cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 701 Documents
MAKNA KECEMASAN KARIER PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR DI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA Emanuella Debby Cassella; Rudangta Arianti Sembiring
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.10843

Abstract

Final-year students face various complex challenges during the transition to the workforce. A lack of work-related skills, academic pressures, and uncertainty about the job market can trigger career anxiety that potentially affects their psychological well-being. This study aims to explore the meaning of career anxiety experienced by final-year students at the Faculty of Psychology, Satya Wacana Christian University, as well as the strategies they employ to cope with it. The research employs a qualitative method with a phenomenological approach. The research participants were selected using purposive sampling, and data were collected through semi-structured interviews, observation, and documentation. The data were then analyzed using the Miles and Huberman model. The findings indicate that career anxiety is influenced by four main aspects: individual ability, irrational beliefs about employment, employment environment, and professional education training. The participants expressed concerns about their lack of skills, fear of social judgment, stigma surrounding the psychology profession, and unpreparedness to face professional responsibilities. Nevertheless, both participants demonstrated efforts toward self-development through self-reflection, motivation, and skill enhancement. This study highlights the important role of institutions in providing career support and psychological services. The findings may serve as a reference for designing interventions to help students cope with career anxiety. ABSTRAK Mahasiswa tingkat akhir dihadapkan pada berbagai tantangan kompleks dalam masa transisi menuju dunia kerja. Ketidaksiapan dalam penguasaan keterampilan kerja, beban akademik, serta ketidakpastian terhadap pasar kerja dapat memicu munculnya kecemasan karier yang berpotensi memengaruhi kesejahteraan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna kecemasan karier pada mahasiswa tingkat akhir di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Satya Wacana serta strategi yang digunakan untuk mengatasinya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pemilihan subjek penelitian menggunakan teknik purposive sampling dan data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecemasan karier dipengaruhi oleh empat aspek utama, yaitu kemampuan individu, keyakinan irasional, lingkungan kerja, dan program pelatihan profesional. Partisipan mengungkapkan kekhawatiran akan kurangnya keterampilan, ketakutan akan penilaian sosial, stigma terhadap profesi psikolog, serta ketidaksiapan menghadapi tanggung jawab profesional. Meskipun demikian, partisipan tetap menunjukkan upaya pengembangan diri melalui refleksi diri, motivasi, dan peningkatan keterampilan. Penelitian ini menyoroti pentingnya peran institusi dalam menyediakan dukungan karier dan layanan psikologis. Temuan ini dapat menjadi acuan dalam merancang intervensi untuk membantu mahasiswa menghadapi kecemasan karier.
HUBUNGAN ANTARA SELF-COMPASSION DAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA REMAJA YANG MENGALAMI KEHILANGAN IBU KARENA MENINGGAL DUNIA Ani Oktafiana; Margaretta Erna Setianingrum
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.10892

Abstract

The loss of a mother due to death is a life event that can cause significant emotional distress and affect adolescents’ psychological well-being. Therefore, adolescents require internal protective factors to support their adaptation process, one of which is self-compassion. This study aimed to examine the relationship between self-compassion and psychological well-being among late adolescents who have experienced the loss of their mother due to death. This research employed a quantitative approach with a sample of 102 late adolescents aged 18–22 years, selected using a snowball sampling technique. Data were collected using the Self-Compassion Scale for Youth, which has been adapted into Indonesian, and the Indonesian-adapted short version of Ryff ’s Psychological Well-Being Scale. The results of the Spearman’s Rank correlation analysis showed a correlation coefficient of 0,516 with a significance value of 0.000 (p < 0.05), indicating a significant and positive relationship between self-compassion and psychological well-being among adolescents who have lost their mother. This finding suggests that higher levels of self-compassion are associated with higher levels of psychological well-being, although most respondents were categorized at a moderate level. ABSTRAK Kehilangan ibu karena meninggal dunia merupakan suatu peristiwa yang dapat menimbulkan tekanan emosional dan akan memengaruhi kesejahteraan psikologis remaja, sehingga remaja membutuhkan faktor internal yang dapat membantu proses adaptasi, salah satunya adalah self-compassion. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-compassion dan psychological well-being pada remaja akhir yang mengalami kehilangan ibu karena meninggal dunia. Pada penelitian ini, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan sampel yang didapatkan sebanyak 102 remaja akhir yang berusia 18-22 tahun yang dipilih menggunakan teknik snowball sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala Self-Compassion Scale for Youth yang telah diadaptasi ke Bahasa Indonesia dan skala Ryff Psychological Well-Being versi short scale dan telah diadaptasi ke Bahasa Indonesia. Hasil uji koefisien korelasi menggunakan Spearman’s Rank sebesar 0,0516 dan signifikansi 0,000 (p < 0,05) yang menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan dan positif antara self-compassion dan psychological well-being pada remaja yang mengalami kehilangan ibu karena meninggal dunia. Hal ini berarti semakin tinggi self-compassion maka semakin baik pula psychological well-being yang dimiliki oleh remaja, meskipun sebagian besar responden berada dalam kategori sedang.  
HUBUNGAN SOCIAL COMPARISON DENGAN SELF-ESTEEM PADA REMAJA PENGGUNA INSTAGRAM DI KOTA MANADO Mirando Abram Pakasi; Dewita Karema Sarajar
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.11018

Abstract

ABSTRACT Instagram is one of the most widely used social media platforms among adolescents, and its use is closely associated with activities of comparing oneself to other users. This phenomenon prompted the researcher to examine the relationship between social comparison and self-esteem among adolescent Instagram users in Manado City. This study employed a quantitative approach with a correlational design. A total of 151 adolescent participants aged 13–18 years were selected using purposive sampling. Data were collected using the Iowa Netherlands Comparison Orientation Measure (INCOM) to measure social comparison and the Self-Liking and Self-Competence Scale Revised (SLCS-R) to measure self-esteem. Data analysis was conducted using Spearman's rho correlation test. The results showed a correlation coefficient of −0.664 with a significance value of 0.000 (p < 0.01), indicating a significant negative relationship with strong magnitude between social comparison and self-esteem. These findings suggest that adolescents with higher tendencies toward social comparison tend to have lower self-esteem. The results of this study can serve as a basis for developing psychological interventions aimed at helping adolescents manage their tendency to compare themselves on social media in order to maintain their mental health. ABSTRAK Instagram merupakan salah satu platform media sosial yang paling banyak digunakan oleh remaja, dan penggunaannya tidak lepas dari aktivitas membandingkan diri dengan pengguna lain. Fenomena ini mendorong peneliti untuk mengkaji hubungan antara social comparison dan self-esteem pada remaja pengguna Instagram di Kota Manado. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sebanyak 151 partisipan remaja berusia 13–18 tahun dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Iowa Netherlands Comparison Orientation Measure (INCOM) untuk mengukur social comparison dan Self-Liking and Self-Competence Scale Revised (SLCS-R) untuk mengukur self-esteem. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman's rho. Hasil penelitian menunjukkan koefisien korelasi sebesar -0,664 dengan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,01), yang berarti terdapat hubungan negatif yang signifikan dengan kekuatan kuat antara social comparison dan self-esteem. Temuan ini mengindikasikan bahwa social comparison dan self-esteem memiliki keterkaitan yang bermakna secara psikologis, di mana keduanya bergerak dalam arah yang berlawanan pada remaja pengguna Instagram di Kota Manado. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan intervensi psikologis yang bertujuan membantu remaja mengelola kecenderungan membandingkan diri di media sosial guna menjaga kesehatan mental mereka.
HUBUNGAN LONELINESS DENGAN PARASOCIAL RELATIONSHIP PADA MAHASISWA UNIVERSITAS NEGERI PADANG Arriana Puspita Sari; Rinaldi Rinaldi
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.11331

Abstract

The development of social media and easy access to public figures have contributed to the formation of parasocial relationship among university students, namely a one-sided relationship between individuals and public figures through media. This condition may be associated with individual psychological states, including loneliness. This study aimed to examine the relationship between loneliness and parasocial relationship among students at Universitas Negeri Padang. This research employed a quantitative approach with a correlational design. The participants were 200 active students at Universitas Negeri Padang selected using quota sampling based on predetermined criteria. Data were collected using a loneliness scale and a parasocial relationship scale distributed through Google Form. The data were analyzed using Pearson Product Moment correlation. The findings indicate a significant negative relationship between loneliness and parasocial relationship among students at Universitas Negeri Padang, although the strength of the relationship was weak. This suggests that students with lower levels of loneliness tended to report higher levels of parasocial relationship. This finding implies that parasocial relationship among university students may not merely function as a compensation for loneliness, but may also be related to entertainment needs, attraction to public figures, and self-identification processes. ABSTRAK Perkembangan media sosial dan kemudahan akses terhadap figur publik mendorong terbentuknya parasocial relationship pada mahasiswa, yaitu hubungan satu arah antara individu dan figur publik melalui media. Kondisi ini dapat berkaitan dengan keadaan psikologis individu, salah satunya loneliness. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara loneliness dan parasocial relationship pada mahasiswa Universitas Negeri Padang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Subjek penelitian berjumlah 200 mahasiswa aktif Universitas Negeri Padang yang dipilih menggunakan teknik quota sampling berdasarkan karakteristik yang telah ditentukan. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala loneliness dan skala parasocial relationship yang disebarkan melalui Google Form. Data dianalisis menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara loneliness dan parasocial relationship pada mahasiswa Universitas Negeri Padang, tetapi kekuatan hubungannya tergolong lemah. Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa dengan tingkat loneliness yang lebih rendah cenderung memiliki parasocial relationship yang lebih tinggi. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa parasocial relationship pada mahasiswa tidak selalu terbentuk sebagai kompensasi atas loneliness, tetapi juga dapat berkaitan dengan faktor lain seperti kebutuhan hiburan, ketertarikan terhadap figur publik, dan proses identifikasi diri.
PENERAPAN CHOICE THEORY DAN REALITY THERAPY SISTEM WDEP UNTUK MENGATASI KESULITAN KEPUTUSAN KARIER SISWA SMA Arif Dwi Cahyono; Ghozali Rusyid Affandi
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.11376

Abstract

Career selection was one of the crucial developmental tasks for high school students as they considered further education and their future. In daily life, many students experienced confusion in determining their college major direction that aligned with their interests, talents, potentials, and life goals. Given the confusion that students faced, guidance and counseling were essential to help students understand themselves and make career decisions in a more planned and appropriate manner. This study aimed to analyze the application of choice theory and reality therapy using the WDEP system (Want, Doing, Evaluation, Planning) to assist high school students in decisionmaking. Using a qualitative approach, this research employed a case study method on a student who experienced confusion in determining their career path. Data collection techniques included in-depth interviews, counseling observations, and documentation of session notes. The findings demonstrated that the application of choice theory and reality therapy through the WDEP system successfully helped the participant overcome obstacles in determining their career direction. This intervention triggered a paradigm shift from external control psychology to internal control psychology, as evidenced by the growth of personal responsibility without being bound by academic performance constraints. Furthermore, the participant successfully designed a realistic career plan based on their interests, talents, and family approval. ABSTRAK Pemilihan karir merupakan salah satu tugas pada perkembangan krusial bagi siswa sekolah menengah atas (SMA) saat pertimbangkan pendidikan lanjutan dan masa depan mereka. Dalam kehidupan sehari-hari banyak siswa yang mengalami kebingungan dalam menentukan arah jurusan kuliah yang sesuai dengan minat bakat, potensi serta tujuan hidupnya. Kebingungan yang terjadi pada siswa sehingga pentingnya bimbingan dan konseling untuk membantu siswa dalam memahami diri serta menentukan keputusan karir supaya lebih terencana dan sesuai. Pada penelitian ini mempunyai tujuan untuk menganalisis penerapan Choice Theory dan Reality Therapy dengan menggunakan sistema WDEP (Want, Doing, Evaluation, Planning) untuk membantu siswa SMA dalam mengambil suatu keputusan. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini menerapkan metode studi kasus terhadap seorang siswa yang mengalami kebingungan dalam menentukan pilihan karir nya. Penelitian inin menggunakan metode wawancara mendalam, observasi konseling, dan studi dokumentasi catatan sesi sebagai teknik pengumpulan data. Temuan studi membuktikan bahwa penerapan Choice Theory dan Reality Therapy lewat sistem WDEP berhasil membantu partisipan mengatasi hambatan dalam menentukan arah karir. Intervensi ini memicu pergeseran paradigma dari external control psychology ke internal control psychology, yang terlihat dari tumbuhnya tanggung jawab pribadi tanpa terikat pada kendala nilai akademik. Selain itu, partisipan berhasil merancang perencanaan karir yang realistis berbasis pencapaian minat, bakat, serta restu keluarga.    
PENGARUH STRES KERJA DAN GRIT TERHADAP PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA PERAWAT RUMAH SAKIT DI KARAWANG Desi Nurbarkah; Nuram Mubina; Yuwono Pratomo
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.11410

Abstract

Excessive workloads during peak medical service hours and the high demands of handling patient complaints are the background to this research activity. These problems trigger chronic emotional exhaustion and mental vulnerability that can disrupt the performance and stability of the psychological condition of healthcare workers. The main focus of this scientific study is to dissect and test the influence of work stress and grit on the psychological well-being of hospital nurses in Karawang Regency. The steps of this associative causal quantitative research path were operated using a convenience sampling strategy. The primary data collection procedure involved 356 active nurses as respondents through an instrument adapted from the Likert scale model draft, which was then executed statistically through multiple linear regression analysis modeling. Quantitative data empirically revealed a significant simultaneous influence between work stress and grit on mental well-being, indicated by the obtained F-value of 299.5 with a significance probability of p less than 0.001. Partial evaluation confirmed that work stress had a significant negative impact, while grit recorded the strongest dominant positive contribution to the mental toughness of the subjects with a total R-square value of 0.629 or equivalent to 62.9 percent. The main conclusion confirms that the combination of managing psychological distress and strengthening long-term resilience has proven highly effective in maintaining nurses' mental health. Healthcare institutions are recommended to consistently design intervention management plans. ABSTRAK Beban kerja berlebih saat jam sibuk operasional pelayanan medis serta tingginya tuntutan penanganan keluhan pasien melatarbelakangi kegiatan penelitian ini. Masalah tersebut memicu kelelahan emosional kronis serta kerentanan mental yang dapat mengganggu performa dan stabilitas kondisi psikologis para tenaga kesehatan. Fokus utama kajian ilmiah ini adalah membedah dan menguji pengaruh stres kerja dan grit terhadap psychological well-being pada perawat rumah sakit di Kabupaten Karawang. Langkah-langkah jalur riset kuantitatif asosiatif kausalitas ini dioperasikan menggunakan strategi penarikan sampel secara convenience sampling. Prosedur pengumpulan data primer melibatkan 356 perawat aktif sebagai responden melalui instrumen adaptasi draf skala model Likert, yang selanjutnya dieksekusi statistik lewat permodelan analisis regresi linier berganda. Data kuantitatif secara empiris menyingkap pengaruh signifikan secara simultan antara stres kerja dan grit terhadap kesejahteraan mental, ditunjukkan oleh perolehan nilai F-hitung sebesar 299,5 dengan probabilitas signifikansi p kurang dari 0,001. Evaluasi parsial mengonfirmasi stres kerja berdampak negatif signifikan, sementara grit mencatatkan kontribusi positif dominan paling kuat terhadap ketangguhan mental subjek dengan capaian total nilai R-square sebesar 0,629 atau setara 62,9 persen. Simpulan utama menegaskan bahwa kombinasi pengendalian tekanan psikologis serta penguatan ketabahan jangka panjang terbukti sangat andal memelihara kesehatan mental perawat. Instansi kesehatan direkomendasikan merancang draf manajemen intervensi secara konsisten.    
KETIKA TEKNOLOGI MENJADI TUNTUTAN: PENGARUH PERCEIVED ORGANIZATIONAL SUPPORT TERHADAP TECHNOSTRESS GURU Rizkiah Rizkiah; Dian Dwi Nur Rahmah; Netty Dyan Prastika; Edoardo Tondang
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.11434

Abstract

The acceleration of instructional digitalization, which requires mastery of a variety of independent learning applications amidst limited technical skills, is the background to this research. These operational issues trigger psychological pressure in the form of technostress, which has the potential to reduce work productivity and the mental well-being of educators. The main focus of this scientific study is to dissect and test the influence of perceived organizational support on teachers' technostress levels. The steps of this descriptive inferential quantitative research path were operated through purposive sampling of 86 active teachers at Sangatta State High School. The primary field data collection procedure was collected through the distribution of a Likert-scale questionnaire instrument with four alternative answers, which was then executed using parametric prerequisite testing and simple linear regression analysis modeling assisted by SPSS version 26 software. The quantitative data from the research empirically revealed a significant and negative influence, indicated by the F-value of 140.021 and a significance probability value of p of 0.000. The coefficient of determination (R-square) results recorded a prediction accuracy score of 0.625, which proves the real contribution of organizational support worth 62.5 percent to the variation in reducing the subject's digital stress burden. The main conclusion confirms that strengthening superior support and providing rewards has proven highly effective in improving teachers' cognitive readiness in managing techno-overload. School management is recommended to draft a strategy for ongoing, periodic digital literacy training. ABSTRAK Akselerasi digitalisasi instruksional yang mewajibkan penguasaan ragam aplikasi pembelajaran mandiri di tengah keterbatasan kecakapan teknis melatarbelakangi penelitian ini. Masalah operasional tersebut memicu tekanan psikologis berupa technostress yang berpotensi menurunkan produktivitas kerja serta kesejahteraan mental para tenaga pendidik. Fokus utama kajian ilmiah ini adalah membedah dan menguji pengaruh perceived organizational support terhadap tingkat technostress guru. Langkah-langkah jalur riset kuantitatif deskriptif inferensial ini dioperasikan melalui penarikan sampel secara purposive sampling terhadap 86 guru aktif di lingkungan SMA Negeri Sangatta. Prosedur pengumpulan data primer lapangan dihimpun lewat penyebaran instrumen kuesioner skala Likert empat alternatif jawaban, yang selanjutnya dieksekusi menggunakan pengujian prasyarat parametrik serta permodelan analisis regresi linear sederhana berbantuan perangkat lunak SPSS versi 26. Data kuantitatif hasil penelitian secara empiris menyingkap pengaruh yang signifikan dan negatif, ditunjukkan oleh perolehan nilai F-hitung sebesar 140,021 dan nilai probabilitas signifikansi p sebesar 0,000. Perolehan hasil koefisien determinasi (R-square) mencatatkan skor akurasi prediksi sebesar 0,625, yang membuktikan kontribusi nyata dukungan organisasi senilai 62,5 persen terhadap variasi penurunan beban stres digital subjek. Simpulan utama menegaskan bahwa penguatan aspek dukungan atasan serta pemberian penghargaan terbukti sangat andal meningkatkan kesiapan kognitif guru dalam mengelola hambatan techno overload. Manajemen sekolah direkomendasikan merancang draf strategi pelatihan literasi digital berkala secara berkesinambungan.  
KETIKA AYAH TAK HADIR: PERAN STRATEGI KOPING BERFOKUS PADA MASALAH DAN DUKUNGAN SOSIAL UNTUK MENUMBUHKAN KESEJAHTERAAN PSIKOLOGI GENERASI Z DI KABUPATEN KARAWANG: Psikologi Usyie Roihatul Jannah; Wina Lova Riza; Devi Marganing Tyas
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.11486

Abstract

Father absence may be associated with various psychological challenges among Generation Z, particularly in self-acceptance, social relationships, and the development of life goals. However, studies simultaneously examining the roles of problem-focused coping and social support in predicting psychological well-being among Generation Z individuals experiencing father absence, particularly in Karawang Regency, remain limited. This study aimed to analyze the roles of problem-focused coping and social support in predicting the psychological well-being of Generation Z individuals experiencing father absence in Karawang Regency. A quantitative approach with a predictive correlational design was employed. The sample consisted of 349 Generation Z respondents selected through nonprobability quota sampling. Data were collected using a problem-focused coping scale, the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS), and Ryff’s Psychological Well-Being Scale. The data were analyzed using multiple linear regression with SPSS. The results showed that problem-focused coping and social support jointly played significant roles in predicting psychological well-being. Partially, both problem-focused coping and social support were positive and significant predictors of psychological well-being. Social support demonstrated a stronger predictive role than problem-focused coping. These findings indicate that individuals with a greater ability to address problems actively and higher levels of perceived social support tend to have better psychological well-being. ABSTRAK Ketiadaan peran ayah dapat berkaitan dengan berbagai tantangan psikologis pada Generasi Z, terutama dalam penerimaan diri, hubungan sosial, dan pembentukan tujuan hidup. Namun, penelitian yang secara simultan menguji peran strategi koping berfokus pada masalah dan dukungan sosial dalam memprediksi kesejahteraan psikologis pada Generasi Z yang mengalami ketiadaan peran ayah, khususnya di Kabupaten Karawang, masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran strategi koping berfokus pada masalah dan dukungan sosial dalam memprediksi kesejahteraan psikologis Generasi Z yang mengalami ketiadaan peran ayah di Kabupaten Karawang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional prediktif. Sampel penelitian terdiri atas 349 responden Generasi Z yang dipilih melalui teknik sampling nonprobabilitas dengan metode kuota. Data dikumpulkan menggunakan skala strategi koping berfokus pada masalah, Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS), dan Ryff’s Psychological Well-Being Scale. Data dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi koping berfokus pada masalah dan dukungan sosial secara bersama-sama berperan signifikan dalam memprediksi kesejahteraan psikologis. Secara parsial, strategi koping berfokus pada masalah dan dukungan sosial masing-masing menjadi prediktor positif dan signifikan terhadap kesejahteraan psikologis. Dukungan sosial menunjukkan peran prediktif yang lebih kuat dibandingkan strategi koping berfokus pada masalah. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi kemampuan individu dalam menghadapi masalah secara aktif dan semakin besar dukungan sosial yang dipersepsikan, semakin tinggi pula kesejahteraan psikologisnya.
PENGARUH PERSEPSI HARAPAN ORANG TUA DAN SELF-EFFICACY TERHADAP FEAR OF FAILURE PADA PEREMPUAN SULUNG DEWASA AWAL DIKABUPATEN KARAWANG: Psikologi Rifqa Azita; Wina Lova Riza; Mohamad Sopian
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.11503

Abstract

Previous studies on fear of failure have generally focused on students or adolescents, while research specifically examining firstborn women in early adulthood, particularly within the social context of Karawang Regency, remains limited. This study examined the predictive roles of perceived parental expectations and self-efficacy in fear of failure among firstborn women in early adulthood in Karawang Regency. A quantitative approach with a predictive correlational design was employed. The participants comprised 349 firstborn women aged 18–40 years who lived in Karawang Regency and were recruited using snowball sampling. Data were collected using the Perception of Parental Expectations Inventory (POPEI), the General Self-Efficacy Scale (GSE), and the Performance Failure Appraisal Inventory (PFAI), and were analyzed using multiple linear regression. The findings showed that perceived parental expectations and self-efficacy jointly and significantly predicted fear of failure. Perceived parental expectations were a positive predictor, whereas self-efficacy was a negative predictor of fear of failure. Higher perceived parental expectations were associated with a greater tendency to experience fear of failure, whereas higher self-efficacy was associated with a lower tendency to experience it. These findings highlight the importance of realistic, open, and supportive parental communication, as well as efforts to strengthen self-efficacy, to support the psychological well-being of firstborn women in early adulthood. ABSTRAK Penelitian mengenai fear of failure umumnya berfokus pada mahasiswa atau remaja, sedangkan kajian yang secara khusus menelaah perempuan sulung dewasa awal, terutama dalam konteks sosial Kabupaten Karawang, masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran prediktif persepsi harapan orang tua dan self-efficacy terhadap fear of failure pada perempuan sulung dewasa awal di Kabupaten Karawang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional prediktif. Partisipan penelitian berjumlah 349 perempuan sulung berusia 18–40 tahun yang berdomisili di Kabupaten Karawang dan direkrut menggunakan teknik snowball sampling. Data dikumpulkan menggunakan Perception of Parental Expectations Inventory (POPEI), General Self-Efficacy Scale (GSE), dan Performance Failure Appraisal Inventory (PFAI), kemudian dianalisis menggunakan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi harapan orang tua dan self-efficacy secara simultan memprediksi fear of failure secara signifikan. Persepsi harapan orang tua menjadi prediktor positif, sedangkan self-efficacy menjadi prediktor negatif terhadap fear of failure. Semakin tinggi harapan orang tua yang dipersepsikan, semakin tinggi kecenderungan perempuan sulung mengalami fear of failure. Sebaliknya, semakin tinggi self-efficacy, semakin rendah kecenderungan tersebut. Temuan ini menegaskan pentingnya komunikasi harapan orang tua yang realistis, terbuka, dan suportif serta penguatan self-efficacy untuk mendukung kesejahteraan psikologis perempuan sulung dewasa awal.
HUBUNGAN POLA ASUH OTORITER DENGAN KECENDERUNGAN PERILAKU NARSISME PADA REMAJA Eni Sulistiawati; Yossy Dwi Erliana; Junaidin Junaidin
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.11613

Abstract

ABSTRACT Narcissistic personality traits are a stable personality pattern characterised by fantasies or behaviour that is excessive regarding power, success, intelligence, beauty and ideal love, a great need to be admired by others, and a reduced capacity to empathise with them. The parenting style that parents adopt can shape certain behaviours in their children (adolescents).  This study aims to determine whether there is a relationship between an authoritarian parenting style and narcissistic tendencies in adolescents. The research approach used is a quantitative method, with a correlational research design. The population for this study consists of 120 adolescents who meet the researcher's criteria; the sampling technique used is purposive sampling, which involves conducting a screening process. Based on the data analysis, it was found that there is a significant relationship between the authoritarian parenting style and narcissistic tendencies in adolescents, which means that hypothesis Ha is accepted and Ho is rejected. The implications of this research can help to reduce all factors that influence narcissistic tendencies in adolescents. ABSTRAK Kecenderungan kepribadian narsisme merupakan pola kepribadian yang menetap, ditandai dengan adanya fantasi atau perilaku yang berlebihan terhadap kekuatan, kesuksesan, kecerdasan, kecantikan, dan cinta ideal, memiliki kebutuhan yang besar untuk dikagumi oleh orang lain, serta kurang memiliki kemampuan untuk memberikan empati kepada orang lain. Pola asuh yang diterapkan orang tua terhadap anak dapat membentuk perilaku tertentu pada anak (remaja). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara pola asuh otoriter dengan kecenderungan perilaku narsisme pada remaja. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional. Adapun populasi dalam penelitian ini yaitu 120 orang remaja yang memenuhi kriteria peneliti. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan cara melakukan screening. Berdasarkan hasil analisis data diketahui bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh otoriter dengan kecenderungan perilaku narsisme pada remaja, yang berarti menunjukkan bahwa hipotesis Ha diterima dan H0 ditolak. Implikasi dari penelitian ini dapat membantu mengurangi berbagai faktor yang memengaruhi kecenderungan narsisme pada remaja.