cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 58 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 2 (2025)" : 58 Documents clear
PENGARUH EMOTION FOCUSED COPING DALAM MENGHADAPI STRES AKADEMIK PADA SISWA DI SMAN Habibah, Siti; Supriatna, Ecep; Finanto Ario Bangun, Mic
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6373

Abstract

This study aims to examine the relationship between emotion-focused coping (EFC) and academic stress among high school students. The novelty of this study lies in its participant context, as most previous research has focused on university students, while studies on the effectiveness of EFC among secondary school students remain limited. A quantitative approach with a correlational design was employed, involving 200 students from grades 10 and 11 at a public senior high school selected through simple random sampling. Data were collected using the Student-Life Stress Inventory and the Ways of Coping Questionnaire. The results showed a significant positive correlation between EFC and academic stress (r = 0.237; p = 0.001). Theoretically, these findings support the stress-coping model by Lazarus & Folkman (1984), suggesting that emotion-focused strategies, when not accompanied by problem-solving approaches, may exacerbate stress perceptions. Practically, the results highlight the need for counseling interventions that go beyond emotional release, emphasizing the development of active coping skills and problem-focused strategies in the school environment. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara emotion focused coping (EFC) dan stres akademik pada siswa SMA. Kebaruan penelitian ini terletak pada konteks partisipan, karena sebagian besar studi sebelumnya lebih banyak berfokus pada mahasiswa, sementara penelitian mengenai efektivitas EFC pada siswa sekolah menengah masih terbatas. Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional, melibatkan 200 siswa kelas X dan XI dari sebuah SMAN yang dipilih melalui teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan Student-Life Stress Inventory dan Ways of Coping Questionnaire. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara EFC dan stres akademik (r = 0,237; p = 0,001). Secara teoretis, temuan ini mendukung model koping stres Lazarus & Folkman (1984) bahwa penggunaan strategi EFC yang tidak diimbangi dengan pemecahan masalah dapat memperburuk persepsi stres. Secara praktis, hasil ini mengindikasikan pentingnya intervensi konseling yang tidak hanya mendorong pelampiasan emosional, tetapi juga pengembangan keterampilan koping aktif dan problem-focused coping di lingkungan sekolah.
EVALUASI DALAM PEMBELAJARAN Wahyuningsih, Viandini; Nabila Wibowo , Chairunnisa; Juwita, Melly; Windi Oktara, Tri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6374

Abstract

Learning evaluation is an essential component of education; however, current practices are still dominated by conventional summative approaches, with limited use of formative, project-based, character-based, and technology-integrated evaluations. This gap indicates a lack of holistic, continuous, and adaptive assessment aligned with 21st-century competencies, particularly in Indonesian primary and lower secondary education. Such conditions require improved evaluation strategies in the Society 5.0 era to ensure more effective and relevant learning. This study employed a library research approach, reviewing 35 articles that met the inclusion criteria—empirical studies or conceptual papers on learning evaluation at the primary and lower secondary levels, published between 2010 and 2024, in Indonesian or English, and sourced from accredited national and international journals. The analysis covered formative, summative, and non-test evaluations (observation, questionnaires, and interviews) using thematic synthesis. The findings reveal that 75% of the articles emphasized summative evaluation, 30% highlighted the implementation of continuous formative assessment, 67% supported project-based evaluation, 60% addressed character-based evaluation, and only 25% discussed the integration of technology in assessment. These results indicate the need for a shift from summative dominance toward integrating formative, project-based, and technology-enhanced evaluation to address instructional weaknesses and optimize curriculum development. Objective, reliable, valid, and continuous evaluation has significant potential to enhance the quality of education and its relevance to future challenges. ABSTRAK Evaluasi pembelajaran merupakan komponen esensial dalam pendidikan, namun praktik di lapangan masih didominasi pendekatan sumatif konvensional dengan penerapan formatif, berbasis proyek, karakter, dan teknologi yang terbatas. Kesenjangan ini menunjukkan minimnya integrasi evaluasi yang holistik, berkelanjutan, dan adaptif terhadap kompetensi abad ke-21, khususnya pada jenjang SD SMP di Indonesia. Kondisi ini menuntut perbaikan strategi evaluasi di era Society 5.0 agar pembelajaran lebih efektif dan relevan. Penelitian ini merupakan library research terhadap 35 artikel yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu penelitian empiris atau kajian konseptual tentang evaluasi pembelajaran SD SMP, terbit antara 2010 - 2024, berbahasa Indonesia/Inggris, dan berasal dari jurnal nasional maupun internasional terakreditasi. Analisis mencakup evaluasi formatif, sumatif, dan non-tes (observasi, angket, wawancara) dengan sintesis tematik. Sebanyak 75% artikel menekankan evaluasi sumatif, 30% menggarisbawahi penerapan formatif berkelanjutan, 67% mendukung evaluasi berbasis proyek, 60% mengulas evaluasi berbasis karakter, dan hanya 25% membahas integrasi teknologi evaluasi. Temuan mengindikasikan perlunya pergeseran dari dominasi sumatif menuju integrasi formatif, proyek, dan teknologi, guna memperbaiki kelemahan instruksional dan mengoptimalkan pengembangan kurikulum. Evaluasi yang objektif, reliabel, valid, dan berkesinambungan berpotensi signifikan meningkatkan kualitas pendidikan dan relevansinya terhadap tantangan masa depan.
STRATEGI COPING STRESS PADA REMAJA DI PANTI ASUHAN Fitriani Pujianahum, Nina; Supriatna, Ecep; Finanto Ario Bangun, Mic
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6379

Abstract

Adolescents living in orphanages face more complex psychological challenges, such as limited emotional support, the absence of primary caregivers, and a highly regulated social environment. These conditions often trigger stress and shape the coping strategies they adopt. This study aims to identify the dominant coping stress strategies used by adolescents in Orphanage X, addressing a research gap since previous studies have largely focused on students and working adults rather than institutionalized adolescents. A descriptive quantitative design was employed, involving 120 adolescents selected through total sampling. The instrument used was a coping stress scale consisting of two dimensions: problem-focused coping and emotion-focused coping. The results showed that most adolescents used emotion-focused coping at a moderate level (60.8%), higher than problem-focused coping. These findings highlight that adolescents in orphanages rely more on emotional regulation strategies rather than direct problem-solving. The practical implication of this study is the need for structured interventions, such as psychoeducation, group counseling, and emotional regulation training, to enhance adaptive coping skills and promote psychological well-being among institutionalized adolescents. ABSTRAK Remaja yang tinggal di panti asuhan menghadapi tantangan psikologis yang lebih kompleks, seperti keterbatasan dukungan emosional, kehilangan figur pengasuh utama, dan lingkungan sosial yang penuh aturan. Kondisi ini dapat memicu stres dan memengaruhi strategi coping yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi strategi coping stress yang dominan digunakan oleh remaja di Panti Asuhan X, sekaligus menutup kesenjangan penelitian karena studi sebelumnya lebih banyak berfokus pada mahasiswa dan pekerja dewasa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan melibatkan 120 remaja melalui teknik total sampling. Instrumen yang digunakan adalah skala coping stress yang terdiri dari dua dimensi utama: problem-focused coping dan emotion-focused coping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar remaja menggunakan emotion-focused coping pada kategori sedang (60,8%), lebih tinggi dibandingkan problem-focused coping. Temuan ini menunjukkan bahwa remaja panti lebih mengandalkan pengelolaan emosi dibandingkan penyelesaian masalah secara langsung. Implikasi praktis dari penelitian ini adalah perlunya program intervensi berbasis psikoedukasi, konseling kelompok, dan pelatihan regulasi emosi untuk meningkatkan strategi coping yang lebih adaptif dan mendukung kesejahteraan psikologis remaja di panti asuhan.
HUBUNGAN ANTARA KONTROL DIRI DAN RESOLUSI KONFLIK BERPACARAN PADA MAHASISWA DI UNIVERSITAS Alvita Ardiningrum, Nasywa; Supriatna , Ecep; Finanto Ario Bangun, Mic
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6381

Abstract

This study aims to determine the relationship between self-control and dating conflict resolution in students at University. Self-control is an individual's ability to control the actions of individual perceptions of situations that affect behavior and emotions, while conflict resolution is the process of solving problems for differences between two parties. This study uses a correlational quantitative approach. The sample consisted of 115 students. The validity test was conducted through item-total correlation analysis, with 21 self-control scale items declared valid (r> 0.300) and 30 valid items from the conflict resolution scale. Reliability tests conducted using the Cronbach's Alpha coefficient showed that the self-control scale had reliability in the highly reliable category (? = 0.960) and the conflict resolution scale was in the reliable category (? = 0.988). Data analysis was conducted using Spearman's rho correlation test through JASP 0.19.3.0 software. The results of the study indicate a significant positive relationship between self-control and dating conflict resolution among students at University, with a correlation coefficient of r = 0.571 and a significance value of p < 0.001. This means that the higher the self-control possessed by students, the better the ability of students to resolve conflicts in dating relationships. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara kontrol diri dengan resolusi konflik berpacaran pada mahasiswa di Universitas. Kontrol diri merupakan kemampuan individu dalam mengontrol tindakan persepsi individu terhadap situasi yang mempengaruhi perilaku dan emosi, sedangkan resolusi konflik proses pemecahan masalah terhadap perbedaan antar dua belah pihak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Sample terdiri dari 115 mahasiswa/i. Uji validitas dilakukan melalui analisis korelasi item-total, dengan 21 item skala kontrol diri dinyatakan valid (r > 0,300) dan 30 item yang valid dari skala resolusi konflik. Uji reliabilitas yang dilakukan menggunakan koefisien Cronbach’s Alpha menunjukkan bahwa skala kontrol diri memiliki reliabilitas dengan kategori sangat reliabel (? = 0,960) dan skala resolusi konflik berada pada kategori reliabel (? = 0,988).  Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi spearman’s rho melalui software JASP 0.19.3.0. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara kontrol diri dan resolusi konflik berpacaran pada mahasiswa di Universitas, dengan koefisien korelasi sebesar r = 0,571, dan nilai signifikansi p < 0,001. Artinya, semakin tinggi kontrol diri yang dimiliki oleh mahasiswa, maka semakin baik pula kemampuan mahasiswa dalam menyelesaikan konflik didalam hubungan berpacaran.
PENGARUH WORK LIFE BALANCE TERHADAP TURNOVER INTENTION GENERASI Z DI KOTA BANJARMASIN Fadhilah, Rachil; Ariani, Lita; Julaibib, Julaibib
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6392

Abstract

Generation Z, known for their values of flexibility and well-being, are increasingly paying attention to the importance of work-life balance, which in turn can affect their turnover intention at work. One of the keys to retaining employees is finding a good balance between personal and work needs, especially among a generation that is very concerned about mental health. The purpose of this research is to learn more about the effect of work-life balance on the turnover intention of Generation Z in Banjarmasin City. This research was conducted with a correlational quantitative approach. This study involved 101 people, data collection was done through Google Forms with convenience sampling technique.  The results of simple linear regression analysis indicate that work life balance is able to explain 25.1% of the variation of turnover intention (R2 = 0.251, F (1,99) = 33.25 p < 0.05). This means that there is a significant influence of work-life balance on turnover intention in Generation Z in Banjarmasin City. It is hoped that these findings can be a source of reference for future researchers to explore additional variables that may play a role in turnover intention. Suggestions for organizations are expected to create a work environment and atmosphere that can improve work life balance. ABSTRAK Generasi Z, yang dikenal dengan nilai-nilai fleksibilitas dan kesejahteraan, semakin memperhatikan pentingnya work-life balance, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi turnover intention mereka di tempat kerja. Salah satu kunci untuk mempertahankan karyawan adalah menemukan keseimbangan yang baik antara kebutuhan pribadi dan pekerjaan, terutama di kalangan generasi yang sangat memperhatikan kesehatan mental. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari lebih lanjut tentang pengaruh work life balance terhadap turnover intention Generasi Z di Kota Banjarmasin. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif korelasional. Penelitian ini melibatkan 101 orang, pengambilan data dilakukan melalui Google Forms dengan teknik convenience sampling. Hasil dari analisis regresi linear sederhana mengindikasikan bahwa work life balance mampu menjelaskan 25,1% variasi dari turnover intention (R2 = 0,251, F (1,99) = 33,25 p < 0,05). Artinya terdapat pengaruh work life balance yang signifikan terhadap turnover intention pada Generasi Z di Kota Banjarmasin. Diharapkan bahwa temuan ini dapat menjadi sumber referensi untuk peneliti selanjutnya untuk mengeksplorasi variabel tambahan yang mungkin berperan dalam turnover intention. Saran untuk organsasi diharapkan untuk menciptakan lingkungan dan suasana kerja yang mampu meningkatkan work life balance.
HUBUNGAN ANTARA KEMATANGAN KARIER DENGAN QUARTER LIFE CRISIS PADA PEKERJA Imamah, Fa’iqotul; Satiningsih, Satiningsih
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6496

Abstract

The quarter-life crisis is a psychological phenomenon commonly experienced by individuals aged 18–29, characterized by anxiety, confusion, and pressure in making life decisions, particularly regarding career. One factor influencing this condition is career maturity, defined as the readiness to plan and make career decisions appropriate to one’s developmental stage. This study aimed to examine the relationship between career maturity and quarter-life crisis among 115 employees at a business entity in Lamongan Regency. Using a quantitative approach with a correlational design, the study identified the strength and direction of the relationship between variables without manipulation. The instruments were a career maturity scale (Donald Super) and a quarter-life crisis scale (Robbins & Wilner), with validity tested using corrected item–total correlation and reliability assessed via Cronbach’s alpha. The results revealed a significant negative relationship (r =  -0.428, p < 0.05) with r² = 18.3%, indicating that career maturity explains 18.3% of the variance in quarter-life crisis. This finding fills a research gap that has predominantly focused on university students by highlighting a worker population facing real-world career challenges. Career maturity was shown to act as a protective factor against quarter-life crisis and provides a basis for developing workplace career mentoring programs. ABSTRAK Quarter life crisis adalah fenomena psikologis yang umum dialami individu usia 18–29 tahun, ditandai kecemasan, kebingungan, dan tekanan dalam menentukan arah hidup, khususnya karier. Salah satu faktor yang memengaruhinya adalah kematangan karier, yakni kesiapan merencanakan dan mengambil keputusan karier sesuai tahap perkembangan. Penelitian ini bertujuan menguji hubungan antara kematangan karier dan quarter life crisis pada 115 pekerja di sebuah badan usaha di Kabupaten Lamongan. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional, penelitian ini mengidentifikasi kekuatan dan arah hubungan antarvariabel tanpa manipulasi. Instrumen yang digunakan adalah skala kematangan karier (Donald Super) dan skala quarter life crisis (Robbins & Wilner), dengan validitas diuji melalui corrected item–total correlation dan reliabilitas melalui Cronbach’s Alpha. Hasil menunjukkan hubungan negatif signifikan (r = - 0,428, p < 0,05) dengan r² = 18,3%, yang berarti kematangan karier menjelaskan 18,3% variasi quarter life crisis. Temuan ini mengisi kesenjangan penelitian yang sebelumnya berfokus pada mahasiswa, dengan menyoroti populasi pekerja yang menghadapi tantangan nyata di dunia kerja. Kematangan karier terbukti berperan sebagai faktor protektif terhadap quarter life crisis dan menjadi dasar pengembangan program pendampingan karier di lingkungan kerja.
REFLEKSI QS. AR-RA'DU: 11 DAN QS. AL-ANFAL: 53 SELF AWARENESS SEBAGAI KESALEHAN SOSIAL Syafi’i, Imam; Sassi, Komarudin
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6517

Abstract

ABSTRACT This paper discusses the relationship between self-awareness and the formation of social piety in contemporary Muslim societies facing moral and spiritual crises. This study uses a qualitative approach with a comparative interpretation method to examine QS. Ar-Ra'd verse 11 and QS. Al-Anfal verse 53. QS. Ar-Ra’d verse 11 emphasizes that collective change begins with individual change, while QS. Al-Anfal verse 53 reminds us that neglecting to preserve Allah’s blessings can result in their revocation. The research stages include: (1) determining the research object and key verses, (2) collecting primary sources in the form of three tafsir books (Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir al-Maraghi, Tafsir al-Misbah) and 45 secondary literature obtained from Google Scholar, Sinta, and Garuda, and (3) descriptive-analytical analysis to identify the meaning of key terms, trace the interpretations of exegetes, and reflect them on current socio-cultural phenomena. The results of the study show that self-awareness is an important foundation for maintaining blessings, building social responsibility, and strengthening character education. This value needs to be integrated into the Islamic education curriculum to form a society with noble character and dignity. ABSTRAK Tulisan ini membahas keterkaitan antara self-awareness (kesadaran diri) dengan pembentukan kesalehan sosial dalam masyarakat Muslim kontemporer yang menghadapi krisis moral dan spiritual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode tafsir muqaran (komparatif) untuk menelaah QS. Ar-Ra’d ayat 11 dan QS. Al-Anfal ayat 53. QS. Ar-Ra’d ayat 11 menegaskan bahwa perubahan kolektif dimulai dari perubahan individu, sedangkan QS. Al-Anfal ayat 53 mengingatkan bahwa kelalaian menjaga nikmat Allah dapat mengakibatkan pencabutannya. Tahapan penelitian meliputi: (1) penentuan objek kajian dan ayat kunci, (2) pengumpulan sumber primer berupa tiga kitab tafsir (Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir al-Maraghi, Tafsir al-Misbah) dan 45 literatur sekunder yang diperoleh dari Google Scholar, Sinta, dan Garuda, serta (3) analisis deskriptif-analitis untuk mengidentifikasi makna lafaz kunci, menelusuri penafsiran mufasir, dan merefleksikannya pada fenomena sosial-budaya saat ini. Hasil kajian menunjukkan bahwa self-awareness menjadi fondasi penting dalam menjaga keberkahan, membangun tanggung jawab sosial, dan memperkuat pendidikan karakter. Nilai ini perlu diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan agama Islam untuk membentuk masyarakat yang berakhlak mulia dan bermartabat.
PERAN FAMILY SUPPORT TERHADAP QUALITY OF LIFE DENGAN ISLAMIC RELIGIOSITY SEBAGAI MEDIATOR PADA SISWA BOARDING SCHOOL Nur Atiqoh, Faiha; Naimah, Tri; Nur’aeni, Nur’aeni; Arnis Grafiyana, Gisella
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i2.6583

Abstract

Boarding schools implement a 24-hour learning and supervision system that may generate academic, social, and psychological pressures, potentially reducing students’ quality of life (QoL). While numerous studies have examined QoL determinants, few have investigated the mediating role of Islamic religiosity in the relationship between family support and QoL within Islamic residential education. This study aimed to examine the effect of family support on QoL through the mediation of Islamic religiosity among high school students at an Islamic boarding school in Banyumas, Central Java. A quantitative approach was employed using a saturated sampling technique (n = 233). Data were collected through modified instruments: the Brunnsviken Brief Quality of Life Scale (BBQ; CR = 0.932), Perceived Social Support–Family (PSS-F; CR = 0.948), and the Religiosity of Islam Scale (RoIS; CR = 0.943). Data were analyzed using Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) via SmartPLS 4.0. The results revealed that family support significantly influences QoL through the mediation of Islamic religiosity (t = 9.441; p < 0.001). These findings underscore the importance of family involvement in fostering students’ religiosity through regular communication and moral support. This study contributes by presenting an integrative model that combines the influence of external and internal factors on students’ quality of life in an Islamic boarding school setting. ABSTRAK Boarding school menerapkan sistem pembelajaran dan pembinaan selama 24 jam yang berpotensi menimbulkan tekanan akademik, sosial, dan psikologis, sehingga dapat menurunkan quality of life (QoL) siswa. Meskipun determinan QoL telah banyak diteliti, sedikit studi yang menguji peran Islamic religiosity sebagai mediator antara family support dan QoL dalam konteks pendidikan Islam berasrama. Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh family support terhadap QoL melalui mediasi Islamic religiosity pada siswa SMA di sebuah pondok pesantren di Banyumas, Jawa Tengah. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan teknik saturated sampling (n = 233). Instrumen yang digunakan merupakan modifikasi dari Brunnsviken Brief Quality of Life Scale (BBQ; CR = 0,932), Perceived Social Support–Family (PSS-F; CR = 0,948), dan Religiosity of Islam Scale (RoIS; CR = 0,943). Analisis data dilakukan menggunakan SEM-PLS (SmartPLS 4.0). Hasil menunjukkan bahwa family support berpengaruh signifikan terhadap QoL melalui mediasi Islamic religiosity (t = 9,441; p < 0,001). Temuan ini menyoroti pentingnya keterlibatan keluarga dalam mendukung pembentukan religiositas siswa melalui komunikasi rutin dan dukungan moral. Penelitian ini memberikan kontribusi dengan menyajikan model integratif yang menggabungkan pengaruh faktor eksternal dan internal terhadap kualitas hidup siswa di lingkungan pendidikan berasrama berbasis Islam.