cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA
ISSN : 27970744     EISSN : 27971031     DOI : https://doi.org/10.51878/science.v1i2.389
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan matematika dan IPA.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 529 Documents
PERSEPSI GURU TERHADAP LKPD BERBASIS HOTS SEBAGAI ALAT EVALUASI FORMATIF PEMBELAJARAN BIOLOGI SMAN 13 BONE Mutmainnah Hairunnisa Bahrun; Romi Adiansyah; Muhammad Ali
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.12400

Abstract

ABSTRACT The use of Higher Order Thinking Skills (HOTS)-based Student Worksheets (Lembar Kerja Peserta Didik or LKPD) has continued to expand as part of formative assessment practices. However, teachers' perspectives on the use of HOTS-based LKPD, particularly regarding their role as formative assessment tools in biology learning, have received limited research attention. This study explored teachers' perceptions of the use of HOTS-based LKPD as a formative assessment tool at SMAN 13 Bone. A descriptive qualitative approach was employed, involving four biology teachers as the primary informants and eight students as supporting informants selected through purposive sampling. Data were collected through interviews, observations, and documentation, and were analyzed using the Miles and Huberman model, including data reduction, data display, and conclusion drawing, supported by source and technique triangulation. The findings indicate that teachers perceive HOTS-based LKPD not only as instruments for assessing learning outcomes but also as tools for revealing students' thinking processes, thereby facilitating the provision of feedback and continuous improvement of instructional practices. Although their implementation is still influenced by time constraints, the readiness of teachers and students, and the availability of school facilities, teachers' positive perceptions encourage the consistent use of HOTS-based LKPD in formative assessment. This study highlights that teachers' perceptions serve as a crucial link between the use of HOTS-based LKPD and the effectiveness of formative assessment, while contributing to a broader understanding of assessment practices aimed at fostering higher-order thinking skills in biology education. ABSTRAK Pemanfaatan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) dalam pembelajaran terus berkembang sebagai bagian dari implementasi evaluasi formatif. Namun, pandangan guru mengenai penggunaan LKPD berbasis HOTS masih belum banyak diteliti, khususnya dalam kaitannya dengan fungsinya sebagai alat evaluasi formatif pada pembelajaran biologi. Kajian ini mengeksplorasi persepsi guru terhadap penggunaan LKPD berbasis HOTS sebagai alat evaluasi formatif di SMAN 13 Bone. Penelitian dilaksanakan melalui pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan empat guru biologi sebagai informan utama dan delapan siswa sebagai informan pendukung yang dipilih secara purposive. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman melalui reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan yang diperkuat dengan triangulasi sumber dan teknik. Analisis menunjukkan bahwa guru memandang LKPD berbasis HOTS sebagai instrumen yang tidak hanya menghasilkan informasi mengenai capaian belajar, tetapi juga mengungkap proses berpikir peserta didik sehingga mendukung penyusunan umpan balik dan perbaikan pembelajaran secara berkelanjutan. Meskipun implementasinya masih dipengaruhi oleh keterbatasan waktu, kesiapan guru dan peserta didik, serta dukungan fasilitas sekolah, persepsi positif guru mendorong pemanfaatan LKPD secara konsisten dalam evaluasi formatif. Kajian ini menegaskan bahwa persepsi guru menjadi penghubung penting antara penggunaan LKPD berbasis HOTS dan efektivitas evaluasi formatif, sekaligus memperkaya pemahaman mengenai implementasi asesmen yang berorientasi pada pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam pembelajaran biologi.
PROFIL PEMAHAMAN KONSEP SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA BARISAN ARITMETIKA DITINJAU DARI KEMAMPUAN MATEMATIS Maria Gracia Manoe Gawa; Desky Ronaldy Kabu; Meryani Lakapu
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.12481

Abstract

Conceptual understanding is an essential mathematical competence that influences students' success in solving word problems. However, many students still encounter difficulties at different stages of the problem-solving process. This study aims to describe the profile of students’ conceptual understanding in solving arithmetic sequence story problems as assessed by mathematical ability based on Newman’s stages. This study employs a descriptive research design with a qualitative approach. The research subjects consisted of three 10th-grade students from Class XA at St. Arnoldus Janssen High School in Kupang, representing high, moderate, and low levels of mathematical ability. The research instruments used were the Problem-Solving Test (PST) and interviews. Data validity was ensured through time triangulation using PPT I and PPT II. The results showed that subjects with high mathematical ability were able to meet the reading and comprehension stages but still made errors in the transformation stage. Subjects with moderate ability were able to meet the reading and comprehension stages but still made errors in formula application, which affected the problem-solving process and final answers. Meanwhile, subjects with low mathematical ability were able to complete the reading and comprehension stages but made errors in the transformation stage, process skills, and writing the final answer. Thus, students’ conceptual understanding profiles differed across each level of mathematical ability in solving arithmetic sequence word problems. ABSTRAK Pemahaman konsep matematis merupakan salah satu kompetensi yang berperan penting dalam keberhasilan siswa menyelesaikan soal cerita, namun masih banyak siswa mengalami kesulitan pada setiap tahapan penyelesaian masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil pemahaman konsep siswa dalam menyelesaikan soal cerita barisan aritmetika ditinjau dari kemampuan matematis berdasarkan tahapan Newman. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian terdiri atas tiga siswa kelas XA SMA St. Arnoldus Janssen Kupang yang mewakili kemampuan matematis tinggi, sedang, dan rendah. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu Tes Pemecahan Masalah (TPM) dan wawancara. Keabsahan data dilakukan melalui triangulasi waktu menggunakan TPM I dan TPM II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek berkemampuan matematis tinggi mampu memenuhi tahap membaca dan memahami, tetapi masih mengalami kesalahan pada tahap transformasi. Subjek berkemampuan sedang mampu memenuhi tahap membaca dan memahami, namun masih mengalami kesalahan dalam penggunaan rumus yang memengaruhi proses penyelesaian dan jawaban akhir. Sementara itu, subjek berkemampuan rendah mampu memenuhi tahap membaca dan memahami, tetapi mengalami kesalahan pada tahap transformasi, keterampilan proses, dan penulisan jawaban akhir. Dengan demikian, profil pemahaman konsep siswa berbeda pada setiap tingkat kemampuan matematis dalam menyelesaikan soal cerita barisan aritmetika.
PENGARUH MODEL KOOPERATIF TIPE TEAMS GAMES TOURNAMENT (TGT) BERBANTUAN APLIKASI BAAMBOOZLE TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS Azyra Fitria Amalika; Siti Maryam Rohimah; Siti Sholiha Nurfaidah
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.12553

Abstract

The sluggish learning interest and high levels of academic anxiety among students due to the rigid presentation of geometry material isolated from sociocultural realities are the background of this research. These obstacles trigger students' failure to visualize spatial figures independently in school mathematics learning. The main focus of this study is to explore the manifestation of ethnomathematics and the similarities of geometric shapes in traditional culinary products, namely the West Javanese kue blok (block cake) and the metal bars of the saron gamelan instrument. The steps of this descriptive qualitative research with an ethnographic approach are operated through purposive sampling involving traditional craftsmen and outlet owners. The actual data collection procedure is collected in depth through participatory observation techniques, semi-structured interviews, and structured documentation, which are then processed using an interactive analysis model including data reduction, presentation, and drawing conclusions. The research findings show that the making of kue blok reflects the three-dimensional dimensions of the block, the linear equation of the recipe, and the philosophical value of simplicity. Meanwhile, the anatomy of the saron contains the geometric concepts of the plane plane of the trapezoid, rectangle, and the transformation of mechanical energy into acoustic vibrations of the pitch precisely. The main conclusion confirms that contextualizing mathematics based on local Indonesian wisdom has proven effective in boosting intellectual agility while supporting the sustainable preservation of national cultural heritage. Educational practitioners are recommended to design daily lesson plans that consistently optimize real-world objects around the classroom. ABSTRAK Kelesuan minat belajar serta tingginya tingkat kecemasan akademik peserta didik akibat penyajian materi geometri yang kaku dan terisolasi dari realitas sosiokultural melatarbelakangi penelitian ini. Hambatan tersebut memicu kegagalan siswa dalam memvisualisasikan bangun ruang secara mandiri pada pembelajaran matematika sekolah. Fokus utama kajian ini adalah mengeksplorasi manifestasi etnomatematika dan kesamaan bentuk geometri pada produk kuliner tradisional kue balok khas Jawa Barat dan bilah logam instrumen gamelan saron. Langkah-langkah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan etnografi ini dioperasikan melalui penarikan sampel secara purposive yang melibatkan pengrajin adat dan pemilik outlet. Prosedur pengumpulan data aktual dihimpun secara mendalam lewat teknik observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur, serta dokumentasi terstruktur, yang selanjutnya diolah menggunakan model analisis interaktif meliputi reduksi data, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pembuatan kue balok merefleksikan dimensi tiga dimensi balok, persamaan linier resep, dan nilai filosofis kesederhanaan. Sementara itu, anatomi saron mengandung konsep geometri bidang datar trapesium, persegi panjang, serta transformasi energi mekanik menjadi getaran akustik laras nada secara presisi. Simpulan utama menegaskan bahwa kontekstualisasi matematika berbasis kearifan lokal nusantara terbukti efektif mendongkrak ketangkasan intelektual sekaligus mendukung pelestarian warisan budaya nasional secara berkelanjutan. Praktisi pendidikan direkomendasikan merancang rencana pelaksanaan pembelajaran harian dengan mengoptimalkan benda nyata di sekitar ruang kelas secara konsisten.    
EKSPLORASI BENTUK GEOMETRI PADA SERULING DAN PUTU BAMBU DALAM PENDEKATAN ETNOMATEMATIKA Dwi Lili Asyifa; Dede Jesika Hutauruk; Monika Yuni Harta Napitupulu; Lestari Aprianti Sijabat; Rini Harlina Haloho; Tri Susi Talenta Sinaga; Fredi Michael Sinaga
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.12844

Abstract

Geometry learning in schools is often presented in an abstract manner, making it difficult for students to relate mathematical concepts to real-life situations. In fact, various elements of local culture embody mathematical concepts that can serve as contextual learning resources through an ethnomathematical approach. However, studies exploring the geometric concepts embedded in the seruling (traditional flute) and putu bambu (steamed rice cake cooked in bamboo) remain limited, leaving their potential as mathematics learning resources largely unexplored. Therefore, this study aims to identify and describe the geometric concepts found in the seruling and putu bambu through an ethnomathematical approach. This study employed a descriptive qualitative method. Data were collected through interviews with seruling craftsmen and putu bambu vendors, supported by documentation in the form of photographs of the observed objects. The data were analyzed by identifying the geometric elements embedded in both cultural objects, particularly the concepts of circles and cylinders. The findings revealed that both the seruling and putu bambu share common geometric concepts, namely cylindrical shapes in their main bodies and circular shapes in their cross-sections. These findings indicate that the two cultural artifacts can be utilized as contextual and meaningful mathematics learning resources while simultaneously supporting the preservation of local culture through ethnomathematics-based learning. ABSTRAK Pembelajaran geometri di sekolah masih cenderung disajikan secara abstrak sehingga peserta didik sering mengalami kesulitan dalam menghubungkan konsep matematika dengan kehidupan nyata. Padahal, berbagai unsur budaya lokal mengandung konsep-konsep matematika yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar kontekstual melalui pendekatan etnomatematika. Namun, kajian mengenai konsep geometri pada seruling dan putu bambu sebagai bagian dari budaya lokal masih terbatas, sehingga potensi kedua objek tersebut sebagai media pembelajaran matematika belum banyak dieksplorasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan konsep geometri yang terdapat pada seruling dan putu bambu melalui pendekatan etnomatematika. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan perajin dan penjual seruling serta putu bambu, disertai dokumentasi berupa foto objek yang diamati. Analisis data dilakukan dengan mengidentifikasi unsur-unsur geometri yang terdapat pada kedua objek, khususnya bangun datar lingkaran dan bangun ruang tabung (silinder). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seruling dan putu bambu memiliki kesamaan konsep geometri berupa bentuk tabung pada badan objek dan lingkaran pada bagian penampangnya. Temuan ini menunjukkan bahwa kedua objek budaya tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran matematika yang kontekstual, bermakna, serta mendukung pelestarian budaya lokal melalui pembelajaran berbasis etnomatematika.
EKSPLORASI ETNOMATEMATIKA PADA MAKANAN TRADISIONAL LAPET DAN ALAT MUSIK TAGANING Lidya Kyrena Kharisma Pakpahan; Greises Hernasa Sidauruk; Rolas Alex Nababan; Amelia Siska Roma ito Nainggolan; Tia Steffani Rejeki Panjaitan; Icha Pranata Hutabarat; Diva Marlina Situngkir
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.12846

Abstract

This study aims to explore the mathematical concepts embedded in local culture through an ethnomathematics approach applied to Lapet, a traditional food, and Taganing, a traditional musical instrument, as a source of contextual mathematics learning and as an effort to preserve cultural heritage. Both cultural objects were analyzed to identify mathematical elements such as plane figures, solid geometry, patterns and repetition, ratio and measurement, as well as time and temperature calculation. The method used was qualitative research with an ethnographic approach, employing literature study and direct observation of the Lapet-making process and the Taganing performance. The findings revealed that Lapet and Taganing embody various mathematical concepts related to geometry, patterns, measurement, and proportion. These findings indicate that both cultural artifacts represent the application of mathematical concepts in community life and have the potential to serve as contextual learning resources in ethnomathematics-based mathematics education. This study offers novelty by revealing the concept of time and temperature calculation in a traditional culinary process as an ethnomathematics element that has rarely been explored in similar studies, as well as by linking two distinct Batak cultural objects, namely traditional food and a traditional musical instrument, within a single integrated ethnomathematics study. These findings prove that local cultural heritage can serve as a contextual learning resource that enriches students' mathematical understanding while supporting the preservation of Batak culture in the field of education. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi konsep-konsep matematika yang terkandung dalam budaya lokal melalui pendekatan etnomatematika terhadap makanan tradisional Lapet dan alat musik tradisional Taganing sebagai sumber pembelajaran kontekstual matematika sekaligus upaya pelestarian budaya. Kedua objek budaya tersebut dianalisis untuk mengidentifikasi unsur-unsur matematika seperti bangun datar, bangun ruang, pola dan pengulangan, perbandingan dan pengukuran, hingga perhitungan waktu dan suhu. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi melalui studi literatur dan observasi langsung pada proses pembuatan Lapet serta pertunjukan musik Taganing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lapet dan Taganing mengandung berbagai konsep matematika yang berkaitan dengan geometri, pola, pengukuran, dan perbandingan. Temuan ini menunjukkan bahwa kedua objek budaya tersebut merepresentasikan penerapan konsep matematika dalam kehidupan masyarakat serta berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran matematika berbasis etnomatematika. Temuan ini membuktikan bahwa warisan budaya lokal dapat menjadi sumber pembelajaran kontekstual yang memperkaya pemahaman matematika siswa sekaligus mendukung pelestarian budaya Batak dalam dunia pendidikan.
EKSPLORASI ETNOMATEMATIKA PADA KUE BALOK DAN ALAT MUSIK GAMELAN SARON : KESAMAAN BENTUK GEOMETRINYA Tuty Valentina Sinaga; H Diesel; Jerico Chistian Natanael Manalu; Melita Cicilia Tondang; Melisah Hidayah; Rostinaria Oktaviani Sihombing; Yohana Taruli Simamora
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.12871

Abstract

The sluggish learning interest and high levels of academic anxiety among students due to the rigid presentation of geometry material isolated from sociocultural realities are the background of this research. These obstacles trigger students' failure to visualize spatial figures independently in school mathematics learning. The main focus of this study is to explore the manifestation of ethnomathematics and the similarities of geometric shapes in traditional culinary products, namely the West Javanese kue blok (block cake) and the metal bars of the saron gamelan instrument. The steps of this descriptive qualitative research with an ethnographic approach are operated through purposive sampling involving traditional craftsmen and outlet owners. The actual data collection procedure is collected in depth through participatory observation techniques, semi-structured interviews, and structured documentation, which are then processed using an interactive analysis model including data reduction, presentation, and drawing conclusions. The research findings show that the making of kue blok reflects the three-dimensional dimensions of the block, the linear equation of the recipe, and the philosophical value of simplicity. Meanwhile, the anatomy of the saron contains the geometric concepts of the plane plane of the trapezoid, rectangle, and the transformation of mechanical energy into acoustic vibrations of the pitch precisely. The main conclusion confirms that contextualizing mathematics based on local Indonesian wisdom has proven effective in boosting intellectual agility while supporting the sustainable preservation of national cultural heritage. Educational practitioners are recommended to design daily lesson plans that consistently optimize real-world objects around the classroom. ABSTRAK Kelesuan minat belajar serta tingginya tingkat kecemasan akademik peserta didik akibat penyajian materi geometri yang kaku dan terisolasi dari realitas sosiokultural melatarbelakangi penelitian ini. Hambatan tersebut memicu kegagalan siswa dalam memvisualisasikan bangun ruang secara mandiri pada pembelajaran matematika sekolah. Fokus utama kajian ini adalah mengeksplorasi manifestasi etnomatematika dan kesamaan bentuk geometri pada produk kuliner tradisional kue balok khas Jawa Barat dan bilah logam instrumen gamelan saron. Langkah-langkah penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan etnografi ini dioperasikan melalui penarikan sampel secara purposive yang melibatkan pengrajin adat dan pemilik outlet. Prosedur pengumpulan data aktual dihimpun secara mendalam lewat teknik observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur, serta dokumentasi terstruktur, yang selanjutnya diolah menggunakan model analisis interaktif meliputi reduksi data, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pembuatan kue balok merefleksikan dimensi tiga dimensi balok, persamaan linier resep, dan nilai filosofis kesederhanaan. Sementara itu, anatomi saron mengandung konsep geometri bidang datar trapesium, persegi panjang, serta transformasi energi mekanik menjadi getaran akustik laras nada secara presisi. Simpulan utama menegaskan bahwa kontekstualisasi matematika berbasis kearifan lokal nusantara terbukti efektif mendongkrak ketangkasan intelektual sekaligus mendukung pelestarian warisan budaya nasional secara berkelanjutan. Praktisi pendidikan direkomendasikan merancang rencana pelaksanaan pembelajaran harian dengan mengoptimalkan benda nyata di sekitar ruang kelas secara konsisten.    
KELAYAKAN DAN RESPON PENGGUNA TERHADAP VIDEO FOTOSINTESIS BAGI SISWA SMP Rafina Rafina; Maulid Nadian Putrini; Dyah Pramesthi Isyana Ardyati
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.12893

Abstract

The limitations of visualization and low student learning motivation due to the lack of innovative media facilities in the abstract material of plant photosynthesis are the background of this research. This problem triggers the failure of seventh grade junior high school students in building a complete mental representation of the biochemical processes of plants. The main focus of this research is to evaluate the level of feasibility of photosynthesis learning videos for students and analyze teacher and student responses to the acceptance of this technology. The method applied is the research and development method (R&D) with a limited feasibility test design. Actual data collection was collected using expert validation sheets, a four-level Likert scale questionnaire, and open-ended questions, which were then analyzed using quantitative percentage techniques and thematic analysis. Quantitative data from expert assessments revealed that this video met the criteria of very suitable in the media aspect at 95.8 percent, the material aspect at 92.5 percent, and the category of suitable in the language aspect with an achievement of 75.0 percent. Furthermore, the analysis of user responses resulted in an average score of very good usefulness from teachers of 3.8 and positive appreciation from students reaching 85.0 percent. The main conclusion confirms that the tested photosynthesis learning video product is highly suitable as a supporting instrument to facilitate concrete cognitive needs. This digital media is recommended as an adaptive strategy to ensure the sustainable success of the high school science learning transformation agenda. ABSTRAK Keterbatasan visualisasi serta rendahnya motivasi belajar peserta didik akibat minimnya fasilitas media inovatif pada materi abstrak fotosintesis tanaman melatarbelakangi penelitian ini. Masalah tersebut memicu adanya kegagalan siswa kelas VII SMP dalam membangun representasi mental yang utuh mengenai proses biokimia tumbuhan. Fokus utama penelitian ini adalah mengevaluasi tingkat kelayakan video pembelajaran fotosintesis bagi siswa serta menganalisis respon guru dan siswa terhadap penerimaan teknologi tersebut. Metode yang diterapkan yaitu metode penelitian pengembangan (Research and Development) dengan desain uji kelayakan terbatas. Pengumpulan data aktual dikumpulkan menggunakan lembar validasi ahli, angket kuesioner skala Likert empat tingkat, dan pertanyaan terbuka, yang selanjutnya dianalisis melalui teknik persentase kuantitatif serta analisis tematik. Data kuantitatif hasil penilaian para ahli menyingkap bahwa video ini memenuhi kriteria sangat layak pada aspek media sebesar 95,8 persen, aspek materi senilai 92,5 persen, serta kategori layak pada aspek bahasa dengan capaian 75,0 persen. Lebih lanjut, analisis respon pengguna menghasilkan skor rata-rata kemanfaatan yang sangat baik dari guru sebesar 3,8 dan apresiasi positif siswa mencapai 85,0 persen. Simpulan utama menegaskan bahwa produk video pembelajaran fotosintesis teruji sangat layak sebagai instrumen pendukung dalam memfasilitasi kebutuhan kognitif secara konkret. Media digital ini direkomendasikan sebagai strategi adaptif untuk menyukseskan agenda transformasi pembelajaran sains sekolah menengah secara berkelanjutan.    
PENGARUH OPEN-ENDED LEARNING BERBANTUAN AUGMENTED REALITY UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIK SD Septi Nurul Hasanah; Siti Maryam Rohimah; Moh. Nurhadi
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.12898

Abstract

The low cognitive abilities and limited spatial visualization abilities of students in identifying and solving abstract non-routine word problems are the background of this research. These operational problems trigger the failure of elementary school children in designing systematic mathematical problem-solving strategies. The main focus of this scientific study is to detect the profound influence of the application of an open-ended learning pattern assisted by augmented reality technology in boosting the mathematical problem-solving abilities of elementary school students. This quantitative research path applies a quasi-experimental method with a nonequivalent control group design scheme. A total of 44 fifth-grade students in the elementary school environment were involved as observation subjects through a purposive sampling technique, then analyzed using the non-parametric Mann-Whitney U statistical test. Quantitative data from the final evaluation (posttest) empirically revealed a very clear disparity in performance, where the experimental group successfully achieved an average score of 73.33, while the control class only obtained a score of 61.30. The measurement of the effect size (effect size) of the correlation coefficient produced a score of 0.36, which indicates the strength of the effect is in the medium category (medium effect). The main conclusion confirms that the collaboration of an open learning approach with real-time virtual objects effectively stimulates independent critical thinking based on all Polya stage indicators. Education practitioners are recommended to utilize this interactive instrument as an alternative adaptive instructional strategy to ensure the comprehensive and sustainable success of the modern numeracy transformation agenda. ABSTRAK Rendahnya kecakapan kognitif serta keterbatasan kemampuan visualisasi spasial murid dalam mengidentifikasi dan memecahkan soal cerita non-rutin yang abstrak melatarbelakangi penelitian ini. Masalah operasional tersebut memicu adanya kegagalan anak usia dasar dalam merancang strategi penyelesaian matematika yang sistematis. Fokus utama kajian ilmiah ini adalah mendeteksi pengaruh mendalam dari penerapan pola open-ended learning berbantuan teknologi augmented reality dalam mendongkrak kemampuan pemecahan masalah matematik siswa sekolah dasar. Jalur riset kuantitatif ini menerapkan metode kuasi eksperimen berskema nonequivalent control group design. Sebanyak 44 murid kelas V di lingkungan sekolah dasar tersebut dilibatkan sebagai subjek amatan melalui teknik sampling purposive, lalu dianalisis menggunakan uji statistik non-parametrik Mann-Whitney U. Data kuantitatif hasil evaluasi akhir (posttest) secara empiris menyingkap disparitas performa yang sangat nyata, di mana kelompok eksperimen sukses meraih rerata nilai sebesar 73,33, sedangkan kelas kontrol hanya memperoleh angka 61,30. Pengukuran ukuran efek (effect size) koefisien korelasi menghasilkan skor sebesar 0,36, yang mengindikasikan kekuatan pengaruh berada pada kategori sedang (medium effect). Simpulan utama menegaskan bahwa kolaborasi pendekatan pembelajaran terbuka dengan objek virtual secara real-time efektif menstimulasi kemandirian berpikir kritis berdasarkan seluruh indikator tahapan Polya. Praktisi pendidikan direkomendasikan memanfaatkan instrumen interaktif ini sebagai alternatif strategi instruksional adaptif untuk menyukseskan agenda transformasi numerasi modern secara menyeluruh dan berkelanjutan.    
PENINGKATAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS DAN KOMUNIKASI MELALUI MODEL HANTARAN BERBANTUAN MEDIA CERIPAS PADA PEMBELAJARAN IPAS Ghina Rhoudotul Jannah; Diani Ayu Pratiwi
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.12900

Abstract

The low critical thinking skills and the ability to convey ideas orally and in writing in comprehensive Natural and Social Sciences learning are the background of this research. These operational problems result in the passivity of fifth-grade elementary school students in identifying daily contextual problems. The main focus of this research is to describe and analyze the escalation of critical reasoning capacity and interpersonal communication of students through the implementation of the integrated HANTARAN model assisted by CERIPAS media. The steps of this Classroom Action Research were implemented in a structured manner in four meetings involving 30 students. Primary data collection used observation techniques, oral tests, and performance assessments, which were analyzed descriptively qualitatively and quantitatively. The results of the quantitative research empirically revealed an increase in classical completeness of critical thinking skills from the initial meeting by 10 percent to 84 percent. In line with that, student communication achievement skyrocketed from 4 percent to successfully reach the target figure of 87 percent at the final meeting. The main conclusion confirms that the innovative HANTARAN model based on the integration of Project Based Learning, Contextual Teaching and Learning, and Role Playing has been proven to be very effective in boosting the quality of basic instruction. The use of interactive visual media rich in contextual stories is recommended as an innovative curative strategy for elementary education practitioners to cultivate character and shape the identity of lifelong learners in a sustainable manner. ABSTRAK Rendahnya keterampilan berpikir kritis serta kecakapan menyampaikan gagasan secara lisan maupun tulisan pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial komprehensif melatarbelakangi penelitian ini. Masalah operasional tersebut mengakibatkan kepasifan murid kelas lima sekolah dasar dalam mengidentifikasi masalah kontekstual harian. Fokus utama penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menganalisis eskalasi kapasitas bernalar kritis serta komunikasi interpersonal murid melalui implementasi model HANTARAN terpadu berbantuan media CERIPAS. Langkah-langkah Penelitian Tindakan Kelas atau Classroom Action Research ini dilaksanakan secara terstruktur dalam empat pertemuan yang melibatkan subjek sebanyak 30 murid. Pengumpulan data primer menggunakan teknik observasi, tes lisan, dan penilaian performa, yang dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian kuantitatif secara empiris menyingkap peningkatan ketuntasan klasikal keterampilan berpikir kritis dari pertemuan awal sebesar 10 persen melonjak menjadi 84 persen. Selaras dengan itu, capaian komunikasi murid meroket dari 4 persen hingga berhasil mencapai target angka 87 persen pada pertemuan terakhir. Simpulan utama menegaskan bahwa model HANTARAN inovatif berbasis integrasi Project Based Learning, Contextual Teaching and Learning, dan Role Playing teruji sangat efektif mendongkrak mutu instruksional dasariah. Penggunaan media visual interaktif kaya cerita kontekstual ini direkomendasikan sebagai salah satu strategi kuratif inovatif bagi praktisi pendidikan dasar untuk menumbuhkan budi pekerti serta membentuk identitas pembelajar sepanjang hayat secara berkelanjutan.  
PENGEMBANGAN MEDIA LKPD ETNOBOTANI JENIS TUMBUHAN OBAT MASYARAKAT DESA WINNING SEBAGAI SUMBER BELAJAR Sapna Pertiwi; Dyah Pramesthi Isyana Ardyati; Jumiati Jumiati
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.12901

Abstract

The use of medicinal plants as a biology learning resource in schools has not yet been fully optimized, even though the students’ surrounding environment offers local potential that can support contextual learning on biodiversity. Learning that remains dominated by theoretical resources results in students having limited knowledge of the types, benefits, and processing methods of medicinal plants found in their surroundings. The village of Winning possesses various types of medicinal plants with the potential to be developed as ethnobotany-based learning resources. This study aims to develop valid, practical, and suitable ethnobotany Student Worksheets (LKPD) on the medicinal plants of the Winning village community for use as biology learning resources. This study is a research and development (R&D) project using the 4D model, which includes the define, design, develop, and disseminate stages. The research subjects consisted of 2 expert lecturers, 3 biology teachers, and 10th-grade students at SMA Negeri 6 Pasarwajo. Data were collected using an expert validation sheet and questionnaires for teachers and students. The results showed that the ethnobotany worksheet achieved a validity score of 0.84, classified as valid. Teacher responses yielded a 97.5% approval rate, while student responses showed an 87.9% approval rate, both classified as highly practical. Based on these results, the ethnobotany worksheet on medicinal plants of the Winning Village community is deemed valid, practical, and suitable for use as a biology learning resource. ABSTRAK Pemanfaatan tumbuhan obat sebagai sumber belajar biologi di sekolah belum dilakukan secara optimal, sedangkan lingkungan sekitar peserta didik memiliki potensi lokal yang dapat mendukung pembelajaran kontekstual pada materi keanekaragaman hayati. Pembelajaran yang masih didominasi sumber belajar teoritis menyebabkan peserta didik kurang mengenal jenis, manfaat, dan cara pengolahan tumbuhan obat yang terdapat di lingkungan sekitar. Desa Winning memiliki berbagai jenis tumbuhan obat yang berpotensi dikembangkan sebagai sumber belajar berbasis etnobotani. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) etnobotani jenis tumbuhan obat masyarakat Desa Winning yang valid, praktis, dan layak digunakan sebagai sumber belajar Biologi. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan (Research and Development) menggunakan model 4D yang meliputi tahap define, design, develop, dan disseminate. Subjek penelitian terdiri atas 2 dosen ahli, 3 guru biologi, dan peserta didik kelas X SMA Negeri 6 Pasarwajo. Data dikumpulkan menggunakan lembar validasi ahli dan angket respon guru serta peserta didik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LKPD etnobotani memperoleh nilai validitas sebesar 0,84 dengan kategori valid. Hasil respon guru memperoleh persentase sebesar 97,5% dan respon peserta didik secara luas sebesar 87,9% dengan kategori sangat praktis. Berdasarkan hasil tersebut, LKPD etnobotani jenis tumbuhan obat masyarakat Desa Winning dinyatakan valid, praktis, dan layak digunakan sebagai sumber belajar Biologi.