cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB Principal Contact: Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd. (085239967417) Technical Support Contact: Randi Pratama M., M.Pd. (085781267181) Email: jurnalp4i@gmail.com
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
CENDEKIA : Jurnal Ilmu Pengetahuan
ISSN : 27748030     EISSN : 27744183     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 784 Documents
PERAN MEDIASI DIGITAL STRESS PADA HUBUNGAN BEBAN KERJA DAN WORK ENGAGEMENT KARYAWAN GENERASI Z DI INDONESIA Louisa Quena Yuren; Zamralita Zamralita; Reza Fahlevi
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i4.14796

Abstract

This study examined the effect of workload on work engagement among Generation Z employees in Indonesia and investigated the mediating role of digital stress. The increasing integration of digital technology in the workplace has created new challenges for Generation Z employees, making it important to understand how workload and technology-related stress influence their engagement at work. This study employed a quantitative explanatory design involving 154 Generation Z employees selected through convenience sampling. Data were collected using the Maslach Burnout Inventory–General Survey (MBI-GS), the Technostress Creators Scale, and the modified Indonesian version of the Utrecht Work Engagement Scale (UWES-9). The study analyzed the data using mediation regression analysis. The results showed that workload positively and significantly predicted digital stress, while digital stress negatively and significantly predicted work engagement. Workload also had a significant negative direct effect on work engagement. Furthermore, digital stress significantly mediated the relationship between workload and work engagement, indicating partial mediation. These findings suggest that excessive workload not only reduces work engagement directly but also increases digital stress, which further weakens employees’ engagement. Organizations should therefore manage workload and minimize technology-related stress to maintain and improve work engagement among Generation Z employees. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran beban kerja terhadap work engagement pada karyawan Generasi Z di Indonesia dengan digital stress sebagai variabel mediasi. Perkembangan teknologi digital dalam dunia kerja menghadirkan tantangan baru bagi Generasi Z yang sehari-harinya bergantung pada penggunaan teknologi dalam menyelesaikan pekerjaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatif dengan melibatkan 154 karyawan Generasi Z di Indonesia yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner menggunakan Maslach Burnout Inventory–General Survey (MBI-GS), Technostress Creators Scale, dan Utrecht Work Engagement Scale (UWES-9) versi modifikasi Indonesia. Analisis data dilakukan menggunakan uji regresi mediasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beban kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap digital stress, sedangkan digital stress berpengaruh negatif dan signifikan terhadap work engagement. Selain itu, beban kerja juga berpengaruh negatif secara langsung terhadap work engagement. Hasil analisis mediasi menunjukkan bahwa digital stress memediasi secara parsial pengaruh beban kerja terhadap work engagement. Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan beban kerja tidak hanya menurunkan keterlibatan kerja secara langsung, tetapi juga meningkatkan digital stress yang pada akhirnya semakin menurunkan work engagement pada karyawan Generasi Z.    
PENGARUH KETERHUBUNGAN SOSIAL TERHADAP KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS PADA PENGGEMAR K-POP Askhiya Najwa Syahida; Gladis Corinna Marsha; Rizqi Amalia Aprianty
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i4.14856

Abstract

ABSTRACT Social connectedness is an important aspect in understanding the psychological well-being of K-Pop fans because fandom activities provide opportunities for individuals to interact and develop social bonds. This study aimed to examine the relationship between social connectedness and psychological well-being among K-Pop fans in Banjarmasin. A quantitative approach with a correlational design was employed, involving 100 K-Pop fans selected using purposive sampling. Data were collected using social connectedness and psychological well-being scales and analyzed using JASP version 0.97.1 through the Pearson correlation test and simple linear regression. The results indicated a positive and significant relationship between social connectedness and psychological well-being, with r = 0.69 and p < 0.01. The regression analysis yielded an R² value of 0.47, indicating that social connectedness accounted for 47% of the variance in psychological well-being within the research model. These findings indicate that K-Pop fans with higher levels of social connectedness tend to have higher levels of psychological well-being. The findings emphasize the importance of the social dimension in understanding the psychological well-being of K-Pop fans, while also indicating that other factors beyond the research model are associated with variations in psychological well-being. ABSTRAK Keterhubungan sosial menjadi salah satu aspek penting dalam memahami kesejahteraan psikologis penggemar K-Pop karena aktivitas fandom menyediakan ruang bagi individu untuk berinteraksi dan membangun keterikatan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara keterhubungan sosial dan kesejahteraan psikologis pada penggemar K-Pop di Banjarmasin. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional yang melibatkan 100 penggemar K-Pop yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala keterhubungan sosial dan skala kesejahteraan psikologis, kemudian dianalisis menggunakan JASP versi 0.97.1 melalui uji korelasi Pearson dan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara keterhubungan sosial dan kesejahteraan psikologis dengan nilai r = 0,69 dan p < 0,01. Hasil regresi menunjukkan nilai R² = 0,47, yang berarti keterhubungan sosial menjelaskan 47% variasi kesejahteraan psikologis dalam model penelitian. Temuan tersebut menunjukkan bahwa penggemar K-Pop dengan keterhubungan sosial yang lebih tinggi cenderung memiliki kesejahteraan psikologis yang lebih tinggi. Hasil penelitian menegaskan pentingnya dimensi sosial dalam memahami kesejahteraan psikologis penggemar K-Pop, sekaligus menunjukkan adanya faktor lain di luar model yang turut berkaitan dengan kesejahteraan psikologis.
THE ROLE OF POLITENESS STRATEGIES IN DEVELOPING PRAGMATIC COMPETENCE AMONG INDONESIAN EFL LEARNERS An Marsanda Rahayu; Khesya Almira Gianinna; Aidil Syah Putra
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i4.14930

Abstract

ABSTRACT Indonesian EFL learners may demonstrate adequate grammatical knowledge while still experiencing difficulties in using English appropriately across different social and cultural contexts. This condition highlights the need to strengthen pragmatic competence, particularly through an understanding of politeness strategies in communication. This study aims to analyze the role of politeness strategies in developing English pragmatic competence among Indonesian EFL learners. A qualitative library research design was employed by synthesizing 30 relevant scholarly sources, primarily published between 2021 and 2026. The literature was analyzed thematically to identify recurring findings concerning pragmatic awareness, speech-act performance, contextual appropriateness, and sociocultural aspects of communication. The findings indicate that politeness strategies contribute to learners’ pragmatic awareness, support appropriate speech-act performance, and facilitate the adaptation of language to interpersonal contexts. The novelty of this study lies in providing an integrated synthesis that connects politeness strategies, speech-act performance, and sociocultural awareness as interrelated dimensions of pragmatic competence development among Indonesian EFL learners. The review also identifies first-language transfer, limited exposure to authentic English communication, grammar-oriented instruction, and insufficient sociocultural awareness as major challenges. These findings emphasize the importance of integrating pragmatic instruction, authentic materials, and communicative activities into English language teaching to support learners’ effective and contextually appropriate communication. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya kemampuan peserta didik EFL dalam menggunakan bahasa Inggris secara tepat sesuai konteks sosial dan budaya, meskipun penguasaan aspek gramatikal telah menjadi bagian utama dalam pembelajaran bahasa. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengembangan kompetensi pragmatik, khususnya melalui pemahaman strategi kesantunan dalam penggunaan bahasa. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran strategi kesantunan dalam mengembangkan kompetensi pragmatik bahasa Inggris pada pembelajar EFL di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain library research melalui sintesis 30 sumber ilmiah yang relevan dan terutama diterbitkan pada periode 2021–2026. Analisis dilakukan secara tematik untuk mengidentifikasi pola temuan mengenai kesadaran pragmatik, tindak tutur, kesesuaian kontekstual, serta aspek sosial dan budaya dalam komunikasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa strategi kesantunan berperan dalam meningkatkan kesadaran pragmatik, membantu pembelajar melakukan tindak tutur secara tepat, dan menyesuaikan penggunaan bahasa dengan konteks interpersonal. Kebaruan penelitian ini terletak pada sintesis terpadu yang menghubungkan strategi kesantunan, performa tindak tutur, dan kesadaran sosiokultural sebagai bagian yang saling berkaitan dalam pengembangan kompetensi pragmatik pembelajar EFL Indonesia. Kajian juga mengidentifikasi transfer bahasa pertama, keterbatasan paparan terhadap komunikasi autentik, pembelajaran yang berorientasi pada tata bahasa, dan rendahnya kesadaran sosiokultural sebagai tantangan utama. Temuan ini menegaskan perlunya integrasi pembelajaran pragmatik, materi autentik, dan aktivitas komunikatif dalam pengajaran bahasa Inggris.
PENGARUH DISKON FLASH SALE DAN RATING TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN MAHASISWA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS PADA MARKETPLACE SHOPEE Elling Dimbolong; Aneke A. Salam; Febriyanti M.L. Rattu
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i4.14931

Abstract

ABSTRACT Consumer purchasing decisions on the Shopee marketplace are influenced by various marketing stimuli, including flash sale discounts and product ratings. This study aimed to examine the partial and simultaneous effects of flash sale discounts and ratings on the purchasing decisions of students majoring in Economic Education at the Faculty of Economics and Business, Universitas Negeri Manado, on the Shopee marketplace. This study employed a quantitative approach with a survey design. The population consisted of 50 Economic Education students from the 2022 cohort, with a sample of 44 respondents determined using the Slovin formula at a 5% margin of error and selected through simple random sampling. Data were collected using a five-point Likert-scale questionnaire that had met validity and reliability requirements and were analyzed using multiple linear regression with SPSS. The results showed that flash sale discounts significantly affected purchasing decisions, with a t-value of 10.453 > t-table value of 2.019, while ratings also had a significant effect, with a t-value of 4.059 > t-table value of 2.019. Simultaneously, both variables had a significant effect, with an F-value of 317.026 > F-table value of 3.23 and an Adjusted R² of 0.936, indicating that 93.6% of the variation in purchasing decisions was explained by the research model. These findings indicate that the combination of flash sale discounts and product ratings can support increased purchasing decisions among students on the Shopee marketplace. ABSTRAK Keputusan pembelian konsumen pada marketplace Shopee dipengaruhi oleh berbagai stimulus pemasaran, termasuk diskon flash sale dan rating produk. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh diskon flash sale dan rating secara parsial maupun simultan terhadap keputusan pembelian mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Manado pada marketplace Shopee. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei. Populasi penelitian berjumlah 50 mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi angkatan 2022, dengan sampel 44 responden yang ditentukan menggunakan rumus Slovin pada taraf kesalahan 5% dan dipilih melalui teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner berskala Likert yang telah memenuhi uji validitas dan reliabilitas, kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diskon flash sale berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian dengan nilai t hitung 10,453 > t tabel 2,019, sedangkan rating berpengaruh signifikan dengan nilai t hitung 4,059 > t tabel 2,019. Secara simultan, kedua variabel berpengaruh signifikan dengan nilai F hitung 317,026 > F tabel 3,23 dan Adjusted R² sebesar 0,936, yang menunjukkan bahwa 93,6% variasi keputusan pembelian dijelaskan oleh model penelitian. Temuan ini menunjukkan bahwa kombinasi diskon flash sale dan rating dapat mendukung peningkatan keputusan pembelian mahasiswa pada marketplace Shopee. penting dalam membentuk keputusan pembelian mahasiswa pada marketplace Shopee.
PENGARUH REWARD DAN PUNISHMENT TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA CV. EDDIE PRODUCTION DI KABUPATEN BANDUNG BARAT Moh. Aep Nurjamad; Rina Rianti; Ayi Muhiban
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i4.14934

Abstract

ABSTRACT Increasingly intense industrial competition requires companies to optimize employee performance through effective human resource management. One approach is the implementation of reward and punishment as instruments to encourage employee behavior that aligns with organizational objectives. This study aims to analyze the effects of reward and punishment on employee performance at CV. Eddie Production in West Bandung Regency. The study employed a quantitative approach with an associative method and involved 94 respondents selected through simple random sampling. Data were collected using questionnaires and analyzed using multiple linear regression, t-test, F-test, and the coefficient of determination. The results showed that reward had a positive and significant effect on employee performance (t = 9.333; p < 0.001), while punishment also had a positive and significant effect (t = 7.567; p < 0.001). Simultaneously, reward and punishment had a significant effect on employee performance, with the model explaining 80.5% of the variance in performance. These findings indicate that the appropriate implementation of reward and punishment can play an important role in improving employee performance. The findings provide practical considerations for the management of CV. Eddie Production in developing a fair, consistent, and performance-oriented system of rewards and sanctions. ABSTRAK Persaingan industri yang semakin tinggi menuntut perusahaan untuk mengoptimalkan kinerja karyawan melalui pengelolaan sumber daya manusia yang tepat. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah penerapan reward dan punishment sebagai instrumen untuk mendorong perilaku kerja yang sesuai dengan tujuan organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh reward dan punishment terhadap kinerja karyawan pada CV. Eddie Production di Kabupaten Bandung Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode asosiatif dan melibatkan 94 responden yang dipilih melalui simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis dengan regresi linear berganda, uji t, uji F, serta koefisien determinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reward berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan (t = 9,333; p < 0,001), sedangkan punishment juga berpengaruh positif dan signifikan (t = 7,567; p < 0,001). Secara simultan, reward dan punishment berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan, dengan model mampu menjelaskan 80,5% variasi kinerja. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan reward dan punishment yang tepat dapat menjadi bagian penting dalam meningkatkan kinerja karyawan. Hasil penelitian dapat menjadi pertimbangan bagi manajemen CV. Eddie Production dalam mengembangkan sistem penghargaan dan sanksi yang adil, konsisten, dan sesuai dengan kontribusi serta perilaku kerja karyawan.
MANAJEMEN WAKTU DAN SELF-REGULATED LEARNING: STUDI KORELASIONAL PADA MAHASISWA DALAM PERKULIAHAN METODE STATISTIK Farah Nadira Noer; Annissa Novalinda Al-Mi’raj; Bella Kharisma; Rezki Diwanti Suci Lestari
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i4.15035

Abstract

Self-Regulated Learning (SRL) refers to students’ ability in higher education to actively direct their learning processes through planning, monitoring, controlling, and evaluating learning strategies. Time management is an important aspect of learning regulation, particularly in learning contexts that require continuous management of tasks and practice activities. This study aimed to describe the levels of time management and SRL and to analyze the relationship between the two among students enrolled in a Statistics Methods course. The study employed a quantitative correlational design with a cross-sectional approach. The participants consisted of 53 students from the Textile Chemistry Study Program at Politeknik STTT Bandung, selected from a population of 86 students using voluntary response sampling. Data were collected through an online questionnaire administered at the end of the semester after the final examination, using a 4-point Likert scale consisting of 2 time-management items and 13 SRL items. The analysis included descriptive statistics, Pearson correlation, and Spearman correlation as a sensitivity analysis. The results showed that time management (M = 3.04; Md = 3.00; SD = 0.41) and SRL (M = 3.12; Md = 3.08; SD = 0.32) were both in the high category. Pearson correlation indicated a positive relationship between time management and SRL with a large effect size (r = 0.68; p < 0.001; 95% CI [0.51, 0.80]), while Spearman correlation also showed a significant positive relationship (ρ = 0.58; p < 0.001). The findings indicate that students with higher time-management scores tend to have higher SRL scores, without implying a causal relationship. The study highlights the importance of strengthening time management and learning regulation in statistics learning, particularly through time planning, progress monitoring, and distraction control. ABSTRAK Self-Regulated Learning (SRL) merupakan kemampuan mahasiswa dalam pendidikan tinggi untuk secara aktif mengarahkan proses belajarnya melalui perencanaan, pemantauan, pengendalian, dan evaluasi strategi belajar. Manajemen waktu merupakan salah satu aspek regulasi belajar yang penting, khususnya pada pembelajaran yang menuntut pengelolaan tugas dan latihan secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tingkat manajemen waktu dan SRL serta menganalisis hubungan antara keduanya pada mahasiswa dalam perkuliahan Metode Statistik. Penelitian menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan potong lintang. Partisipan terdiri atas 53 mahasiswa Program Studi Kimia Tekstil, Politeknik STTT Bandung, yang dipilih dari populasi 86 mahasiswa menggunakan teknik voluntary response sampling. Data dikumpulkan melalui angket daring pada akhir semester setelah Ujian Akhir Semester menggunakan skala Likert 1–4, terdiri atas 2 item manajemen waktu dan 13 item SRL. Analisis mencakup statistik deskriptif, korelasi Pearson, dan korelasi Spearman sebagai analisis sensitivitas. Hasil menunjukkan bahwa manajemen waktu (M = 3,04; Md = 3,00; SD = 0,41) dan SRL (M = 3,12; Md = 3,08; SD = 0,32) berada pada kategori tinggi. Korelasi Pearson menunjukkan hubungan positif antara manajemen waktu dan SRL dengan efek besar (r = 0,68; p < 0,001; 95% CI [0,51; 0,80]), sedangkan korelasi Spearman juga menunjukkan hubungan positif yang signifikan (ρ = 0,58; p < 0,001). Temuan menunjukkan bahwa mahasiswa dengan skor manajemen waktu lebih tinggi cenderung memiliki SRL yang lebih tinggi, tanpa mengindikasikan hubungan sebab-akibat. Implikasi penelitian menekankan pentingnya penguatan manajemen waktu dan regulasi belajar dalam pembelajaran statistik, terutama melalui perencanaan waktu, pemantauan progres, dan pengendalian distraksi.
PENGARUH LITERASI KEUANGAN, PENERAPAN PENCATATAN AKUNTANSI, DAN PENGGUNAAN FINANCIAL TECHNOLOGY TERHADAP KINERJA KEUANGAN UMKM KECAMATAN MAJALAYA Naomi Yesika Simanjuntak; Lilis Lasmini; Dian Purwandari
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i4.15075

Abstract

Effective financial management is an important factor in maintaining the sustainability and improving the performance of Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs), particularly amid the increasing digitalization of business activities. However, the utilization of financial knowledge, accounting records, and financial technology may not produce the same outcomes across different MSME contexts, highlighting the need for empirical investigation in specific local settings. This study aims to analyze the effects of financial literacy, accounting record implementation, and financial technology use on the financial performance of MSMEs in Majalaya District. A quantitative approach with a survey method was employed involving 138 MSME owners selected through purposive sampling. Data were collected using questionnaires and analyzed using Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) with SmartPLS 4.0. The results show that financial technology use has a positive and significant effect on MSME financial performance, with a path coefficient of 0.559, a t-statistic of 13.204, and a p-value of 0.000. Financial literacy does not have a significant effect on financial performance, as indicated by a path coefficient of -0.043, a t-statistic of 0.337, and a p-value of 0.736. Meanwhile, accounting record implementation has a significant negative effect on financial performance, with a path coefficient of -0.244, a t-statistic of 3.232, and a p-value of 0.001. The R-square value of 0.407 indicates that the three independent variables explain 40.7% of the variance in MSME financial performance, while the remaining 59.3% is explained by other factors outside the model. These findings indicate that financial technology use is the most dominant factor in explaining MSME financial performance in Majalaya District. From the Resource-Based View (RBV) perspective, financial technology can be regarded as a strategically valuable technology-based resource that supports transaction efficiency and MSME financial performance. ABSTRAK Pengelolaan keuangan yang efektif menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan dan meningkatkan kinerja Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), terutama di tengah tuntutan digitalisasi kegiatan usaha. Namun, pemanfaatan pengetahuan keuangan, pencatatan akuntansi, dan teknologi keuangan belum tentu memberikan dampak yang sama pada setiap konteks UMKM, sehingga diperlukan pengujian empiris pada wilayah tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh literasi keuangan, penerapan pencatatan akuntansi, dan penggunaan financial technology terhadap kinerja keuangan UMKM di Kecamatan Majalaya. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 138 pelaku UMKM yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan bantuan SmartPLS 4.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan financial technology berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keuangan UMKM dengan koefisien jalur sebesar 0,559, t-statistic sebesar 13,204, dan p-value sebesar 0,000. Literasi keuangan tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan dengan koefisien jalur sebesar -0,043, t-statistic sebesar 0,337, dan p-value sebesar 0,736. Sementara itu, penerapan pencatatan akuntansi berpengaruh signifikan dengan arah negatif terhadap kinerja keuangan, dengan koefisien jalur sebesar -0,244, t-statistic sebesar 3,232, dan p-value sebesar 0,001. Nilai R-square sebesar 0,407 menunjukkan bahwa ketiga variabel independen menjelaskan 40,7% variasi kinerja keuangan UMKM, sedangkan 59,3% dijelaskan oleh faktor lain di luar model. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan financial technology merupakan faktor yang paling dominan dalam menjelaskan kinerja keuangan UMKM di Kecamatan Majalaya. Dalam perspektif Resource-Based View (RBV), financial technology dapat dipandang sebagai sumber daya berbasis teknologi yang bernilai strategis dalam mendukung efisiensi transaksi dan kinerja keuangan UMKM.
KAJIAN BENTUK MOTIF FLORA DAN FAUNA PADA BATIK BOMBA DI KOTA PALU PROVINSI SULAWESI TENGAH Almenda Gavrilla Baideng; Jans G. Magare
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i4.15091

Abstract

Batik is one of Indonesia's cultural heritage that has aesthetic and philosophical value. One form of batik wealth outside Java Island is Batik Bomba which developed in Palu City, Central Sulawesi Province. This research aims to identify the types of flora and fauna motifs in Batik Bomba, describe its visual form, analyze the application of design principles, and examine the meaning contained in it. This study uses a qualitative method with a descriptive approach. Data were obtained through observation, interviews, documentation, and literature studies involving six informants who were purposively selected based on their knowledge, experience, and involvement in Batik Bomba as well as an understanding of the meaning of local motifs and culture in Central Sulawesi. The data is then analyzed through the stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawn. The research analysis used Heinrich Wölfflin's theory of form, the stages of analysis of Edmund Burke Feldman's artworks, the theory of Herbert Read's motives as well as H.W. Fowler and F.G. Fowler's, and Jakob Sumardjo's theory of meaning. The results of the study showed that the flora motifs found were moringa motifs, while fauna motifs consisted of maleo birds and dragonflies or Banggai cardinalfish. The three motifs undergo a stylization process so that the natural form is processed into a decorative form without losing its main visual character. The composition of the motif applies the principles of unity, balance, rhythm, emphasis, proportion, and harmony. In terms of meaning, these motifs represent the cultural identity, the relationship of the people of Central Sulawesi with nature, and the value of life that is inherited from generation to generation. Thus, Batik Bomba not only functions as a textile artwork, but also as a medium for the representation of cultural identity and the preservation of local wisdom that has important cultural and historical value ABSTRAK Batik merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai estetis sekaligus filosofis. Salah satu bentuk kekayaan batik di luar Pulau Jawa adalah Batik Bomba yang berkembang di Kota Palu, Provinsi Sulawesi Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis motif flora dan fauna pada Batik Bomba, mendeskripsikan bentuk visualnya, menganalisis penerapan prinsip desain, serta mengkaji makna yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka dengan melibatkan enam informan yang dipilih secara purposive berdasarkan pengetahuan, pengalaman, dan keterlibatan mereka dalam Batik Bomba serta pemahaman terhadap makna motif dan budaya lokal Sulawesi Tengah. Data kemudian dianalisis melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Analisis penelitian menggunakan teori bentuk Heinrich Wölfflin, tahapan analisis karya seni Edmund Burke Feldman, teori motif Herbert Read serta H.W. Fowler dan F.G. Fowler, dan teori makna Jakob Sumardjo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif flora yang ditemukan adalah motif kelor, sedangkan motif fauna terdiri atas burung maleo dan ikan capungan atau Banggai cardinalfish. Ketiga motif tersebut mengalami proses stilasi sehingga bentuk alam diolah menjadi bentuk dekoratif tanpa menghilangkan karakter visual utamanya. Komposisi motif menerapkan prinsip kesatuan, keseimbangan, irama, penekanan, proporsi, dan harmoni. Dari sisi makna, motif-motif tersebut merepresentasikan identitas budaya, hubungan masyarakat Sulawesi Tengah dengan alam, serta nilai kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun. Dengan demikian, Batik Bomba tidak hanya berfungsi sebagai karya seni tekstil, tetapi juga sebagai media representasi identitas budaya dan pelestarian kearifan lokal yang memiliki nilai budaya dan sejarah penting.
PERAN KOMITE LINGKUNGAN DALAM MEMPERKUAT KOMITE LINGKUNGAN DALAM MENINGKATKAN NILAI PERUSAHAAN ENERGI DI INDONESIA TAHUN 2020-2024 Ridwan Ramadhan
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i4.15135

Abstract

ABSTRACT Growing attention to environmental issues and climate change risks has encouraged energy-sector companies to improve environmental performance and enhance carbon emission disclosure as part of the information considered by the market. However, environmental performance and disclosure may not generate the same market response to firm value. This study aims to analyze the effect of environmental performance and carbon emission disclosure on the firm value of energy-sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange during 2020–2024, with the Environmental Committee as a moderating variable and firm size and firm age as control variables. The study employed a quantitative explanatory approach with a sample of 28 companies selected using purposive sampling, resulting in 93 observations in the form of an unbalanced panel dataset. Data were obtained from annual reports, sustainability reports, and PROPER ratings and analyzed using panel data regression with EViews 12. The results show that environmental performance has no significant effect on firm value, whereas carbon emission disclosure has a positive and significant effect. The Environmental Committee strengthens the effect of environmental performance on firm value but weakens the effect of carbon emission disclosure. These findings indicate that the market responds differently to environmental information, while the effectiveness of the Environmental Committee depends on the type of environmental information being governed. The use of the Environmental Committee as a moderating variable provides an additional perspective for understanding the relationship between environmental information and firm value. ABSTRAK Perhatian terhadap isu lingkungan dan risiko perubahan iklim mendorong perusahaan sektor energi untuk meningkatkan kinerja lingkungan dan transparansi pengungkapan emisi karbon sebagai bagian dari informasi yang dapat dipertimbangkan oleh pasar. Namun, capaian lingkungan dan keterbukaan informasi tersebut belum tentu memberikan respons yang sama terhadap nilai perusahaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kinerja lingkungan dan pengungkapan emisi karbon terhadap nilai perusahaan sektor energi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama 2020–2024, dengan Komite Lingkungan sebagai variabel moderasi serta ukuran dan usia perusahaan sebagai variabel kontrol. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatori dengan sampel 28 perusahaan yang dipilih melalui purposive sampling, menghasilkan 93unit observasi dalam bentuk data panel tidak seimbang. Data diperoleh dari laporan tahunan, laporan keberlanjutan, dan peringkat PROPER, kemudian dianalisis menggunakan regresi data panel dengan bantuan EViews 12. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja lingkungan tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan, sedangkan pengungkapan emisi karbon berpengaruh positif dan signifikan. Komite Lingkungan memperkuat pengaruh kinerja lingkungan terhadap nilai perusahaan, tetapi memperlemah pengaruh pengungkapan emisi karbon. Temuan ini menunjukkan bahwa pasar memberikan respons yang berbeda terhadap informasi lingkungan, sementara efektivitas Komite Lingkungan bergantung pada jenis informasi lingkungan yang dikelola. Penggunaan Komite Lingkungan sebagai variabel moderasi memberikan perspektif tambahan dalam memahami hubungan antara informasi lingkungan dan nilai perusahaan.
PEMETAAN TINGKAT KESULITAN BELAJAR MAHASISWA DALAM PEMBUATAN POLA MANUAL PADA PROGRAM STUDI PRODUKSI GARMEN Annissa Novalinda Al-Mi’raj; Farah Nadira Noer; Bella Kharisma; Rezki Diwanti Suci Lestari
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i4.15146

Abstract

Manual pattern making remains a fundamental competency in garment production education despite the increasing adoption of CAD and three-dimensional visualization technologies in apparel design and manufacturing. This study aimed to map students’ learning difficulties in the Manual Pattern Practice 1 course and describe internal and external learning conditions as contextual profiles rather than causal determinants. A quantitative descriptive cross-sectional survey was conducted in the Garment Production Study Program at Politeknik STTT Bandung. The accessible population consisted of 45 students from three groups, all of whom were targeted for data collection using saturated sampling (total sampling). A total of 39 students provided complete responses, resulting in an 86.67% response rate. The initial instrument comprised 45 four-point Likert-scale items covering internal conditions, external conditions, and pattern-making competencies. Following item validity testing, 43 items were retained, with an overall Cronbach’s alpha of 0.802. Data were analyzed descriptively by considering the polarity of positively and negatively worded items. Within pattern transformation competency, difficulty in determining the sequence of pattern-development steps and adjusting developed patterns for garment-fragment construction each obtained a mean score of 2.85. After harmonizing score direction, the positively worded item concerning the ability to visualize pattern shapes yielded a difficulty-equivalent score of 2.54. Among internal conditions, perceived basic ability (M = 2.81) was relatively weaker than interest, motivation, and learning readiness, while external conditions were generally perceived positively. The findings indicate the need to strengthen procedural sequencing, visualization of the relationship between two-dimensional patterns and three-dimensional garment forms, gradual scaffolding, and formative assessment during pattern transformation. The gradual integration of manual and digital pattern-making activities may also support students’ readiness for evolving industry demands. ABSTRAK Pembuatan pola manual tetap menjadi kompetensi fundamental dalam pendidikan produksi garmen meskipun desain dan manufaktur pakaian semakin mengadopsi teknologi Computer-Aided Design (CAD) dan visualisasi tiga dimensi. Penelitian ini bertujuan memetakan kesulitan belajar mahasiswa dalam Mata Kuliah Praktikum Pola Manual 1 serta mendeskripsikan kondisi internal dan eksternal pembelajaran sebagai konteks pembelajaran, bukan sebagai determinan kausal. Penelitian menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan survei potong lintang di Program Studi Produksi Garmen, Politeknik STTT Bandung. Populasi terjangkau terdiri atas 45 mahasiswa dari tiga grup yang seluruhnya menjadi sasaran pengumpulan data melalui teknik sampling jenuh (total sampling). Sebanyak 39 mahasiswa memberikan respons lengkap sehingga tingkat respons mencapai 86,67%. Instrumen awal terdiri atas 45 pernyataan skala Likert empat poin yang mencakup kondisi internal, kondisi eksternal, dan kompetensi pembuatan pola. Sebanyak 43 butir dipertahankan setelah pengujian validitas butir, dengan konsistensi internal instrumen secara keseluruhan sebesar Cronbach’s alpha = 0,802. Data dianalisis secara deskriptif dengan memperhatikan polaritas pernyataan positif dan negatif. Pada kompetensi transformasi pola, kesulitan menentukan urutan langkah pengembangan pola dan menyesuaikan pola hasil pengembangan untuk pembuatan fragmen busana masing-masing memperoleh rerata 2,85. Setelah arah skor diseragamkan, butir positif mengenai kemampuan membayangkan bentuk pola memiliki skor kesulitan ekuivalen sebesar 2,54. Pada kondisi internal, kemampuan dasar (M = 2,81) relatif lebih lemah dibandingkan minat, motivasi, dan kesiapan belajar, sedangkan kondisi eksternal dipersepsikan relatif positif. Temuan menunjukkan perlunya penguatan pembelajaran pada urutan prosedural, visualisasi hubungan pola dua dimensi dan bentuk tiga dimensi, scaffolding bertahap, serta evaluasi formatif pada proses transformasi pola. Integrasi pembelajaran pola manual dan digital secara bertahap juga dapat mendukung kesiapan mahasiswa menghadapi tuntutan industri.