cover
Contact Name
Sulistiono
Contact Email
ecep_s@apps.ipb.ac.id
Phone
+6281317011347
Journal Mail Official
jurnalfpik.ipb@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor Jalan Agatis, Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan
ISSN : 20874871     EISSN : 25493841     DOI : https://doi.org/10.24319
Tujuan Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan yaitu menyebarluaskan informasi ilmiah tentang perkembangan teknologi perikanan dan kelautan antara lain: teknologi perikanan tangkap, teknologi kelautan, inderaja kelautan, akustik dan instrumentasi, teknologi kapal perikanan, teknologi pengolahan hasil perikanan, teknologi budidaya perikanan, bioteknologi kelautan, teknik manajemen pesisir dan kelautan, teknik manajemen lingkungan perairan, dan sosial ekonomi perikanan dan kelautan.
Articles 352 Documents
IDENTIFIKASI PARASIT PADA IKAN LELE (Clarias sp.) DI KOLAM BUDIDAYA IKAN KABUPATEN BANGKA Rani Tuwitri; Riko Irwanto; Andri Kurniawan
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 11 No 2 (2020): NOVEMBER 2020
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3020.709 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.11.189-198

Abstract

The presence of parasites has a negative effect on catfish (Clarias sp.) in the form of disease in its host. Parasites based on their environment or habitat can be divided into two, namely ectoparasites (parasites that live on the outer body surface of the host) and endoparasites (parasites that live inside the host’s body). This study aims to identify the type and analyze the prevalence level of parasites infecting catfish in the Fish Farms in Balunijuk Village and Petaling Banjar Village, Bangka Regency. This research was conducted in October-November 2020. The method used was a descriptive survey in the form of a purposive sampling method. Fish samples were taken from two stations, with each station taking two samples. Twenty fish samples were taken at each station. The results showed that there were 4 identified parasitic phyla, i.e. phylum Ciliophora consisted of Vorticella sp. and Stylonychia sp., Phylum Protozoa consisting of Blastodiniidae. Phylum Platyhelminthes consisting of Dactylogyrus sp., Gyrodactylus sp., and Ligula intestinalis., Phylum Nemathelminthes consisting of Camallanidae. The results showed that the highest prevalence level was found in Dactylogyrus sp., while the highest level of intensity and dominance was found in Blastodiniidae.
PERANCANGAN LAMPU PEMIKAT CUMI-CUMI MENGGUNAKAN LIGHT EMITTING DIODE (LED) Muhammad Johar Rudin; Mochammad Riyanto; Ari Purbayanto
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 11 No 2 (2020): NOVEMBER 2020
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2980.692 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.11.141-150

Abstract

Perikanan tangkap cumi-cumi telah mengalami peningkatan sangat pesat di Indonesia. Kapal pancing cumi-cumi memiliki alat bantu penangkapan lampu dengan daya relatif besar. Biasanya kapal memakai lampu Metal Halide (MH) yang berjumlah 16-20 unit (dengan daya 24-30 kW). Lampu MH membutuhkan energi yang cukup besar dan berpengaruh terhadap kebutuhan bahan bakar minyak yang tinggi. Untuk itu diperlukan altenatif lampu yang lebih hemat energi yaitu Light Emitting Diode (LED). Penelitian ini dilakukan dengan membuat rancangan lampu LED cumi-cumi yang aplikatif untuk diterapkan di kapal pancing cumi-cumi. Pendekatan yang dilakukan adalah dengan merancang bangun lampu LED cumi-cumi yang mampu mendekati sifat dan karakteristik utama lampu MH yang saat ini digunakan. Rancangan konseptual rangkaian lampu LED cumi-cumi dilakukan dengan mengumpulkan semua materi yang terkait dengan sifat cahaya lampu LED dan ketertarikan dari cumi-cumi pada lampu LED warna biru. Kemudian, dilakukan penentuan sebaran cahaya lampu MH dan LED cumi-cumi, serta pemilihan jenis bahan material yang sesuai agar lampu LED bisa stabil. Berdasarkan hasil penelitian berupa pengukuran suhu dan iluminasi cahaya pada tiap chips LED terlihat stabil hingga akhir pengamatan. Sebaran intensitas cahaya lampu LED cumi-cumi hanya berkurang 10,57%. Hasil rancang bangun LED dapat diterapkan pada perikanan cumi-cumi sebagai alternatif pengganti lampu MH.
PERBEKALAN MELAUT PADA UNIT PENANGKAPAN BOUKE AMI DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA MUARA ANGKE JAKARTA Fidratul Ikhsan; Julia Eka Astarini; Fis Purwangka
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 11 No 2 (2020): NOVEMBER 2020
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3010.954 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.11.151-165

Abstract

Penyediaan perbekalan melaut merupakan salah satu aktivitas ekonomi yang penting dalam menentukan usaha penangkapan ikan dan pengolahan hasil tangkapan terutama pada kapal yang melaut dalam waktu yang relatif lama. Kapal yang melaut pada waktu yang lama sering mengalami kekurangan perbekalan, sehingga mempengaruhi kegiatan penangkapan bahkan hasil tangkapan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari-Maret 2020 yang bertempat di Pelabuhan Perikanan Nusantara Muara Angke, Kota Jakarta, Provinsi DKI Jakarta yang bertujuan untuk mengidentifikasi jenis kebutuhan perbekalan pada unit penangkapan bouke ami, menghitung jumlah aktual kebutuhan perbekalan pada unit penangkapan bouke ami dan menentukan sistem penanganan perbekalan pada unit penangkapan bouke ami. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode survei dengan teknik wawancara dan kuesioner. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Data yang didapatkan dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kebutuhan perbekalan pada unit penangkapan bouke ami yaitu, solar, oli, minyak, air bersih, beras, gula pasir, wortel, kol, labu, teh, kopi, mie instant, obat-obatan, gas, dan rokok. Jumlah aktual kebutuhan perbekalan unit penangkapan bouke ami disebabkan oleh faktor jumlah ABK, ukuran GT kapal, daerah penangkapan ikan, dan lama melaut. Sistem penanganan masing-masing perbekalan beras, sayuran, mie instan disimpan di palka berpendingin agar tidak mudah busuk, sedangkan oli, solar diletakkan di belakang kapal, dan obat-obatan, gula, kopi, dan rokok diletakkan di kamar nakhoda.
DISTRIBUSI UKURAN IKAN HASIL TANGKAPAN PURSE SEINE KM. BINTANG SAMPURNA-B DI WPP 572 DAN 573 Aditya Bramana; Liya Tri Khikmawati; Noar Muda Satyawan; Ario Anggara Mukti
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 11 No 2 (2020): NOVEMBER 2020
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2820.921 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.11.167-176

Abstract

The fisheries sector has a strategic role in national development. WPP 572 and 573 are the broad waters and located in the Indian ocean. This area has a quiet fish potential, especially from group of pelagic fishes as skipjack tuna, bigeye tuna, mackerel scad, yellowfin tuna, Indian mackerel, and mackerel tuna. However, in terms of utilization of fish resources, WPP 572 and 573 are currently experiencing a fully exploited period, especially for small and large pelagic fish. One of the methods to overcome fully exploited conditions is by managing the limitation on the size of fish that are fit to be caught. The method used in this research was a descriptive method. The sample was taken based on the purposive sampling method, by taking several types of fish caught according to their respective types which were considered to represent all the fish that had been caught. The number of fish samples adjusts to the capacity of the large pan which contains 18-20 large fish, and 50-100 small fish. The total number of catches was 75,878 kg. The main catch was 57,435 kg and bycatch was 18,443 kg. Percentage of catches were skipjack tuna (72% feasible, 28% unfit), baby tuna (100% unfit), yellowfin tuna (51% feasible, 49% unfit), mackerel scad, mackerel tuns, dolphinfish, and other fish (100% feasible). The whole fish caught in KM Bintang Sampurna-B according to the number of samples measured shows that 74% are fit to catch and 26% are not fit to be caught.
EFEKTIVITAS RUMPON PORTABLE PADA PERIKANAN PANCING ULUR DI BANTEN Roza Yusfiandayani; Domu Simbolon; Weni Damayanti
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 11 No 2 (2020): NOVEMBER 2020
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2936.725 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.11.215-224

Abstract

Handlines are a fishing gear that is commonly used by fishermen in Banten Bay. However, the catches obtained by fishermen are few. This is because of the lack of information about the potential fishing ground that fishermen have. One of the methods to increase the effectiveness and efficiency of fishing operation is the information about the availability of fishing ground. The used of portable FADs (Fish Aggregating Devices) technology is expected to create a fishing ground so that fishing operation become more effective and efficient. The research purpose is to compare the productivity and composition of handline catching by using and without portable FAD and to determine the effectiveness of portable FAD. The method used was an experimental fishing method with 20 trips. Research showed that the dominant catches of handline fishing with portable FADs were goatfish, bream, black grouper, mackerel. Goatfish, bream, and black grouper were dominated by large sizes. The total catch of handline was 931 fish. The composition of the catch with the portable FAD was 504 of fish, while without the portable FAD was 427 of fish. The productivity of handline with portable FAD was 1.29 kg/trip, while the productivity of handline without FAD was 0.99 kg/trip. Portable FAD use during fishing operations was more effective compare to fishing operations without portable FADs.
BIOLOGI REPRODUKSI IKAN SEMBILANG (Plotosus canius) DI PERAIRAN PANTAI MAJAKERTA, INDRAMAYU, JAWA BARAT Derry Muharam; Sulistiono; Etty Riani
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 11 No 2 (2020): NOVEMBER 2020
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2893.905 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.11.199-209

Abstract

Grey eel-tailed catfish (Plotosus canius) is one species of consumption fish that is quite popular in coastal communities. This study aims to analyze reproduction of the fish. Sampling was conducted monthly in Majakerta coastal area, Indramayu, West Java from February to April 2015. The total of samples observed were 98 fish, consisting of 65 males and 33 females. The observation was employed for sex ratio, gonad maturity stage, gonado somatic index, the size at first maturity, fecundity, and egg diameter of the fish. The result of this research shows that sex ratio of the fish was 2:1. Immature-mature fishes were found in each month. The size of first gonad maturity of the fish was 281 and 308,6 mm for male and female, respectively. Fecundity was 564-864, and according to oocyte diameter distribution, the fish was a partial spawner.
VARIABILITAS KONSENTRASI KLOROFIL-a DI BAGIAN BARAT PERAIRAN ACEH, INDONESIA BERDASARKAN PERGERAKAN ANGIN MONSUN Imamshadiqin Imamshadiqin; Imanullah Imanullah; Erniati Erniati; Erlangga Erlangga; Yudho Andika; Salmarika Salmarika; Roza Yusfiandayani
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 11 No 2 (2020): NOVEMBER 2020
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2864.923 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.11.211-214

Abstract

Perairan Aceh bagian Barat terletak di bagian Timur Samudera Indonesia. Kawasan ini merupakan perairan yang dinamis karena merupakan bagian dari perairan Indonesia yang terletak di antara dua benua dan dua samudera. Konsentrasi klorofil-a bervariasi secara bulanan di perairan ini. Penelitian ini mengamati variasi konsentrasi klorofil-a berdasarkan sirkulasi angin muson. Analisis konsentrasi klorofil-a dapat digunakan untuk membantu perkiraan produktivitas sebuah perairan. Kami menemukan bahwa konsentrasi klorofil-a di Monsun Barat lebih tinggi daripada di Monsun Timur. Sebaliknya, konsentrasi klorofil-a di Monsun Timur lebih rendah dibandingkan di Monsun Barat.
REKAYASA ULANG DAN PEMBUATAN PROTOTIPE SLURRY ICE MACHINE BERKAPASITAS 0,7 TON DENGAN METODE SCRAPED-SURFACE Nur Mahmudi Ismail; Eko Fajar Nurprasetyo; Nurjanah Nurjanah; Hafit Isandono; Mohamad Taufik; Mala Nurilmala; Tati Nurhayati; Ahmad Syihan Ismail; Mahyudi Mahyudi
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 12 No 1 (2021): MEI 2021
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2939.111 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.12.47-59

Abstract

Reengineering and prototype production of slurry ice machine using Scraped-surface methode of evaporator wich is called Ice Porridge Making Machine has been conducted to be operated in tropical area especially, Indonesia. Reengineering and slurry ice production was conducted toward the sampel acquired from commercial market. The reengineered machine could produce slurry ice with ice cristal fraction of 30-40% and liquid fraction of 60-70%. Furthermore, a 1 ton/24 hours prototype of slurry ice machine was designed and produced. The machine successfully produced slurry ice of 700 kg/24 hours capacity, then it was tested for durability transporting by a pick-up from Depok, West Java to Lampung, Tasikmalaya, West Java, operated using brackish water at shrimp farm; and Tanjung Lesung, Banten operated with sea water on 35 GT fishing vessel. The machine could produce slurry ice using sea water, brackish water, and solution of 4.0% NaCl. The slurry ice produced was effectively used to preserve the freshness of shrimps from South Lampung and Tasikmalaya compared of using crushed ice. Shrimp preserved by crushed ice showed blackened color at the fifth day storage, while shrimp preserved by slurry ice still looked fresh on 14th day of storage. All Indonesian fishermen and fishery industry should recognize and motivated applying slurry ice technology to improve their quality and productivity.
PENGEMBANGAN PRODUK OLAHAN IKAN KADORU DI KECAMATAN KATIKUTANA KABUPATEN SUMBA TENGAH, NUSA TENGGARA TIMUR Yatris Rambu Tega; Welma Pesulima; Ovie Ningsih; Umbu P. L. Dawa; Krisman Umbu Henggu
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 12 No 1 (2021): MEI 2021
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2478.934 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.12.11-18

Abstract

Ikan olahan kadoru merupakan produk olahan ikan tradisional di Kecamatan Katikutana, Kabupaten Sumba Tengah yang diproses melalui proses pengasapan selama 1-3 hari, dimasukkan kedalam bambu yang telah dipotong. Produk ini bisa bertahan selama 1 tahun. Pemasaran produk ini masih bersifat tradisional yaitu barter dan masih tergolong murah. Dengan cara pengolahannya yang masih sederhana dan unik yang juga belum adanya informasi untuk mengembangkan produk tersebut. Kajian ini bertujuan untuk menentukan strategi pengembangan produk olahan ikan kadoru di Kecamatan Katikutana, Kabupaten Sumba Tengah. Metode pengumpulan data menggunakan metode deskriptif kualitatif, dan analisis yang digunakan adalah analisis SWOT dan analisis matriks QSP. Analisis matriks Quantitative Strategic Planning (QSP) memperhatikan data yang dianalisis berdasarkan matriks IFE dan EFE untuk menghasilkan strategi sesuai urutan skor tertinggi ke urutan terendah. Strategi pengembangan produk olahan ikan kadoru di Kecamatan Katikutana Sumba Tengah adalah strategi progresif, menggunakan kekuatan internal (1,6) serta peluang eksternal (1,1). Peningkatan kualitas produk olahan tradisional kadoru menjadi produk olahan bernilai tambah tinggi dan kompetitif. Strategi pengembangan produk olahan tradisional ikan kadoru di Kecamatan Katikutana (Kabupaten Sumba Tengah) adalah strategi progresif, tetapi masih dalam posisi cukup sehingga jika dihubungkan dengan aspek ekologi dari tersedianya ikan secara alami maka perlu ada produk alternatif yang dapat dikembangkan.
KARAKTERISTIK DAYA APUNG DAN DAYA TAHAN PELET DARI LIMBAH BIOFLOK AKUAPONIK Rory Hutagalung; Meda Canti; Vivitri Dewi Prasasty; Bryant Adelar; Jeremy Oktavian; Arka Soewono
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 12 No 1 (2021): MEI 2021
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2561.778 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.12.19-26

Abstract

Sistem akuaponik menggabungkan sistem akuakultur dan hidroponik dalam suatu sistem tertutup yang mengarah pada zero waste. Untuk menunjang proses sirkulasi nutrien digunakan sistem flok dimana sisa pakan diolah oleh konsorsium mikroorganisme menjadi bioflok yang dapat digunakan ikan sebagai pakan tambahan dan sisanya dialirkan ke tanaman. Namun produksi bioflok umumnya berlebih. Sisa bioflok tersebut potensial digunakan untuk bahan dasar biopelet dengan menggunakan perekat yang tepat. Tujuan penelitian adalah untuk memanfaatkan sisa bioflok sebagai bahan dasar biopelet dengan menggunakan perekat yang tepat pada kadar air yang sesuai. Produksi biopelet diujicoba dengan menggunakan berbagai metode dan berbagai perekat, yakni tepung kanji, tepung terigu, gelatin, alginat, dedak, dan tepung tapioka. Rancangan faktorial digunakan untuk menguji perlakuan jenis perekat, komposisi bioflok/perekat, dan kadar air. Kualitas biopelet diuji melalui daya apung dan daya tahan. Sisa bioflok berhasil digunakan sebagai bahan dasar untuk pembuatan biopelet. Tepung tapioka dan dedak merupakan perekat terbaik dengan penggunaan mesin penggiling yang dimodifikasi dengan pisau baling-baling di bagian depannya agar mempermudah proses pemotongan. Untuk daya apung, komposisi antara bioflok/perekat 5:5 pada kadar air 13% menunjukkan hasil tertinggi, baik dengan menggunakan tepung tapioka maupun dedak. Untuk daya tahan, nilai tertinggi juga dihasilkan oleh komposisi bioflok/perekat 5:5, dengan syarat menggunakan perekat tepung tapioka dan kadar air 16%.