cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 41 Documents
Search results for , issue "Vol. 4 No. 4 (2024)" : 41 Documents clear
HUBUNGAN DURASI TIKTOK DAN RENTANG PERHATIAN PADA PENGGUNA AKTIF DI USIA DEWASA MUDA CHRISTIAN, DANIEL; BUDIARTO, YOHANES
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.3804

Abstract

This study aims to analyze the relationship between the duration of TikTok use and attention span in active users in young adults. The rapid development of short video-based social media platforms such as TikTok has raised concerns about its impact on cognitive aspects, especially the ability to maintain attention. This study uses a quantitative approach with a survey technique and involves 155 participants who meet the criteria of 17-25 years of age and are active TikTok users. The instruments used are the Social Media Use Questionnaire (SMUQ) to measure the intensity of social media use and the Attentional Control Scale (ATTC) to measure attention span. The results of the data analysis showed a significant negative correlation between the duration of TikTok use and attention span (r = -0.404, p <0.05), which indicates that the longer the duration of TikTok use, the lower the user's attention span. And vice versa, the higher the use of TikTok, the higher the user's attention span. These findings support the view that consumption of short-duration video content can affect an individual's cognitive ability to maintain attention. This study is expected to raise awareness of the impact of excessive social media use and the importance of having moderation in using social media to maintain cognitive balance. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara durasi penggunaan TikTok dan rentang perhatian pada pengguna aktif di usia dewasa muda. Pesatnya perkembangan platform media sosial berbasis video pendek seperti TikTok telah menimbulkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap aspek kognitif, khususnya kemampuan mempertahankan perhatian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik survei dan melibatkan 155 partisipan yang memenuhi kriteria usia 17-25 tahun dan merupakan pengguna aktif TikTok. Instrumen yang digunakan adalah Social Media Use Questionnaire (SMUQ) untuk mengukur intensitas penggunaan media sosial dan Attentional Control Scale (ATTC) untuk mengukur rentang perhatian. Hasil analisis data menunjukkan terdapat korelasi negatif yang signifikan antara durasi penggunaan TikTok dan rentang perhatian (r=-0,404, p<0,05), yang mengindikasikan bahwa semakin lama durasi penggunaan TikTok, semakin rendah rentang perhatian pengguna. Dan sebaliknya semakin tinggi sedikit penggunaan TikTok, semakin tinggi rentang perhatian pengguna. Temuan ini mendukung pandangan bahwa konsumsi konten video berdurasi pendek dapat mempengaruhi kemampuan kognitif individu dalam mempertahankan perhatian. Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan dampak penggunaan media sosial yang berlebihan dan pentingnya memiliki moderasi dalam menggunakan sosial media untuk menjaga keseimbangan kognitif.
KETERLIBATAN AYAH DAN KAITANNYA DENGAN EMOTIONAL WELL-BEING PADA REMAJA AKHIR SILVIANA, SILVIANA; HASTUTI, RAHMAH
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.3805

Abstract

This study aims to determine the relationship between father involvement and emotional well-being in late adolescents. Emotional well-being is a psychological condition that plays an important role for individuals, especially in late adolescents. Individuals with positive emotional well-being will be more capable of experiencing life satisfaction, conversely, if emotional well-being is low, their lives will be dominated by feelings of dissatisfaction. The participants in this study are late adolescents aged 18-24 years. The sampling technique used in this research the non-probability purposive sampling technique, with a total of 305 participants in this study. The measurement tool used for the father involvement variable is the Perception of Father’s Involvement (PFI), while the measurement tool for the Emotional well-being variable is the Positive and Negative Affect Schedule. (PANAS-SF). The correlation analysis in this study used Spearman's non-parametric correlation, and the results showed a significant positive relationship between father involvement and emotional well-being among late adolescents. (r = 0.429, p 0.000<0.05). This indicates that the higher the father involvement, the higher the emotional well-being. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keterlibatan ayah dengan kesejahteraan emosional pada remaja akhir. Emotional well-being merupakan kondisi psikologis yang berperan penting bagi individu khususnya pada remaja akhir. Individu dengan Emotional well-being yang positif akan lebih mampu merasakan kepuasan hidupnya, begitupun sebaliknya jika Emotional well-being rendah maka hidupnya akan didominasi oleh rasa ketidakpuasan. Partisipan penelitian ini adalah remaja akhir berusia 18-24 tahun. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yakni teknik non-probability purposive sampling, total partisipan pada penelitian ini berjumlah 305. Alat ukur yang digunakan untuk variabel Father Involvement adalah Perception of Father’s Involvement (PFI), sedangkan pada variabel Emotional well-being adalah Positive and Negative Affect Schedule (PANAS-SF). Analisis korelasi pada penelitian ini menggunakan korelasi non-parametic Spearman hasil menunjukkan bahwa adanya hubungan positif yang signifikan antara keterlibatan ayah dengan kesejahteraan emosional pada remaja akhir. (r = 0.429, p 0.000<0.05) Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi keterlibatan ayah maka Emotional well-being juga akan tinggi.
PERAN DUKUNGAN SOSIAL DAN EFIKASI DIRI TERHADAP KECEMASAN DUNIA KERJA BAGI MAHASISWA YANG SEDANG MENYUSUN SKRIPSI AULIA, SULTHAN AZFA; DEWI, FRANSISCA IRIANI ROESMALA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.3806

Abstract

The transition to the final semester of higher education is a crucial phase for students as they complete their thesis and prepare to enter the workforce. In the context of Industry 4.0, the increasing reliance on digital technology makes job searching more complex, which often triggers anxiety in students. This study examines the effects of social support and self-efficacy on work-related anxiety in final-semester students. Social support, which includes informational, emotional, and instrumental assistance, and self-efficacy, which is defined as the belief in one's ability to achieve goals, are key factors in reducing anxiety. The results showed a significant negative correlation between these two variables and work anxiety, where students with stronger social support systems and high levels of self-efficacy experienced lower anxiety in facing the workforce. These findings emphasize the importance of strengthening these factors to increase students' self-confidence and adaptability, and provide valuable insights for strategies aimed at improving work readiness. ABSTRAKTransisi ke semester akhir dalam pendidikan perguruan tinggi merupakan fase krusial bagi mahasiswa saat mereka menyelesaikan skripsi dan mempersiapkan diri untuk memasuki dunia kerja. Dalam konteks Industri 4.0, meningkatnya ketergantungan pada teknologi digital membuat pencarian kerja menjadi lebih kompleks, yang seringkali memicu kecemasan pada mahasiswa. Penelitian ini mengkaji pengaruh dukungan sosial dan efikasi diri terhadap kecemasan terkait dunia kerja pada mahasiswa semester akhir. Dukungan sosial, yang mencakup bantuan informasi, emosional, dan instrumental, serta efikasi diri, yang didefinisikan sebagai keyakinan terhadap kemampuan diri untuk mencapai tujuan, merupakan faktor kunci dalam mengurangi kecemasan. Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi negatif yang signifikan antara kedua variabel ini dengan kecemasan kerja, di mana mahasiswa dengan sistem dukungan sosial yang lebih kuat dan tingkat efikasi diri yang tinggi mengalami kecemasan yang lebih rendah dalam menghadapi dunia kerja. Temuan ini menekankan pentingnya memperkuat faktor-faktor tersebut untuk meningkatkan kepercayaan diri dan adaptabilitas mahasiswa, serta memberikan wawasan berharga bagi strategi yang bertujuan meningkatkan kesiapan kerja.
LOCUS OF CONTROL SEBAGAI PREDIKTOR PERILAKU KONSUMTIF PADA WANITA DEWASA AWAL PENGGUNA MEDIA SOSIAL KHOIRUNNISA, SYAFFA AULIA; SUBROTO, UNTUNG
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.3826

Abstract

Human daily life is influenced by Locus of Control (LoC) which plays a significant role in aspects of behavior including consumption-related decision making. LoC is the belief that one can control their own life or their life is controlled by something else. One relevant example is the purchase of cosmetic products. Consumptive behavior is a person's tendency to buy excessive goods without any need. This study aims to explore the relationship between LoC and the consumptive behavior of purchasing cosmetic products influenced by TikTok social media content. There were 400 early adult female participants aged 19-30 years. The measuring instrument used is the Levenson Multidimensional Locus of Control Scales, and the measuring instrument for consumptive behavior is an adaptation of Aini's (2016) measuring instrument. The results show a negative relationship between the internal dimension LoC variable (internality) with consumptive behavior, namely r (400) = -0.325, p < 0.05, that is, if individuals have a high internality LoC then consumptive behavior is low. There is a positive relationship between the overall external dimension LoC and consumptive behavior obtained r (400) = 0.643, p < 0.05; and the external dimension LoC which includes powerful others and chance with consumptive behavior gets a positive relationship, powerful others obtained r (400) = 0.676, p < 0.05; and LoC chance obtained r (400) = 0.503, p < 0.05, namely individuals with LoC powerful others or high chance of high consumptive behavior or can more easily behave consumptively. ABSTRAKKehidupan sehari-hari manusia dipengaruhi oleh Locus of Control (LoC) yang memainkan peran penring dalam aspek perilaku termasuk dalam pengambilan keputusan terkait konsumsi.. LoC yaitu keyakinan bahwa seseorang dapat mengkontrol hidup mereka sendiri atau hidup mereka dikontrol oleh hal lain. Salah satu contoh relevan adalah pembelian produk kosmetik. Perilaku konsumtif merupakan kecenderungan seseorang saat membeli barang berlebihan tanpa adanya kebutuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan LoC dengan perilaku konsumtif pembelian produk kosmetik pengaruh konten media sosial TikTok. Terdapat 400 partisipan wanita dewasa awal usia 19-30 tahun. Alat ukur yang digunakan yaitu Levenson Multidimensional Locus of Control Scales, serta alat ukur perilaku konsumtif yaitu adaptasi dari instrumen alat ukur Aini (2016). Data diolah dengan software SPSS 24. Hasil menunjukkan hubungan negatif antara variabel LoC dimensi internal (internality) dengan perilaku konsumtif yaitu r (400) = -0.325, p < 0.05, yaitu jika individu memiliki LoC interality tinggi maka perilaku konsumtif rendah. Terdapat hubungan positif antara LoC dimensi eksternal keseluruhan dengan perilaku konsumtif diperoleh r (400) = 0.643, p < 0.05; dan LoC dimensi eksternal yang mencakup powerful others dan chance dengan perilaku konsumtif mendapatkan hubungan positif, powerful other diperoleh r (400) = 0.676, p < 0.05; dan LoC chance diperoleh r (400) = 0.503, p < 0.05, yaitu individu dengan LoC powerful other atau chance tinggi perilaku konsumtif tinggi atau dapat lebih mudah berperilaku konsumtif.
HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN EFIKASI DIRI DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIR PADA SISWA SMA SWASTA KELAS 12 ULULAJMI, PUTRI AULIA; AGUSTINA, AGUSTINA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.3830

Abstract

Adolescents often make hasty decisions as they go through a period of rapid growth and change. At this stage, they do not fully understand themselves or their true needs, which leads them to follow momentary desires without considering the consequences, including in career choices (Widyaningrum & Hastjarjo, 2016). Emotional intelligence plays a crucial role in helping adolescents face various challenges during their studies, enabling them to make more thoughtful career decisions (Ran et al., 2022). Hanifah et al. (2023) explain that self-efficacy is highly influenced by a person's emotional state. Positive emotions can enhance self-efficacy, while emotional intelligence allows individuals to manage their emotions effectively, helping them achieve optimal self-efficacy. This study involved 138 high school students in the Jabodetabek area to explore the relationship between emotional intelligence and self-efficacy in career decision-making. Data was collected using two main instruments: the Wong and Law Emotional Intelligence Scale (WLEIS) to measure students' emotional intelligence and the Career Decision-Making Self-Efficacy (CDMSE) to assess their self-efficacy in making career decisions. The results of this study indicate a significant relationship between the two variables, where high emotional intelligence contributes to an increase in self-efficacy in career decision-making. ABSTRAKRemaja kerap membuat keputusan secara terburu-buru karena sedang melalui masa pertumbuhan dan perubahan yang cepat. Pada tahap ini, mereka belum sepenuhnya memahami diri sendiri atau kebutuhan sebenarnya, sehingga cenderung mengikuti keinginan sesaat tanpa memikirkan dampaknya, termasuk dalam memilih karir (Widyaningrum & Hastjarjo, 2016). Kecerdasan emosional memainkan peran penting dalam membantu remaja menghadapi berbagai tantangan selama masa studi, sehingga mereka dapat membuat keputusan karir yang lebih matang (Ran et al., 2022). Hanifah et al. (2023) menjelaskan bahwa efikasi diri sangat dipengaruhi oleh kondisi emosi seseorang. Emosi positif dapat meningkatkan efikasi diri, sementara kecerdasan emosional memungkinkan seseorang mengelola emosinya dengan baik, sehingga mampu mencapai efikasi diri yang optimal. Penelitian ini melibatkan 138 siswa SMA di wilayah Jabodetabek dengan tujuan mengeksplorasi hubungan antara kecerdasan emosional dan efikasi diri dalam pengambilan keputusan karir. Data dikumpulkan menggunakan dua alat ukur Wong and Law Emotional Intelligence Scale (WLEIS) untuk mengukur kecerdasan emosional siswa, dan Career Decision-Making Self-Efficacy (CDMSE) untuk menilai tingkat efikasi diri mereka dalam membuat keputusan karir. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara kedua variabel tersebut, di mana kecerdasan emosional yang tinggi berkontribusi pada peningkatan efikasi diri dalam pengambilan keputusan karir.
PENGARUH PERLAKUAN SHOLAT TERHADAP KEBAHAGIAAN: STUDI MINI RESEARCH DENGAN PENDEKATAN PRE-EKSPERIMENTAL NURHALIM, MUHAMMAD; HERMAWAN, M.A
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4017

Abstract

This research is motivated by the number of Muslims who perform prayers but do not feel happiness when doing so. This study aims to determine the effect of prayer treatment on happiness.. This research is a mini-research that uses a pre-experimental design. The subjects of this study were ten people. The results showed that all practitioners felt happiness when praying this way.   In addition, the feeling of joy that practitioners think lasts until outside the prayer. This study also found that the sense of happiness depended on the situation, the condition of feelings before worship, and the preparations made. ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya muslim yang melaksanakan sholat tetapi tidak merasakan kebahagiaan saat melaksanakannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perlakukan sholat terhadap kebahagiaan. Penelitian ini merupakan penelitian mini research yang menggunakan pre-eksperimental design. Subjek penelitian ini sejumlah 10 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua praktikan merasakan efek bahagia ketika melaksanakan sholat dengan cara ini dengan durasi yang berbeda beda dan skala yang berbeda pula.  Selain itu, perasaaan bahagia yang muncul pada diri praktikan, ada yang bertahan sampai di luar sholat. Dalampenelitian ini juga ditemukan bahwa perasaan bahagia yang muncul sangat tergantung pada situasi, kondisi perasaan sebelum sholat dan persiapan yang dilakukan.
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DAN MEMAAFKAN PADA KORBAN BULLYING GEN Z KOTA JAKARTA MARPAUNG, DERIAN GIOVANNO; SIAHAAN, BELLA GUSTINA; BERNARD, ALESSANDRO; SUBROTO, UNTUNG
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4018

Abstract

This study aims to determine the relationship between social support conditions and forgiveness in victims of bullying gen z Jakarta. Social Support is defined as support by engaging to communicate with victims to support in the form of appreciating, loving, respecting, and embracing victims. (Sulfemi & Yasita, 2020). According to Ahmed & Braithwaite (2006) forgiveness is a positive response made by the victim that appears when the victim gets bullying behavior from the behavior. This study used a quantitative method using purposive sampling technique, this study involved 205 participants who were victims of bullying gen z born in 1997-2012. The research instruments included a social support scale and a forgiveness scale that had been tested for validity and reliability. The correlation test results show a correlation coefficient (rcy) of .645 with a significance value of 0.000 (p < 0.05) which indicates a positive relationship between social support variables and forgiveness. A high level of social support will make gen z bullying victims have a high level of forgiveness for the bully. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kondisi dukungan sosial dengan forgiveness pada korban bullying gen z kota Jakarta. Dukungan Sosial didefinisikan sebagai dukungan dengan cara terlibat untuk melakukan komunikasi kepada korban untuk medukung dalam bentuk menghargai, mencintai, menghormati, dan merangkul korban. (Sulfemi & Yasita, 202o). Menurut Ahmed & Braithwaite (2006) memaafkan merupakan respon positif yang dilakukan oleh korban yang muncul pada saat korban mendapatkan perilaku perundungan dari perilaku. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan teknik purposive sampling,  penelitian ini melibatkan 205 partisipan korban bullying gen z lahir pada tahun 1997-2012. Instrumen penelitian mencakup skala dukungan sosial dan skala forgiveness yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil uji korelasi menunjukkan nilai koefisien korelasi (rcy) sebesar .645 dengan nilai signifikansi sebesar 0.000 (p < 0.05) yang mengindikasikan adanya hubungan yang positif antara variabel dukungan sosial dengan forgiveness. Tingkat dukungan sosial yang tinggi akan membuat korban bullying gen z memiliki tingkat forgiveness yang tinggi pada para pelaku bullying.
STUDI TENTANG LONLINESS PADA PEREMPUAN DEWASA AWAL DENGAN ORANG TUA TUNGGAL BERCERAI AGUSTINE, SALWA NADIRA; DARIYO, AGOES
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4060

Abstract

The smallest world for every individual is their family. A positive or healthy family ensures security, comfort, and support for its members. However, not all children have the opportunity to experience such a family, especially those from single-parent families due to divorce. Children from divorced single-parent families may face challenges related to family activities. Single-parenthood can arise from divorce, death, or out-of-wedlock births. This study aims to describe the experiences of loneliness faced by early adult women who grew up in single-parent families due to divorce. The research employs a qualitative approach using semi-structured interviews with four participants aged 18-25 years who meet the research criteria. Data analysis was conducted to identify the factors, causes, and impacts of loneliness experienced by the participants in social, emotional, and situational dimensions. The findings reveal that loneliness in early adult women is influenced by limited social support, challenges in adapting to changes in family structure, and a sense of losing meaningful relationships with others. This loneliness impacts participants' emotional well-being, including difficulties in expressing emotions, low self-esteem, and obstacles in building social relationships. The study highlights the importance of social support and a conducive environment to minimize the effects of loneliness in individuals from single-parent families. These findings can serve as a foundation for designing more effective psychological interventions to enhance the emotional well-being of early adult women from single-parent backgrounds. ABSTRAKDunia terkecil bagi setiap individu adalah keluarga, keluarga yang positif atau sehat ialah dapat menjamin bagi para anggota yaitu keamanan, kenyamanan, dan memiliki dukungan. Tidak semua anak mendapatkan pengalaman mengenai keluarga tersebut, terutama bagi anak yang berasal dari keluarga dengan orang tua tunggal akibat perceraian, anak-anak yang berasal dari orang tua tunggal akibat perceraian dapat mengalami masalah terkait aktivitas keluarga. Keadaan orang tunggal bisa dikarenakan akibat perceraian, kematian, atau kelahiran anak di luar nikah. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pengalaman loneliness yang dialami oleh perempuan dewasa awal yang tumbuh dalam keluarga dengan orang tua tunggal akibat perceraian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalu wawancara semi-struktur (semi structure) terhadap empat partisipan berusia 18-25 tahun yang sesuai dengan kriteria penelitian. Analisis data yang dilakukan untuk mengidentifikasi faktor, penyebab, dan dampak loneliness yang di alami partisipan dalam dimensi sosial, emosional, dan situasi. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa loneliness pada Perempuan dewasa awal dipengaruhi oleh keterbatasan dukungan sosial, tantangan dalam menyesuaikan diri dengan perubahan struktur keluarga serta rasa kehilangan hubungan yang bermakna dengan orang lain. Loneliness ini memberikan dampak pada kesejahteraan emosional pada partisipan, seperti kesulitan mengekspresikan perasaan, rendahnya rasa percaya diri, dan hambatan dalam membangun hubungan sosial. Penelitian ini menekankan pentingnya dukungan sosial dan lingkungan yang kondusif untuk meminimalkan dampak loneliness pada seseorang yang berasal dari keluarga tunggal. Temuan ini dapat menjadi landasan dalam merancang intervensi psikologis yang lebih tepat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan emosional perempuan dewasa awal dengan latar belakang tinggal bersama orang tua tunggal
PENGARUH PERSEPSI POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP SELF-DISCLOSURE PADA REMAJA AKHIR SHAFIRA, NAJMADIZHA AUREL; SUPARMAN, MEISKE YUNITHREE
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4095

Abstract

This study aims to examine the effect of perceived parenting style on self-disclosure among late adolescents. Parenting styles are categorized into four types: authoritative, authoritarian, permissive, and neglectful, each of which has a different impact on adolescent development . The study uses a quantitative method with simple linear regression to analyze the influence of perceived parenting style on the level of self-disclosure. Data were collected from 260 adolescents aged 18 to 21 years through an online questionnaire. The results show that parenting style has a significant influence on self-disclosure, with an R square value of 60.1%. Another finding is that gender and each type of parenting style have a significantly different impact on self-disclosure. The authoritative parenting style was indicated as the strongest factor in self-disclosure compared to other types. Meanwhile, self-disclosure was found to be more prevalent among females than males. This study highlights the importance of a supportive parenting style in fostering adolescent self-disclosure. The findings of this study are expected to serve as a reference for developing interventions to improve communication between parents and adolescents or as a basis for future studies that consider other aspects. ABSTRAKStudi ini diperuntukkan menguji pengaruh tipe pola asuh yang dirasakan terhadap pengungkapan diri di kalangan remaja akhir. Tipe pola asuh dikategorikan menjadi empat macam: otoritatif, otoriter, permisif dan lalai, masing-masing tipe pola asuh memiliki dampak yang berbeda pada perkembangan remaja. Studi ini menggunakan metode kuantitatif menggunakan regresi linier sederhana untuk menganalisis pengaruh antara tipe pola asuh yang dirasakan dan tingkat pengungkapan diri yang dimiliki. Data dikumpulkan dari 260 remaja berusia 18 hingga 21 tahun melalui kuesioner yang disebarkan secara daring. Hasil penelitian menunjukkan pola asuh orang tua memiliki pengaruh yang signifikan dengan pengungkapan diri, dengan nilai R squared sebesar 60,1%. Temuan lainnya yaitu jenis kelamin dan setiap tipe pola asuh memiliki pengaruh yang berbeda secara signifikan pada pengungkapan diri. Pola asuh otoritatif diindikasikan menjadi faktor terkuat dalam pengungkapan diri dibandingkan tipe pola asuh lainnya. Sementara itu, pengungkapan diri terlihat lebih banyak terjadi pada kelompok perempuan dibandingkan laki-laki. Studi ini menyoroti pentingnya pola asuh yang mendukung dalam menumbuhkan pengungkapan diri remaja. Temuan dalam studi ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk mengembangkan intervensi untuk meningkatkan komunikasi antara orang tua dengan remaja ataupun sebagai dasar studi lanjutan dengan mempertimbangkan aspek lain.
PERAN IBU TUNGGAL DALAM PEMBENTUKAN SELF-ESTEEM WANITA DEWASA AWAL PASCA PERCERAIAN KARENA PERSELINGKUHAN CHANDRA, ANANDA HILLARI; SUBROTO, UNTUNG
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v4i4.4096

Abstract

Self-esteem is a person's view of himself or can be said to be the result of a person's evaluation of himself. Self-esteem is influenced by parenting, including parenting patterns applied by single parents. Sets and Burke (2014) divided self-esteem into three dimensions, namely self-worth, self-efficacy, and authenticity. Self-worth has the meaning of the extent to which a person feels positive about himself, namely feeling good and valuable. Self-efficacy is an assessment of what they are capable of doing in various situations. And authenticity is an individual's understanding of themselves. This study aims to understand the description of self-esteem in early adult women raised by single parent mothers after divorce because the father had an affair. This research method is qualitative with interview and observation data collection. In this study, there were six participants, namely participants S, C, J, F, N, and D. From this study it can be concluded that the six subjects fulfill different dimensions of self-esteem. All six participants (S, C, J, F, N, and D) fulfill the self-worth dimension. Five participants (S, C, J, N, and D) have self-efficacy while F does not. And, five of the six participants (S, C, F, N, and D) fulfilled the authenticity dimension, while J did not. ABSTRAKSelf-esteem merupakan pandangan seseorang terhadap dirinya sendiri atau dapat dikatakan sebagai hasil evaluasi seseorang terhadap dirinya sendiri. Self-esteem ini dipengaruhi oleh pola asuh, termasuk pola asuh yang diterapkan oleh single parent. Sets dan Burke (2014) membagi self-esteem menjadi tiga dimensi, yaitu self-worth, self-efficacy, dan authenticity. Self-worth memiliki pengertian sejauh mana seseorang merasa positif terhadap dirinya sendiri, yaitu merasa baik dan berharga. Self-efficacy merupakan penilaian terhadap apa yang mampu mereka lakukan dalam berbagai situasi. Dan authenticity yaitu pemahaman individu terhadap dirinya sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk memahami gambaran self-esteem pada wanita dewasa awal yang dibesarkan oleh ibu single parent setelah perceraian karena ayah berselingkuh. Metode penelitian ini kualitatif dengan pengambilan data wawancara dan observasi. Dalam penelitian ini, terdapat enam partisipan, yaitu partisipan S, C, J, F, N, dan D. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa keenam subjek memenuhi dimensi self-esteem yang berbeda. Keenam partisipan (S, C, J, F, N, dan D) memenuhi dimensi self-worth. Lima partisipan (S, C, J, N, dan D) memiliki self-efficacy sedangkan F tidak. Lalu, lima dari enam partisipan (S, C, F, N, dan D) memenuhi dimensi authenticity, sedangkan J tidak.