Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika (p-ISSN: 2798-2904 & e-ISSN: 2798-2798) mempublikasikan artikel ilmiah hasil penelitian dalam bidang pendidikan matematika yang belum pernah dipublikasikan. Penulis dapat berasal dari berbagai level, seperti mahasiswa (S1, S2, S3), guru, dosen, praktisi, maupun pemerhati pendidikan matematika. Plusminus terbit tiga kali dalam satu tahun, yaitu pada bulan Maret, Juli, dan November. Penerbit Plusminus adalah Program Studi Pendidikan Matematika Institut Pendidikan Indonesia.
Articles
15 Documents
Search results for
, issue
"Vol. 4 No. 3 (2024): November"
:
15 Documents
clear
Kemampuan Berpikir Kritis Siswa pada Pembelajaran Matematika dengan menggunakan Contextual Teaching and Learning
Irene Ester , Shekinah;
Listiani, Tanti
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 4 No. 3 (2024): November
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/plusminus.v4i3.1461
Guru berperan dalam memfasilitasi pembelajaran yang mendukung kemampuan berpikir kritis. Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) dianggap sebagai solusi untuk masalah ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah CTL dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis dalam matematika. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa, kemampuan berpikir kritis siswa meningkat sebesar 32%, dari 51% menjadi 83%. Tahapan CTL mendukung kemampuan berpikir kritis dengan memberikan masalah kontekstual dan pembelajaran interaktif. Melalui CTL, siswa lebih bertanggung jawab dalam menghadapi masalah kehidupan nyata. Teachers play a role in facilitating learning that supports critical thinking skills. The Contextual Teaching and Learning (CTL) approach is a solution to this problem. This research aims to determine whether CTL can develop critical thinking skills in mathematics. This research uses descriptive qualitative methods. The results show that students' critical thinking abilities increased by 32%, from 51% to 83%. The CTL stages support critical thinking skills by providing contextual problems and interactive learning. Through CTL, students are more responsible in dealing with real-life problems.
Analisis Kesalahan Siswa Menurut Teori Newman dalam Menyelesaikan Masalah Persamaan Garis Lurus Berdasarkan Tipe Kepribadian Judging dan Perceiving
Faradilla, Hanifa;
Yanty Putri Nasution, Eline
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 4 No. 3 (2024): November
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/plusminus.v4i3.1930
Penelitian ini bertujuan menganalisis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal persamaan garis lurus berdasarkan tipe kepribadian Judging dan Perceiving menggunakan teori Newman. Metode kualitatif deskriptif diterapkan dengan memilih 4 siswa dari kelas XE SMA di Kota Sungai Penuh, 2 siswa dengan tipe Judging dan 2 siswa dengan tipe Perceiving. Instrumen yang digunakan yakni angket MBTI, tes kesalahan siswa, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe Judging sering mengalami kesalahan dalam memahami, mentransformasikan informasi, dan keterampilan proses, sedangkan tipe Perceiving menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam mentransformasikan informasi dan perbaikan yang lebih variatif. This research aims to analyze students' errors in solving straight-line equation problems based on the Judging and Perceiving personality types using Newman's theory. The descriptive qualitative method was applied by selecting 4 students from the XE high school class in Sungai Banyak City, 2 students with the Judging type and 2 students with the Perceiving type. The instruments used were the MBTI questionnaire, student error tests, and interviews. The research results show that the Judging type often experiences errors in understanding, transforming information, and processing skills. In contrast, the Perceiving type shows better abilities in transforming information and more varied improvements.
Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terhadap Komunikasi Matematis Siswa Ditinjau dari Self-Efficacy
Zohriah, Zohriah;
Ahyan, Shahibul;
Endriana, Neny
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 4 No. 3 (2024): November
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/plusminus.v4i3.1993
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan model pembelajaran inkuiri terhadap komunikasi matematis siswa ditinjau dari self-efficacy pada materi Bilangan Berpangkat. Jenis penelitian yang digunakan adalah Quasi Experimen dengan design One-Group Pretest-Posttest. Sampel pada penelitian ini berjumlah 35 siswa kelas VIII dengan teknik pengambilan sampel menggunakan Probality Sampling dengan jenis Simple Random Sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes essay, angket self-efficacy, dan observasi kegiatan belajar mengajar. Teknik analisis data menggunakan regresi linier sederhana. Hasil penelitian ini dilihat dari hasil . Adapun nilai koefesien determinasinya sebesar 34% dan setelah dimasukkan data variabel moderatornya nilai koefesien determinasinya meningkat menjadi 46,7%. Hal ini menunjukkan bahwa self-efficacy memperkuat hubungan anatara model pembelajaran inkuiri dan komunikasi matematis siswa. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran inkuiri terhadap komunikasi matematis siswa ditinjau dari self-efficacy. Penggunaan model pembelajaran inkuiri mampu menciptakan pembelajaran yang intraktif, sehingga siswa dapat lebih komunikatif dalam menyampaikan ide ataupun gagasan mereka dengan cukup percaya diri. This study aims to determine the effect of using the inquiry learning model on students' mathematical communication, which was reviewed from self-efficacy on Power Number material. The type of research used is Quasi Experiment with One-Group Pretest-Posttest design. The population and sample in this study were 35 eighth-grade students, with the sample taken using Probability Sampling with Simple Random Sampling type. The research instruments used were an essay test, a self-efficacy questionnaire, and an observation of teaching and learning activities. Data analysis techniques using a simple linear regression test. The research results can be seen in the t-count (4.124) t-table (2.035). The coefficient of determination value is 34%, and after the moderator variable data is entered, the coefficient determination value increases to 46.7%. It shows that self-efficacy strengthens the relationship between the inquiry learning model and students' mathematical communication. So, it can be concluded that the inquiry learning mode influences student mathematical communication regarding self-efficacy. Using the inquiry learning model can create interactive learning so the students can be more communicative in conveying their ideas with sufficient confidence.
Perbedaan Kemampuan Pemecahan Masalah dan Self-Confidence antara Media Video Pembelajaran dan Media Alat Peraga
Mardiani, Dian;
Sumartini, Tina Sri;
Nuraisah, Nisa
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 4 No. 3 (2024): November
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/plusminus.v4i3.2056
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis dan self confidence siswa antara yang mendapatkan media video pembelajaran dan alat peraga. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen. Instrumen penelitian yang digunakan berupa tes uraian dan angket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata tes kemampuan pemecahan masalah pada kelas media video sebesar 11,67 dan kelas alat peraga sebesar 9,46. Nilai rata-rata self confidence siswa pada kelas media video sebesar 40,97 dan pada kelas alat peraga sebesar 37,12. Disimpulkan bahwa terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematis dan self confidence antara siswa yang mendapatkan media video pembelajaran dan alat peraga. The purpose of this study was to analyze the differences in mathematical problem-solving ability and self-confidence of students between those who received learning video media and teaching aids. The research method used was quasi-experimental. The research instruments used were descriptive tests and questionnaires. The results showed that the average value of the problem-solving ability test in the video media class was 11.67 and the teaching aid class was 9.46. The average value of students' self-confidence in the video media class was 40.97 and in the teaching aid class was 37.12. It was concluded that there were differences in mathematical problem-solving ability and self-confidence between students who received learning video media and teaching aids.
Unlocking Students’ Creative Thinking in Mathematics: A Study on Three-Dimensional Shapes
Arnisya, Melinda Fahriani;
Afriansyah, Ekasatya Aldila
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 4 No. 3 (2024): November
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/plusminus.v4i3.2204
Kemampuan berpikir kreatif perlu dimiliki oleh siswa dalam pembelajaran matematika. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuab berpikir kreatif siswa SMP pada materi Bangun Ruang Sisi Datar Kubus dan Balok. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penentuan subjek penelitian dilakukan secara Purposive Sampling dengan memilih 3 orang siswa kelas VIII. Data diperoleh dengan cara melakukan tes tertulis, wawancara, dan observasi. Setiap data atau informasi yang diperoleh dianalisis dalam bentuk deskriptif. Kemampuan berpikir kreatif yang dimiliki siswa dianalisis berdasarkan indikator-indikator kemampuan berpikir kreatif. Hasil penelitian ini adalah keempat indikator kemampuan berpikir kreatif siswa perlu ditingkatkan karena belum optimal. Faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan berpikir kreatif yaitu proses pembelajaran, pemahaman siswa, serta pemberian latihan soal. Creative thinking skills are essential for students in learning mathematics. This study aims to analyze the creative thinking abilities of junior high school students in the topic of Three-Dimensional Shapes, specifically cubes and rectangular prisms. The research method used is qualitative descriptive. The selection of research subjects was conducted using purposive sampling, involving three eighth-grade students. Data were collected through written tests, interviews, and observations. All obtained data or information were analyzed descriptively. Students' creative thinking skills were analyzed based on specific indicators of creative thinking ability. The results of this study show that all four indicators of students' creative thinking skills need improvement, as they are not yet optimal. Factors influencing creative thinking skills include the learning process, students' comprehension, and the provision of practice problems.
Assessing Mathematical Understanding in Fourth-Grade Students: A Focus on Multiplication and Division Skills
Saepuloh, Ade Rohimat;
Luritawaty, Irena Puji;
Afriansyah, Ekasatya Aldila
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 4 No. 3 (2024): November
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/plusminus.v4i3.2210
Pemahaman matematika siswa di sekolah dasar tergolong masih sangat rendah, hal ini mendorong peneliti untuk mengkaji hal-hal yang menjadi penyebabnya. Faktor penting yang harus dikaji adalah kemampuan guru dalam mengajarkan matematika di sekolah dasar, karena guru lah yang bertanggungjawab terhadap sampainya pemahaman matematika siswa di sekolah. Sebelum mengkaji lebih jauh terkait peran penting guru di sekolah maka pada penelitian ini, peneliti ingin mengkaji terlebih dahulu terkait pemahaman matematika itu sendiri, sehingga analisis lebih lanjut berkenaan dengan peran guru di sekolah akan lebih komprehansif. Penelitian ini dilaksanakan di salah satu sekolah dasar di kecamatan leuwigoong dengan menjadikan siswa kelas IV sebagai subjek penelitian. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan penyebaran angket, tes terlulis, wawancara, dan observasi terhadap para siswa sebagai teknik pengumpulan data penelitiannya. Dari hasil pengolahan data selama penelitian diperoleh kesimpulan bahwa siswa dengan kemampuan awal tinggi, dapat memenuhi seluruh indikator kemampuan pemahaman matematiks, sedangkan siswa dengan kemampuan awal sedang dan rendah masing-masing dapat memenuhi dua indikator pemahaman matematika. Hal ini menunjukan bahwa diperlukan peran serius seorang pendidik untuk dapat menyampaikan materi pembelajaran secara profesional. Elementary school students' understanding of mathematics is still very low, this encourages researchers to study the causes. An important factor that must be studied is the skill of teachers to teach mathematics in elementary schools, because teachers are responsible for achieving students' understanding of mathematics in schools. Before studying further regarding the important role of teachers in schools, in this study, researchers want to first study the understanding of mathematics itself, so that further analysis regarding the role of teachers in schools will be more comprehensive. This research was conducted in one of the elementary schools in Leuwigoong District by making grade IV students the subjects of the research. This study uses a descriptive qualitative research method by distributing questionnaires, written tests, interviews, and observations of students as data collection techniques for its research. From the results of data processing during the study, it was concluded that students with high initial skills can meet all indicators of mathematical understanding skill, while students with moderate and low initial skills can each meet two indicators of mathematical understanding. This shows that a serious role is needed for an educator to be able to deliver learning materials professionally.
Cultural Perspectives in Geometry: Designing Ethnomathematics-Inspired Educational Tools for Geometric Thinking
Wibawa, Fayza Sandya;
Nurhikmayati, Iik;
Kania, Nia
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 4 No. 3 (2024): November
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/plusminus.v4i3.2276
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar berbasis etnomatematika guna meningkatkan keterampilan berpikir geometri siswa. Metode yang digunakan adalah model penelitian dan pengembangan dengan pendekatan 4D. Teknik analisis data meliputi penghitungan skor validitas dan kepraktisan melalui kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahan ajar yang dikembangkan memiliki validitas rata-rata sebesar 85% dan kepraktisan rata-rata 90,5%, menandakan bahwa bahan ajar sangat valid dan sangat praktis digunakan dalam pembelajaran. Keberhasilan ini dicapai melalui integrasi konsep geometri dengan budaya lokal, sehingga pembelajaran menjadi lebih kontekstual, relevan, dan dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar. This research aims to develop ethnomathematics-based teaching materials to improve students' geometric thinking skills. The method used is a research and development model with a 4D approach. Data analysis techniques include calculating validity and practicality scores through questionnaires. The research results show that the teaching materials developed have an average validity of 85% and an average practicality of 90.5%, indicating that the teaching materials are very valid and very practical to use in learning. This success was achieved through integrating geometric concepts with local culture, so that learning becomes more contextual, relevant, and can increase student motivation in learning.
Belajar Operasi Bentuk Aljabar Menggunakan Game Edukasi Arcademics
Sarumaha, Yenny Anggreini;
Pratama, Rikki;
Saputri, Witriani Oka Dwi;
Hofifah, Realita Torikotul
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 4 No. 3 (2024): November
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/plusminus.v4i3.2278
Tujuan penelitian ini adalah memahami penggunaan game Arcademics pada operasi bentuk aljabar. Metode penelitian adalah kualitatif deskriptif dengan dua orang siswa SMP kelas VII di Banyumas sebagai sampel. Instrumen penelitian adalah hasil kerja siswa, catatan lapangan observasi, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan Arcademics dapat memfasilitasi pembelajaran operasi bentuk aljabar melalui beberapa cara, yaitu tampilan visual dan animasi yang menarik, sistem game yang interaktif, dan pemberian umpan balik langsung yang mampu meningkatkan motivasi dan pemahaman siswa belajar operasi bentuk aljabar. Siswa memberikan persepsi positif terhadap penggunaan Arcademics dalam pembelajaran operasi bentuk aljabar dan menyatakan bahwa pembelajaran matematika menjadi lebih menyenangkan, menarik, dan mudah dipahami. Aspek tantangan dan kompetisi dalam game juga menjadi semangat tersendiri bagi siswa. The purpose of the present study is to understand the use of Arcademics on operation of algebra form. The research method in this study is descriptive qualitative involving two grade VII of Junior High School Students in Banyumas as samples. The result shows that Arcademics is able to fasilitate learning operation in algebra form through some ways, namely visual appearances and interesting animation, interactive game system, and giving feedback directly which was able to enhance students’ motivation and understanding on operation of algebra form. Students gave positive perception on Arcademics on operation of algebra form. Students stated that learning mathematics became enjoying, interesting, and easily understood. Challenging and competition in game also boosted students’ own spirit.
Profil Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Berdasarkan Level proficiency Matematis
Ummu Atiyatul Musodiqoh;
Jaelani, Anton
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 4 No. 3 (2024): November
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/plusminus.v4i3.2339
Kemampuan pemecahan masalah matematis penting dimiliki siswa sebagai bagian dari penguasaan kompetensi matematika. Penelitian ini bertujuan menganalisis kemampuan pemecahan masalah matematis siswa di salah satu SMA Negeri di Mesuji Raya berdasarkan level proficiency matematis. Subjek penelitian yaitu siswa berdasarkan tingkatan kemampuan matematis tinggi, sedang, dan rendah. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan instrumen soal pemecahan masalah matematis dan wawancara mendalam. Analisis data meliputi reduksi, kategorisasi, interpretasi data, dan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi signifikan dalam kemampuan siswa di setiap level proficiency matematis. Siswa dengan kemampuan matematis tinggi mampu memahami masalah, mengaitkan konsep dengan konteks nyata, dan mengevaluasi solusi dengan baik. Siswa dengan kemampuan sedang mengalami kesulitan dalam menerapkan strategi pemecahan masalah secara efektif. Siswa dengan kemampuan rendah menunjukkan kelemahan pada hampir seluruh tahapan pemecahan masalah. Mathematical problem-solving abilities are important for students to have as part of mastering mathematical competencies. This research aims to analyze students' mathematical problem-solving abilities at at one of the state high schools in Mesuji Raya based on their level of mathematical proficiency. The research subjects were students selected based on high, medium and low levels of mathematical ability. This qualitative research method uses mathematical problem-solving instruments and in-depth interviews. Data analysis consists of data reduction, data categorization, data interpretation, and drawing conclusions. The research results show that there are significant variations in students' abilities at each level of mathematical proficiency. Students with high mathematical abilities are able to understand problems, relate concepts to real contexts, and evaluate solutions well. On the other hand, students with medium ability experience difficulty in applying problem solving strategies effectively, while students with low ability show weaknesses in almost all stages of problem solving.
Strategi Siswa SD dalam Merepresentasikan Pecahan dengan Mengarsir Bangun Datar
Hidayatullah, Farhan Maulana;
Sari, Anisa Fatwa;
Lutfianto, Moch.
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 4 No. 3 (2024): November
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/plusminus.v4i3.2346
Salah satu kemampuan dasar matematika yang perlu diperhatikan guru adalah representasi. Kemampuan representasi matematis tercermin dalam kemampuan siswa merepresentasikan pecahan melalui arsiran. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kemampuan siswa merepresentasikan pecahan dan strategi yang dikembangkan oleh siswa kelas VI saat mengarsir pecahan berbagai bentuk bangun datar. Penelitian dilakukan pada 30 siswa Kelas VI di Surabaya. Data dikumpulkan menggunakan tes representasi pecahan dan wawancara. Analisis data menggunakan statistik deskriptif dan setiap tugas dievaluasi secara terpisah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan siswa merepresentasikan pecahan dengan mengarsir bangun datar terkategori cukup baik. Ada empat strategi yang digunakan siswa dalam menyelesaikan soal representasi pecahan yaitu membagi secara horizontal, vertikal, dan diagonal, memanfaatkan titik potong dari garis vertikal dan horizontal; menghubungkan dua titik berhadapan; menghubungkan titik sudut dengan titik tengah (pusat); dan memperkirakan besaran arsiran. One important mathematics skills that teachers need to pay attention to is representation. Mathematical representation ability is reflected on the way students represent fraction by shading a given shape. This study aims to describe the students’ ability to represent fractions and the students’ strategies in shading various fractions of two-dimensional shapes. This research was conducted with 30 Grade VI elementary school students in Surabaya. Data was collected using a fraction representation test consisting of 8 questions and interviews. Data was analysed using descriptive statistics and each task was evaluated separately. The analysis showed that students' ability to represent fractions by shading flat shapes was categorized as quite good. There are four strategies used by students in solving fraction representation problems, namely, students divide it horizontally, vertically, diagonally, utilize the intersection point of the vertical and horizontal lines; connect two opposite points; connect the corner point with the center point; and estimate the amount of shading.