cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA
ISSN : 27970744     EISSN : 27971031     DOI : https://doi.org/10.51878/science.v1i2.389
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan pendidikan matematika dan IPA.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 679 Documents
PENGARUH MODEL EXPERIENTIAL LEARNING TERHADAP KETERAMPILAN PEMECAHAN MASALAH SISWA PADA MATERI PERUBAHAN WUJUD BENDA Ummul Muchlisho; Arie Widya Murni; Ika Silvi Anisa
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.14682

Abstract

Science learning in elementary schools needs to provide learning experiences that enable students to understand phenomena directly while developing problem-solving skills. However, teacher-centered instruction may limit students' involvement in observing, analyzing, and solving problems based on real experiences. This condition indicates the need for a learning model that connects concrete experiences with reflection, concept formation, and knowledge application. This study aimed to analyze the effect of the Experiential Learning model on the problem-solving skills of fourth-grade students at SDN Bendotretek I on the topic of changes in states of matter. The study employed a quantitative approach using a pre-experimental method with a One Group Pretest-Posttest design. The participants were 19 fourth-grade students. Data were collected through problem-solving skill tests and observations of learning activities. The results showed an improvement in students' problem-solving skills after the implementation of the Experiential Learning model. The students' mean score increased from 46.0 in the pretest to 74.7 in the posttest, and the Paired Sample t-test indicated a significant difference between the two measurements. The improvement suggests that concrete experiences, reflection, concept formation, and knowledge application in Experiential Learning can help students understand problems and determine solutions based on their learning experiences. Therefore, the Experiential Learning model can be used as an alternative science learning model to develop elementary students' problem-solving skills, particularly on the topic of changes in states of matter. ABSTRAK Pembelajaran IPA di sekolah dasar perlu memberikan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa memahami fenomena secara langsung sekaligus mengembangkan keterampilan pemecahan masalah. Namun, pembelajaran yang masih berpusat pada guru dapat membatasi keterlibatan siswa dalam mengamati, menganalisis, dan menyelesaikan permasalahan berdasarkan pengalaman nyata. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya model pembelajaran yang menghubungkan pengalaman konkret dengan proses refleksi, pembentukan konsep, dan penerapan pengetahuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh model Experiential Learning terhadap keterampilan pemecahan masalah siswa kelas IV SDN Bendotretek I pada materi perubahan wujud benda. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode pre-experimental dan desain One Group Pretest-Posttest. Subjek penelitian berjumlah 19 siswa kelas IV. Data dikumpulkan melalui tes keterampilan pemecahan masalah dan observasi aktivitas pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan keterampilan pemecahan masalah setelah penerapan model Experiential Learning. Rata-rata kemampuan siswa meningkat dari 46,0 pada pretest menjadi 74,7 pada posttest, dan hasil uji Paired Sample t-test menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kedua hasil pengukuran. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman konkret, refleksi, pembentukan konsep, dan penerapan pengetahuan dalam Experiential Learning dapat membantu siswa memahami permasalahan dan menentukan penyelesaian berdasarkan pengalaman belajar yang diperoleh. Dengan demikian, model Experiential Learning dapat digunakan sebagai alternatif pembelajaran IPA untuk mengembangkan keterampilan pemecahan masalah siswa sekolah dasar, khususnya pada materi perubahan wujud benda.
PROFIL KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS X DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI DI KABUPATEN PIDIE Zuraida Zuraida; Zufahmi Zufahmi; Makawiyah Makawiyah
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.14724

Abstract

Critical thinking is an essential competency that should be fostered through Biology education to prepare students for the demands of 21st-century learning and the implementation of the Merdeka Curriculum. However, evidence suggests that students’ critical thinking skills remain insufficiently developed, highlighting the need to identify their current proficiency as a basis for instructional improvement. This study aimed to describe the profile of Grade X senior high school students’ critical thinking skills in Biology learning in Pidie Regency, Indonesia. A descriptive quantitative research design was employed involving 325 Grade X students. Data were collected through an essay-based critical thinking test developed according to Facione’s six indicators of critical thinking, namely interpretation, analysis, inference, evaluation, explanation, and self-regulation, as well as questionnaires administered to teachers and students regarding Biology instruction. The data were analyzed using descriptive statistics. The findings revealed that the overall mean score of students’ critical thinking skills was 38.91, which was categorized as very low. Among the six indicators, interpretation obtained the highest mean score (45.38, low category), while analysis (36.31), inference (40.08), evaluation (38.85), explanation (35.38), and self-regulation (37.77) remained in the very low category. Questionnaire results further indicated that Biology instruction was still predominantly teacher-centered and had not effectively promoted students’ critical thinking skills. The study concludes that strengthening student-centered, contextual, and inquiry-oriented Biology learning is essential to improve students’ critical thinking skills in line with the objectives of the Merdeka Curriculum. ABSTRAK Keterampilan berpikir kritis merupakan kompetensi esensial yang perlu dikembangkan dalam pembelajaran Biologi untuk mendukung pencapaian kompetensi abad ke-21 dan implementasi Kurikulum Merdeka. Namun, kemampuan berpikir kritis siswa di berbagai sekolah masih menunjukkan hasil yang belum optimal, sehingga diperlukan pemetaan kondisi aktual sebagai dasar perbaikan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan profil keterampilan berpikir kritis siswa kelas X SMA pada mata pelajaran Biologi di Kabupaten Pidie. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan melibatkan 325 siswa kelas X SMA sebagai sampel penelitian. Data dikumpulkan melalui tes uraian yang dikembangkan berdasarkan enam indikator keterampilan berpikir kritis Facione, yaitu interpretasi, analisis, inferensi, evaluasi, eksplanasi, dan pengaturan diri, serta angket yang diberikan kepada guru dan siswa untuk memperoleh gambaran pelaksanaan pembelajaran Biologi. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata keterampilan berpikir kritis siswa hanya mencapai skor 38,91 yang termasuk kategori sangat rendah. Berdasarkan indikator, skor interpretasi mencapai 45,38 (rendah), sedangkan analisis (36,31), inferensi (40,08), evaluasi (38,85), eksplanasi (35,38), dan pengaturan diri (37,77) berada pada kategori sangat rendah. Hasil angket juga menunjukkan bahwa pembelajaran biologi masih didominasi oleh pendekatan berpusat pada guru dan belum secara optimal memfasilitasi pengembangan keterampilan berpikir kritis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keterampilan berpikir kritis siswa kelas X SMA di Kabupaten Pidie masih memerlukan penguatan melalui penerapan pembelajaran Biologi yang lebih aktif, berpusat pada siswa, kontekstual, dan selaras dengan implementasi Kurikulum Merdeka.
INOVASI MEDIA E-LICA (E-COMIC LITERASI CERDAS PANCAINDERA) DALAM PEMBELAJARAN IPA MATERI PANCAINDERA UNTUK MENINGKATKAN LITERASI DIGITAL SISWA KELAS IV SD Arsya Purnaningtyas; Mumun Nurmilawati; Ika Santia
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.14726

Abstract

ABSTRACT This study was motivated by the limited use of interactive digital learning media in science education, particularly in the topic of the human senses, which has resulted in the suboptimal development of elementary students' digital literacy. The study aimed to develop E-LICA (E-Comic Literasi Cerdas Pancaindera) as a learning medium that is valid, practical, and effective in supporting science learning while enhancing the digital literacy of fourth-grade elementary school students. This research employed a Research and Development (R&D) approach using the ADDIE model, consisting of the analysis, design, development, implementation, and evaluation stages. The product was tested at SDN Bandar Lor 3 Kediri through a limited-scale trial involving six students and a large-scale trial involving fifteen students. The quality of the media was evaluated through expert validation, teacher and student response questionnaires, classroom observations, and learning outcome assessments using a paired-samples t-test. The findings revealed that the media achieved very high validity, with material expert validation of 96.36% and media expert validation of 92.73%. The practicality of the media was also rated very highly based on student responses in the limited-scale trial (98%), the large-scale trial (97.6%), and teacher responses (96%). Furthermore, the effectiveness test demonstrated a significant improvement in students' learning outcomes (Sig. = 0.000 < 0.05), supported by digital literacy questionnaire results of 97.96% and observation results of 97.50%. Therefore, E-LICA is considered a highly valid, practical, and effective science learning medium that supports the improvement of elementary students' digital literacy. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya pemanfaatan media digital interaktif dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), khususnya pada materi pancaindera, sehingga pengembangan literasi digital siswa sekolah dasar belum berlangsung secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran E-LICA (E-Comic Literasi Cerdas Pancaindera) yang memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif dalam mendukung pembelajaran IPA sekaligus mengembangkan literasi digital siswa kelas IV sekolah dasar. Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi tahapan analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Uji coba dilakukan di SDN Bandar Lor 3 Kediri melalui uji skala terbatas terhadap enam siswa dan uji skala luas terhadap lima belas siswa. Kelayakan media dievaluasi melalui validasi ahli, angket respons guru dan siswa, observasi, serta pengukuran hasil belajar menggunakan paired-samples t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media memperoleh tingkat validitas sangat tinggi dari ahli materi (96,36%) dan ahli media (92,73%). Kepraktisan media juga tergolong sangat tinggi berdasarkan respons siswa pada uji skala terbatas (98%) dan skala luas (97,6%), serta respons guru (96%). Uji efektivitas menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar yang signifikan (Sig. = 0,000 < 0,05), didukung oleh capaian literasi digital melalui angket sebesar 97,96% dan observasi sebesar 97,50%. Dengan demikian, media E-LICA dinyatakan sangat valid, praktis, dan efektif sebagai media pembelajaran IPA yang mampu mendukung peningkatan literasi digital siswa sekolah dasar.
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN STEM TERHADAP PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA MATERI OPERASI BILANGAN PECAHAN KELAS IV SEKOLAH DASAR Mamluatul Choiriyah
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.14728

Abstract

Students’ mathematical problem-solving skills in fraction operations remain a challenge due to the abstract nature of the concepts and predominantly teacher-centered instruction. This study aimed to determine the effectiveness of the STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) learning model in improving the mathematical problem-solving skills of fourth-grade students at SD Plus Cahaya Budaya Jenggot Krembung, Sidoarjo. The study employed a quantitative method with an experimental approach and a one group pretest-posttest design. The research was conducted during the second semester of the 2026/2027 academic year. The population and sample consisted of all 26 fourth-grade students. Data were collected through mathematical problem-solving tests administered before and after the implementation of the STEM model and analyzed using a paired sample t-test and N-Gain with the assistance of SPSS. The results showed a significant difference in students’ mathematical problem-solving skills before and after the implementation of the STEM model. The N-Gain analysis indicated a moderate level of improvement, with most students achieving moderate improvement and some reaching the high category. These findings indicate that STEM improved students’ mathematical problem-solving skills through learning activities that integrated conceptual understanding, strategy application, and contextual problem solving. Therefore, the STEM learning model is effective as an alternative mathematics learning approach for improving students’ problem-solving skills in fraction operations. ABSTRAK Kemampuan pemecahan masalah matematika pada materi operasi bilangan pecahan masih menjadi tantangan bagi siswa karena karakteristik konsep yang abstrak dan pembelajaran yang cenderung berpusat pada guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas IV SD Plus Cahaya Budaya Jenggot Krembung Sidoarjo. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan eksperimen dan desain one group pretest-posttest. Penelitian dilaksanakan pada semester kedua tahun ajaran 2026/2027. Populasi sekaligus sampel penelitian adalah seluruh siswa kelas IV sebanyak 26 siswa. Data dikumpulkan melalui tes kemampuan pemecahan masalah sebelum dan sesudah penerapan model STEM, kemudian dianalisis menggunakan paired sample t-test dan N-Gain dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kemampuan pemecahan masalah matematika siswa sebelum dan sesudah penerapan model STEM. Peningkatan kemampuan siswa berdasarkan analisis N-Gain berada pada kategori sedang, dengan sebagian besar siswa mengalami peningkatan pada kategori sedang dan sebagian lainnya mencapai kategori tinggi. Temuan tersebut menunjukkan bahwa penerapan STEM mampu memberikan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematika melalui aktivitas pembelajaran yang mengintegrasikan pemahaman konsep, penerapan strategi, dan penyelesaian masalah secara kontekstual. Dengan demikian, model pembelajaran STEM efektif digunakan sebagai alternatif pembelajaran matematika untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah siswa pada materi operasi bilangan pecahan.
PENGARUH PEMBERIAN DUA JENIS MULSA TERHADAP TINGKAT SERANGAN HAMA PENGGEREK BATANG DAN HASIL UBI JALAR Shelvya Aprya Lingga; Bambang Supeno; Ruth Stella Petrunella Thei
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.14745

Abstract

ABSTRACT Borer pests are one of the factors that can reduce sweet potato productivity because they cause damage to the stems and tubers. One of the cultivation practices that can be applied to reduce pest infestation is the use of mulch. This study aimed to identify borer pest species and analyze their infestation intensity on the stems and tubers of sweet potato under different mulch treatments. The study was conducted using a one-factor Randomized Complete Block Design (RCBD) with three treatments, namely no mulch (T0), silver-black plastic mulch (T1), and straw mulch (T2), with nine replications. The results showed that three borer pest species were found on sweet potato plants, namely Omphisa anastomosalis, Cylas sp., and Oberea sp. The analysis showed that the different mulch treatments had no significant effect on the infestation intensity of borer pests on either the stems or tubers of sweet potato. Therefore, the use of silver-black plastic mulch and straw mulch tested in this study did not demonstrate effectiveness in reducing borer pest infestation intensity in sweet potato plants. ABSTRAK Serangan hama penggerek merupakan salah satu faktor yang dapat menurunkan produktivitas ubi jalar karena menyebabkan kerusakan pada bagian batang dan umbi. Salah satu upaya budidaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi serangan hama adalah penggunaan mulsa. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis hama penggerek serta menganalisis intensitas serangannya pada batang dan umbi ubi jalar pada perlakuan mulsa yang berbeda. Penelitian dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor dengan tiga perlakuan, yaitu tanpa mulsa (T0), mulsa plastik hitam perak (T1), dan mulsa jerami (T2), dengan sembilan ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga jenis hama penggerek yang ditemukan pada tanaman ubi jalar, yaitu Omphisa anastomosalis, Cylas sp., dan Oberea sp. Hasil analisis menunjukkan bahwa perlakuan jenis mulsa tidak memberikan pengaruh nyata terhadap intensitas serangan hama penggerek pada batang maupun umbi ubi jalar. Dengan demikian, penggunaan mulsa plastik hitam perak maupun mulsa jerami yang diuji dalam penelitian ini belum menunjukkan efektivitas dalam menekan intensitas serangan hama penggerek pada tanaman ubi jalar.
STUDI DESKRIPTIF PENERAPAN PEER TEACHING PADA PEMBELAJARAN KIMIA DI SMA UNTUK MENINGKATKAN SIKAP RESPONSIF SISWA Nurisa Ainulhaq
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.14765

Abstract

Chemistry is often perceived by students as a difficult subject to comprehend due to its numerous abstract concepts, resulting in low student responsiveness during the learning process. Consequently, innovations in teaching methods are necessary to improve students' understanding and active engagement in chemistry classes. This study aims to describe the implementation of the peer teaching method in Chemistry for Grade XI Science classes and evaluate its impact on enhancing students' responsiveness. The research method employed was a descriptive study with a mixed-methods (qualitative and quantitative) approach. Data collection was conducted using a structured questionnaire distributed to all students in classes XI Science 1 and XI Science 2 at SMA Mandalahayu, Bekasi City, at the end of the even semester of the 2024/2025 academic year. Quantitative analysis results indicated a very high level of acceptance of the method, with positive responses ("Yes") reaching 83.1%, while negative responses ("No") accounted for only 16.9%. Qualitatively, the application of peer teaching proved effective in optimizing students' Zone of Proximal Development (ZPD) through the use of peer language, which is easier to understand and free from the intimidation of teacher authority. This peer teaching method significantly improved students' responsiveness indicators, such as the courage to ask questions, active participation in expressing opinions, readiness to respond to instructions, and responsibility toward assignments. However, the effectiveness of this method is heavily influenced by the even distribution of academic competence among tutors and the commitment of group members. ABSTRAK Mata pelajaran kimia sering dianggap oleh siswa sebagai mata pelajaran yang sulit dipahami karena banyak konsep yang bersifat abstrak, sehingga menjadikan siswa menjadi kurang responsif ketika pembelajaran. Oleh karena itu, inovasi dalam metode pembelajaran perlu dilakukan untuk memperbaiki pemahaman siswa serta keterlibatan siswa dalam pembelajaran kimia. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan metode pembelajaran peer teaching (tutor sebaya) pada mata pelajaran Kimia di kelas XI IPA serta mengevaluasi dampaknya terhadap peningkatan sikap responsif siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah studi deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif (mixed-methods). Instrumen penelitian berupa kuesioner terstruktur yang diisi oleh seluruh siswa kelas XI IPA 1 dan XI IPA 2 di SMA Mandalahayu Kota Bekasi pada akhir semester genap tahun pelajaran 2024/2025. Hasil analisis kuantitatif menunjukkan tingkat penerimaan metode yang sangat tinggi, dengan akumulasi respons positif ("Ya") mencapai 83,1%, sementara respons negatif ("Tidak") hanya sebesar 16,9%. Secara kualitatif, penerapan peer teaching terbukti efektif mengoptimalkan Zone of Proximal Development (ZPD) siswa melalui penggunaan bahasa teman sebaya (peer language) yang lebih mudah dipahami dan bebas dari intimidasi otoritas guru. Metode pembelajaran peer teaching ini secara signifikan meningkatkan indikator responsif siswa, seperti keberanian bertanya, keaktifan berpendapat, kesiapan merespons instruksi, dan tanggung jawab terhadap tugas. Namun, efektivitas metode ini sangat dipengaruhi oleh pemerataan kompetensi akademik antar tutor serta komitmen anggota di dalam kelompok.
PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA SMP BERKEMAMPUAN RENDAH PADA MASALAH KONTEKSTUAL SEGITIGA BERDASARKAN TEORI VAN HIELE Annissya Fitrotin Devi Auliah; Luluk Faridah; Abdur Rohim
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i4.14804

Abstract

ABSTRACT Mathematical conceptual understanding plays an important role in helping students connect mathematical knowledge with problem solving, including contextual problems involving triangles. This study aims to describe the mathematical conceptual understanding of low-ability junior high school students in solving contextual triangle problems based on Van Hiele Theory. This study employed a qualitative approach with a descriptive-exploratory design. Two subjects were selected through purposive sampling from Grade VIII B students at MTs Putra Putri Simo Karanggeneng based on the results of a pretest. Data were collected through a pretest, conceptual understanding tests, semi-structured interviews, and documentation, and were analyzed through data reduction, data presentation, and conclusion drawing and verification. The results showed that both subjects experienced difficulties particularly in transforming representations, recognizing the meaning and interpretation of concepts, and identifying the properties and conditions of triangle concepts. Based on the analysis results, one student (R1) was at Level 0 (visualization), while one student (R2) was at Level 1 (analysis). The study concludes that differences exist in the characteristics of conceptual understanding and geometric thinking development among low-ability students when solving contextual triangle problems. ABSTRAK Pemahaman konsep matematis berperan penting dalam membantu siswa menghubungkan pengetahuan matematika dengan penyelesaian masalah, termasuk masalah kontekstual pada materi segitiga. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pemahaman konsep matematis siswa SMP berkemampuan rendah dalam menyelesaikan masalah kontekstual segitiga berdasarkan Teori Van Hiele. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif-eksploratif. Dua subjek dipilih secara purposive sampling dari siswa kelas VIII B MTs Putra Putri Simo Karanggeneng berdasarkan hasil pretest. Data diperoleh melalui pretest, tes pemahaman konsep, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua subjek mengalami kesulitan terutama dalam mengubah representasi, mengenali makna dan interpretasi konsep, serta mengidentifikasi sifat dan syarat konsep segitiga. Berdasarkan hasil analisis, sebanyak 1 siswa (R1) berada pada Level 0 (visualization), sedangkan 1 siswa (R2) berada pada Level 1 (analysis). Simpulan penelitian menunjukkan adanya perbedaan karakteristik pemahaman konsep dan perkembangan berpikir geometris antara siswa berkemampuan rendah dalam menyelesaikan masalah kontekstual segitiga.
SINTESIS DAN KARAKTERISASI MAGNETIT (Fe3O4) DARI PASIR BESI MELALUI METODE KOPRESIPITASI: SEBUAH TINJAUAN LITERATUR Putu Vina Febryanti; Ida Bagus Putu Mardana; I Nengah Edi Budiarta
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i3.14844

Abstract

Magnetite (Fe₃O₄) is one of the most promising magnetic materials due to its broad applications in electronics, environmental remediation, and biomedical fields. Indonesia possesses abundant iron sand resources, providing significant potential for producing value-added magnetite through the co-precipitation method, which is recognized for its simplicity, cost-effectiveness, and high synthesis efficiency. This study aims to comprehensively review previous research on the synthesis and characterization of magnetite (Fe₃O₄) derived from iron sand using the co-precipitation method and to analyze the influence of synthesis parameters on the resulting material characteristics. A Systematic Literature Review (SLR) employing the PRISMA framework was conducted through the stages of identification, screening, eligibility assessment, and inclusion of relevant scientific publications. The collected data were analyzed qualitatively using data reduction, comparison, synthesis, and interpretation techniques. The review indicates that the co-precipitation method successfully produces magnetite with an inverse spinel cubic crystal structure, nanometer-scale crystallite size, predominantly spherical particle morphology with agglomeration tendencies, and elemental compositions dominated by iron (Fe) and oxygen (O). Furthermore, variations in synthesis pH significantly influence crystallite size, particle morphology, and magnetic properties. Characterization using XRD, SEM–EDS, XRF, and VSM consistently demonstrates that the synthesized magnetite exhibits soft magnetic to superparamagnetic behavior. Overall, this review concludes that the co-precipitation method is an effective approach for producing high-quality magnetite from iron sand and offers considerable potential for applications in electronics, sensors, environmental remediation, and biomedical technologies. ABSTRAK Magnetit (Fe₃O₄) merupakan salah satu material magnetik yang memiliki potensi luas dalam berbagai bidang, seperti elektronik, lingkungan, dan biomedis. Ketersediaan sumber daya pasir besi yang melimpah di Indonesia menjadikan material ini berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku sintesis magnetit bernilai tambah melalui metode kopresipitasi yang dikenal sederhana, ekonomis, dan efektif. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara komprehensif hasil-hasil penelitian mengenai sintesis dan karakterisasi magnetit (Fe₃O₄) dari pasir besi melalui metode kopresipitasi, serta menganalisis pengaruh parameter sintesis terhadap karakteristik material yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan pendekatan PRISMA melalui tahapan identifikasi, penyaringan, penilaian kelayakan, dan inklusi artikel ilmiah yang relevan. Data dianalisis secara deskriptif-kualitatif melalui proses reduksi, sintesis, perbandingan, dan interpretasi hasil penelitian. Hasil kajian menunjukkan bahwa metode kopresipitasi mampu menghasilkan magnetit berstruktur kristal kubik (inverse spinel) dengan ukuran kristal pada skala nanometer, morfologi partikel yang umumnya berbentuk sferis dengan kecenderungan aglomerasi, serta komposisi unsur yang didominasi oleh besi (Fe) dan oksigen (O). Variasi pH sintesis berpengaruh terhadap ukuran kristal, morfologi, dan sifat kemagnetan material, sedangkan karakterisasi menggunakan XRD, SEM–EDS, XRF, dan VSM menunjukkan bahwa magnetit hasil sintesis memiliki karakteristik soft magnetic hingga superparamagnetik. Kajian ini menyimpulkan bahwa metode kopresipitasi merupakan pendekatan yang efektif untuk menghasilkan magnetit berkualitas dari pasir besi serta memiliki prospek yang menjanjikan untuk pengembangan aplikasi pada bidang elektronik, sensor, pengolahan lingkungan, dan biomedis.
ANALISIS KESALAHAN SISWA DALAM MENYELESAIKAN SOAL BILANGAN BERPANGKAT DAN BENTUK AKAR Septhiano Mario Imanuel Dwi Putera Demu; Agapitus Hendrikus Kaluge; Maria Gracia Manoe Gawa
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v6i4.15517

Abstract

This study aims to describe the types of students’ errors in solving problems involving exponents and radical expressions based on Newman’s Error Analysis stages, namely reading, comprehension, transformation, process skills, and encoding errors. Identifying students’ errors in these topics is important to determine their difficulties and provide a basis for improving mathematics instruction. This study employed a qualitative approach with a descriptive research design. The subjects were three eighth-grade students of SMP Nusa Cendana Internasional Plus School who were purposively selected based on high, medium, and low ability levels. Data were collected through written tests, observations, and interviews. Data analysis used the Miles and Huberman interactive model, consisting of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results showed that high-ability students only experienced encoding errors. Medium-ability students experienced comprehension and encoding errors, while low-ability students experienced transformation, process skills, and encoding errors. The most frequently identified errors were transformation and encoding errors. These errors occurred because students were unable to transform word problems into appropriate mathematical models and were not accustomed to writing final conclusions that addressed the questions. Therefore, Newman’s Error Analysis can help teachers identify students’ difficulties as a basis for improving mathematics instruction, particularly in learning exponents and radical expressions. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis-jenis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal bilangan berpangkat dan bentuk akar berdasarkan tahapan Newman, yaitu kesalahan membaca, memahami, transformasi, keterampilan proses, dan penulisan jawaban. Kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal pada materi tersebut perlu diidentifikasi untuk mengetahui letak kesulitan siswa dan menjadi dasar perbaikan pembelajaran matematika. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian terdiri atas tiga siswa kelas VIII SMP Nusa Cendana Internasional Plus School yang dipilih secara purposive berdasarkan tingkat kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Data dikumpulkan melalui tes tertulis, observasi, dan wawancara. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa berkemampuan tinggi hanya mengalami kesalahan pada tahap penulisan jawaban (encoding error). Siswa berkemampuan sedang mengalami kesalahan memahami (comprehension error) dan penulisan jawaban, sedangkan siswa berkemampuan rendah mengalami kesalahan transformasi (transformation error), keterampilan proses (process skills error), dan penulisan jawaban. Kesalahan yang paling banyak ditemukan adalah kesalahan transformasi dan penulisan jawaban. Kesalahan tersebut terjadi karena siswa belum mampu mengubah soal cerita ke dalam model matematika yang tepat serta belum terbiasa menuliskan kesimpulan akhir sesuai dengan pertanyaan soal. Dengan demikian, analisis kesalahan Newman dapat membantu guru mengidentifikasi letak kesulitan siswa sebagai dasar dalam memperbaiki pembelajaran matematika, khususnya pada materi bilangan berpangkat dan bentuk akar.