Respons: Jurnal Etika Sosial
Respons (p-ISSN 0853-8689/e-ISSN 2715-4769) is a bilingual (Indonesian and English language) and peer-reviewed journal published by Centre for Philosophy and Ethics of Atma Jaya Catholic University of Indonesia. Respons specializes in researched papers related to social ethics, philosophy, applied philosophy from interdisciplinary-methodological point of view. Respons welcomes ethical and philosophical contributions from scholars with various background of disciplines. This journal uses English and Indonesian Language. "Respons" is an open access journal whose papers published is freely downloaded.
Articles
143 Documents
Modernisasi dan Manusia Kontemporer
Valentino Lumowa
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 21 No 01 (2016): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25170/respons.v21i01.525
Dalam dunia modern, manusia cenderung untuk menegaskan tuntutannyauntuk bisa menentukan hidup dan keputusan sendiri, memilih keyakinan spiritualatau religius yang hendak dituruti, memutuskan bentuk kehidupan yang hendakdijalani serta mengekspresikan ide dan gagasan pribadi. Cukup jelas bahwa sumber danfokus dari tuntutan-tuntutan ini adalah individu, karena itu diklasifikasikan sebagai“tuntutan individualisme”. Sedemikian bakunya nilai-nilai dari tuntutan-tuntutan diatas, mereka kemudian dianggap sebagai hak yang melekat dalam diri setiap individuand secara legal dijamin oleh sistem hukum.
Tinjauan Filosofis Praktik Gotong Royong
Gunardi Endro
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 21 No 01 (2016): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25170/respons.v21i01.526
Gotong royong adalah ungkapan yang menyatakan saling membantudan sudah menjadi kebiasaan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Gotongroyong menyatakan apa yang dipahami sebagai solidaritas dan kesatuan makadiangkat dan dikembangkan menjadi pandangan hidup bangsa Indonesia.Pancasila merupakan kristalisasi jiwa dan semangat gotong royong tersebut dalammembangun solidaritas dan kesatuan bagi perwujudan kejayaan Indonesia. Kinikebutuhan mengenai solidaritas dan kesatuan tidak bisa lagi diperlakukan samadengan lazim dalam kehidupan tradisional. Oleh sebab itu, paper ini bertujuanmemberi jalan keluar bagi penguatan semangat dan jiwa gotong royong berdasarkanfilsafat Aristoteles mengenai pertemanan sedemikian rupa sehingga dalam kontekskekinian Indonesia mampu berhadapan dengan globalisasi tanpa harus kehilanganidentitas nasionalnya.
Memaknai Kuliner Tradisional diNusantara: Sebuah Tinjauan Etis
Rudi Setiawan
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 21 No 01 (2016): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25170/respons.v21i01.527
Dari Sabang sampai Merauke, Indonesia menyatakan identitasnya melaluimakanan dan seni kuliner. Makan bukan hanya soal makan tetapi proses di balikitu, yaitu bagaimana menjadikan makan sebagai cita rasa warisan budaya. Paper inimencoba merumuskan masalah etis di balik makanan dan aktivitas kuliner denganmemberi perhatian pada masalah hak cipta dan pembelaan terhadap identitas nasional
Kebersamaan Hidup: yang Adil dan Berlanjut
Alexander Seran
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 21 No 01 (2016): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25170/respons.v21i01.528
Krisis lingkungan hidupterasa semakin kuat pengaruhnyaterhadap penurunan kualitashidup seluruh ekosistem. Krisistersebut dipicu oleh keinginanmanusia menguasai alam semesta dan menjadikannya sumber yang memberinyakemakmuran secara ekonomis. Keinginan berkuasanya manusia atasalam itu mendorong manusia melahirkan pengetahuan baru dan merekayasateknik-teknik baru berdasarkan pengetahuannya itu untuk menundukkanalam kepada kehendaknya. Pemahaman manusia atas ilmu pengetahuan danpengembangannya melalui teknologi yang diciptakan memahirkan manusiamempraktikkan kekuasaannya atas alam.
The Death of Semar
John Giordano
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 20 No 02 (2015): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25170/respons.v20i02.545
Melalui artikel ini penulis menelaah peran memori kultural pada masainterkoneksi global sekarang ini. Penulis mensinyalir bahwa gagasan tradisionaltentang budaya terancam oleh “industri budaya” seperti teknologi informasi danmedia masa. Di Dunia Barat, fungsi budaya sebagai mesin perubahan dan reformasitampak tergerus oleh industri tersebut. Tapi di Asia Tenggara – khususnya Indonesia– kekuatan eksternal serta upaya internal untuk mempertahankan identitas budayalokal tetap terjaga agar berimbang. Isu ini diteropong berdasarkan perpektif Michelde Certeau. Gagasan ini ditampilkan melalui telaah kisah “kematian Semar” dalamWayang. Kesadaran akan keberimbangan antara pengaruh eksternal dan pemeliharaanbudaya internal itu sangatlah penting di dalam menyikapi jaringan kekuatan globalyang memaksakan masuknya berbagai struktur religius, politik, kekuangan danhukum ke dalam budaya Indonesia. This essay will examine the role of cultural memory in an age of globalinterconnection. It will discuss how the traditional idea of culture is threatened by the “culture industry,” information technology and the media. In the West, there seemsto be a loss of culture’s function as an engine of change and reform. But throughoutthe history of South East Asia (and especially in Indonesia) one sees a both a processof appropriation of ideas from the outside, and at the same time, the maintenance ofa deeper cultural identity that is resistant to complete control. It is an unconsciousmemory – or a cultural reflex – present within the languages and stories and rationalities.I will explain this with reading of Michel de Certeau . And I will show how the Wayangstory of the “Death of Semar” is emblematic of this idea. The awareness of these oldprocesses of appropriation and resistance are extremely important in our age of globalnetworks of power that attempt to impose, various religious, political, financial andlegal structures.
Dua Versi Satu "Fakta" Sejarah? Hermeneutika Sebagai Acuan Kritik Ideologi Sejarah Orde Baru
Alexander Seran
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 20 No 02 (2015): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25170/respons.v20i02.547
Tampaknya pertanyaan tentang Orde Baru tidak lagi fokus pada kapandimulai tetapi apa dan mengapa Orde Baru itu bisa ”berhasil” mengakhiri sebuahrezim (Orde Lama) yang sejak awal, sehari setelah Proklamasi dikumndangkan, yakni18 Agustus 1945, ditetapkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI)menjadi implementor nilai-nilai dasar dan ideologi negara dalam membangun sistemdemokrasi yang berkepribadian Indonesia. Dengan demikian pendidikan sejarahnasional tidak secara parsial dan deterministik mematok sebuah momen seakan-akanitulah awal mula sejarah padahal momen itu lebih mendeskripsikan kepentinganpenguasa ketimbang apa yang diklaim jati diri bangsa yang seharusnya dilaksanakansecara murni dan konsekuen (bukan terutama ”kemarin” tetapi) hic et nunc (sekarangdan di sini). Filsafat tentang sejarah terletak pada pemikiran di balik apa yang nyataterjadi. The question about New Order is longer focused on when it was happenedrather on why the New Order regime led by Suharto was successfully put to end theold regime of Sukarno? A philosophy of history tends to seek the insight of an eventrather than what has been experienced as a matter of fact. Therefore the reading ofnational history cannot be confined to the 1965 killing of generals as if it was at allthe whole story. If the writing of history was designed to meet the interest of who isactually in power then the truth about history is missing.Hermeneutic interpretationmay help to enlarge reflection to keep the truth reveals itself a long the memory thatis continuously made present what has to be done and how to prevent society to falltwice in the same hole.
Pengaruh Akulturasi Tionghoa & Jawa Dalam Perkembangan Bisnis di Semarang
Soegihartono Soegihartono
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 20 No 02 (2015): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25170/respons.v20i02.548
Kedatangan para pedangan Cina yang dipimpin laksama Chen Ho diSemarang pada tahun 1412 membuktikan bahwa peristiwa mempengaruhi perbauranbudaya Cina dan budaya Jawa. Hubungan perdagangan yang terjadi ketika itu masihberlanjut hingga sekarang. Para pendatang Cina belakangan ke Jawa memutuskanmenetap. Mereka disambut penduduk setempat tetapi karena perbedaan budayapara pendatang Cina itu hidup dalam komunitasnya sendiri yang dikenal sebagaiPecinan. Dalam komunitas pecinan itu, para imigran Cina memperlihatkan ethoskerja keras. Mereka mulai bekerja dari jam delapan pagi hingga jam lima sore. Dengankerja keras mereka memberi pengaruh pada masyarakat asli yang melihat bahwakesejahteraan keluarga dapat dicapai melalui kerja keras dalam bisnis. Tujuan paperini memperkenalkan inkulturasi sebagai hasil generasi immigrant Cina yang lahir danmenetap di Indonesia sebagai warga negara Indonesia yang dikenal dengan nama CinaPeranakan. The coming of Chinese traders led by Laksamana Cheng Ho in Semarangin 1412 Masehi proved that there were cultural interchanges between Chinese cultureand local culture of the Javanese. Trading relationship was established during thattime and such relationship still exists today. The next coming of Chinese to Javadecided to stay as permanent residents. They were welcome to stay but because ofcultural differences they lived exclusively in a community called Pecinan. In theircommunities, Chinese immigrants revealed an ethos of hard working. They usuallystart working from 08.00 Oclock AM to 17.00 Oclock PM. By hard working, Chineseimmigrants influence the way native Javanese learn how to develop family wealththrough business. This paper aims to introduce inculturation between Chinese cultureand Javanese culture which is the achievement of the generation of Chinese who bornand live and as Indonesian citizen known as Cina Peranakan.
Upacara Seren Taon Sebuah Manifestasi Religiositas Masyarakat Sekitar Kuningan Jawa Barat
Selu Margaretha Kushendrawati
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 20 No 02 (2015): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25170/respons.v20i02.549
Sèrèn Taon merupakan sebuah fenomen religius yang dinyatakan melaluiupaca khas masyarakat Sunda yakni ucapan terima kasih kepada Tuhan yang telahmemberi panen melimpah. Masyarakat percaya bahwa panen yang baik datang dariTuhan namun Tuhan yang dimaksud bukanlah Tuhan yang diajarkan dalam Kitab-Kitab Suci. Tuhan bagi mereka adalah pemberi hasil panen dan Tuhan yang merekaalami dalam kehidupan sehari-hari dalam tradisi mereka. Sèrèn Taon merupakansebuah ungkapan identitas komunitas yang dapat ditingkatkan menjadi identitasnasional berdasarkan kesadaran religius yang hidupa dalam masyarakat dan budayabangsa. Sèrèn Taon sesungguhnya adalah ajaran etika daripada doktrin agama yangmengajak para pengikutnya untuk peduli pada masalah kemanusiaan menurutkeyakinan komunitas bahwa kebaikan yang Tuhan itu nyata sebagaimana yang dialamidalam kehidupan sehar-hari hidup sebagai masyarakat sebuah bangsa. Sèrèn Taon is a religious phenemenon shown through a Sundanese ritualof thanks-giving to God who provides abundant harvests to men. People believe thatgood harvests come from God but it is not the God of the Holy Qur’an or the God ofthe Bible. It is the God of the believers who live their everyday life as they believe in thetradition of their community. Sèrèn Taon is an expression of community identity andcan be developed into a national identity whose members are responsible to developthe nation based on natural relgion and national culture. Sèrèn Taon is mainly an ethicsrather than relgion which attracts its members to respect humanity on the basis of communitynotion of the good as it is expressed in everyday life of the people of a nation.
Keutamaan Dalam Tembang Sinom dari Gending Sekar Macapat
Febiana Rima;
Rodemeus Ristyantoro
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 20 No 02 (2015): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25170/respons.v20i02.550
Gending merupakan salah satu tradisi bernyanyi yang tidak pernahditinggalkan oleh orang Jawa. Dalam budaya Jawa, gending bukan sekedar artefakyang menggambarkan jiwa estetis orang Jawa tetapi di dalam gending ada nasihatnasihatbijak dan cara berpikir filosofis yang akan diajarkan kepada anak-anak generasipenerusnya tentang bagaimana sejatinya manusia harus hidup. Menghargai alam,menjaga relasi antar sesama manusia dan membangun kesadaran diri sebagai manusiamerupakan inti ajaran dari seni tersebut. Macapat adalah salah satu jenis gending Jawaberisi kumpulan lagu. Macapat muncul pada akhir Majapahit saat mulainya pengaruhWalisanga di Jawa Tengah sedangkan di Jawa Timur dan Bali macapat telah dikenalsebelum datangnya Islam. Tujuan dari tulisan ini adalah memperkenalkan Macapatsebagai ajaran tentang tentang hidup yang baik melalui menghargai hidup bersamasemua makluk hidup. Gending is one of the Javanese living traditions in teaching childrenabout virtue by singing. Gendhing in Javanese culture is not mere artifact expressingJavanese sense of art but it is more an art of teaching and developing practical wisdomto children in order to have virtue in living a live as human being. Respect to livingbeings both nature and human is the main concern of Gending. Macapat is consideredas a kind of gending consisting songs. Macapat in the end of Majapahit empire mainlyduring the time of Walisanga spreading their Islamic influences in Central Java whilein East Java and Bali Island sedangkan di Jawa Timur dan Bali macapat telah dikenalsebelum datangnya Islam Macapat was developed before the coming of Islam. The aimof this paper is to introduce as a kind of moal taching how to live a good live throughrespect to all living beings.
Jalan Panjang Nan Sunyi
Alexander Seran
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 20 No 02 (2015): Respons: Jurnal Etika Sosial
Publisher : Center for Philosophy and Ethics
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.25170/respons.v20i02.551
Berbicara mengenai narkotika dan obat berbahaya(narkoba) atau narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya(napza), pikiran dan perhatian masyarakat masih berfokus pada masalahbagaimana menghukum orang yang perilakunya merusak tata tertib (tatib)kehidupan bermasyarakat. Peredaran narkoba/ napza secara bebas dilarangsecara hukum. Oleh sebab itu, perdagangan narkoba/ napza secara bebasmerupakan perbuatan ilegal dan para pelakunya seperti produsen, pengedar, danpengguna diganjar hukuman atas perbuatan mereka. Tentu saja hal ini pentingmenjadi perhatian negara karena penggunaan narkoba/ napza secara bebasmerusak mutu kehidupan manusia sebagai warga negara dan kualitas hidupwarga negara yang rendah akan mengakibatkan beban sosial bagi negara danmasyarakat. Tentang kejahatan perdagangan narkoba dan ancaman hukuman bagi para pelaku kiranya tidak dapat ditolak oleh siapa pun yang bernalar sehatbaik dari segi hukum maupun etika. Akan tetapi memperlakukan secara samasemua orang yang terlibat di dalam jaringan perdagangan “gelap” itu menjaditidak adil dan secara etis dipertanyakan terutama para pecandu yang adalahkorban kendati pilihan awal untuk menggunakan narkoba/ napza adalah salah.