cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 701 Documents
PERAN CONSCIENTIOUSNESS TERHADAP KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS PADA MAHASISWA Keyra Aurielle Shevanka; Nirmala Putri Ramadhani; Aldzikra Dhaifa Syavanay Miraza; Naurah Fairuz Zakiyah; Annisa Risma Devita Suhendar Pudiwan; Najwa Zhafira Khairunnisa; Sri Maslihah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.9068

Abstract

Students are in the emerging adulthood phase, which is characterized by increasing academic, social, and personal demands, requiring adequate self-regulation to maintain psychological well-being. This study aims to examine the relationship between conscientiousness and psychological well-being among students. A quantitative approach with a correlational design was employed. The participants consisted of 309 students from various universities in Indonesia. Data were analyzed using Spearman’s correlation test. The results revealed a significant positive relationship between conscientiousness and psychological well-being with a moderate correlation strength [r(307) = 0.418; p < 0.001]. This finding indicates that higher levels of conscientiousness are associated with higher psychological well-being. Traits such as discipline, responsibility, orderliness, and goal orientation contribute to better management of academic demands, reduced psychological distress, and enhanced feelings of competence and meaning. Conversely, lower conscientiousness may increase the risk of psychological distress due to poor time management and self-control. Most participants were categorized at a moderate level, indicating adequate adaptive capacity with room for further improvement. ABSTRAKMahasiswa berada pada fase emerging adulthood yang ditandai dengan meningkatnya tuntutan akademik, sosial, dan personal, sehingga memerlukan kemampuan regulasi diri yang baik untuk menjaga kesejahteraan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara conscientiousness dan kesejahteraan psikologis pada mahasiswa. Pendekatan yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian berjumlah 309 mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara conscientiousness dan kesejahteraan psikologis dengan kekuatan hubungan sedang [r(307) = 0,418; p < 0,001]. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat conscientiousness, semakin tinggi pula kesejahteraan psikologis mahasiswa. Karakteristik seperti disiplin diri, tanggung jawab, keteraturan, dan orientasi tujuan berperan dalam membantu individu mengelola tuntutan akademik, mengurangi tekanan psikologis, serta meningkatkan perasaan kompeten dan bermakna. Sebaliknya, tingkat conscientiousness yang rendah berpotensi meningkatkan risiko tekanan psikologis akibat lemahnya pengelolaan waktu dan kontrol diri. Mayoritas responden berada pada kategori sedang, yang menunjukkan kapasitas adaptif yang cukup baik namun masih dapat dioptimalkan.
The ADAPTASI ALAT UKUR SMARTPHONE ADDICTION SCALE-SHORT VERSION: DALAM BAHASA INDONESIA DENGAN EFA DAN CFA Rama Zainul Aarifiin Firdaus; Muhamad Sandya Rachman; Khayyirah Syifa Nurkhalisah; Altair Ahsan; Aliyyah Nahda Putri Sinaga; Muhamad Arif Saefudin
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.9112

Abstract

Smartphone addiction has become an increasingly important psychological and behavioral issue because excessive smartphone use can interfere with individuals’ academic, social, physical, and emotional functioning. Although the Smartphone Addiction Scale–Short Version (SAS-SV) has been widely used in various countries, evidence for the Indonesian adaptation of the SAS-SV that examines its factorial structure through Exploratory Factor Analysis (EFA) and Confirmatory Factor Analysis (CFA) using separate samples remains limited. This study aimed to adapt the SAS-SV into Indonesian and evaluate evidence of its construct validity and reliability. The adaptation process included forward translation, backward translation, synthesis of the translated versions, readability testing, and psychometric testing involving respondents in late adolescence to early adulthood. The data were randomly divided into EFA and CFA samples. The results showed that the data met the prerequisites for factor analysis. The EFA produced a three-factor structure, which was subsequently confirmed through CFA. The CFA model demonstrated good fit, and the total scale reliability showed adequate internal consistency, although the reliability of several factors still needs improvement. These findings indicate that the Indonesian version of the SAS-SV provides initial evidence of construct validity and adequate total-scale reliability for research purposes, with further testing recommended in larger and more diverse samples. ABSTRAK Kecanduan smartphone menjadi masalah psikologis dan perilaku yang semakin penting karena penggunaan smartphone yang berlebihan dapat mengganggu fungsi akademik, sosial, fisik, dan emosional individu. Meskipun Smartphone Addiction Scale–Short Version (SAS-SV) telah banyak digunakan di berbagai negara, bukti adaptasi SAS-SV dalam bahasa Indonesia yang menguji struktur faktorial melalui Exploratory Factor Analysis (EFA) dan Confirmatory Factor Analysis (CFA) pada sampel terpisah masih belum kuat. Penelitian ini bertujuan untuk mengadaptasi SAS-SV ke dalam bahasa Indonesia serta mengevaluasi bukti validitas konstruk dan reliabilitasnya. Proses adaptasi mencakup penerjemahan maju, penerjemahan balik, sintesis hasil terjemahan, uji keterbacaan, dan pengujian psikometrik terhadap responden berusia remaja akhir hingga dewasa awal. Data dibagi secara acak menjadi sampel EFA dan CFA. Hasil analisis menunjukkan bahwa data memenuhi prasyarat untuk analisis faktor. EFA menghasilkan struktur tiga faktor yang kemudian dikonfirmasi melalui CFA. Model CFA menunjukkan kesesuaian yang baik, dan reliabilitas total skala menunjukkan konsistensi internal yang memadai, meskipun reliabilitas pada beberapa faktor masih perlu ditingkatkan. Temuan ini menunjukkan bahwa SAS-SV versi bahasa Indonesia menunjukkan bukti awal validitas konstruk dan reliabilitas total yang memadai untuk digunakan dalam penelitian, dengan rekomendasi pengujian lanjutan pada sampel yang lebih besar dan beragam.
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL TEMAN SEBAYA DENGAN MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN AKIDAH AKHLAK Nor Abdiah; Ratu Julaikha; Nurul Huda
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.9481

Abstract

Students’ learning motivation in Aqidah Akhlak, or Islamic creed and morals, requires attention because this subject emphasizes not only cognitive achievement but also the development of religious attitudes, care, and positive social behavior. In madrasah contexts, peer social support may be related to students’ learning motivation. However, studies examining the relationship between peer social support and learning motivation in Aqidah Akhlak at the Islamic junior secondary school level remain limited, particularly among eighth-grade students at MTsN 10 Hulu Sungai Selatan. This study aimed to examine the relationship between peer social support and students’ learning motivation in Aqidah Akhlak. This research used a quantitative correlational approach. The population consisted of 163 students, and 35 students were selected as the sample using simple random sampling. Data were collected through questionnaires and documentation and analyzed using product-moment correlation with SPSS version 25. The results showed that peer social support had a positive, significant, and moderate relationship with students’ learning motivation in Aqidah Akhlak. These findings imply that Aqidah Akhlak teachers and madrasah stakeholders need to strengthen supportive learning practices through group work, classroom discussion, and peer tutoring to help foster students’ learning motivation. ABSTRAK Motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Akidah Akhlak perlu mendapat perhatian karena pembelajaran ini tidak hanya menekankan penguasaan materi, tetapi juga pembentukan sikap religius, kepedulian, dan perilaku sosial yang baik. Dalam konteks madrasah, dukungan sosial teman sebaya dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan motivasi belajar siswa. Namun, kajian mengenai hubungan dukungan sosial teman sebaya dengan motivasi belajar pada mata pelajaran Akidah Akhlak di tingkat MTs masih terbatas, khususnya pada siswa kelas VIII di MTsN 10 Hulu Sungai Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Akidah Akhlak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Populasi penelitian berjumlah 163 siswa, sedangkan sampel sebanyak 35 siswa dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui angket dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan korelasi product moment dengan bantuan SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial teman sebaya memiliki hubungan positif, signifikan, dan berkategori sedang dengan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Akidah Akhlak. Temuan ini mengimplikasikan bahwa guru Akidah Akhlak dan pihak madrasah perlu memperkuat budaya belajar yang saling mendukung melalui kerja kelompok, diskusi kelas, dan aktivitas tutor sebaya agar motivasi belajar siswa dapat berkembang secara lebih optimal.
SUPPORTIVE CLASSROOM CLIMATE AND PUBLIC SPEAKING SELF-EFFICACY AMONG UNDERGRADUATE STUDENTS: A CORRELATIONAL STUDY Aji Cokro Dewanto; Dwi Ario Fajar; Sattra Sahatsathatsana
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.10155

Abstract

Public speaking is an essential academic skill in higher education, yet many students experience low confidence when speaking in front of an audience. Although classroom climate has been widely examined in relation to motivation and learning outcomes, limited research has specifically investigated supportive classroom climate in relation to public speaking self-efficacy among undergraduate students in the Indonesian higher education context. This study examined the relationship between supportive classroom climate and public speaking self-efficacy among undergraduate students. A correlational research design was employed involving 109 undergraduate students from a private university in Indonesia, selected using a convenience sampling method. Participants completed the Supportive Classroom Climate Scale and the Public Speaking Self-Efficacy Scale. Data were analyzed using Pearson’s correlation and multiple regression analysis. The findings showed that supportive classroom climate was positively associated with public speaking self-efficacy. Among the classroom climate dimensions, lecturer support emerged as the main predictor, whereas peer support and participation climate showed more limited contributions. These findings suggest that supportive instructional environments, particularly encouragement and feedback from lecturers, play an important role in strengthening students’ confidence in academic speaking contexts. Creating supportive classroom environments may therefore help promote students’ engagement and self-efficacy in public speaking activities. ABSTRAK Berbicara di depan umum merupakan keterampilan akademis yang esensial dalam pendidikan tinggi, tetapi banyak mahasiswa masih kurang percaya diri saat berbicara di hadapan audiens. Meskipun iklim kelas telah banyak dikaji dalam kaitannya dengan motivasi dan hasil belajar, penelitian yang secara khusus menguji hubungan antara iklim kelas yang mendukung dan efikasi diri berbicara di depan umum pada konteks mahasiswa Indonesia masih terbatas. Penelitian ini mengkaji hubungan antara iklim kelas yang mendukung dan efikasi diri berbicara di depan umum di kalangan mahasiswa sarjana. Desain penelitian korelasional digunakan dengan melibatkan 109 mahasiswa sarjana dari sebuah universitas swasta di Indonesia, yang dipilih menggunakan metode convenience sampling. Para peserta mengisi Supportive Classroom Climate Scale dan Public Speaking Self-Efficacy Scale. Data dianalisis menggunakan korelasi Pearson dan regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklim kelas yang mendukung berhubungan positif dengan efikasi diri berbicara di depan umum. Di antara dimensi iklim kelas, dukungan dosen muncul sebagai prediktor utama, sedangkan dukungan teman sebaya dan iklim partisipasi menunjukkan kontribusi yang lebih terbatas. Temuan ini menunjukkan bahwa lingkungan pembelajaran yang suportif, khususnya melalui dorongan dan umpan balik dari dosen, berperan penting dalam memperkuat kepercayaan diri mahasiswa dalam konteks berbicara akademis. Oleh karena itu, penciptaan iklim kelas yang mendukung dapat membantu meningkatkan keterlibatan dan efikasi diri mahasiswa dalam kegiatan berbicara di depan umum.
LONELINESS, PERCEIVED SOCIAL SUPPORT, DAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA MAHASISWA RANTAU Aurelia Naftali Kalengkongan; Fransisca Iriani Roesmala Dewi
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.10157

Abstract

This study aimed to examine the roles of loneliness and perceived social support in psychological well-being among migrant students. Migrant students are important to study because they face academic, social, and emotional adjustment demands in a new environment, which may affect their psychological well-being. This study used a quantitative approach with a correlational design and involved 126 migrant students as respondents. Data were collected using loneliness, perceived social support, and psychological well-being scales, and were analyzed using Pearson correlation and multiple linear regression. The results showed that loneliness had a negative role in psychological well-being, whereas perceived social support had a positive role in psychological well-being. In addition, both variables jointly contributed to explaining psychological well-being among migrant students. These findings indicate that lower levels of loneliness and higher levels of perceived social support are associated with better psychological well-being among migrant students. Practically, the results may serve as a basis for universities to develop mentoring programs, peer support groups, and adjustment counseling services for migrant students. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran loneliness dan perceived social support terhadap psychological well-being pada mahasiswa rantau. Mahasiswa rantau penting diteliti karena mereka menghadapi tuntutan adaptasi akademik, sosial, dan emosional di lingkungan baru, yang dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional dan melibatkan 126 mahasiswa rantau sebagai responden. Data dikumpulkan menggunakan skala loneliness, perceived social support, dan psychological well-being, kemudian dianalisis menggunakan korelasi Pearson dan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa loneliness berperan negatif terhadap psychological well-being, sedangkan perceived social support berperan positif terhadap psychological well-being. Selain itu, kedua variabel tersebut secara bersama-sama berperan dalam menjelaskan psychological well-being mahasiswa rantau. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin rendah tingkat kesepian dan semakin tinggi dukungan sosial yang dirasakan, semakin baik kesejahteraan psikologis mahasiswa rantau. Secara praktis, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi perguruan tinggi untuk mengembangkan program pendampingan, dukungan sebaya, dan layanan konseling adaptasi bagi mahasiswa rantau.
HUBUNGAN SELF-CONCEPT DAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA REMAJA TELADAN GEREJA MASEHI INJILI DI MINAHASA (GMIM) Angelie Mutiara Pinka Poluakan; Dewita Karema Sarajar
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.10325

Abstract

This study aimed to examine the relationship between self-concept and psychological well-being among Remaja Teladan of the Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM). This reseaarch is significant because Remaja Teladan GMIM are situated within a distinctive socio-religious context, characterized by moral-religious expectations and demands to serve as exemplary figures within the church community. This study employed a quantitative approach with a correlational research design. The participants consisted of 169 Remaja Teladan GMIM aged 12–17 years, selected using a purposive sampling technique. Data were collected using the Tennessee Self Concept Scale (TSCS) 2nd Edition Short Form and the short version of Ryff’s Psychological Well-Being Scale. Data were analyzed using the non-parametric Spearman’s rho correlation test because the data were not normally distributed. The results showed a significant positive relationship between self-concept and psychological well-being among Remaja Teladan GMIM. This means that adolescents with a more positive self-concept tend to have higher psychological well-being. These findings indicate that self-concept is associated with psychological well-being in the context of adolescents’ roles as exemplary figures within the church community. The implications of this study emphasize the importance of developing a positive self-concept in Remaja Teladan GMIM mentoring programs to support psychological well-being and optimal psychological functioning. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara konsep diri dan kesejahteraan psikologis pada Remaja Teladan Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM). Kajian ini penting karena Remaja Teladan GMIM berada dalam konteks sosial-keagamaan yang khas, yaitu adanya ekspektasi moral-religius dan tuntutan untuk tampil sebagai figur teladan dalam komunitas gerejawi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan penelitian berjumlah 169 Remaja Teladan GMIM berusia 12–17 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui Tennessee Self Concept Scale (TSCS) 2nd Edition Short Form dan Ryff Psychological Well-Being Scale versi pendek. Analisis data menggunakan statistik nonparametrik korelasi Spearman’s rho karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara self-concept dan psychological well-being pada Remaja Teladan GMIM. Artinya, remaja dengan self-concept yang lebih positif cenderung memiliki psychological well-being yang lebih tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa self-concept berkorelasi dengan psychological well-being dalam konteks peran remaja sebagai figur teladan di lingkungan gerejawi. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya pengembangan konsep diri yang positif dalam program pembinaan Remaja Teladan GMIM guna mendukung kesejahteraan psikologis dan keberfungsian psikologis yang optimal.
HUBUNGAN SECURE ATTACHMENT DAN RESILIENSI AKADEMIK MAHASISWA FUNGSIONARIS LEMBAGA KEMAHASISWAAN UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA Natasha Arwen Mandeij; Dewita Karema Sarajar
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aimed to examine the relationship between secure attachment and academic resilience among student organization officers at Universitas Kristen Satya Wacana. Previous studies have mostly examined general university students or migrant students, whereas research specifically focusing on student organization officers with dual academic-organizational responsibilities remains limited. This study employed a quantitative approach with a correlational design. The participants consisted of 218 students selected using purposive sampling. Data were collected using secure attachment and academic resilience scales that had been tested for validity and reliability. Data analysis was conducted using Spearman’s rho correlation test. The results showed a significant, strong, and positive relationship between secure attachment and academic resilience. Secure attachment was also statistically associated with variation in students’ academic resilience. These findings suggest that students with secure attachment tend to be better able to cope with academic demands and organizational responsibilities. The implications of this study highlight the importance of emotional support and attachment quality in enhancing academic resilience among university students. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara secure attachment dan resiliensi akademik pada mahasiswa fungsionaris Lembaga Kemahasiswaan Universitas Kristen Satya Wacana. Studi sebelumnya lebih banyak meneliti mahasiswa umum atau mahasiswa perantau, sedangkan penelitian yang secara khusus menyoroti mahasiswa fungsionaris dengan beban akademik-organisasi masih terbatas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan penelitian berjumlah 218 mahasiswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui skala secure attachment dan skala resiliensi akademik yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman’s rho. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan dan kuat antara secure attachment dan resiliensi akademik. Secure attachment juga berasosiasi secara statistik dengan variasi resiliensi akademik mahasiswa. Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa dengan kelekatan yang aman cenderung memiliki kemampuan yang lebih baik dalam menghadapi tekanan akademik dan tanggung jawab organisasi. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya dukungan emosional dan kualitas hubungan kelekatan dalam upaya meningkatkan resiliensi akademik mahasiswa.
HUBUNGAN ANTARA SELF-EFFICACY DAN SOCIAL LOAFING PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS Leony Anastasya Paath; Dewita Karema Sarajar
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.10340

Abstract

Unlike most previous studies that have focused primarily on college student populations, this study addresses a gap in the literature by examining the relationship between self-efficacy and social loafing among senior high school students, a group of adolescents with distinct group-work dynamics and collective evaluation patterns. This study aimed to analyze the direction and strength of the relationship between self-efficacy and social loafing in the context of collaborative learning among senior high school students. A quantitative approach with a correlational design was employed. The participants consisted of 388 senior high school students in Indonesia selected through accidental sampling. Data were collected using a self-efficacy scale and a social loafing scale, and were analyzed using Spearman’s correlation because the data were not normally distributed. The results showed a significant, strong, and positive relationship between self-efficacy and social loafing (ρ = 0.642; p < 0.01). This finding indicates that higher levels of students’ self-efficacy are associated with higher reported tendencies of social loafing in group work. This result differs from the initial hypothesis and from several previous findings that generally associate high self-efficacy with active participation. Theoretically, this study demonstrates the contextual limitations of self-efficacy theory in adolescent collaborative learning situations with limited individual accountability. Practically, the findings emphasize the importance of clear role distribution, individual contribution assessment, and accountability mechanisms in group assignments to reduce social loafing among senior high school students. ABSTRAK Berbeda dengan mayoritas penelitian sebelumnya yang lebih banyak berfokus pada populasi mahasiswa, penelitian ini mengisi kesenjangan literatur dengan mengkaji hubungan antara self-efficacy dan social loafing pada siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), yaitu kelompok remaja yang memiliki dinamika kerja kelompok dan pola evaluasi kolektif yang berbeda dari mahasiswa. Penelitian ini bertujuan menganalisis arah dan kekuatan hubungan antara self-efficacy dan social loafing dalam konteks pembelajaran kolaboratif siswa SMA. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan terdiri atas 388 siswa SMA di Indonesia yang dipilih melalui teknik accidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala self-efficacy dan skala social loafing, kemudian dianalisis dengan korelasi Spearman karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan, kuat, dan positif antara self-efficacy dan social loafing (r = 0,642; p < 0,01). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi self-efficacy siswa, semakin tinggi pula kecenderungan social loafing yang dilaporkan dalam kerja kelompok. Hasil ini berbeda dari hipotesis awal dan sebagian temuan terdahulu yang umumnya mengaitkan self-efficacy tinggi dengan partisipasi aktif. Secara teoretis, penelitian ini menunjukkan batasan kontekstual teori self-efficacy dalam situasi pembelajaran kolaboratif remaja yang minim akuntabilitas individu. Secara praktis, temuan ini menegaskan pentingnya pembagian peran yang jelas, evaluasi kontribusi individu, dan mekanisme akuntabilitas dalam tugas kelompok untuk mengurangi social loafing pada siswa SMA.
MEMBANGUN KEBERHASILAN: PENGARUH KETERLIBATAN ORANG TUA PADA PRESTASI AKADEMIK Alin Nisa Andryani; Miranti Rasyid; Aulia Suhesty; Aulia Ramdani
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.10430

Abstract

This study aims to examine the effect of parental involvement on students’ academic achievement. Academic achievement is an indicator of learning success influenced by various internal and external factors, one of which is parental involvement in supporting students’ learning processes. Although parental involvement has been widely examined among students in general, studies that specifically investigate parental involvement among high-achieving senior high school students remain relatively limited. High-achieving students are important to examine because they have distinct academic characteristics, such as learning independence, high achievement demands, and the need for support that is appropriate to their stage of adolescent development. This study employed a quantitative approach. The subjects were students from a school with high academic achievement in East Kalimantan, with a total sample of 213 students selected using simple random sampling. Data were collected using a Likert scale to measure perceived parental involvement, which included involvement at home, involvement at school, and communication-based involvement. The data were analyzed using simple linear regression. The results showed that parental involvement did not have a significant effect on students’ academic achievement; therefore, the hypothesis of this study was not supported. These findings suggest that among high-achieving senior high school students, parental involvement is not the main predictor of academic achievement, and other factors are presumed to play a more dominant role in influencing students’ academic outcomes. The implication of this study indicates that parental involvement among adolescents needs to be directed more toward emotional support, trust, and the strengthening of learning autonomy, rather than merely direct academic supervision. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh keterlibatan orang tua terhadap prestasi akademik siswa. Prestasi akademik merupakan indikator keberhasilan belajar yang dipengaruhi oleh berbagai faktor internal dan eksternal, salah satunya keterlibatan orang tua dalam mendukung proses belajar siswa. Meskipun keterlibatan orang tua telah banyak diteliti pada siswa secara umum, studi yang secara khusus mengkaji keterlibatan orang tua pada siswa SMA berprestasi tinggi masih relatif terbatas. Padahal, siswa berprestasi tinggi penting diteliti karena memiliki karakteristik akademik yang berbeda, seperti kemandirian belajar, tuntutan pencapaian yang tinggi, serta kebutuhan dukungan yang sesuai dengan tahap perkembangan remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Subjek penelitian adalah siswa dari sekolah dengan prestasi akademik tinggi di Kalimantan Timur dengan jumlah sampel sebanyak 213 siswa yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala Likert untuk mengukur persepsi keterlibatan orang tua yang mencakup keterlibatan di rumah, di sekolah, dan berbasis komunikasi. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua tidak berpengaruh signifikan terhadap prestasi akademik siswa, sehingga hipotesis dalam penelitian ini tidak diterima. Temuan ini menunjukkan bahwa pada siswa SMA berprestasi tinggi, keterlibatan orang tua bukan merupakan prediktor utama prestasi akademik, sehingga terdapat faktor lain yang diduga lebih dominan dalam memengaruhi capaian akademik siswa. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua pada remaja perlu lebih diarahkan pada dukungan emosional, pemberian kepercayaan, dan penguatan otonomi belajar, bukan hanya pada pengawasan akademik secara langsung.
EARLY RECOGNITION OF DEPRESSION AMONG ADOLESCENTS IN JUNIOR HIGH SCHOOL: A MIX-METHOD STUDY IN LOW-INCOME POPULATIONS SETTING I Made Peri Ardiana Kusuma; Anak Ayu Sri Wahyuni; Jeikawati Jeikawati; Nyoman Ari Yoga Wirawan
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.10585

Abstract

ABSTRACT Depression is a prevalent mental health problem among adolescents and poses significant risks to emotional, social, and academic functioning, particularly in low-income settings where access to mental health services is often limited. This study aimed to identify depressive symptoms among junior high school adolescents and explore their causal beliefs, defense mechanisms, and help-seeking behaviors. A sequential explanatory mixed-methods design was employed among students at SMP Satu Atap (SATAP) Tianyar Barat, Karangasem Regency. Depressive symptoms were assessed using the Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9), followed by in-depth interviews with adolescents scoring ≥10 to provide a deeper understanding of the psychosocial factors underlying quantitative findings. A total of 67 adolescents participated. Depressive symptoms were categorized as minimal (43.3%), mild (28.4%), moderate (19.4%), moderately severe (6.0%), and severe (3.0%). Female students and seventh-grade students showed a higher risk of moderate-to-severe depressive symptoms. Interviews with 17 adolescents revealed that family relationship problems, lack of social support, and economic hardship were the most frequently perceived causes of depression. Isolation, repression, and acting out emerged as the dominant defense mechanisms. These findings highlight the importance of school-based mental health screening and psychosocial support programs to facilitate early identification and targeted interventions for adolescents at risk of depression. ABSTRAK Depresi merupakan masalah kesehatan mental yang umum terjadi pada remaja dan dapat berdampak pada prestasi akademik, hubungan sosial, serta kualitas hidup. Risiko depresi cenderung lebih tinggi pada remaja yang hidup di lingkungan berpendapatan rendah sehingga deteksi dini diperlukan untuk mendukung intervensi yang tepat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi gejala depresi pada remaja sekolah menengah pertama serta mengeksplorasi keyakinan penyebab, mekanisme pertahanan diri, dan perilaku mencari pertolongan. Penelitian menggunakan metode mixed-method dengan desain sequential explanatory pada siswa SMP Satu Atap (SATAP) Tianyar Barat, Kabupaten Karangasem. Gejala depresi diukur menggunakan Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9), kemudian dilanjutkan dengan wawancara mendalam untuk memperdalam pemahaman mengenai faktor-faktor yang melatarbelakangi depresi pada remaja dengan skor PHQ-9 ≥10. Sebanyak 67 remaja berpartisipasi. Gejala depresi diklasifikasikan sebagai minimal (43,3%), ringan (28,4%), sedang (19,4%), sedang berat (6,0%), dan berat (3,0%). Remaja perempuan dan siswa kelas VII memiliki risiko lebih tinggi mengalami gejala depresi sedang hingga berat. Wawancara terhadap 17 remaja menunjukkan bahwa masalah keluarga, kurangnya dukungan sosial, dan kesulitan ekonomi merupakan faktor yang paling sering dikaitkan dengan depresi. Temuan ini menegaskan pentingnya skrining kesehatan mental berbasis sekolah untuk mendukung deteksi dini dan intervensi bagi remaja berisiko.