cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 701 Documents
HUBUNGAN ANTARA SELF-EFFICACY AKADEMIK TERHADAP REMAJA YANG TUMBUH TANPA FIGUR AYAH (FATHERLESS) Siti Khotimah; Ririanti Rachmayanie Jamain; Novitawati Novitawati
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.13723

Abstract

This study is based on the importance of a father's role in adolescents' psychological and academic development. The absence of a father figure (fatherless) can affect adolescent development, including academic self-efficacy. Previous studies have focused more on the impact of fatherlessness on academic achievement, while studies examining its relationship with academic self-efficacy, particularly the strength dimension, remain limited. Therefore, this study focuses on examining the relationship between fatherless conditions and the strength dimension of academic self-efficacy among adolescents. This study aims to describe academic self-efficacy (strength dimension) and the condition of fatherless adolescents among students at SMA Negeri 11 Banjarmasin, as well as to analyze the relationship between the two variables. This study employed a quantitative approach using a correlational method. The sample consisted of 240 respondents selected using simple random sampling. Data were collected through questionnaires administered to the respondents. Data were analyzed using descriptive statistics and the Spearman's Rho correlation test with the assistance of IBM SPSS version 29. The results showed that academic self-efficacy (strength dimension) was in the high category, with a percentage of 50%, while the condition of fatherless adolescents was in the low category, with a percentage of 45.42%. The hypothesis testing results showed a correlation coefficient of -0.193 with a significance value of 0.003 (< 0.05), indicating a significant relationship between fatherless conditions and academic self-efficacy. Thus, there was a weak negative relationship between fatherless conditions and academic self-efficacy (strength dimension) among students at SMA Negeri 11 Banjarmasin ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peran ayah dalam perkembangan psikologis dan akademik remaja. Ketidakhadiran figur ayah (fatherless) dapat memengaruhi perkembangan remaja, termasuk self-efficacy akademik. Penelitian sebelumnya lebih banyak membahas dampak fatherless terhadap prestasi akademik, sedangkan penelitian yang mengkaji hubungannya dengan self-efficacy akademik, khususnya dimensi strength, masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini memfokuskan kajian pada hubungan kondisi fatherless dengan dimensi strength dari self-efficacy akademik pada remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan self-efficacy akademik (dimensi strength) dan kondisi remaja fatherless pada peserta didik SMA Negeri 11 Banjarmasin, serta menganalisis hubungan antara kedua variabel. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode korelasi. Sampel penelitian berjumlah 240 responden yang ditentukan menggunakan teknik simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan angket yang diberikan kepada responden. Analisis data menggunakan statistik deskriptif dan uji korelasi Spearman Rho dengan bantuan IBM SPSS versi 29. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-efficacy akademik (dimensi strength) berada pada kategori tinggi dengan persentase 50%, sedangkan kondisi remaja fatherless berada pada kategori rendah dengan persentase 45,42%. Hasil uji hipotesis menunjukkan koefisien korelasi sebesar -0,193 dengan nilai signifikansi 0,003 (< 0,05), yang menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kondisi fatherless dan self-efficacy akademik. Dengan demikian, terdapat hubungan negatif yang lemah antara kondisi fatherless dan self-efficacy akademik (dimensi strength) pada peserta didik SMA Negeri 11 Banjarmasin.
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL TEMAN SEBAYA DENGAN HOMESICKNESS PADA MAHASISWA PERANTAU DI KOTA BANJARMASIN Syifa Safitri; Dicky Listin Quarta; Julaibib Julaibib
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.14045

Abstract

Migrant students are faced with the demands of adapting to a new academic and social environment due to being separated from their families and home surroundings. Peer social support is considered an important factor in helping students cope with homesickness. This study aims to determine the relationship between peer social support and homesickness among migrant students in Banjarmasin City. This study employed a quantitative correlational design. The research subjects consisted of 133 migrant students selected through purposive sampling. The research instruments used a homesickness scale developed by Sinantia et al. (2024) and a peer social support scale developed by Ningsih & Astuti (2024). Data were collected online using Google Forms, which was distributed through WhatsApp and Instagram. Data analysis was conducted using the Pearson product-moment correlation technique. The results showed a significant negative relationship between peer social support and homesickness (r = -0.415; p < 0.001). These results indicate that the greater the peer social support migrant students receive, the lower their homesickness, and vice versa. The findings suggest that peer social support plays an important role in helping migrant students adapt to a new environment and reduce feelings of longing for home and family. ABSTRAK Mahasiswa perantau dihadapkan pada tuntutan adaptasi terhadap lingkungan akademik dan sosial yang baru akibat terpisah dari keluarga dan lingkungan asal. Dukungan sosial teman sebaya dipandang sebagai salah satu faktor penting dalam membantu mahasiswa menghadapi homesickness. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dengan homesickness pada mahasiswa perantau di Kota Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian berjumlah 133 mahasiswa perantau yang dipilih menggunakan teknik non-probability sampling dengan metode purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan skala homesickness yang disusun serta dikembangkan oleh Sinantia et al. (2024) dan skala dukungan sosial teman sebaya yang disusun serta dikembangkan oleh Ningsih dan Astuti (2024). Pengumpulan data dilakukan secara daring melalui Google Forms yang disebarkan melalui WhatsApp dan Instagram. Analisis data dilakukan menggunakan teknik korelasi Pearson product-moment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara dukungan sosial teman sebaya dan homesickness (r = -0,415; p < 0,001). Hasil tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi dukungan sosial teman sebaya yang diterima mahasiswa perantau, semakin rendah tingkat homesickness yang dialami, demikian pula sebaliknya. Temuan ini menunjukkan bahwa dukungan sosial teman sebaya berperan penting dalam membantu mahasiswa perantau beradaptasi dengan lingkungan baru serta mengurangi perasaan rindu terhadap rumah dan keluarga.
SELF-EFFICACY DAN REGULASI EMOSI SEBAGAI PREDIKTOR KECEMASAN MENGHADAPI SELEKSI PENERIMAAN CALON PRAJA IPDN PADA PESERTA BIMBINGAN BELAJAR DI SULAWESI UTARA Amanda Mia Audina; M M Shinta Pratiwi; Mulya Virgonita I Winta
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.14059

Abstract

ABSTRACT Preparation for the selection process for prospective cadets of the Institute of Domestic Government (IPDN) involves not only academic and physical abilities but also psychological readiness to cope with the demands of the selection process. This study examines the relationship between self-efficacy, emotion regulation, and anxiety among IPDN selection candidates participating in preparatory tutoring programs in North Sulawesi. A quantitative approach with an explanatory survey design was employed with 162 participants, all of whom were included through total sampling. Data were collected using the General Self-Efficacy Scale (GSES), Emotion Regulation Questionnaire (ERQ), and Test Anxiety Inventory-German (TAI-G), which were adapted to the context of the IPDN selection process. Data analysis involved descriptive statistics, instrument quality testing, classical assumption testing, and multiple linear regression using IBM SPSS Statistics 26. The analysis indicated that self-efficacy and emotion regulation were negatively and significantly associated with anxiety, both when examined partially and jointly (p < 0.001). Among the two predictors, self-efficacy demonstrated a relatively stronger contribution to the model. Overall, the model accounted for 36.8% of the variance in anxiety (Adjusted R² = 0.368), while the remaining variance was attributable to factors beyond the scope of the research model. ABSTRAK Persiapan menghadapi seleksi penerimaan Calon Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik dan fisik, tetapi juga kesiapan psikologis dalam menghadapi tuntutan seleksi. Penelitian ini mengkaji keterkaitan self-efficacy dan regulasi emosi dengan kecemasan menghadapi seleksi pada peserta bimbingan belajar IPDN di Sulawesi Utara. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain survei eksplanatori terhadap 162 peserta yang seluruhnya dilibatkan melalui teknik total sampling. Data diperoleh melalui General Self-Efficacy Scale (GSES), Emotion Regulation Questionnaire (ERQ), dan Test Anxiety Inventory-German (TAI-G) yang disesuaikan dengan konteks seleksi IPDN. Pengolahan data dilakukan menggunakan statistik deskriptif, pengujian kualitas instrumen, uji asumsi klasik, dan regresi linear berganda melalui IBM SPSS Statistics 26. Analisis menunjukkan bahwa self-efficacy dan regulasi emosi memiliki hubungan negatif dan signifikan dengan kecemasan, baik ketika diuji secara parsial maupun secara bersama-sama (p < 0,001). Di antara kedua prediktor tersebut, self-efficacy memiliki kontribusi relatif lebih kuat dalam model. Secara keseluruhan, model mampu menjelaskan 36,8% variasi kecemasan (Adjusted R² = 0,368), sedangkan variasi lainnya berada di luar model penelitian.
PERAN REGULASI EMOSI DALAM HUBUNGAN ANTARA TRAUMA FINANSIAL DAN FINANCIAL ANXIETY PADA MAHASISWA Wiwin Yuliani; Afridha Batubara; Mohammad Handy Wijaya; Muhammad Irvan
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.14105

Abstract

Financial anxiety is a psychological problem commonly experienced by university students due to economic pressures and negative experiences related to financial conditions. Although the relationships among financial conditions, emotion regulation, and psychological well-being have been widely examined, the psychological mechanisms underlying the association between financial trauma and financial anxiety among university students remain poorly understood. Based on the Process Model of Emotion Regulation, which explains that individuals can manage emotional responses through regulation processes and changes in the appraisal of stressful experiences, this study aimed to examine the role of emotion regulation in explaining the relationship between financial trauma and financial anxiety among university students. This study employed a quantitative correlational approach with a cross-sectional design involving 45 students from several universities in West Java selected through simple random sampling. Data were collected using a financial trauma scale, the Emotion Regulation Questionnaire, and a financial anxiety scale. Data were analyzed using Pearson correlation, multiple regression, and simple mediation analysis. The results showed that financial trauma was associated with higher levels of financial anxiety, whereas better emotion regulation was associated with lower levels of financial anxiety. Further analysis indicated that emotion regulation played a partial mediating role in the relationship between financial trauma and financial anxiety. However, because this study used a cross-sectional design, the findings cannot be interpreted as demonstrating causal relationships. These findings suggest that emotion regulation is a relevant psychological factor for understanding financial anxiety among university students and may provide a basis for developing intervention programs that integrate emotion regulation skills with financial management education. ABSTRAK Kecemasan finansial merupakan masalah psikologis yang banyak dialami mahasiswa akibat tekanan ekonomi dan pengalaman negatif terkait keuangan. Meskipun hubungan antara kondisi finansial, regulasi emosi, dan kesejahteraan psikologis telah banyak dikaji, mekanisme psikologis yang menjelaskan keterkaitan antara trauma finansial dan financial anxiety pada mahasiswa masih belum banyak dipahami. Berdasarkan Process Model of Emotion Regulation yang menjelaskan bahwa individu dapat mengelola respons emosional melalui proses regulasi dan perubahan penilaian terhadap pengalaman yang menekan, penelitian ini bertujuan menganalisis peran regulasi emosi dalam menjelaskan hubungan antara trauma finansial dan financial anxiety pada mahasiswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan desain cross-sectional yang melibatkan 45 mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Jawa Barat yang dipilih melalui teknik acak sederhana. Data dikumpulkan menggunakan skala trauma finansial, Emotion Regulation Questionnaire, dan skala financial anxiety. Data dianalisis menggunakan korelasi Pearson, regresi berganda, dan analisis mediasi sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa trauma finansial berkaitan dengan tingkat financial anxiety yang lebih tinggi, sedangkan regulasi emosi yang lebih baik berkaitan dengan tingkat financial anxiety yang lebih rendah. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa regulasi emosi memiliki peran mediasi parsial dalam hubungan antara trauma finansial dan financial anxiety. Namun, karena penelitian menggunakan desain cross-sectional, temuan ini tidak dapat diinterpretasikan sebagai hubungan sebab-akibat. Temuan penelitian menunjukkan bahwa regulasi emosi merupakan faktor psikologis yang relevan dalam memahami financial anxiety mahasiswa dan dapat menjadi dasar pengembangan program intervensi yang mengintegrasikan keterampilan regulasi emosi dengan edukasi pengelolaan keuangan.
REFRAMING KEGAGALAN AKADEMIK MAHASISWA MELALUI LENSA POST-TRAUMATIC GROWTH: TINJAUAN KONSEPTUAL Erry Indriani; Susan Rahmayani
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.14152

Abstract

Academic failure in higher education, including delayed graduation, failed thesis defense, unplanned leave, and dropout, is often interpreted as an indicator of individual or institutional deficits. Although research on post-traumatic growth (PTG) has expanded within the contexts of clinical trauma and severe life events, understanding of how academic failure as a nonphysical adversity may influence students’ meaning-making processes and psychological development remains limited. This article aims to develop a theoretical proposition explaining the potential mechanisms linking academic failure, self-schema disruption, cognitive processes, and the possibility of psychological growth from a PTG perspective. This study employed a narrative literature review of research on academic burnout, emerging adulthood, shame in collectivistic contexts, meaning-making, rumination, and PTG. The literature was identified through Google Scholar, PubMed, and PsycINFO and analyzed thematically to integrate relevant concepts into an explanatory framework. A total of 19 key sources were analyzed because they provided direct theoretical or empirical foundations for the components of the proposed conceptual model. The literature synthesis indicates that academic failure may disrupt students’ core assumptions, particularly during emerging adulthood, when academic achievement is closely associated with identity formation and future expectations. Psychological change is suggested to be influenced by a shift from intrusive rumination toward deliberate rumination, with social support, reflective mentoring, and a supportive campus climate serving as facilitating factors. Conversely, shame, stigma, and punitive evaluations may maintain distress by reinforcing avoidance and negative cognitive processing. This article proposes a conceptual framework in which academic failure triggers self-schema disruption that may lead either to prolonged distress or to the five domains of PTG through rumination mechanisms. The proposition requires empirical validation before being used as a basis for interventions or institutional policies. This review provides a foundation for developing more reflective academic mentoring and student counseling services that are responsive to experiences of academic failure. ABSTRAK Kegagalan akademik di perguruan tinggi, seperti keterlambatan kelulusan, kegagalan sidang, cuti tidak terencana, dan putus studi, sering dipahami sebagai indikator defisit individu atau institusi. Meskipun kajian mengenai post-traumatic growth (PTG) telah berkembang dalam konteks trauma klinis dan peristiwa hidup berat, pemahaman mengenai bagaimana kegagalan akademik sebagai adversitas nonfisik dapat memengaruhi proses pemaknaan dan perkembangan psikologis mahasiswa masih terbatas. Artikel ini bertujuan mengembangkan proposisi teoretis yang menjelaskan mekanisme potensial antara kegagalan akademik, gangguan skema diri, proses kognitif, dan kemungkinan munculnya pertumbuhan psikologis melalui perspektif PTG. Kajian ini menggunakan tinjauan literatur naratif terhadap penelitian mengenai burnout akademik, emerging adulthood, shame dalam konteks kolektivistik, meaning-making, rumination, dan PTG. Literatur ditelusuri melalui Google Scholar, PubMed, dan PsycINFO, kemudian dianalisis secara tematik untuk mengintegrasikan konsep-konsep yang relevan ke dalam kerangka penjelasan. Sebanyak 19 sumber utama dianalisis karena memberikan dasar langsung bagi komponen-komponen model konseptual yang dikembangkan. Sintesis literatur menunjukkan bahwa kegagalan akademik berpotensi menjadi pengalaman yang mengguncang asumsi diri, terutama pada masa emerging adulthood ketika pencapaian akademik berkaitan dengan identitas dan masa depan. Proses perubahan psikologis diperkirakan dipengaruhi oleh pergeseran dari intrusive rumination menuju deliberate rumination, dengan dukungan sosial, pendampingan reflektif, dan iklim kampus yang suportif sebagai faktor yang dapat memfasilitasi proses tersebut. Sebaliknya, shame, stigma, dan evaluasi yang menghukum dapat mempertahankan distres melalui penguatan penghindaran dan pemrosesan pikiran negatif. Artikel ini menghasilkan suatu proposisi konseptual yang menempatkan kegagalan akademik sebagai pemicu gangguan skema diri yang dapat berkembang menuju distres berkepanjangan atau lima domain PTG melalui mekanisme rumination. Proposisi ini masih memerlukan pengujian empiris sebelum digunakan sebagai dasar intervensi atau kebijakan. Kajian ini memberikan landasan bagi pengembangan pendampingan akademik yang lebih reflektif dan layanan konseling mahasiswa yang responsif terhadap pengalaman kegagalan.
HUBUNGAN GRATITUDE DENGAN PERILAKU PROSOSIAL DI KALANGAN MAHASISWA UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN MEDAN Citra Meylina Indriani Siregar; Nancy Naomi G.P. Aritonang
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.14262

Abstract

ABSTRACT Prosocial behavior is an important aspect in establishing students’ social relationships; however, an initial survey among students at Universitas HKBP Nommensen Medan indicates the need to examine psychological factors that support social concern. This study aimed to analyze the relationship between gratitude and prosocial behavior among students at Universitas HKBP Nommensen Medan. This study employed a quantitative correlational approach involving 350 active students aged 18–25 years selected through incidental sampling. Data were collected using a gratitude scale based on the aspects of intensity, frequency, span, and density (McCullough, Emmons, & Tsang, 2002), as well as a prosocial behavior scale based on the aspects of sharing, helping, taking care of others, and empathizing with their feelings (Caprara et al., 2005). Data were analyzed using Pearson Product Moment correlation with the assistance of SPSS 20. The results showed a positive and significant relationship between gratitude and prosocial behavior (r = 0.407; p < 0.001), indicating that higher levels of gratitude are associated with greater tendencies toward prosocial behavior among students. These findings suggest that gratitude can serve as one of the psychological factors supporting the development of students’ social character in higher education environments. ABSTRAK Kehidupan akademik mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan pencapaian kompetensi intelektual, tetapi juga melibatkan kemampuan membangun relasi sosial yang ditandai oleh kepedulian dan kemauan membantu orang lain. Penelitian ini mengkaji peran kebersyukuran (gratitude) sebagai salah satu faktor psikologis yang berkaitan dengan perilaku prososial mahasiswa Universitas HKBP Nommensen Medan. Pendekatan kuantitatif korelasional digunakan dengan melibatkan 350 mahasiswa aktif berusia 18–25 tahun yang dipilih melalui teknik incidental sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala kebersyukuran yang mengacu pada aspek intensitas, frekuensi, rentang, dan kepadatan dari McCullough, Emmons, dan Tsang (2002), serta skala perilaku prososial berdasarkan aspek sharing, helping, taking care of others, dan empathizing with their feelings dari Caprara et al. (2005). Analisis data dilakukan menggunakan korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan IBM SPSS Statistics 20. Hasil analisis memperlihatkan adanya hubungan positif dan signifikan antara kebersyukuran dan perilaku prososial (r = 0,407; p < 0,001). Temuan ini mengindikasikan bahwa mahasiswa dengan tingkat kebersyukuran yang lebih tinggi cenderung menunjukkan orientasi sosial yang lebih kuat. Dengan demikian, kebersyukuran dapat dipertimbangkan sebagai salah satu sumber daya psikologis dalam mendukung pengembangan karakter sosial mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi.
HUBUNGAN POLA ASUH OTORITER DENGAN KEPERCAYAAN DIRI PADA REMAJA DI KOTA MEDAN Santi Marlina L. Tobing; Nancy Naomi G.P. Aritonang
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.14263

Abstract

ABSTRACT Self-confidence is one of the psychological aspects that helps adolescents face developmental demands, develop independence, and adapt to their social environment. Its formation cannot be separated from relational experiences within the family, including how adolescents perceive and interpret the parenting patterns applied by their parents. This study examined the relationship between perceived authoritarian parenting and self-confidence among late adolescents in Medan City using a quantitative correlational approach. A total of 350 adolescents aged 16–19 years participated as respondents, selected through purposive sampling. Data were collected using an authoritarian parenting scale based on the Parental Authority Questionnaire (PAQ) developed by Buri (1991) and a self-confidence scale based on Lauster’s (2012) aspects, followed by analysis using the Pearson Product Moment correlation test. The analysis revealed a significant negative relationship between authoritarian parenting and self-confidence (r = -0.150; p = 0.005), with the relationship strength categorized as very weak. These findings indicate that adolescents’ perceptions of more authoritarian parenting are associated with lower levels of self-confidence, although self-confidence development is also influenced by other factors beyond the variables examined in this study. The findings highlight the need for parenting approaches that integrate guidance, open communication, and support for adolescent autonomy. ABSTRAK Kepercayaan diri menjadi salah satu aspek psikologis yang berperan dalam membantu remaja menghadapi tuntutan perkembangan, membangun kemandirian, dan beradaptasi dengan lingkungan sosial. Proses pembentukannya tidak terlepas dari pengalaman relasional dalam keluarga, termasuk bagaimana remaja memaknai pola pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua. Penelitian ini mengkaji keterkaitan antara persepsi pola asuh otoriter dengan kepercayaan diri pada remaja akhir di Kota Medan melalui pendekatan kuantitatif korelasional. Sebanyak 350 remaja berusia 16–19 tahun dilibatkan sebagai partisipan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data penelitian diperoleh melalui skala pola asuh otoriter yang mengacu pada Parental Authority Questionnaire (PAQ) Buri (1991) dan skala kepercayaan diri berdasarkan aspek Lauster (2012), kemudian dianalisis menggunakan korelasi Pearson Product Moment. Analisis menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara pola asuh otoriter dan kepercayaan diri (r = -0,150; p = 0,005), dengan tingkat hubungan yang tergolong sangat lemah. Temuan ini menunjukkan bahwa persepsi terhadap pengasuhan yang lebih otoriter berkaitan dengan kecenderungan rendahnya kepercayaan diri remaja, meskipun perkembangan kepercayaan diri juga dipengaruhi oleh faktor lain di luar variabel penelitian. Hasil kajian ini menegaskan perlunya pola pengasuhan yang mampu mengintegrasikan arahan, komunikasi terbuka, dan dukungan terhadap kemandirian remaja.
SCHADENFREUDE PADA WARGA BINAAN LAPAS PEREMPUAN KELAS IIB KUPANG Clara Marselita Bako; Mernon Yerlinda C. Mage; Rizky P. Manafe; Luh Putu Ruliati
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.14534

Abstract

This study aimed to describe the dynamics of schadenfreude among female inmates at Class IIB Kupang Women’s Correctional Institution, including the factors influencing its emergence and its impact on social interactions within the correctional environment. The study employed a qualitative approach with a phenomenological design to understand participants’ subjective experiences related to schadenfreude. The participants consisted of seven female inmates selected through purposive sampling based on age, length of imprisonment, and willingness to participate in the study. Data were collected through semi-structured in-depth interviews and analyzed using thematic analysis. The findings revealed that schadenfreude among female inmates did not appear as an openly expressed negative emotion, but rather manifested in the form of neutrality, selective empathy, moral evaluation, religiosity, and social adaptation. Neutral attitudes were used as a strategy to maintain harmony and avoid conflict within the prison environment. In addition, religiosity and social norms functioned as moral controls that suppressed negative emotional expressions through reflection, prayer, and acceptance of destiny. The study also found that schadenfreude had an ambivalent nature, as it could generate guilt and interpersonal conflict while simultaneously functioning as a mechanism of social control and moral learning among inmates. This study contributes to the development of social psychology and forensic psychology studies, particularly regarding the dynamics of social emotions within women’s correctional institutions. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dinamika schadenfreude pada warga binaan perempuan di Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas IIB Kupang, termasuk faktor yang memengaruhi serta dampaknya dalam interaksi sosial di lingkungan pemasyarakatan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi untuk memahami pengalaman subjektif partisipan terkait schadenfreude. Partisipan penelitian berjumlah tujuh warga binaan perempuan yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria usia, masa tahanan, dan kesediaan mengikuti penelitian. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi terstruktur dan dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa schadenfreude pada warga binaan perempuan tidak muncul sebagai emosi negatif yang diekspresikan secara terbuka, melainkan hadir dalam bentuk sikap netral, empati selektif, evaluasi moral, dan adaptasi sosial. Sikap netral digunakan sebagai strategi menjaga harmoni dan menghindari konflik di lingkungan lapas. Selain itu, religiusitas dan norma sosial berperan sebagai kontrol moral yang menekan ekspresi emosi negatif melalui sikap reflektif, doa, dan penerimaan terhadap takdir. Penelitian juga menemukan bahwa schadenfreude memiliki sifat ambivalen, yaitu dapat memunculkan rasa bersalah dan konflik interpersonal, namun juga berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial dan pembelajaran moral bagi warga binaan. Penelitian ini berkontribusi dalam pengembangan kajian psikologi sosial dan psikologi forensik, khususnya terkait dinamika emosi sosial dalam lingkungan pemasyarakatan perempuan.    
MOTIVASI KERJA BERBASIS SELF DETERMINATION DALAM KONTEKS EMPLOYEE EXPERIENCE DIGITAL PADA KARYAWAN PT. TRAKINDO UTAMA PALEMBANG Dwi Hurriyati; Annisa Robbani Azzahra Azhari
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.14565

Abstract

Digital transformation in heavy equipment industries often triggers technostress due to high technology adaptation demands at work. This quantitative descriptive study aims to analyze how digital employee experience shapes work motivation among employees of PT Trakindo Utama Branch Palembang based on Self-Determination Theory (SDT). This study measures the fulfillment of basic psychological needs including autonomy, competence, and relatedness within digitalized work environments. Data were collected using a five-point Likert scale survey distributed to 30 active employees selected through total sampling technique. Descriptive data analysis shows overall work motivation is in the high category (77.0%), with relatedness achieving the highest percentage (82.0%), followed by autonomy (76.6%), and competence (72.4%). These findings indicate that digital work experiences supported by positive social interaction, autonomous access to information, and technical assistance help maintain intrinsic motivation amid technological adaptation. The study implies that human-centered digitalization strategies are essential to enhance operational efficiency and employee psychological well-being. ABSTRAK Transformasi digital di industri alat berat sering kali memicu fenomena technostress akibat tingginya tuntutan adaptasi teknologi di tempat kerja. Penelitian kuantitatif deskriptif ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana employee experience digital membentuk motivasi kerja karyawan PT Trakindo Utama Branch Palembang berbasis Self-Determination Theory (SDT). Penelitian ini mengukur pemenuhan kebutuhan psikologis dasar mencakup autonomy, competence, dan relatedness pada lingkungan kerja terdigitalisasi. Data dikumpulkan melalui survei kuesioner skala Likert lima poin terhadap 30 orang karyawan aktif yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Hasil pengolahan data deskriptif menunjukkan motivasi kerja karyawan berada pada kategori tinggi (77,0%), dengan dimensi relatedness mencapai persentase tertinggi (82,0%), diikuti autonomy (76,6%), dan competence (72,4%). Temuan ini mengindikasikan bahwa pengalaman kerja digital yang didukung interaksi sosial positif, kemandirian akses informasi, serta pendampingan teknis mampu menjaga motivasi intrinsik di tengah tuntutan adaptasi teknologi. Implikasi penelitian menegaskan pentingnya strategi human-centered digitalization untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus kesejahteraan psikologis pekerja.    
PENGARUH FAKTOR PSIKOLOGIS DALAM THEORY OF PLANNED BEHAVIOR (TPB) TERHADAP PERILAKU BERPIKIR KRITIS MAHASISWA PAP UNESA DI ERA DIGITAL Agil Meilia Putri Safira; Lifa Farida Panduwinata
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.14630

Abstract

In the digital era, university students face challenges from information overload that triggers an instant sharing culture without verification, exacerbated by the misuse of generative artificial intelligence that erodes independent thinking. This study aims to analyze the influence of attitude, subjective norms, and perceived behavioral control on students' critical thinking behavior through behavioral intention as a mediating variable, using the Theory of Planned Behavior (TPB) framework. Utilizing an explanatory quantitative approach, data were gathered from 297 undergraduate Office Administration Education students at Universitas Negeri Surabaya through Likert-scale questionnaires and analyzed using Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) via SmartPLS 4. The results demonstrate that attitude, subjective norms, and perceived behavioral control have positive and significant effects on behavioral intention. Behavioral intention is also proven to have a positive and significant direct effect on actual critical thinking behavior, while fully mediating the relationships of the three independent variables. However, subjective norms do not directly influence actual critical thinking behavior. In conclusion, social expectations and self-efficacy will only effectively transform into actual critical thinking actions if they are first internalized into a strong cognitive intention. These findings offer crucial implications for departments to reconstruct problem-based curricula to stimulate students' critical mental disposition. ABSTRAK Di era digital, mahasiswa sering menghadapi tantangan banjir informasi yang memicu budaya berbagi instan tanpa verifikasi, diperparah oleh penyalahgunaan kecerdasan buatan yang mengikis kemandirian berpikir. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku terhadap perilaku berpikir kritis mahasiswa melalui niat berperilaku sebagai variabel mediasi menggunakan kerangka Theory of Planned Behavior (TPB). Menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatori, data dikumpulkan dari 297 responden mahasiswa S1 Pendidikan Administrasi Perkantoran Universitas Negeri Surabaya melalui kuesioner berskala Likert, lalu dianalisis menggunakan Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) via SmartPLS 4. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku berpengaruh positif dan signifikan terhadap niat berperilaku. Niat berperilaku juga terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap perilaku berpikir kritis aktual, sekaligus bertindak sebagai variabel mediasi yang signifikan bagi ketiga variabel independen tersebut. Namun, norma subjektif ditemukan tidak memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap perilaku berpikir kritis secara langsung. Simpulan penelitian menegaskan bahwa desakan sosial dan keyakinan diri mahasiswa hanya akan efektif bertransformasi menjadi tindakan kritis nyata apabila diinternalisasi terlebih dahulu menjadi niat kognitif yang kuat. Temuan ini memberikan implikasi penting bagi program studi dalam merekonstruksi kurikulum berbasis masalah guna menstimulasi disposisi mental kritis mahasiswa.