cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
JURNAL ILMU DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN
Published by Universitas Hasanuddin
ISSN : 20866216     EISSN : 24769444     DOI : -
Core Subject : Science,
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan (JITP) merupakan jurnal yang mewadahi publikasi hasil penelitian/studi di bidang peternakan meliputi: Produksi Ternak, Nutrisi dan Makanan Ternak, Teknologi Hasil Ternak, dan Sosial Ekonomi Peternakan. Jurnal ini diterbitkan dua kali setahun oleh Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin bekerjasama dengan Pengurus Besar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia.
Arjuna Subject : -
Articles 188 Documents
PENGARUH LAMA PENGASINAN DAN DOSIS PENAMBAHAN SERAI DAPUR DAN BAWANG PUTIH TERHADAP KUALITAS ORGANOLEPTIK DAN KARAKTERISTIK FISIK TELUR PUYUH ASIN Diana, Diana; Kusmayadi, Andri; Wulansari, Putri Dian
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Vol. 13 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jitp.v13i1.43138

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lama pengasinan telur puyuh dengan penambahan serai dapur dan bawang putih terhadap kualitas organoleptik dan karakterisitik fisik telur puyuh asin. Telur yang digunakan dalam penelitian ini berumur 1 hari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 3 x 2 yang terdiri 3 perlakuan 5 ulangan. Setiap ulangan menggunakan 10 butir telur puyuh. Perlakuan yang digunakan yaitu menggunakan konsentrasi ekstrak serai dapur dan ekstrak bawang putih (0%, 10%, dan 15%) dan lama pengasinan (7 dan 14 hari). Parameter yang diukur dalam penelitian ini adalah pH, kadar air, dan kualitas organoletik (aroma, rasa, warna dan kemasiran). Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai pH dan kadar air telur puyuh asin tidak berbeda diantara kombinasi perlakuan penambahan serai dan bawang putih baik pada pengasinan 7 maupun 14 hari. Penambahan serai dan bawang putih dengan level hingga 15% nyata meningkatkan skor pada parameter aroma, rasa, warna dan kemasiran terutama jika pengasinan dilakukan selama 14 hari. Dosis terbaik dalam mempertahankan pH dan kadar air serta memperbaiki tingkat penerimaan telur puyuh asin adalah 15% dan lama pengasinan 14 hari.Kata kunci : bawang putih, serai dapur, telur puyuh, telur asin.
PERBANDINGAN PENGUKURAN PROTEIN METODE BRADFORD DAN TITRASI FORMOL PADA SUSU SEGAR TERHADAP KADAR PROTEIN, LAMA ANALISIS, DAN BIAYA Susanto, Jodi; Setyawardani, Triana; Widodo, Hermawan Setyo
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Vol. 13 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jitp.v13i1.34582

Abstract

Komposisi yang terkandung pada susu merupakan indikator dalam menilai kualitas susu segar. Pemeriksaan kualitas susu sangat penting karena berbagai alasan yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat, kepuasan konsumen, dan keberhasilan komersial produk susu.  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan metode pengujian protein (Bradford dan Titrasi  formol) pada susu segar terhadap kadar protein, lama analisis, dan biaya. Materi yang digunakan pada penelitian ini adalah sampel susu sapi segar yang diperoleh dari 30 ekor sapi perah. Variabel yang diukur yaitu kadar protein, lama analisis dan biaya yang dibutuhkan untuk setiap metode analisis protein. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif, dan uji T. Nilai kadar protein yang diperoleh dengan metode Bradford berkisar  antara 1,81 - 2,74% dan Titrasi  formol antara 2,2 - 3,7%. Rataan kadar protein dengan metode Bradford 2,23±0,26% dan titrasi  formol 2,96±0,43%. Waktu analisis yang dibutuhkan pada metode Bradford 17 menit dan titrasi  formol  5,15 – 5,6 menit. Rataan waktu dengan metode  Bradford 17±0 menit dan titrasi  formol 5,37±0,12 menit sedangkan biaya yang dibutuhkan pada metode Bradford 2.000,00 Rupiah/sampel dan titrasi  formol 1.164,55-1.170,88 Rupiah/sampel. Rataan biaya yang di butuhkan pada metode Bradford 2.000,00±0 Rupiah/sampel dan Titrasi  formol 1.167,76±1,82 Rupiah/sampel. Hasil Uji T menunjukkan bahwa pengujian kadar protein menggunakan metode Bradford dan titrasi  formol berbeda nyata (P<0,05) terhadap kadar protein, lama analisis dan biaya. Pengukuran kadar protein dengan metode titrasi  formol memberikan hasil yang lebih sensitif terhadap kadar protein susu segar lebih cepat dan biaya analisis lebih murah.
PERBANDINGAN PENGUKURAN PROTEIN METODE BRADFORD DAN TITRASI FORMOL PADA SUSU SEGAR TERHADAP KADAR PROTEIN, LAMA ANALISIS, DAN BIAYA Susanto, Jodi; Setyawardani, Triana; Widodo, Hermawan Setyo
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Vol. 13 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jitp.v13i1.34582

Abstract

Komposisi yang terkandung pada susu merupakan indikator dalam menilai kualitas susu segar. Pemeriksaan kualitas susu sangat penting karena berbagai alasan yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat, kepuasan konsumen, dan keberhasilan komersial produk susu.  Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan metode pengujian protein (Bradford dan Titrasi  formol) pada susu segar terhadap kadar protein, lama analisis, dan biaya. Materi yang digunakan pada penelitian ini adalah sampel susu sapi segar yang diperoleh dari 30 ekor sapi perah. Variabel yang diukur yaitu kadar protein, lama analisis dan biaya yang dibutuhkan untuk setiap metode analisis protein. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif, dan uji T. Nilai kadar protein yang diperoleh dengan metode Bradford berkisar  antara 1,81 - 2,74% dan Titrasi  formol antara 2,2 - 3,7%. Rataan kadar protein dengan metode Bradford 2,23±0,26% dan titrasi  formol 2,96±0,43%. Waktu analisis yang dibutuhkan pada metode Bradford 17 menit dan titrasi  formol  5,15 – 5,6 menit. Rataan waktu dengan metode  Bradford 17±0 menit dan titrasi  formol 5,37±0,12 menit sedangkan biaya yang dibutuhkan pada metode Bradford 2.000,00 Rupiah/sampel dan titrasi  formol 1.164,55-1.170,88 Rupiah/sampel. Rataan biaya yang di butuhkan pada metode Bradford 2.000,00±0 Rupiah/sampel dan Titrasi  formol 1.167,76±1,82 Rupiah/sampel. Hasil Uji T menunjukkan bahwa pengujian kadar protein menggunakan metode Bradford dan titrasi  formol berbeda nyata (P<0,05) terhadap kadar protein, lama analisis dan biaya. Pengukuran kadar protein dengan metode titrasi  formol memberikan hasil yang lebih sensitif terhadap kadar protein susu segar lebih cepat dan biaya analisis lebih murah.
ANALISIS HUBUNGAN ANTARA BAHAN KERING TANPA LEMAK DAN TOTAL PADATAN PADA BERAT JENIS SUSU KAMBING SAPERA Cahyani, Linda Arum; Widodo, Hermawan Setyo; Ifani, Merryafinola; Subagyo, Yusuf
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Vol. 13 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jitp.v13i1.44076

Abstract

Kambing Sapera mampu memproduksi susu cukup tinggi dan mengandung kadar lemak yang lebih tinggi daripada susu sapi. Kadar lemak susu berkorelasi negatif dengan berat jenis, tetapi berkorelasi positif dengan total padatan, sehingga digunakan parameter berat jenis, bahan kering tanpa lemak, dan total padatan untuk menentukan kualitas dan harga susu. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kadar berat jenis, bahan kering tanpa lemak, dan total padatan pada susu Kambing Sapera serta hubungan antara bahan kering tanpa lemak dan total padatan dengan berat jenis susu. Materi penelitian yang digunakan berjumlah 30 sampel susu yang terdiri 15 dari masing-masing Siliwangi Farm dan Gaza Farm. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata berat jenis, bahan kering tanpa lemak dan total padatan secara keseluruhan berturut-turut sebesar 1,028±0,001 g/ml, 7,992±0,349%, dan 12,572± 0,888%. Hasil Uji-T menunjukkan bahwa kadar berat jenis, bahan kering tanpa lemak, dan total padatan antara kedua Farm tersebut tidak berbeda nyata (P>0,05). Terdapat hubungan positif yang sangat kuat dan pengaruh yang lebih besar antara berat jenis dan bahan kering tanpa lemak dimana nilai R2=0,8005 dan r=0,895 dengan persamaan Y = 0,0032X + 1,0023. Hasil analisis menunjukkan bahwa berat jenis memiliki perbandingan pengaruh yang lebih besar terhadap bahan kering tanpa lemak daripada total padatan.
ANALISIS HUBUNGAN ANTARA BAHAN KERING TANPA LEMAK DAN TOTAL PADATAN PADA BERAT JENIS SUSU KAMBING SAPERA Cahyani, Linda Arum; Widodo, Hermawan Setyo; Ifani, Merryafinola; Subagyo, Yusuf
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Vol. 13 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jitp.v13i1.44076

Abstract

Kambing Sapera mampu memproduksi susu cukup tinggi dan mengandung kadar lemak yang lebih tinggi daripada susu sapi. Kadar lemak susu berkorelasi negatif dengan berat jenis, tetapi berkorelasi positif dengan total padatan, sehingga digunakan parameter berat jenis, bahan kering tanpa lemak, dan total padatan untuk menentukan kualitas dan harga susu. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis kadar berat jenis, bahan kering tanpa lemak, dan total padatan pada susu Kambing Sapera serta hubungan antar peubah tersebut. Materi penelitian yang digunakan berjumlah 30 sampel susu yang terdiri 15 dari masing-masing Siliwangi Farm dan Gaza Farm. Hasil penelitian menunjukkan berat jenis memiliki rata-rata, maksimal, dan minimal berturut-turut 1,028g/ml; 1,030g/ml; 1,024g/ml. Bahan kering tanpa lemak memiliki rata-rata, maksimal, dan minimal berturut-turut 7,992%; 8,635%; 7,17%. Total padatan memiliki rata-rata, maksimal, dan minimal berturut-turut 12,572%; 14,640%; 11,165%. Hasil Uji-T menunjukkan bahwa kadar berat jenis, bahan kering tanpa lemak, dan total padatan antara kedua farm tersebut berbeda tidak nyata (P>0,05). Terdapat hubungan positif yang sangat kuat dan pengaruh yang lebih besar antara berat jenis dan bahan kering tanpa lemak dimana nilai R2 = 0,8005 dan R = 0,895 dengan persamaan y = 0,0032x + 1,0023. Indikator kualitas susu dapat ditentukan berdasarkan berat jenis, bahan kering tanpa lemak, dan total padatan pada susu. Kata Kunci : bahan kering tanpa lemak, berat jenis, susu kambing sapera, total padatan
EFEKTIVITAS KELOMPOK PETERNAK DAN KEBERHASILAN USAHA PETERNAK SAPI PERAH PASCA EPIDEMI PENYAKIT MULUT DAN KUKU (KASUS TPK CIPANAS WILAYAH KPBS PANGALENGAN) Sulistyati, Marina; Hermawan, Hermawan
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Vol. 13 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jitp.v13i1.32706

Abstract

TPK Cipanas merupakan salah satu TPK di KPBS yang memiliki peternak sebanyak 206 orang berasal dari enam kelompok dan terdampak PMK.  Efeknya berdampak juga terhadap aktivitas kelompok, karena adanya pembatasan kontak sesama peternak sehingga Efektivitas kelompok peternak terhambat karena kondisi tersebut.  Pasca PMK pengembangan usaha ternak sapi perah adalah hal penting untuk meningkatkan produktivitasnya, sehingga peran kelompok dalam mencari nilai tambah dan pemeliharaan ternak yang efektif menjadi penting.  Tujuan penelitian: 1) Mengkaji efektivitas kelompok peternak sapi perah di TPK Cipanas; 2) Mengkaji keberhasilan usaha peternak sapi perah di TPK Cipanas; 3) Menganalisis keterkaitan antara efektivitas kelompok dengan keberhasilan usaha di TPK Cipanas.  Metode penelitian yang digunakan adalah survei.  Penentuan responden menggunakan metode sensus dengan mengambil semua peternak berjumlah 206 peternak berasal dari 6 kelompok.  Analisis yang digunakan adalah mix method antara kuantitatif dan kualitatif.  Analisis yang digunakan untuk mengetahui keeratan hubungan antara keefektifan kelompok dengan keberhasilan usaha digunakan Korelasi Rank-Spearman.  Hasil penelitian menunjukkan tingkat efektivitas kelompok TPK Cipanas pada kategori sedang (66,67 %), keberhasilan usaha peternak pada kategori sedang (65%).  Terdapat hubungan antara efektivitas kelompok dengan keberhasilan usaha dengan koefisien korelasi sebesar 0,65 artinya cukup signifikan menunjukkan hubungan yang searah dengan makna hubungan cukup berarti.
ANALISIS PENDAPATAN USAHA PETERNAK SAPI BALI SKALA RUMAH TANGGA DI KECAMATAN WATOPUTE KABUPATEN MUNA Marfina, Yuyun; Abadi, Musram; Syamsuddin, Syamsuddin
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Vol. 13 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jitp.v13i1.43209

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) menganalisis pendapatan peternak sapi Bali skala rumah tangga di Kecamatan Watopute Kabupaten Muna, (2) menganalisis kelayakan usaha peternak sapi Bali skala rumah tangga di Kecamatan Watopute Kabupaten Muna berdasarkan analisis R/C Ratio dan B/C Ratio. Lokasi Penelitian ini yaitu seluruh desa yang ada di Kecamatan Watopute Kabupaten Muna yaitu terdiri dari Desa Matarawa, Desa Wakadia, Desa Lakapodo, Desa Labaha, Desa Bangkali, Desa Bangkali Barat, Kelurahan Wali dan Kelurahan Dana.Pemilihan lokasi ditentukan secara sengaja (purposive sampling). Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, melakukan wawancara dan mengambil dokumentasi. Sumber data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Metode analisis yang digunakan adalah analisis pendapatan, analisis R/C ratio dan analisis B/C ratio. Hasil penelitian ini menunjukkan pendapatan per tahun yang diperoleh usaha peternakan sapi Bali di Kecamatan Watopute sebesar Rp.901.668./ekor. Nilai R/C ratio sebesar 1,68 atau > 1, maka usaha tersebut layak untuk dijalankan. Sedangkan nilai B/C ratio sebesar 0,68 atau > 0, maka usaha layak untuk dijalankan.
PENGARUH Lactobacillus lactis PADA PEMBUATAN MENTEGA DARI LEMAK WHEY DANGKE DENGAN SUHU BERBEDA Ismayani, Ismayani; Malaka, Ratmawati
Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Vol. 13 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin, Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jitp.v13i1.43809

Abstract

Whey merupakan hasil samping dari pembuatan keju, dangke, ataupun tahu susu. Mengingat whey mengandung sekitar 55% total nutrisi dari susu maka whey dangke dapat diolah menjadi berbagai produk salah satunya menjadi mentega. Mentega yang difermentasi dengan starter bakteri asam laktat (BAL) akan memiliki rasa yang lebih disukai dan khas dibandingkan dengan mentega biasa. Penelitian ini bertujuan menjelaskan pengaruh bakteri Lactobacillus lactis dan suhu pasteurisasi pada pembuatan mentega dari lemak dalam whey terhadap kualitas organoleptik mentega yaitu warna, aroma, dan tekstur. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2x4 dengan 3 kali ulangan. Faktor A adalah level penambahan bakteri (0,5%, 1%, 1,5% dan 2%). Faktor B adalah suhu pasteurisasi 60°C dan 70°C. Penambahan bakteri dan suhu pasteurisasi memengaruhi warna, aroma, dan tekstur mentega secara signifikan. Kombinasi keduanya tidak menghasilkan perubahan organoleptik yang lebih nyata. Hasil Penelitian menunjukkan penambahan level konsentrasi bakteri dan suhu pasteurisasi dapat menurunkan warna kuning, menghasilkan aroma asam, dan tekstur lunak pada mentega yang dihasilkan.