cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 701 Documents
KORELASI ANTARA KESULITAN PSIKOSOSIAL DENGAN PENGALAMAN PERUNDUNGAN PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Ni Ketut Putri Ariani; I Gusti Ayu Indah Ardani; Ni Ketut Sri Diniari; I Made Peri Ardiana Kusuma; Rifqi Fadly Arief
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.10587

Abstract

ABSTRACT Bullying among adolescents is a mental health problem that can have long-term effects on psychosocial development and individual well-being. Psychosocial difficulties are believed to contribute to increased vulnerability to bullying experiences among adolescents; however, empirical evidence in Indonesia remains limited. This study aims to analyze the relationship between psychosocial difficulties measured using the Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ) and bullying experiences measured using the Olweus Bullying Questionnaire among students of State Junior High School 5 Tembuku, Bangli Regency. This study employed an analytic cross-sectional design involving 46 ninth-grade students. Data were analyzed using correlation tests according to data distribution. The results showed a significant positive relationship between psychosocial difficulties and bullying experiences. The domains most strongly associated with bullying experiences included conduct problems, emotional problems, and peer problems. These findings indicate that higher levels of psychosocial difficulties are associated with a greater risk of experiencing bullying, particularly in behavioral and emotional aspects. The SDQ has potential as an early screening tool to identify at-risk students and to support the development of school-based mental health interventions integrated into bullying prevention efforts. ABSTRAK Perundungan pada remaja merupakan masalah kesehatan mental yang dapat berdampak jangka panjang terhadap perkembangan psikososial dan kesejahteraan individu. Kesulitan psikososial diduga berkontribusi terhadap meningkatnya kerentanan remaja terhadap pengalaman perundungan, namun bukti empiris di Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kesulitan psikososial yang diukur menggunakan Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ) dengan pengalaman perundungan yang diukur melalui Olweus Bullying Questionnaire pada siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 5 Tembuku, Kabupaten Bangli. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang analitik dengan melibatkan 46 siswa kelas IX. Data dianalisis menggunakan uji korelasi sesuai distribusi data. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang bermakna antara kesulitan psikososial dan pengalaman perundungan. Domain yang paling berkontribusi terhadap pengalaman perundungan meliputi masalah perilaku, masalah emosional, dan masalah teman sebaya.Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kesulitan psikososial, semakin besar risiko remaja mengalami perundungan, terutama pada aspek perilaku dan emosional. SDQ berpotensi digunakan sebagai alat skrining dini untuk mengidentifikasi siswa berisiko, serta mendukung pengembangan intervensi kesehatan mental berbasis sekolah yang terintegrasi dalam upaya pencegahan perundungan.
HUBUNGAN ANTARA SELF-EFFICACY DAN SOCIAL SUPPORT DENGAN PERSONAL GROWTH INITIATIVE PADA IBU RUMAH TANGGA YANG TIDAK BEKERJA Aisyah Fitria; Iranita Hervi Mahardayani
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.10938

Abstract

Housewives are often associated with the domestic sphere, which indirectly limits their opportunities for personal growth. The importance of personal growth is key to sustaining and improving well-being and psychological functioning across various life stages. A personal growth initiative is an individual’s desire to change themselves for the better. Factors influencing personal growth initiatives include social support, self-efficacy, goal achievement, psychological well-being, and hope. This study aims to identify the relationship between self-efficacy and social support with personal growth initiative. This study employed a quantitative method involving 78 non-working housewife respondents. Data collection was conducted using a Likert scale via Google Forms. Sampling was performed using purposive sampling. The collected data were then analyzed using SPSS 26.0 for Windows software. The results of this study indicate a highly significant relationship between self-efficacy and social support with personal growth initiative, with a correlation coefficient of 0.651 and a significance level of 0.000 (p<0.01). The results of this study are expected to enrich the literature on personal growth initiative among non-working housewives. ABSTRAK Ibu rumah tangga sering kali diidentikkan pada ranah domestik yang secara tidak langsung membatasi ibu rumah tangga pada pengembangan diri. Pentingnya pengembangan diri merupakan kunci untuk tetap bertahan serta meningkatkan kesejahteraan dan fungsi psikologis pada berbagai tahap kehidupan. Personal growth initiative merupakan keinginan seseorang untuk mengubah dirinya ke arah yang lebih baik. Faktor-faktor yang memengaruhi Personal Growth initiative adalah social support, self-efficacy, goal achievement, psychological well-being, dan hope. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara self-efficacy dan social support dengan personal growth initiative. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan melibatkan 78 responden ibu rumah tangga yang tidak bekerja. Pengambilan data penelitian dilakukan menggunakan skala Likert dengan Google Forms. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling. Data yang telah diperoleh kemudian dianalisis menggunakan bantuan perangkat lunak SPSS 26.0 for Windows. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang sangat signifikan antara self-efficacy dan social support dengan personal growth initiative dengan nilai koefisien ketiga variabel sebesar 0,651 dengan taraf signifikan 0,000 (p<0,01). Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian mengenai personal growth initiative pada ibu rumah tangga yang tidak bekerja.  
HUBUNGAN KEAKRABAN DENGAN AYAH TERHADAP QUARTER LIFE CRISIS PADA MAHASISWA PERANTAU Nurhalisa Apriani; Fildzah Malahati
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.10994

Abstract

This study aims to determine the relationship between closeness with fathers and quarter life crisis in migrant students. Early adulthood is a developmental period characterized by various life demands, such as career determination, the search for self identity, and the achievement of independence, which in some conditions can give rise to the phenomenon of quarter life crisis. This study used a quantitative approach through a correlational design. The research respondents were migrant students who met the research criteria. The data collection process was carried out using a scale of closeness with fathers and a scale of quarter life crisis. Data analysis was performed using the Spearman correlation technique because the data obtained did not meet the assumptions of normality and linearity. The results showed a significant relationship between closeness with fathers and quarter life crisis in migrant students with a correlation coefficient value of r = 0.897 and a significance value of p < 0.01, indicating that the relationship between the two variables is categorized as very strong. These findings indicate that closeness with fathers contributes to the psychological condition of students in early adulthood. A positive emotional relationship with fathers can potentially be a source of psychological support for migrant students in facing various developmental demands and future uncertainty. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keakraban dengan ayah dan quarter life crisis pada mahasiswa perantau. Masa dewasa awal merupakan periode perkembangan yang ditandai dengan berbagai tuntutan kehidupan, seperti penentuan karier, pencarian identitas diri, serta pencapaian kemandirian, yang dalam beberapa kondisi dapat memunculkan fenomena quarter life crisis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui desain korelasional. Responden penelitian adalah mahasiswa perantau yang telah sesuai dengan kriteria penelitian. Proses pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan skala keakraban dengan ayah dan skala quarter life crisis. Analisis data dilakukan menggunakan teknik korelasi Spearman mengingat data yang diperoleh tidak memenuhi asumsi normalitas dan linearitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara keakraban dengan ayah dan quarter life crisis pada mahasiswa perantau dengan nilai koefisien korelasi sebesar r = 0,897 dan nilai signifikansi p < 0,01, yang menunjukkan bahwa hubungan antara kedua variabel tergolong dalam kategori sangat kuat. Temuan ini mengindikasikan bahwa keakraban dengan ayah memiliki kontribusi terhadap kondisi psikologis mahasiswa pada masa dewasa awal. Hubungan emosional yang positif dengan ayah dapat berpotensi menjadi sumber dukungan psikologis bagi mahasiswa perantau dalam menghadapi berbagai tuntutan perkembangan serta ketidakpastian masa depan.    
EFEKTIVITAS POSITIVE REINFORCEMENT MELALUI TEKNIK REWARD DALAM MENINGKATKAN KEDISIPLINAN SISWA KOMUNITAS TIFO Mochammad Aditya Rizqi Maulana; Nadhirotul Laily
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.11070

Abstract

Discipline is a key element in student character building, but in reality, there is still low student compliance within school communities. This study aims to test the effectiveness of implementing a reward system as a form of positive reinforcement in increasing the discipline of Tifo Community students at SMA Muhammadiyah X. The research method used was pre-experimental with a One-Group Pretest-Posttest design for 15 class XI students. Data were collected using a discipline scale that measures aspects of punctuality, compliance with rules, task responsibility, and cooperation. The results showed an increase in discipline scores in the post-test phase, where 8 of the 15 students experienced a significant increase in the discipline category. Providing rewards in the form of verbal praise, appreciation points, and symbolic awards proved to be able to foster extrinsic motivation which then internalized into positive habits. The conclusion of this study is that the reward technique is effective in suppressing undisciplined behavior and creating a more productive community climate. ABSTRAK Kedisiplinan merupakan elemen kunci dalam pembentukan karakter siswa, namun pada realitanya masih ditemukan rendahnya kepatuhan siswa dalam komunitas sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas penerapan sistem reward sebagai bentuk positive reinforcement dalam meningkatkan kedisiplinan siswa Komunitas Tifo di SMA X. Metode penelitian yang digunakan adalah pre-eksperimental dengan desain One-Group Pretest-Posttest terhadap 15 siswa kelas XI. Data dikumpulkan menggunakan skala kedisiplinan yang mengukur aspek ketepatan waktu, kepatuhan tata tertib, tanggung jawab tugas, dan kerja sama. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan skor kedisiplinan pada fase post-test, di mana 8 dari 15 siswa mengalami kenaikan kategori kedisiplinan secara signifikan. Pemberian reward berupa pujian verbal, poin apresiasi, dan penghargaan simbolis terbukti mampu menumbuhkan motivasi ekstrinsik yang kemudian terinternalisasi menjadi kebiasaan positif. Simpulan penelitian ini adalah teknik reward efektif dalam menekan perilaku tidak disiplin dan menciptakan iklim komunitas yang lebih produktif.
KECEMASAN IKLIM DAN KETIDAKPASTIAN MASA DEPAN: EKSPLORASI KUALITATIF PADA DEWASA MUDA Siti Jaro’ah; Vania Ardelia; Ribka Mutiara Simatupang; Nanda Audia Vrisaba; Ira Darmawanti
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.11191

Abstract

Climate change affects not only the environment but also the psychological well-being of young people. This study aimed to explore perceptions of climate anxiety and future outlooks among young adults in Indonesia. A descriptive qualitative approach was employed through focus group discussions involving 22 participants aged 18–25 years, selected using purposive sampling. The data were analyzed using thematic analysis. The findings show that young adults perceived climate change as a real phenomenon marked by extreme weather, seasonal uncertainty, flooding, and increased health vulnerability. Participants identified human activities and low environmental awareness as the main causes of the climate crisis. The impacts of climate change were experienced in psycho-emotional, physical, and socio-economic aspects, particularly anxiety, health concerns, work disruptions, and economic uncertainty. These findings conclude that climate anxiety among Indonesian young adults is closely linked to everyday environmental experiences and uncertain future expectations. The study implies the need for climate education, psychological support, strengthened self-efficacy, and climate policies that are responsive to young people’s vulnerabilities. ABSTRAK Perubahan iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi persepsi climate anxiety dan pandangan masa depan pada dewasa muda di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui focus group discussion dengan 22 partisipan berusia 18–25 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dewasa muda memahami perubahan iklim sebagai fenomena nyata yang ditandai oleh cuaca ekstrem, ketidakpastian musim, banjir, dan meningkatnya kerentanan kesehatan. Partisipan memandang aktivitas manusia dan rendahnya kesadaran lingkungan sebagai penyebab utama krisis iklim. Dampak perubahan iklim dirasakan dalam aspek psiko-emosional, fisik, dan sosial-ekonomi, terutama berupa kecemasan, kekhawatiran terhadap kesehatan, gangguan pekerjaan, dan ketidakpastian ekonomi. Temuan ini menyimpulkan bahwa climate anxiety pada dewasa muda Indonesia berkaitan erat dengan pengalaman lingkungan sehari-hari dan bayangan masa depan yang tidak pasti. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya pendidikan iklim, dukungan psikologis, penguatan efikasi diri, serta kebijakan iklim yang responsif terhadap kerentanan generasi muda.
DUKUNGAN SOSIAL DAN KEPERCAYAAN DIRI PADA REMAJA AKHIR DARI KELUARGA BROKEN HOME Alma Silvi
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.11193

Abstract

Late adolescence is a transitional period marked by increasing developmental demands, requiring individuals to obtain social support to develop a positive self-evaluation. Adolescents from broken-home families are at risk of experiencing psychological difficulties due to reduced emotional stability and family support. Previous studies have mostly examined adolescents in general, peer support, or adolescents with specific characteristics, whereas studies specifically focusing on the relationship between social support and self-esteem among late adolescents from broken-home families remain limited. This study aims to examine the relationship between social support and self-esteem among late adolescents from broken-home families. This study employed a quantitative non-experimental approach with a correlational design. A total of 190 participants aged 18–21 years were recruited using a nonprobability purposive sampling technique based on the criteria of late adolescence and experience of a broken-home family. The instruments used were the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) to measure social support and the adapted Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) to measure self-esteem. Data were analyzed using reliability testing, normality testing, descriptive analysis, and Spearman’s Rho correlation. The results showed that social support was in the high category, while self-esteem was in the moderate category. A strong and significant positive relationship was found between social support and self-esteem among late adolescents from broken-home families (rho = 0.690; p < 0.001). These findings indicate that social support is associated with more positive self-evaluation among late adolescents experiencing broken-home family conditions. This study extends empirical evidence on the importance of social support as a protective factor in the psychological development of late adolescents ABSTRAK Masa remaja akhir merupakan periode transisi yang ditandai dengan meningkatnya tuntutan perkembangan, sehingga individu membutuhkan dukungan sosial untuk membangun evaluasi diri yang positif. Remaja dari keluarga broken home berisiko mengalami hambatan psikologis karena berkurangnya stabilitas emosional dan dukungan keluarga. Penelitian sebelumnya lebih banyak meneliti remaja umum, dukungan teman sebaya, atau kelompok remaja dengan karakteristik tertentu, sedangkan kajian khusus mengenai hubungan dukungan sosial dan self-esteem pada remaja akhir dari keluarga broken home masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dan self-esteem pada remaja akhir dari keluarga broken home. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif non-eksperimental dengan desain korelasional. Sebanyak 190 partisipan berusia 18–21 tahun direkrut menggunakan teknik nonprobability purposive sampling berdasarkan kriteria usia remaja akhir dan pengalaman keluarga broken home. Instrumen yang digunakan adalah Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) untuk mengukur dukungan sosial dan Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) adaptasi untuk mengukur self-esteem. Analisis data meliputi uji reliabilitas, uji normalitas, analisis deskriptif, dan korelasi Spearman’s Rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial berada pada kategori tinggi, sedangkan self-esteem berada pada kategori sedang. Terdapat hubungan positif yang kuat dan signifikan antara dukungan sosial dan self-esteem pada remaja akhir dari keluarga broken home (rho = 0,690; p < 0,001). Temuan ini menunjukkan bahwa dukungan sosial berhubungan dengan evaluasi diri yang lebih positif pada remaja akhir yang mengalami kondisi keluarga broken home. Penelitian ini memperluas bukti empiris mengenai pentingnya dukungan sosial sebagai faktor protektif dalam perkembangan psikologis remaja akhir.
PENGARUH PERMAINAN KONSELOPOLY QUEST TERHADAP PENINGKATAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS PADA PESERTA DIDIK SMAN 12 BANJARMASIN Salma Hapijah; Nina Permata Sari; Qomario
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.11200

Abstract

This study was motivated by the low critical thinking skills of students in the learning process and the limited research on the use of the Konselopoly Quest game in guidance and counseling services to improve these skills. This study aimed to analyze the improvement of critical thinking skills among tenth-grade students at SMAN 12 Banjarmasin after participating in the Konselopoly Quest game. This study employed a quantitative approach with a one-group pretest-posttest design. The subjects consisted of 53 students selected using total sampling. Data were collected using a Likert-scale questionnaire that had met validity and reliability requirements. Data analysis was conducted using a normality test, paired sample t-test, and effect size analysis. The results showed that students’ critical thinking skills increased significantly after participating in the Konselopoly Quest game, with a large effect size. This improvement was reflected in students’ increased activeness in analyzing problems, participating in discussions, expressing opinions, and making logical decisions during the game. These findings indicate that the use of the Konselopoly Quest game is associated with the improvement of students’ critical thinking skills and has the potential to serve as an alternative strategy in school guidance and counseling services. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya keterampilan berpikir kritis peserta didik dalam proses pembelajaran serta masih terbatasnya penelitian mengenai penggunaan permainan Konselopoly Quest dalam layanan bimbingan dan konseling untuk meningkatkan keterampilan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peningkatan keterampilan berpikir kritis peserta didik kelas X di SMAN 12 Banjarmasin setelah mengikuti permainan Konselopoly Quest. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain one-group pretest-posttest. Subjek penelitian berjumlah 53 peserta didik yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan angket skala Likert yang telah memenuhi uji validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan melalui uji normalitas, paired sample t-test, dan ukuran efek (effect size). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan berpikir kritis peserta didik mengalami peningkatan yang signifikan setelah mengikuti permainan Konselopoly Quest, dengan ukuran efek yang tergolong besar. Peningkatan tersebut tampak dari keaktifan peserta didik dalam menganalisis masalah, berdiskusi, mengemukakan pendapat, dan mengambil keputusan secara logis selama permainan berlangsung. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan permainan Konselopoly Quest berkaitan dengan peningkatan keterampilan berpikir kritis peserta didik dan berpotensi menjadi alternatif strategi dalam layanan bimbingan dan konseling di sekolah
THE UNSEEN EMBRACE: EMOTIONAL SUPPORT AND SELF-ACCEPTANCE AMONG MOTHERS OF CHILDREN WITH SPECIAL NEEDS Keisha Indira Sophia
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.11257

Abstract

Mothers of children with special needs often face psychological challenges in accepting their child’s condition. Previous studies have shown that social support is associated with self-acceptance among parents of children with special needs. However, limited research has specifically examined emotional support as a distinct form of support separate from general social support, particularly among mothers who tend to experience greater emotional burdens in caregiving. This study aimed to examine the relationship between emotional support and self-acceptance among mothers of children with special needs and to identify the associations between the dimensions of both constructs. A quantitative correlational design was employed using snowball sampling involving mothers from various regions of Indonesia. The instruments consisted of a self-acceptance scale and an emotional support scale. Data were analyzed using Pearson Product Moment correlation. The results revealed a significant positive relationship between emotional support and self-acceptance. Dimensional correlation analysis showed that positive regard had the strongest association with unconditional love, while empathy had the strongest association with acceptance of uniqueness. These findings indicate that emotional support is positively associated with self-acceptance and may serve as an important psychosocial resource for mothers of children with special needs. Practically, the findings highlight the importance of family-based interventions that strengthen empathy and positive regard to support maternal self-acceptance. ABSTRAK Ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus sering menghadapi tantangan psikologis dalam menerima kondisi anak. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa dukungan sosial berkaitan dengan penerimaan diri pada orang tua anak berkebutuhan khusus. Namun, penelitian yang secara khusus mengkaji dukungan emosional sebagai bentuk dukungan yang berbeda dari dukungan sosial umum masih terbatas, terutama pada ibu yang cenderung menghadapi beban emosional lebih besar dalam pengasuhan anak berkebutuhan khusus. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara dukungan emosional dan penerimaan diri pada ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus serta mengidentifikasi hubungan antar dimensi kedua variabel tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif korelasional dengan teknik snowball sampling yang melibatkan ibu dari berbagai wilayah di Indonesia. Instrumen penelitian terdiri atas skala penerimaan diri dan skala dukungan emosional. Data dianalisis menggunakan korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara dukungan emosional dan penerimaan diri. Analisis korelasi antar dimensi menunjukkan bahwa penghargaan positif memiliki hubungan paling kuat dengan kasih sayang tak bersyarat, sedangkan empati memiliki hubungan paling kuat dengan penerimaan terhadap keunikan anak. Temuan ini menunjukkan bahwa dukungan emosional berkaitan secara positif dengan penerimaan diri dan dapat menjadi sumber daya psikososial penting bagi ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Secara praktis, hasil penelitian ini menegaskan pentingnya intervensi keluarga berbasis empati dan penghargaan positif untuk memperkuat penerimaan diri ibu.
PERAN SELF-EFFICACY DALAM MEMEDIASI LINGKUNGAN KELUARGA DAN TEMAN SEBAYA TERHADAP KEPUTUSAN PEMILIHAN JURUSAN MPLB Satiya Nikken Rahayu; Aan Ikhsananto
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.11276

Abstract

This study aims to analyze the influence of family and peer environments on major selection decisions, with self-efficacy as a mediating variable, among students at private vocational high schools in Semarang. This study was motivated by the limited number of studies that have examined the simultaneous mediating role of self-efficacy in the relationship between family environment, peers, and major selection decisions, particularly in the context of private vocational high schools offering the MPLB program. Additionally, previous research findings regarding the influence of peers on educational decisions have yielded inconsistent results. The method used was a quantitative approach with Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) analysis. Data were collected through the direct distribution of questionnaires to respondents and via Google Forms. The results of the study indicate that family and peer environments have a direct, positive, and significant effect on self-efficacy. Furthermore, the family environment and self-efficacy were also found to have a positive and significant influence on the decision to choose a major. However, the peer group variable did not have a significant direct effect on the decision to choose a major. Furthermore, self-efficacy was found to be a significant mediating variable, as it was shown to significantly mediate the influence of the family and peer group environments on the decision to choose a major. Thus, self-efficacy plays a crucial role as a mediating variable in linking the influence of family and peer environments on students’ major selection decisions. Future research is recommended to develop a research model by incorporating additional variables to provide a more comprehensive understanding of the factors influencing major selection decisions. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh lingkungan keluarga dan teman sebaya terhadap keputusan pemilihan jurusan dengan self-efficacy sebagai variabel mediasi pada siswa SMK swasta di Kota Semarang. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih terbatasnya studi yang menguji peran mediasi self-efficacy secara simultan dalam hubungan antara lingkungan keluarga, teman sebaya, dan keputusan pemilihan jurusan, khususnya pada konteks SMK swasta program MPLB. Selain itu, hasil penelitian terdahulu mengenai pengaruh teman sebaya terhadap keputusan pendidikan masih menunjukkan hasil yang belum konsisten. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan analisis Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS). Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner secara langsung kepada responden serta melalui Google Form. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara langsung lingkungan keluarga dan teman sebaya berpengaruh positif dan signifikan terhadap self-efficacy. Selain itu, lingkungan keluarga serta self-efficacy juga terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pemilihan jurusan. Namun, variabel teman sebaya tidak memberikan pengaruh langsung yang signifikan terhadap keputusan pemilihan jurusan. Selanjutnya, secara tidak langsung self-efficacy merupakan variabel mediator yang signifikan, di mana self-efficacy terbukti mampu memediasi pengaruh lingkungan keluarga dan teman sebaya terhadap keputusan pemilihan jurusan secara signifikan. Dengan demikian, self-efficacy memiliki peran penting sebagai variabel mediasi dalam menghubungkan pengaruh lingkungan keluarga dan teman sebaya terhadap keputusan pemilihan jurusan siswa. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengembangkan model penelitian dengan menambahkan variabel lain agar dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang memengaruhi keputusan pemilihan jurusan.
PENGARUH KELEKATAN TEMAN SEBAYA DAN REGULASI EMOSI TERHADAP KECENDERUNGAN KECEMASAN SOSIAL SISWA KELAS XI DI SMAN 3 CIKAMPEK: Psikologi Isma Nurul Aulya; Puspa Rahayu Utami Rahman; M. Choirul Ibad
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.11344

Abstract

This study aimed to examine the effects of peer attachment and emotion regulation on social anxiety tendencies among eleventh-grade students at SMAN 3 Cikampek, both partially and simultaneously. The study employed a quantitative approach with a correlational-predictive design. The sample consisted of 167 students selected through a combination of stratified sampling and convenience sampling from a population of 313 students. The instruments included the Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA) to measure peer attachment, the Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) to assess emotion regulation, and the Social Anxiety Scale for Adolescents (SAS-A) to measure social anxiety. The data were analyzed using multiple linear regression with SPSS version 25. The findings indicated that peer attachment and emotion regulation jointly had a significant effect on social anxiety. Partially, peer attachment had a positive and significant effect on social anxiety, whereas emotion regulation did not show a significant effect. The categorization results revealed that most students had high levels of emotion regulation and social anxiety tendencies, while their peer attachment patterns were mostly not clearly classified. These findings suggest that peer relationships play a more dominant role in explaining social anxiety than emotion regulation. Therefore, schools should strengthen healthy peer relationships, positive social support, group counseling services, and social skills development programs to help reduce students’ social anxiety. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kelekatan teman sebaya dan regulasi emosi terhadap kecenderungan kecemasan sosial pada siswa kelas XI SMAN 3 Cikampek, baik secara parsial maupun simultan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional prediktif. Sampel penelitian terdiri atas 167 siswa yang dipilih melalui kombinasi teknik stratified sampling dan convenience sampling dari populasi 313 siswa. Instrumen penelitian meliputi Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA) untuk mengukur kelekatan teman sebaya, Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) untuk mengukur regulasi emosi, dan Social Anxiety Scale for Adolescents (SAS-A) untuk mengukur kecemasan sosial. Data dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan SPSS versi 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelekatan teman sebaya dan regulasi emosi secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap kecemasan sosial. Secara parsial, kelekatan teman sebaya berpengaruh positif dan signifikan terhadap kecemasan sosial, sedangkan regulasi emosi tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan. Hasil kategorisasi menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki regulasi emosi dan kecenderungan kecemasan sosial yang tinggi, sementara pola kelekatan teman sebaya sebagian besar belum terklasifikasi secara jelas. Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan dengan teman sebaya memiliki peran lebih dominan dalam menjelaskan kecemasan sosial dibandingkan regulasi emosi. Oleh karena itu, sekolah perlu memperkuat hubungan pertemanan yang sehat, dukungan sosial positif, layanan konseling kelompok, dan program pengembangan keterampilan sosial untuk membantu mengurangi kecemasan sosial siswa.