cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 701 Documents
HUBUNGAN KEBIASAAN MENONTON KONTEN HUMOR DI TIKTOK DENGAN PERILAKU COPING STRESS PADA GENERASI Z Zidan Al Fiqri; Ririanti Rachmayanie Jamain; Ali Rachman
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.13009

Abstract

ABSTRACT The development of social media has transformed the way individuals obtain entertainment and manage psychological pressure in their daily lives. One of the most widely used platforms among Generation Z is TikTok, which provides various types of content, including humorous content that may help individuals cope with stress. This study aims to describe the habit of watching humorous content on TikTok, examine stress coping behavior among Generation Z, and analyze the relationship between these variables. The study employed a quantitative approach using a correlational method. The sample consisted of 155 Generation Z respondents selected through purposive sampling. Data were collected using Likert-scale instruments developed based on Verplanken and Orbell’s theory to measure the habit of watching humorous content on TikTok and Lazarus and Folkman’s theory to assess stress coping behavior. Data were analyzed using descriptive statistics and Spearman’s rho correlation analysis. The findings indicate that the habit of watching humorous content on TikTok tends to be at a moderate level, while respondents generally demonstrate relatively high stress coping behavior. The study also found a positive and significant relationship between the habit of watching humorous content on TikTok and stress coping behavior among Generation Z. These findings suggest that engagement with humorous TikTok content may contribute to better stress management and coping abilities ABSTRAK Perkembangan media sosial telah mengubah cara individu memperoleh hiburan sekaligus mengelola tekanan psikologis dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu platform yang banyak digunakan oleh Generasi Z adalah TikTok yang menyediakan berbagai jenis konten, termasuk konten humor yang berpotensi membantu individu dalam menghadapi stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kebiasaan menonton konten humor di TikTok, gambaran perilaku coping stress pada Generasi Z, serta menganalisis hubungan antara kedua variabel tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasional. Sampel penelitian terdiri atas 155 responden Generasi Z yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui skala Likert yang disusun berdasarkan teori Verplanken dan Orbell untuk mengukur kebiasaan menonton konten humor di TikTok serta teori Lazarus dan Folkman untuk mengukur perilaku coping stress. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan uji korelasi Spearman’s rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan menonton konten humor di TikTok cenderung berada pada tingkat sedang, sedangkan perilaku coping stress responden berada pada tingkat yang relatif tinggi. Penelitian juga menemukan adanya hubungan positif dan signifikan antara kebiasaan menonton konten humor di TikTok dengan perilaku coping stress pada Generasi Z. Temuan ini menunjukkan bahwa kebiasaan mengakses konten humor di TikTok berpotensi mendukung kemampuan Generasi Z dalam mengelola stres dan menghadapi tekanan psikologis sehari-hari.
KETIKA MASA DEPAN MENANTI : STUDI TENTANG EFIKASI DIRI MAHASISWA TINGKAT AKHIR DI PULAU JAWA Imelda Enerstine Waruwu; William Gunawan
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i1.8968

Abstract

The transition to the workforce requires final-year students to possess adequate self-confidence in making career decisions. This study aims to assess the level of Career Decision Making Self-Efficacy (CDMSE) among final-year students in Java as an indicator of work readiness. Employing a descriptive quantitative approach, the study involved 540 respondents selected via cluster quota sampling and utilized the valid and reliable Career Decision Making Self-Efficacy (CDMSE) instrument. The results indicate that the majority of students possess self-efficacy levels ranging from moderate to high. The occupational information dimension showed the highest scores, reflecting students' confidence in accessing and understanding information about the professional world. Conversely, the self-appraisal and planning dimensions yielded relatively lower scores, indicating a need for further strengthening. It is concluded that while final-year students in Java demonstrate reasonably good self-efficacy regarding career decision-making, higher education institutions need to bolster career guidance services particularly in developing self-reflection and career planning skills to better prepare graduates for the workforce. ABSTRAK Transisi menuju dunia kerja menuntut mahasiswa tingkat akhir memiliki keyakinan diri yang memadai dalam pengambilan keputusan karier. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan tingkat Career Decision-Making Self-Efficacy (CDMSE) mahasiswa tingkat akhir di Pulau Jawa sebagai indikator kesiapan kerja. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan melibatkan 540 responden yang dipilih menggunakan teknik cluster quota sampling serta instrumen Career Decision Making Self-Efficacy (CDMSE) yang valid dan reliabel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa memiliki tingkat efikasi diri pada kategori sedang hingga tinggi. Dimensi occupational information menunjukkan capaian tertinggi, yang mengindikasikan keyakinan mahasiswa dalam mengakses dan memahami informasi dunia kerja. Sebaliknya, dimensi self-appraisal dan planning memiliki capaian relatif lebih rendah sehingga masih memerlukan penguatan. Disimpulkan bahwa mahasiswa tingkat akhir di Pulau Jawa telah memiliki efikasi diri yang cukup baik dalam pengambilan keputusan karier, namun perguruan tinggi perlu memperkuat layanan bimbingan karier, terutama dalam pengembangan kemampuan refleksi diri dan perencanaan karier agar lulusan lebih siap menghadapi dunia kerja.    
DINAMIKA PROSES PEMULIHAN PENYINTAS KECANDUAN GAME ONLINE DI KOTA KUPANG Ferren S.G Durry; R.Pasifikus Ch. Wijaya; Mardiana Artati; Mariana Dinah Ch. Lerik
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.9286

Abstract

Online gaming addiction in children is a psychosocial problem that impacts behavioural, emotional, and social relationship aspects. This study aims to understand the dynamics of the recovery process for online gaming addiction survivors in Kupang City, focusing on the role of professionals and the psychosocial interventions provided. This study uses a descriptive qualitative approach with case study. Data collection was conducted through semi-structured interviews carried out three times with three professionals, namely nurses and psychologists, who have experience in assisting children with online gaming addiction.The results of the study indicate that the recovery process is dynamic, non-linear, and contextual. Recovery is not only marked by a decrease in the intensity of gaming, but also by behavioural changes, a strengthening of the meaning of life, and an improvement in the child's social relationships. This study also found that professionals play an important role not only as providers of therapeutic interventions, but also as a primary source of support when family involvement is not yet optimal. Simple psychosocial interventions tailored to the local social and cultural context have been shown to contribute to the sustainability of the recovery process. Based on these results, it can be concluded that the recovery from online gaming addiction in children is a process that involves psychological and social aspects simultaneously. It is recommended that parents and professionals work collaboratively and consistently to support the sustainability of the child's recovery process. ABSTRAK Kecanduan game online pada anak merupakan permasalahan psikososial yang berdampak pada aspek perilaku, emosional, dan relasi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dinamika proses pemulihan penyintas kecanduan game online di Kota Kupang, dengan fokus pada peran tenaga profesional serta intervensi psikososial yang diberikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan método studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi terstruktur yang dilaksanakan sebanyak tiga kali kepada tiga tenaga profesional, yaitu perawat dan psikolog, yang memiliki pengalaman dalam mendampingi anak dengan kecanduan game online. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pemulihan bersifat dinamis, tidak linear, dan kontekstual. Pemulihan tidak hanya ditandai oleh penurunan intensitas bermain game, tetapi juga oleh perubahan perilaku, penguatan makna hidup, serta perbaikan relasi sosial anak. Penelitian ini juga menemukan bahwa tenaga profesional berperan penting tidak hanya sebagai pemberi intervensi terapeutik, tetapi juga sebagai sumber dukungan utama ketika keterlibatan keluarga belum berjalan secara optimal. Intervensi psikososial yang sederhana namun disesuaikan dengan konteks sosial dan budaya lokal terbukti berkontribusi dalam menjaga keberlanjutan proses pemulihan. Berdasarkan hasil ini dapat disimpulkan bahwa pemulihan kecanduan game online pada anak merupakan proses yang melibatkan aspek psikologis dan sosial secara simultan. Disarankan agar orang tua dan tenaga profesional bekerja secara kolaboratif dan konsisten dalam mendukung keberlanjutan proses pemulihan anak.    
INTERAKSI SOSIAL TEMAN SEBAYA DAN KEMAMPUAN BICARA ANAK USIA 3–4 TAHUN Dinda Lestari; Tri Winarsih
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.9476

Abstract

This study aims to describe the relationship between peer social interaction and the speech skills of 3-4 year old children. Speech skills are an important aspect in early childhood language development that is influenced by the social environment, especially interactions with peers. This study used a qualitative approach with a case study method. The subjects were 3-4 year old children who interacted with peers in an early childhood education (PAUD) environment. Data collection techniques were carried out through observation and interviews. Data analysis was carried out through a process of data simplification, systematic data presentation, and drawing conclusions. The results of the study indicate that peer social interactions play a role in stimulating children's speech skills, especially in aspects of vocabulary, speaking courage, and the ability to express ideas verbally. Children who are actively involved in social interactions show more developed speech skills than children who are less involved in interactions with peers. These findings indicate that a supportive social environment and positive interactions between children have an important contribution to the development of speech skills in early childhood. This study is expected to serve as a reference for educators and parents in creating a conducive learning environment to optimize children's language development. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hubungan antara interaksi sosial teman sebaya dengan kemampuan bicara anak usia 3-4 tahun. Kemampuan bicara merupakan aspek penting dalam perkembangan bahasa anak usia dini yang dipengaruhi oleh lingkungan sosial, khususnya interaksi dengan teman sebaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Subjek penelitian adalah anak usia 3-4 tahun yang berinteraksi dengan teman sebaya di lingkungan pendidikan anak usia dini (PAUD). Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara. Analisis data dilakukan melalui proses penyederhanaan data, penyajian data secara sistematis, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi sosial teman sebaya berperan dalam menstimulasi kemampuan bicara anak, terutama dalam aspek kosakata, keberanian berbicara, dan kemampuan mengekspresikan ide secara verbal. Anak yang terlibat aktif dalam interaksi sosial menunjukkan kemampuan bicara yang lebih berkembang dibandingkan anak yang kurang terlibat dalam interaksi dengan teman sebaya. Temuan ini mengindikasikan bahwa lingkungan sosial yang mendukung dan interaksi yang positif antar anak memiliki kontribusi penting dalam perkembangan kemampuan bicara anak usia dini. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pendidik dan orang tua dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif untuk mengoptimalkan perkembangan bahasa anak.    
HUBUNGAN SELF-CONTROL DENGAN ONLINE GAMING ADDICTION PADA MAHASISWA Elvina Ananta Sutedjo Sanjoto; Puspita Puji Rahayu
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.9576

Abstract

Emotional pressure due to the high burden of academic assignment evaluations and the use of cyber media as an escape from daily stressors underlie this research. These operational issues trigger self-regulation failures, negatively impacting sleep patterns, social interaction functions, and decreased student academic performance. The main focus of this scientific study is to dissect and empirically test the relationship between self-control and the tendency towards online gaming addiction in active college students. The steps of this quantitative, descriptive, correlational research pathway were operated using an online questionnaire, reaching 117 respondents through a purposive sampling technique. Primary data measurement adopted the Brief Self-Control Scale (BSCS) and the Indonesian version of the Internet Gaming Disorder Scale (IGDS), which were then statistically executed through a Pearson correlation test using the SPSS 26 computer program. The quantitative data empirically revealed a significant negative relationship with a correlation coefficient of minus 0.329 at a significance parameter of p 0.000. This finding confirms that the higher a student's self-control capacity, the lower their level of compulsive dependence on virtual games. The main conclusion is that strengthening executive control functions and delaying gratification have been shown to moderately inhibit digital addiction. Academic institutions are recommended to draft educational programs for regulating adaptive behavior. ABSTRAK Tekanan emosional akibat tingginya beban evaluasi tugas akademik serta pemanfaatan media siber sebagai pelarian dari stres harian melatarbelakangi kegiatan penelitian ini. Masalah operasional tersebut memicu kegagalan regulasi diri sehingga berdampak buruk pada pola tidur, fungsi interaksi sosial, serta penurunan performa studi mahasiswa. Fokus utama kajian ilmiah ini adalah membedah dan menguji secara empiris hubungan antara self-control atau kontrol diri dengan kecenderungan online gaming addiction pada mahasiswa aktif. Langkah-langkah jalur riset kuantitatif deskriptif korelasional ini dioperasikan menggunakan kuesioner daring dengan menjangkau 117 responden melalui teknik penarikan sampel purposive sampling. Pengukuran data primer mengadopsi instrumen Brief Self-Control Scale (BSCS) dan Internet Gaming Disorder Scale (IGDS) versi Bahasa Indonesia, yang selanjutnya dieksekusi statistik lewat uji korelasi Pearson menggunakan program komputer SPSS 26. Data kuantitatif secara empiris menyingkap adanya hubungan negatif yang signifikan dengan capaian koefisien korelasi sebesar minus 0,329 pada parameter signifikansi p senilai 0,000. Temuan ini menegaskan bahwa semakin tinggi kapasitas pengendalian diri mahasiswa, maka semakin rendah tingkat ketergantungan kompulsifnya terhadap permainan virtual. Simpulan utama membuktikan bahwa penguatan fungsi kontrol eksekutif dan penundaan kepuasan (delay of gratification) terbukti moderat menghambat adiksi digital. Institusi akademik direkomendasikan menyusun draf edukasi regulasi perilaku adaptif.  
HUBUNGAN TINGKAT STRES AKADEMIK DENGAN KONSUMSI MINUMAN ALKOHOL PADA MAHASISWA SEMESTER AKHIR FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS NUSA CENDANA Fransisko Kua; Dian Anakaka; Abdi Keraf; Mariana Lerik
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.9658

Abstract

Stress is a natural response to excessive pressure and is often experienced by students due to academic demands such as coursework, exams, and thesis completion. An imbalance between academic demands and an individual's ability to cope can trigger academic stress, which affects physical and mental health and motivation to study. One coping mechanism that students often use to relieve stress is alcohol consumption, even though this behavior has the potential to cause adverse health and academic effects. This study aims to analyze the relationship between academic stress levels and alcohol consumption among final semester students at the Faculty of Public Health, Nusa Cendana University. This study used a quantitative design with a cross-sectional approach. The population in this study consisted of 254 people. Academic stress levels were measured using the Perception of Academic Stress Scale (PASS), while alcohol consumption levels were measured using the Alcohol Use Disorders Identification Test (AUDIT). Data analysis was performed using a correlation test. The results of the study showed a significant relationship between academic stress and alcohol consumption with a correlation coefficient of r = -0.892 and p = 0.000. This negative relationship indicates that the higher the level of academic stress experienced by students, the lower their tendency to consume alcohol.The majority of students were in the moderate stress category and had low alcohol consumption levels. The conclusion of this study shows that final semester students at the Faculty of Public Health, Nusa Cendana University, tend not to use alcohol as a coping mechanism in dealing with academic stress, even though they are in a highly stressful academic phase. ABSTRAK Stres merupakan respons alami individu terhadap tekanan yang berlebihan dan sering dialami oleh mahasiswa akibat tuntutan akademik seperti beban tugas, ujian, dan penyelesaian skripsi. Ketidakseimbangan antara tuntutan akademik dan kemampuan individu dalam menghadapinya dapat memicu stres akademik yang berdampak pada kondisi fisik, mental, dan motivasi belajar. Salah satu mekanisme koping yang kerap digunakan mahasiswa untuk meredakan stres adalah konsumsi minuman beralkohol, meskipun perilaku ini berpotensi menimbulkan dampak kesehatan dan akademik yang merugikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat stres akademik dengan konsumsi minuman beralkohol pada mahasiswa semester akhir Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Nusa Cendana. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. populasi dalam penelitian ini sebanyak 254 orang. Tingkat stres akademik diukur menggunakan Perception of Academic Stress Scale (PASS), sedangkan tingkat konsumsi alkohol diukur menggunakan Alcohol Use Disorders Identification Test (AUDIT). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara stres akademik dan konsumsi alkohol dengan nilai koefisien korelasi r = -0,892 dan p = 0,000. Hubungan negatif tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat stres akademik yang dialami mahasiswa, semakin rendah kecenderungan mereka untuk mengonsumsi alkohol. Mayoritas mahasiswa berada pada kategori stres sedang dan tingkat konsumsi alkohol rendah. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa semester akhir Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Nusa Cendana cenderung tidak menggunakan alkohol sebagai mekanisme koping dalam menghadapi stres akademik, meskipun berada pada fase akademik yang penuh tekanan.    
DUKUNGAN INSTRUKSIONAL DOSEN DAN PEMBENTUKAN ACADEMIC SELF-DISCIPLINE MAHASISWA PAI UIN PALANGKA RAYA Khoirulloh Luthfi Muhammad; Muhammad Fazy; Andika Putra; Gita Septia Ningrum; Surawan Surawan
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.10020

Abstract

This study is driven by the problem of low discipline among PAI students. This issue is evident from the many students who tend to procrastinate and violate campus rules. The aim of this study is to analyze the effect of lecturers' instructional support on the formation of academic self-discipline among PAI students at UIN Palangka Raya. This study uses a quantitative approach with a causal design. The sample consisted of 37 respondents selected using a proportionate stratified random sampling technique. Data were collected through an online questionnaire that had been tested for validity and reliability. Furthermore, the data were analyzed using SPSS through prerequisite tests (normality and linearity) as well as simple linear regression analysis. The research results show that students' perceptions of lecturer instructional support fall into the high category (mean = 27.24) and student academic discipline falls into the very high category (mean = 30.76). The regression test results indicate a significant positive effect (Sig. 0.003 < 0.05). This means that for every one-point increase in lecturer support, student discipline will increase by 0.610. This proves that clarity of material and feedback from lecturers are the main keys in building students' sense of responsibility. ABSTRAK Penelitian ini didorong oleh masalah rendahnya disiplin mahasiswa PAI. Masalah ini terlihat nyata dari banyaknya mahasiswa yang suka menunda-nunda pekerjaan (prokrastinasi) dan melanggar aturan kampus. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh dukungan instruksional dosen terhadap pembentukan disiplin akademik (academic self-discipline) mahasiswa PAI di UIN Palangka Raya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain kausal. Sampel terdiri dari 37 responden yang dipilih menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan SPSS melalui uji prasyarat (normalitas dan linearitas) serta analisis regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan persepsi mahasiswa terhadap dukungan instruksional dosen berada pada kategori tinggi (mean = 27,24) dan disiplin akademik mahasiswa pada kategori sangat tinggi (mean = 30,76). Hasil uji regresi menunjukkan adanya pengaruh positif yang signifikan (Sig. 0,003 < 0,05). Artinya, setiap kenaikan satu poin dukungan dosen akan meningkatkan disiplin mahasiswa sebesar 0,610. Hal ini membuktikan bahwa kejelasan materi dan umpan balik dari dosen adalah kunci utama dalam membangun rasa tanggung jawab mahasiswa.    
DOOMSCROLLING SEBAGAI PREDIKTOR GEJALA DEPRESI PADA REMAJA SMA: STUDI CROSS-SECTIONAL DI DEPOK DAN BOGOR Dian Fitri; Rochmawati Rochmawati
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.10051

Abstract

Doomscrolling, defined as the compulsive habit of repeatedly consuming negative information content on social media, is hypothesized to contribute to increased depressive symptoms among adolescents. The purpose of this research was to examine whether or whether senior high school students in Bogor and Depok were more likely to exhibit depressive symptoms if they engaged in doomscrolling. One hundred twenty-three students were chosen at random from a cluster for this cross-sectional study. The Doomscrolling Scale was used for measuring doomscrolling, and the Patient Health Questionnaire-Adolescents for measuring depressed symptoms. The main analysis in this study was binary logistic regression. Results showed that 45.5% of respondents experienced moderate-to-severe depressive symptoms. Doomscrolling was a significant predictor of depressive symptoms after controlling for confounders (OR = 1.04; 95% CI = 1.01–1.06; p = 0.003), with the model explaining 29.8% of the variance. Social media use duration of more than 3 hours per day was also a significant predictor (OR = 2.15; p = 0.039). Doomscrolling is a measurable risk factor that should be integrated into mental health assessment and intervention programs for adolescents in school settings. ABSTRAK Perilaku doomscrolling, yakni kebiasaan kompulsif mengonsumsi konten informasi negatif secara berulang di media sosial, diduga berkontribusi terhadap peningkatan gejala depresi pada remaja. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran prediktif doomscrolling terhadap gejala depresi pada siswa SMA di Kota Depok dan Kabupaten Bogor. Desain cross-sectional analitik digunakan dengan melibatkan 123 siswa yang dipilih melalui cluster random sampling. Pengukuran doomscrolling menggunakan Doomscrolling Scale dan gejala depresi menggunakan Patient Health Questionnaire-Adolescents, dengan analisis utama menggunakan regresi logistik biner. Hasil menunjukkan bahwa 45,5% responden mengalami gejala depresi sedang-berat dan rata-rata skor doomscrolling berada pada kategori sedang. Doomscrolling terbukti sebagai prediktor signifikan gejala depresi setelah dikontrol variabel konfounding (OR = 1,04; CI 95% = 1,01–1,06; p = 0,003), dengan model menjelaskan 29,8% variasi gejala depresi. Durasi penggunaan media sosial lebih dari 3 jam per hari juga merupakan prediktor signifikan (OR = 2,15; p = 0,039). Doomscrolling merupakan faktor risiko terukur yang perlu diintegrasikan dalam asesmen dan intervensi kesehatan mental remaja di sekolah.  
PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL TERHADAP DISIPLIN KERJA KARYAWAN Fransisco Arianto Ade Saputra; Lita Ariani; Fikrie Fikrie
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.10219

Abstract

Employee work discipline is a critical factor in maintaining occupational safety, productivity, and organizational performance, particularly in the mining industry, where compliance with operational procedures is essential. Although previous studies have demonstrated the influence of transformational leadership on work discipline, most empirical evidence has been derived from educational institutions and public organizations, leaving limited evidence from mining contractor companies with high-risk working environments. This study addresses this gap by examining the effect of transformational leadership on the work discipline of mechanical and operator employees at PT X, thereby providing empirical evidence from the mining contractor sector. This research employed a quantitative approach with a correlational design. A total of 113 employees were selected using purposive sampling. Data were collected using the Transformational Leadership Scale and the Work Discipline Scale and analyzed through simple linear regression. The findings revealed that transformational leadership had a positive and significant effect on employee work discipline, explaining 31% of the variance in work discipline. The results indicate that stronger implementation of transformational leadership is associated with higher levels of employee work discipline. These findings extend the empirical evidence on the effectiveness of transformational leadership in promoting work discipline within the mining contractor industry and provide practical implications for developing leadership strategies that foster positive workplace behavior. ABSTRAK Disiplin kerja karyawan merupakan faktor penting dalam menjaga keselamatan kerja, produktivitas, dan pencapaian target perusahaan, terutama pada industri pertambangan yang memiliki risiko kerja tinggi. Meskipun berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional berpengaruh terhadap disiplin kerja, sebagian besar penelitian dilakukan pada sektor pendidikan dan instansi pemerintahan, sehingga bukti empiris pada perusahaan kontraktor pertambangan masih terbatas. Penelitian ini menawarkan kebaruan melalui pengujian pengaruh gaya kepemimpinan transformasional terhadap disiplin kerja pada karyawan mekanik dan operator PT X yang bekerja dalam lingkungan dengan tuntutan penerapan keselamatan dan kedisiplinan yang tinggi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel terdiri atas 113 karyawan yang dipilih menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala Gaya Kepemimpinan Transformasional dan skala Disiplin Kerja, kemudian dianalisis dengan regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan transformasional berpengaruh positif dan signifikan terhadap disiplin kerja karyawan dengan kontribusi sebesar 31% terhadap variasi disiplin kerja. Semakin baik penerapan kepemimpinan transformasional, semakin tinggi tingkat disiplin kerja karyawan. Temuan ini memperluas bukti empiris mengenai efektivitas kepemimpinan transformasional dalam meningkatkan disiplin kerja pada sektor jasa kontraktor pertambangan serta menjadi dasar bagi perusahaan dalam mengembangkan strategi kepemimpinan untuk meningkatkan perilaku kerja yang positif.
KELEKATAN AMAN TERHADAP IBU DENGAN PERILAKU EMOSI MARAH PADA ANAK USIA 2-4 TAHUN Wardatul Mufidah; Denok Wigati; Windy Chintya Dewi; Kiftiyah
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.10559

Abstract

Previous studies have primarily examined the relationship between attachment and children’s socio-emotional development, independence, or temper tantrums across different age groups and contexts. However, studies specifically investigating the relationship between secure attachment to mothers and anger-related behavior among children aged 2-4 years remain limited. This study aimed to analyze the relationship between children’s secure attachment to their mothers and anger-related behavior among children aged 2-4 years. A quantitative correlational design was employed. The sample consisted of 50 mother and child pairs selected using an incidental sampling technique. Data on secure attachment were collected using a secure attachment scale completed by the mothers, while children’s anger-related behavior was assessed by teachers using an anger behavior rating scale. The data were analyzed using Spearman’s nonparametric correlation test because they were not normally distributed. The results indicated that no significant relationship was found between children’s secure attachment to their mothers and anger-related behavior among children aged 2–4 years. Therefore, the research hypothesis was not supported by the data. These findings suggest that children’s secure attachment to their mothers was not significantly associated with anger-related behavior in the study sample. ABSTRAK Penelitian terdahulu lebih banyak membahas hubungan kelekatan dengan perkembangan sosial-emosional, kemandirian, atau temper tantrum pada kelompok usia dan konteks yang berbeda. Kajian yang secara khusus menguji hubungan antara kelekatan aman kepada ibu dan perilaku emosi marah pada anak usia 2-4 tahun masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kelekatan aman anak kepada ibu dan perilaku marah pada anak usia 2-4 tahun. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian terdiri atas 50 pasangan ibu dan anak yang dipilih menggunakan teknik incidental sampling. Data kelekatan aman dikumpulkan menggunakan skala kelekatan aman yang diisi oleh ibu, sedangkan perilaku marah anak dinilai oleh guru menggunakan rating scale perilaku emosi marah. Data dianalisis menggunakan uji korelasi nonparametrik Spearman karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara kelekatan aman anak kepada ibu dan perilaku marah pada anak usia 2–4 tahun. Dengan demikian, hipotesis penelitian tidak didukung oleh data. Temuan ini menunjukkan bahwa kelekatan aman anak kepada ibu belum terbukti berhubungan secara signifikan dengan perilaku marah pada sampel penelitian.