cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 701 Documents
RESILIENSI RELASIONAL DAN FLOURISHING PERSONEL BRIMOB: SEBUAH STUDI FENOMENOLOGI KEHARMONISAN KELUARGA Dania Ulfah Rahmawati; Fx. Wahyu Widiantoro
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.11353

Abstract

  ABSTRACT Few studies have explored the dyadic experiences of Brimob personnel and their spouses in building relational resilience when facing high-risk assignments. This study aims to understand how family harmony helps personnel of the Mobile Brigade Corps (Brimob) of the Indonesian National Police cope with work pressure, distance from family, and uncertainty during deployment. This study employed a qualitative approach with an Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) design. The participants consisted of four married couples, including four Brimob personnel and their spouses, who were selected purposively based on their experience of high-risk operational assignments. Data were collected through in-depth semi-structured interviews and analyzed systematically to identify patterns of meaning in the participants’ experiences. The findings revealed three main themes. First, the family served as a safe space for personnel to recover, release the pressure of their operational role, and return to their roles as spouses and parents. Second, calm, empathic, and mutually understanding communication helped reduce psychological burden during deployment. Third, spiritual meaning-making of duty enabled families to better accept risk, distance, and uncertainty as part of shared service. These findings indicate that family harmony functions as a mechanism of relational resilience that is jointly constructed by personnel and their spouses. The study highlights the importance of family-based mental health support to strengthen the well-being of Brimob personnel. ABSTRAK Belum banyak studi yang menggali pengalaman diadik antara personel Brimob dan pasangan dalam membangun resiliensi relasional ketika menghadapi penugasan berisiko tinggi. Penelitian ini bertujuan memahami bagaimana keharmonisan keluarga membantu personel Brigade Mobil (Brimob) Polri menghadapi tekanan kerja, jarak dengan keluarga, dan ketidakpastian selama penugasan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Partisipan terdiri atas empat pasangan suami-istri, yaitu empat personel Brimob dan empat pasangan, yang dipilih secara purposif berdasarkan pengalaman penugasan operasi berisiko tinggi. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur mendalam dan dianalisis secara bertahap untuk menemukan pola makna dalam pengalaman partisipan. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, keluarga menjadi ruang aman bagi personel untuk memulihkan diri, melepas tekanan peran operasional, dan kembali menjalankan peran sebagai pasangan maupun orang tua. Kedua, komunikasi yang tenang, empatik, dan saling memahami membantu mengurangi beban psikologis selama masa penugasan. Ketiga, pemaknaan spiritual terhadap tugas membuat keluarga lebih mampu menerima risiko, jarak, dan ketidakpastian sebagai bagian dari pengabdian bersama. Temuan ini menunjukkan bahwa keharmonisan keluarga berperan sebagai mekanisme resiliensi relasional yang dibangun secara bersama oleh personel dan pasangan. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya dukungan kesehatan mental berbasis keluarga untuk memperkuat kesejahteraan personel Brimob.
EFEKTIVITAS PROGRAM PENGALAMAN PRAKTIK LAPANGAN DAN EFIKASI DIRI TERHADAP PENGEMBANGAN KOMPETENSI PEDAGOGIK MAHASISWA PENDIDIKAN Intan ramadhani; Arif Wahyu Wirawan
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.11393

Abstract

ABSTRACT Pedagogical competence is a fundamental competency that teachers must possess and develop during higher education. This study aimed to analyze the influence of the Field Experience Program (PPL) and self-efficacy on the development of pedagogical competence among education students. A quantitative approach was employed using a purposive sampling technique. The sample consisted of 130 students from the Office Administration Education Study Program at Universitas Negeri Semarang, class of 2022, who had participated in the PPL program. Data were collected through questionnaires that had been tested for validity and reliability. The data were analyzed using multiple linear regression with SPSS version 27. The findings revealed that the PPL program had a positive and significant partial effect on students’ pedagogical competence with a significance value of 0.000 < 0.05. Self-efficacy also had a positive and significant effect on pedagogical competence with a significance value of 0.000 < 0.05. Simultaneously, the PPL program and self-efficacy significantly influenced students’ pedagogical competence. The coefficient of determination of 64.6% indicated that both variables made a substantial contribution to students’ pedagogical competence. ABSTRAK Kompetensi pedagogik merupakan kompetensi fundamental yang harus dimiliki guru dan perlu dipersiapkan sejak menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh program Pengalaman Praktik Lapangan (PPL) dan efikasi diri terhadap pengembangan kompetensi pedagogik mahasiswa program studi pendidikan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik purposive sampling. Sampel penelitian berjumlah 130 mahasiswa Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran Universitas Negeri Semarang angkatan 2022 yang telah mengikuti program PPL. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Data dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan SPSS versi 27. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program PPL secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap kompetensi pedagogik mahasiswa dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Efikasi diri juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap kompetensi pedagogik mahasiswa dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Secara simultan, program PPL dan efikasi diri berpengaruh signifikan terhadap kompetensi pedagogik mahasiswa. Koefisien determinasi sebesar 64,6% menunjukkan bahwa kedua variabel memberikan kontribusi besar terhadap kompetensi pedagogik mahasiswa.
HUBUNGAN ANTARA KONFLIK PERAN GANDA DAN WORK-LIFE BALANCE PADA GURU WANITA YANG TELAH MENIKAH DI SEKOLAH KRISTEN KALAM KUDUS Elena Kristofani; Maria Prima Novita
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.11414

Abstract

ABSTRACT Married female teachers often face dual demands as educators and family members. This condition can lead to work–family conflict, which may disrupt the balance between work and personal life (work-life balance). Although this issue has been widely discussed across various professions, studies specifically examining the relationship between work–family conflict and work-life balance among married female teachers in Christian school settings remain limited. Therefore, this study is important to provide empirical evidence regarding factors that influence teachers’ well-being. The aim of this study was to determine the relationship between work–family conflict and work-life balance among married female teachers at Kalam Kudus Christian School. This study employed a quantitative method with a correlational design. The participants consisted of 79 respondents selected using purposive sampling. Data were collected using the Multidimensional Work-Family Conflict Scale (MWFCS) and the Work-Life Balance Scale (WLBS). Data analysis was conducted using Spearman’s correlation because the data were not normally distributed and did not meet the linearity assumption. The results revealed a significant negative relationship between work–family conflict and work-life balance, with a correlation coefficient of -0.753 and a significance value of 0.000 (p < 0.05). These findings indicate that higher levels of work–family conflict are associated with lower levels of work-life balance, and vice versa. Thus, work–family conflict is an important factor influencing the balance between work and personal life among married female teachers. ABSTRAK Guru wanita yang telah menikah sering menghadapi tuntutan ganda sebagai pendidik sekaligus anggota keluarga. Kondisi ini berpotensi menimbulkan konflik peran ganda yang dapat mengganggu keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi (work-life balance). Meskipun isu ini banyak dibahas dalam berbagai profesi, penelitian yang secara khusus mengkaji hubungan konflik peran ganda dan work-life balance pada guru wanita yang telah menikah di lingkungan sekolah Kristen masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk memberikan pemahaman empiris mengenai faktor yang memengaruhi kesejahteraan guru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konflik peran ganda dan work-life balance pada guru wanita yang telah menikah di Sekolah Kristen Kalam Kudus. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian berjumlah 79 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Multidimensional Work-Family Conflict Scale (MWFCS) dan Work-Life Balance Scale (WLBS). Analisis data menggunakan korelasi Spearman karena data tidak berdistribusi normal dan tidak linear. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan negatif yang signifikan antara konflik peran ganda dan work-life balance dengan koefisien korelasi sebesar -0,753 dan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konflik peran ganda, semakin rendah work-life balance, dan sebaliknya. Dengan demikian, konflik peran ganda merupakan faktor penting yang memengaruhi keseimbangan kehidupan kerja dan pribadi pada guru wanita yang telah menikah.
HUBUNGAN PERASAAN TIDAK BERHARGA DENGAN PERILAKU CYBERBULLYING PADA SISWA DI SMP Irda Sabrina; Muhammad Andri Setiawan; Eklys Cheseda Makaria
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.11735

Abstract

This study was motivated by the increasing use of social media among adolescents, which has contributed to the emergence of cyberbullying behavior. One psychological factor presumed to be associated with such behavior is feelings of worthlessness, defined as an individual’s negative evaluation of themselves. This study aimed to examine the relationship between feelings of worthlessness and cyberbullying behavior among students at SMP Negeri 9 Banjarmasin. A quantitative approach with a correlational design was employed. The sample consisted of 141 eighth-grade students selected through purposive sampling. Data were collected using the Feelings of Worthlessness Scale and the Cyberbullying Behavior Scale in a Likert-type format. The data were analyzed using the Pearson Product-Moment correlation test with the assistance of SPSS version 27.0. The findings revealed a positive and significant relationship between feelings of worthlessness and cyberbullying behavior. Students who experienced stronger feelings of worthlessness tended to demonstrate a greater tendency to engage in cyberbullying. These findings indicate that efforts to address cyberbullying should not focus solely on observable behavior but should also consider students’ psychological conditions, particularly their perceptions of self-worth. Schools and guidance and counseling teachers should develop services that help students build positive self-worth, regulate their emotions, and use social media in a healthy and responsible manner. Future studies are encouraged to examine other factors associated with cyberbullying behavior, including self-control, emotion regulation, empathy, social support, and parenting styles. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya penggunaan media sosial di kalangan remaja yang turut memunculkan perilaku cyberbullying. Salah satu faktor psikologis yang diduga berkaitan dengan perilaku tersebut adalah perasaan tidak berharga, yaitu penilaian negatif individu terhadap dirinya sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perasaan tidak berharga dan perilaku cyberbullying pada siswa SMP Negeri 9 Banjarmasin. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 141 siswa kelas VIII yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala perasaan tidak berharga dan skala perilaku cyberbullying dengan format skala Likert. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan SPSS versi 27.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara perasaan tidak berharga dan perilaku cyberbullying pada siswa. Semakin tinggi perasaan tidak berharga yang dialami siswa, semakin tinggi pula kecenderungannya untuk melakukan cyberbullying. Temuan ini menunjukkan bahwa penanganan cyberbullying tidak cukup hanya berfokus pada perilaku yang tampak, tetapi juga perlu memperhatikan kondisi psikologis siswa, khususnya penilaian terhadap keberhargaan dirinya. Sekolah dan guru Bimbingan dan Konseling perlu mengembangkan layanan yang membantu siswa membangun penghargaan diri, mengelola emosi, dan menggunakan media sosial secara sehat dan bertanggung jawab. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji faktor lain yang berkaitan dengan perilaku cyberbullying, seperti kontrol diri, regulasi emosi, empati, dukungan sosial, dan pola asuh keluarga.
HUBUNGAN METACOGNITIVE BELIEFS TERHADAP BODY IMAGE PENGGUNA INSTAGRAM GENERASI Z Innara Kelisha; Widya Risnawaty
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.11753

Abstract

This research is motivated by the high intensity of Instagram use among Generation Z, which has triggered widespread exposure to unrealistic beauty standards and increased pressure on physical appearance. The focus of this research problem is to examine the relationship between maladaptive metacognitive beliefs and body image evaluations in this user group. Using a quantitative approach with a correlational design, the research's key stages were systematically carried out by selecting subjects using a purposive sampling technique, administering a 5-Likert-scale questionnaire using the MPAQ and MBSRQ-AS instruments, and testing residual data using the SPSS program. A total of 365 active Instagram respondents aged 18 to 29 in Indonesia were proactively involved as research participants. Research findings based on the Pearson correlation coefficient indicate a significant negative relationship between metacognitive beliefs and the subjects' body image (r = –0.173; p = 0.001). This statistic reflects that the higher a person's tendency for maladaptive metacognitive beliefs, the lower their perceived body image satisfaction. The main conclusion confirms that maladaptive internal metacognitive processes contribute to lower positive body perceptions. However, the strength of this relationship is classified as very weak, indicating a strong dominance of other external variables such as social comparison, self-esteem, and overall visual media exposure. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya intensitas penggunaan Instagram di kalangan Generasi Z yang memicu maraknya paparan standar kecantikan tidak realistis serta peningkatan tekanan penampilan fisik. Fokus masalah dalam riset ini adalah menguji hubungan antara metacognitive beliefs maladaptif dengan evaluasi body image pada kelompok pengguna tersebut. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional, tahapan penting penelitian dijalankan secara sistematis melalui penentuan subjek menggunakan teknik purposive sampling, pemberian kuesioner berskala 5 Likert memanfaatkan instrumen MPAQ dan MBSRQ-AS, serta pengujian residual data melalui bantuan program SPSS. Sebanyak 365 responden aktif Instagram berusia 18 hingga 29 tahun di Indonesia dilibatkan secara proaktif sebagai partisipan penelitian. Temuan penelitian berbasis koefisien korelasi Pearson menunjukkan adanya relasi negatif yang signifikan antara metacognitive beliefs dengan body image subjek secara nyata (r = –0,173; p = 0,001). Angka statistik ini merefleksikan bahwa semakin tinggi kecenderungan keyakinan metakognitif maladaptif seseorang, maka semakin rendah kepuasan citra tubuh yang dirasakannya. Simpulan utama menegaskan bahwa proses metakognisi internal yang tidak adaptif berkontribusi menurunkan persepsi tubuh positif. Walaupun demikian, kekuatan hubungan ini diklasifikasikan sangat lemah, mengindikasikan dominasi kuat dari variabel luar lain seperti perbandingan sosial, harga diri, dan paparan media visual secara menyeluruh.    
RESILIENSI AKADEMIK BERDASARKAN SABAR DAN TAWAKAL DALAM MENGATASI KEJENUHAN BELAJAR: SEBUAH TINJAUAN LITERATUR Hasvia Bindari
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.11754

Abstract

This study is motivated by the high level of academic pressure experienced by students, which can lead to stress, burnout, and decreased academic performance, thus requiring academic resilience as a protective factor. This research aims to comprehensively analyze the factors influencing academic resilience and its role in academic and psychological contexts using a systematic literature review (SLR) approach. The method employed involves reviewing 20 reputable scientific articles from international and national databases based on specific inclusion criteria, followed by thematic analysis to identify research patterns. The findings indicate that academic resilience is influenced by internal factors such as self-efficacy and growth mindset, as well as external and spiritual factors such as religiosity and tawakal. Furthermore, academic resilience shows a negative relationship with academic stress, burnout, and distress, serving as a key coping mechanism that supports academic success and students' mental well-being. The study also highlights the significant contribution of spiritual dimensions in strengthening resilience, particularly in religious cultural contexts. In conclusion, academic resilience is a crucial factor that should be developed through integrative psychological and spiritual approaches to enhance educational quality and student well-being. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya tekanan akademik yang dihadapi siswa yang berpotensi menimbulkan stres, burnout, serta penurunan performa belajar, sehingga diperlukan kemampuan academic resilience sebagai faktor protektif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif faktor-faktor yang memengaruhi academic resilience, serta perannya dalam konteks akademik dan psikologis melalui pendekatan systematic literature review (SLR). Metode yang digunakan adalah SLR terhadap 20 artikel ilmiah bereputasi yang diperoleh dari database internasional dan nasional dengan kriteria inklusi tertentu, kemudian dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi pola temuan penelitian. Hasil kajian menunjukkan bahwa academic resilience dipengaruhi oleh faktor internal seperti self-efficacy dan growth mindset, serta faktor eksternal dan spiritual seperti religiusitas dan tawakal. Selain itu, academic resilience terbukti memiliki hubungan negatif dengan stres akademik, burnout, dan distress, sehingga berperan sebagai mekanisme coping utama yang mendukung keberhasilan akademik dan kesehatan mental siswa. Temuan juga menegaskan bahwa dimensi spiritual memberikan kontribusi signifikan dalam memperkuat resiliensi, khususnya dalam konteks budaya religius. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa academic resilience merupakan faktor kunci yang perlu dikembangkan melalui pendekatan psikologis dan spiritual secara integratif untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan kesejahteraan peserta didik.    
KECERDASAN EMOSIONAL SISWA SMA: STUDI KOMPARATIF BERDASARKAN JENIS KELAMIN DI KOTA AMBON Criezta Korlefura; Elisa Wati Hutagalung; Mirati Alkatiri; Tanjila Samsudin
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.11755

Abstract

Emotional intelligence is a crucial aspect of student development that plays a significant role in managing emotions, building social relationships, and coping with academic and social pressures. However, in practice, various issues indicate that students’ emotional competencies are not yet optimal, such as difficulties in emotional regulation, low empathy, and limited learning motivation. In addition, previous studies on gender differences in emotional intelligence have produced inconsistent findings. Therefore, this study aims to analyze the differences in emotional intelligence among senior high school students based on gender in Ambon. This research employed a quantitative approach with a comparative descriptive design. The sample consisted of 320 students selected through cluster random sampling. Data were collected using an emotional intelligence questionnaire developed based on the aspects of self-awareness, emotional regulation, self-motivation, empathy, and social skills. Data analysis was conducted through prerequisite tests, including normality and homogeneity tests, followed by hypothesis testing using an independent sample t-test. The results revealed a significant difference in emotional intelligence between male and female students, with a significance value (Sig. 2-tailed) of 0.003 < 0.05. These findings indicate that gender is associated with variations in students’ emotional abilities. In conclusion, students’ emotional intelligence is influenced not only by individual factors but also by social dynamics and adolescent developmental processes. The findings provide important implications for the development of more responsive and context-based guidance and counseling services in schools ABSTRAK Kecerdasan emosional merupakan salah satu aspek penting dalam perkembangan siswa yang berperan dalam kemampuan mengelola emosi, membangun hubungan sosial, serta menghadapi tekanan akademik dan sosial. Namun, dalam praktiknya, masih ditemukan berbagai permasalahan yang menunjukkan rendahnya kemampuan emosional siswa, seperti kesulitan mengendalikan emosi, kurangnya empati, serta rendahnya motivasi belajar. Selain itu, hasil penelitian sebelumnya terkait perbedaan kecerdasan emosional berdasarkan jenis kelamin masih menunjukkan temuan yang tidak konsisten. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan kecerdasan emosional siswa SMA berdasarkan jenis kelamin di Kota Ambon. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif komparatif. Sampel penelitian berjumlah 320 siswa yang dipilih menggunakan teknik cluster random sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner kecerdasan emosional yang disusun berdasarkan aspek kesadaran diri, pengelolaan emosi, motivasi diri, empati, dan keterampilan sosial. Analisis data dilakukan melalui uji prasyarat berupa uji normalitas dan homogenitas, serta pengujian hipotesis menggunakan independent sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dalam kecerdasan emosional antara siswa laki-laki dan perempuan, dengan nilai signifikansi (Sig. 2-tailed) sebesar 0,003 < 0,05. Temuan ini mengindikasikan bahwa jenis kelamin memiliki keterkaitan dengan variasi kemampuan emosional siswa. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional siswa tidak hanya dipengaruhi oleh faktor individu, tetapi juga oleh dinamika sosial dan perkembangan remaja. Hasil penelitian ini memberikan implikasi penting bagi pengembangan layanan bimbingan dan konseling di sekolah yang lebih responsif terhadap perbedaan karakteristik siswa.    
HUBUNGAN MATHEMATICS SELF-EFFICACY DAN MATH ANXIETY DI SISWA SMP DI YOGYAKARTA Yoel Christian Sukasno; Reny Yuniasanti
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.11762

Abstract

ABSTRACT Students’ ability to engage in mathematics learning is determined not only by their mastery of concepts but also by the psychological conditions accompanying the learning process. One issue that remains prevalent at the junior high school level is the emergence of math anxiety, which may hinder students’ engagement and academic performance. This study explores the relationship between mathematics self-efficacy and math anxiety among junior high school students in Yogyakarta. The study employed a quantitative correlational approach using pre-test data from 187 eighth-grade students from four public and private junior high schools. Data were collected through a 23-item mathematics self-efficacy questionnaire and a 14-item math anxiety questionnaire using a Likert scale. The quality of the instruments was supported by good reliability values, as indicated by Cronbach’s alpha coefficients of 0.856 for mathematics self-efficacy and 0.874 for math anxiety. The analysis showed that the data met the assumptions of normality and linearity, making them suitable for Pearson correlation analysis. [M2.1]A significant negative relationship was found between the two variables, indicating that an increase in students’ confidence in their mathematical abilities was associated with a decrease in their level of anxiety in mathematics learning. These findings reinforce the importance of developing students’ psychological aspects as an integral part of mathematics learning strategies that support well-being and academic success. ABSTRAK Kemampuan siswa dalam menghadapi pembelajaran matematika tidak hanya ditentukan oleh penguasaan konsep, tetapi juga oleh kondisi psikologis yang menyertai proses belajar. Salah satu isu yang masih banyak ditemukan pada jenjang Sekolah Menengah Pertama adalah munculnya math anxiety yang dapat menghambat keterlibatan dan performa akademik siswa. Penelitian ini mengeksplorasi keterkaitan antara mathematics self-efficacy dan math anxiety pada siswa SMP di Yogyakarta. Kajian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan memanfaatkan data pre-test dari 187 siswa kelas VIII yang berasal dari empat SMP negeri dan swasta. Pengumpulan data dilakukan melalui angket mathematics self-efficacy sebanyak 23 butir dan angket math anxiety sebanyak 14 butir dengan skala Likert. Kualitas instrumen didukung oleh nilai reliabilitas yang baik, ditunjukkan melalui koefisien Cronbach’s alpha sebesar 0,856 untuk mathematics self-efficacy dan 0,874 untuk math anxiety. Hasil analisis menunjukkan bahwa data memenuhi asumsi normalitas dan linearitas sehingga layak dianalisis menggunakan korelasi Pearson. Hubungan negatif yang signifikan ditemukan antara kedua variabel yang mengindikasikan bahwa peningkatan keyakinan siswa terhadap kemampuan matematisnya berkaitan dengan penurunan tingkat kecemasan dalam pembelajaran matematika. Temuan ini memperkuat pentingnya pengembangan aspek psikologis siswa sebagai bagian integral dari strategi pembelajaran matematika yang mendukung kesejahteraan dan keberhasilan belajar.
PENGARUH TOKEN EKONOMI BERBASIS REWARD CHART TERHADAP KONTROL DIRI DALAM PERILAKU MENINGGALKAN TEMPAT DUDUK PADA SISWA AUTISM SPECTRUM DISORDER Aisyiyah Nurul Hasanah; Ramdhan Harjana
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.11829

Abstract

ABSTRACT This study was motivated by the low level of self-control among students with Autism Spectrum Disorder (ASD), particularly in relation to leaving their seats during classroom learning activities. This behavior is categorized as off-task behavior and may disrupt both the learning concentration of other students and the overall teaching process. The study aimed to examine the effectiveness of a reward chart-based token economy in improving self-control by reducing seat-leaving behavior among students with ASD. The research employed a Single Subject Research (SSR) approach using a single-subject experimental design. The research procedures consisted of a baseline phase to identify the frequency of the target behavior, an intervention phase involving the implementation of a reward chart-based token economy, and a measurement phase to evaluate behavioral changes following the intervention. Tokens were provided as positive reinforcement whenever the student successfully remained seated according to the predetermined target. The collected tokens were placed on a reward chart and could later be exchanged for rewards based on the student’s preferences. The findings indicated that the implementation of the reward chart-based token economy effectively improved self-control, as evidenced by a gradual decrease in the frequency of seat-leaving behavior during the intervention period. Therefore, a reward chart-based token economy can be considered an effective behavior modification strategy for reducing seat-leaving behavior and promoting classroom engagement among students with ASD. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan kontrol diri pada siswa Autism Spectrum Disorder (ASD), khususnya terkait perilaku meninggalkan tempat duduk selama proses pembelajaran di kelas. Perilaku tersebut termasuk off-task behavior yang dapat mengganggu konsentrasi belajar siswa lain dan menghambat efektivitas pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas token ekonomi berbasis reward chart dalam meningkatkan kontrol diri siswa ASD melalui pengurangan perilaku meninggalkan tempat duduk. Penelitian menggunakan pendekatan Single Subject Research (SSR) dengan desain eksperimen subjek tunggal. Pelaksanaan penelitian meliputi tahap baseline untuk mengidentifikasi frekuensi perilaku target, tahap intervensi berupa penerapan token ekonomi berbasis reward chart, serta tahap pengukuran perubahan perilaku setelah intervensi diberikan. Token diberikan sebagai penguat positif setiap kali siswa berhasil mempertahankan posisi duduk sesuai target yang ditetapkan, kemudian token dikumpulkan pada reward chart dan dapat ditukarkan dengan hadiah yang sesuai dengan minat siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan token ekonomi berbasis reward chart efektif meningkatkan kontrol diri siswa ASD yang ditunjukkan oleh penurunan frekuensi perilaku meninggalkan tempat duduk secara bertahap selama periode intervensi. Dengan demikian, token ekonomi berbasis reward chart dapat menjadi strategi modifikasi perilaku yang efektif untuk mengurangi perilaku meninggalkan tempat duduk dan mendukung keterlibatan siswa ASD dalam proses pembelajaran di kelas.
HUBUNGAN ANTARA QUARTER LIFE CRISIS DENGAN LIFE SATISFACTION PADA DEWASA AWAL DI KOTA GORONTALO Frendy Anugrah Kadir; Salahuddin Liputo; Sri Ayu Mutmainah Kurniawati
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.11933

Abstract

ABSTRACT The transition into early adulthood exposes individuals to multiple role changes that occur simultaneously, making adaptive capacity an essential factor in maintaining overall life quality. Although the relationship between Quarter Life Crisis and Life Satisfaction has received considerable scholarly attention, empirical evidence examining their direct association among the broader early adult population beyond university students remains limited. This study aimed to analyze the relationship between Quarter Life Crisis and Life Satisfaction among early adults residing in Gorontalo City, Indonesia. A quantitative correlational design was employed involving 397 participants aged 18–29 years who were selected through purposive sampling. Data were collected using the Quarter Life Crisis Scale and the Life Satisfaction Scale and were subsequently analyzed using Spearman's rank correlation after the normality assumption was not satisfied. The analysis revealed a significant negative correlation between the two variables (rs = −0.533, p < 0.05), indicating that higher levels of Quarter Life Crisis were associated with lower levels of Life Satisfaction. These findings highlight adaptive capacity in responding to developmental transitions as an important mechanism underlying life satisfaction during early adulthood. This study contributes to developmental psychology by extending empirical evidence on the relationship between these two constructs within a more diverse early adult population and provides a basis for developing promotive and preventive interventions to support psychological well-being during the transition to adulthood. ABSTRAK Transisi menuju masa dewasa awal menghadapkan individu pada perubahan peran yang berlangsung hampir bersamaan, sehingga kemampuan beradaptasi menjadi faktor penting dalam mempertahankan kualitas kehidupan. Meskipun hubungan antara Quarter Life Crisis dan Life Satisfaction telah banyak dibahas, bukti empiris yang menguji hubungan langsung kedua konstruk pada populasi dewasa awal di luar konteks mahasiswa masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara Quarter Life Crisis dan Life Satisfaction pada dewasa awal yang berdomisili di Kota Gorontalo. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional yang melibatkan 397 responden berusia 18–29 tahun, dipilih melalui teknik purposive sampling. Data diperoleh menggunakan skala Quarter Life Crisis dan skala Life Satisfaction, kemudian dianalisis menggunakan korelasi Spearman setelah pengujian menunjukkan bahwa data tidak memenuhi asumsi normalitas. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara kedua variabel (rs = −0,533; p < 0,05), yang mengindikasikan bahwa peningkatan Quarter Life Crisis cenderung diikuti oleh penurunan Life Satisfaction. Temuan ini memperkuat pemahaman bahwa kemampuan beradaptasi terhadap perubahan perkembangan merupakan mekanisme penting dalam membentuk kepuasan hidup pada masa dewasa awal. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap kajian psikologi perkembangan dengan memperluas bukti empiris mengenai hubungan kedua konstruk pada populasi dewasa awal yang lebih beragam, sekaligus menjadi dasar bagi pengembangan program promotif dan preventif untuk mendukung kesejahteraan psikologis selama transisi menuju kedewasaan.