daun sereh menghasilkan pertumbuhan panjang tertinggi dengan rata-rata 5,25 cm dan pertambahan bobot sebesar 1,00 g. Sementara itu, tingkat kelangsungan hidup tertinggi diperoleh pada perlakuan ekstrak daun sereh sebesar 89%, sedangkan tingkat kelangsungan hidup terendah terdapat pada perlakuan kontrol sebesar 75,57%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan ekstrak jahe dan daun sereh berpotensi dimanfaatkan sebagai fitobiotik alami untuk mendukung pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan nila, sehingga dapat menjadi alternatif dalam pengembangan budidaya ikan yang sehat, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PRIORITAS PENGGUNAAN DANA DESA DALAM PROGRAM PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN UNTUK PENURUNAN STUNTING DI KECAMATAN RUMPIN Jayanti Merdeka Wati; Rita Rahmawati; Faisal Tri Ramdani
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.10420

Abstract

Stunting remains a major public health issue that requires the involvement of multiple sectors, including village governments through the effective utilization of Village Funds. Although the Supplementary Feeding Program (PMT) has been promoted as one of the key strategies for accelerating stunting reduction, the implementation of policies prioritizing Village Fund allocation for this program continues to face various challenges at the local level. This study aims to analyze the implementation of the Village Fund prioritization policy in the Supplementary Feeding Program (PMT) as an effort to reduce stunting in Rumpin District, Bogor Regency. A qualitative approach with a descriptive case study design was employed. Data were collected through interviews, observations, and documentation involving purposively selected informants. Data were analyzed using the Miles, Huberman, and Saldaña model and validated through source and technique triangulation. The analysis was based on Edward III’s policy implementation framework, which includes communication, resources, disposition, and bureaucratic structure. The findings indicate that the implementation of the Village Fund-based PMT policy has been carried out but has not yet achieved optimal results. Major challenges include uneven dissemination of information, limited human and financial resources, low community participation, and ineffective cross-sectoral coordination. On the other hand, implementers’ commitment and effective communication among stakeholders serve as supporting factors. The study highlights that successful stunting reduction policy implementation is strongly influenced by the quality of communication, adequacy of resources, commitment of implementers, and coordination effectiveness among stakeholders. The findings imply the need to strengthen the coordinating role of sub-district governments, optimize Village Fund utilization, and enhance community participation to support sustainable stunting reduction efforts. ABSTRAK Stunting masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang memerlukan keterlibatan berbagai sektor, termasuk pemerintah desa melalui optimalisasi penggunaan Dana Desa. Meskipun Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) telah menjadi salah satu strategi percepatan penurunan stunting, implementasi kebijakan prioritas penggunaan Dana Desa untuk program tersebut masih menghadapi berbagai tantangan pada tingkat pelaksanaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi kebijakan prioritas penggunaan Dana Desa dalam Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) sebagai upaya penurunan stunting di Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif dan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap informan yang dipilih secara purposive. Analisis data menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña dengan uji keabsahan melalui triangulasi sumber dan teknik. Analisis implementasi kebijakan mengacu pada teori Edward III yang meliputi aspek komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kebijakan PMT yang didanai Dana Desa telah berjalan, namun belum optimal. Permasalahan utama ditemukan pada penyampaian informasi yang belum merata, keterbatasan sumber daya manusia dan anggaran pendukung, rendahnya partisipasi masyarakat sasaran, serta koordinasi lintas sektor yang belum berjalan secara efektif. Di sisi lain, komitmen pelaksana dan dukungan komunikasi antaraktor menjadi faktor yang mendukung pelaksanaan program. Temuan penelitian menegaskan bahwa keberhasilan implementasi kebijakan penurunan stunting sangat dipengaruhi oleh kualitas komunikasi, kecukupan sumber daya, komitmen pelaksana, dan efektivitas koordinasi antar pemangku kepentingan. Implikasi penelitian menunjukkan perlunya penguatan peran pemerintah kecamatan dalam fungsi koordinasi, optimalisasi pemanfaatan Dana Desa, serta peningkatan partisipasi masyarakat guna mendukung percepatan penurunan stunting secara berkelanjutan.
NARASI LOKAL DAN MEMORI KOLEKTIF PEMBERONTAKAN KAHAR MUZAKKAR: STUDI KOMPARATIF PERSPEKTIF MASYARAKAT JENEPONTO DAN TAKALAR Nurul Musrifah; Irwansyah Irwansyah; Fauziah Fauziah; Nur Ika Sari; Serlina Febrianti; Said Hanafi; A. Tenri Rama Devi
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.11186

Abstract

ABSTRACT The Abdul Qahhar Mudzakkar movement represents one of the most significant historical events in South Sulawesi, leaving diverse memories among communities across different regions. This study aims to analyze the production and reproduction of collective memory regarding the movement through a comparative study of communities in Jeneponto Regency and Takalar Regency. The research employed a qualitative approach with a comparative case study design grounded in the constructivist-interpretivist paradigm. Data were collected through oral history interviews with community leaders, historical actors, and subsequent generations who inherited narratives about the DI/TII movement, supported by relevant literature and historical documents. The research process involved data collection, data reduction, thematic categorization, narrative interpretation, and comparison of collective memory constructions across the two regions. The findings reveal that collective memory of Abdul Qahhar Mudzakkar is not singular but is shaped by social experiences, generational positions, and local contexts. The people of Jeneponto Regency tend to portray Kahar as a rebel associated with violence and social suffering, whereas the people of Takalar Regency exhibit a more ambivalent memory characterized by a combination of fear and sympathy influenced by narratives of religious struggle. Furthermore, experiences of pressure from both the DI/TII movement and state security forces contributed to the formation of collective trauma transmitted across generations. This study concludes that remembrance, forgetting, and the reproduction of historical narratives are products of dynamic social construction. The novelty of this research lies in its comparative analysis of collective memory in two regions with distinct historical experiences, thereby contributing to the development of collective memory and oral history studies within the context of Indonesian local history. ABSTRAK Gerakan Abdul Qahhar Mudzakkar merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Sulawesi Selatan yang meninggalkan jejak memori yang berbeda pada masyarakat di berbagai wilayah. Penelitian ini bertujuan menganalisis produksi dan reproduksi memori kolektif masyarakat terhadap gerakan tersebut melalui studi komparatif di Kabupaten Jeneponto dan Kabupaten Takalar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus komparatif berlandaskan paradigma konstruktivis-interpretivis. Data dikumpulkan melalui wawancara sejarah lisan terhadap tokoh masyarakat, pelaku sejarah, dan generasi penerus yang mewarisi narasi tentang gerakan DI/TII, serta didukung kajian literatur dan dokumen historis. Tahapan penelitian meliputi pengumpulan data, reduksi data, kategorisasi tema, interpretasi narasi, dan perbandingan konstruksi memori pada kedua wilayah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memori kolektif mengenai Abdul Qahhar Mudzakkar tidak bersifat tunggal, melainkan dibentuk oleh pengalaman sosial, posisi generasi, dan konteks lokal. Masyarakat Kabupaten Jeneponto cenderung merepresentasikan Kahar sebagai pemberontak yang identik dengan kekerasan dan penderitaan sosial, sedangkan masyarakat Kabupaten Takalar menampilkan memori yang lebih ambivalen karena adanya perpaduan antara rasa takut dan simpati yang dipengaruhi narasi perjuangan berbasis agama. Selain itu, pengalaman tekanan dari kelompok DI/TII maupun aparat negara membentuk trauma kolektif yang diwariskan antargenerasi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ingatan, pelupaan, dan reproduksi narasi sejarah merupakan hasil konstruksi sosial yang dinamis. Kebaruan penelitian terletak pada analisis komparatif memori kolektif di dua wilayah dengan pengalaman historis berbeda, sehingga memperkaya kajian memori kolektif dan sejarah lisan dalam konteks sejarah lokal Indonesia.
GERAKAN KAHAR MUZAKAKKAR DALAM INGATAN KOLEKTIF MASYARAKAT: TRAUMA SOSIAL DAN PEMBENTUKAN IDENTITAS DI BULUKUMBA- SINJAI M. Alham Afdal Daeng Matanre; Etti Herawati; Aulia Nur Afina; Siti Nur Khalisa; Rizka Rizka; A. Muh Fiqri La Ali Akbar; Wafiq Nurul Azizah
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.11187

Abstract

ABSTRACT The Kahar Muzakkar movement is one of the significant events in the history of South Sulawesi that not only left political legacies but also shaped social memories that continue to be transmitted across generations. This study aims to analyze how communities in Bulukumba and Sinjai construct collective memory regarding the Kahar Muzakkar movement and how experiences of conflict have shaped social trauma and collective identity within local communities. The research employs a qualitative method with an oral history approach. Data were collected through in-depth interviews with informants who directly experienced or inherited stories about the Kahar Muzakkar movement, supported by historical archives and relevant scholarly literature. The data were analyzed through processes of reduction, categorization, interpretation, and conclusion drawing to identify patterns in the production and reproduction of collective memory. The findings reveal that collective memory is formed through family narratives, oral traditions, and community experiences that preserve memories of fear, loss, restrictions on social activities, and pressures from both armed groups and state security forces. In Bulukumba, collective memory is predominantly characterized by experiences of trauma and insecurity, whereas in Sinjai more diverse memories emerge, including interpretations related to struggle and religious identity. These findings demonstrate that collective memory does not merely record past events but also shapes how communities understand history, power relations, and their social identities. This study concludes that the Kahar Muzakkar movement continues to exist within the social memory structure of local communities and contributes to the development of studies on collective memory, social trauma, and oral history in Indonesia. ABSTRAK Gerakan Kahar Muzakkar merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Sulawesi Selatan yang tidak hanya meninggalkan jejak politik, tetapi juga membentuk ingatan sosial masyarakat yang terus diwariskan antargenerasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana masyarakat Bulukumba dan Sinjai membangun memori kolektif mengenai gerakan Kahar Muzakkar serta bagaimana pengalaman konflik tersebut membentuk trauma sosial dan identitas kolektif masyarakat lokal. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan sejarah lisan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap informan yang mengalami langsung maupun mewarisi cerita tentang masa gerakan Kahar Muzakkar, serta didukung oleh arsip sejarah dan literatur ilmiah yang relevan. Data dianalisis melalui proses reduksi, kategorisasi, interpretasi, dan penarikan kesimpulan untuk mengidentifikasi pola produksi dan reproduksi memori kolektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memori kolektif masyarakat terbentuk melalui narasi keluarga, cerita lisan, dan pengalaman komunitas yang merekam ketakutan, kehilangan, pembatasan aktivitas sosial, serta tekanan dari kelompok bersenjata maupun aparat negara. Di Bulukumba, memori kolektif lebih didominasi oleh pengalaman trauma dan ketidakamanan, sedangkan di Sinjai berkembang memori yang lebih beragam, termasuk pemaknaan terhadap aspek perjuangan dan identitas keagamaan. Temuan ini menunjukkan bahwa memori kolektif tidak sekadar merekam peristiwa masa lalu, tetapi juga membentuk cara masyarakat memahami sejarah, relasi kekuasaan, dan identitas mereka. Penelitian ini menegaskan bahwa gerakan Kahar Muzakkar terus hidup dalam struktur memori sosial masyarakat dan memberikan kontribusi pada pengembangan kajian memori kolektif, trauma sosial, dan sejarah lisan di Indonesia.
KARAKTERISTIK BRIKET DARI LIMBAH KULIT BIJI JAMBU METE (Anacardium occidentale) DENGAN PEREKAT CASHEW NUT SHELL LIQUID (CNSL) Muhamad Chalvin Pratama; Abraham Rahman; Rahmanpiu Rahmanpiu
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.11188

Abstract

ABSTRACT This study aimed to analyze the characteristics of charcoal briquettes produced from cashew nut shell waste (Anacardium occidentale) using Cashew Nut Shell Liquid (CNSL) as a binder. The research was conducted experimentally using three binder compositions: A (25 g charcoal : 15 mL CNSL), B (25 g charcoal : 20 mL CNSL), and C (25 g charcoal : 25 mL CNSL), with each treatment replicated three times. Cashew nut shells were carbonized through a pyrolysis process, mixed with CNSL binder, and molded into briquettes. The briquettes were characterized based on moisture content, ash content, volatile matter, fixed carbon, calorific value, density, and burning rate. The results showed that increasing the amount of CNSL binder increased moisture content, ash content, volatile matter, and density, while decreasing fixed carbon and calorific value. The moisture content values were 9.21%, 9.62%, and 13.07%, respectively; ash content was 4.31%, 6.40%, and 7.23%; volatile matter ranged from 15.36% to 21.89%; and fixed carbon decreased from 70.71% to 57.81%. The highest calorific value was obtained in treatment A, reaching 5,928 cal/g. Based on the overall parameters evaluated, treatment A produced the best briquette characteristics. The findings indicate that CNSL has potential as a binder for biomass briquettes; however, several parameters, particularly moisture content, volatile matter, and calorific value in some treatments, did not fully comply with the requirements of SNI 01-6235-2000. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik briket arang dari limbah kulit biji jambu mete (Anacardium occidentale) dengan menggunakan perekat Cashew Nut Shell Liquid (CNSL). Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan tiga variasi komposisi perekat, yaitu A (25 g arang : 15 mL CNSL), B (25 g arang : 20 mL CNSL), dan C (25 g arang : 25 mL CNSL), dengan masing-masing perlakuan dilakukan tiga kali ulangan. Kulit biji jambu mete dikarbonisasi melalui metode pirolisis, kemudian dicampur dengan perekat CNSL dan dicetak menjadi briket. Karakteristik yang diuji meliputi kadar air, kadar abu, kadar zat terbang, kadar karbon terikat, nilai kalor, kerapatan, dan laju pembakaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan jumlah perekat CNSL meningkatkan kadar air, kadar abu, kadar zat terbang, dan kerapatan briket, tetapi menurunkan kadar karbon terikat dan nilai kalor. Nilai kadar air berturut-turut sebesar 9,21%; 9,62%; dan 13,07%, kadar abu 4,31%; 6,40%; dan 7,23%, kadar zat terbang 15,36%–21,89%, serta kadar karbon terikat 70,71%–57,81%. Nilai kalor tertinggi diperoleh pada perlakuan A sebesar 5.928 kal/g. Berdasarkan keseluruhan parameter, perlakuan A menghasilkan karakteristik briket terbaik. CNSL berpotensi digunakan sebagai perekat briket biomassa, meskipun beberapa parameter, terutama kadar air, kadar zat terbang, dan nilai kalor pada beberapa perlakuan, belum sepenuhnya memenuhi standar SNI 01-6235-2000.
MEMORI KOLEKTIF MASYARAKAT SULAWESI SELATAN TENTANG GERAKAN KAHAR MUZAKKAR: KAJIAN BERBASIS WAWANCARA LINTAS GENERASI DAN LATAR SOSIAL Elfrida Febriani Sastri; Novita Zuliyasti; Naila Nur Fadillah; Arma Barek Wotan; Kay Ilonka
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.11229

Abstract

ABSTRACT The Kahar Muzakkar movement in South Sulawesi was not only part of Indonesia’s post-independence political history but also left a legacy of memory that continues to live within society through various forms of social transmission. This study aims to analyze how collective memory regarding the Kahar Muzakkar movement is constructed, maintained, and interpreted in the social life of the people of South Sulawesi. The research employed a qualitative approach using the oral history method. Data were collected through in-depth interviews with five informants selected purposively based on their direct experiences or knowledge acquired through inherited stories about the Kahar Muzakkar movement, supported by relevant historical documents and literature. The data were analyzed descriptively and interpretively through data reduction, thematic categorization, and meaning interpretation to identify patterns in the formation of collective memory. The findings reveal that collective memory is preserved through three main channels: oral narratives within families, historical knowledge obtained through education and literature, and socio-political discourses circulating within society. The inherited memories are dominated by emotional aspects, particularly feelings of fear, insecurity, and social uncertainty, rather than detailed ideological understandings of the movement. Beyond functioning as a repository of historical experiences, collective memory also shapes how communities interpret conflict, power, and social identity. This study concludes that memories of the Kahar Muzakkar movement continue to be reproduced through intergenerational interactions and play an important role in shaping historical consciousness and social identity, while also serving as a reminder of the importance of national unity and peaceful conflict resolution. ABSTRAK Konflik gerakan Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan tidak hanya menjadi bagian dari sejarah politik Indonesia pascakemerdekaan, tetapi juga meninggalkan jejak memori yang terus hidup dalam masyarakat melalui berbagai bentuk pewarisan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana memori kolektif masyarakat mengenai gerakan Kahar Muzakkar terbentuk, dipertahankan, dan dimaknai dalam kehidupan sosial masyarakat Sulawesi Selatan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode sejarah lisan (oral history). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap lima informan yang dipilih secara purposive berdasarkan pengalaman langsung maupun pengetahuan yang diperoleh melalui pewarisan cerita mengenai gerakan Kahar Muzakkar, serta didukung oleh kajian literatur dan dokumentasi sejarah yang relevan. Data dianalisis secara deskriptif-interpretatif melalui proses reduksi data, kategorisasi tema, dan penafsiran makna untuk mengidentifikasi pola pembentukan memori kolektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memori kolektif masyarakat dipertahankan melalui tiga saluran utama, yaitu cerita lisan dalam keluarga, pengetahuan sejarah yang diperoleh dari pendidikan dan literatur, serta diskursus sosial-politik yang berkembang di masyarakat. Ingatan yang diwariskan lebih didominasi oleh aspek emosional berupa rasa takut, ketidakamanan, dan ketidakpastian sosial dibandingkan pemahaman ideologis mengenai gerakan tersebut. Selain berfungsi sebagai penyimpan pengalaman sejarah, memori kolektif juga membentuk cara masyarakat memaknai konflik, kekuasaan, dan identitas sosial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa memori mengenai gerakan Kahar Muzakkar terus direproduksi melalui interaksi antargenerasi dan berperan dalam membentuk kesadaran sejarah serta identitas sosial masyarakat, sekaligus menjadi pengingat pentingnya persatuan nasional dan penyelesaian konflik secara damai.
MEMORI KOLEKTIF MASYARAKAT TERHADAP PERISTIWA KAHAR MUZAKKAR: STUDI BERDASARKAN WAWANCARA LINTAS WILAYAH Citra Glorya Pongdatu; Farah Fadia Faisal; Andi Rahmadani; Aurelie Indyta Chrisvani; Ribka Paseno; Sulfianti Sulfianti; Mutiara Devi
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.11230

Abstract

ABSTRACT The Kahar Muzakkar movement represents one of Indonesia's major post-independence conflicts that not only left significant political and military legacies but also shaped the collective memory of communities across various regions of Sulawesi. However, existing studies on this event have largely been dominated by political and official historical perspectives, while community experiences preserved through oral narratives have received relatively limited scholarly attention. This study aims to analyze how communities remember, interpret, and transmit memories of the Kahar Muzakkar conflict through an oral history approach. The study employed a descriptive qualitative method using an oral history approach. Data were collected through in-depth interviews with purposively selected informants aged 65 years and above from Palopo, East Luwu, Mamuju, and Southeast Sulawesi. The findings reveal that collective memory is a social construct shaped by lived experiences, oral traditions, and socio-cultural contexts. The study identified two forms of memory: direct memory derived from personal experiences and indirect memory transmitted through family members and the surrounding social environment. Furthermore, geographical proximity to the conflict area was found to influence the characteristics of collective memory. Communities located closer to the conflict zone tended to retain more concrete recollections, whereas those living farther away developed narratives that were more ambiguous and intertwined with mythical elements. These findings demonstrate that oral history is an effective approach for uncovering community experiences that are insufficiently documented in written historical sources and for enriching the study of social history and collective memory in Indonesia. ABSTRAK Peristiwa Kahar Muzakkar merupakan salah satu konflik pascakemerdekaan yang tidak hanya meninggalkan jejak politik dan militer, tetapi juga membentuk memori kolektif masyarakat di berbagai wilayah Sulawesi. Namun, kajian mengenai peristiwa ini masih didominasi oleh perspektif politik dan sejarah resmi, sementara pengalaman masyarakat melalui narasi lisan masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana masyarakat mengingat, menafsirkan, dan mewariskan memori mengenai peristiwa Kahar Muzakkar melalui pendekatan sejarah lisan. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan sejarah lisan. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap informan berusia 65 tahun ke atas yang dipilih secara purposive dari Palopo, Luwu Timur, Mamuju, dan Sulawesi Tenggara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memori masyarakat merupakan konstruksi sosial yang dibentuk oleh pengalaman hidup, tradisi lisan, dan konteks sosial budaya. Penelitian mengidentifikasi dua bentuk memori, yaitu memori langsung yang berasal dari pengalaman pribadi dan memori tidak langsung yang diwariskan melalui keluarga maupun lingkungan sosial. Selain itu, ditemukan bahwa kedekatan geografis dengan wilayah konflik memengaruhi karakter memori masyarakat, di mana wilayah yang lebih dekat memiliki ingatan yang lebih konkret, sedangkan wilayah yang lebih jauh cenderung membangun narasi yang lebih samar dan bercampur dengan unsur mitos. Temuan ini menunjukkan bahwa sejarah lisan mampu mengungkap pengalaman masyarakat yang tidak banyak terdokumentasi dalam sumber sejarah tertulis serta memperkaya kajian sejarah sosial dan memori kolektif di Indonesia.