cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol. 5 No. 4 (2025)" : 16 Documents clear
PENGARUH KONFLIK KERJA TERHADAP KINERJA KARYAWAN DINAS DI KOTA BANJARMASIN Puteri, Naswa Adelia; Julaibib, Julaibib; Ariani, Lita
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.6982

Abstract

Employee performance plays a crucial role in determining the success of an organization in achieving its goals and ensuring the continuity of work programs. Performance achievement is not only influenced by individual competence but also by workplace conditions that often create certain dynamics. One of the dynamics that frequently arises is work conflict, a situation where differences in interests, objectives, or perspectives occur among employees or between groups within the organization. This study aims to examine the effect of work conflict on employee performance at a government office in Banjarmasin City. The research employed a quantitative method with a correlational design, involving the entire population of 45 civil servants as respondents. Data were collected through questionnaires and analyzed using simple linear regression. The findings reveal that work conflict has a significant negative effect on employee performance. In other words, the higher the level of conflict, the lower the performance. Therefore, effective conflict management strategies, such as improved communication, fair task distribution, and a supportive work environment, are necessary to maintain productivity. ABSTRAK Kinerja pegawai berperan penting dalam menentukan keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai tujuan dan menjaga kesinambungan program kerja. Pencapaian kinerja tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, melainkan juga dipengaruhi oleh situasi lingkungan kerja yang sering menghadirkan dinamika tertentu. Salah satu dinamika yang kerap muncul ialah konflik kerja, yaitu kondisi ketika terdapat perbedaan kepentingan, tujuan, maupun pandangan di antara pegawai atau antar kelompok dalam organisasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh konflik kerja terhadap kinerja pegawai pada salah satu Dinas di Kota Banjarmasin. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional, melibatkan seluruh populasi sebanyak 45 pegawai negeri sipil sebagai responden. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner dan dianalisis dengan regresi linear sederhana. Hasil menunjukkan konflik kerja berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja pegawai. Artinya, semakin tinggi tingkat konflik, semakin rendah kinerja yang ditampilkan. Oleh karena itu, diperlukan penerapan strategi manajemen konflik, seperti komunikasi yang efektif, pembagian kerja seimbang, serta lingkungan kerja yang mendukung agar produktivitas tetap terjaga.
INTEGRASI PENDIDIKAN ISLAM DAN BIMBINGAN KONSELING DALAM PENGUATAN MENTAL PESERTA DIDIK GEN ALPHA DI SMP PLUS INSAN GEMILANG Aini, Siti Nur; Syaifulloh, Ahmad; Nurkayati, Siti
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.7259

Abstract

This study aims to describe the model of integration of Islamic Education and Guidance Counseling (BK) in strengthening the mental health of Generation Alpha students at SMP Plus Insan Gemilang. The background of this study is the increase in digital distractions and mental health challenges among the younger generation, which requires a holistic educational approach based on spiritual values. This study uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques through semi-structured in-depth interviews with students, guidance counselors, Islamic education teachers, and the principal, who were selected purposively. The data were analyzed using thematic analysis techniques and tested for validity through source triangulation and member checking. The results showed that the boarding school system, which has been a policy since the school's establishment, restrictions on the use of electronic devices, the habit of worship, and Islamic counseling services contributed positively to the inner peace, emotional control, resilience, and learning focus of students. These findings are in line with previous studies that confirm that religiosity and social support in Islamic educational environments are significantly related to students' psychological well-being. This study also found challenges in the form of homesickness, boredom due to busy schedules, and difficulties in time management that need to be overcome through counseling assistance and strengthening self-management skills. In conclusion, the integration of Islamic Education and BK in the context of boarding schools is a relevant and effective approach to strengthening the mental health of Generation Alpha students and can serve as a reference for other Islamic educational institutions. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan model integrasi Pendidikan Islam dan Bimbingan Konseling (BK) dalam penguatan kesehatan mental peserta didik Generasi Alpha di SMP Plus Insan Gemilang. Latar belakang penelitian ini adalah meningkatnya distraksi digital dan tantangan kesehatan mental generasi muda sehingga diperlukan pendekatan pendidikan yang holistik berbasis nilai spiritual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap peserta didik, guru BK, guru PAI, dan kepala sekolah yang dipilih secara purposive. Data dianalisis dengan teknik analisis tematik dan diuji keabsahannya melalui triangulasi sumber dan member check. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem boarding school yang telah menjadi kebijakan sejak berdirinya sekolah, pembatasan penggunaan gawai, pembiasaan ibadah, dan layanan BK Islami berkontribusi positif terhadap ketenangan batin, pengendalian emosi, resiliensi, dan fokus belajar peserta didik. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menegaskan bahwa religiusitas dan dukungan sosial di lingkungan pendidikan Islam berhubungan signifikan dengan kesejahteraan psikologis siswa. Penelitian ini juga menemukan tantangan berupa rasa kangen rumah, kejenuhan akibat jadwal padat, dan kesulitan manajemen waktu yang perlu diatasi melalui pendampingan konseling dan penguatan keterampilan manajemen diri. Kesimpulannya, integrasi Pendidikan Islam dan BK dalam konteks boarding school merupakan pendekatan yang relevan dan efektif untuk memperkuat kesehatan mental peserta didik Generasi Alpha serta dapat menjadi rujukan bagi lembaga pendidikan Islam lainnya.
RELEVANSI KONSELING PANCAWASKITA TERHADAP PENGEMBANGAN KEMANDIRIAN DAN KEHIDUPAN EFEKTIF SISWA SMP SEKOLAH INDONESIA JEDDAH Saputra, Reri; Isdwiyanti, Dian; Habsy, Bakhrudin All
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.7359

Abstract

This study aims to examine the relevance of Pancawaskita Counseling (KOPASTA) to the development of independence and effective daily living (KES) among junior high school students at the Indonesian School in Jeddah (SIJ). This approach is considered essential in the multicultural and religious context of education abroad, where Indonesian students face challenges of social adaptation, differences in cultural values, and the need for contextual counseling. The research method used is a library study (literature review) of ten scientific articles published between 2015 and 2025. The analysis shows that KOPASTA, as an eclectic and integrative counseling theory grounded in the values of Pancasila, Lirahid, Pancadaya, Masidu, and Likuladu, provides a conceptual foundation for developing the independence of Indonesian diaspora students. The approach emphasizes the balance between Internal Meaning (Arti Dari Dalam/ADD) and External Meaning (Arti Dari Luar/ADL) in forming a new gatra, which represents a wise, autonomous, and effective individual. Applying KOPASTA’s values in the Indonesian School in Jeddah can strengthen students’ moral, emotional, and spiritual resilience while fostering their national identity within a global environment. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji relevansi Konseling Pancawaskita (KOPASTA) terhadap pengembangan kemandirian dan kehidupan efektif sehari-hari (KES) pada siswa SMP Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ). Pendekatan ini dipandang penting dalam konteks pendidikan multikultural dan religius di luar negeri, di mana siswa Indonesia menghadapi tantangan adaptasi sosial, perbedaan nilai budaya, dan kebutuhan bimbingan yang kontekstual. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka (library research) terhadap sepuluh artikel ilmiah yang terbit dalam kurun waktu 2015–2025. Hasil analisis menunjukkan bahwa KOPASTA sebagai teori konseling eklektik-integratif berlandaskan nilai-nilai Pancasila, Lirahid, Pancadaya, Masidu, dan Likuladu, mampu menjadi dasar konseptual untuk membangun kemandirian siswa diaspora. Pendekatan ini menekankan keseimbangan antara Arti Dari Dalam (ADD) dan Arti Dari Luar (ADL) dalam membentuk gatra baru, yaitu pribadi yang waskita, mandiri, dan berkehidupan efektif. Penerapan nilai-nilai KOPASTA di lingkungan Sekolah Indonesia Jeddah dapat memperkuat ketahanan moral, emosional, dan spiritual siswa sekaligus menumbuhkan identitas kebangsaan di tengah lingkungan global.
HUBUNGAN ANTARA KONTROL DIRI DAN KECANDUAN GAME ONLINE DENGAN PERILAKU AGRESIF PADA SISWA SMK Utami, Jian Vivi Tri; Amini, Soleh
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.7453

Abstract

ABSTRACT Motivated by the increasing use of online games among adolescents, which has the potential to cause addiction and aggressive behavior, this study examines the relationship between self-control and online game addiction with aggressive behavior among vocational high school students in Nogosari District. This quantitative study used a survey method involving 83 students of SMK Negeri 1 Nogosari who were randomly selected from a total population of 490 students. Data were collected through self-control scales, online game addiction scales, and aggressive behavior scales, all of which had been tested for validity (Aiken's V) and reliability (Cronbach's Alpha). Multiple linear regression analysis using SPSS 26, after meeting classical assumption tests, was conducted to assess the simultaneous and partial relationships among the research variables. The results showed that self-control and online game addiction simultaneously had a significant relationship with aggressive behavior. Partially, self-control had a negative and significant effect on aggressive behavior (?: -1.019, <0.000), whereas online game addiction had a positive and significant effect (?: 0.284, <0.05). These two variables explained 46% of the variability in aggressive behavior, with the remaining influenced by other factors. These findings emphasize the role of self-control as a protective factor and online game addiction as a trigger for aggressive behavior, highlighting the importance of psychological and educational interventions in schools and families to enhance self-control and manage online game use among adolescents. ABSTRAK Dilatarbelakangi oleh peningkatan penggunaan game online di kalangan remaja yang berpotensi menimbulkan kecanduan dan perilaku agresif, penelitian ini menguji hubungan antara kontrol diri dan kecanduan game online dengan perilaku agresif pada siswa SMK di Kecamatan Nogosari. Studi kuantitatif ini menggunakan metode survei pada 83 siswa SMK Negeri 1 Nogosari yang dipilih secara acak dari total populasi 490 siswa. Data dikumpulkan melalui skala kontrol diri, kecanduan game online, dan perilaku agresif, yang telah diuji validitas (Aiken's V) dan reliabilitas (Alpha Cronbach). Analisis regresi linear berganda dengan SPSS 26, setelah memenuhi uji asumsi klasik, dilakukan untuk menilai hubungan simultan dan parsial antara variabel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontrol diri dan kecanduan game online secara simultan berhubungan signifikan dengan perilaku agresif. Secara parsial, kontrol diri berpengaruh negatif dan signifikan terhadap perilaku agresif (?: -1.019, <0.000), sementara kecanduan game online berpengaruh positif dan signifikan (?: 0,284, <0,05). Kedua variabel ini menjelaskan 46% variabilitas perilaku agresif, dengan sisanya dipengaruhi faktor lain. Temuan ini menekankan peran kontrol diri sebagai pelindung dan kecanduan game online sebagai pemicu perilaku agresif, menggarisbawahi pentingnya intervensi psikologis dan edukatif di sekolah dan keluarga untuk meningkatkan kontrol diri dan mengelola penggunaan game online pada remaja.
MANAJEMEN WAKTU DAN DINAMIKA STRES AKADEMIK PADA MAHASISWA KEBIDANAN TAHUN PERTAMA Hardjito, Koekoeh
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.7762

Abstract

ABSTRACT The transition from secondary education to higher education is a critical phase that requires students to adapt to independent learning systems and greater academic responsibilities. In midwifery education, academic demands are particularly complex as students must master theoretical knowledge while preparing for clinical practice. This study aims to analyze the relationship between time management ability and academic stress levels among first-year midwifery students. The study employed a quantitative approach with a correlational design. The population consisted of all first-year students, with a total of 69 respondents selected randomly. Data were collected using validated and reliable questionnaires on time management and academic stress. Data analysis used the Spearman Rho correlation test. The results showed that most students had good time management skills and experienced low levels of academic stress. The Spearman Rho test produced a correlation coefficient of –0.248 with a significance value of 0.040, indicating a significant negative relationship between time management ability and academic stress. The findings indicate that the better students manage their time, the lower their academic stress levels. This study highlights the importance of time management as a crucial factor in helping students cope with academic demands during the early phase of midwifery education and as a preventive coping mechanism against academic stress. ABSTRAK Peralihan dari pendidikan menengah ke perguruan tinggi merupakan fase kritis yang menuntut mahasiswa untuk menyesuaikan diri terhadap sistem belajar mandiri dan tanggung jawab akademik yang lebih tinggi. Dalam konteks pendidikan kebidanan, tuntutan akademik bersifat kompleks karena mahasiswa harus mempelajari teori sekaligus mempersiapkan diri untuk praktik klinik kebidanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kemampuan manajemen waktu dengan tingkat stres akademik pada mahasiswa kebidanan tahun pertama. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Populasi terdiri dari seluruh mahasiswa tahun pertama, dan sampel penelitian berjumlah 69 responden yang dipilih secara acak. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner manajemen waktu dan kuesioner stres akademik yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan uji Spearman Rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa memiliki kemampuan manajemen waktu dalam kategori baik dan mengalami stres akademik pada tingkat rendah. Hasil uji Spearman Rho menunjukkan nilai korelasi –0,248 dengan signifikansi 0,040, yang berarti terdapat hubungan negatif yang signifikan antara kemampuan manajemen waktu dan tingkat stres akademik. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin baik mahasiswa mengelola waktu, semakin rendah tingkat stres akademik yang mereka alami. Penelitian ini menegaskan bahwa kemampuan manajemen waktu merupakan faktor penting yang membantu mahasiswa dalam menghadapi tuntutan akademik pada fase awal pendidikan kebidanan, serta berperan sebagai strategi koping preventif terhadap stres akademik.
HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP KOMUNIKASI INTERPERSONAL HUBUNGAN PACARAN PADA DEWASA AWAL Ikishima, Faura Irva; Agustina, Agustina
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.7918

Abstract

ABSTRACT Romantic relationships in early adulthood require emotional regulation skills and effective communication to maintain relationship quality. Emotional intelligence is one of the key factors that shapes how individuals understand themselves, respond to their partners, and engage in healthy interactions. This study aims to examine the relationship between emotional intelligence and interpersonal communication among early adults who are currently in a romantic relationship. Using a quantitative approach, the study involved 190 participants aged 18–25 years selected through purposive sampling. The research employed emotional intelligence and interpersonal communication scales, and the data were analyzed using SPSS. Normality testing indicated that the data were normally distributed, allowing the use of Pearson correlation for hypothesis testing. The results showed a significant positive relationship between emotional intelligence and interpersonal communication (r = 0.619, p < 0.01), indicating that individuals with higher emotional intelligence tend to communicate more effectively in their dating relationships. Additional analyses revealed that interpersonal communication differed significantly based on relationship duration (p = 0.024) and expectations toward partners (p = 0.045), whereas emotional intelligence did not differ across these categories. These findings suggest that emotional regulation, partner understanding, and relational expectations contribute to variations in romantic communication quality during early adulthood. ABSTRAK Hubungan romantis pada dewasa awal membutuhkan kemampuan pengelolaan emosi dan komunikasi yang efektif untuk mempertahankan kualitas hubungan. Kecerdasan emosional menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi cara individu memahami diri, merespons pasangan, serta membangun interaksi yang sehat. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara kecerdasan emosional dan komunikasi interpersonal pada dewasa awal yang sedang menjalin hubungan pacaran. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan melibatkan 190 partisipan berusia 18–25 tahun yang dipilih melalui purposive sampling. Instrumen penelitian terdiri dari skala kecerdasan emosional dan skala komunikasi interpersonal, dan pengolahan data dilakukan menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara kecerdasan emosional dan komunikasi interpersonal (r = 0.619, p < 0.01), yang berarti bahwa semakin tinggi kecerdasan emosional individu, semakin baik komunikasi interpersonal yang ditampilkan dalam hubungan pacaran. Uji beda juga menunjukkan bahwa komunikasi interpersonal berbeda signifikan berdasarkan durasi hubungan (p = 0.024) dan harapan terhadap pasangan (p = 0.045), sementara kecerdasan emosional tidak menunjukkan perbedaan pada kedua kategori tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan mengelola emosi, memahami pasangan, serta ekspektasi dalam hubungan memiliki keterkaitan dengan kualitas komunikasi romantis pada dewasa awal.
EFEKTIVITAS INTERVENSI COUNTING BLESSING UNTUK MENINGKATKAN KEBAHAGIAAN DI TEMPAT KERJA Dian Nafis, Fawwazaidan; Rejeki, Asri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.7640

Abstract

Happiness in the workplace is an important factor in improving employees' well-being and productivity. However, at PT X, some employees still feel unhappy, which may affect their performance. This study aims to evaluate the effectiveness of the positive psychology intervention Counting Blessing in increasing employee happiness. Using a pre-experimental design with a quantitative approach, the study involved three employees of PT X who participated in the intervention program for two weeks. Data were collected through questionnaires measuring aspects of job satisfaction, engagement, and affective organizational commitment using the SHAW Scale instrument. Data analysis was conducted using paired sample t-test and N-Gain score. The results showed a Sig. (2-tailed) value of 0.01, indicating a significant difference in employee happiness after the intervention (p < 0.05). Additionally, the N-Gain test showed an increase in happiness with an average score of 0.679 (67.859%) in the "moderate" category. These findings support previous research showing that happiness at the workplace can increase productivity and employee engagement. This study concludes that the Counting Blessing intervention is effective in improving employee happiness, and these findings can serve as a basis for developing further intervention programs to enhance employee well-being in other organizations. ABSTRAK Kebahagiaan di tempat kerja merupakan faktor penting dalam meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas karyawan. Namun, di PT X, masih terdapat karyawan yang merasa kurang bahagia, yang berpotensi mengurangi kinerja mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas intervensi psikologi positif Counting Blessing dalam meningkatkan kebahagiaan karyawan. Menggunakan desain pre-eksperimental dengan pendekatan kuantitatif, penelitian ini melibatkan tiga karyawan PT X yang mengikuti program intervensi selama dua minggu. Data dikumpulkan melalui kuisioner yang mengukur aspek kepuasan kerja, keterlibatan, dan komitmen afektif organisasi menggunakan instrumen SHAW Scale. Analisis data dilakukan dengan uji paired sample t-test dan N-Gain score. Hasil penelitian menunjukkan nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,01, yang mengindikasikan perbedaan signifikan dalam kebahagiaan karyawan setelah intervensi (p < 0,05). Selain itu, uji N-Gain menunjukkan peningkatan kebahagiaan dengan skor rata-rata 0,679 (67,859%) dalam kategori "sedang". Temuan ini mendukung penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa kebahagiaan di tempat kerja dapat meningkatkan produktivitas dan keterlibatan karyawan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa intervensi Counting Blessing efektif dalam meningkatkan kebahagiaan karyawan, dan temuan ini dapat dijadikan dasar untuk mengembangkan program intervensi lebih lanjut guna meningkatkan kesejahteraan karyawan di perusahaan lain.
PELATIHAN GOAL SETTING “GOAL GETTER” UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA baroroh, Ema Zati; amalia, Kiki; Asri Azzahra, Mia; Putri, Santi Ramadhani
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.7705

Abstract

Low learning motivation is a common challenge for students, especially those with busy schedules at school and in Islamic boarding schools (pesantren). This study aims to test the effectiveness of the "Goal Getter" goal-setting training in enhancing students' learning motivation in pesantren. Using a one-group pre-test post-test pre-experimental design, the study involved seven eighth-grade students at SMPI X. Learning motivation was measured using a Learning Motivation Scale, covering indicators of drive, commitment, initiative, and optimism. The Wilcoxon Signed-Rank test showed a significant increase in learning motivation after the intervention (Z = .043, p < .05). Qualitative findings from observations and worksheets revealed increased enthusiasm, self-confidence, and active participation from the students. The training consisted of two sessions, including motivational material, dream tree visualization, goal setting using the SMART method, and reflective discussions. The interactive approach helped students set more focused and meaningful goals. The results of this study demonstrate that "Goal Getter" is effective in enhancing intrinsic motivation, particularly for students with high activity loads in pesantren, and provides practical contributions to the development of learning motivation interventions. ABSTRAK Rendahnya motivasi belajar sering menjadi tantangan bagi siswa, terutama mereka yang memiliki jadwal padat di sekolah dan pesantren. Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas pelatihan goal setting "Goal Getter" dalam meningkatkan motivasi belajar siswa pesantren. Menggunakan desain pra-eksperimental one group pre-test post-test, penelitian ini melibatkan tujuh siswa kelas VIII SMPI X. Motivasi belajar diukur dengan Skala Motivasi Belajar yang mencakup indikator dorongan, komitmen, inisiatif, dan optimisme. Uji Wilcoxon Signed-Rank menunjukkan peningkatan signifikan motivasi belajar setelah pelatihan (Z = .043, p < .05). Temuan kualitatif dari observasi dan lembar kerja mengungkapkan peningkatan antusiasme, kepercayaan diri, dan partisipasi aktif siswa. Pelatihan terdiri dari dua sesi yang mencakup materi motivasi, visualisasi pohon impian, penyusunan tujuan dengan metode SMART, dan diskusi reflektif. Pendekatan interaktif membantu siswa menetapkan tujuan yang lebih terarah dan bermakna. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa "Goal Getter" efektif meningkatkan motivasi intrinsik, terutama bagi siswa dengan aktivitas tinggi di pesantren, dan memberikan kontribusi praktis dalam pengembangan intervensi motivasi belajar.
HUBUNGAN PENGABAIAN DARI AYAH DENGAN FEAR OF INTIMACY PADA HUBUNGAN ROMANTIS PEREMPUAN DEWASA AWAL Latupono, Sania Alikha Rahmadira; Tiatri, Sri
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.8196

Abstract

ABSTRACT Early adulthood is a developmental stage marked by the formation of more stable romantic relationships; however, many young women continue to experience discomfort with emotional closeness, known as fear of intimacy. One contributing factor to this condition may be experiences of paternal neglect. This study aims to examine the relationship between paternal neglect and fear of intimacy among early adult women. The research method used in this study is a non-experimental quantitative approach. A total of 136 participants aged 18 to 25 took part in an online survey using purposive sampling. The instruments used were the Multidimensional Neglectful Behavior Scale, Form AS: Adolescent and Adult-Recall, Short Version and the Fear of Intimacy Scale. Data were analyzed using Spearman’s rho correlation and the Kruskal-Wallis test. The results showed a positive and significant relationship between paternal neglect and fear of intimacy (r = .652, p < .001), indicating that higher levels of paternal neglect are associated with higher levels of fear of intimacy. Additionally, romantic relationship status did not significantly differentiate either variable. These findings highlight the crucial role of fathers in emotional and attachment development and demonstrate that experiences of neglect may have long-term effects on young women's ability to form secure intimate relationships. ABSTRAK Dewasa awal merupakan fase ketika individu mulai membentuk hubungan romantis yang lebih stabil, namun sebagian perempuan masih mengalami ketidaknyamanan terhadap kedekatan emosional atau fear of intimacy. Salah satu faktor yang berpotensi mempengaruhi kondisi tersebut adalah pengalaman pengabaian dari ayah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengabaian dari ayah dan fear of intimacy pada perempuan dewasa awal. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif non-eksperimental. Sebanyak 136 partisipan berusia 18 sampai dengan 25 tahun mengikuti penelitian ini melalui pengisian kuesioner daring menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah Multidimensional Neglectful Behavior Scale, Form AS: Adolescent and Adult-Recall, Short Version dan Fear of Intimacy Scale. Data dianalisis menggunakan korelasi Spearman’s rho dan uji Kruskal-Wallis. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara pengabaian dari ayah dan fear of intimacy (r = .652, p < .001), yang mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat pengabaian dari Ayah, semakin tinggi pula fear of intimacy pada partisipan. Sementara itu, status hubungan romantis tidak menunjukkan perbedaan signifikan pada kedua variabel. Temuan ini menegaskan pentingnya peran Ayah dalam perkembangan emosional dan kelekatan, serta menunjukkan bahwa pengalaman pengabaian memiliki dampak jangka panjang terhadap kemampuan perempuan dewasa awal dalam membangun hubungan intim yang aman.
HUBUNGAN ATTACHMENT DAN LONELINESS PADA MAHASISWA LDRR: ANALISIS BERDASARKAN VARIASI JARAK FISIK Ramadhan, Asya Afifa Putri; Wibowo, Astri Anggraini Hapsara; Roswiyani, Roswiyani
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.8197

Abstract

ABSTRACT Long-distance romantic relationships (LDRR) are becoming increasingly common among students and often cause emotional challenges due to limited face-to-face interaction. This study aims to examine the relationship between attachment (anxiety & avoidance) and loneliness in students who are in LDRR. This study used a quantitative method with a correlational design and involved 406 students in Indonesia aged 18-25 years who had been in an LDRR for at least 3 months. Data were collected through an electronic questionnaire containing the Experiences in Close Relationship-Revised (ECR-R) scale and the Social and Emotional Loneliness Scale for Adults-Short Version (SELSA-S) with a Likert scale. The results showed a significant positive correlation between attachment and loneliness (r? (406) = 0.526, p < 0.05), where attachment tendencies were associated with higher levels of loneliness. In addition, a Kruskal-Wallis test was conducted on the physical distance category, and the results showed variations in the mean rank of attachment and loneliness in different distance categories. The very far distance category (>1000 km) had a mean rank score of 223.02 for attachment and 222.25 for loneliness. The minimal category (80 km) showed a mean rank score of 211.16 for attachment and 225.16 for loneliness. These findings indicate that physical distance can exacerbate emotional challenges in LDRR, particularly in individuals with insecure attachment. ABSTRAK Hubungan romantis jarak jauh atau long-distance romantic relationship (LDRR) menjadi fenomena yang semakin umum di kalangan mahasiswa dan kerap memicu tantangan emosional akibat adanya keterbatasan interaksi tatap muka. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara attachment (anxiety & avoidance) dengan loneliness pada mahasiswa yang menjalani LDRR. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional dan melibatkan 406 mahasiswa di Indonesia, berusia 18-25 tahun yang menjalin LDRR selama minimal 3 bulan. Data dikumpulkan melalui kuesioner elektronik yang memuat skala Experiences in Close Relationship-Revised (ECR-R) serta Social and Emotional Loneliness Scale for Adults-Short Version (SELSA-S) dengan skala Likert. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara attachment dan loneliness (r? (406) = 0.526, p < 0.05), di mana kecenderungan attachment berhubungan dengan tingginya tingkat loneliness. Selain itu, uji beda Kruskal-Wallis dilakukan pada kategori jarak fisik, hasil menunjukkan adanya variasi mean rank attachment dan loneliness pada kategori jarak yang berbeda. Kategori jarak sangat jauh (>1000 km) dengan skor mean rank 223.02 pada attachment dan 222.25 pada loneliness. Kategori minimal (80 km) menunjukkan skor mean rank 211.16 pada attachment dan 225.16 pada loneliness. Temuan ini menunjukkan bahwa jarak fisik dapat memperkuat tantangan emosional dalam LDRR, khususnya pada individu dengan insecure attachment.

Page 1 of 2 | Total Record : 16