cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
EDITORIAL BOARD Journal PAEDAGOGY (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi) Editor in Chief Dr. Arman, M.Pd (Universitas Lampung) Journal Editor Lalu Hamdian Afandi, M.Pd (Universitas Mataram) Dr. Didi Muliadi, M.Pd (STIBA Pertiwi) Section Editor Dr. Hegar Harini, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Reviewer/Mitra Bestari Dr. Syarfuni, M.Pd (Universitas Bina Bangsa Getsempena) Dr. Syafaat Ariful Huda, M.Pd (STKIP Kusuma Negara) Endah Resnandari, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Dr. Abdullah Muzakar, M.Pd (Universitas Hamzanwadi) Dr. Marzoan, M.Pd (STKIP Hamzar) Copy Editor Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd (Universitas Pendidikan Mandalika) Online Journal System: https://www.jurnalp4i.com/index.php/paedagogy/index Journal Coresponding e-mail: jurnal.P4I@gmail.com Phone: 085239967417/ 085236615827 Address: Lingkungan Handayani, Kel. Leneng, kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi
Core Subject : Education, Social,
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Educational Science and Psychology
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 775 Documents
CAUGHT BETWEEN FAMILY AND SCREEN: FAMILY DYNAMICS AND PROBLEMATIC SMARTPHONE USE AMONG GENERATION Z Hafshah Najma Qonita; Mira Ariyani; Anna Armeini Rangkuti
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.15625

Abstract

ABSTRACT Problematic smartphone use (PSU) has emerged as an important concern among adolescents and young adults due to its association with various psychological and social outcomes. This literature review aimed to synthesize empirical findings on the relationship between family dynamics and PSU among Generation Z. The review was conducted using Google Scholar, Scopus, and Taylor & Francis databases. Of the 2,908 articles identified, 21 met the inclusion criteria and were analyzed thematically. The synthesis identified four main themes: family cohesion and relationship quality, dysfunctional family dynamics, psychological mechanisms, and emotional compensation and coping strategies. Positive family relationships were associated with lower levels of PSU. In contrast, family dysfunction and conflict, parental phubbing, parental psychological control, and negative parenting practices were associated with increased PSU risk. These relationships were associated with psychological factors, including loneliness, social anxiety, depression, fear of missing out, self-esteem, self-control, and psychological need frustration. These findings indicate that PSU should be understood as a phenomenon related to family relationship quality and psychological dynamics. These findings highlight the potential relevance of strengthening family communication, emotional support, and parent-child relationships in efforts to prevent PSU. ABSTRAK Penggunaan smartphone yang bermasalah (PSU) telah muncul sebagai perhatian penting di kalangan remaja dan dewasa muda karena kaitannya dengan berbagai dampak psikologis dan sosial. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk mensintesis temuan empiris mengenai hubungan antara dinamika keluarga dan PSU pada Generasi Z. Tinjauan dilakukan melalui basis data Google Scholar, Scopus, dan Taylor & Francis. Dari 2.908 artikel teridentifikasi, sebanyak 21 artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis secara tematik. Hasil sintesis mengidentifikasi empat tema utama, yaitu kohesivitas keluarga dan kualitas hubungan, dinamika keluarga disfungsional, mekanisme psikologis, serta kompensasi emosional dan strategi koping. Kualitas hubungan keluarga positif berkaitan dengan tingkat PSU yang lebih rendah. Sebaliknya, disfungsi dan konflik keluarga, parental phubbing, kontrol psikologis orang tua, serta pengasuhan negatif berkaitan dengan risiko PSU. Hubungan-hubungan ini dikaitkan dengan faktor psikologis, termasuk kesepian, kecemasan sosial, depresi, ketakutan kehilangan sesuatu, harga diri, pengendalian diri, dan frustrasi atas kebutuhan psikologis. Temuan ini menunjukkan bahwa PSU perlu dipahami sebagai fenomena yang berkaitan dengan kualitas relasi keluarga dan dinamika psikologis. Temuan ini menyoroti potensi relevansi penguatan komunikasi keluarga, dukungan emosional, dan hubungan orang tua-anak dalam upaya mencegah PSU.
NORMALISASI PERILAKU MEROKOK PADA REMAJA AWAL: STUDI FENOMENOLOGI TENTANG KONFORMITAS DAN MODELING SOSIAL Anggun Farahdina Salsabila Putri; Mimbar Oktaviana
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.15716

Abstract

ABSTRACT For early adolescents, smoking may become part of social life before it is understood as a personal choice. Close interactions with family members and peers, experiences of receiving invitations to smoke, and observations of influential figures provide the social context for examining how smoking acquires meaning and gradually becomes perceived as ordinary. This qualitative study employed an interpretive phenomenological design involving seven early adolescents who had smoked and been exposed to smoking behavior within their family and peer environments. Participants were selected through purposive sampling, while data were collected through semi-structured interviews and analyzed thematically. Five themes captured these experiences: normalization of smoking through family and social environments, peer conformity, social modeling by influential figures, social identity and group acceptance, and the meaning of smoking as a way of coping with emotional pressure and maintaining social relationships. Smoking became increasingly familiar when repeatedly encountered in everyday social interactions, while peer pressure, concerns about being different, and the need for acceptance shaped participants’ experiences. The use of smoking to cope with emotional pressure was identified in only one participant and therefore was not generalized. These findings suggest that school-based Guidance and Counseling services should address peer pressure, social relationships, family communication, and adolescents’ ways of coping with emotional pressure. ABSTRAK Bagi remaja awal, merokok dapat hadir sebagai bagian dari kehidupan sosial sebelum perilaku tersebut dipahami sebagai pilihan pribadi. Kedekatan dengan anggota keluarga dan teman sebaya, pengalaman menerima ajakan, serta pengamatan terhadap figur yang dianggap berpengaruh menjadi konteks yang ditelusuri untuk memahami bagaimana perilaku merokok memperoleh makna dan menjadi sesuatu yang dianggap biasa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi interpretatif terhadap tujuh remaja awal yang pernah merokok dan mengalami paparan perilaku merokok di lingkungan keluarga maupun teman sebaya. Partisipan ditentukan melalui purposive sampling, dengan data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dan dianalisis secara tematik. Lima tema menggambarkan pengalaman tersebut, meliputi normalisasi melalui keluarga dan lingkungan sosial, konformitas teman sebaya, pemodelan sosial dari figur berpengaruh, identitas sosial dan penerimaan kelompok, serta pemaknaan rokok dalam menghadapi tekanan emosional dan mempertahankan relasi. Rokok menjadi semakin familiar ketika hadir berulang dalam interaksi sosial, sementara tekanan kelompok, kekhawatiran untuk berbeda, dan kebutuhan akan penerimaan turut mewarnai pengalaman partisipan. Pemanfaatan rokok untuk menghadapi tekanan emosional hanya ditemukan pada satu partisipan sehingga tidak digeneralisasikan. Temuan ini mengarahkan layanan Bimbingan dan Konseling untuk memberi perhatian pada tekanan teman sebaya, relasi sosial, komunikasi keluarga, dan cara remaja menghadapi tekanan emosional.
PENGARUH KECENDERUNGAN ALEXITHYMIA TERHADAP LONELINESS PADA EMERGING ADULTHOOD Inas Faidah Nabilah; Nanda Audia Vrisaba
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.15764

Abstract

ABSTRACT Loneliness is a psychological experience that may arise when individuals perceive that their social relationships do not adequately fulfill their need for connectedness during emerging adulthood. One psychological characteristic relevant to this context is alexithymia, which refers to difficulties in identifying and expressing emotional experiences accurately. This study aimed to examine the predictive relationship between alexithymia and loneliness among individuals in emerging adulthood in Indonesia. A quantitative approach with a correlational design was employed, involving 325 participants aged 18–29 years who were selected through purposive sampling. Data were collected using the Toronto Alexithymia Scale-20 (TAS-20) and the UCLA Loneliness Scale. The data were analyzed using simple linear regression to examine the predictive relationship between the two variables. The results indicated a positive and significant predictive relationship between alexithymia and loneliness (β = 0.550; p < 0.001), with an R² value of 0.302. This finding indicates that alexithymia accounted for 30.2% of the variance in loneliness scores within the research model. Thus, difficulties in processing and communicating emotional experiences were associated with variations in loneliness among individuals in emerging adulthood. These findings provide empirical evidence regarding the relationship between the two constructs in the Indonesian context and may serve as a consideration for psychological research and services addressing emotional processing and interpersonal connectedness. ABSTRAK Loneliness merupakan pengalaman psikologis yang dapat muncul ketika individu memandang hubungan sosial yang dimilikinya belum memenuhi kebutuhan akan keterhubungan pada fase emerging adulthood. Salah satu karakteristik psikologis yang relevan dalam konteks tersebut adalah alexithymia, yaitu kesulitan mengenali dan mengungkapkan pengalaman emosional secara tepat. Penelitian ini bertujuan menguji hubungan prediktif antara alexithymia dan loneliness pada individu dalam fase emerging adulthood di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional dan melibatkan 325 partisipan berusia 18–29 tahun yang dipilih melalui purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Toronto Alexithymia Scale-20 (TAS-20) dan UCLA Loneliness Scale. Data dianalisis menggunakan regresi linear sederhana untuk mengidentifikasi hubungan prediktif antara kedua variabel. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan prediktif positif dan signifikan antara alexithymia dan loneliness (β = 0,550; p < 0,001), dengan nilai R² sebesar 0,302. Temuan tersebut menunjukkan bahwa alexithymia menjelaskan 30,2% variasi skor loneliness dalam model penelitian. Dengan demikian, karakteristik kesulitan dalam memproses dan mengomunikasikan pengalaman emosional berkaitan dengan variasi pengalaman loneliness pada individu emerging adulthood. Temuan ini memberikan bukti empiris mengenai keterkaitan kedua konstruk dalam konteks Indonesia dan dapat menjadi pertimbangan dalam pengembangan kajian maupun layanan psikologis yang memperhatikan aspek pemrosesan emosi dan keterhubungan interpersonal.
IDENTIFIKASI KEYAKINAN YANG MENDASARI INTENSI BERHENTI MENGGUNAKAN VAPE PADA EMERGING ADULTS Windani Tiarahmawati; Iriani Indri Hapsari; Mira Ariyani
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.15888

Abstract

The increasing use of electronic cigarettes (vapes), particularly among emerging adults, has become an important public health concern, making vaping cessation a priority for health promotion efforts. The development of interventions based on the Theory of Planned Behavior (TPB) requires the identification of salient beliefs underlying individuals' intentions to quit vaping. This study aimed to identify salient behavioral beliefs, normative beliefs, and control beliefs as the basis for developing a TPB instrument to assess vaping cessation intentions among Indonesian emerging adults. A descriptive study with a qualitative approach was conducted using the elicitation procedure recommended by Ajzen. Thirty active vape users aged 18–29 years were recruited through purposive sampling. Data were collected using an open-ended questionnaire exploring perceived advantages, disadvantages, social influences, and facilitating and inhibiting factors related to quitting vaping. Data were analyzed using content analysis and summarized based on the frequency of each salient belief. The findings revealed that health improvement and financial savings were the most prominent behavioral beliefs, family and romantic partners were the primary sources of normative support, while nicotine dependence, habitual vaping, and supportive social environments were perceived as the main control barriers to vaping cessation. These findings provide an empirical basis for developing a culturally relevant TPB instrument and may inform future educational programs and vaping cessation interventions targeting Indonesian emerging adults. ABSTRAK Penggunaan rokok elektronik (vape) terus meningkat, terutama pada kelompok emerging adults, sehingga penghentian penggunaan vape menjadi salah satu isu penting dalam kesehatan masyarakat. Pengembangan intervensi berbasis Theory of Planned Behavior (TPB) memerlukan identifikasi salient beliefs yang mendasari pembentukan intensi berhenti menggunakan vape. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi salient behavioral beliefs, normative beliefs, dan control beliefs sebagai dasar pengembangan instrumen TPB mengenai intensi berhenti menggunakan vape pada emerging adultsdi Indonesia. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan deskriptif melalui elicitation study yang direkomendasikan oleh Ajzen. Sebanyak 30 pengguna aktif vape berusia 18–29 tahun dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terbuka yang mengeksplorasi keyakinan mengenai manfaat, hambatan, dukungan sosial, dan faktor yang mempermudah maupun menghambat penghentian penggunaan vape. Data dianalisis menggunakan analisis isi (content analysis) dan disajikan berdasarkan frekuensi kemunculan setiap keyakinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manfaat kesehatan dan penghematan biaya merupakan behavioral beliefs yang paling dominan, keluarga dan pasangan menjadi sumber dukungan utama dalam normative beliefs, sedangkan ketergantungan nikotin, kebiasaan menggunakan vape, dan lingkungan sosial merupakan hambatan utama dalam control beliefs. Temuan ini memberikan dasar empiris bagi pengembangan instrumen TPB yang lebih sesuai dengan karakteristik pengguna vape di Indonesia serta dapat menjadi acuan dalam penyusunan program edukasi dan intervensi penghentian penggunaan vape.  
PATOLOGI KOGNITIF DALAM KEPEMIMPINAN PUBLIK: SINTESIS TEORI PILIHAN RASIONAL, BIAS KOGNITIF, EFEK DUNNING-KRUGER, DAN HUBRIS SYNDROME TERHADAP TATA KELOLA NEGARA Katya Adha; Yudhi Hertanto
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.15889

Abstract

Modern state governance demands a leadership model that is competent, logical, and adaptive to public dynamics. The traditional normative paradigm of public administration is rooted in Rational Choice Theory, which projects leaders as calculative actors capable of generating optimal public policies through cost-benefit analysis. However, empirical reality reveals widespread policy anomalies detrimental to the public due to psychological distortions among authority holders. This article offers a comprehensive conceptual study synthesizing Rational Choice Theory with three layers of cognitive dysfunction: cognitive bias, the Dunning-Kruger effect, and hubris syndrome. Employing a descriptive qualitative method based on literature review and conceptual synthesis, this study unpacks how unchecked power distorts leaders' metacognitive capacities. The findings demonstrate that institutional power without oversight shifts the orientation of rational choice from public utility maximization to personal ego maximization. This condition triggers the neglect of scientific data, the erosion of institutional checks and balances, and the formulation of irrational policies. This article recommends restructuring institutional governance by implementing cognitive guardrails to mitigate the risk of policy decay from within the center of power. ABSTRAK Tata kelola negara modern menuntut model kepemimpinan yang cakap, logis, dan adaptif terhadap dinamika publik. Paradigma normatif administrasi publik lama berakar pada Teori Pilihan Rasional (Rational Choice Theory), yang memproyeksikan pemimpin sebagai aktor kalkulatif yang mampu menghasilkan kebijakan publik optimal melalui analisis biaya-manfaat. Namun, realitas empiris menunjukkan maraknya anomali kebijakan yang merugikan publik akibat distorsi psikologis para pemegang otoritas. Artikel ini menawarkan studi konseptual komprehensif yang menyintesiskan Teori Pilihan Rasional dengan tiga lapis disfungsi kognitif: bias kognitif, efek Dunning-Kruger, dan hubris syndrome. Menggunakan metode kualitatif deskriptif berbasis studi kepustakaan dan sintesis konseptual, penelitian ini membongkar bagaimana kekuasaan mendistorsi kapasitas metakognitif pemimpin. Hasil kajian menunjukkan bahwa interaksi kekuasaan yang tidak terkendali secara institusional mengubah orientasi pilihan rasional dari pemaksimalan kemanfaatan publik menjadi pemaksimalan ego personal. Keadaan ini berlanjut pada pengabaian data ilmiah, pelemahan sistem pengawasan berimbang (checks and balances), serta pembentukan kebijakan yang tidak rasional. Artikel ini merekomendasikan restrukturisasi tata kelola kelembagaan negara melalui penerapan pagar pembatas kognitif (cognitive guardrails) guna memitigasi risiko pembusukan kebijakan dari dalam pusat kekuasaan.    
MENAKAR KEGILAAN STRUKTURAL: DIALEKTIKA PEMIKIRAN ERICH FROMM, MICHEL FOUCAULT, DAN PETER MORRALL DALAM KRITIK MASYARAKAT MODERN Yudhi Hertanto; Katya Adha
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.15893

Abstract

The contemporary global mental health crisis is frequently reduced to individual biological deficits, neurological malfunctions, or neurochemical imbalances exclusively resolvable via private pharmacological interventions. This article challenges such biomedical reductions by dialectically synthesizing three macro sociological-philosophical frameworks: Erich Fromm's radical humanism in The Sane Society, Michel Foucault's archeology-genealogy of power in History of Madness, and Peter Morrall's critical sociology of mental health in Insane Society. Employing a qualitative desk-research design rooted in critical hermeneutics and comparative-conceptual analysis, literature selection was conducted using purposive sampling on primary corpuses and peer-reviewed secondary sources. The study investigates how the structural organization of modern society, dominated by late capitalism and neoliberal governance, systematically engineers existential pathologies. The findings reveal that contemporary mental distress constitutes an acute manifestation of market alienation (Fromm), a disciplinary normalization of human bodies for capitalist production (Foucault), and a systemic dysfunction of an intrinsically disordered society (Morrall). Furthermore, mainstream mental health awareness discourses operate as depoliticizing apparatuses that privatize structural suffering into personal coping failures. Resolving this crisis necessitates radical socio-political and macroeconomic structural transformations rather than privatized emotional commodification. ABSTRAK Krisis kesehatan mental global kontemporer kerap kali direduksi menjadi sekadar persoalan biologis individual, malfungsi neurologis, atau ketidakseimbangan kimiawi otak yang solusinya bertumpu pada intervensi farmakologis privat. Artikel ini menggugat simplifikasi biomedis tersebut dengan mengintegrasikan secara dialektis tiga kerangka sosiologis-filosofis makro, yakni humanisme radikal Erich Fromm melalui The Sane Society, arkeologi-genealogi kekuasaan Michel Foucault dalam History of Madness, serta sosiologi kesehatan mental kontemporer Peter Morrall lewat Insane Society. Menggunakan metode kualitatif studi kepustakaan (desk research) berbasis hermeneutika kritis dan analisis komparatif-konseptual, penentuan literatur dilakukan melalui teknik penarikan sampel bertujuan (purposive sampling) pada korpus teks primer dan sekunder bereputasi. Studi ini membedah bagaimana pola kehidupan struktural masyarakat modern, khususnya yang diatur di bawah hegemoni kapitalisme akhir dan neoliberalisme, secara inheren memproduksi patologi eksistensial. Hasil kajian menegaskan bahwa distres mental era kekinian merupakan manifestasi konkret alienasi pasar (Fromm), instrumen pendisiplinan serta normalisasi tubuh agar patuh pada mesin produksi (Foucault), dan disfungsi struktural total dari tatanan sosial yang secara sistemik sakit (Morrall). Wacana popular kesadaran kesehatan mental (mental health awareness) terbukti bertindak sebagai aparatus depolitisasi yang menundukkan penderitaan struktural menjadi kegagalan adaptasi privat. Resolusi komprehensif atas krisis mental kontemporer menuntut transformasi radikal pada struktur sosiopolitik dan ekonomi makro demi mengembalikan integritas serta otentisitas kemanusiaan.  
TINGKAT KECERDASAN EMOSI MAHASISWA DENGAN KECANDUAN GAME ONLINE Matahari Matahari; Mernon Yerlinda Carlista Mage; Diana Aipipidely
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.15894

Abstract

Emotional intelligence is a fundamental competence required by college students to manage academic stress and cultivate adaptive social interactions. However, this capacity for emotional recognition and regulation is vulnerable to impairment when students suffer from online gaming addiction. This study aims to examine the levels of emotional intelligence and online gaming addiction, as well as the relationship between these two variables among students at Universitas Nusa Cendana. This quantitative correlational study involved 380 active students selected through a purposive sampling technique. Data were gathered using adapted versions of the Game Addiction Scale for Adolescents (GASA) and the Wong and Law Emotional Intelligence Scale (WLEIS) administered both offline and online, and subsequently analyzed using Pearson product-moment correlation. The results demonstrated a statistically significant negative correlation between online gaming addiction and emotional intelligence (r=-0.178; p=0.001). These findings indicate that higher levels of online gaming addiction correspond to lower emotional intelligence among undergraduate students. ABSTRAK Kecerdasan emosi merupakan kecakapan fundamental yang dibutuhkan mahasiswa dalam mengelola stres akademik dan membina interaksi sosial yang adaptif. Namun, kapasitas pengenalan dan regulasi emosi ini rentan mengalami penurunan apabila mahasiswa terindikasi mengalami kecanduan game online. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kecerdasan emosi dan kecanduan game online, serta menguji hubungan antara kedua variabel tersebut pada mahasiswa Universitas Nusa Cendana. Penelitian kuantitatif korelasional ini melibatkan 380 mahasiswa aktif yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan instrumen adaptasi Game Addiction Scale for Adolescents (GASA) dan Wong and Law Emotional Intelligence Scale (WLEIS) secara luring dan daring, yang kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson product-moment. Hasil analisis menunjukkan adanya korelasi negatif yang signifikan antara kecanduan game online dan kecerdasan emosi (r=-0,178; p=0,001). Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi tingkat kecanduan game online, maka semakin rendah kecerdasan emosional yang dimiliki oleh mahasiswa.  
PERBEDAAN EMOTIONAL DEPENDENCY DITINJAU DARI ATTACHMENT STYLE PADA PEREMPUAN DEWASA AWAL YANG BERPACARAN DI SURABAYA Fara Elsa Merisa
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.15895

Abstract

Emotional dependency refers to an excessive affective need toward a romantic partner, causing individuals to rely on the relationship for their emotional well-being (Camarillo et al., 2020). One factor presumed to influence this condition is attachment style, a pattern of emotional bonding developed through early relational experiences that shapes interpersonal relationships in adulthood (Hazan & Shaver, 1987). This study aimed to examine differences in emotional dependency based on attachment style among early adult women involved in romantic relationships in Surabaya. A quantitative comparative design was employed involving 179 women aged 18–25 years selected through purposive sampling. Data were collected using the Emotional Dependency Scale developed by Camarillo et al. (2020) and the Attachment Style Scale adapted from Damayanti (2010) based on Hazan and Shaver (1987). Data were analyzed using the Kruskal–Wallis test followed by the Mann–Whitney U post hoc test. The findings revealed significant differences in emotional dependency across attachment style groups. Significant differences were found between the secure and avoidant attachment groups as well as between the avoidant and ambivalent attachment groups, whereas no significant difference was found between the secure and ambivalent attachment groups. The study concludes that attachment style differentiates the level of emotional dependency among early adult women in romantic relationships in Surabaya. ABSTRAK Emotional dependency merupakan kebutuhan afektif yang berlebihan terhadap pasangan sehingga individu menggantungkan kesejahteraan emosionalnya pada hubungan romantis (Camarillo dkk, 2020). Salah satu faktor yang diduga memengaruhi kondisi tersebut adalah attachment style, yaitu pola kelekatan yang terbentuk melalui pengalaman relasi awal dan memengaruhi hubungan interpersonal pada masa dewasa (Hazan & Shaver, 1987). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan emotional dependency ditinjau dari attachment style pada perempuan dewasa awal yang sedang berpacaran di Surabaya. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain komparatif terhadap 179 perempuan berusia 18–25 tahun yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data dikumpulkan menggunakan Skala Emotional Dependency berdasarkan Camarillo dkk. (2020) dan Skala Attachment Style yang diadopsi dari Damayanti (2010) berdasarkan Hazan dan Shaver (1987). Analisis data dilakukan menggunakan uji Kruskal-Wallis yang dilanjutkan dengan uji post hoc Mann-Whitney U. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan emotional dependency yang signifikan ditinjau dari attachment style. Perbedaan signifikan ditemukan antara kelompok secure attachment dan avoidant attachment serta antara avoidant attachment dan ambivalent attachment, sedangkan tidak ditemukan perbedaan signifikan antara secure attachment dan ambivalent attachment. Penelitian ini menyimpulkan bahwa attachment style berperan dalam membedakan tingkat emotional dependency pada perempuan dewasa awal yang sedang berpacaran di Surabaya.    
KONSELING INDIVIDU BERBASIS ACCEPTANCE AND COMMITMENT THERAPY TEKNIK METAFORA UNTUK MEREDUKSI KECENDERUNGAN BINGE WATCHING Alfiyana Fitri; M. Arif Budiman; Hanung Sudibyo
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.15897

Abstract

The tendency toward binge watching Thai Boys Love (BL) series among students may generate psychological and academic consequences when left unaddressed. This study aimed to describe the pattern, contributing factors, and impact of binge watching tendency, and to examine the effectiveness of individual counseling based on Acceptance and Commitment Therapy (ACT) using the metaphor technique in reducing this tendency among eleventh-grade students at a vocational high school in Tegal City. A mixed-methods approach with a sequential exploratory design was employed, beginning with qualitative exploration through interviews, observation, and documentation, followed by quantitative measurement using a Likert-type binge watching tendency scale whose validity and reliability had been established (Cronbach's Alpha = 0.971). Five students identified as exhibiting binge watching tendencies were selected through purposive sampling. Quantitative data were analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test. Findings indicate that the subjects' binge watching tendency emerged from an interaction of psychological, social, and technological factors, producing both relaxation benefits and adverse effects such as disrupted sleep patterns and reduced learning concentration. The mean score decreased from 77.6 at pre-test to 66.8 at post-test, and the Wilcoxon test yielded Z = -2.023 with a significance level of 0.043 (p < 0.05). These findings demonstrate that ACT-based individual counseling using the metaphor technique effectively and meaningfully reduced students' binge watching tendency. ABSTRAK Kecenderungan binge watching series Thailand Boys Love (BL) pada peserta didik berpotensi menimbulkan dampak psikologis dan akademik apabila tidak segera ditangani. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan gambaran, faktor, dan dampak kecenderungan binge watching, serta menguji efektivitas layanan konseling individu berbasis Acceptance and Commitment Therapy (ACT) dengan teknik metafora dalam mereduksi kecenderungan tersebut pada peserta didik kelas XI di salah satu SMK Negeri di Kota Tegal. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain sequential exploratory, diawali eksplorasi kualitatif melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dilanjutkan pengukuran kuantitatif menggunakan skala kecenderungan binge watching model Likert yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya (Cronbach's Alpha = 0,971). Subjek penelitian ditentukan melalui teknik purposive sampling dan berjumlah lima peserta didik yang menunjukkan indikasi kecenderungan binge watching. Data kuantitatif dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecenderungan binge watching pada subjek terbentuk dari interaksi faktor psikologis, sosial, dan kemudahan akses teknologi, dengan dampak ganda berupa relaksasi di satu sisi serta gangguan pola tidur dan penurunan konsentrasi belajar di sisi lain. Skor rata-rata kecenderungan binge watching menurun dari 77,6 pada pre-test menjadi 66,8 pada post-test, dan hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai Z sebesar -2,023 dengan signifikansi 0,043 (p < 0,05). Temuan ini membuktikan bahwa layanan konseling individu berbasis ACT dengan teknik metafora efektif menurunkan kecenderungan binge watching peserta didik secara bermakna.    
EDUCATIONAL IDENTITY DEVELOPMENT SEBAGAI PREDIKTOR SOCIAL MEDIA SELF-PRESENTATION PADA DEWASA AWAL Siti Raiyati
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.15898

Abstract

Social media are important spaces in which young adults manage and communicate representations of themselves. Within the educational domain, educational identity development reflects individuals' involvement in commitment, in-depth exploration, and reconsideration of commitment regarding educational choices. This study examined educational identity development as a predictor of social media self-presentation among young adults. A quantitative predictive-correlational design was employed with 89 young-adult participants recruited through nonprobability accidental sampling, comprising 70 women (78.7%) and 19 men (21.3%). Educational identity development was assessed using the 13-item educational domain of the Indonesian version of the Utrecht-Management of Identity Commitments Scale (U-MICS). Social media self-presentation was assessed using an adapted 10-item self-presentation scale derived from the Self-Presentation Tactics Scale–Assertive. Data were analyzed using Pearson correlation and simple linear regression. The results showed a significant positive association between educational identity development and social media self-presentation (r=.455, p<.001). The regression model was significant, F(1,87)=22.70, p<.001, and explained 20.7% of the variance in social media self-presentation (R^2=.207). Educational identity development was a positive predictor (B=.454, β=.455, 95% CI [.265, .644]). The findings indicate that involvement in educational identity processes is associated with a greater tendency to manage self-representations on social media; however, the cross-sectional design does not support causal conclusions. ABSTRAK Media sosial menjadi ruang penting bagi dewasa awal untuk mengatur dan mengomunikasikan representasi dirinya. Dalam konteks pendidikan, educational identity development mencerminkan keterlibatan individu dalam proses komitmen, eksplorasi mendalam, dan peninjauan kembali komitmen terhadap pilihan pendidikan. Penelitian ini bertujuan menguji educational identity development sebagai prediktor social media self-presentation pada dewasa awal. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional prediktif dan melibatkan 89 partisipan dewasa awal yang diperoleh melalui nonprobability sampling dengan teknik accidental sampling, terdiri atas 70 perempuan (78,7%) dan 19 laki-laki (21,3%). Educational identity development diukur menggunakan domain pendidikan Utrecht-Management of Identity Commitments Scale (U-MICS) versi Indonesia sebanyak 13 butir. Social media self-presentation diukur menggunakan adaptasi skala presentasi diri 10 butir dari modifikasi Self-Presentation Tactics Scale–Assertive. Data dianalisis melalui korelasi Pearson dan regresi linear sederhana. Hasil menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara educational identity development dan social media self-presentation (r=0,455; p<0,001). Model regresi terbukti signifikan, F(1,87)=22,70; p<0,001, serta menjelaskan 20,7% varians social media self-presentation (R^2=0,207). Educational identity development merupakan prediktor positif yang signifikan (B=0,454; β=0,455; 95% CI [0,265, 0,644]). Temuan membuktikan bahwa keterlibatan dalam proses identitas pendidikan berkaitan dengan kecenderungan mengelola representasi diri di media sosial.